Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kompetensi guru (pp no 19/2005) Kompetensi pedagogik : A. memahami landasan kependidikan. B. pemahaman thd peserta didik. C. pengembangan kur/silabus.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kompetensi guru (pp no 19/2005) Kompetensi pedagogik : A. memahami landasan kependidikan. B. pemahaman thd peserta didik. C. pengembangan kur/silabus."— Transcript presentasi:

1 Kompetensi guru (pp no 19/2005) Kompetensi pedagogik : A. memahami landasan kependidikan. B. pemahaman thd peserta didik. C. pengembangan kur/silabus. D. pelaksanaan pembj mendidik, dialogis. E. pemanfaatan tek pembj. F. evaluasi hasil belajar

2 Kompetensi kepribadian A. beriman dan bertaqwa. B. berakhlak mulia. C. arif dan bijaksana. D. demokratis, mantap, berwibawa, stabil. E. jujur,dewasa,sportif, menjadi teladan

3 Kompetensi sosial A. berkomunikasi lisan, tulis, isyarat secara santun. B. bergaul secara efektif dengan peserta didik, teman sejawat dan pimpinan. C.Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. D. menerapkan prinsip persaudaraan

4 Kompetensi profesional A. kemampuan penguasaan materi secara luas sesuai standar isi prog satuan pendidikan. B. konsep, metode, disiplin keilmuan,teknologi/seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi prog. Satuan pendidikan

5 Evaluasi hasil belajar Evaluasi : kegiatan atau proses menilai sampai dimanakah tujuan atau indikator yang telah dirumuskan sudah dilaksanakan Tujuan evaluasi 1. untuk merangsang kegiatan mahasiswa dalam menempuh program pendidikan. 2. untuk menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidak berhasilan

6 Prinsip-prinsip evaluasi 1. Komprehensif ( cognitive, affective, psychomotor) 2. kesinambungan 3. Obyektif

7 Ciri-ciri evaluasi hasil belajar 1. evaluasi dilaksanakan secara tidak langsung : yang diukur bukan pandainya tetapi gejala /fenomena yang memancar dari kepandaiannya. 2. pengukuran untuk menilai keberhasilan peserta didik menggunakan ukuran yang bersifat kuantitatif : penilaian beracuan kriteria. 3. kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan unit-unit atau satuan yang tetap. Jika dihadapkan pada suatu tes hasil belajar maka prestasi belajarnya akan berbentuk kurve normal. 4. prestasi belajar yang dicapai peserta didik dari waktu ke waktu adalah bersifat relatif. 5. kegiatan evaluasi hasil belajar sulit dihindari terjadinya kekeliruan pengukuran.

8 Sumber-sumber kekeliruan /error dalam pengukuran ( JP Guilford) 1. kekeliruan penukuran yan bersumber dari kekeliruan sampling – kekeliruan tester dalam menentukan sampel bahan pelajaran yang diinginkan. 2. kekeliruan scoring error – kekeliruan dalam pemberian skor – kekeliruan fihak penguji dalam memberikan skor terhadap jawaban yang betul. 3. kekeliruan rangking – kekeliruan oleh pembuat skor dalam menentukan urutan kedudukan skor yang tidak dimiliki peserta didik. 4. kekeliruan karena guessing (guessing error) kekeliruan terjadi akibat permainan spekulasi dalam memberikan jawaban.

9 Konteks evaluasi hasil belajar, 3 ranah yang menjadi sasaran dalam kegiatan evaluasi 1. apakah peserta didik sudah dapat memahami materi ajar yang disampaikan. 2. apakah peserta didik dapat menghayati materi ajar. 3. apakah materi ajar yang diberikan sudah dapat diamalkan secara kongkrit.

10 Ranah kognitif,afektif dan ranah psikomotor sebagai obyek evaluasi hasil belajar A. Ranah kognitif : ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yan menyangkut otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah ini terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai jenjang yan terendah sampai jenjang yang paling tinggi. Jenjannya :(1) pengetahuan /hafalan, (2) pemahaman, (3) penerapan,(4) analisis,(5) sintesis, (6) evaluasi.

11 Pengetahuan : kemampuan mengingat kembali. Pemahaman : kemampuan untuk mengerti sesuatu dan memberikan penjelasan. Penerapan :menerapkan dan mampu menggunakan ide, prinsip, teori. Analisis : kemampuan untuk merinci atau mengurai dan memahami hubungan antara bagian-bagian /faktor satu dengan yang lain. Sistesis : kemampuan memadukan bagian-bagian secaralogis, sehingga menjelma menjadi suatupola yang berstruktur. Penilaian membuat pertimbahan terhadap suatu situasi,ide, gagasan

12 Ranah afektif 1. menerima receiving: kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar. 2. responding/menanggapi: kemampuan mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu. 3. menilai : kemampuan memberikan penghargaan terhadap sesuatu obyek /kegiatan. 4. mengatur/ organisation : mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru. 5. characterization : keterpaduan semua istem nilai yang telah dimiliki mempengaruhi kepribadian.

13 Ranah psikomotorik Hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik menunjukkan perilaku/perbuatan sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektif.

14 Langkah-langkah pokok dalam evaluasi belajar 1. menyusun rencana evaluasi hasil belajar menyangkut : a merumuskan tujuan dilaksanakan evaluasi, b menetapkan aspek- aspek yang akan dievaluasi, c memilih dan menentukan teknik evaluasi, d. menyusun alat pengukur yang akan digunakan ( teknik tes : butir soal, Teknik non tes : rating scale, check list, wawancara, angket), e. menentukan tolok ukur: penentukan kriteria sbg patokan dalam memberikan interpretasi data hasil evaluasi

15 2. menghimpun data : dalam evaluasi hasil belajar menyelenggarakan test hasil belajar. 3. melakukan verifikasi data: untuk dapat memisahkan data yang baik dari data yang kurang baik. 4. mengolah dan menganalisis data : dengan statistik – lewat tabel, grafik, diagram standar deviasi. 5. memberikan interpretasi : memberi kesimpulan hasil analisis. 6. tindak lanjut hasil analisis : hasil kesimpulan akan ditindak lanjuti dengan keputusan atau kebijakan

16 Teknik tes dan teknik non tes sebagai alat evaluasi hasil belajar Pengertian Tes : alat/prosedur yang digunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Fungsi tes : 1. sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. 2. sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran

17 Penggolongan tes A. penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik dibedakan: 1. tes seleksi. 2. tes awal. 3. tes akhir. 4. tes diagnostik. 5. tes formatif. 6. tes sumatif

18 B. penggolongan tes berdasarkan aspek psikhis yang ingin diungkap : 1. tes inteligensi. 2. tes kemampuan. 3. tes sikap. 4. Tes kepribadian. 5. tes hasil belajar.

19 Teknik non test 1. observasi/pengamatan : observasi dilaksanakan dalam rangka pengamatan dan pencatatan secara sistimatis terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Jenis : observasi partisipatif. -”- non partisipatif. -”- eksperimental

20 Contoh instrumen observasi mata pelajaran : ketrampilan NM siswa : topik :membuat kaligrafi dr kertas. Hari/tanggal : kelas : jam pelajaran : noKegiatan/aspek yang dinilai skorketerangan Persiapan alat Kombinasi bahan Kombinasi warna Cara menerjakan. Sikap waktu mengerjakan Kecekatan. Hasil pekerjaan

21 Kebaikan observasi : 1. data diperoleh langsung dari lapangan. 2. data hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian peserta didik. Kelemahan observasi: 1. observasi sebagai salah satu alat evaluasi hasil belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh pengajar. 2. kepribadian dr observer seringkali mewarnai masuk dalam penilaian. 3. data yang diungkap baru dapat mengungkap kulit luarnya saja.

22 Teknik wawancara Ada 2 macam jenis teknik wawancara : 1. wawancara terpimpin. 2. wawancara tidak terpimpin. Alat bantu wawancara adalah: 1. tape Recorder. 2. foto.

23 Teknik angket Angket : dapat dipakai sbg alat bantu dlam penilaian hasil belajar. Data yang dapat dihimpun mellui angket : - data tentang kesulitan kesulitan belajar yang dihadapi peseta didik. - data hasil belajar ranah afektif. - skala sikap (likert). Contoh : angket pilihan ganda untuk mengungkap hasil belajar ranah afektif’ bidang studi agama islam :

24 Contoh Terhadap teman-teman sekelas saya yang rajin dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah sholat, saya: A. merasa tidak harus meniru mereka. B. merasa belum pernah memikirkan untuk sholat dengan rajin dan khusu’ C. merasa ingin seperti mereka, tetapi terasa masih sulit. D. sedang berusaha agar saya rajin dan khusu’. E. merasa iri hati dan ingin seperti mereka.

25 Pemeriksaan dokumen Evaluasi mengenai kemajuan perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji dapat dilengkapi denan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup(auto biografi)

26 Teknik penyusunan dan pelaksanaan tes hasil belajar Ciri-ciri tes hasil belajar yang baik : 1. tes hasibelajar bersifat valid (tepat,benar, shahih,absah). 2. memiliki reliabilitas (keajegan). 3. bersifat obyektif : disusun menurut apa adanya. 4. bersifat praktis : dapat dilaksanakan, dapat dilaksanakan dengan mudah.

27 Prinsip-prinsip dasar dalam menyusun tes hasil belajar 1. Tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar. 2. tes hasil belajar merupakan sampel yang representatif dari populasi bahan belajar. 3. tes hasil belajar harus dibuat bervariasi sehingga ccok untuk mengukur hasil belajar. 4. tes hasil belajar harus didesain sesuai dengan kegunaannya. 5. tes hasil belajar harus dapat dijadikan alat pengukur keberhasilan belajaran siswa

28 Bentuk-bentuk tes hasil belajar & teknik penyusunan 1. tes hasil belajar bentuk uraian : A. pengertian tes uraian, tes hasil belajar yang memiliki karakteristik : - tes berbentuk pertanyaan atau perintah. - testee harus memberikan penjelasan, penafsiran, membandingkan, membedakan. - jumlah butir soal terbatas. - butir soal diawali dengan kata jelaskan,terangkan,uraikan, mengapa, bagaimana

29 B. Penggolongan tes uraian - tes uraian bentuk terbuka : jawaban yang dikehendaki muncul dari testee sendiri, sifatnya agak luas. - tes uraian bentuk terbatas : jawaban yang dikehendaki muncul dari testee yang sifatnya terarah. C. ketepatan penggunaan tes uraian tes hasil belajar bentuk uraian tepat digunakan apabila pembuat soal ingin mengungkap daya ingat dan pemahaman testee terhadap materi pelajaran yang ditanyakandalam tes dan kemampuan memahami konsep.

30 Kebaikan dan kelemahan tes uraian Kebaikan tes uraian : 1. dapat dibuat dengan mudah &tepat,kalimat soal pendek. 2. dapat mencegah spekulasitestee dalam menjawab. 3.melalui butir tes uraianpenyusunan soal dapat mengetahui seberapa jauh tingkat kedalamandan penguasaan materi yang ditanyakan. 4. testee akan terdorong untuk berani mengemukan pendapat dengan menggunakan bahasa dan kalimatnya sendiri.

31 Kelemahan tes uraian : 1. tes uraian kurang dapat menampung isi dan luasnya materi. 2. cara mengoreksi jawaban cukup sulit. 3. dalam memberikan skor terdapat kecenderungan tester lebih bersifat subyektif.

32 Petunjuk operasional penyusunan tes uraian 1. dalam menyusun b utir soal harus dapat mencakup ide pokok dari materi pelajaran. 2. diusahakan dalam susunan kalimat soal berlainan dengan susunan kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran 3. dalam menyusun, butir soal tes uraian diusahakan pertanyaan atau perintah jangan dibuat seragam, tetapi dibuat bervariasi

33 Contoh soal uraian Contoh soal yang jelek : 1. jelaskan hubungan antara …….. Dengan……… 2. jelaskan mengapa……..? Contoh soal yang baik: 1. buatlah sebuah uraian sehingga dapat tergambar dengan jelas, hubungan antara….. Dengan……. 2. kemukakan alasannya, mengapa……….

34 Tes hasil belajar bentuk obyektif A. pengertian : jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang dijawab testee dengan jalan memilih salah satu (atau lebih) diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah tersedia. B. Penggolongan tes obyektif - tes obyektif btk benar salah (true-false test). - tes obyektif bentuk menjodohkan (matching test). - tes obyektif bentuk melengkapi ((Completion test). - tes obyektif bentuk isian (Fill in test). - tes obyektif bentuk pilihan ganda (multiple choice item tes)

35 Test obyektif benar salah TBS : butir-butir soal yang diajukan merupakan pernyataan dimana ada yang benar ada yang salah. Testee membutuhkan huruf B apabila benar dan S apabila salah. Keunggulannya : - pembuatannya dapat dipergunakan berulang kali. - dapat menyangkut bhn pelajaran yang luas. - bagi testee, mengerjakannya mudah. - bagi tester, cara mengoreksi juga mudah. Kelemahannya: - tingkat spekulasi tinggi. - sifatnya hafalan, dan hanya mengungkapkan ingatan. - reliabilitas rendah,kecuali dibuat banyak

36 Tes obyektif bentuk full in Tes isian berbentuk cerita atau karangan kata-kata penting dalam cerita beberapa dikosongkan. Contoh : Pengertian pendidikan Islam menurut Syech Anwar Jundi ialah …….. (1), konsep pendidikan Islam tsb diatas mengandung pengertian bahwa pendidikan islam itu berlangsung ……(2).

37 Kebaikan : 1. materi yang diujikan bisa terekam semua. 2. mengungkap pengetahuan testee secara bulat. 3. cara menyusun item mudah. Kelemahan : 1. lebih banyak mengungkap aspek pengetahuan. 2. soal banyak memakan tempat. 3. kurang komprehensif. 4. testee bermain tebak terka.

38 Tes obyektif bentuk completion test ( test melengkapi) Ciri: 1. tes terdiri dari kalimat yang bagian-bagiannya sudah dihilangkan. 2.bagian yang hilang diganti dengan titik titik (…….). 3. titik-titik dilengkapi atau diisi. Kebaikannya: 1. lebih komprehensif. 2. mengukur taraf kompetensi. Kelemahannya : 1. kecenderungannya mengungkap hafalan(daya ingat) 2. kurang relevan untuk diujikan. 3. tester kurang berhati-hati menyusun kalimat.

39 Test bentuk matching Ciri-ciri : 1. tes terdiri dari satu pertanyaan dan satu seri jawaban. 2. mencari dan menempatkan jawaban-jawaban yang telah bersedia sehingga cocok dengan pasangannya. Contoh daftar 1 daftar 2 1. …Sholat sunnah dilaksanakan A……….. tiap malam bulan romadhan 2….. Sholat sunnah yang dilakukan b Tarawih sewaktu memasuki masjid 3…… c T. masjid 4…… d………… 5…… e…………. Kebaikannya : 1.Pembuatannya mudah, (2) penilaiannya mudah, (3) apabila dibuat dengan baik, faktor menebak praktis dapat dihilangkan. Kelemahannya: 1. banyak mengungkap aspek hafalan, (2) kurang baik untuk mengevaluasi pengertian dan kemampuan membuat tafsiran

40 Tes obyektif multiple choice item MCI : tes bentuk pilihan ganda dan berbentuk pertanyaan atau pernyataan. MCI 9 model : A. model melengkapi lima pilihan. B. model asosiasi lima atau empat pilihan. C. model melengkapi berganda. D. model analisis hubungan antar hal. E. model analisis kasus. F. model hal kecuali. G. hubungan dinamik. H. pemakaian diagram, grafik

41 Model melengkapi lima pilihan Untuk butir soal nomor 1 sampai dengan 5 berikut ini, cocokanlah istilah yang terdapat di belakang huruf abjad, dengan pernyataan yang terdapat pada masing-masing soal : A.dzhalim B.fasiq C.kafir D.murtad E riya Soal 1. orang yang tidak mengakui adanya Allah. 2. orang yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. 3. orang yang keluar dari agama islam. 4. orang yang tahu aturan dan kewajiban, tetapi tidak mau melakukannya. 5. Suka pamer dan ingin dipuji orang. ( kunci : 1. C 2. A 3. D 4. B 5. E )

42 MCI model hal kecuali Contoh untuk soal dibawah ini saudara diminta dua jawaban pada kolom sebelah kiri terdapat tiga macam kategori, sedangkan pada kolom sebelah kanan terdapat lima macam hal, dimana empat diantaranya berhubungan erat dengan salah satu kategoridi kolom sebelah kiri. Pilihlah : Kategori manakah yang berhubungan erat dengan empat hal tersebut, dan pilihlah hal yang tidak termasuk kelompok hal dimaksud diatas Soal : A. Kriteria untuk menjadi khalifah dalam 1. Shiddiq pemerintahan Islam B. sifat sifat orang yang sombong 2. Amanah C. sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasul 3. khianat 4. tabligh. 5. fathonah

43 MCI model hubungan dinamik Contoh : Pilihlah: A. jika (1) naik maka (2) naik jika (1) turun maka (2) turun B. jika (1) naik maka (2) turun jika (1) turun maka (2) naik C jika perubahan pada (1) tidak mempengaruhi(2). Soal : 1. (1) volume urin (2) berat jenis urin. 2. (1) kadar protein plasma. (2) tekanan koloid osmotik plasma. (kunci : 1c 2. a)

44 MCI model perbandingan kuantitatif Contoh Dibawah ini terdapat beberapa soal mengenai perbandingan. Tulislah : A. jika (1) lebih besar dari pada (2). B. jika (1) lebih kecil daripada (2). C. jika keduannya sama besar atau hampir sama besar Soal : 1. (1) berat jenis bensin. (2) berat jenis air. 2. (1) pulau irian. (2) pulau kalimantan. (kunci 1. B 2. A)

45 Petunjuk operasional penyusunan tes obyektif 1. untuk dapat menyusun butir butir soal tes yang bermutu tinggi, tester harus sering berlatih. 2. setiap kali alat pengukur hasil belajar (tes obyektif ) selesai digunakan, hendaknya dilakukan analisis item, untuk mengetahui mana butir soal yang baik dan yang tidak baik. 3. dalam mencegah spekulasi dalam menjawab perlu disiapkan norma ( sanksi denda untuk jawaban salah) 4. agar tes obyektif tidak hanya mengungkap hafalan, tetapi juga aspek berfikir yang lebih dalam maka diperlukan tabel spesifikasi. 5. dalam menyusun kalimat soal obyektif, kalimat atau istilah yang digunakan sederhana. 6. dihindari penafsiran ganda dalam pembuatan soal. 7. pemakaian tanda (titik,koma, grafik) ditulis secra benar. 8. membuat petunjuk mengerjakan yang jelas

46 Tabel spesifikasi Pengertian TS : tabel analisis yang didalamnya dimuat rincian materi tes dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki oleh tester, dimana pada tiap petak (sel) dari tabel tsb diisi dengan angka-angka yang menunjukkan banyaknya butir soal yang akan dikeluarkan dalam tes hasil belajar bentuk obyektif. Menurut S. Bloom kompetensi kognitif peserta didik dari yang paling rendah sampai kepada yang paling tinggi : A. pengetahuan. B. pemahaman. C. aplikasi atau penerapan. D. analisis. E. sntesis. F. evaluasi

47 Cara membuat tabel spesifikasi A.`jumlah butir soal obyektif 80 soal. B. perimbangan banyaknya butir dilihat dari isi mata kuliah: Bab 1 = 10% X 80 = 8 soal. Bab 2 = 15%X 80 = 12 soal. Bab 3 = 30%X 80= 24 soal. Bab 4 = 35 %X80= 28 soal. Bab 5 = 10 %X80= 8 soal.

48 c. Perimbangan banyaknya butir soal dilihat dari kompetensi yang akan diukur/diungkap Bab 1 jumlah butir= 8 Taraf pengetahuan= 25% X 8 = 2 butir Taraf pemahaman = 25% X8 = 2 butir Taraf penerapan = 40% X8 = 3,2= 3bt Taraf analisis = 10% X8 = 1 butir

49 Alternative assessment Asesmen alterternatifmerupakan asesmen yang tidak hanya tergantung pada tes tertulis tetapi dapat memberi informasi secara lengkap tentang proses pembelajaran. Asesmen alternatif tidak hanya menilai produk belajar tetapi juga menilai proses belajar untuk menghasilkan produk belajar. Kelompok asesmen alternatif antara lain portofolio, authentic assessment, performance assessment

50 lanjutan Asemen alternatif mempunyai ciri antara lain : 1. penilaian dilakukan untuk menilai kualitas produk dan unjuk kerja siswa. 2. tugas yang diberikan berhubungan dengan realitas kehidupan siswa. 3 ada integrasi pengetahuan antara pengetahuan dengan kinerja atau produk yang dihasilkan. 4. sulit diskor dengan reliabilitas tinggi. 5.hasil asesmen alternatif diberikan dengan kinerja.

51 Keunggulan asesmen alternatif 1. dapatmenilai hasil belajar yang komplek. 2. menyajikan hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung dan lengkap. 3. meningkatkan motivasi siswa. 4. mendorong pembelajaran pada situasi nyata. 5. memberi kesempatan pada siswa untuk self evaluation. 6.meningkatkan daya transfer kemampuan

52 Kelemahan asesmen alternatif 1. membutuhkan banyak waktu. 2.Adanya unsur subyektivitas dalam penskoran. 3. ketetapan penskoran rendah. 4. tidak tepat untuk kelas besar.

53 Asesmen kinerja Bentuk asesmen kinerja terdiri dari 2 komponen utama ialah : tugas dan kriteria penskoran ( rubrik). A. Tugas Asesmen jenis ini meminta anak untuk melakukan sesuatu atau menunjukkan kinerjanya sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. Informasi tentang keberhasilansiswa dalam unjuk kerja diperoleh dari berbagai jenis tagihan yaitu

54 lanjutan 1 tes pihan ganda yang diperluas : memilih jawaban disertai alasan. 2. tes uraian terbuka : dapat menilai kemampuan siswa dalam penalaran, logika, serta kemampuan dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan. 3. tugas individu. 4. tugas kelompok. 5. proyek. 6. wawancara. 7. pengamatan

55 B. Rubrik Hal hal yang diperhatikan dalam mengembangkan rubrik: 1. guru menentukan dimensi kinerja yang akan dinilai. 2. cocokkan demensi kinerja dengan kinerja riil siswa dilapangan untuk melihat kesesuaiannya. 3. revisilah demensi demensi kinerja sehingga menjadi lebih tepat. 4. menentukan skala dari demensi kinerja yang akan dinilai. 5.sebelum rubrik digunakan, lakukan penilaian terhadap rubrik tersebut. 6 jika rubrik sudah baik lakukan sosialisasi dengan fihak terkait

56 Asesmen portofolio Portofolio adalah kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistimatis yang menunjukkan upaya, proses, hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari waktu ke waktu. Karakteristik portofolio

57 Karakteristik portofolio adalah 1.asesmen portofolio menuntut kerjasama guru dan siswa. 2. hasil portofolio dikumpulkan dari waktu ke waktu. 3. kriteria penilaian yang digunakan harus jelas dari waktu ke waktu

58 lanjutan Komponen komponen dalam portofolio 1.portofolio hendaknya memiliki kreteria penilaian yang jelas, spesifik dan berorientasi pada penelitian. 2. untuk menilai kemampuan dan ketrampilan siswa dapat digunakan berbagai sumber informasi mis ortu, guru. 3. portofolio dapat terdiri dari berbagai informasi seperti karangan, hasil lukisan, skor tes,foto. 4. kualitas tas portofolio harus ditingkatkan dari waktu ke waktu. 5. setiap mata pelajaran mempunyai bentuk portofolio yang berbeda dengan mata pelajaran lain.

59 Teknik pengolahan & pengubahan skor hasil tes menjadi nilai Perbedaan antara skor dan nilai Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijwab dengan betul dengan memperhitungkan bobot jawaban betulnya.

60 Nilai : angka yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor – skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan tandar tertentu

61 Pengolahan & pengubahan skor mentah hasil tes mjd skor standar A. Penilaian Beracuan Patokan (PAP)= nilai yang akan diberikan kpd testee didasarkan pd standar mutlak artinya pemberian nilai dilaksanakan dengan membandingkan antara skor mentah hsl tes dng skor maksimum ideal. B Pengolahan dan pengubahan skor menjadi nilai berdasarkan norma atau kelompok yaitu Penilaian Beracuan Norma (PAN

62 Contoh dengan penilaian beracuan patokan No soal bentuk tes jml bjb skor mci 5 pil mci pil ganda hub antar hal analisis kasus tes uraian skor maksimum ideal 120

63 Skor hasil tes mt kul Agama (40 m) N. urut skor no urut skor no urut skor

64 Skor mentah diubah menjadi nilai sandar dengan PAP NO S. mentah nilai /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= /120 X 100= 48

65 Pengolahan & pengubah skor mentah mnjd nilai standar dng PAN Penilaian beracuan kelompok (pan) dgn asumsi : 1.Pada populasi mahasiswa yang sifatna heterogen (berbeda jenis kelamin,latar belakang pendidikan, status sosial,IQ) akan selalu didapatkan kelompok “baik”, kelompok “sedang” dan kelompok “kurang”

66 2. Bahwa tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk menentukan proses relatif dari para peserta tes yang sedang dievaluasi itu yaitu apakah seorang peserta tes posisi relatifnya berada di “atas” di “tengah” ataukah di “bawah”

67 Apabila dalam penentuan nilai standar digunakan standar relatif, maka prestasi kelompok dicari atau dihitung dengan menggunakan metode statistik, dimana prestasi kelompok atau nilai rata rata kelas adalah identik dengan rata-rata hitung

68 Dalam tingkat homogenitas dan sekaligus tingkat heterogenitas dari nilai-nilai dapat ditunjukkan oleh salah satu ukuran variabilitas data yaitu dengan deviasi standar

69 Jenis-jenis nilai standar 1. Nilai standar berskala lima yaitu nilai A, B, C, D, E (F). 2. Nilai standar berskala sembilan yang bergerak dari nilai 1 sampai dengan Nilai standar berskala sebelas yang bergerak dari nilai 0 sampai dengan nilai 10

70 Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar berskala lima Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar lima menggunakan patokan sbb : Mean + 1,5 SD = A Mean + 0,5 SD = B Mean = C Mean - 0,5 SD = D Mean - 1,5 SD = E

71 Langkah 1 :menyusun dan menyajikan skor-skor mentah dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Diketahui :skor tertinggi (highest skor) 72 skor terendah (lowest skor)15 Jadi R =( H – L)+1 = (72-15) +1 =58 Interval = 5

72 Distribusi frekuensi skor mentah mk Agama 80 mhs Skor jari-jari f 70 – Total 40 N

73 Teknik Analisis item test hasil belajar 1. Teknik Analisis Derajad kesukaran item Bermutu atau nya butir-butir item tes hasil belajar dapat dilihat dari : a. derajat kesukaran yang dimiliki oleh masing-masing butir item. b. butir-butir item dinyatakan baik, apabila butir-butir item tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah.

74 Menurut witherington indek kesukaran item berkisar 0,00-1,00 1. angka indek kesukaran sebesar 0,00 menunjukkan bahwa butir item tersebut termasuk kategori item yang terlalu sukar. 2.angka indek kesukaran item 1,00 mengandung arti bahwa butir item yang terlalu mudah. P : 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,7 0,8 0,9 1,00

75 Rumus p = Np N P = proporsi = angka indek kesukaran item Np = banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan. N = jumlah testee yang mengikuti tes hasil belajar

76 Indek kesukaran item Besarnya p Interpretasi kurang dari 0,30 terlalu sukar 0,30 - 0,70 cukup (sedang) lebih dari 0,70 terlalu mudah L Thorndike dan Elizabeth

77 Sebaran skor jawaban 10 orang testee dalam tes hasil belajar KDM teste skor yang dicapai untuk butir item A B C D E F G H I J N Np Np Np Np Np Np Np Np Np Np

78 Perhitungan unt memperoleh P dalam rangka analisis derajad kesukaran soal Btr item angka Indek KI interpretasi 1 6/10 =0,60 cukup/sdng 2 2/10 = 0,20 terlalu sulit 3 8/10 = 0 mudah 4 5/10 = 0,50 cukup/sdng 5 6/10 = 0,60 cukup/sdng 6 2/10 = 0,20 terlalu sulit 7 8/10 = 0,80 terlalu mudah 8 3/10 = 0,30 cukup/sedang 9 8/10 = 0,80 terlalu mudah 10 7/10 = 0,70 cukup/ sedang

79 Teknik analisis daya pembeda item Daya pembeda item adalah: kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan antara testee yang berkemampuan tinggi dengan testee yang berkemampuan rendah. Mengetahui daya pembeda item penting, sebab salah satu dasar yang dipegang untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain berbeda-beda, dan butir-butir item tes hasil belajar harus mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat dikalangan testee.

80 Daya pembeda item ditujukan untuk menjawab pertanyaan “ Apakah testee yang kita anggap pandai jawabannya pada umumnya betul, dan apakah yang testee yang kita anggap tidak pandai pada umumnya jawabannya salah?” jika jawabanya “ya” maka butir item yang bersangkutan dapat kita anggap sebagai butir item yang baik dalam arti butir item telah dapat menunjukkan kemampuan didalam membedakan antara testee yang pandai dan testee yang tidak pandai.

81 Tetapi jika jawabannya “ tidak” yaitu testee yang dianggap memiliki kemampuan tinggi justru lebih banyak yang menjawab salah terhadap butir item, sedangkan testee yang kita anggap berkemampuan rendah justru lebih banyak dapat menjawab butir item dengan betul, maka butir item yang bersangkutan dapat dinyatakan sebagai butir item jelek, sebab hasil yang dicapai tes itu justru bertentangan dengan tujuan tes itu sendiri.

82 Daya pembeda item itu dapat diketahui melalui atau dengan melihat besar kecilnya indek diskriminasi item. Angka indeks diskriminasi item adalah sebuah angka atau bilangan yang menunjukkan besar kecilnya daya pembedanya yang dimiliki oleh sebutir item

83 Patokan untuk mengetahui besarnya angka indek diskriminasi item Bsr angka Id klasifikasi interpretasi Kurang 0,20 Poor tdk mmliki DB. 0,20-0,40 Satisfaktory mmliki DB cukup 0,40-0,70 good mmliki Db baik 0,70-1,00 Excellent mmliki db baik sekali Bertanda negatif btr item DP ngt

84 Contoh : 10 orang testee mengikuti tes hasil belajar bidang studi bahasa arab yang tertuang dalam bentuk multiple choice dengan 10 butir item setiap jawaban betul diberi bobot 1 sedangkan untuk setiap butir item yang dijawab salah diberi bobot 0

85 skor untuk butir item nomor Teste ttl A B C D E F g h I j N 61

86 Kelompok atas kelompok bawah Testee skor testee skor B 10 A 5 H 9 J 5 C 7 I 4 G 7 F 4 E 7 D 3 Ja =5 Jb = 5

87 Validitas bandingan Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan memiliki validitas bandingan apabila tes tsb dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah antara tes pertama dan tes berikutnya. Validitas bandingan juga disebut validitas sama saat, validitas pengalaman.

88 Menguji validitas bandingan Uji v. bandingan : data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh pada masa lalu, kita bandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh sekarang. Jika hasil tes yang ada sekarang mempunyai hubungan searah dengan hasil tes yang lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti itu disebut validitas bandingan

89 Untuk mengetahui ada/tidaknya hubungan yang searah antara tes pertama dan tes berikutnya dapat digunakan teknik analisis korelasional product moment dari Karl Person. Jika korelasi antara variabel x (tes pertama) dengan variabel y (tes ke 2) adalah positif dan signifikan, maka tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang telah memiliki validitas bandingan.

90 Contoh v. bandingan Pada tgl 1 agustus sebanyak 20 siswa dihadapkan pada tes formatif bidang studi PPKN nilai-nilai sbb: N. urut nama nilai n.urut nama nilai 1 A 5 11 K 6 2 B 7 12 L 5 3 C 4 13 M 6 4 D 8 14 N 5 5 E 6 15 O 6 6 F 3 16 P 7 7 G 8 17 Q 4 8 H 7 18 R 6 9 I 9 19 S 5 10 J 4 20 T 9

91 dua minggu (tgl 15-8)kemudian diadakan tes formatif ke II(PPKN) dua minggu (tgl 15-8)kemudian diadakan tes formatif ke II(PPKN) N.Urut Nama Nilai N urut Nama Nilai 1. A 5 11 K 8 2. B 7 12 L 6 3. C 5 13 M 7 4. D 9 14 N 6 5. E 7 15 O 7 6. F 4 16 P 7 7. G Q 5 8. H 8 18 R 7 9. I 9 19 S J 6 20 T 9

92 Dalam rangka menguji validitas bandingan diajukan : Hipotesis Nihil : tidak terdapat korelasi positif yang signifikan antara n ilai-nilai hasil tes formatif I (variabel X) dengan nilai-nilai hasil tes formatif II (variabel Y). Pengujian hipotesis dilakukan dengan mencari angka korelasi “r” product moment dengan derajat kebebasan sebesar (N – 2), pada taraf signifikansi 1 % dengan ketentuan jika Rxy sama atau lebih besar dari pada R tabel atau R t maka hipotesis nihil ditolak berarti diantara kedua variabel tersebut terdapat korelasi positif yang signifikan, sehingga tes formatif dapat dinyatakan valid, dalam arti telah memiliki validitas bandingan yang mantap.

93 Perhitungan-perhitungan untuk memperoleh angka indek korelasi product moment Nm siswa X Y XY X 2 Y 2 A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T =N 120=ΣX 130=ΣY 880=ΣXY 774=ΣX ΣY2

94 Rumus Produk Momen R xy = = = = Interpretasi : db = N-nr = 20-2 = 18 (Konsultasi tabel nilai “r” product moment)

95 Dengan db sebesar 18 diperoleh harga “r” tabel sbb : Taraf signifikansi 5 % = 0,441 Taraf signifikansi 1 % = 0, 561 Dengan demikian r o (0,875) lebih besar dari pada r t. Dengan demikian hipotesis nihil ditolak, berarti antara variabel x dengan variabel y terdapat korelasi positif yang signifikan. Kesimpulan: karena terdapat hubungan searah (korelasi positif) yang signifikan, maka tes formatif yang sedang diuji validitas bandingannya dinyatakan sebagai tes yang valid

96 20 orang testee dihadapkan pada tes obyektif bentuk multiple chois dengan 10 butir item

97 Tugas uji validitas soal uraian Guru pada sma Muh 1 melakukas tes hasil belajar pada bidang studi bhs indonesia pada 20 siswa klas 3 dengan butir soal sebanyak 5 soal. Pelaksanaan tes dilakukan dua kali,yaitu pada tgl 1 dan tanggal 16, dengan materi yang sama nilai sbb: Nilai tes I : 6, 8, 4, 9, 3, 5, 6, 5, 7, 6, 5, 9, 4, 7, 3, 6, 7, 5, 9, 8. Nilai tes II: 7, 5, 5, 4, 4, 6, 5, 4, 8, 3, 6, 10, 4, 5, 4, 8, 7, 4, 9, 9. Tugas: buat analisis terhadap tes hasil belajar untuk mengetahui validitas bandingan dengan teknik korelasi pruduct moment dengan taraf signifikasi 5 % = 0,441

98 Teknik pengujian validitas item tes hasil belajar Sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid, jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesejajaran dengan skor totalnya atau ada korelasi positif yang signifikan antara skor item dengan skor totalnya. Skor total berkedudukan sebagai variabel terikat, sedangkan skor item berkedudukan sebagai variabel bebas

99 pada tes obyektif maka ada dua kemungkinan jawaban betul atau salah. Setiap jawaban betul umumnya diberi skor 1, sedangkan untuk setiap jawaban salah diberi skor 0.jenis data ini : betul-salah dikenal dengan data diskrit murni atau data dikotomik, sedangkan skor total yang dimiliki oleh masing-masing individu testee merupakan hasil penjumlahan dari setiap skor yang dimiliki oleh masing-masing butir item ( =6) merupakan data kontinyu. Variabel 1 berupa data diskret murni, sedangkan variabel II berupa data kontinu. Maka teknik korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi point biserial dengan rumus r pbi.

100 Uji Validitas Soal Objektif

101 Proses Uji Validitas Soal Objektif Langkah II : Mencari mean dari skor total, yaitu M t, dengan menggunakan rumus : M t = Telah diketahui : ΣX t = 130 dan N= 20. Jadi : M t = Langkah III : Mencari deviasi standar total, yaitu SD t, dengan menggunakan rumus : SD t = Telah diketahui : ΣX t 2 = 934 ΣX t = 130 dan N = 20. Jadi : SD t = =

102 Langkah IV : Mencari (menghitung) Mp untuk butir item nomor 1 sampai dengan 10, yang untuk meringkas pembicaraan, dituangkan dalam tabel 5.7 Langkah V : Mencari (menghitung) koefisien korelasi r pbi dari item nomor 1 sampai 10, dengan menggunakan rumus : Rumus r pbi =

103 Tabel 5.8. Perhitungan-perhitungan untuk mengetahui koefisien korelasi r pbi dalam rangka uji validitas item nomor 1 sampai dengan 10 NoMpMp MtMt SD t pqInterpretasi ,300 5,583 7,300 7,429 7,385 6,933 7,333 7,000 7,833 7,000 6,5 2,11 0,50 0,60 0,50 0,70 0,65 0,75 0,60 0,80 0,60 0,80 0,50 0,40 0,50 0,30 0,35 0,25 0,40 0,20 0,40 0,20 0,853 (r pbi > r t ) -0,532 Kor. Negatif 0,379 (r pbi < r t ) 0,673 (r pbi > r t ) 0,572 (r pbi > r t ) 0,355 (r pbi < r t ) 0,684 (r pbi > r t ) 0,474 (r pbi > r t ) 0,774 (r pbi > r t ) 0,474 (r pbi > r t ) Valid Invalid Valid Invalid Valid

104 Uji Reliabilitas Soal Esai R 11 = dimana : r 11 = Koefisien reliabilitas tes n = Banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes 1 = Bilangan konstan ΣS i 2 = Jumlah varian skor dari tiap-tiap butir item S t = varian total dengan penjelasan lebih lanjut, bahwa: ΣS i 2 dapat diperoleh dengan menggunakan rumus seperti tertera dibawah ini. Misalkan tes uraian yang akan ditentukan reliabilitasnya terdiri dari 5 butir item, maka ΣS i 2 dapat diperoleh dengan jalan menjumlahkan varian dari item nomor sampai nomor 5 : ΣS i 2 = S i S i S i S i S i 2 5

105 Sedangkan S i 2 1, S i 2 2, S i 2 3, S i 2 4, dan S i 2 5 itu sendiri, dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

106 intierpretasi terhadap reliabilitas tes (r 11 )pada umumnya digunakan patokan 1. apabila r 11 sama denan atau lebih besar dari pada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi. 2. apabila r 11 lebih kecil dari pada 0,70 berarti bahwa tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitas dinyatakan belum memiliki reliabilitas yan tinggi.

107 Contoh tes hasil belajar bentuk uraian yang diikuti oleh 5 orang siswa dengan 5 butir soal uraian skor untuk butir item Testee A B C D E

108 Tabel 6.2. Tabel Analisis dalam Rangka Mencari (Menghitung) Skor Total Untuk Masing-MasingTestee, dan Kuadrat dari Skor Total yang DiCapai Oleh Testee. TesteeSkor yang dicapai untuk item nomer:XtXt Xt2Xt ABCDEABCDE =N30= ΣX i1 26= ΣX i2 25= ΣX i3 27= ΣX i4 26= ΣX i5 134= ΣX t 3714= ΣX t 2

109 Dari tabel 6.2 telah berhasil diketahui : ΣX i1 = 30, ΣX i2 = 26, ΣX i3 = 25, ΣX i4 = 27, ΣX i5 = 26 ΣX t = 134, ΣX t 2 = 3741; sedangkan N=5. Langkah Kedua : mencari (menghitung) jumlah kuadrat item 1, 2, 3, 4, dan 5 : JK item1 = = =190 JK item2 = = = 138 JK item3 = = = 135 JK item4 = = = 149 JK item5 = = = 140

110 Langkah ketiga : Mencari (menghitung) jumlah kuadrat item 1, 2, 3, 4, dan 5 :

111 Langkah keempat : Mencari jumlah varian skor item secara keseluruhan : ΣS i 2 = S i S i S i S i S i 2 5 = 2,00 + 0,56 + 2,00 + 0,64 + 0,96 = 6,16 Langkah Kelima : Mencari varian total (S t 2 ) dengan menggunakan rumus : Dari Tabel 6.2 telah diketahui : ΣX t 2 = 3714; ΣX t = 134; dan N=5

112 Langkah Keenam : Mencari koefisien reliabilitas tes, dengan menggunakan rumus alpha : Dari perhitungan-perhitungan diatas, telah kita ketahui : n (yaitu jumlah butir item) = 5; ΣS i 2 = 6,16 dan S t 2 = 24,56 Jadi : = 0,9362 = 0,94

113 Pendekatan Single Test-Single Trial dengan Menggunakan Formula Rulon Berbeda dengan formula Spearman-Brown dan formula Flanagan, menurut Rulon, petunjuk tentang tinggi rendahnya reliabilitas tes itu dapat diperoleh lewat perbedaan antar skor-skor yang berhasil dicapai oleh testee pada belahan I dengan belahan II. Perbedaan skor- skor antara belahan I dengan belahan II dilambangkan dengan huruf d (singkatan dari difference), dimana d=(X- Y).

114 Rumus yang dikemukakan oleh Rulon untuk mencari Koefisien Reliabilitas Tes (r 11 ) adalah sebagai berikut : dimana : r 11 = Koefisien reliabilitas tes 1 = Bilangan konstan S d 2 = Varian perbedaan antar skor yang dicapai oleh testee pada belahan I dengan skor yang dicapai oleh testee pada belahan II S t 2 = Varian total

115 Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam angka mencari koefisien reliabilitas tes dengan menggunakan Formula Rulon, berturut-turut adalah sebagai berikut : 1. Mencari (menghitung) d, dimana d= (X-Y). 2. Menjumlahkan d sehingga diperoleh Σd. 3. Menguadratkan d dan menjumlahkannya, sehingga diperoleh Σd Dari hasil-hasil perhitungan pada langkah pertama sampai dengan langkah ketiga, dapat diperoleh jumlah kuadrat perbedaan skor belahan I dengan belahan II (yaitu Σx d 2 ) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

116 5. Dengan diketahuinya Σx d 2 tersebut diatas, maka akan dapat kita peroleh varian perbedaan antar skor belahan I dengan skor belahan II (yaitu: S d 2 ), dengan menggunakan rumus sebagai berikut : 6.Mencari (menghitung) skor total (=X t ), yaitu skor X ditambah dengan skor Y, atau X t = (X+Y), kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh ΣX t. 7.Menguadratkan skor total (=X t 2 ), kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh Σ t 2. 8.Dengan diperolehnya ΣX t dan ΣX t 2 maka akan dapat kita cari (hitung) jumlah kuadrat dari skor total atau X t 2 dengan menggunakan rumus :

117 9. Dengan diperolehnya Σx t 2 lebih lanjut dapat diperoleh varian total dari skor-skor hasil tes atau S t 2 dengan menggunakan rumus : 10. Dengan diketahuinya S d 2 (lihat langkah kelima diatas), dan diketahuinya S t 2 (lihat langkah kesembilan), pada akhirnya dapat kita hitung koefisien reliabilitas tesnya, dengan menggunakan rumus :

118 Pendekatan Single Test-Single Test dengan Menggunakan Formula Rulon, dimana Diterapkan Model Item Gasal Genap Dari tabel perhitungan (lihat tabel 6.13) telah berhasil kita peroleh; N = 25, ΣX = 186; ΣY = 215; Σd = -29; Σd 2 = 121; ΣX t = 401; ΣX t 2 = 6877 Tabel Perhitungan-perhitungan untuk mencari r 11 dengan menggunakan formula Rulon dimana diterapkan model item gasal genap

119 SiswaSkor item Bernomord = (X-Y)d2d2 X t = (X+Y)Xt2Xt2 Gasal (X)Genap (Y) ABCDEFGHIJKLMNOPQRTSUVWXYABCDEFGHIJKLMNOPQRTSUVWXY = N186 = ΣX215 = ΣY-29 = Σd121 = Σd = ΣX t 6877 = ΣX t 2

120 Langkah 1; Mencari (menghitung) jumlah kuadrat perbedaan antar skor item gasal dengan skor genap, dengan menggunakan rumus : Telah diketahui : Σd= -29; Σd 2 = 121; N = 25. Jadi: Langkah 2; Mencari (menghitung) varian perbedaan kor antara skor item gasal dengan skor item genap, dengan menggunakan rumus :

121 Telah diketahui : Σx d 2 = 87,36 dan N = 25. Jadi : Langkah 3 : Mencari (menghitung) jumlah kuadrat total skor item gasal dengan skor item genap, dengan mengunakan rumus : Telah diketahui : ΣX t 2 = 6877; ΣX t = 401; N = 25. Jadi :

122 Langkah 4 : Mencari (menghitung) varian total, dengan rumus : Telah diketahui : ΣX t 2 = 444,96; dan N = 25. Jadi : Langkah 5 : Mencari (menghitung) koefisien reliabilitas tes (r 11 ) dengan rumus :

123 Telah diketahui : S d 2 = 3,4944 dan S t 2 = 17,7984. Jadi : = 0,804 (r 11 > 0,70 = reliabel)

124

125 Penilaian berbasis kelas Tujuan dan fungsi Tujuan : untuk menilai hasil peserta didik di sekolah, mempertanggung jawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan untuk mengetahui ketercapaian mutu pendidikan secara umum. Fungsi : sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik

126 Karakteristik penilaian berbasis kelas adalah 1. pusat belajar dan berakar dalam proses pembelajaran : penilaian tidak terletak pada perbaikan mengajar melainkan kepada perhatian guru dan peserta didik dalam perbaikan hasil belajar. 2. umpan balik : penilaian ini sebagai suatu alur proses umpan balik dikelas bisa sebagai perbaikan belajar

127 Jenis-jenis penilaian berbasisi kelas 1. tes tertulis. 2. tes perbuatan : pengamatan dilakukan terhadap perilaku siswa saat proses pembelajaran berlangsung. 3. pemberian tugas. 4. penilaian proyek : tugas yng harus diselesaikan dalam waktu tertentu. 5. penilaian produk. 6. penilaian sikap : penilaian sikap terhadap mata pelajaran, sikap terhadap proses pembelajaran, alat yang digunakan yaitu observasi perilaku, skala sikap, laporan pribadi. 7. penilaian portofolio

128 Penilaian portofolio Penilaian portofolio: untuk meningkatkan kemampuan peserta didik ( student achievement) melalui evaluasi umpan balik dan penilaian sendiri. Fungsi portofolio : 1. melihat perkembangan tanggung jawab peserta didik dalam belajar. 2. perluasan dimensi elajar. 3. pembaharuan kembali proses belajar mengajar

129 Portofolio dapat dijadikan alat untuk penilaian otentik dengan ketentuan 1. penilaian tertulis. 2. project. 3. produk. 4. catatan kemampuan

130

131 Pedoman dalam penilaian portofolio 1.saling percaya. 2. kerahasiaan: hasil pekerjaan peserta didikk tidak diperlihatkan orang lain. 3. milik bersama: guru dan peserta didik menganggap semua evidence (obyek penilaian) milik bersama yang harus dijaga. 4. kepuasan dan kesesuaian : hasil akhir portofolio ketercapaian standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator. 5. proses dan hasil : proses yang dinilai mis : catatan perilaku arian peserta didik, menilai hasil akhir tugas yang diberikan oleh guru.

132 Perbedaan tes dan portofolio Tes. 1. menilai peserta didik berdasarkan sejumlah tugas yang terbatas. 2. menilai hanya guru, erdasarkan masukan yang terbatas. 3. menilai semua peserta didik dengan menggunakan satu kriteria. 4. proses penilaian tidak kolaboratif ( tidak ada kerja sama ( guru, peserta didik dan orang tua). 5. yang mendapat perhatian dalam penilaian hanya pencapaian. 6. terpisah antara pembelajran, testing dan pengajaran.

133 portofolio 1. menilai peserta didik berdasarkan seluruh tugas an hasil kerja yang berkaitan dengan kinerja yang dinilai. 2. peserta didik turut serta dalam menilai keinginan yang dicapai dalam penyelesaian berbagai tugas dan perkembangan yang berlangsung selama proses pembelajaran. 3.menilai setiap peserta didik berdasarkanpencapaian masing- masing. 4. mewujudkan proses penilaian yang kolaboratif. 5. peserta didik menilai dirinya sendiri menjadi suatu tujuan. 6. yang menjadi fokus penilaian kemajuan usaha an pencapaian. 7. terkait erat antara kegiatan penilaian, pengajaran dan pembelajaran

134 Bagian-bagian portofolio 1. daftar isi dokumen. 2. isi dokumen. 3. bendel dokumen. 4. batasan dokumen. 5. catatan guru dan orang tua.


Download ppt "Kompetensi guru (pp no 19/2005) Kompetensi pedagogik : A. memahami landasan kependidikan. B. pemahaman thd peserta didik. C. pengembangan kur/silabus."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google