Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Mendeskripsikan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Mendeskripsikan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)"— Transcript presentasi:

1  Mendeskripsikan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

2 1. Undang – undang Keselamatan Kerja Dasar-dasar keselamatan kerja yang ada di Indonesia antara lain telah diatur dalam Undang-Undang RO No. 1 Th Pada pasal satu ayat lima misalnya, dikemukakan bahwa ahli keselamatan kerja adalah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya UU No. 1 Th Organisasi keselamatan kerja dalam administrasi pemerintah di tingkat pusat diwadahi dalam bentuk Direktorat Pembinaan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Direktoral Perlindungan Perawatan Tenaga Kerja. Fungsi Direktorat ini antara lain: melaksanakan pembinaan, pengawasan, serta penyempurnaan dalam penetapan norma keselamatan kerja di bidang mekanik, bidang listrik, uap dan kebakaran.

3 2. Undang – undang Yang Berhubungan dengan Keselamatan Kerja UU No 1 Tahun 1970 : Tentang Keselamatan Kerja Memuat ketentuan-ketentuan antara lain tentang : a) Mencegah—Mengendalikan : Penyakit akibat kerja dan keracunan. b) Akibat : suhu, debu, kotoran, asap/uap/gas, angin, cuaca, sinar, radiasi, getaran, kebersihan. c) Pemeriksaan kesehatan d) Menyediakan alat perlindungan diri. e) Pembentukan P2K3 f) Menyelenggarakan P3K.

4 UU Kerja tahun 1951 Memuat ketentuan tentang Hak cuti, peraturan kerja, dan syarat tempat kerja. a. UU No 14 Tahun 1969 : tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja. b. P.M.P No. 7 Tahun 1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan, serta penerangan tempat kerja. c. Per.Men No. 01 Tahun 1976 tentang kewajiban latihan hyperkes bagi dokter perusahaan. d. Per.Men No. 01 Tahun 1979 tentang kewajiban latihan hyperkes bagi Paramedis perusahaan. e. Per.Men No. 03 Tahun 1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja tentang pemakaian Asbes. f. Per.Men No. 01 Tahun 1981 tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja. g. Per.Men No. 03 Tahun 1982 tentang pelayanan kesehatan kerja. h. Per. Men. No. 03 Tahun 1986 tentang keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja yang mengelola pestisida.

5  Menerapkan Keselamatan Kerja Berdasarkan OSHA ( Occupation Safety and Health )

6 Organisasi Keselamatan Kerja Tujuan utama dibentuknya organisasi keselamatan kerja ialah untuk mengurangi tingkat kecelakaan, sakit, cacat dan kematian akibat kerja, dengan lingkungan kerja yang bersih, sehat, aman dan nyaman. Organisasi bisa dibentuk di tingkat pemerintah, perusahaan atau oleh kelompok atau serikat pekerja. Di Amerika Serikat, organisasi keselamatan kerja bagi pekerja swasta dibentuk dibawah Departemen tenaga kerja dan disebut OSHA (Occupational Safety and Health Administration) OSHA membuat peraturan-peraturan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

7 Organisasi ini terdiri dari 4 bagian: 1. Bagian Perencanaan, 2. Bagian Operasi, 3. Bagian Logistik 4. Bagian keuangan.

8 Didalam OSHA yang akan dibahas antara lain: 1. Aktivitas Manual Material Handling Aktivitas Manual Material Handling merupakan sebuah aktivitas memindahkan beban oleh tubuh secara manual dalam rentang waktu tertentu. Berbeda dengan pendapat di atas menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mengklasifikasikan kegiatan Manual Material Handling menjadi lima yaitu :

9 1. Mengangkat/Menurunkan (Lifting / Lowering) Mengangkat adalah kegiatan memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi yang masih dapat dijangkau oleh tangan. Kegiatan lainnya adalah menurunkan barang. 2. Mendorong / Menarik (Push / Pull) Kegiatan mendorong adalah kegiatan menekan berlawanan arah tubuh dengan usaha yang bertujuan untuk memindahkan obyek. Kegiatan menarik kebalikan dengan itu.

10 3. Memutar (Twisting) Kegiatan memutar merupakan kegiatan MMH yang merupakan gerakan memutar tubuh bagian atas ke satu atau dua sisi, sementara tubuh bagian bawah berada dalam posisi tetap. Kegiatan memutar ini dapat dilakukan dalam keadaan tubuh yang diam. 4. Membawa (Carrying) Kegiatan membawa merupakan kegiatan memegang atau mengambil barang dan memindahkannya. Berat benda menjadi berat total pekerja.

11 5. Menahan (Holding) Memegang obyek saat tubuh berada dalam posisi diam (statis)

12 2. Berat Beban Pekerjaan Dalam rangka untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan sehat maka perlu adanya suatu batasan angkat untuk operator. Berikut ini dijelaskan beberapa batasan angkat secara legal dari berbagai negara bagian benua Australia yang dipakai untuk industri. Batasan angkat ini dipakai sebagai batasan angkat secara internasional.

13 Batasan angkat tersebut, yaitu: 1. Pria dibawah usia 16 tahun, maksimum angkat adalah 14 kg. 2. Pria usia 16 – 18 tahun, maksimum angkat 18 kg 3. Pria usia lebih dari 18 tahun, tidak ada batasan angkat. 4. Wanita usia 16 – 18 tahun, maksimum angkat 11 kg 5. Wanita usia lebih dari 18 tahun, maksimum angkat 16 kg Batasan angkat ini dapat membantu untuk mengurangi rasa nyeri, ngilu pada tulang belakang bagi para wanita (back injuries incidence to women). Disamping itu akan mengurangi ketidaknyamanan kerja pada tulang belakang, terutama bagi operator untuk pekerjaan berat.

14  Mengidentifikasi Gejala Kejutan Listrik ( electric shock )

15 Kejutan Listrik Sengatan listrik (electrocution, electrical shock) terjadi jika tubuh kita dialiri arus listrik, dan itu terjadi jika tubuh kita menjadi penghubung antara dua titik yang memiliki beda potensial listrik (dinyatakan dengan Volt). Misalnya tangan kita memegang dua kabel beda fasa, atau kabel fasa dan kabel netral, atau salah satu tangan memegang kabel fasa sementara kaki telanjang kita menginjak tanah atau lantai. Saat itulah arus listrik mengalir dari kabel ke kabel atau dari kabel ke tanah melewati tubuh kita dan kita pun merasakan apa yang sering kita sebut sebagai "tersengat listrik atau kesetrum"

16 Selain dengan cara memegang langsung kabel yang beraliran, kesetrum juga bisa terjadi jika kita menyentuh benda-benda bersifat konduktif/penghantar listrik -misalnya casing dari suatu alat listrik- yang tanpa sengaja teraliri listrik. Alat-alat listrik normalnya memiliki sistem insulasi untuk mencegah mengalirnya listrik dari kabel atau sirkuitnya ke bagian lain dari alat itu. Namun terkadang sistem insulasi ini gagal menjalankan tugasnya karena mengalami kerusakan atau ketidaknormalan yang disebabkan berbagai hal, misalnya pemakaian yang kasar, umur alat yang sudah tua, atau memang kualitas insulasi dari alat itu sendiri yang memang buruk. Arus listrik yang mengalir keluar dari sirkuit alat itu disebut arus bocor. Arus bocor ini merupakan penyebab nomor satu orang tersengat listrik atau kesetrum.

17 A. Dampak Sengatan Listrik Bagi Manusia Dampak sengatan listrik antara lain adalah:  Gagal kerja jantung (Ventricular Fibrillation), yaitu berhentinya denyut jantung atau denyutan yang sangat lemah sehingga tidak mampu mensirkulasikan darah dengan baik.  Gangguan pernafasan akibat kontraksi hebat (suffocation) yang dialami oleh paru- paru  Kerusakan sel tubuh akibat energi listrik yang mengalir di dalam tubuh,  Terbakar akibat efek panas dari listrik.  Sakit dan kontraksi pada otot  Epilepsi/ayan  Kesemutan dan rasa geli  Tidak sadar/pingsan

18 B. Tiga faktor penentu tingkat bahaya listrik Ada tiga faktor yang menentukan tingkat bahaya listrik bagi manusia, yaitu tegangan (V), arus (I) dan tahanan (R). Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi antara satu dan lainnya yang ditunjukkan dalam hukum Ohm. Tegangan (V) dalam satuan volt (V) merupakan tegangan sistem jaringan listrik atau sistem tegangan pada peralatan. Arus (I) dalam satuan ampere (A) atau mili amper (mA) adalah arus yang mengalir dalam rangkaian, dan tahanan (R) dalam satuan Ohm, kilo Ohm atau mega Ohm adalah nilai tahanan atau resistansi total saluran yang tersambung pada sumber tegangan listrik. Sehingga berlaku:

19 Bila dalam hal ini, titik perhatiannya pada unsur manusia, maka selain kabel (penghantar), sistem pentanahan, dan bagian dari peralatan lain, tubuh kita termasuk bagian dari tahanan rangkaian tersebut (lihat gambar dibawah ini). Tingkat bahaya listrik bagi manusia, salah satu faktornya ditentukan oleh tinggi rendah arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh kita. Sedangkan kuantitas arus akan ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh manusia serta tahanan lain yang menjadi bagian dari saluran. Berarti peristiwa bahaya listrik berawal dari sistem tegangan yang digunakan untuk mengoperasikan alat. Semakin tinggi sistem tegangan yang digunakan, semakin tinggi pula tingkat bahayanya. Jaringan listrik tegangan rendah di Indonesia mempunyai tegangan seperti yang ditunjukkan pada Gambar di bawah. dan sistem tegangan yang digunakan di Indonesia adalah: fasa-tunggal 220 V, dan fasa-tiga 220/380 V dengan frekuensi 50 Hz. Sistem tegangan ini sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan manusia.

20  Kecelakaan Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga (tidak ada unsur kesengajaan) dan tidak diharapkan karena mengakibatkan kerugian, baik material maupun penderitaan bagi yang mengalaminya. Kerugian akibat kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat mengakibatkan 5 kerugian (5K): 1. Kerusakan 2. Kekacauan organisasi 3. Keluhan dan kesedihan 4. Kelainan dan cacat 5. Kematian

21 KLASIFIKASI KECELAKAAN, ANTARA LAIN: 1. Menurut jenis kecelakaan: a. Terjatuh b. Tertimpa benda jatuh c. Tertumbuk atau terkena benda lain kecuali benda jatuh d. Terjepit oleh bende e. Gerakan yang melebihi kemampuan f. Pengaruh suhu tinggi g. Terkena sengatan arus listrik h. Tersambar petir i. Kontak dengan bahan-bahan berbahaya j. Terkena radiasi, dan lain-lain

22 2. Menurut sumber atau penyebab kecelakaan a. Dari mesin:pembangkit tenaga, mesin-mesin penyalur, pengerjaan logam, mesin pertanian, pertambangan, dan lain-lain. b. Alat angkut dan alat angkat:kereta, mobil, pesawat terbang, kapal laut, crane, dan sebagainya. c. Alat lain:bejana bertekanan, instalasi dan peralatan listrik, dan sebagainya. d. Bahan/zat berbahaya & radiasi:bahan peledak, radiasi sinar UV, radiasi nuklir, debu dan gas beracun, dan sebagainya. e. Lingkungan kerja:di dalam/ di luar gedung, di bawah tanah

23 3. Menurut sifat luka atau kelainan Patah tulang, memar, gegar otak, luka bakar, keracunan mendadak, akibat cuaca, dan sebagainya. Dari hasil penelitian, sebagian besar kecelakaan (80%-85%) disebabkan oleh kelalaian manusia. (Dr. Suma’mur, 1981, hal 9). Kesalahan tersebut bisa disebabkan oleh perencana, pekerja, teknisi pemeliharaan & perbaikan mesin atau alat lainnya, instalatir listrik, dan bisa juga disebabkan oleh pengguna.

24 Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dihindari dengan: a. Menerapkan peraturan perundangan dengan penuh disiplin b. Menerapkan standarisasi kerja yang telah digunakan secara resmi, misalnya standar tentang konstruksi, standar higene, standar instalasi peralatan industri & rumah tangga, menggunakan baju perlindungan kerja (kacamata las, jas-lab, sepatu karet untuk menghindari barang- barang tajam, pecahan kaca atau paku, dan zat cair bernahaya lainnya). c. Melakukan pengawasan dengan baik. d. Memasang tanda-tanda peringatan e. Melakukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat agar tumbuh kesadaran tentang pentingnya menghindari kecelakaan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

25  Mendemonstrasikan Penggunaan Fasilitas Peralatan Keselamatan Kerja

26 A. ALAT PENGAMAN MCB (MINIATURE CIRCUIT BREAKER) Miniature Circuit Breaker adalah alat pemutus yang sangat baik digunakan untuk mendeteksi besaran arus lebih. Seperti halnya pada Thermostat Load Relay (dipelajari dalam motor control) MCB mempuyai Bimetalic; elemen jika terkena panas akan memuai secara langsung maupun tidak langsung yang diakibatkan dengan adanya arus mengalir, alat Bimetalic ini dibuat dan direncanakan sesuai dengan ukuran standar (arus nominal MCB), dimana dalam waktu yang sangat singkat dapat bekerja sehingga rangkaian beban terlindungi, MCB juga dilengkapi dengan magnet triping yang bekerja secara cepat pada beban lebih atau arus hubung singkat yang besar, juga dioperasikan secara manual dengan menekan tombol.

27

28 B. ALAT PENGAMAN ELCB (EARTH LEAKAGE CIRCUIT BREAKER) Instalasi suatu bangunan biasanya telah dilengkapi dengan pengaman arus hubung singkat dan pembatas arus. Apabila terjadi hubungan singkat maka pengaman sekering akan putus dan bila pada rangkaian terjadi beban lebih maka pembatas arus (MCB) akan terbuka rangkaian sehingga aliran arus kerangkaian bagian dalam bangunan jadi terputus.

29 Cara Kerja Rangkain ELCB Rangkaian ELCB terdiri dari kumparan magnet dan sakelar. Sakelar ini dapat dikendalikan secara manual dan magnet listrik. Apabila kedudukan sakelar penghubung ELCB dalam keadaan tertutup, maka sumber tegangan listrik akan mengalir kebagian beban. Kumparan magnet yang akan membuka rangkaian bekerja apabila ada arus listrik yang mengalir, pada kumparannya. Kumparan magnet yang akan membuka rangkaian, bekerja apabila ada arus listrik yang mengalir, pada kumparannya. Kumparan magnet ELCB disebut juga z. Travo, yang dalam keadaan normal tidak mendapatkan tegangan. Apabila ada arus bocor maka z. Travo akan bekerja membuka rangkaian dengan menarik sakelar rangkain utama harus diset terlebih dahulu untuk digunakan kembali demikain seterusnya.

30 C. FIRE DETECTOR Instalasi Bel Panggil Tanda Bahaya Kebakaran pada Gedung Bertingkat Sistem alarm tanda bahaya yang banyak dipasang pada gedung-gedung bertingkat adalah bel panggil alarm tanda bahaya gedung bertingkat. Cara kerja rangkaian bel panggil alarm tanda bahaya ini ialah: Bel (alarm) di pasang pada setiap tingkat/ruangan seluruh bel (alarm) terhubung jajar berbunyi semua pada setiap tingkat (ruangan) terpasang saklar yang terhubung jajar (saklar yang manapun di tekan seluruh bel akan berbunyi) saklar di tempatkan pada suatu kotak khusus sehingga tangan-tangan jahil tidak mudah menekan saklar.

31 Tujuan pemasangan sistem bel panggil tanda bahaya gedung bertingkat ini, adalah apabila pada suatu tingkat atau suatu ruangan ada bahaya kebakaran, maka dengan mudah seluruh penghuni gedung bertingkat tersebut diberi tanda supaya segera meninggalkan gedung. Keuntungan lain dari sistem ini adalah tidak hanya untuk bahaya kebakaran saja yang dapat diberi tahu, tapi bahaya-bahaya, seperti gempa, dan adanya keretakan bangunan.

32  Mengoperasikan Alat Dan Perlengkapan Pemadam

33 Beberapa jenis alat pemadam kebakaran 1. PEMAKAIAN HALON SEBAGAI PEMADAM API Siapapun yang berkecimpung dibidang proteksi kebakaran pasti mengenal Halon terutama Halon 1211 dan halon 1301, Halon banyak digunakan baik dilingkungan bangunan, komersial, penerbangan, industri dan militer, pemakaiannya luas, misalnya untuk perlindungan terhadap kebakaran pada peralatan listrik dan telekomunikasi, peralatan computer dan pemproses data, perkapalan, industri perminyakan, permuseuman serta dibidang pertahanan dan keamanan (HAMKAM).

34 Ada dua jenis Halon yang banyak digunakan yakni Halon 1211 (Bromochlorodifluoromethane) yang lebih dikenal sebagai BCF dan Halon 1301 (Bromotrifluoromethane) dikenal sebagai BTM, ada pula Halon 1202 (Dibromodifluoromethane) yang banyak digunakan dibidang militer.

35 2. ALAT PENYEMPROT AIR (WATER SPRINKLER) a. Sistem Pengkabutan Air (Water Mist Sistem) Sistem pemadaman dengan menggunakan media air merupakan cara tradisional dan telah lama diterapkan, antara lain melalui system sprinkler otomatis. Penghapusan gas Halon semakin meningkatkan perhatian terhadap media air mengingat unsur-unsur positif-nya seperti bersih lingkungan, relative murah, mudah didapat serta efektif dalam memadamkan api.

36 b. Sistem CO 2 Alternatif lain bagi pangganti Halon adalah pemakaian system CO 2. Bahan ini digunakan untuk memadakan api dengan menyingkirkan atau mengencerkan komposisi udara normal hingga kandungan oksigen melorot turun dari 21% ke 15% atau kurang. System pemadam CO 2 memiliki sifat penetrasi yang baik serta meminimasi kerusakan sekunder pada bahan maupun peralatan yang dilindungi.

37 Penggunaan sistem CO 2 harus dilakukan secara cermat karena pada konsentrasi desian 34-75% volume, merupakan kondisi yang kurang aman bagi penghuni ruangan, sehingga umumnya dipakai pada daerah atau ruang-ruang yang tidak dihuni secara terus-menerus, seperti pada ruang-ruang mesin, ruang trafo, genset, PABX dan ruang penyimpanan data.

38 c. Sistem Bubuk Kimia Kering (Dry Chemicals) Sistem pemadaman api dengan bubuk kimia kering atau powder sangat efektif untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh cairan mudah terbakar, seperti minyak tanah, alkohol, bensin, eter, dll. Bahn ini banyak digunakan di industri pertambangan dan sebagai media pemadam kebakaran logam seperti sodium, lithium, dan magnesium. Selain itu dry chemichal powder ini sering digunakan untuk perlindungan peralatan memasak direstauran dan hotel kitchen, serta untuk perlindungan kebakaran pada cerobong pembuangan residu lemak (grease exhaust system).

39 d. Sistem Foam Pada fixed foam system terjadi proses pencampuran air dengan foam concentrate sehingga terbentuk foam. Karena sifat ringannya, foam mampu menyelimuti lidah api dan melumpuhkan kebakaran cairan flammable disamping kemampuannya untuk mendinginkan permukaan panas karena ada efek air-nya. Selimut foam yang terjadi dipermukaan api mengurangi penimbulan gas-gas flammable sehingga penjalaran api dapat dicegah.

40 3. PRINSIP PENGENDALIAAN ASAP Seringkali aliran asap mengikuti gerakan udara menyeluruh dalam bagunan meskipun suatu kebakaran dimungkinkan dikurung dalam kompartemen tahan api, asap dapat menyebar kedaerah yang bersebelahan melalui bukaan seperti konstruksi yang retak, tembusan pipa, dan pintu yang terbuka. Faktur prinsip yang menyebabkan asap menyebar kedaerah luar kompartemen dalah sebagai berikut: Efek cerobong Efek temperature kebakaran Kondisi cuaca, khususnya angina dan temperature Sistem pengolahan udara mekanik

41  Mengidentifikasi Bahan Kimia Polychlorinated Biphenyls ( PCBs)

42 POLYCHLORINATED BIPHENYLS Polychlorinated biphenyls (PCBs) adalah suatu substansi kimia organik sintetis yang dikenal sebagai hydrocarbon chlorinated. PCBs bersifat persisten jika dilepaskan ke lingkungan karena ketahanannya terhadap proses metabolisme yang dapat memecahkan mereka ke bentuk komposisi kimia yang lebih sederhana. Solubilitasnya yang rendah di air menyebabkan PCBs terkamulasi dalam jaringan lemak manusia dan hewan. PCBs dikenal menyebabkan efek kronik pada organ reproduksi, kekacauan pencernaan, dan luka pada hewan laboratorium/percobaan. Sebagai tambahan EPA mencurigai PCBs sebagai karsinogen pada manusia.

43 Untuk mengurangi potensi efek balik terhadap kesehatan manusia, Kongres memberikan TSCA (Toxic Substance Control Act) yang secara ketat mengatur penggunaan dalam semua aspek PCBs dan substansi lainnya. TSCA juga mengurangi produksi PCBs sebagai suatu produk yang tidak murni.

44 Dalam dokumen ini diberikan cara pengaturan untuk Lawrwnce Livermore National Laboratory (LLNL) sendiri pada : A. Identifikasi, pemberian label, dan manajemen PCBs dan material yang terkontaminasi PCBs B. Respon terhadap tumpahnya PCBs C. Penggunaan PCBs dalam program penelitian D. Pemeliharaan penyimpanan PCBs dan material yang terkontaminasi PCBs

45 Tempat PCBs Ditemukan Sebelum peraturan federal mengurangi produksi dan penggunaan PCB, PCBs umumnya banyak digunakan dalam beberapa produk komersial, termasuk :  Adhesives  Transformers  Large, high- and low-voltage capacitors  Liquid-cooled electric motors  Hydraulic systems  Heat-transfer systems  Fluorescent light ballasts  Electromagnets  Liquid-filled cable Gasketing and dampening felt

46  Microscopy mounting media and immersion oil  Switches  Voltage regulators  Vacuum pumps  Microwave ovens  Electronic equipment

47  Identifikasi Material PCB Ada lebih dari 200 isomer PCB dan senyawa-senyawanya yang beraneka ragam dari yang bergerak, cairan berminyak ke putih, padatan kristalin dan resin keras. PCBs akan sulit untuk dibedakan tanpa menggunakan metode analitik. Teknik screening dapat dipakai untuk menguji kehadiran klorin, tapi analisis laboratorium diperlukan untuk mengidentifikasi PCBs dan konsentrasi PCB. Kesulitan dalam identifikasi PCBs ditekankan pada pentingnya labeling alat dan material-material yang terkontaminasi olehnya dari awal. Material PCB dibagi kedalam dua kelompok dengan peraturan : PCBs dan barang-barang PCB. Barang-barang PCB selanjutnya dibagi lagi ke dalam empat kelompok, yaitu :

48 1. Barang PCB 2. Kontainer PCB 3. Barang-kontainer PCB 4. Peralatan PCB

49  Mengelola Peralatan PCB Peraturan mengharuskan pengelolaan PCB secara berbeda tergantung pada jenis peralatan. Peraturan membagi peralatan PCB dalam berbagai tipe : a) Transformer b) Kapasitor c) Ballast Lampu Listrik d) Electromagnet,saklar, dan pengatur voltase e) Lain-lain

50  Menghindari Kontaminasi Radioaktif Pada Peralatan PCB Pemakai peralatan PCB disarankan untuk melaksanakan semua pencegahan yang perlu untuk mencegah kontaminasi radioaktif dari PCB. Ada beberapa pilihan cara pembuangan termasuk untuk PCB radioaktif.

51 Selesai Artemis S Karaeng, S. Pd


Download ppt " Mendeskripsikan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google