Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Air baku air minum Pawitasari Fransisca Disampaikan dalam Pelatihan Manajemen tingkat Muda DPD Perpamsi Jawa Tengah Semarang, 8 Maret 2013.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Air baku air minum Pawitasari Fransisca Disampaikan dalam Pelatihan Manajemen tingkat Muda DPD Perpamsi Jawa Tengah Semarang, 8 Maret 2013."— Transcript presentasi:

1 Air baku air minum Pawitasari Fransisca Disampaikan dalam Pelatihan Manajemen tingkat Muda DPD Perpamsi Jawa Tengah Semarang, 8 Maret 2013

2 Prinsip pengelolaan SPAM Pengelolaan SPAM dilakukan berdasar prinsip Good Corporate Governance, memenuhi standar pelayanan minimum, persyaratan kualitas air minum sesuai peraturan Menteri Kesehatan yang berlaku dan memberikan pelayanan secara penuh 24jam per hari kepada pelanggan

3 Dasar Hukum 1. Undang-undang No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Pasal 34: pengembangan sumber daya air pada wilayah sungai ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan fungsi sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian, industri, pariwisata, pertahanan, pertambangan, ketenagaan, perhubungan, dan untuk berbagai keperluan lainnya.

4 Dasar Hukum Pasal 40: pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum rumah tangga dilakukan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum. 2. Peraturan Pemerintah No. 16/2005 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

5 Dasar Hukum Dalam PP no 16/2005 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.

6 Penggolongan air menurut Perpres No.20/1990 Golongan A: Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. Golongan B: Air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.

7 Penggolongan air menurut Perpres No.20/1990 Golongan C: Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Golongan D: Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, dan pembangkit tenaga listrik.

8 Penggolongan air menurut Permenkes RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/90. a. Air adalah air minum, air bersih, air kolam renang dan air pemandian umum. b. Air Minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. c. Air Bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

9 Penggolongan air menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/90 d. Air Kolam Renang adalah air di dalam kolam renang yang digunakan untuk olah raga renang dan kualitasnya memenuhi syarat kesehatan. e. Air Pemandian Umum adalah air yang digunakan pada tempat pemandian bagi umum, tidak termasuk pemandian untuk pengobatan tradisional dan kolam renang, yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan.

10 Unit-unit dalam SPAM 1. Unit Air Baku; 2. Unit Produksi; 3. Unit Distribusi; 4. Unit Pelayanan.

11 Unit-unit dalam SPAM

12 Sumber air Sumber air  Dalam sistem penyediaan air, sumber air merupakan satu komponen yang mutlak harus ada karena tanpanya sistem penyediaan air tidak akan berfungsi.  Dalam sistem penyediaan air, sumber air merupakan satu komponen yang mutlak harus ada karena tanpanya sistem penyediaan air tidak akan berfungsi.  Pencemaran sumber air dapat memberi gambaran dan menjadi dasar pertimbangan untuk memilih sumber air sebagai air baku air bersih/air minum.

13 Karakteristik sumber air

14 Air hujan Kuantitas: tergantung lama dan besarnya hujan Kualitas: 1. Pada saat uap terkondensasi menjadi hujan yang terbentuk adalah air murni (H 2 O), oleh karena itu air hujan sedikit mengandung mineral.

15 Air hujan 2.Gas-gas yang ada di atmosfer umumnya larut dalam butir-butir air hujan. Gas seperti CO 2  agresif. 3.Air hujan yang bereaksi dengan gas SO 2 dari daerah vulkanik atau industri akan menghasilkan senyawa asam (H 2 SO 4 ) yang bersifat asam/agresif  acid rain. 4. Kontaminan lainnya adalah partikel padat (debu dan asap), partikel cair (minyak), dan mikroorganisme (virus dan bakteri)

16 Air sungai Kuantitas: tergantung pada musim, debit sumber, dan sifat serta luas catchment area. Kualitas: 1.Secara umum mengandung zat organik dan anorganik yang jenis dan konsentrasinya tergantung pada tingkat pencemaran dan jenis tanah yang dilalui sepanjang DAS.

17 Air sungai 2.Biasanya membawa zat-zat padat yang berasal dari erosi, sisa penghancuran zat- zat organik, dan garam-garam mineral sesuai dengan jenis tanah yang dilaluinya  penyebab kekeruhan pada air 3. Kontaminan berasal dari limbah domestik (garam-garam Na, K, P; sulfat; klorida; deterjen), maupun limbah pabrik (logam/logam berat, sianida dsb.).

18 Air sungai 4. Kandungan O 2 terlarut (DO) relatif besar karena penetrasi udara terhadap air dan hasil proses fotosintesis. 5. Pada umumnya kandungan mikroorganisme patogenik relatif tinggi, baik jenis maupun jumlahnya.

19 Air danau Kuantitas tergantung pada: 1. Debit sumber air asal. 2. Luas daerah tangkapan. 3. Presipitasi serta infiltrasi air ke dalam tanah.

20 Air danau Kualitas 1. Komposisi zat-zat tergantung pada asal air, lokasi, dan tingkat pencemaran yang terjadi pada air danau/tandon/dam tersebut. 2. Komposisi zat-zat dapat berubah tergantung pada musim karena ada stratifikasi atau lapisan- lapisan akibat perbedaan temperatur menurut kedalaman air.

21 Air danau 3. Karena air danau relatif diam mungkin terjadi pengendapan zat-zat padat dan tumbuh- tumbuhan mati sehingga air relatif tidak keruh. 4. Keadaan air yang relatif diam memungkinkan proses fotosintesis berjalan dengan baik, air pada permukaan banyak ditumbuhi algae/lumut  menyebabkan adanya kandungan zat organik dan warna di permukaan yang cukup mengganggu jika air akan diolah.

22 Air danau 5. Akibat proses fotosintesis, pada siang hari kandungan oksigen terlarut (DO) akan meningkat, menyebabkan proses pemurnian secara alami. 6. Di bagian bawah terdapat zona anaerob tempat terjadinya proses reduksi Fe 3+ dan Mn 4+ menjadi bentuk terlarut Fe 2+ dan Mn 2+, reduksi sulfat menjadi H 2 S, dan senyawa nitrogen (ammonium) terkonversi menjadi N 2 kemudian terlepas ke atmosfir.

23 Air tanah Kuantitas tergantung pada: 1. Musim  terutama untuk air tanah dangkal. 2. Keadaan geologis

24 Air tanah Kualitas 1. Komponen zat-zat tergantung pada jenis tanah yang dilalui. 2. Pada umumnya air tanah cukup jernih dan tidak mengandung zat padat tersuspensi karena telah melalui proses penyaringan dengan tanah dan batuan sebagai media penyaring.

25 Air tanah 3. Semakin dalam air tanah, kandungan O 2 semakin kecil sedangkan gas-gas seperti CO 2 dan H 2 S hasil reaksi reduksi pada kondisi anaerobik akan terlarut pada air tanah  masalah bau.

26 Air tanah 4.Kualitas air tanah dangkal relatif kurang baik karena proses penyaringan yang relatif pendek dan kadang-kadang masih terkontaminasi oleh air permukaan di sekitarnya. Air tanah dangkal mengandung besi dan mangan (pada daerah tertentu) relatif lebih besar dibandingkan dengan air tanah dalam dan mata air.

27 Air tanah 5. Pada air tanah dalam kandungan mineral senyawa alkalinitas dan kesadahan relatif lebih besar dibandingkan dengan air tanah dangkal dan mata air. Senyawa-senyawa tersebut akan mempengaruhi rasa pada air dan masalah pengerakan.

28 Air laut Kuantitasnya tidak terbatas Kualitas : memiliki kadar garam tinggi sehingga: 1. Rasa asin  kandungan NaCl + 3 %. 2. Rasa tidak enak (pahit, payau/anta)  adanya senyawa – senyawa KCl, CaCl 2, CaSO 4, MgCl 2, MgSO Zat padat terlarut jumlah ( TDS ) tinggi  menimbulkan masalah pengerakan. 4. Sangat agresif  adanya ion sulfat (SO 4 2– ) dan klorida ( Cl – ).

29 Dasar Pencemaran dan kualitas air Sumber dan tipe pencemar. 1. Limbah cair - Buangan domestik. - Buangan industri. - Aliran/irigasi pertanian dan air bekas. 2. Limbah padat 2. Limbah padat

30 Pencemar utama 1. Zat organik dalam buangan rumah tangga dan industri (selulosa, gula, tepung/ kanji, lipid, protein, deterjen, dsb). 2. Nutrien seperti nitrogen, fosfor dan sulfur sebagian merupakan senyawa anorganik (NH 4 +, NO 2 –, NO 3 –, PO 4 –3, SO 4 2–, H 2 S), dan sebagian merupakan senyawa organik yang terdapat di dalam buangan domestik dan sampai tingkat tertentu terdapat dalam buangan industri, aliran/irigasi pertanian dan air bekas.

31 Pencemar utama 3. Logam berat: kadmium, raksa, timah yang terdapat dalam buangan industri. 4. Zat kimia organik (poliklorbifenil, fenol, benzena, asam ptalat dan pelarut) yang terdapat dalam buangan industri. 5. Pestisida (endrin, lindan, senyawa organofosforus dan karbamat) yang terdapat di dalam aliran/irigasi dan air bekas.

32 Pencemar utama 6. Bakteria patogenik dan virus dalam buangan domestik. 7. Suspensi sedimen (tanah liat dan pasir) di dalam aliran yang mengalami erosi. 8. Asam dan basa di dalam buangan industri.

33 Proses-proses dalam kualitas air 1. Perubahan oksigen dan zat organik. 2. Perubahan nitrogen. 3. Perubahan fosfat. 4. Eutrofikasi dan produksi primer. 5. Stratifikasi termal. 6. Polutan mikro.

34 Perubahan oksigen dan zat organik Buangan domestik dan industri mengandung zat organik dengan konsentrasi yang tinggi. Setelah masuk ke dalam sungai, mikroba mulai menguraikan bagian zat biodegradable. Di dalam proses ini oksigen dikonsumsi untuk mengoksidasi zat organik menjadi karbon dioksida (CO 2 ).

35 Perubahan nitrogen Ammonium dalam badan air berperan dalam proses nitrifikasi. ammonium  nitrit  nitrat Ammonium dalam air berada pada kesetimbangan dengan ammonia tergantung pada pH. Konsentrasi ammonium yang tinggi mungkin disertai dengan nitrit dan ammonia dengan konsentrasi toksik (menyebabkan keracunan).

36 Perubahan fosfat Fosfat tidak hanya terdapat dalam bentuk ortofosfat terlarut tetapi juga teradsorpsi pada zat padat tersuspensi terutama senyawa ferri hidroksida, Fe(OH) 3. Fosfat tidak hanya terdapat dalam bentuk ortofosfat terlarut tetapi juga teradsorpsi pada zat padat tersuspensi terutama senyawa ferri hidroksida, Fe(OH) 3. Pengendapan zat padat tersuspensi ke bagian bawah secara tidak langsung menghilangkan fosfat dari air pada lapisan atas dan akumulasi fosfat terjadi pada bagian dasar. Pengendapan zat padat tersuspensi ke bagian bawah secara tidak langsung menghilangkan fosfat dari air pada lapisan atas dan akumulasi fosfat terjadi pada bagian dasar.

37 Eutrofikasi dan produksi primer Eutrofikasi adalah kondisi air permukaan yang kaya dengan nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan phytoplankton dan jenis tumbuhan air lain. Buangan air limbah yang mengandung banyak nutrien seperti nitrogen (ammonium/nitrat) dan fosfat berkontribusi terhadap eutrofikasi.

38 Eutrofikasi dan produksi primer  Eutrofikasi menyebabkan peningkatan pertumbuhan phytoplankton dan tumbuhan air, terutama bila aliran air lambat dan zat padat tersuspensi diberi kesempatan mengendap  bluegreen algae (misal Eichhornia crassipes) tumbuh melimpah dan menutupi permukaan badan air.

39 Polutan mikro Logam berat dan zat-zat kimia organik, seperti pestisida diindikasikan sebagai mikro-polutan, karena zat-zat tersebut mempunyai efek yang merugikan meski terdapat dalam konsentrasi yang kecil. Mikro-polutan terutama merupakan buangan dari industri atau muncul dari pertanian. Logam berat cenderung mengadsorpsi senyawa anorganik.

40 Polutan mikro Mikro-polutan pestisida diambil langsung dari air dan melalui rantai makanan, kemudian terakumulasi didalam phytoplankton, zooplankton dan ikan. Setelah organisme tersebut mati, polutan teradsorpsi berakhir di dalam zat organik dan selama dekomposisi mereka terlepas ke dalam air.

41 Bangunan unit air baku  Merupakan unit pertama dalam sistem penyediaan air minum  Berfungsi untuk menangkap, menampung dan menyalurkan air baku dari sumbernya.  Berperan penting dalam menjaga ketersediaan air, kualitas dan kuantitasnya  bangunan ini memerlukan perhatian khusus

42

43 Parameter kualitas air yang harus dipantau Air baku dari air permukaan  pH dan suhu  Zat organik/anorganik  Zat padat (TSS)  Garam-garam Na, K, P; sulfat; klorida; deterjen  Logam berat, CN  Kandungan DO  Mikroorganisme (Total coliform; E-Coli)

44 Parameter kualitas air yang harus dipantau Air baku air tanah  Garam/senyawa dari kation dengan anion  pH dan suhu  DO-nya kecil


Download ppt "Air baku air minum Pawitasari Fransisca Disampaikan dalam Pelatihan Manajemen tingkat Muda DPD Perpamsi Jawa Tengah Semarang, 8 Maret 2013."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google