Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Legacies of Power ArtJog 14, Taman Budaya Yogyakarta, 21 Desember 2014.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Legacies of Power ArtJog 14, Taman Budaya Yogyakarta, 21 Desember 2014."— Transcript presentasi:

1 Legacies of Power ArtJog 14, Taman Budaya Yogyakarta, 21 Desember 2014

2 “Bayangan wajah Pitung muncul. Apa yang dilakukannya, diulangi oleh sisa gerombolannya yang bangkit kembali. Alasan perlawanan mereka sama. Dan tak seorang pun di antara mereka dapat mengatakan mengapa ia melawan. Memang mereka tidak bisa merumuskan perasaan mereka. Pangemanann menceritakan tentang Minke untuk menyebutnya sebagai Pitung era modern, yang berarti orang yang dapat mengutarakan ketidakpuasannya dalam kata-kata.” Pramoedya A. Toer, Rumah Kaca (1988) Proto Nasionalisme ke Nasionalisme

3 Penetrasi kolonial menimbulkan situasi konflik, perpecahan di tengah masyarakat antara yang menerima dan menolak. Ini memunculkan di kalangan pribumi pemuka-pemuka perlawanan. Mobilisasi dan eskalasi perlawanan juga kekuatan keyakinan dan tindakan sekaligus identitas pembeda ditingkatkan oleh para pemuka perlawanan itu dengan ideologi, khususnya ideologi religius. Dari perlawanan Saparua (1817) sampai perang Aceh ( ) jelas merupakan reaksi penuh kekerasan yang sebab musababnya dapat dikembalikan pada faktor berganda ekonomi, sosial, politik, dan kultural tetapi semua mempunyai nada religius. Suatu proklamasi perang sabil melawan pemerintahan kaum kafir. Tetapi, gerakan kekerasan ini mempunyai arti terbatas sebab suatu reaksi yang berbentuk nativisme yang memandang kolonialisme sebagai tidak baik karena menyimpang dari sistem dan struktur lama. Disinilah kuat prasangka etnosentrisme, neerlandophobia, patron-client. Sebab itu selama abad ke-19, pelbagai macam perlawanan bersifat tradisionalistis, yaitu mempertahankan ideologi yang menolak perubahan dan mempertahankan orde yang telah berlaku secara turun temurun. Tidak ada tujuan mengubah masyarakat secara struktural, sebaliknya struktur lama yang umumnya feodal dipertahankan. Proto Nasionalisme

4 Perlawanan terhadap penetrasi kolonial juga terjadi di antara orang tani seperti yang tergambar dalam karya Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten Ini pemberontakan petani berskala paling besar, baik ruang lingkup maupun pesertanya di Hindia Belanda. Sementara dari karya sejarawan AB Lapian, Orang Laut- Bajak Laut-Raja Laut tergambar perang dan gerilya laut terhadap penetrasi kolonial juga dilakukan oleh orang laut. Politik liberal yang mendorong ekspansi ekonomi sehebat- hebatnya sebagaimana yang maujud dalam bentuk industri perkebunan dan pertambangan seperti yang digambarkan oleh Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli dan Erwiza Erman dalam Miners, Managers and the State jelas memunculkan rezim kerja baru dan penuh kekerasan yang akhirnya membawa para kuli perkebunan dan pertambangan memberontak. Ironisnya kekerasan itu semua dilakukan berselubung perayaan politik etik dan balas budi.

5 Pada 1899 sejarah kolonial bertemuperubahan besar dari dampak semangat terang aufklarung dan kritik yang mengingatkan bertindak atas dasar etik untuk membalsa budi kepada pribumi kolonial. Inilah yang kemudian sohor disebut Politik Etis. Tetapi, ada begitu banyak tafsir ihwal politik etis namun satu saja definisnya, yaitu kebijakan yang diarahkan untuk meletkan seluruh kepualaun Hindia di bawah kuasa Belanda secara nyata, dan untuk mengembangkan negeri serta bangsa di wilayah itu ke arah pemerintahan sendiri di bawah pimpinan negeri Belanda menurut model barat. Sampai disini kuasa kolonial membangun strategi melanjutkan kontrolnya terhadap tanah jajahan dengan menciptakan manusia-manusia yang tak lain adalah jelmaan-jelmaan atau peniru tuan putih. Pemerintah kolonial harus berusaha agar kaum pribumi berhubungan dengan budaya dan pendidikan Barat. Lahirlah konsep “politik asosiasi” dimana hanya dengan tetap Hindia bersama Belanda suatu rust en orde terjamin, hanya bencana saja jika Hindia terlepas dari Belanda. Nasionalisme yang boleh dikembangkan adalah yang memerlukan pengarahan yang benar karena tidak boleh agresif destruktif bagi orang lain. Demikianlah maka Hindia Belanda harus disajikan sebagaimana desa-desa yang harmonis dalam lukisan Mooi Indie dari pelukis raja, Raden Saleh. Tetapi, harus dipastikan bahwa di balik gerumbul semak juga hutan lebat dan gunung menjulang serta sungai tidak ada jin setan serta demitnya. Ini selaras dengan kepercayaan orang belanda sebagai Calvinis yang terus was-was betapa banyak hantu berkeliaran mengancam swargaloka. Nasionalisme

6 Adalah suatu kenyataan sejarah yang pahit bagi tuan-tuan putih Belanda bahwa kemudian di balik harmoni ala Mooi Indië koloni Hindia itu menjadi kacau. Ini lantaran “proyek transformasi sosial” yang dijalankan bukan saja memunculkan jelmaan-jelmaan yang berlaku sebagai hamba sahaya peniru tuan-tuan putih, tetapi juga melahirkan figur-figur modern yang dilihat sebagai “hantu-hantu” dari neraka dengan api-apinya yang siap membakar. Sosok berbahaya yang dengan segera tampak bersemangat membuka perlawanan diam-diam atau terbuka, bukan saja terhadap jelmaan-jelmaannya bahkan terhadap tuan-tuan putih itu sendiri dengan wacana kolonialnya. Perasaan pemerintah kolonial Belanda akan taman firdaus mereka yang akan berubah menjadi neraka memang semakin nyata sebab data menunjukan pada bukan saja tokoh-tokoh pergerakan terkemuka yang mengambarkan pemikirannya dengan kias nyala dan api, tapi juga banyak media massa yang mengambil nama dengan mencomot kata nyala dan api. Bahkan seorang penyair terkemuka Indonesia, Chairil Anwar, mengenangkan Bung Karno yang menjadi motor gerakan nasionalisme, revolusi dan kemerdekaan dengan menggambarkannya sebagai sesuatu yang “menyediakan api”. Dan banyak laporan kolonial bahkan pengkaji sejarah masa kini yang kemudian menyimpulkan bahwa dari dalam api itu muncullah “hantu-hantu”, misalnya ketika Sarekat Islam bangkit pamerintah kolonial melaporkan bahwa satu “hantu kiri” telah bangkit di Hindia. Begitu juga sejarawan Takashi Shiraishi menggambarkan orang-orang pergerakan yang berbahaya dan dihukum buang ke Digul sebagai “hantu-hantu”. Dalam konteks itu adalah menarik memperhatikan sikap gemini Soekarno (kalau tidak bisa disebut ambiguitas) terhadap Mooi Indië. Soekarno jelas- jelas adalah sosok malapetaka bagi harmoni Hindia Belanda. Dalam pidato Indonesia Menggugat ia menggunakan kata-kata yang sama sekali tidak “mooi”, yaitu bom, dinamit meski tak pegang sepucuk pestol atau senapan juga segenggam amunisi. Nasionalisme

7

8


Download ppt "Legacies of Power ArtJog 14, Taman Budaya Yogyakarta, 21 Desember 2014."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google