Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

A. Pendahuluan  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "A. Pendahuluan  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan."— Transcript presentasi:

1

2 A. Pendahuluan  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

3  Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

4  Penerapan nilai-nilai luhur budaya merupakan suatu upaya dalam rangka mewujudkan lingkungan pendidikan yang harmoni dan sustainable melalui pemanfaatan pengetahuan lokal (indigenous knowledge), pendekatan kontekstual serta pendekatan partisipatif.

5  Penggalian konsep/teori serta best practices tentang kearifan lokal atas hasil rancangan masa lalu (tradisional setting, modern setting) melalui design review maupun design practices merupakan suatu upaya dalam rangka “penyempurnaan” proses dan pendekatan perancangan pendidikan.

6  Pemahaman atas potensi nilai-nilai luhur budaya dari stakeholder, akademisi, praktisi dan birokrat menjadi penting dalam pemanfaatan penciptaan pola pendidikan yang harmoni dan sustainable.

7  Kebudayaan dunia/global masuk ke DIY melalui berbagai cara, dan paling utama adalah melalui ilmu dan teknologi. Saat ini DIY sebagaimana kota-kota lain di seluruh dunia tidak steril terhadap masuknya kebudayaan melalui media massa dan teknologi informasi. Arus kebudayaan yang tak terbendung ini berbenturan dengan nilai-nilai luhur budaya yang mapan akan mengalami penyesuaian-penyesuaian melalui asosiasi, asimilasi maupun akulturisasi. 

8  Dalam kurun waktu berikutnya, sejalan dengan perubahan yang dialami Indonesia dan dunia Internasional, banyak faktor lain yang mempengaruhi perkembangan DIY. Pemerintah Daerah bertekat menjadikan DIY sebagai pusat pendidikan terkemuka tak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara pada tahun 2025.

9  Pemahaman atas falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, Golong Gilig, Sawiji, Greget, Sengguh ora mingkuh perlu dilakukan dalam pendidikan.  Pemahaman falsafah di atas diperlukan sebagai suatu bagian dari proses penguatan jatidiri dan pembentukan watak/karakter manusia berbudaya yang mampu mengembangkan kebudayaannya dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang, serta mampu menjadi pelecut pengembangan budaya lain di Indonesia dan dunia.  Hal ini penting karena Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, pusat budaya, dan tujuan wisata bertaraf dunia yang mampu menjadi candradimuka bagi masyarakatnya dan masyarakat yang hadir di Yogyakarta, sehingga akan muncul manusia berbudaya yang berwatak satria untuk kebaikan, keutamaan, kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

10  Keinginan untuk melakukan penguatan dan pencerahan oleh adanya fenomena yang menunjukkan ketidakserasian perkembangan intelektualitas dengan perkembangan moral dan karakter, marak dan menggejala secara nasional.  Untuk itu berkembang wacana untuk menjadikan Daerah istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan berbasis budaya (lokal dan plurallistik yang ada dan tumbuh di Daerah Istimewa Yogyakarta) menjadi sangat kuat.

11  Sebagai upaya untuk mencapai kondisi tersebut, pendidikan diarahkan untuk menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas, cerdas secara spiritual, emosial, sosial, intelektual, sehat fisik dan rohani, serta mampu mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya guna menghadapi persaingan global.  Kualitas manusia tersebut dapat diwujudkan melalui pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, didukung tenaga pendidik yang berkualitas dan memenuhi standar kualifikasi serta kompetensi sesuai tuntutan zaman.

12 C. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Kebudayaan Wayang  Wayang adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, dan hiburan.

13  Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad- abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata.

14  Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia. Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan.  Hadirnya tokoh panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

15 D. Muatan Lokal  Proses pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembudayaan. Tatkala kebudayaan diartikan sebagai kerja perencanaan berikut upaya mewujudkannya agar manusia tetap survival, maka melalui sejumlah mata pelajaran, pada hakikatnya peserta didik secara bertahap memasuki proses penyiapan diri untuk hidup. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana proses pencerahan nilai-nilai dalam diri dan beradaptasi dengan lingkungannya.

16  Implikasinya, prinsip “dekatkan anak didik dengan lingkungan, dan jangan mengasingkannya” menjadi penting dalam proses pelaksanaan pendidikan. Karenanya, pemilihan dan penentuan porsi bahan pelajaran yang bersifat “lokal” menjadi imperatif yang sudah selayaknya diupayakan, termasuk bagaimana kita mempertimbangkan wayang dalam konteks ini.

17  Secara umum motivasi pendidikan yang menempatkan muatan lokal sebagai salah satu isu utamanya dapat diperhitungkan sebagai upaya untuk mencari dan mengkonstruk identitas bangsa, yang mungkin saja (sebagian telah) hilang karena proses persilangan dialektis, atau karena konfrontasi, asimilasi, dan adaptasi yang telah, sedang, dan akan terus terjadi sebagai sesuatu yang tak terelakkan.  Upaya menemukan dan mengkonstruk identitas bangsa yang baru atas dasar identitas lokal merupakan hal yang penting demi penyatuan budaya bangsa di atas dasar identitas daerah-daerah Nusantara yang lama.

18  Munculnya keinginan untuk membangun kembali identitas bangsa melalui pendidikan yang memperhitungkan budaya lokal, pada hakikatnya dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sarana yang penting untuk menyeleksi, dan bukannya melawan, pengaruh budaya “lain.” Gerakan nativisme bisa saja dipandang naif, akan tetapi merupakan suatu reaksi logis apabila diletakkan dalam perspektif budaya yang berubah sangat cepat.

19  Menggali dan menanamkan kembali wayang sebagai budaya lokal lewat pendidikan dapat juga dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa, dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya luar

20  Wayang sebagai budaya lokal, meniscayakan adanya muatan masa lalu. Dalam konteks pendidikan, wayang dapat juga berfungsi untuk membangun kerinduan pada kehidupan nenek moyang, yang menjadi tonggak kehidupan masa sekarang.

21 E. Wayang dalam Dunia Pendidikan di DIY  Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan di Daerah berdasarkan Sistem Pendidikan Nasional dengan menjunjung nilai-nilai luhur budaya. Berdasarkan pemikiran di atas perlu diatur upaya pengembangan nilai-nilai luhur budaya dalam pendidikan, sehingga terwujud pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan berbasis budaya.

22  Nilai-nilai luhur budaya sebagaimana dimaksud dalam Perda Provinsi DIY No. 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya pada Pasal 2 ayat (2) diantaranya meliputi: kejujuran, kerendahan hati, ketertiban/kedisiplinan, kesusilaan, kesopanan/kesantunan, kesabaran, kerjasama, toleransi, tanggungjawab, keadilan, kepedulian, percaya diri, pengendalian diri, integritas, kerja keras, keuletan, ketekunan, ketelitian, kepemimpinan, dan ketangguhan.

23  Penyelenggaraan satuan pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan dengan menjunjung tinggi dan menerapkan berbasis budaya.  Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan untuk mewujudkan pendidikan berbasis budaya.

24  Setiap penyelenggara pendidikan wajib melaksanakan pendidikan berbasis budaya. Setiap penyelenggara pendidikan yang tidak melaksanakan pendidikan berbasis budaya, dikenai sangsi administrative sesuai Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya; BAB III, Pasal 22, ayat (5).

25

26  Satuan pendidikan berbasis budaya yang hingga saat ini masih membuka program keahlian “pedalangan” yaitu terdapat di SMK Negeri 1 Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pada tahun ajaran 2013/2014 ini menerima 16 orang siswa.

27 F. Analisis  Krisis moral diduga berawal dari semakin jauhnya bangsa Indonesia terhadap kebudayaan yang ada dan semakin maraknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia. Masuknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai ini terjadi dari lemahnya karakter bangsa Indonesia yang mengakibatkan lemah pula daya saring terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan saat ini para penerus generasi bangsa merasa lebih senang bila menerapkan budaya- budaya asing dari pada budaya kita sendiri.

28  Pertunjukkan wayang di Indonesia kurang disukai karena cara pengemasan pertunjukan wayang yang kurang menarik. Pertunjukkan wayang ditayangkan malam hari sampai menjelang subuh. Hal ini menyebabkan pertunjukan wayang lebih diminati oleh sebagian kecil masyarakat.

29  Bagi kebanyakan anak muda, image pertunjukan wayang bukanlah suatu trend yang patut diikuti. Hal ini menyebabkan anak-anak muda cenderung tidak memiliki ketertarikan pada seni pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan wayang yang terlalu lama menyebabkan rasa bosan bagi penontonnya.  Selain itu pertunjukkan wayang sering menggunakan bahasa daerah yang kental, sehingga hanya orang- orang tertentu yang dapat memahami isi cerita dari pertunjukan wayang.

30  Berdasarkan berbagai keterbatasan tersebut, maka langkah-langkah yang dapat diambil adalah dengan mengubah pengemasan pertunjukan wayang kulit tanpa merubah isi dan juga nilai-nilai ajaran di dalamnya. Kemasan yang dapat diubah adalah jam tayang pertunjukan, durasi pertunjukan, dan bahasa penyajiannya. Jam tayang pertunjukan dapat diganti menjadi lebih awal sehingga akan lebih banyak orang yang dapat menyaksikan pertunjukan wayang.

31  Dengan demikian pertunjukan wayang kulit dapat menjadi sarana untuk memberikan pendidikan moral yang menyenangkan, karena suasananya menghibur penonton.  Selain memperoleh hiburan dengan seni yang dimainkan oleh dalang dengan wayang kulit serta lagu-lagu iringan oleh para sinden atau penyanyi lagu-lagu yang mengiringi kisah cerita dalam pewayangan, penonton juga mendapatkan pendidikan moral.

32 G. Kesimpulan  Secara lahiriah, kesenian wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud maupun seni pakelirnya. Namun demikian dibalik seni pakeliran yang tersurat ini terkandung nilai adiluhur sebagai santapan rohani secara tersirat. Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi apabila dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang sangat penting di dalam kehidupan manusia.

33  Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau perlambang. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam melihat nilai- nilai tersebut tergantung juga dari cara menghayati dan mencerna bentuk-bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan. Dalam lakon-lakon tertentu misalnya lakon yang diambil dari Serat Ramayana maupun Mahabarata sebenarnya dapat diambil pelajaran yang mengandung pendidikan

34  Berbicara mengenai kesenian wayang dalam hubungannya dengan pendidikan kepribadian bangsa tidak dapat lepas dari tinjauan kesenian wayang itu sendiri dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan ciri khusus yang dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Pancasila adalah norma yang mengatur tingkah laku dan perikehidupan bangsa.

35  Wayang merupakan suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni seni rupa dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending atau irama gamelan, diwarnai dialog (antarwacana), menyajikan lakon dan pitutur atau petunjuk hidup manusia dalam falsafah. Sehingga pertunjukan wayang kulit di daerah jawa dapat menjadi sarana hiburan sekaligus sebagai sarana pendidikan yang dapat memperbaiki moralitas penduduk jawa dan bangsa Indonesia secara umum.

36 Pertunjukan wayang kulit dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia. Dengan membudayanya pertunjukan wayang kulit di Indonesia khususnya Tanah Jawa akan berdampak pada: a.Melestarikan budaya Jawa sebagai budaya daerah yang menopang kuatnya budaya nasional. b.Dapat menyaring budaya-budaya asing yang masuk, yang mana budaya asing yang baik artinya yang sesuai dengan budaya kita, kita terima dan yang tidak sesuai tidak kita terima. c.Melindungi generasi Indonesia agar tidak terkontaminasi dengan budaya asing yang kurang baik. d.Memperbaiki perilaku bangsa Indonesia karena pertunjukan wayang selalu berisi tentang ajaran-ajaran kehidupan yang benar sesuai dengan nurani. e.Rasa cinta dan bangga terhadap tanah air dan bangsa akan semakin meningkat dibenak generasi Indonesia pada khususnya dan masyarakat indonesia pada umumnya, sehingga akan berdampak pada lancarnya pembangunan Indonesia menjadi negara yang lebih baik.

37

38 YOGYAKARTA. Antusias ratusan penonton yang menyesaki Alun-Alun Selatan, Yogyakarta terbayarkan dengan pegelaran wayang yang menghibur. Di balik kisah yang sarat pendidikan itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh turut serta memerankan wayang orang sebagai Semar.

39


Download ppt "A. Pendahuluan  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google