Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh : Dra. Su’adah Msi. Obyek Psikologi Sosial  Obyek Material : Gejala-gejala sosial  Obyek Formil: Obyek yang membedakan psikologi sosial dengan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh : Dra. Su’adah Msi. Obyek Psikologi Sosial  Obyek Material : Gejala-gejala sosial  Obyek Formil: Obyek yang membedakan psikologi sosial dengan."— Transcript presentasi:

1 Oleh : Dra. Su’adah Msi

2 Obyek Psikologi Sosial  Obyek Material : Gejala-gejala sosial  Obyek Formil: Obyek yang membedakan psikologi sosial dengan ilmu lain Obyek formil ditunjukkan oleh rumusan atau definisi ilmu pengetahuan

3 Rumusan Psikologi Sosial Ilmu Jiwa Sosial Mempelajari : 1. Tingkah laku manusia (H. Bonner) 2. Tingkah laku individu sebagai anggota suatu masyarakat (A.M. Chorus) 3. Pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungan dengan situasi-situasi perangsang sosial (Sherif & Sherif) 4. Segi-segi psikologi dari pada tingkah laku manusia yang dipengaruhi oleh interaksi manusia (Roueck & Warren)

4 5. Gejala psichis dan cara manusia berlaku seperti yang ditimbulkan atau dipengaruhi oleh hubungan antar manusia dengan manusia 6. Individu manusia dengan kelompoknya dan hubungan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya 7. Tingkah laku individu manusia dalam kelompok khususnya dan dalam lingkungan sosio kultural pada umumnya Dirangkum : Pengalaman dan tingkah laku individu manusia dipengaruhi atau ditimbulkan oleh situasi sosial

5 Metode Psikologi Sosial A. Metode Experimen (Wilhelm Wund) : Peneliti menciptakan situasi yang akan ditelitinya Syarat yang harus dipenuhi : 1. Harus menentukan dengan tepat waktu terjadi gejala yang ingin diteliti 2. Harus dapat mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin diselidiki dari mulanya sampai akhirnya dan harus mengamati dengan perhatian khusus

6 3. Tiap-tiap observasi harus dapat diulangi dalam keadaan yang sama 4. Harus dapat mengubah-ubah dengan sengaja, syarat-syarat keadaan eksperimen 5. Apa yang diamati di catat dengan jelas supaya tiap orang dapat membaca (sebagai kontrol)

7 B.Metode Survey : Untuk mengumpulkan data atau keterangan seluas mungkin  Survey : Meneliti Ciri-ciri tertentu daripada populasi Misalnya : Kebiasaan berbelanja, dan sebagainya.  Menggunakan teknik : Interview, angket, observasi, dokumen, dan sebagainya

8 Metode diagnostik Psihis Dengan tes psikologi  Scala attitude  Test kepribadian  Test proyeksi, dan sebagainya

9 Metode Sosio Metri Untuk mengukur saling hubungan antara anggota kelompok dalam suatu kelompok  Kawan paling cocok sebagai rekan kerja  Kawan yang paling cakap untuk memimpin  Kawan yang paling humoris, dan lain-lain.

10 Latar Belakang Sejarah Psikologi Sosial Asal-usul sedikitnya ada 5 sumber : 1. Sebagai suatu studi yang bersifat formal. Ahli-ahli filsafat yunani kuno : Plato, Aristotel, Kaum Hidonis, dll. Dipengaruhi filasafat Inggris : Locke, Berkelly, Benthar, dan James Mill. Menekankan masalah inti :  Hakekat manusia, hakekat masyarakat dan relasi antar individu dengan masyarakat

11 2. Para Pelopor Sosiologi : Conte, Le Bon, Durkheim, Simmel, Webber dan Cooley Sumbangan utama mereka : Gejala sosial sebagai realitas dan pentingnmya kolektivitas dalam membentuk individu. Karya-karya mereka juga penting dalam mempengaruhi perkembangan psikologi sosial dari filsafat sosial yang spekulatif, yaitu ilmu pengetahuan yang berorientasi empiris.

12 3. Bidang kedokteran Penyelidikan : Charcot dan Sigmund freud Bagaimana tingkah laku manusia dipengaruhi oleh unsur irasional dan kekuatan tak sadar di dalam dirinya Manusia : Das Es, Das Ich dan Das Uber Ich. 4. Antropologi Budaya juga mempengaruhi psokologi sosial. Tokohnya : Margaretd Mead, Ruth Benedice. Membahas tentang tipe-tipe masyarakat.

13 5. Psikologi Eksperimental. Tokohnya : Wundt dan Munsterberg → menyelidiki tingkah laku manusia secara obyektif di laboratorium

14 Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh  Gebriel Tarde → Sosiolog dan Kriminolog Bapak Psikologi Sosial → Hubungan Sosial (sosial interaction) → Imitasi Semua pergaulan manusia → proses imitasi Kehidupan masyarakat ditentukan oleh 2 kejadian : 1. Timbulnya gagasan-gagasan baku (invention) dirumuskan oleh individu yang berbakat tinggi dan proses-proses imitasi dari gagasan-gagasan tersebut oleh orang banyak

15 2. Gelombang-gelombang imitasi tersebut menimbulkan gagasan baku. Masyarakat : Pengelompokan manusia, dimana individu yang satu mengimitasi dari lainnya dan sebaliknya. Bahkan masyarakat itu baru menjadi masyarakat yang sebenarnya → manusia mengimitasi kegiatan manusia lain. Kritik :- hal-hal yang diimitasi harus ada minat dan perhatian lebih dahulu - harus ada sikap menjunjung tinggi atau mengagumkan - harus ada taraf pengetahuan yang cukup

16  Gustave Le Bon Psikologi Massa atau “Crowd” → Orang ramai salah satu bentuk pengelompokan manusia. Ciri-ciri :  Kumpulan orang banyak  Saling hubungan untuk sementara waktu  Karena minat atau kepentingan bersama yang sementara Sifat individu berbeda dengan sifat massa Jiwa massa : impulsif, mudah tersinggung, ingin bertindak segera & nyata, mudah terbawa oleh sentimen irasional, sugestibel, lebih mudah mengimitasi, dsb. Ada 2 macam jiwa → Jiwa individual dan Jiwa massa.

17  Sigmund Freud Jiwa massa itu sebelumnya sudah ada pada jiwa individu, hanya jiwa massa → dalam taraf tidak sadar / terpendam. Dalam situasi massa maka sifat-sifat terpendam dalam jiwa manusia seakan-akan di ajak menyatakan dirinya dengan leluasa → sehingga tampak jiwa massa.

18  Emile Durkheim  Gejala-gejala sosial masyarakat tidak dapat diterangkan oleh psikologi, tapi hanya oleh sosiologi.  Sebab yang mendasari gejala-gejala sosial adalah “Kesadaran Kollektif“ bukan “Kesadaran Individual“.  Psikologi hanya mempunyai gejala-gejala jiwa individu.  Masyarakat : Terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan pengertian-pengertian dan tanggungjawab yang kolektif ini dapat menerangkan gejala-gejala sosial / gejala-gejala kemasyarakatan

19 Durkheim → “Sosiologismus“→ ciri-ciri individu tidak ada → sifat-sifat atau ciri-ciri kelompok atau masyarakat dimana individu itu hidup. Jiwa Individu → manifes jiwa kelompok  Untuk mempelajari individu cukup mempelajari ciri-ciri kelompok dimana individu hidup. Untuk mempelajari perilaku tidak perlu mempelajari prilaku individu, cukup mempelajari sosiologi lingkungan masyarakat dimana individu hidup.

20 Tarde → “Psikologismus”  Sosiologi yang mempelajari gejala-gejala sosial manusia tidak lain adalah ilmu yang mempelajari jiwa daripada tingkah laku manusia dalam masyarakat itu.  Sosiologi yang mempelajari kegiatan kolektif dalam masyarakat sebenarnya sudah mempelajari jiwa masyarakat.  Cukup mempelajari psikologi sosial → ini sudah mempelajari sosiologi masyarakat.

21 William James & Cooley  Ciri-ciri individu dan tingkah laku individu sulit dimengerti apabila tidak diselidiki saling hubungan dengan orang lain dalam kelompok masyarakatnya yang mempengaruhi.  Manusia, sejak lahir sudah berinteraksi sosial dengan orang lain dan keluarga, cara-cara bertingkah laku sangat dipengaruhi : orangtua, adik-kakak, teman-teman sekolah, dsb.

22 Situasi Sosial Situasi dimana terjadi interaksi sosial a. Situasi Kebersamaan (togetherness situation) b. Situasi Kelompok Sosial (group situation) Adalah : - Situasi dimana beberapa orang kebetulan berada bersama pada suatu tempat - Tidak ada hubungan yang mendalam dan yang sebelumnya mereka tidak saling mengenal Ada yang mengartikan massa → situasi kebersamaan

23  Massa → Kerumunan (crowd) • Gejala Massa (Brown) • Dinamika Kelompok (long & long) • Tingkah Laku Massa (konig) • Tingkah laku Kolektif (smelser) Semua terminologi diatas → yaitu tentang suatu kelompok manusia yang berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama tumbuh dan mengarahkan tingkah laku secara spontan.

24 Migran & Toch 4 faktor yang mendasari perilaku kolektif : • Emasi tinggi dan rasio rendah • Subyektifit dan bukan obyektifitas • Obyek-obyek (sasaran-sasaran) yang bersifat ekstrim • Penampilan yang seragam tetapi bukan kerjasama

25 Kinch → Ciri-ciri Crowd : • Bertanggungjawab yang relatif pendek • Para pesertanya berhubungan secara fisik (berdesak-desak) • Kurang adanya aturan terorganisasi • Interaksi bersifat spontan

26 Brown → Crowd (kerumunan) → 2 type : 1. Aktif (mobs) → kerumunan 2. Pasif (audience) → “Secondary Crowd”

27  Mobs → 4 type : 1. Agressive → kerumunan yang mengarahkan pada penghancuran dan merusak  Lynching : kemarahan massa yang diarahkan pada individu sebagai obyek → pengeroyokan – pembunuhan  Terrorization → kriminalitas massal  Riot → gerakan massa yang menghancurkan dan merusak lingkungan

28 2. Escape → tingkah laku kolektif yang lahir dari kemudahan-kemudahan “menghadapi ancaman” → lebih berbentuk aktifitas atau gerakan massal yang berbondong-bondong melarikan diri dari sumber ancaman atau bahaya : • yang terorganisir • yang tidak terorganisir 3. Acquisitive → bentuk mobs → massa bergerak untuk merebutkan sesuatu, sedangkan benda yang diperebutkan lebih kecil daripada orang yang merebutkan

29 4. ekspressive → berbentuk lontaran dan cetusan perasaan sesaat saja  Audience – secondary crown → dapat berbentuk causal → bentuk kerumunan tidak direncanakan  Intensional → disiapkan terlebih dahulu  Recreational → bentuk audience dalam kesempatan-kesempatan rekreasi  Informational seeking → mendapatkan kepastian informasi

30 Kelompok Sosial Manusia sebagai mahluk sosial → dimanapun berada, dibelahan dunia manapun, dari arah kebudayaan apa saja → membutuhkan kelompok sebagai sarana untuk :  Menyalurkan hajat-hajat sosialnya  Mengembangkan kemampuan pribadi  Bersosialisasi  Proses aktualisasi diri secara utuh

31 Kelompok Sosial → Sherif Suatu kesatuan sosial yang terdiri atas : 2 atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian kerja atau tugas, struktur dan norma–norma tentang yang khas bagi kesatuan sosial tersebut. Ciri kelompok : 1) adanya interaksi, 2) adanya tujuan yang sama, 3) adanya kepemimpinan, 4) adanya ikatan emosional → rasa kebersamaan, 5) norma yang diakui dan dianut.

32 Sherif : 1. Motif (dorongan) yang sama → terjadi interaksi ke arah tujuan yang sama → tujuan akan mudah tercapai jika dikerjakan bersama atau dengan kerja sama. Dalam perkembangan → muncul motif-motif baru dan tujuan-tujuan tambahan.  Kehidupan kelompok → kuat → “sense of belongingness” → sikap perasaan ─ ia termasuk didalamnya ─ merasa memiliki ─ merasa berperan → sehingga ia merasa berharga dalam kelompok.

33 2. Reaksi dan kecakapan yang berlainan Terjadi pembagian tugas yang khas antar anggota sesuai dengan kecakapannya → struktur kelompok 3. Penegasan struktur kelompok Sistem yang tegas → relasi-relasi antar anggota berdasarkan peranan-peranan dan status-status mereka sesuai dengan sumbangan masing- masing dalam interaksi kelompok → ketujuannya. Struktur → terdiri → susunan kedudukan fungsional dalam mencapai tujuan.

34 4. Penegasan norma-norma kelompok Pedoman-pedoman untuk mengatur pengalaman dan tingkah laku anggota kelompok dalam berbagai situasi sosial. Norma → pengertian yang seragam tentang cara-cara tingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota kelompok.

35 Teori-Teori Proses Kelompok  Group Syntality theory : teori sintalitas kelompok. (Cattel) → membuat perkiraan ilmiah → harus dapat diukur, diuraikan dan diklasifikasikan dengan tepat dan cermat → demikian pula dengan “kelompok” ─ untuk mengungkap hukum-hukum yang mengatur perilaku kelompok, perlu ada cara untuk menguraikan dan mengukur sifat-sifat dan perilaku kelompok → kelompok mempunyai “kepribadian” (personality) yang dapat dipelajari → Cattell → psikologi kepribadian kelompok.

36  Konsep Sintalitas Sint → digunakan untuk kepribadian kelompok Sint → analog dengan kepribadian pada individu yang mencakup hal-hal seperti kebersamaan, dinamika temparemen dan kemampuan kelompok. Cattell → Mc Dougall tentang kelompok :  Prilaku –prilaku struktur yang khas dari suatu kelompok  Pengalaman-pengalaman kelompok direkam dalam ingatan  Kelompok mampu berespon secara keseluruhan terhadap suatu rangsang yang tertuju kepada sala satu bagiannya

37 Dimensi-dimensi kelompok : Untuk mendefinisikan kelompok, Cattell mengemukakan adanya 3 panel dalam kelompok : 1. Sifat-sifat Sintalitas → pengaruh dari adanya kelompok sebagai keseluruhan, baik terhadap kelompok lain maupun terhadap lingkungan.  Agresi kepada kelompok lain  Berdagang dengan kelompok lain  Kelompok menunjukkan adanya dorongan-dorongan  Kelompok menunjukkan emosi yang bervariasi  Kelompok menunjukkan adanya pertimbangan- pertimbangan kolektif

38 2. Sifat-sifat struktur kelompok → hubungan antar anggota kelompok, perilaku-perilaku dalam kelompok dan pola-pola organisasi kelompok  kepemimpinan, peran, status, dsb. 3. Sifat-sifat populasi → sifat-sifat rata-rata dari anggota kelompok : kecerdasan rata-rata, sikap rata-rata terhadap berbagai masalah sosial. Hubungan ke 3 panel → salaing ketergantungan.

39  Dinamika Sintalitas 2 aspek yang penting dalam kelompok : 1. Eksistensi kelompok tergantung pada kebutuhan-kebutuhan individu dan anggotanya, kelompok akan tetap berdiri selama dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologik dari anggota-anggotanya. 2. Kelompk-kelompok biasanya saling tumpang tindih (over lapping) ; seorang individu secara simultan bisa menjadi anggota beberapa kelompok yang berbeda.

40 Jenis-Jenis Kelompok Sosial  Kelompok Primer :  Interaksi Intensif → face to face  Mempunyai peranan yang besar → pembentukan pribadi individu → mengembangkan sifat-sifat sosial : mengindahkan norma, melepaskan kepentingan sendiri, belajar bekerja sama, dsb. Kelompok Primer : keluarga, RT, kelompok sepermainan, kelompok belajar, kelompok agama. Dsb.

41  Kelompok Sekunder :  Hubungan yang tak langsung, berjauhan dan formil  Kurang bersifat kekeluargaaan  Hubungan – obyektif  Peranan atau fungsi kelompok → untuk mencapai salah satu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama  Bersifat Gesellschaf Kelompok Sekunder → partai politik, perhimpunan serikat kerja, dsb.

42  Dinamika Kelompok : Analisa dari pada relasi-relasi kelompok sosial yang berdasarkan prinsip bahwa tingkah laku dalam kelompok itu adalah hasil dari pada interkasi dinamis antara individu-individu dalam situasi sosial. Prinsip-prinsip kelompok yang dinamis : 1. Suasana kerja (atmosphere) → semua anggota dianggap setaraf dan diperlakukan sama 2. Rasa aman (threat reduction) → tidak terdapat ancaman dan kerugian dan ketakutan → masing- masing anggota produktif. 3. Kepemimpinan bergilir (distribusive leadership)

43 4. Pemusatan tujuan (goal formulation) → setiap anggota sadar akan tujuan kelompok 5. Fleksibel (flexibility) → rancangan kegiatan kelompok harus fleksibel → sesuai dengan keadaan yang berubah 6. Mufakat (consensus) → selalu mengambil jalan semua anggota me mufakati 7. Kesadaran berkelompok (proces awarnes)

44 Pemimpin Dan Kepemimpinan  Pemimpin Pengertian : Kartini Kartono : Pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpin untuk melakukan usaha bersama mengarah kepada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.

45  Hal-hal yang terkandung : 1. Adanya kecakapan khusus → kualitas pribadi pemimpin untuk melakukan kerjasama dengan orang lain 2. Adanya konsep pemimpin formal dan informal 3. Tekanan diletakkan pada kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi kelompok yang dipimpin

46 Hassan Sadly : “ Seseorang yang dapat berfikir untuk golongan “ 1. Merupakan simbol kekuasaan dan persatuan golongan 2. Memikirkan siasat dan cara golongan itu hidup dan bertindak 3. Mempengaruhi golongan tetapi sebaliknya juga tunduk kepada kehendak dan keputusan golongan

47  Pemimpin Formal : Orang yang oleh organisasi tertentu ditunjuk sebagai pemimpin berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengan untuk mencapai sasaran organisasi yang telah ditetapkan  Pemimpin Informal : Orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, tapi karena memiliki sejumlah kualitas unggul dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok atau masyarakat.

48  Karakteristik Pemimpin : Lindgren :  Cerdas (intelegence)  Mendominasi (dominance)  Aktif (activity)  Kemampuan memyesuaikan diri (adjusment)  Tidak selalu selaras dengan norma (non conformity)  Jarak sosial (social distance)

49  Stogdill :  Kemampuan-kemampuan nyata seperti : intelegensia tingkat pendidikan, kemampuan melaksanakan tugas, menghubungkan fakta- fakta situasi, kemampuan verbal dan kemampuan menyesuaikan diri  Sosiabilitas, yang mencakup kemampuan untuk memberikan tanggung jawab, aktivasi dan partisipasi sosial, kemampuan kerjasama dan popularitas  Motivasional → inisiatif dan ketekunan

50 Untuk menjalankan fungsinya pemimpin → memiliki dan menggunakan kekuasaan French & Raven 5 sumber kekuasaan : 1. Reward Power → pemimpin memberi penghargaan kepada para pengikutnya : - Personal power : penghargaan, pengakuan dan perhatian - Posision power : memberi upah, promosi kenaikan → pangkat, jabatan

51 2. Coercive Power → pemimpin memaksa atau menghukum para pengikutnya : - Pribadi :pemimpin memberi kritik, tidak memberi pengakuan, perhatian → sebagai hukuman - Posisi:penurunan pangkat, penundaan kenaikan gaji atau pemecatan 3. Legitimate : kekuatan yang dimiliki karena penempatannya atas suatu posisi atau peranan dalam organisasi → pemimpin dapat memberi saran dan perintah dan dipatuhi oleh mereka → didasarkan atas norma-norma, kebijakan-kebijakan dan prosedur- prosedur yang diterima oleh para pengikutnya

52 4. Expert Power : Karena pengetahuan dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan tugas yang harus dilaksanakan para pengikutnya. 5. Referent Power : Tergantung pada tingkat keinginan atau kecenderungan para pengikut untuk mengidentifikasi diri, menaati dan menyamakan diri mereka dengan pemimpin

53 Tipe – Tipe Pemimpin 1. Administrator (the administrator) Orang – bertanggung jawab : perencanaan, pengkoordinasian, pengelolaan, pelaksanaan, pengarahan dan pengorganisasian 2 tugas utama administrator : a. Mengarahkan dan menjaga kelangsungan proses-proses organisasi b. Melaksanakan kebijakan organisasi

54 2. Pembuat kebijakan (the policy maker) Juga administrator tapi bukan birokrat → cenderung → para anggota dewan direksi atau legislator → sering pemimpin dibalik layar 3. Birokrat (the bueraucrat) Kekuasaannya bersumber pada struktur organisasi dan peraturan-peraturan resmi yang menentukan, merumuskan dan membatasi peranan-peranan dan fungsi- fungsinya.

55 4. Perspektif Pemimpin memberi instruksi, anggota melaksanakan & karenanya mempelajari ketrampilan-ketrampilan tetapi mereka tidak mengetahui sumber-sumber dan kapasitas-kapasitas mereka sendiri. 5. Manipulatif Pemimpin bersama-sama menempuh suatu fase perencanaan dan pembuatan keputusan tetapi dalam kenyataannya kelompok hanya menerima program yang telah digariskan sebelumnya tetapi mereka didorong untuk meyakini bahwa program tersebut merupakan hasil bersama

56 5. Pemungkin (enabling) Pemimpin membantu anggota untuk berpartisipasi dengan tanggung jawab penuh dalam semua aktivitas kelompok

57 Marven E. Show mengacu pada karya lewin dkk 1. Otoritas : Menentukan semua kebijakan kelompok, mendekte teknik-teknik dan tindakan-tindakan, bersifat subyektif dalam memberikan penghargaan dan kritik terhadap pekerjaan anggota. 2. Demokratis : Memberi kesempatan untuk menentukan kebijakan, anggota kelompok bebas bekerjasama dengan siapapun dan pemimpin bersikap obyektif dalam memberikan penghargaan dan kritik.

58 3. Laissez faire : Secara esensial tidak berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, kelompok diberi kebebasan mengambil keputusan sendiri, materi dan informasi diberikan apabila diminta.

59 Teori-Teori Pemimpin Dan Kepemimpinan : 1. Greatman theory : Latar belakang keturunan orang-orang besar (great man) Sifat-sifat yang dimiliki dan dikaitkan dengan keturunan atau herediternya sebagai faktor pendukung 2. Environment theory : Pemimpin muncul sebagai akibat dari waktu, tempat, dan keadaan atau situasi → menempatkan faktor lingkungan yang menyebabkan muncul pemimpin

60 3. Personal situational theory : Pemimpin merupakan hasil interaksi antara individu dengan kondisi atau situasi dimana individu berada 4. Interaction – Expectation theory : Ada interaksi antara pemimpin dengan kelompok yang dipimpin, pemimpin perlu menciptakan situasi yang dapat menunjang ikut berpartisipasinya kelompok yang dipimpin untuk mencapai tujuan

61 5. Humanistic theory : Fungsi kepemimpinan untuk mengatur individu atau kelompok yang dipimpin untuk merealisasikan motivasinya agar dapat bersama-sama mencapai tujuan. Unsur yang penting → organisasi yang baik → dapat memperhatikan kebutuhan- kebutuhan kelompok. Individu atau kelompok adalah mahluk sosial yang mempunyai perasaan, kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan tertentu.

62 6. Exchange theory : Dengan adanya interaksi antara pemimpin dengan yang dipimpin diharapkan adanya perubahan dimana yang dipimpin akan berpartisipasi secara aktif.

63 Motive dan Attitude Motive → penggerak, alasan atau dorongan- dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Setiap tingkah laku manusia → mempunyai motive, baik secara refleksi-refleksi yang berlangsung otomatis maupun mempunyai maksud → didasari atau tidak didasari. Motive → secara sadar dan juga tidak sadar.

64 Untuk memahami tingkah laku manusia → harus memahami dan mengerti terlebih dahulu → apa dan bagaimana motive dan tingkah lakunya :  Apa yang dilakukan  Bagaimanha melakukan  Mengapa melakukan Motive memberi arah dan tujuan kepada tingkah laku

65 Motive Tunggal, Motive Bergabung Motive mempunyai peranan yang besar dalam kegiatan- kegiatan manusia dan merupakan latar belakang tandak- tanduknya.  Tindakan manusia → motive tunggal dapat juga motive bergabung. Contoh : Seseorang → anggota kelompok → motive bergabung : Ingin beli bersama, ingin melatih berorganisasi, ingin akrab dengan orang lain, dll.  Biasanya berawal dari motive utama dan beberapa motive tambahan → rincian dari motive utama

66 Motive Dapat Digolongkan : 1. Motive Biogenetis :  Motive berasal dari kebutuhan organisme manusia → kelangsungan hidup manusia secara biologis → asli dari dalam diri manusia dan berkembang dengan sendirinya  Motive ini → universal  Motive → lapar, haus, kebutuhan kegiatan dan istirahat seksualitas, buang air, dsb.

67 2. Motive Sosiogenetis :  Motive-motive yang dipelajari dari lingkungan kebudayaan dimana orang itu berada dan berkembang.  Motive melalui interaksi sosial dengan orang lain atau hasil kebudayaan  Motive ini berbeda-beda sesuai dengan bermacam- macam corak kebudayaan. Contoh : ingin musik dangdut, tari bali, dsb.  Banyak motive sosiogenetis bersamaan dengan motive biogenetis. Contoh : keinginan makan keju, pecel, dsb.  Motive ini berdasar motive “lapar” tetapi dipengaruhi juga oleh keinginan-keinginan yang sangat dipengaruhi lingkungan kebudayaan sekitarnya.

68 3. Motive Theogenesis Motive ini berasal dari interaksi manusia dengan Tuhan → kegiatan nyata → dalam ibadah – berusaha merealisasi norma-norma agama tertentu. Manusia memerlukan interaksi dengan Tuhannya untuk menyadari akan tugasnya sebagai manusia yang berkeTuhanan

69 Motive Dan pengamatan Pengamatan → Menunjuk hubungan antara penangkapan daya melalui alat indera yang disebut pengindraan dan proses mental seperti keputusan, penalaran, dan ingatan. Pengamatan berarti → penterjemahan dari data yang kasar ke dalam pengalaman yang mengandung makna.  Pengamatan → Suatu proses dimana perangsang- perangsangan dari luar → cahaya untuk mata, bunti untuk telinga, untuk hidung, dsb, melalui alat-alat pengamatan → diteruskan kepada pusat-pusat tertentu dalam otak kita → lalu menafsirkan pengamatan tadi.

70  Minat dan perhatian → memegang peranan yang sentral terhadap pengamatan  Minat dan perhatian itu tidak berdiri sendiri → ditimbulkan oleh kebutuhan-kebutuhan kita pada waktu itu dengan kata lain coraknya minat perhatian ditentukan oleh motive-motive yang terdapat pada kita pada wakti itu.  Motive-motive kitalah melalui minat perhatian kita, mempunyai peranan besar dalam menentukan apa yang kita lihat, dengar, amati, dilingkungan kita.

71 Experimen : Mc Lelland & Atkinson → pengaruh lapar terhadap ingatan daripada pengamatan. → 3 golongan : 1. Baru makan atau kenyang 2. 4 jam belum makan atau agak lapar 3. Lapar sekali Dimasukkan dalam ruangan → proyekto dengan lampu yang sangat lemah Hasilnya → makin lama orang menderita kelaparan – makin hanya melihat hal-hal yang berhubungan dengan makanan.

72  Attitude → sikap terhadap obyek tertentu Sikap disertai kecendderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap obyek tersebut. Attitude → terarahkan pada suatu hal, suatu obyek, tidak ada attitude tanpa obyek. Contoh : orang muslim yang sungguh-sungguh → makanan daging babi → haram → dianggap kotor. Orang yang bersikap betul-betul demikian maka setiap dia makan kemudian dikatakan bahwa yang dimakan daging babi → orang yangbersangkutan akan muntah → contoh attitude terhadap daging babi sebagai obyek.

73  Attitude → benda, orang, peristiwa, pemandangan, lembaga, nilai, dll. Ciri-ciri attitude : 1. Attitude tidak dibawa sejak lahir → dipelajari sepanjang perkembangan dalam hubungan dengan obyeknya 2. Attitude itu dapat berubah-ubah → attitude dapat dipelajari orang 3. Attitude itu tidak berdiri sendiri, melainkan mengandung relasi tertentu terhadap obyek-obyek. Attitude itu berbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas

74 4. Obyek attitude itu dapat mempunyai satu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut atau : attitude itu dapat berkenaan dengan satu obyek saja tetapi juga berkenaan dengan sederetan obyek- obyek serupa. 5. Attitude mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang membedakan attitude daripada kecakapan-kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki orang. Contoh : pengetahuan tentang kebersihan → belum tentu diikuti dengan tindakan tentang kebersihan  Attitude dapat merupakan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang disertai kesediaan dan kecenderungan bertindak sesuai dengan pengetahuan itu.

75 Attitude Individual Atau Sosial Attitude mempunyai peranan yang besar dalam kehidupan manusia → apabila sudah dibentuk dalam diri manusia → akan menentukan cara- cara tingkah lakunya terhadap obyek-obyek attitudenya.  Adanya attitude → manusia akan bertindak secara khas terhadap obyek.

76 Attitude Individual 1. Attitude yang dimiliki oleh seseorang saja → kesukaan terhadap benda-benda tertentu. 2. Berkenaan dengan obyek-obyek yang bukan merupakan obyek perhatian sosial. Attitude ini terdiri atas kesukaan atau tak sukaan pribadi terhadap obyek-obyek, orang-orang, hewan-hewan dan hal-hal tertentu.

77 Attitude Sosial Attitude sosial menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap salah satu obyek sosial dan biasanya tidak hanya oleh seorang saja → oleh sekelompok orang atau masyarakat. Contoh → peringatan hari nasional 17 agustus hari kemerdekaan dan sebagainya.

78 Attitude mempunyai peranan penting dalam interaksi manusia → sosialisasi daripada manusia itu sebagian besar terdiri atas pembentukan attitude- attitude sosial pada dirinya. Contoh : orang indonesia → menjadi orang indonesia yang sebenarnya apabila ia mempunyai attitude-attitude yang khas seperti yang dimiliki orang indonesia itu → attitude terhadap norma-norma dan nilai-nilai sosial orang indonesia. Attitude sosial → menyebabkan terjadinya tingkah laku yang khas dan berulang-ulang terhadap obyek sosial.

79 Untuk Memahami Attitude Sosial atau Non Sosial → Tidak Mudah  Metode Langsung → orang secara langsung diminta pendapat atau anggapannya tentang obyek tertentu → lebih mudah tetapi hasilnya kurang dapat dipercaya.  Metode Tak Langsung → orang diminta supaya menyatakan dirinya mengenai obyek attitude yang diselidiki → secara tidak langsung → dengan menggunakan tes psikologi (test proyeksi) → mengungkap attitude secara mendalam. Juga attitude yang biasanya tidak dinyatakan atau disembunyikan.  Dengan cara wawancara, daftar pertanyaan biasa, penelitian bibiliografi atau karangan.

80 Pembentukan Dan Perubahan Attitude Pembentukan attitude tidak terjadi dengan sendirinya atau sembarangan. Attitude →berlangsung dalam interaksi dan berkenaan dengan obyek tertentu. Interaksi sosial dalam kelompok atau diluar kelompok dapat merubah attitude atau membentuk attitude baku. Interaksi diluar kelompok → interaksi dengan kebudayaan manusia melalui alat-alat komunikasi : surat kabar, TV, radio, buku, dsb.

81  Pengaruh luar – karena interaksi diluar kelompoknya → belum tentu dapat merubah atau membentuk attitude → ada faktor lain yang ikut berperan → faktor intern di dalam diri pribadi → “selectivity” → daya pilih sendiri → minat perhatiannya → menerima dan mengolah pengaruh dari luar itu.  Faktor intern → ditentukan juga oleh motive- motive dan attitude lainnya yang sudah ada dalam dirinya.


Download ppt "Oleh : Dra. Su’adah Msi. Obyek Psikologi Sosial  Obyek Material : Gejala-gejala sosial  Obyek Formil: Obyek yang membedakan psikologi sosial dengan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google