Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA,HIDUNG DAN TENGGOROK – KEPALA LEHER Oleh : dr.Andri Firmansyah dr.Dian Kalbuadi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA,HIDUNG DAN TENGGOROK – KEPALA LEHER Oleh : dr.Andri Firmansyah dr.Dian Kalbuadi."— Transcript presentasi:

1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA,HIDUNG DAN TENGGOROK – KEPALA LEHER Oleh : dr.Andri Firmansyah dr.Dian Kalbuadi

2 Anatomi Telinga Telinga terdiri dari : I.Telinga luar II.Telinga tengah III.Telinga dalam I.Telinga luar : 1. aurikula 2. Kanalis auditorius eksterna

3

4 I. Telinga Luar 1. Daun Telinga 1. Helix 2. Lobule 3. Anti Tragus 4. Tragus 5. concha 6. Can. Aud. Ext 7. Crus of Helix 8. Antihelix Melekat di kepala oleh lig dan otot Merupakan lipatan kulit yang membungkus fibrokartilago kecuali lobulus dan antara tragus – crus helix

5 II. Telinga Tengah : 1. membrana timpani 2. kavum timpani 3. tuba eustakhii 4. mastoid III. Telinga dalam 1. Labirintus oseus 2. labirintus membranaseus

6 2. Liang Telinga Luar - kanalis auditoris eksternus - meatus akustikus eksternus Terdiri : 1.Bagian Tulang rawan - 1/3 bag. Lateral (+ 8 mm) - lanjutan kartilago aurikula - terdapat rambut, kel sebacea, kel. Sudorifera ( kel. Seruminosa) 2. Bagian Tulang - 2/3 bag. Medial (+ 16 mm) - kulit melekat erat di tulang - tidak ada rambut/ kelenjar 3. Penyempitan (isthmus) - pada “junctura cartilago-ossea”

7 1. Membrana Timpani Terdiri : a.Pars flasida/ shrapnell’s membrane 2 lapis : stratum kutaneum stratum mukosum b. Pars tensa 3 lapis : stratum kutaneum stratum fibrosum stratum mukosum stratum fibrosum : sirkuler dan radier

8 2. Kavum Timpani - bentuk kubus ireguler - volume : + 0,25 cc - berhubungan dengan nasofaring melalui tuba auditiva - berhubungan dengan antrum mastoid melalui aditus ad antrum Pembagian : Epitimpani Meso timpani Hipotimpani Isi kavum timpani ( viscera timpani ) : 1. Tulang pendengaran : maleus, inkus, stapes 2. Ligamen : malei lateralis, malei superior 3. Tendo otot : tensor timpani dan stapedius 4. Saraf : korda timpani, n stapedius

9 3. Tuba auditiva/ tuba eustakhii - menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring - Terdiri dari 2 bagian : 1. pars osseus : -1/3 bagian lateral (12 mm) -Selalu terbuka 2. Pars Kartilaginosa : -2/3 bagian medial (+ 24 mm) -Selalu tertutup, terbuka bila ada kontaksi m. tensor veli palatini dan m. tensor timpani -Tuba pada anak-anak : lebih pendek, lebih lebar, lebih horisontal

10 Mastoid -Dibentuk oleh pars squamosa & pars petrosa -Disini melekat : a.M sternokleido mastoideus b.M. digatricus venter posterior -Terdiri dari antrum dan rongga-rongga udara yang disebut selule -Antrum sudah ada sejak lahir, sedang selulae terbentuk sejak kehisupan tahun-tahun pertama sampai pada tahun ke 5-6 -Antrum berhubungan dengan kavum timpani melalui aditus ad antrum

11 Telinga Dalam = Auris Interna = Labirin Terdiri 2 bagian : 1.Tulang : labirinthus osseus 2.Membran : labirinthus membranaceus Lab. Membr. Terdapat di dalam lab. osseus Diantara keduanya terdapat perilympe Sedangkan di dalam lb. Membr. Terdapat endolympe

12 Labirin Osseus Terdiri 3 bagian : Cochlea seperti rumah siput, terletak di depan, bangunan 2 ½ lingkaran 2. Vestibulum : terletak di tengah 3. Kanalis Semisirkularis - kanalis sem. Horisontal/ lateralis - kanalis sem. Superior/ anterior - kanalis sem. Inferior/ posterior

13 Hidung Hidung luar Hidung dalam HIDUNG

14 HIDUNG LUAR

15 HIDUNG DALAM Septum Nasal Tulang Kartilago

16 vaskularisasi

17

18 Septum Nasi

19 Konka Nasalis dan Meatus

20 Sinus Paranasal 4 SINUS PARA NASAL 1. Sinus Frontal 2. Sinus Sphenoid 3. Sinus Ethmoid 4. Sinus Maksila

21 Anatomi Sinus

22 Sinus Maksila –Terbesar, piramid –Basis: dinding lateral rgg hidung –Apek : proc Zygomatikus

23 Sinus Maksila Batas2 : –Anterior : permkn fasial sinus maksila –Posterior : fosa infra temporal & Pterigomaksila –Medial : dinding lateral hidung –Superior : dasar orbita –Inferior : proc alveolaris & palatum

24 Sinus maksila Anatomi  klinik Dasar sinus dekat dengan gigi PM 1 & 2 Batas superior dekat mata Osteum sinus lebih tinggi dari dasarnya Diameter ostium 1-3mm

25 Sinus maksila Terbentuk sejak lahir Pada anak : dasar sama / > tinggi dari dasar rongga hidung Ukuran Sinus Lahir : 7-8 x 4-6 mm Dewasa : Medio lateral : 3-5 cm Antero posterior: 2-5 cm Volume: mL

26 Sinus maksila Vaskularisasi : – a. maksila interna – a. sphenopalatina – a. palatina mayor – a. alveolaris anterior - posterior

27 Sinus maksila Histologi & fisiologi : Mukosa :. lanjutan cavum nasi ( > tipis ). epitel kolumner pseudo- komplek bersilia

28 Sinus frontal Sempurna usia > 8 tahun Batas dengan orbita tipis Muara di meatus medius ( bersama dg sinus maksila & sinus ethmoid )

29 Sinus Ethmoid Sinus Ethmoid 3-16 Sel-sel ( sarang lebah ) volume total 3 ml Letak : bula ethmoid, diantara konka media & ddng medial orbita Jumlah : 2 kelompok – S. Ethmoid anterior muara  meatus media – S. Ethmoid posterior muara  meatus superior

30 Sinus Ethmoid Batas – batasnya – Lateral : Lamina papirasea ( mata) – Superior: Lamina kribosa – Posterior: Sinus sphenoid

31 Sinus Sphenoid Letak : di dalam os sphenoid Batas – batas : –Superior: fosa cerebri media –Inferior: atap nasofaring –Lateral: sinus cavernosus & a. carotis interna –Posterior: Pons / fosa cerebri posterior

32 Komplek ostiomeatal Celah sempit yg merupakan unit drainase fungsional ta : bula ethmoid, prosesus uncinatus, infundibulum ethmoid, hiatus semilunaris, ostium sinus maksila, resesus frontalis

33 Fungsi sinus –Air conditioning –Keseimbangan kepala –Menjaga suhu –Resonansi Fungsi normal sinus tergantung pd ventilasi & drainase yg baik

34 Fungsi hidung Jalan nafas Penciuman Air conditioning Penyaringan /proteksi Resonansi

35 TENGGOROK Dibagi menjadi 3 (tiga ) bagian I. Nasofaring : - Tonsila nasofaring, Muara Tuba Eustachii dan Fossa Rosenmuller II. Orofaring : - Tonsila palatina, Tonsila lingualis III. Hipofaring ( laringofaring ); - Porta Esofagus dan laring

36 F A R I N G ANATOMI I.Nasofaring (Epifaring) Batas : Depan: Koana Atas: Basis kranii Belakang: Vertebra servikal Lateral: dinding med. leher Bawah: palatum mole Bangunan : 1. Ostium tuba 2. Adenoid 3. Fosa Rosenmulleri 4. Ismus nasofaring 5. Torus tubarius

37 II. OROFARING (Mesofaring) Batas : Depan: Kavum Oris Atas: Palatum Mole Belakang: Vertebra servikal 2,3 Lateral: Dinding med. leher Bawah: EPiglotid Bangunan : 1. Tonsila palatina 2. Fosa supra tonsil 3. Tonsila lingualis

38 III. LARINGOFARING (HIPOFARING) Batas : Depan: Epiglotis Atas: Orofaring (Tepi atas epiglotis) Belakang: Vertebra servikal 3,4,5,6 Lateral: Dinding med. leher Bawah: Bag. Depan : Kriko Bag. Blk. : Porta esofagus Bangunan : 1. Laring (Depan) 2. Fosa (sinus) piriformis 3. Valekula

39 MUKOSA FARING Nasofaring : Superior : kolumner pseudo-komplek + silia. Inferior: transisional / kolumner kompleks. Orofaring Skuamuskompleks. Laringofaring

40 OTOT-OTOT FARING 1.Ekternal : Konstriktor faring - Superior - Media - Inferior 2. Internal - Stilofaring - Palatofaring - Salfingofaring - Palatoglosus - Levator vili palatini

41 Jaringan Limfe Adenoid : - Tonsila Lushka - Tonsila nasofaringea 2. Tonsila palatina - Fausial tonsil - Amandel 3. Tonsila lingualis.

42 → 1,2,3 : Cincin Waldeyer - Dilapisi epitel - Kripte → Tonsila palatine ∙ Banyak ∙ Dalam ∙ Bercabang → Diisi debris (detritus) ∙ Epitel ∙ Lekosit ∙ Bakteri ∙ Sisa makanan

43 Fungsi faring 1.Saluran nafas 2.Saluran cerna 3.Pertahanan tubuh 4.Resonator

44

45 LARINGOLOGI LARING (LARYNG, LARYNX) Bangunan dibatasi tepi atas trakhea & menonjol masuk ke hipofaring Terletak antara VC III-IV -- VC VI Anak-anak ukuran & dewasa, anteropost. 2 X Mukosa lanjutan dari faring & berlanjut s/d trakea. Laring melekat dengan sekitar melalui otot-otot ; ekstrinsik, menggerakkan laring thd organ sekitar ekstrinsik, menggerakkan laring thd organ sekitar intrinsik, menggerakkan bagian dari laring. intrinsik, menggerakkan bagian dari laring.Embriologi Terbentuk pd kehamilan mg ke 4 (arcus pharyngeus 1 s/d 6) Laring berasal dari arcus pharyngeus 3-4-6

46 ANATOMI Laring --> ruang piramida terbalik (atas>luas dari bawah), basis di posterior & puncak anteroinferior. Pintu masuk ruang laring -> aditus laring dg batas : anterior epiglotis posterior puncak kartilago aritenoid, kornikulata & incisura interaritenoid lateral, plika ariepiglotis dg tonjolan yg dibentuk ujung superior kart.kuneiformis -> tuberkulum kuneiformis Oleh rima glotis ruang laring dibagi : supraglotis sub/infraglotis Rangka laring. Pokok terdiri dari : 1. Kartilago tiroid, tunggal, dpt diraba, ada artikulasi krikotiroid 2. Kartilagi krikoid, tunggal, berbentuk cincin, facies post > lebar dari facies ant. 3. Kartilago aritenoid, dua buah, memp ligamen krikoaritenoid

47

48 Ketiganya merupakan kartilago hyalin, orang dewasa mengalami klasifikasi kecuali sebagian aritenoid, disebut pokok karena memberi bentuk laring & berfungsi proteksi Tambahan terdiri dari : 1.Kartilago epiglotis, tunggal, besar, ujung medial dari dlm kart.tiroid menonjol kedlam faring -> Petiole 2. Kartilago Kornikulata, dua buah, terletak superior aritenoid. 3. Kartilago kuneiformis, dua buah terletak superomedial aritenoid. Ketiganya merupakan kartilago fibroelastis, sampai dewasa tetap elastis. Kerangka yg lain adl tulang yaitu hioid, berbentuk ‘U’

49 OTOT LARING Terdiri dari : I. Otot Ekstrinsik : 1. Elevator (milohyoid, tirohyoid, stilohyoid, konstriktor faring) 2. Depresor (omohyoid, sternohyoid, sternotyroid) II. Otot Instrinsik : 1. Tensor plika vokalis, krikotiroid 2. Mengendurkan plika vokalis, tiroaritenoid 3. Abduktor, krikoaritenoid posterior (safety muscle/posticus) 4. Adduktor, krikoaritenoid lateralis, interaritenoid obliq & transversal 5. Membuka aditus laring, tiroepliglotis (bag.tiroaritenoid) 6. Menutup aditus laring, ariepiglotis (bag.Tiroaritenoid obliq)

50 Otot Ekstrinsik Laring Anterior view

51 Otot Intrinsik Laring

52 Interior Laring. Laring dibagi menjadi Supraglotis, glotis (setinggi rima glotis) dan sub/infraglotis Plika vokalis mempunyai kemampuan : tensor (tegang) aproksimasi (membuka/menutup) vibasi (bergetar) M. Krikoaritenoid tdk murni intrinsik, kontraksi -> tiroid turun -> plika vokalis turun. M. Krikoaritenoid posterior disebut sbg safety muscle, tetap terbuka walau paralise. Rima glotis dibentuk oleh : bag.anterior oleh plika vokalis bag. Posterior oleh kedua basis & prosesus vokalis kartilago aritenoid Rima glotis dibagi menjadi : glotis vokalis, bag.anterior (>besar), merupakan bag.membran glotis respirasi, bag.posterior, merupakan bag.interkartilago Perbandingan keduanya 3 : 2 dewasa pria 2,5 cm : wanita 1,75 cm

53 LIGAMENTUM & MEMBRAN Ekstrinsik : membran tirohiod & ligamen yang merupakan penebalan bag. Medial dan lateral dari membran tirohiod Intrinsik : membran quarangulare, conus elastikus. Ligamen ventikularis vokalis, krikoaritenoid posterior, tiroepiglotis. Kapsul sendi krikotiroid, krikoaritenoid. Didaerah supra glotis terdapat 2 ligamen, lig. Vokalis dan ventrikularis. Memb.quadrangulare terbentang dari epiglotis s/d kart.aritenoid. Ligamentum vokalis adalah tepi atas dari conus elasticus dan conus elasticus melanjut sbg membbrana krikotiroid.

54 INERVASI LARING N. laringeus superior & inferior merupakan cabang dari nervus vagus, sifat motorik, sensorik, otonom (parasimpatis dari kraniosakral dan simpatis dari trunkus simpatikus kanan – kiri kolumna vertb). N. laringeus sup. (sebelah bawah gangl.nodusum – -> karotid sheet) memp. 2 cab : ramus internus (sensorik daerah supraglotik), menembus memb.tirohiod ramus eksternus (motorik), mensarafi m.krikotiroid

55 N. laringeus inferior, kanan, setinggi a.subclavia-> naik menembus membran krikotiroid --> cab. 2 : = ramus sensoris, daerah sub glotis = ramus motorik, otot intrinsik, kecuali krikotiroid kiri, turun melingkari arcus aorta dari ventral --> distal dari lig.arteriosum --> naik VASKULARISASI Arteri laringeus superior, cab.dari a.tiroidea sup, cab dari a.karotis Arteri laringeus inferior, cab dari a. tirooidea inf., cab dari a.subclavia. LIMFE Supraglotis : dari daerah sinus piriformis, servikalprofunda (anterior parotis) Subglotis : dari daerah paratrakhea, trakheo esofagus

56 Arteri dan Vena Laring

57 Aliran Limfe Laring

58 MUKOSA Lanjutan mukosa faring yaitu skuamosa dan terus kearah trakhea serta bronkus yaitu kolumner. Epitel skuamosa terdapat pada anterior epiglotis, tepi medial plika vokalis dan tepi plika ariepiglotika. Kelenjar mukosa terdapat pada setiap tempat kecuali di tepi bebas plika vokalis. Diantara plika vokalis & ventrikularis (bag.lateral) terdpt Sinus Morgagni, anterosuperiornya terdapat Saccus Laring (banyak kelenjar) --> lubrikasi plika vokalis

59 Ruang POTENSIAL # Reinke antara subepitel dan lig.vokalis, batas linea arkuata (2 mm sup. - inf. tepi bebas plika vokalis, infeksi masuk ke ruang ini. # antara kart.tiroid (bag dalam) & m. tiroaritenoid, batas medial : memb. quadrangularis, ventikel & conus elastikus batas anterolateral, bag. dalam kart.tiroid # Pre epiglotik batas anterior, kart tiroid batas medial, epiglotis, lig.glossoepiglotik batas superior, valekula

60 FISIOLOGI Fungsi laring : 1. Fonasi, terjadinya suara harus ada : a. Tekanan udara yg cukup dari paru/otot nafas --> amplitudo b. Tension, aproksimasi & vibrasi plika vokalis --> frekuensi c. Resonansi (organ resonator) 2. Respirasi, rima glotis adl celah paling sempit, gangguan fungsi --> stridor. Monitor dg perasat Jackson ( I s/d IV) 3. Proteksi, thd benda asing : –sadar, mekanisme spincter (aditus laring, plika ventrikularis, plika vokalis) –tak sadar, refleks Gangguan fungsi -> batuk & tersedak 4. Tusif 5. Ekspektoran 6. Deglutasi, elevasi laring-epiglotis tertahan dipangkal lidah, bolus masuk 7. Fiksasi, penutupan rima glotis -> menambah tenaga/kekuatan 8. Sirkulasi, dg fiksasi, aliran darah ke jantungmeningkat 9. Emosi suara keras (marah) & suara lembut (senang)

61 PEMERIKSAAN LARING 1. Anamnesis, serak dan sesak (stridor) 2. Inspeksi tanpa alat, struktur laring (deformitras, ketegangan) 3.Palpasi, bisa dirasakan deformitas dan ketegangan otot pernafasan Laringoskopi indirek Inspeksi laring dg kaca laring 70  Laringoskopi direk Inspeksi dengan laringoskop Kleisesser (melihat langsung) Stroboskopi Rontgen Kenematografi

62


Download ppt "ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA,HIDUNG DAN TENGGOROK – KEPALA LEHER Oleh : dr.Andri Firmansyah dr.Dian Kalbuadi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google