Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

RESENSI NOVEL Judul Buku: Tak Putus Dirundung Malang Pengarang : Sultan Takdir Alisyahbana Penerbit: Dian Rakyat – Jakarta Tahun Terbit : Cetakan Keempat.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "RESENSI NOVEL Judul Buku: Tak Putus Dirundung Malang Pengarang : Sultan Takdir Alisyahbana Penerbit: Dian Rakyat – Jakarta Tahun Terbit : Cetakan Keempat."— Transcript presentasi:

1

2 RESENSI NOVEL Judul Buku: Tak Putus Dirundung Malang Pengarang : Sultan Takdir Alisyahbana Penerbit: Dian Rakyat – Jakarta Tahun Terbit : Cetakan Keempat Belas 1995 Tebal Buku : 116 hal, 7 cm • Sinopsis Dihulu sungai ketahun, ditengah hutan rimba durian hidup seorang laid- laid yang sudah berumur 35 tahun. Ia bernama Syahbuddin, ia mempunyai dua orang anak. Anak pertama seorang anak laki-laki yang bemama Mansur. Ia baru berumur delapan tahun. Anak kedua seorang perempuan bernama Laminah. Ta berumur tujuh tahun. Hidup mereka serba kekurangan, karena kemiskinan dan kemelaratan. Enam tahun lamanya Syahbuddin dan kedua anaknya hidup mengembara dan dusun ke dusun untuk mencari nafkah. Sejak rumahnya terbakar. Ketika itu isterinya meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Syahbuddin memungut durian untuk dijual ke negeri ketahun. Untuk sampai ke sana, ia melewati sungai ketahun dengan menggunakan rakit. Sementara Mansur dan Laminah bermain di rimba dunian. Setelah semua dunian terkumpul. Mereka mengemudikan rakitnya ketepian. Sesampainya disana durian-dunian itu dibeli orang Cina. Untuk dibawa ke Bengkulu. Tapi orang Cina itu mempu Syahbudm karena dunian-dunian itu ternyata diberi dengan harga yang sangat murah.

3 Pada suatu hari Syahbuddin meninggalkan kedua anaknya itu. Mereka dititipkan pada Jepisah adiknya Syahbuddin. Setelah kembali lagi ke dusunnya. Syahbuddin jatuh sakit kerat Mansur memanggil Nenek Zalekah seorang dukun yang mengobati ayahnya. Namun ayahnya tak bisa disembuhkan akhirnya meninggal dunia. Kedua anak yatim piatu dengan Jepisah sangat menyayangi mereka. Namun Madang suaminya Jepisah selalu menyiksa dan memukili Mansur dan Laminah. Waktu berjalan, Mansur dan Laminah telah beranjak dewasa. Setiap han Laminah mengenjakan pekeijaan rumah dan mengasuh Marjuki sementara Mansur mencari kayu bakar ke hutan. Path suatu han Marzuki anaknya Jepisah tenluka. Madang menyalahkan Laminah. Laminah disiksa kepalanya dipukul sampai berdanah. Untungnya Mansur cepat-cepat menolongnya dan membawanya pergi ke rumah Datuk Halim. Andung Sanipah, istninya segera mengobati Laminah. Semenjak kejadian itu Mansur dan Laminah bertekad meninggalkan ketahun untuk pergi ke Bengkulu. Sebelum mereka pergi, diamdiam Mansur berpamitan path Jepisah, Datuk Halim mencoba mencegah kepergian kedua anak yatim itu. Tapi mereka tetap bernekad meninggalkan ketahun. Sejak dan serangai mereka berjalan dengan kuli-kuli yang baru memperbaiki jalan. Kira-kira pukul setengah jima tibalah Mansur dan Laminah dan sekalian kuli-kuli itu di dusun selolong dengan selamat. Namun sesampainya disana mereka bingung akan bermalam dimana tapi untungnya salah satu diantara kuli itu mengajak mereka untuk menginap dirumahnya. Kuli itu bemama Palik. Esoknya mereka pergi meninggalkanm dusun selolong dengan menggunakan mobil untuk melanjutkan perjalanannya menuju Bengkulu. Lumayan lama mereka menempuh perjalanan itu, beberapa kampung dan dusun mereka lalui dengan penuh heran. Dikampung Cina mereka menghentikan peijalanannya. Sesampainya disana, mereka langsung mencani pekerja. Tiga toko mereka datangi, namun para tokoh/pemilik toko orang anak itu menolaknya bahkan ada yang sampai mengusir.

4 Di toko keempat mereka ditenima keija. Mansur bekerja sebagai penjual roti dan membantu orang- orang yang memasak roti sedangkan Laminah bekeija sebagai pencuci baju dan memasak roti. Telah tiga minggu mereka bekerja di toko itu. Mereka bekei:ja dengan sungguh-sungguh.pagi-pagi pukul delapan Mansur mulai berjualan roti dan kira-kira pukul sebelas barn pulang. Han pertama Laminah tinggal sendirian di rumah,tak suatu apapun teijadi, ia tidak diganggu orang. Han kedua, ketiga, keempat pun demikian. Namun hani benikutnya, ada yang mulai mendekati Laminah. Apalagi Danwis dan Malik, yang berlombalomba menanik hati molek. Mansur dan Laminah bekerja dengan rajin dan senang hati. Sehingga baba pemiliki toko itu menyenangi mereka dan berniat untuk menaikkan gaji mereka. Istrinya Baba selalu meminta Baba jangan dulu menaikkan gaji mereka, karena mereka bekeija belum genap setahun, jadi gaji mereka tetap tidak bertambah. Makin lama kedua anak yatim itu bertambah besar. Laminah telah menjadi seorang perawan benar. Dalam setahun selama ia di Bengkulu. Ia menjadi seorang gadis yang menarik hati, sementara Mansur tidak banyak perubahan, badannya bertampak tegap dan kokoh. Ia seorang pemuda yang pendiam. Pada suatu hari datang pekerja banu di toko roti ito. Ia bernama Sannin. Ta bekas kuli kontrak dan dipekeijakan didapur. Sejak Sarmin bekei:ja di toko ito Laniinah menjadi tak senang, ketakutan. Ia merasa dikelilingi marababaya. Laminah menjadi kurang tidak dan talc ada selera makan. Meithat perubahan adiknya, Mansur mulai cemas. Mansur berusaha untuk menghibur Laminah. Akhir bulan mereka berencana untuk meninggalkan toko. Path han Minggu ito Mansur pergi ke pasar Minggu untuk untuk beijualan roti dan belum kembali. Laminah bekerja di dapur memasak roti bersa.ma koki dan bayang laki-laki. Setelah itu mencuci pining di sumur. Kanan-kini sumur ito berdinding batu sehingga seperti kamar mandi. Waktu Laminah masuk ia lupa menutup pinto. Ketika Laminah sibuk mencuci pining, tiba-tiba Sanmin masuk untuk mengambil air. Laminah ketakutan, tetapi Sarmin sengaja mengisi kedua kalengnya ito dengan air. Ia melihat Laminah dengan penuh nafsu. Sarmin tahu, kalau Laminah takut dan benci kepadanya, tetapi hal ito rupanya yang menjadi menggembirakan darabnya untuk memperoleh mangsa.

5 Setelah kedua kaleng itu terisi air Sarmin berhenti seketika kemudian ia mendekati Laminah. Dengan sekuat tenaga Laminah berdiri dan berteniak meminta tolonh dan ia berhasil menyelamatkan diri dari Sarmin. Setelah Mansur pulang dani pasar, dengan isak tangis. Laminah menceritakan kejadian ito. Mansur menjadi amat berang dan ingin membalas perbuatan jahanam si Sanmin tetapi Laminah menenangkan kakanya ito agan tidak membalasnya. Kalau sampai Mansur membalasnya, mereka sendiri yang akan rugi. Ketika Mansur dan Laminah sedang lewat. Mansur talc dapat inenaban kemarahannya itu kepada Sarmin. Mansur menerjang Sarmin, dan kemudian keduanya berkelahi. Tapi untungnya, Tokeh berhasil melerai perkelahian itu. Tokeh meminta Mansur keluar untuk mengikutinya. Tiba diluar Mansur menceritakan alasan dia berkelahi. Tokeh mengerti kalau Mansur tidak bersalah dan akan mengusir Sarmin. Namun Mansur dan Laminah tetap mgm meninggalkan toko roti itu. Tokch dengan berat hati menerima keputusan kedua anak yatim piatu itu, ia pun membayar gaji mereka. Delapan hari sudah mereka meninggalkan toko roti itu dan pindah ke rumah kecil di balik benteng “Manibrough”. Tiap han keluar masuk toko untuk melamar pekeijaan baru, selalu ditolak. Hal itu menyusahkan hati mereka tapi untuk dua sampai tiga minggu ke depan mereka masth bisa hidup dan uang simpangan dan gaji terakhir Tokeh. Tetapi mereka untuk hidup selanjutnya mereka harus tetap bekerja. Suatu pagi Mansur mendengar orang Jepang yang berhenti bekeija di toko orang cma. Kemudian ia melamar ke toko itu. Untunglah ia diterima kerja di toko itu.

6 Sebulan ia akan digaji lima belas rupiah. Ta bekerja dan pukul tujuh sampai pukul delapan malam sebagai penunggu toko. Sementara gajmya tak cukup buat hidupnya. Setiap han Minah harus mengatur kebutuhan mereka agan hidup sesederhana-sederhananya. Sementana Minah tinggal di rumah dan ia pun bekerja sebagai buruh cuci. Ta mencuci pakaian orang Jepang dan orang Cina. Tiap bulan ia mendapat beberapa rupiah. Sehingga pendapatan Mansur dan Laminah cukup untuk belanja sehani-hani. Sejak kakak beradik mi pergi meninggaikan toko roti itu Darwis dan Malik tidak pemah bertemu dengan mereka dan path suatu ban Mailk mendengar dani saudana Darwis yang bekel)a pada orang dna, bahwa Mansur niasuk penjara. Ia disangka mencuni orang Cma tempat Ia bekerja. Darwis dan Malik tidak tidak tahu kalu selama mi mereka masih tinggal di kampung Cina. Setelah mendengar cenita dani Malik dan Darwis ingin segera menemui Laminah. Darwis ingin bertemu Minah kanena ingin memuaskan nafsunya yang rendah, sementara malik ia pun menyukai Mmah tapi maksudnya tiadajahat. Kalau Lamiriah suka padanya akan dijadikan istrinya. Sejak kakanya di bawa ke penjara, ia terus menangis dan tak satupun yang ia kerjakan. Ia tidak percaya kalau kakaknya benar-benar mencun uang. Sejenak ia teringat akan toko roti. Dahulu Tokeh mengatakan kapanpun ia akan menolong kakak beradik. Tetapi ia malu bila ia harus bertemu lagi dengan si Sarmin jahanam itu dan ia pun ta boleh memaggalkan kelakuan. Ta wajib tmggal di Bengkulu sampai Mansur Keluar adri penjara. Ketika Minah tengah tertidir, tibatiba datang Darwis menemuinya. Mereka bercakap-cakap, Darwis mengbibur Minah dan ia bermaksud untuk menemani Minah. Agar orang tidak curiga Darwis segera meninggalkan Minah dan pada jam delapan malam Darwis kembali ke rumah Minah sambil membawa buah-buahan dan makanan.

7 Merekapun tidur dengan terpisah. Sementara Malik menunggu Darwis dirumahnya, tapi Darwis belum juga kembali. Ia pun teringat percakapannya tadi siang dengan Malik yang akan menemui Minah. Tanpa pikir panjang Malik segera pergi ke rumah Minah, tetapi sesampainya disana ia tidak menemukan Minah, Rumah ito benar-benar kosong dan sementara ito telah turun hujan topan tetapi Mailk tidak takut. Ia terus mencari Minah menuju ke pelabuhan. Disebelah kin tegak benteng “Marlbrough” dan sebelah kanan terbentang padang rumput sampai ke Tapak Pedari. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba Malik melihat sesosok bayang-bayang putih yang sedang berjalan. Ternyata ito adalah Minah. Ia tergesa-gesa menuju Tapak Pedari. Tanah tempat ia berdiri seakan-akan Minah dan ketika ito juga badannya basah kuyup oleh gelombang air laut. Dengan membawa penderitaan dan keputosasaan, Minah melompat ke dalam lautan. Sementara Malik yang tergopoh-gopoh tak dapat mencegah kepergian Minah yang pergi untuk selainalamanya. Lima han setelah itu Laminah terjun ke laut, di Tapak Pedani. Mansur dilepaskan orang dani penjara, sebab pencun orang Jepang ito sebenamya dapat ditangkap. Pada suato han bergerak berita di negeni Bengkulu, bahwa tukang kai di pondok besi mendapat mayat seorang perempuan yang telah busuk. Mansur pergi kesana untuk melihat, mayat ito tak dapat dikenalinya lagi, tetapi ia yakin kalau mayat itu adalah adiknya. Berhari-hari ia memikirkan penyebab Minah bunuh diri, namun siasia belaka hanya Malik yang tahu akan hal itu, tetapi ia tak pernah buka mulut karena takut terbawa-bawa.

8 Beberapa kali timbul di hatinya niat buruk untuk bunuh din tetapi ketika itu pula ia tersadar kalau mati bunuh din itu, mati orang yang tidak bertuhan. Dengan hal itu, ia meninggalkan negeri Bengkulu dan akan mengarungi lautan lebar, dan Mansur pun menjadi kelasi kapal. Lima belas tahun sudab, ia mengeliingi kepulauan Hindia yang kaya dan makmur. Dalam lima belas itu, ia senantiasa berkhalwat. Ta tak memperdulikan teman dan orang lain. Sehabis bekenja ia suka mengasingkan din seolah-olah tidak bendekat dengan manusia. Kalau tak ada kepenluan ia dan membuka mulut. Karena sikapnya yang kukuh dan tegap dan pendiam itu. Ta di ben gelar “kerbau jalang”. Kedua orang tua dan adiknya telah mendahuluinya ke negeni belaka. Ta tak mau menikmati manisnya hidup di dunia. Mansur telah lebih dan tiga bulan tidak melihat negeri Bengkulu, sebab ia benlayar di pulau-pulau Sunda kecil. Tetapi sejak seminggu ia mulai menyisir pantai barat pulau Sumatera. Sejak meninggalkan kim ia selalu teringat Laininah, semalam ia memrnta izin untuk melihat-lihat negeni kecilnya. Ta teningat kembali masa lalunya di negeri Ketahun, nampaklah olehnya kuburan kedua onang tuanya dan nampak olehnya Uncu Jepisah di Kampung Tenendam. Teningat pulau, Madang yang memukul adiknya, Datuk Halim an Andung Senipah yang dermawan, Mamak Palik yang baik hati dan Marzuki. Demikian berjam-jam ia mengenang hidupnya. Sementara orang terus bekenja dan penumpang yang akan pergi ke Padang telah dikapal semuanya. Kapal yang ditumpangi itu makin lama makin oleh karena ombak yang makin besar. Kira-kina pukul dua Mansur dipanggil orang karena permisnya habis dan ia hartis membabntu matenos-matenos lain memasang terpal. Lekas ia memanjat keatas dan mulai bekenja. Tetapi pikirannya talc tentu, sebentar- sebentar ia benhenti dan tenmenung. Demikianlah bebenapa lamanya, peluit kapal berbunyi tiga kali dan baling-baling pun berputarlah. Kapal pun meninggalkan negeri Bengkulu. Namun Mansur berat sekali meninggatkan negeri itu dan bayang- bayang Minah tak lenyap dan matanya. Mansur rebah dan jatuh materos-materos lain hendak mengejarnya untuk menolongnya tapi sia-sia belaka karena Mansur terguling-guling jatuh ke laut. Lebih dan setengah orang-orang mencani Mansur, namun Mansur tidak ditemukan. Kapitan kapal memberi penintah meneruskan pelayaran. Kapal terus menuju Padang, seolah- olah tak ada kejadian namun orang-orang terus membicarakan jatuh dan hilangnya Mansur yang ajaib. Ketika ia menghembuskan nafas terakhimya ia mengucapkan, Amin, amin, summa amiin.

9 • Kutipan Ramai peperangan di rimba itu dan rupanya tak akan berhenti-henti. Talc ada kasihan- mengasihani, yang sebal tinggallah rebah, talc akan ada yang mengangkatnya. Banyak benar selisth hidupnya dengan manusia yang seolah ditunuti oleh kekayaan dan kemujuran, dengan manusia yang dengan usaha sedikit dapat mendirikan gedung batu, mengumpulkan berratus-ratus harta benda. Jauh diatas rimba yang sunyi senyap dan penuh rahasia itu membentangkan langit Lazuardi, seolah-olah tudung besar yang bin danjernih. Disebelah barat matahani telah hampir terbenam. Awan berkumpulkumpul, kehitam- hitaman, sebagai ghua yang besar, penuh rahasia. Disitulah raja siang akan beristirahat dikelilingi oleh pengiringnya yang berpakaian kemerahmerahan. Seolah-olah bertahta ratna mutu manukan pintu gerbang itu gilanggemilang, berkilau-kilauan, talc dapat dipandang nyata, seperti di balut dengan emas perada. Seperti mutiara berderai dan karangannya, demikianlah jatuh air mata mereka itu ke tanah. Air mukanya yang keruh menyatakan hatinya gundah-gulana dan matanya yang senantiasa jernih dan bercahaya-cahaya itu sekarang, kekabur-kaburan, seolah-oleh matahari yang ditutup oleh mega yang mengandung hujan. Aduh, nasib yang ganas, yang buas, yang talc menanth iba kasihan. Alangkah sampai hatimu merebut apung-apung dan orang, yang baru hendak menyebrang lautan yang penuh gelora, memadamkan suluh orang yang hendak menaruh rimba lebat dalam gelap gulita. Aduh, nasib yang kejam, mengapakah engkau merendahkan yang telah rendah, mematahkan yang terkulai? Dunia ini penuh keajaiban dan keheranan.

10 “Anakku, biji mataku, buah hatiku, ajalku telah sampai Engkau berdua mesti kutinggalkan. Semuanya itu telah tenlukis di luhmaful. Kata Allah talc dapat disangkal. Baiklah kelakuanmu Dahan tempat bergantung telah patah, apung-apung berpegang teguh terbenam. Dengan suara yang pilu selaras dan kerisik-kerisik berbunyi lagu “ban yang telah silam semanak yang telahjatuh”. “Waktu” adalah sebagai raksaan besar, yang talc kunjung-kunjung berhenti beijalan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang. Disini menyebrang lautan, disana mendaki gunung menuruni lembah, talc pernah payah, talc dapat diusik, ditahan atau diganggu. Sungguh. Isi dunia mi semuanya permainannya disepakragakannya sekehendak hatinya; sebentar dihembuskannya ke udara dan seketika lagi dihempaskannya pula ke bumi. Ya, demikianlah nasib segala makhluk di alam in diratapi juga lambatlaunnya! Sungguh, demikianlah sifat kemelaratan manusia, yang seakan-akan selalu di-amat-amati oleh malapetaka. “…, buah hatiku, biji mata bunda”. “Dipikul oleh binatang itu” “Dengan suara yang pilu selara-selana dan kerisik-kerisik berbunyi lagu “han yang telah silam, semarak yang telah jatuh”. Letihkah engkau ? lepaskanlah dahulu lelajhmu. Tutuplah matamu!” hujan cemas dinegeri orang, hujan barn dinegeri kita, masih senang juga dinegeri kita.. Anak nyamuk dalam padi, Cupak dalam perbesaran Sungguh remuk dalam hati Dimuka tiada berkesan “Apa gunanya kita menyusahkan hati. Asal sabut terapung, asal barn tenggelam. Takkan nasib itu diubah dengan air mata.” “Selama masih ada hayat dikandung badan, kita harus berusaha dengan segala tenaga. Sungguhpun demikian, berdo’alah jagalah, mudah-mudahan berhenti penderitaan kita ini.”

11 Hatinya pilu tiada terkata-kata. Pada perasaannya lebih baik lagi ia mati berkalang tanah daripada hidup dengan minta-minta. rebalah disini oleh kepayahan Bukankah dan telaga yang keruh itu mengalir pula air yang keruh? Kesenangan hidup yang dikecapnya dalam beberapa pulan yang akhir ml seakan-akan lenyap kembali, seperti embun kena sinar matahari. Takjub Tokeh mendengar sekalian perkataan,. Sebenamya tak sebesar ujung rambut disangkanya akan mendapatjawaban yang serupa itu. Dalam seratus payah bertemu satu. “Beginilah rupanya, kalau kita orang bodoh dan miskin. Semua yang buruk dicari orang path kim. Ada kecurian, kita yang disangka ada kerusakan kita disyak mengeijakannya dan sebagainya. Itulah adat duma, menimbun yang telah tinggi dan menggali yang telah rendah”. Laut gemuruh itu tiada tertahan lagi menunggu masanya Dunia berputar path sumbunya Sedikitpun tiada terasa olehnya Kehilangan yang kecil yang “tak Sebenar tuma’ itu…

12 • Unsur Instriksik a. Tema Novel karya S. Takdir Alisyahbana mi mengusung tema “Pencleritaan yang terus menerus.” b.Latar - Negeri ketahun - Kampung Cina, Bengkulu c.Alur Alur dalam cerita novel mi menggunakan alur maju. d.Sudut Pandang Adapun sudut pandang yang digunakan dalam novel mi yaitu dengan sudut pandang orang pertama tunggal.

13 e. Penokohan Mansur : Tokoh utama, laid-laid, baik, pendiam, pemberani dan teguh pendirian Laminah : Baik hati, penyayang, penyabar dan ikblas Syahbudin : Ayahnya Mansur dan Laminah, baik, pekeija keras, penyayang Uncu Jepisah : Bibinya Mansur, baik hati Sarmin : Pekerja roti, jahat, sombong Mamak Palik : Seorang petani, baik hati Datuk Halim : Tetangga Uncu Jepisah, baik hati, dermawan Anjung Seripah : Isteri Datuk Halim, baik hati Baba : Pemilik toko roti, balk, penolong Madang : Suami Uncu Jepisah, Jahat Marjuki : Jahat Darwis : Teman Mansur di toko roti, balk Malik : Pekerja roti, baik Istrinya Baba : Baik

14 f. Gaya Penulisan Gaya penulisan dalam novel ml menggunakan bahasa Indonesia dan terdapat beberapa majas diantaranya majas personifikasi, majas biperbola dan majas simile. Sehingga menjadi menarik untuk dibaca. g. Amanat Manusia harus sabar, bertawakal (dan tidak boleh putus asa dalam menghadapi dan menjalani semua cobaan dalam hidup dan kehidupan karena dibalik semua cobaan itu ada hikmahnya dan dibalik kesusahan itu ada kemudahan. • Biografi Pengarang Sultan Takdir Alisyahbana lahir path tanggal 11 Februari 1908 di Natal, Sumatera. Path tahun 1942 Sultan Takdir Alisyahbana mendapatkan Ijazah guru dengan gelar Mesteen in de Rechen (SIT). Dan sekarang telah mendapatkan jabatan yang cukup banyak, diantaranya Rektor Universitas Nasicrnal Jakarta ketua Akademik Jakarta, ketua Himpunan Filsafat Indonesia, dan sponsor Member Internasional Advisory Group Of Encyclopedia Britanica, Japanesse, Language Enciclopedia. Sultan Takdir Alisyahbana merupakan penyair dan penulis path berbagai bidang. Beliau merupakan intelektual serta pengajar yang berkompeten sampai akhir hayatnya. Karya-karyanya berupa karya ilmiah dan karya sastra menunjukkan perhatiannya path ilmu pengetahuan dan sern. Keberadaan beliau menjadi bukti bahwa sastra tidak sekedar profesi melainkan kebutuhan jiwa dan unjuk intelektual dengan wahana seni. Sultan Takdir Alisyahbana menjadi seorang yang dihormati karena karyakaryanya mulai karya ilmiah hingga karya sastra yang begitu banyak memperkarya khazanah kebudayaan Indonesia. Tidaklah dapat mengenal sejarah sastra khususnya path angkatan ‘33 tanpa mengenal Sultan Takdir Alisyahbana. Juga tidaklah lengkap mengenal Sultan Takdir Alisyahbana tanpa mengenal karya- karyanya.


Download ppt "RESENSI NOVEL Judul Buku: Tak Putus Dirundung Malang Pengarang : Sultan Takdir Alisyahbana Penerbit: Dian Rakyat – Jakarta Tahun Terbit : Cetakan Keempat."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google