Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KONSTRUKSI SOSIAL SEKSUALITAS MANUSIA. Pertentanga tentang persoalan ‘alami’ dari hubungan heteroseksual laki-laki dan perempuan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KONSTRUKSI SOSIAL SEKSUALITAS MANUSIA. Pertentanga tentang persoalan ‘alami’ dari hubungan heteroseksual laki-laki dan perempuan."— Transcript presentasi:

1 KONSTRUKSI SOSIAL SEKSUALITAS MANUSIA

2 Pertentanga tentang persoalan ‘alami’ dari hubungan heteroseksual laki-laki dan perempuan

3 PATRIARCHALIS Pola Hewan menunjuk pada sesuatu yang bersifat jasmaniah Seksualitas dikonsepsikan sebagai kekuatan instinktif (naluriah) yang menggerakkan dan menguasai individu dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Jika kekuatan ini tidak disalurkan ke dalam ekspresi seksual yang langsung, maka ia akan muncul sebagai kelainan jiwa atau neurosis

4 MATRIARCHALIS Seksualitas manusia sifatnya normatif karena mereka adalah makhluk bio-sosial Matriarchy lebih unggul karena proses historisnya

5  Kategori pertentangan yang saling berlawanan ini menurut Suryakusuma (1991) digolongkan atas kategori esensialis dan non esensialis.

6 PATRIARCHALIS: Sigmund Freud  Konsep libido manusia berpijak pada skema hidrolik: libido meningkat, tekanan darah meningkat, keresahan meningkat.  Tindakan seksual akan menurunkan ketegangan dan keresahan untuk beberapa saat sampai ketegangan itu kembali muncul. Pengekangan seksual dapat menimbulkan gangguan mental.

7 PATRIARCHALIS  Havelock Ellis dalam bukunya “Studies in the Psychology of Sex”— menyatakan keprihatinannya atas kecenderungan perempuan yang semakin meningkat untuk menolak fungsi ‘keibuan’ mereka dan menuduh penganut matriarchalis telah membelokkan perempuan jauh dari ‘hukum alam mereka sendiri’

8 PATRIARCHALIS  Desakan laki-laki adalah desakan yang ‘menaklukkan’ dan desakan perempuan adalah desakan untuk ‘ditaklukkan’.  Apabila terjadi penolakan oleh perempuan, maka penolakan itu sebenarnya tidaklah nyata (pura-pura) tetapi itu semua adalah bagian dari permainan yang dirancang untuk meningkatkan bangkitnya nafsu seksual laki- laki’

9 PATRIARCHALIS  Margareth Sanger : “laki-laki harus menjadi perayu, pengejar dan pemburu. Laki-laki adalah agressor….”.  Leonora Eyles : ‘Setiap perempuan sebenarnya menyukai laki-laki, segala sesuatunya seperti orang-orang gua, dia menyukai kejutan, dia menyukai berlari jauh dan ditangkap dan diberi permainan cinta’

10 PATRIARCHALIS  ….”untuk mendesakkan kekuasaan ….adalah satu dari dorongan hari kita yang paling primer dan senantiasa hal itu berkecenderungan untuk dimanifestasikan dalam sikap seorang laki-laki terhadap perempuan yang ia cintai”’

11 PATRIARCHALIS  Fungsi penolakan perempuan adalah untuk meningkatkan bangkitnya nafsu laki-laki dan akhirnya menjamin —menurut hukum seleksi alam— bahwa hanya pria yang terbaik dan paling gigihlah yang berhasil membuahkan keturunan mereka,  Maka harus ada perpaduan yang sama-sama erat antara kesenangan seksual perempuan dan kesakitannya’

12 PATRIARCHALIS  Laki-laki adalah korban dari desakan-desakan seksual yang untuk desakan itu mereka tidak mampu mengendalikan;  Kebutuhan seksualitas adalah sama mendasarnya seperti kebutuhan makan dan minum sehingga apabila tidak terpenuhi akan menyebabkan sakit jiwa atau neurosis;  Desakan seksual laki-laki jauh lebih kuat daripada perempuan.

13 MATRIARCHALIS  Matriarchalis umumnya menganggap bahwa kepercayaan-kepercayaan di atas hanyalah mitos-mitos dan itu digunakan sebagai senjata bagi kaum laki-laki sebagai sarana untuk mengendalikan perempuan dan mempertahankan kedudukan mereka.

14 MATRIARCHALIS  Bias jender dalam seksualitas lebih banyak disebabkan faktor kekuasaan dan dominasi laki-laki daripada faktor biologis.

15  Feminis yang ‘radikal’ merasa pasti bahwa untuk memerangi aspek kekuasaan dan dominasi laki-laki ini mereka membela apa yang dinamakan “mogok seks” sebagai cara penolakan.  Lucy Re-Bertlett (Jackson, 1986) menulis: “Dalam hati banyak perempuan hari ini mencuat jeritan seperti ini: Saya tidak akan mengenal laki-laki dan tidak pernah melahirkan anak hingga rasa apatis ini hilang. Itulah pemogokan dingin dan akan berlangsung di seluruh dunia".

16  Membuat ‘konstruksi sosial’ baru tentang mogok seks.  Walter Gallichan dalam bukunya ‘Sexual Apathy and Coldnes in Women’ yang intinya mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara ‘frigiditas’ dan ‘feminisme’:  “...Perempuan yang mempunyai sifat dingin sering menjadi pendukung aktif organisasi-organisasi reformasi, pejuang-pejuang suci emansipasi perempuan, kampanye-kampanye kesucian dan masyarakat untuk penindasan perempuan…(dia) kurang faham akan fakta-fakta kehidupan yang fundamental”.

17  William Stekel beragumentasi bahwa “Perempuan yang dingin akan mengalami penderitaan yang menghambat, yang tersembunyi dan menyatakan dirinya sebagai “saya tidak akan” dan bahwa peningkatan dalam frigiditas pada zaman-zaman modern nantinya diinterpretasikan sebagai manifestasi sosial yang sifatnya terbuka, secara khusus sebagai suatu fase dalam perjuangan perempuan untuk hak-hak yang sama

18  Kata Gallichan, perempuan yang dingin histeris harus diajari untuk menghadapi realitas-realitas alam, dan untuk meninggalkan persepsi-persepsi palsu tentang ‘kengerian akan seksualitas”. Sayangnya perempuan-perempuan yang demikian ‘sangatlah resistan’.  Penolakan mereka untuk menerima kenyataan percintaan dari dua jenis kelamin seringkali demikian susah dihilangkan hingga segala macam pengajaran tampaknya tak mungkin dalam kasus mereka

19  Penganut feminisi menentang hal tersebut dan mempertanyakan mengapa seksualitas perempuan secara pasti perlu dibangunkan oleh laki-laki ternyata tidak pernah dijelaskan dan terjawab dan nyatanya tidak dipandang sebagai problema yang membutuhkan penjelasan

20  Penganut feminisi menuntut otonomi seksual perempuan, hak untuk merumuskan dan mengendalikan seksualitas mereka sendiri, bebas dari eksploitasi seksual laki-laki dan pemaksaan.  Otonomi ini tentu saja tidak bisa diringkas sebagai ‘cinta bebas’.

21  Seksualitas manusia ditentukan oleh masyarakat, mengikuti konstruksi sosial yang dibuat oleh masyarakat.  Manusia adalah makhluk bio-sosial, dengan demikian seksualitas manusia adalah normatif.  Seksualitas bukan hanya biologik fisik, tapi selalu merupakan suatu bentuk interaksi sosial

22  Menghadapi tuduhan ‘frigid’ terhadap feminis, ditegaskan bahwa persoalan ‘frigid atau tidak’ akan sangat tergantung dari perlakuan laki-laki terhadap partner mereka. Paksaan atau tidak !

23  Manusia sejak awal mempunyai cara-cara untuk mementukan berbagai aturan yang menyangkut perihal kegiatan seksual.  Kegiatan seksual dipandang tidak hanya sebagai prokreasi (=melanggengkan keturunan), tapi mengandung juga dimensi rekreasi (kenikmatan), relasi (hubungan) dan juga institusi (kelembagaaan)

24  Setiap kehidupan berkelompok, seks sebagai aktifitas biologis yang menyangkut hubungan kekerabatan dan berhubungan erat dengan norma-norma sosial yang berlaku di kelompok tersebut.  Berlaku berbagai ketentuan yang menyangkut apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang yang berhubungan dengan kegiatan seksual para anggotanya.  Itulah yang membedakan manusia dengan ‘hewan’.

25  Manusia sejak awal mempunyai cara-cara untuk mementukan berbagai aturan yang menyangkut perihal kegiatan seksual.  Kegiatan seksual dipandang tidak hanya sebagai prokreasi (=melanggengkan keturunan), tapi mengandung juga dimensi rekreasi (kenikmatan), relasi (hubungan) dan juga institusi (kelembagaaan)

26

27


Download ppt "KONSTRUKSI SOSIAL SEKSUALITAS MANUSIA. Pertentanga tentang persoalan ‘alami’ dari hubungan heteroseksual laki-laki dan perempuan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google