Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

STRATEGI IMPLEMENTASI BISNIS LOGISTIK MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN 2013 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "STRATEGI IMPLEMENTASI BISNIS LOGISTIK MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN 2013 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri."— Transcript presentasi:

1 STRATEGI IMPLEMENTASI BISNIS LOGISTIK MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN 2013 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri

2 The Ministry of Trade of the Republic of Indonesia OUTLINE 2 I.VISI DAN MISI KEMENDAG II.INTEGRASI PERDAGANGAN JASA DI ASEAN III.STRUKTUR DAN PELUANG USAHA PELAKU DAN PENYEDIA JASA LOGISTIK IV.STRATEGI IMPLEMENTASI BISNIS LOGISTIK MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN 2013

3 I. VISI DAN MISI KEMENDAG

4 Visi & Misi PEMBANGUNAN PERDAGANGAN Visi “Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak Pertumbuhan dan Daya Saing Ekonomi, serta Pencipta Kemakmuran Rakyat yang Berkeadilan” Misi 1.Meningkatkan kinerja ekspor nonmigas secara berkualitas. 2.Menguatkan pasar dalam negeri. 3.Menjaga ketersediaan bahan pokok dan penguatan jaringan distribusi nasional. 4

5 MISI TUJUAN SASARAN 1. Meningkatkan kinerja ekspor nonmigas nasional secara berkualitas 2. Menguatkan pasar dalam negeri 3. Menjaga ketersediaan bahan pokok & penguatan jaringan distribusi nasional 1. Peningkatan akses pasar ekspor dan fasilitasi ekspor 3. Peningkatan Pengawasan & Perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri 6.Peningkatan kinerja sektor Perdagangan Besar dan Eceran, serta ekonomi kreatif Pertumbuhan ekspor nonmigas (1-4) Diversifikasi pasar ekspor (1-4) Penyederhanaan perizinan perdagangan dalam negeri (5) Peran Indonesia di Forum Internasional (4) 4. Peningkatan peran & kemampuan diplomasi perdagangan internasional Keunggulan komparatif produk ekspor (RCA) (2) Pencitraan Indonesia (Anholt – Export) (1- 2) Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Luar Negeri (3) Pertumbuhan PDB sektor perdagangan (6) Gejolak harga bahan pokok dalam negeri (8) Disparitas Harga Antar Provinsi (8) Kontribusi ekonomi kreatif (6) 5. Perbaikan iklim usaha perdagangan dalam negeri 2. Peningkatan daya saing produk ekspor 8. Stabilisasi dan penurunan disparitas harga bahan pokok 7.Peningkatan pengawasan & perlindungan konsumen Akumulasi Jumlah BPSK yang dibentuk (7) 9. Penciptaan Jaringan Distribusi Perdagangan yang Efisien Logistics Performance Index (9) Diversifikasi Produk Ekspor (2) 4. Optimalisasi Reformasi Birokrasi 10. Peningkatan Kualitas Kinerja Organisasi 11. Penguatan dan Peningkatan Kualitas Organisasi dan SDM Performansi Organisasi (10) Kinerja Keuangan (10) Tingkat Kepuasan SDM (11) PDN memiliki peran utama PDN memberikan dukungan RENCANA STRATEGIS | MISI, TUJUAN, SASARAN KEMENDAG 5

6 “Peningkatan penataan sistem distribusi nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan jasa, kepastian berusaha, dan peningkatan daya saing produk domestik”. RENCANA STRATEGIS | Arah Kebijakan Nasional Pembangunan Perdagangan Dalam Negeri (RPJMN ) 6

7 Fokus prioritas 3: Peningkatan efektivitas pengawasan dan iklim usaha perdagangan, yang didukung oleh kegiatan prioritas: 1.Penegakan Hukum Persaingan Usaha* 2.Pengembangan dan Harmonisasi Kebijakan Persaingan* 3.Pengembangan Kebijakan dan Pemberdayaan Perlindungan Konsumen 4.Penguatan Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional 5.Peningkatan Tertib Ukur 6.Peningkatan Efektifitas Pengawasan Barang Beredar & Jasa Fokus prioritas 1: Peningkatan Jaringan distribusi untuk menunjang pengembangan logistik nasional, yang didukung oleh kegiatan prioritas: 1.Peningkatan Kelancaran Distribusi Bahan Pokok dan Barang Strategis 2.Pengembangan Jaringan Distribusi Perdagangan dalam mendukung Sistem Logistik Nasional 3.Koordinasi Penataan dan Pengembangan Sistem Logistik Nasional* Fokus prioritas 2: Penguatan pasar domestik dan efisiensi pasar komoditi, yang didukung oleh kegiatan prioritas: 1.Pengembangan Kelembagaan dan Pelaku Usaha Perdagangan 2.Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri. 3.Pemberdayaan Dagang Kecil dan Menengah. 4.Pengembangan Ekonomi Kreatif. 5.Pembinaan dan pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi 6.Pembinaan dan pengawasan Pasar Lelang Dan Sistem Resi Gudang * Prioritas NASIONAL * Prioritas BIDANG * Bukan Kegiatan Kemendag * Prioritas BIDANG unit Eselon I lainnya di Kemendag RENCANA STRATEGIS | Fokus Prioritas Pembangunan Bidang Perdagangan Dalam Negeri (RPJMN ) 7

8 Sistem Logistik Nasional 1 Monitoring Bahan Pokok 5 Harmonisasi Kebijakan, Pasar percontohan, Revitalisasi Pasar, Panduan Pasar, Sistem informasi Pengembangan sarana distribusi-Pasar 2 Pengembangan Gudang & Pusat Distribusi 3 Pusat Informasi Pasar 4 Sistem Informasi, Resi Gudang, Revitalisasi Fisik Gudang, Manajemen Gudang Rantai pasok komoditas, penataan pelaku jasa logistik perdagangan (termasuk Industri pos) Sidak pasar untuk bahan pokok, operasi pasar Informasi dan analisa Harga & Non harga (EWS) Bursa Berjangka Komoditi 6 Pembinaan pelaku, pengawasan, lindung nilai, referensi harga komoditas Misi 3 3. Menjaga ketersediaan bahan pokok & penguatan jaringan distribusi nasional 8. Stabilisasi dan penurunan disparitas harga bahan pokok 9. Penciptaan Jaringan Distribusi Perdagangan yang Efisien PDN memiliki peran utama PDN memberikan dukungan Flagship Kemendag Program Non Flagship Kemendag RENCANA STRATEGIS | Strategi Utama dan Peran Ditjen PDN dalam Pembangunan Perdagangan

9 II. INTEGRASI PERDAGANGAN JASA ASEAN

10 Integrasi Perdagangan Jasa di ASEAN | Pengertian Perdagangan Jasa Internasional Perdagangan jasa didefinisikan ke dalam 4 mode : • Pemasok jasa dari satu wilayah dari suatu negara ke wilayah negara lainnya atau mode 1 (cross border supply); • Pemasok jasa dalam satu wilayah dari suatu negara kepada konsumen jasa dari negara lainnya atau mode 2 (consumption abroad); • Pemasok jasa dari suatu negara menyuplai jasa melalui keberadaannya di negara lainnya atau mode 3 (commercial presence); • Suplai jasa dilakukan melalui keberadaan dari natural person suatu negara anggota di dalam wilayah salah satu negara atau mode 4 (movement of natural person) 10

11 Integrasi Perdagangan Jasa di ASEAN | Peranan Perdagangan Jasa • Perdagangan jasa semakin besar peranannya dalam perekonomian dunia baik dalam perdagangan barang maupun dalam memberikan kontribusi dalam GDP. • Peranan sektor jasa di negara maju telah mencapai 70% lebih dari GDP, dan rata-rata di negara emerging market telah mencapai di atas 60%, sementara di Indonesia telah mencapai 40% lebih. • Untuk menjadi negara maju struktur perekonomian Indonesia memerlukan pertumbuhan yang tinggi untuk sektor tersier Lower middle income country High income country Perubahan struktur ekonomi menjadi sebuah NEGARA MAJU bisa diwujudkan bila sektor-sektor utama tumbuh sebagai berikut: •Primer : 7,8 – 8,3 % per tahun •Sekunder : 12,6 – 13,1 % per tahun •Tersier : 13,4 – 13,9 % per tahun 11

12 Integrasi Perdagangan Jasa di ASEAN | Perdagangan Jasa di ASEAN  ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) disahkan pada KTT ke-5 ASEAN tanggal 15 Desember 1995 di Bangkok- Thailand;  Perdagangan Jasa di ASEAN mengacu pada prinsip-prinsip perdagangan jasa di GATs WTO yaitu: 1.Most Favored Nation (MFN). 2.National Treatment. 3.Transparancy. 4.Progressive Liberalization. 5.Legally binding.  Mekanisme perundingan dilakukan melalui ASEAN Coordinating Committee on Services (CCS)  Isi dari kesepakatan AFAS antara lain: a.M eningkatkan kerjasama dalam rangka meningkatkan efisiensi dan daya saing, diversifikasi kapasitas produksi serta pasokan dan distribusi jasa b.Menghapus hambatan perdagangan jasa c.Meliberalisasikan perdagangan jasa 12

13 Integrasi Perdagangan Jasa di ASEAN | Perkembangan Perundingan Perdagangan Jasa di ASEAN  Dalam mewujudkan ASEAN Economic Community (AEC) 2015, integrasi di sektor jasa menjadi salah satu yang mengemuka. Tingkat integrasi harus dipenuhi.  Perjanjian Perdagangan Jasa ASEAN (AFAS) legally binding, komitmennya “GATS Plus”.  Target akumulasi liberalisasi: - Tahun 2010 (AFAS 8) : 80 subsektor - Tahun 2012 (AFAS 9) : 100 subsektor - Tahun 2014 (AFAS 10) : 120 subsektor - Tahun 2015 (AFAS 11) : 128 subsektor  Roadmap liberalisasi ASEAN : - Tahun 2010 : 3 Sektor prioritas (70% Foreign Equity Participation/FEP): e-Asean, healthcare dan pariwisata (29 Sub-sektor), 51 subsektor non PIS (51% FEP) - Tahun 2013 : Sektor logistik ( 9 sub-sektor FEP 70% al. Jasa pergudangan, pengepakan, kargo, kurir, dan jasa transportasi pengiriman barang) - Tahun 2015 : 128 sub-sektor (FEP 70%)  Saat ini perundingan perdagangan jasa telah memasuki ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) Paket 8 13

14 III. STRUKTUR DAN PELUANG USAHA PELAKU DAN PENYEDIA JASA LOGISTIK

15 Struktur Horisontal Saluran Logistik Barang (Generic Key Stakeholder Relations) Shipper / Consignee Forwarder /Ekspedition Forwarder /Ekspedition Regulator Warehouse / Depot Operator Warehouse / Depot Operator Port Operator Carrier Keywords: 1> moving the goods; 2> Provider of logistics services. Penyedia jasa logistik Sumber: Anggadinata, Center for Logistics and Supply Chain Studies, ITB, S eri Mata Kuliah Regulasi dan Kebijakan, Mlog ITB, 2011

16 Struktur Vertikal Saluran Logistik Barang (Generic Key Stakeholder Relations) Importer Distributor Wholesale Agent Retail – End Point of Sales (Hypermarket, Supermarket, Minimarket, Pasar Tradisional / Rakyat, Warung, Kios) Retail – End Point of Sales (Hypermarket, Supermarket, Minimarket, Pasar Tradisional / Rakyat, Warung, Kios) Producer Household /Rumah Tangga Household /Rumah Tangga Non Household /Non RT Non Household /Non RT Exporter Keywords: 1> transfer of entitlement of goods; 2> the doers of logistics. Pelaku Logistik /Pemilik barang Sumber: Anggadinata, Center for Logistics and Supply Chain Studies, ITB, S eri Mata Kuliah Regulasi dan Kebijakan, Mlog ITB, 2011

17 Infrastruktur Logistik Pariwisata JasaPerbankan, Asuransi, LKBB Money Infrastruktur Logistik Pariwisata Sarana ATM Internet Banking SMS Banking T/T Cash Basis PesanDokumen Data Aplikasi KeamananAplikasi KhususSaluran Pengiriman Sarana TransportasiMessaging Hub Jaringan Fisik InformasiJaringan Telekomunikasi Fasilitas PenyimpananW/H, CY, CFS, Container, Pallet, Parcel Freight & People SaranaKapal Udara, Kapal Laut, Kereta Api, Passanger Car, Mini Van, Truck Intermodal NodeDermaga Terminal NodePelabuhan Laut Pelabuhan Sungai Bandar Udara Terminal Bus/Angkot Stasiun ModaLautSungaiUdaraJalanRel Penyedia JasaPengelola Objek Wisata (Heritages, Unique / Traditional Culture, Art Performance) Trade of Service & Parcel Barang ParcelPengrajin / Produsen Barang Seni Penyalur JasaTravel Agents, Broker/Event Organizer Barang ParcelPedagang, Distributor, Grosir, Agen, Peritel Prasarana JasaPenginapan, Hotel, Resort, Art Performing Hall Barang ParcelPasar Tradisional, Mall, Kiosk, Toko, Warung, Lapak Jaringan Keuangan Jaringan Informasi Jaringan Transportasi Jaringan Distribusi Sumber: Anggadinata, Center for Logistics and Supply Chain Studies, ITB, 2010

18 Infrastruktur Logistik Komoditas / Barang Pelaku Jasa Perbankan, Asuransi, LKBB Money Infrastruktur Logistik Barang Sarana ATM Internet Banking SMS Banking T/T Cash Basis Pesan Dokumen Data Aplikasi KeamananAplikasi KhususSaluran Pengiriman Sarana Transportasi Data Messaging Hub Jaringan Fisik Informasi Jaringan Telekomunikasi Fasilitas Penyimpanan W/H, CY, CFS, Container, Bag, Pallet, Depot Freight Sarana Transportasi Kapal Laut, Kereta Api, Kapal Udara, Truck, Pipa Intermodal Node Dermaga Terminal Node Pelabuhan Laut Pelabuhan Sungai Bandar Udara Pelabuhan Daratan StasiunDepot Moda LautSungaiUdaraJalanRelPipa PenyediaProdusen, Importir, Eksportir Trade PenyalurPedagang, Distributor, Grosir, Agen, Peritel PrasaranaTerminal Agri, pasar Induk, Pasar Tradisional, Kios, Warung, Hyper/Super/Mini Market Jaringan Keuangan Jaringan Informasi Jaringan Transportasi Jaringan Distribusi Sumber: Anggadinata, Center for Logistics and Supply Chain Studies, ITB, 2010

19 Besaran Bisnis Logistik Nasional National Logistics Cost (2010) • Indonesia, National GDP= USD 539,38 Milyar 1) = Rp Trilyun • Bisnis Logistik Nasional diperkirakan = Rp T x 26% 2) = Rp Trilyun, terdiri dari :  Inventory Carrying Cost = Rp. 421 Trilyun  Transportation Cost= Rp. 841 Trilyun;  Administration Cost /Shipper related cost = Rp. 140 Trilyun; 1) Young Jai CHO, Secretary General, ASEAN-Korea Centre, November 2010; 2) Total logistics cost Indonesia diperkirakan sebesar 26%; Pusat Kajian Logistik dan Rantai Pasok ITB, 2010; Tidak dipublikasikan;

20 Peta Peluang Usaha Terkait dengan Logistik 3PL Standard /Basic Logistics  Pick and Pack  Warehousing  Distribution (incl. Transport) 3PL Service (Developer Value Added Services with a solid IT foundation and focus on economies of scale)  Tracking & Tracing  Cross Docking  Specific Packaging  Unique Security System 3PL The Customer Adapter (Improves the logistics services and cost dramatically; But do not develop a new service)  To meet customer’s specific request  Take over complete control of customer’s logistics activities. 3PL The Customer Developer (The highest level of 3PL; Perform extensive and detailed tasks)  The 3PL provider integrates itself with the customer and takes over their entire logistics function. EDI, Track, Trace and Cargo Security :  Infrastructure Provider  Applications Provider  Resi Gudang  Logistics project financing  Logistics project insurance 4 PL = Fourth Party Logistics Provider = Lead Logistics Provider = Non Asset Based 3PL Multimodal Transport Operator (MTO)

21 IV. STRATEGI IMPLEMENTASI BISNIS LOGISTIK MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN 2013

22 KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENATAAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL • Pada tanggal 5 Maret 2012, Presiden telah menandatangani PERPRES NO 26 Tahun 2012 tentang CETAK BIRU PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL. • Dalam cetak biru tersebut, terdapat 6 kunci penggerak utama: Komoditas Penggerak Utama, Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik, Infrastruktur Transportasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi, SDM dan Manajemen, serta Regulasi dan Kebijakan. 22

23 •Konektivitas Nasional •Koridor Ekonomi MP3EI • Komoditas Penggerak Utama; •Penyedia Jasa Logistik; •SDM Logistik; •Infrastruktur; •Teknologi Informasi dan Komunikasi; •Regulasi di bidang logistik. •Kelembagaan LogNas Cetak Biru Sislognas •ASEAN Integration of Logistics Services Tahun 2013; •Masterplan on ASEAN Connectivity •Trend Logistik Global Perkembangan Global Cetak Biru Sislognas dan Relevansinya dengan Isu Strategis Lainnya Sinkronisasi dan Harmoniasi Inpres 14/2011 Tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional (terbitnya Perpres tentang Cetak Biru Sistem Logisitk Nasional) RPJMN Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha, substansi inti 3: Logistik Nasional (Pengembangan dan Penetapan Sistem Logistik Nasional

24 •Cetak Biru merupakan arah dan pola pengembangan Sislognas pada tingkat kebijakan makro yg dijabarkan lebih lanjut dalam RKP dan RK-Kementerian/Lembaga setiap tahunnya •Cetak Biru berperan dalam mencapai sasaran RPJMN, menunjang Implementasi MP3EI, dan mewujudkan visi ekonomi Indonesia Tahun 2025 IPTEK / INOVASI Sislognas & MP3EI Meningkatkan Daya Saing Meningkatkan Kesejahteraan

25 PENDEKATAN UTAMA • Berbasis Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) • Paradigma : ship follows the trade & ship promotes the trade • Menggunakan pendekatan 6 kunci penggerak utama logistik (six key drivers) CETAK BIRU Sistem Logistik Nasional….

26 SDM Infrastruktur Pelaku dan Penyedia Jasa Komoditas TIK Regulasi Daya saing Nasional Kesejahteran Masyarakat Enam Penggerak Utama Sislognas Cetak Biru Sistem Logistik Nasional

27  Terwujudnya sistem logistik komoditas penggerak utama (key commodities) yang mampu meningkatkan daya saing produk nasional baik di pasar domestik, pasar regional maupun di pasar global  Tenjamin ketersediaan barang, kemudahan mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau dan stabil, serta rendahnya disparitas harga antar wilayah di Indonesia  Penghela (driver) dari seluruh kegiatan logistik. Komoditas Penggerak Utama  Terwujudnya Pelaku Logistik (PL) dan Penyedia Jasa Logistik (PJL) yang terpercaya dan profesional, yang tidak hanya mampu bersaing dan menguasai sektor logistik dalam tataran lokal dan nasional, tetapi juga mampu bersaing di tataran global  Terwujud “pemain lokal kelas dunia” (world class local players) Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik  Tersedianya jaringan infrastuktur transportasi yang memadai dan handal dan beroperasi secara efisien sehingga terwujud konektivitas domestik (domestic connectivity) baik konektivitas lokal (local connectivity) maupun konektivitas nasional (national connectivity) dan konektivitas global (global connectivity) yang terintegrasi  dengan transportasi laut dan transportasi massal sebagai tulang punggungnya. Infrastruktur Transportasi Kondisi yang diharapkan

28  Tersedianya e-Logistik Nasional yang menyediakan layanan satu atap sistem pengiriman data, dokumen logistik perdagangan, dan informasi secara aman dan handal untuk melayani transaksi G2G, G2B, dan B2B baik untuk perdagangan domestik maupun internasional, dan terkoneksi dengan jejaringan logistik ASEAN dan jejaring logistik global secara on line yang didukung oleh infrastuktur dan jaringan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang handal dan beroperasi secara efisien Teknologi dan Informasi  tersedianya SDM logistik profesional baik pada tingkat operasional manajerial, dan strategis yang sesuai dengan kebutuhan nasional  Adanya klasifikasi dan penjejangan profesi logistik, serta pendirian lembaga pendidikan logistik baik melalui jalur akademik, jalur vokasi, maupun jalur profesi Sumber Daya Manusia  tersedianya landasan hukum, penegakan hukum (law enforcement), serta implementasi peraturan perundangan yang terkait dengan logistik.  Sinkronisasi peraturan perundangan logistik baik antar kementerian/lembaga maupun antar Pemerintah Pusat dan Daerah Kelembagaan Kondisi yang diharapkan Regulasi  terbentuknya Kelembagaan Logistik Nasional yang berfungsi membantu Presiden dalam menyusun kebijakan, mengkoordinasikan, mensinkronkan pelaksanaan pengembangan Sistem Logistik Nasional.

29 Jaringan Sistem Logistik Nasional Desa Desa Desa Integrasi Jaringan Lokal dan Nasional Koneksi Jaringan Global Pelabuhan Hub Internasional EROPA Antar Pulau Kota/ Kab Pelabuhan Hub Internasional ASIA Pelabuhan Hub Internasional AMERIKA Pelabuhan Hub Internasional Indonesia Antar Pulau Desa Desa Desa Desa Desa Kota/ Kab Kota/ Kab Pelabuhan Hub Internasional AFRIKA Pelabuhan Hub Internasional AUSTRALIA Desa

30 Arah Kebijakan Strategis  Mengutamakan Integrasi Ekonomi Nasional yang mendukung Pengamanan dan Perluasan Pasar Domestik  Menghela tercapainya Visi Ekonomi Indonesia 2025  Mendorong terwujudnya Indonesia sebagai Negara Maritim  Mendorong Terobosan dan Akselerasi Mengejar Ketertinggalan Dalam Persaingan Global  Meningkatkan Peran Pemda dan Sinergi Pusat-Daerah Dalam Mengembangkan Potensi Sumber Daya  Mendorong Kompetisi yang berkeadilan  Mendorong Partisipasi Dunia Usaha dan Kesempatan Berusaha.

31 Roadmap Sislognas Cetak Biru Sistem Logistik Nasional Membangun Kerangka Kelembagaan Roadmap Sistem Perdagangan Nasional Roadmap Sistem Transportasi Nasional Roadmap Sistem Informasi Nasional Roadmap Sistem Pengadaan Nasional Menyatukan Logistik dan Rantai Pasok Nasional, Penguatan Kapasitas Penyedia Jasa Logistik dan Pelaku Logistik Nasional Integrasi Jaringan Logistik ASEAN Integrasi Jaringan Logistik Global

32 Milestone Kinerja Logistik Nasional sampai 2025

33 Koridor Papua dan Maluku Koridor Sulawesi Kerangka Implementasi Sislognas Strategi, Program dan Rencana Aksi Nasional Program dan Rencana Aksi Kementerian/Lembaga Locally Integrated and Globally Connected for National Competitiveness and Social Welfare MP3EI RPJMN Koridor Kalimantan Koridor Bali dan Nustra Koridor Jawa Koridor Sumatra

34 ESENSI PROGRAM AKSI Tahap I ( ) Tahap II ( ) Tahap III ( )  Disetiap Koridor Ekonomi terdapat PL dan PJL yang menjadi pemain lokal dan nasional yang handal dan berdaya saing  Disetiap koridor ekonomi terdapat UKM dan koperasi penyedia jasa logistik sebagai pemain lokal dan nasional yang handal dan berdaya saing  Disetiap Koridor Ekonomi terdapat PL dan PJL yang menjadi pemain handal regional  Disetiap Propinsi terdapat UKM dan koperasi penyedia jasa logistik sebagai pemain lokal dan nasional yang handal dan berdaya saing  Terwujudnya PL dan PJL Nasional klas dunia (world class player)  Meningkatnya peran BUMN PJL (Pos, BGR, Bulog, dll) dalam Logistik pedesaan dan nasional  Revitalisasi BUMN Niaga sebagai trading house komoditas pokok dan strategis serta komoditas ekspor  Terwjudnya BUMN PJL sebagai pemain andalan dalam logistik pedesaan dan nasional  Terwujudnya BUMN Niaga sebagai trading house klas dunia (world class player)  Terwujudnya PL dan PJL Nasional klas dunia (world class player) Kinerja Pelaku Logistik (PL) dan Penyedia Jasa Logistik (PJL)

35 Tahap I ( ) Tahap II ( ) Tahap III ( )  Tertatanya dan terselenggaranya sistem pendidikan dan pelatihan profesi logistik nasional yang berstandar internasional  Sebagian besar pekerja logistik di Indonesia sudah mendapat sertifikasi logistik nasional yang berstandar internasional dan atau memiliki ijazah/sertifikat dalam bidang yang terkait dengan logistik dari institusi yang terakreditasi  Semua pekerja logistik di Indonesia sudah mendapat sertifikasi logistik nasional yang berstandar internasional dan atau memiliki ijazah/sertifikat dalam bidang yang terkait dengan logistik dari institusi yang terakreditasi Kinerja Manajemen Sumber Daya Manusia ESENSI PROGRAM AKSI

36 Tahap I ( ) Tahap II ( ) Tahap III ( )  Sinkronisasi regulasi dan kebijakan logistik nasional untuk mendorong efisiensi kegiatan ekspor impor  Penguatan pelaksanaan regulasi dan kebijakan  Sinkronnya regulasi dan kebijakan antar sektor dan antar wilayah (pusat, daerah, dan antar daerah)  Penegakan regulasi dan kebijakan  Terwujudnya peraturan perundangan yang terunifikasi (UU Logistik Nasional) yang menjamin kelancaran arus barang secara efisien baik domestik maupun internasional  Regulasi dan kebijakan logistik nasional terselenggara secara efektif Kinerja Regulasi dan Kebijakan ESENSI PROGRAM AKSI

37 Kinerja Kelembagaan Tahap I ( ) Tahap II ( ) Tahap III ( )  Terbentuknya Tim Kerja Logistik Nasional sebagai pengawas pelaksanaan Cetak Biru Sislognas dan Damage Control Unit  Meningkatnya peran, koordinasi dan sinergi inter dan antara asosiasi dan stakeholder logistik ditingkat lokal dan nasional  Meningkatnya peran Institusi/Kelembagaan Logistik pada level Nasional dan Asean  Meningkatnya peran, koordinasi dan sinergi inter dan antar asosiasi dan stakeholder logistik di tingkat ASEAN  Terbentuknya institusi permanen yang menangani dan mengkoordinasikan Sistem Logistik nasional  Meningkatnya peran, koordinasi dan sinergi inter dan antar asosiasi dan stakeholder logistik ditingkat regional dan global ESENSI PROGRAM AKSI

38 Terima kasih 38


Download ppt "STRATEGI IMPLEMENTASI BISNIS LOGISTIK MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN 2013 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google