Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Berperan menjadi Solusi Peningkatan Kompetensi Pegawai Pusdiklat Pegawai, Kemendikbud RI BINA SUASANA DIKLAT Oleh Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd Kepala Bidang.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Berperan menjadi Solusi Peningkatan Kompetensi Pegawai Pusdiklat Pegawai, Kemendikbud RI BINA SUASANA DIKLAT Oleh Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd Kepala Bidang."— Transcript presentasi:

1 1 Berperan menjadi Solusi Peningkatan Kompetensi Pegawai Pusdiklat Pegawai, Kemendikbud RI BINA SUASANA DIKLAT Oleh Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd Kepala Bidang Diklat Teknis dan Fungsional

2 Muktiono Waspodo, Pusdiklat Pegawai Kemendikbud 2 Aku hadir kembali di tengah pergulatan “potensi” Sesi kali ini, semoga lebih berkualitas dari sesi yang lalu Diklat ini mempertemukan potensi WI untuk saling bersinergi mencapai harapan menjadi lebih baik

3 SUBSTANSI ISI SAJIAN 3 KONSEP DASAR PENDEKATAN PEMBELAJARAN ORANG DEWASA FAKTOR-FAKTOR DAN PRINSIP BELAJAR ORANG DEWASA PEMBIMBINGAN BELAJAR ORANG DEWASA C D PENDAHULUAN HAKEKAT BINA SUASASAN DIKLAT (BELAJAR) E A TEKNIK FASILITASI F B

4 PENDAHULUAN A

5  Pegawai merupakan asset atau investasi yang sangat berharga bagi organisasi/unit kerja  Peningkatan kompetensi Pegawai untuk mewujudkan kinerja organisasi  Diklat bagi pegawai dilakukan secara tepat dan berkesimbungan, memerlukan peran WI dalam melatihnya  Widyaiswara perlu memiliki kemampuan dalam mengoptimal peran aktif peserta diklat dalam belajar dan menciptakan bina suasana diklat yang “tepat” 1LATAR BELAKANG

6 Proses belajar yang menyenangkan Menumbuhkembang keaktifan WI berperan u/ “memfasilitasi” terjadinya belajar WI Utama harus menjadi panutan (khusus) MW-Bagian dari Solusi BINA SUASANA DIKLAT

7 MENCIPTAKAN SUASANA DIKLAT “MENYENANGKAN” Menstimulus pesan yang menarik Mengasosiasi- kan dengan pengalaman lalu dan/atau pengatahuan yang baru Interaksi dengan berbagai sumber belajar Performance (unjuk kerja/tampilan) Pendekatan/Strategi/ Metode Pembelajaran yang tepat

8 CARA PENGENDALIAN BINA SUASANA DIKLAT Mengaktualisasikan “nilai” akuntabilitas dan komitmen mutu pada kegiatan pembelajaran Mengelola secara tepat (keaktifan peserta, sumber belajar, pendekatan dan metode pembelajaran) Menilai tindakan bina suasana yang telah dilakukan Melakukan persiapan diri untuk mewujudkan bina suasana diklat Muktiono Waspodo, Pusdiklat Pegawai Kemendikbud 8 Proses Pembelajaran (tersistem dengan baik)

9 Waktu u/ Berdiskusi  Setiap peserta untuk ungkapkan BAGAIMANA permasalahan yang sering terjadi pada upaya bina suasana diklat.  Diskusikan dengan peserta yang lain dalam kelompok, dan tetapkan rumusan MASALAH yang sering terjadi pada upaya bina suasana diklat  Diskusikan APA upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang telah dirumuskan  Presaentasi hasil kelompok

10 Widyaiswara (Utama) mampu bersikap dan berperilaku dalam mewujudkan untuk bina suasana diklat yang tepat dan nyaman MW-Bagian dari Solusi

11 ESSENSI BINA SUASANA Dzikir Neng (meneng) = Diam Pencairan, (Unfreezing) ADALAH PROSES Proses utk menyadari siapa diri kita yg merupakan hamba Allah yg sangat kecil tiada arti, tetapi juga merupakan wakil Nya di depan mahluk lainnya Shg kita dpt lebh mengagungkan Nya Proses untuk membuat diri menjadi diam atau mengendapkan diri, sehingga hati dan pikiran menjadi ning (bening) = jernih Proses untuk membuat seseorang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar/lingkungannya

12 KESELURUHAN PROSES: LEMDIKANAS Membentuk, Refreshing Nang Amal Mencair, Unfreezing Neng, ning, Dzikir Mengalir, Moving, Nung, Iqra’ Proses pencairan (unfreezing). Proses diam (pengendapan), agar hati dan pikiran menjadi jernih, serta proses Zikir (pengenalan diri utk lebih mengingat Tuhan) Proses mengalir (karena sudah cair), proses moving, proses menyerap (hanung), atau proses membaca (iqra) Proses pembentukan, Proses refreezing, proses berhasil (menang) atau mampu (wenang), atau proses berbuat (amal)

13 TAHAP PEMBENTUKAN KELOMPOK (Dalam Dinamika Kelompok) FORMINGSTORMINGNORMING PER- FORMING Tahap Pembentukan Rasa kelompok Tahap pancaroba Tahap Pembentukan norma Tahap berprestasi

14 KONSEP DASAR PENDEKATAN PEMBELAJARAN ORANG DEWASA B

15 James O. Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Cronchbach (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Howard L. Kingskey (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. 1HAKIKAT BELAJAR1

16 Drs. Slameto (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya. Djamarah, Syaiful Bahri, (Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

17 Herbart (swiss) Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalamn yang sebanyak-banyakny dengan melalui hafalan Lester D. Crow and Alice Crow (WWW. Google.com) Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Ngalim Purwanto (1992) (WWW. Google.com) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman.

18 Witherington (1952) : belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”. “ Robert M. Gagne dalam buku: the conditioning of learning Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karena proses pertumbuhan saja.

19 Moh. Surya (1997) : “ belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”. Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.

20 20 1 P e r u b a h a n y a n g d i s a d a r i d a n d i s e n g a j a ( i n t e n s i o n a l ). 2 P e r u b a h a n y a n g b e r k e s i n a m b u n g a n ( k o n t i n y u ). 3 Perubahan yang fungsional. 4 Perubahan yang bersifat positif. 5 Perubahan yang bersifat aktif. 6 Perubahan yang bertujuan dan terarah. 7 Perubahan perilaku secara keseluruhan. 8 Perubahan yang bersifat permanen. CIRI-CIRI PERUBAHAN PERILAKU

21 Faktor Yang Menentukan Kualitas Pembelajaran dengan Aneka Sumber Belajar Peserta diklatFasilitatorSumber Belajar Konten dan Aplikasi Mau dan mampu memanfaatkan sumber belajar adanya informasi yang disampaikan pada orang, tempat, dan waktu yang tepat serta ketersediaan aplikasi untuk menyampaikan konten tersebut dengan nyaman pada penggunanya. Ketersediaan (dirancang dan/atau dimanfaatkan) Mau dan mampu berperan dalam mengelola sumber belajar untuk mendukung kegiatan pembelajaran

22 ORANG DEWASA2 Fisiologis Sosiologis Psikologis Yuridis Religius Kriteria orang dewasa, mencakup 5 aspek yakni Religius, Yuridis, sosilogis, pesikologis dan fisiologis Fisiologis: Dewasa secara fisik telah 21 tahun dan/atau sdh menikah Psikologis; sudah mampu bersikap terhadap sesuatu Sosiologi; mampu bersikap dan memiliih terhadap sesuatu Yuridis; mampu menjaga dan menghormati nilai dan dan norma yang berlaku Religius; memahami kebenaran dan keyakinan Allah, mewujudkan keiklhasan niat, ucapan dan tindakan

23 BAGAIMANA ORANG DEWASA BELAJAR Orang dewasa mampu menemukan sendiri tujuan belajarnya. Berupa kenginan mengetahui, memahami, menerapkan, dst Orang dewasa memiliki pengalaman yang telah tertanam nilai baik buruk maupun norma tentang mana yang boleh dan tidak boleh Memiliki mental model yang mempengaruhi proses belajarnya Orang dewasa belajar dengan cara inquiry, sehingga memperoleh kesimpulan. Mereka belajar tidak sebatas ingin mengetahui, apa, siapa, dimana, kapan, tetapi lebih dari itu ingin menanyakan mengapa dan bagaimana

24 Orang dewasa telah memiliki kesadaran bahwa belajar adalah intisari hidup Hanya dengan manusia yang belajar sajalah yang kualitas hidupnya meningkat Belajar terbaik bagi orang dewasa adalah belajar melalui pengalaman. Belajar melalui pengalaman berarti belajar berhadapan langsung dengan masalah praktis, masalah sosial yg nyata, dan berupaya untuk memecahkannya.

25 1.Kunci dari belajar adalah perubahan perilaku, jelaskan ciri-ciri dari perubahan perilaku tersebut ? 2.Mengapa Widyaiswara harus memahami hakekat belajar pada orang dewasa ? 3.Apakah yang menyebabkan seseorang mengalami kegagalan dalam belajar ? Tugas Kelompok

26 FAKTOR DAN PRINSIP BELAJAR ORANG DEWASA C

27 27 Faktor Internal (bahan diskusi) 1 Aspek Psikologis  Motivasi Belajar  Daya Ingat  Latar belakang pendidikan  Status sosial  Tingkat Kecerdasan 2 Aspek Fisiologis  Penglihatan  Pendengaran  Artikulasi  Kondisi umum kesehatan (daya tahan, dll)

28 28 Faktor Eksternal; (bahan diskusi) Lingkungan sosial  Lingkungan sosial  Lingkungan fisik

29 29 Hambatan Belajar 1 Egois 2 Kesombongan 3 Merasa bisa (sesungguhnya tidak) 4 Gangguan fisik dan psikis 5 Tidak jelas tujuannya 6 Tidak tepat strategi belajar 7 Tidak mengenali karakteristik dirinya 6 dll

30 30 Prinsip Belajar OD 1 Partisispasi 2 Pendekatan secara sistemik 3 Perbedaan individual 4 Menyenangkan 5 Repitisi dan Latihan 6 Proses Perubahan yang progresif

31 1 Partisipatif 2 Pendekatan seara sistematik 3 Perbedaan Individual 4 Iklim belajar yang menyenangkan 5 Repetisi dan latihan 6 Proses perubahan progresif PRINSIP BELAJAR ORANG DEWASA

32 PEMBIMBINGAN ORANG DEWASA D

33 Kognisi KonasiEmosi Keterpaduan Aspek Mental-Psikologis

34 34 Faktor Mental-Psikologis 1 Aspek Kognisi  Pikiran – kedudukan yang sentral  Bahasa dan berpikir  Kesiapan pengetahuan / konsep  Stimulus berpikir dari tugas, kasus, dll 2 Aspek Emosi  Riang/gembira/suka, atau sedih/tidak gembira  Berani, tidak ragu, takut, cemas Perasaan harus dikelola dan dikembangkan sebaik-baiknya untuk kepentingan belajar, Widyaiswara berperan memfasilitasi agar perasaan individu menuju kolektif menjadi energy yang positif

35 3 Aspek Konasi  Adanya motif instrinsik dan ekstrinsik  Diperlukan pemberian tugas  Penggunaan sugestti positif  Bersaing yang sehat dan sportif 4 Aspek Keterpaduan  Kebebasan, kesempatan  Perhatian  Sugesti  Kondisi (kelelahan >< kebugaran)  Kosentrasi dan fokus

36 1. Memahami Modal Ketertarikan 2. Teknik Pacing Leading 3. Teknik Ice Breaking 4. Role Play : Experiencing TrainingCommunicationTrainingCommunication TEKNIK KOMUNIKASI FASILITATOR

37 1. Memahami Modal Ketertarikan Merupakan sebuah dasar representasi manusia dalam menerima informasi, yaitu;  Visual, atau lebih mampu menerima informasi berdasarkan hal hal yang dapat dilihat  Auditory, atau lebih mampu menerima informasi berdasarkan hal hal yang dapat didengar  Kinesthetic, atau lebih mampu menerima informasi berdasarkan hal-hal yang dapat dirasakan.

38 Amati tampilan “muka”

39 PACINGLEADING 2. Teknik Pacing Leading Menselaraskan diri kepada Audience, juga berfungsi untuk Meningkatkan sensitifitas fasilitator Teknik yang dilakukan setelah mengadakan pacing/penyelarasan, dimana berfungsi untuk mengajak atau mempengaruhi pemikiran audience Pacing – Leading Pattern : Pacing, Pacing, Pacing…….Leading

40 3. Teknik Ice Breaking

41 4. Role Play a.Kalibrasikan Rekan Anda, temukan representasi ketertarikannya. ( VAK?) b. Fragment-kan sebuah Pacing Leading

42  Hallo effect Pendapat pribadi Fasilitator tentang peserta diklat yang akan berpengaruh dalam pengukuran prestasinya  Central tendency Penilaian hasil diklat cenderung dibuat rata-rata dan Fasilitator menghindari penilaian yang bersifat ekstrim;  Leniency bias, Kecenderungan Fasilitator untuk memberikan nilai yang murah.; CATATAN YANG HARUS DIPERHATIKAN AGAR TIDAK “KELIRU” DALAM PENGUKURAN / PENILAIAN HASIL DIKLAT *) *) Suasana diklat harus juga membuat peserta diklat merasa nyaman dan diperlakukan obyektif oleh Fasilitator pada saat proses penilaian.

43  Strickness bias, yaitu kecenderungan Fasilitator terlalu ketat dan keras serta “pelit” saat menilai hasil diklat  Recency effect (kesan terakhir) yaitu kegiatan terakhir dari peserta diklat yang terkesan baik atau buruk, cenderung dijadikan dasar penilaian hasil diklat.

44 1 Konteks 2 Fokus 3 Intraksi - komunikasi 4 Individualisasi 5 Sequence / scope 6 Evaluasi PRINSIP MENGAJAR ORANG DEWASA

45 TEKNIK FASILITASI E

46 1.Suatu proses kegiatan menggerakkan suatu individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan 2.Suatu rangkaian kegiatan untuk memudahkan dalam memproleh sesuatu sesuai tujuannya 3.Proses mediasi kepada target sasaran untuk memprmudah, mempercepat dalam mencapai tujuan tertentu PENGERTIAN “FASILITASI”

47  Serangkaian proses yang dilakukan untuk memprmudah upaya mencapai tujuan bersama  Suatu tindakan untuk memotivasi kelompok atau masyarakat guna membangun semangant, trust, solidariitas, yang didasarkan pada ketulusan, kerelawanan, kejujuran serta bersifat adaptif tanpa tergantung pada fasilitas PENGERTIAN FASILITASI

48 1.Untuk memudahkan 2.Untuk bebas dari kesulitan dan hambatan 3.Untuk mengurangi beban tugas yang sulit 4.Untuk menyenangkan 5.Untuk menggalakkan 6.Membantu supaya menjadi yang terdepan 7.Pemudah cara BEBERAPA KATA KUNCI YANG BISA DIKAITKAN DENGAN DUNIA FASILITATOR

49  SUATU KEGIATAN/PROSES MENDORONG DAN MEMOTIVASI SEBUAH KELOMPOK UNTUK MEMECAHKAN MASALAH, MEMUDAHKAN PERSOALAN DAN MENCAPAI KONDISI YANG LEBIH BAIK (PERUBAHAN)  SEBUAH PROSES KEGIATAN YANG MEMBERIKAN RUANG EXPRESI SELUAS-LUASNYA KEPADA SEMUA YANG TERLIBAT DIDALAMMNYA UNTUK MENCAPAI SATU TUJUAN BERSAMA PENGERTIAN FASILITASI FASILITASI DIKLAT SUATU RANGKAIAN KEGIATAN UNTUK MEMBELAJARKAN PESERTA DIKLAT AGAR OPTIMAL DALAM MENCAPAI HASIL DIKLAT YANG DIHARAPKAN

50  Seorang fasilitator bekerja dengan mengaplikasikan satu set keahlian spesifik dan Pendekatan, metode, strategi, dan teknik, digabung dengan perhatian terfokus pada orang lain.  Dengan cara itu, maka seorang fasilitator akan membawa peserta diklat pada “performance” terbaiknya. FASILITASI ADALAH “ILMU SEKALIGUS SENI”

51  Fasilitator meramunya dan meaplikasikannya dengan gaya pribadinya, diselingi dengan kreativitas dan energi, maka akan menciptakan sebuah seni fasilitasi.  Dengan hal semacam ini, maka peserta diklat yang difasilitasi akan dapat beroperasi dengan fleksibilitas dan kreativitas maksimum dalam batasan yang realistik.  Peserta diklat akan optimal mengikuti proses dan hasilnya akan maksimal

52 Ayo Renungkan  Agar optimal dalam bertindak,

53 Kenalilah potensi anda, dan perkuat dengan energi positif untuk mewujudkan tujuan organisasi yang siap menghadapi perubahan untuk lebih baik di zamannya dan mampu mengantisipasi trend perubahan di masa yang akan datang agar organisasi mampu meningkatkan kualitas layanannya (MW, Maret 2016) 1 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

54 Jadikan diri Anda sebagai bagian dari “Solusi” berperan aktif dan berkinerja baik untuk mencapai tujuan organisasi (MW, Maret 2016) 2 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

55 Jika kamu tak bisa menjadi pensil untuk menulis kebahagiaan orang lain Jadilah penghapus untuk meringankan kesedihan orang lain

56 tekad bersama “Meningkatkan kualitas layanan Pendidikan dan Pelatihan dengan Perbaikan berkelanjutan” Tujuan Tenaga Kediklatan Fasilitas Diklat Hasil Diklat Proses dan Evaluasi Diklat Peserta Pembiayaan Materi Keterlibatan aktif Taati Tata tertib

57 Muktiono Waspodo, Pusdiklat Pegawai Kemendikbud 57 JADIKAN DIRI BAPAK/IBU/SAUDARA Sebagai “WI yang insspiratif Diklat ini mempertemukan potensi WI untuk saling bersinergi mencapai harapan menjadi lebih baik

58 Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd


Download ppt "1 Berperan menjadi Solusi Peningkatan Kompetensi Pegawai Pusdiklat Pegawai, Kemendikbud RI BINA SUASANA DIKLAT Oleh Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd Kepala Bidang."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google