Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)"— Transcript presentasi:

1 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
DASAR – DASAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) SUTARNO masmutarno

2 K3 ?? Kalo kita bicara K3, | saya yakin bapak2/ibu2 sudah familiar atau tidak asing lagi dan mungkin di perusahaan atau kantor bapak-ibu ada spanduk | atau STIKER UTAMAKAN KESELAMATAN KERJA, | ada lagi mungkin pernah melihat bendera yang gambarnya roda gigi warna hijau dan di tengah2nya ada simbol palang +. | Mari di kesempatan yang baik ini kita saling sharing-tukar pengalaman, | saling berbagi untuk mengenal lebih dekat tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ??. masmutarno

3 K ebersihan eindahan erapian masmutarno

4 KASUS KECELAKAAN KERJA
KECELAKAAN KARENA WANITA CANTIK PEKERJA JATUH – PROYEK SENGATAN LISTRIK PEKERJA JATUH – GONDOLA KECELAKAAN KERJA DI PERKANTORAN 1 KECELAKAAN KERJA DI PERKANTORAN 2 IT TAKES A SECOND masmutarno

5 masmutarno

6 masmutarno

7 MAUKAH ANDA SEPERTI INI ???
masmutarno

8 MENGAPA KECELAKAAN BISA TERJADI ??? masmutarno

9 Bicara K3, di Indonesia masih di nomor 2 kan.....
Mari kita lihat gambar di depan, | apakah bapak pernah menjumpai/melihat kondisi seperti ini ?? | Di sini ada pekerja yang bekerja di ketinggian | (baru membangun gedung / proyek). | Seandainya bapak ibu di suruh bekerja seperti ini | tanpa diberi upah atau tidak dibayar | mau ndak ? Tentu tidak mau.... Tetapi bagi pekerja seperti pada gambar, | mereka rela melakukan pekerjaan tersebut walaupun tidak ada jaminan keselamatan | dari pihak perusahaan atau kontraktor, | KARENA MEREKA DEMI MENAFKAHI KELUARGA, ANAK, ISTRI. | Artinya apa Bapak / ibu ??? | Bahwa Upah/ Gaji/Bayaran lebih penting daripada Keselamatan !!! | K3 SERING DINOMOR 2 KAN. | Mungkin selama ini kita sering mendengar di berita TV, | di sana – sini, di jakarta, surabaya, medan, dan kota – kota lainnya | puluhan bahkan ratusan ribu karyawan melakukan unjuk rasa | menuntut kenaikan gaji karena masih di bawah UMR, | tapi kita belum pernah mendengar unjuk rasa tentang K3.... | Minta diberikan peralatan kerja yang aman, minta sabuk pengaman, sepatu pengaman, masker, dst.... | Maka dari itu bapak / ibu semuanya | mulai detik ini marilah kita memikirkan, memahami arti pentingnya K3, | Karena selamat lebih utama, | orang yang selamat akan bisa mencari uang, | tapi kalau kita bekerja dengan mengabaikan keselamatan walaupun di gaji besar, | tentu jika terjadi kecelakaan bahkan sampai menimbulkan korban meninggal, | uang banyak tadi tidak berarti. | Mengapa unsafe behavior terjadi ? Orang atau pekerja sering melakukan unsafe behavior terutama disebabkan oleh: Merasa telah ahli dibidangnya dan belum pernah mengalami kecelakaan. Ia berpendapat bahwa bila selama ini bekerja dengan cara ini (unsafe) tidak terjadi apa-apa, mengapa harus berubah. Pernyataan tersebut mungkin benar namun tentu saja hal ini merupakan potensi besar untuk terjadinya kecelakaan kerja Perilaku unsafe mendapat reinforcement yang besar dari lingkungan sehingga terus dilakukan dalam pekerjaan. Reinforcement yang didapat segera, pasti dan positif. Bird (dalam Muchinsky, 1987) berpendapat bahwa para pekerja sebenarnya ingin mengikuti kebutuhan akan keselamatan (safety needs) namun adanya need lain menimbukan konflik dalam dirinya. Hal ini membuat ia menomorduakan safety need dibandingkan banyak faktor. Faktor-faktor tersebut adalah keinginan untuk menghemat waktu, menghemat usaha, merasa lebih nyaman, menarik perhatian, mendapat kebebasan dan mendapat penerimaan dari lingkungan. Akhir ini, kita melihat perkembangan industri sangat cepat, maju dan banyak bak jamur di musim hujan. Proses industrialisasi maju ditandai antara lain dengan mekanisasi, elektrifikasi dan modernisasi, high tecnologi. Dalam keadaan yang demikian makan penggunaan mesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi modern serta bahan berbahaya semakin meningkat. Hal tersebut disamping memberi kemudahan proses produksi dapat pula menambah jumlah dan ragam sumber bahaya di tempat kerja. Disamping itu akan terjadi pula lingkungan kerja yang kurang memenuhi syarat, proses dan sifat pekerjaan yang berbahaya serta peningkatan intensitas kerja operasional tenaga kerja. Masalah tersebut di atas akan sangat mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun tingkat keseriusan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan. Untuk itu semua pihak yang terlibat dalam usaha berproduksi khususnya para pengusaha dan pekerja diharapkan dapat mengerti, memahami dan menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja masing-masing, dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan kerja. K3 SERING DI NOMOR KAN 2 masmutarno

10 K3 bersifat universal ,Semua pihak berkepentingan untuk menghindari resiko kecelakaan kerja.
SELAMAT� : Kebutuhan Dasar Setiap Individu ,Terhindar dari segala kondisi dan situasi yang tidak diinginkan masmutarno

11 Setiap pekerjaan bisa dilakukan dengan selamat
PRINSIP K3 Setiap pekerjaan bisa dilakukan dengan selamat Kecelakaan pasti ada sebabnya Penyebab kecelakaan harus dicegah/ditiadakan masmutarno DIREKTORAT PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA – KEMENAKERTRANS RI

12 MENGAPA REPOT-REPOT DENGAN K3?
Seorang pekerja tewas dalam kecelakaan industri setiap 3 menit Ada lebih dari 250 juta kecelakaan kerja setiap tahun Kerugian tahunan sosial dan ekonomi dari kecelakaan kerja dan penyakit hingga % dari PNB Tempat kerja yang aman dan sehat diwajibkan oleh hukum Mempromosikan pekerjaan yang produktif dan berkualitas  UU 1/70, UU 13/2003 psl 86 Poin / catatan diskusi Tambahan : Tekankan pentingnya kesehatan dan keselamatan serta fakta bahwa sebagian besar kecelakaan kerja sebagian besar dihindari, biasanya dengan menerapkan langkah-langkah sederhana.

13 OUTLINE PENGERTIAN K3 SEJARAH PERKEMBANGAN K3
FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA AKIBAT KECELAKAAN KERJA PRINSIP DASAR PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA masmutarno

14 1. PENGERTIAN K3 ggggggggggg Filosofi Keilmuan
Pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan : tenaga kerja dan manusia pada umumnya, baik jasmani maupun rohani, hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera; Keilmuan Suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan, penyakit akibat kerja (ACCIDENT PREVENTION) masmutarno

15 T u j u a n ggggggggggg UTAMAKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Melindungi para pekerja dan orang lain di tempat kerja Menjamin agar setiap sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien Menjamin proses produksi berjalan lancar UTAMAKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ggggggggggg masmutarno

16 Keselamatan (Safety) Mengendalikan kerugian dari kecelakaan (control of accident loss) Kemampuan untuk mengidentifikasikan dan menghilangkan (mengontrol) resiko yang tidak bisa diterima (the ability to identify and eliminate unacceptable risks) masmutarno

17 Kesehatan (Health) Derajat/tingkat keadaan fisik dan psikologi individu (the degree of physiological and psychological well being of the individual) masmutarno

18 AMAN (SELAMAT) Aman (safe) adalah suatu kondisi dimana atau kapan munculnya sumber bahaya telah dapat dikendalikan ke tingkat yang memadai, dan ini adalah lawan dari bahaya (danger). sumber bahaya masmutarno

19 DANGER Danger adalah lawan dari aman atau selamat.
Merupakan tingkat bahaya dari suatu kondisi dimana atau kapan muncul sumber bahaya. Danger adalah lawan dari aman atau selamat. masmutarno

20 INCIDENT Suatu kejadian yang tidak diinginkan, bilamana pada saat itu sedikit saja ada perubahan maka dapat mengakibatkan terjadinya accident. masmutarno

21 ACCIDENT Suatu kejadian yang tidak diinginkan berakibat cedera pada manusia, kerusakan barang, gangguan terhadap pekerjaan dan pencemaran lingkungan. masmutarno

22 DANGER INSIDENT ACCIDENT
hampir putus INSIDENT putus ACCIDENT masmutarno

23 2. SEJARAH PERKEMBANGAN K3
ZAMAN PURBA REVOLUSI INDUSTRI INDUS-TRIALISASI Abad 17 SM  Raja Hamurabi (Babilonia) 5 abad kmd  Zaman Mosai Yunani & Romawi Perkembangan K3 mengikuti penggunaan teknologi (APD, safety device dan alat-alat pengaman) SEKARANG ERA MANAJEMEN Revolusi listrik & mekanisasi Revolusi Inggris Compesation Law (AS) Indonesia (Pemerintah Hindia Belanda. ABAD 18 TH 1931 Sejak zaman purba pada awal kehidupan manusia, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia bekerja. Raja hamurabi tatkala revolusi industri dimulai, yakni sewaktu umat manusia dapat memanfaatkan hukum alam dan dipelajari sehingga menjadi ilmu pengetahuan dan dapat diterapkan secara praktis. Penerapan ilmu pengetahuan tersebut dimulai pada abad 18 dengan munculnya industri tenun, penemuan ketel uap untuk keperluan industri. Tenaga uap sangat bermanfaat bagi dunia industri, namun pemanfaatannya juga mengandung resiko terhadap peledakan karena adanya tekanan. Selanjutnya menyusul revolusi listrik, revolusi tenaga atom dan penemuan-penemuan baru di bidang teknik dan teknologi yang sangat bermanfaat bagi manusia. Disamping manfaat tersebut, pemanfaatan teknik dan teknologi dapat merugikan dalam bentuk resiko terhadap kecelakaan apabila tidak diikuti dengan pemikiran tentang upaya keselamatan dan kesehatannya. REVOLUSI INGGRIS Sejak revolusi industri di Inggris dimana banyak terjadi kecelakaan dan dapat banyak membawa korban, pengusaha pada waktu itu berpendapat bahwa hal tersebut adalah bagian dari resiko pekerjaan dan penderitaan para korban, karena bagi pengusaha sendiri, hal tersebut dapat dengan mudah ditanggulangi dengan jalan mempekerjakan tenaga baru. Akhirnya barang orang yang berpendapat bahwa membiarkan korban berjatuhan apalagi tanpa ganti rugi bagi korban dianggap tidak manusiawi. Para pekerja mendesak pengusaha untuk mengambil langkah-langkah positif untuk menanggulangi masalah tersebut. Yang diusahakan pertama-tama adalah memberikan perawatan kepada para korban dimana motifnya berdasarkan perikemanusiaan . Pada tahun di Amerika Serikat diberlakukan undang-undang work, Compensation Law dimana disebutkan bahwa tidak memandang apakah kecelakaan tersebut terjadi akibat kesalahan si korban atau tidak, yang bersangkutan akan mendapat ganti rugi, jika terjadi dalam pekerjaan. Undang-undang ini menandai permulaan usaha pencegahan kecelakaan yang lebih terarah. Di Inggris pada mulanya aturan perungdangan yang hampir sama telah juga diberlakukan, namun harus dibuktikan bahwa kecelakaan kerja tersebut bukanlah terjadi karena kesalahan si korban.Jika terbukti bahwa kecelakaan yang terjadi adalah akibat kesalahan atau kelalaian si korban maka ganti rugi tidak akan diberikan. Karena pekerja berada pada posisi yang lemah, maka pembuktian salah tidaknya pekerja yang bersangkutan selalu merugikan korban. Akhirnya peraturan perundangan tersebut diubah tanpa memandang apakah si korban salah atau tidak. Berlakunya peraturan perundangan tersebut dianggap sebagai permulaan dari gerakan keselamatan kerja, yang membawa angin segar dalam usaha pencegahan kecelakaan industri. HEIRICH HW Heinrich dalam bukunya yang terkenal “Industrial Accident Prevention” (1931), dianggap sebagai suatu titik awal, yang bersejarah bagi semua gerakan keselamatan kerja yang terorganisir secara terarah. Pada hakekatnya, prinsip-prinsip yang dikemukakan Heinrich di tahun 1931 adalah unsur dasar bagi program keselamatan yang berlaku saat ini. Dalam perkembangannya banyak para ahli menyampaikan teori domino yang berbeda namun mengacu pada prinsip H.W. Heinrich. Para ahli mengembangkan bahwa faktor penyebab kecelakaan bukan saja dari faktor unsafe act dan unsafe condition tetapi sudah mengarah pada ketidakmampuan manajemen (Lack of control management) bahkan pada saat ini faktor penyebab kecelakaan adalah ketimpangan sistem (Lack of system). Dengan demikian pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja bukan melalui pendekatan parsial tetapi sudah harus menerapkan K3 berdasarkan kesisteman yaitu sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang dilaksanakan secara holistik dan komprehensif. Di tingkat perusahaan, K3 bukan hanya menjadi tanggung jawab ahli K3, bagian K3, dll tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak di perusahaan. Perubahan sistem kerja Penggunaan tenaga mesin Pengenalan metode baru pengolahan bahan baku Pengorganisasian pekerjaan Muncul penyakit yg berhubungan dgn pemajanan - Heirich (1931), teori domino Bird and German, teori Loss Causation Model - ISO, SMK3 dll masmutarno

24 3. FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA (basic cause)
BAHAN ALAT TENAGA KERJA KESEHATAN KESELAMATAN PROSES Kejadian kecelakaan kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab di dalam usaha produksi dakan melibatkan tenaga kerja, mesin dan peralatan, bahan-bahan yang digunakan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk proses produksi. Interaksi ketiga faktor tersebut akan mempengaruhi tingkat keselamatan, kesehatan dan lingkungan kerja. Dalam hal ini dapat berdampak pada kecelakaan kerja, penyakibat akibat kerja, kebakaran, peledakan maupun pencemaran lingkungan kerja LINGKUNGAN masmutarno

25 Logika terjadinya kecelakaan
Setiap kejadian kecelakaan, ada hubungan mata rantai sebab-akibat (Domino Squen) LACK OF CONTROL BASIC CAUSES INSIDENT IMMIDIATE CAUSES LOSSES Logika terjadinya kecelakaan dapat digambarkan berdasarkan adanya faktor-faktor penyebab tersebut yang merupakan hubungan mata rantai sebab akibat yang dijelaskan berdasarkan Domino Theory Model (Domino Squen) masmutarno

26 PERKEMBANGAN THEORY MODEL DOMINO : GORDON 1967 : HADDON
1970 : Frank Bird JR 1972 : Wigglesworth 1976 : Bird and Loftus 1978 : Petersen 1980 : Johnson 1985 : Bird and German masmutarno

27 UNSAFE ACT/ UNSAFE CONDITION
THEORY MODEL DOMINO ( H.W. HEINRICH, 1931) SOCIAL ENVIRONMENT FAULT OF PERSON UNSAFE ACT/ UNSAFE CONDITION ENVIRONMENT PERSON ACCIDENT INJURY HAZARD masmutarno

28 DOMINO THEORY UP DATED ( FRANK BIRD JR, 1970 ) BASIC CAUSES
LACK OF CONTROL BASIC CAUSES IMMEDIATED CAUSES INCIDENT / ACCIDEN INJURY / DAMAGE Lack of Control ORIGIN CONTACT Loss SYMPTOM masmutarno

29 ( ILCI model - Bird & German, 1985 )
CAUSATION MODEL LOSS ( ILCI model - Bird & German, 1985 ) Inadequate Program Inadequate Standard Inadequate Compliance Personal Factors Job Factors Substandard Acts Substandard Conditions Contact With Energy or Substance People Property Process (Profit) Lack of Control Basic Causes Incident Loss Immediate Causes masmutarno

30 Penyebab & Akibat Kerugian THE ILCI LOSS CAUSATION MODEL
LEMAHNYA KONTROL SEBAB DASAR PENYEBAB LANGSUNG INSIDEN (Kontak) KERUGIAN PROGRAM TAK SESUAI STANDAR KEPATUHAN PELAKSANAAN FAKTOR PERORANGAN KERJA PERBUATAN TAK AMAN & KONDISI <KEJADIAN> KONTAK DENGAN ENERGI ATAU BAHAN/ ZAT KECELAKAAN ATAU KERUSAKAN YANG TAK DIHARAPKAN THE ILCI LOSS CAUSATION MODEL Bird & German, 1985 masmutarno

31 Penyebab dan Akibat Kerugian
LEMAHNYA KONTROL KERUGIAN PENYEBAB DASAR LANGSUNG INSIDEN MANUSIA PERALATAN MATERIAL LINGKUNGAN KERUGIAN masmutarno

32 Kerugian pada manusia masmutarno

33 Kerugian pada peralatan
masmutarno

34 Kerugian pada material dan lingkungan
masmutarno

35 Penyebab dan Akibat Kerugian
LEMAHNYA KONTROL KERUGIAN PENYEBAB DASAR LANGSUNG INSIDEN STRUCK AGAINST  menabrak/bentur benda diam/bergerak STRUCK BY  terpukul/tabrak oleh benda bergerak FALL TO  jatuh dari tempat yang lebih tinggi FALL ON  jatuh di tempat yang datar CAUGHT IN  tusuk, jepit, cubit benda runcing CAUGHT ON  terjepit,tangkap,jebak diantara obyek besar CAUGHT BETWEEN  terpotong, hancur, remuk CONTACT WITH  listrik, kimia, radiasi, panas, dingin OVERSTRESS  terlalu berat, cepat, tinggi, besar EQUIPMENT FAILURE  kegagalan mesin, peralatan EVIRONMENTAL RELEASE  masalah pencemaran KONTAK INSIDEN masmutarno

36 Penyebab dan Akibat Kerugian
LEMAHNYA KONTROL KERUGIAN PENYEBAB DASAR LANGSUNG INSIDEN PERBUATAN TAK AMAN KONDISI TAK AMAN OPERASI TANPA OTORISASI GAGAL MEMPERINGATKAN GAGAL MENGAMANKAN KECEPATAN TIDAK LAYAK MEMBUAT ALAT PENGAMAN TIDAK BERFUNGSI PAKAI ALAT RUSAK PAKAI APD TIDAK LAYAK PEMUATAN TIDAK LAYAK PENEMPATAN TIDAK LAYAK MENGANGKAT TIDAK LAYAK POSISI TIDAK AMAN SERVIS ALAT BEROPERASI BERCANDA, MAIN-MAIN MABOK ALKOHOL, OBAT GAGAL MENGIKUTI PROSEDUR PELINDUNG/PEMBATAS TIDAK LAYAK APD KURANG, TIDAK LAYAK PERALATAN RUSAK RUANG KERJA SEMPIT/TERBATAS SISTEM PERINGATAN KURANG BAHAYA KEBAKARAN KEBERSIHAN KERAPIAN KURANG KEBISINGAN TERPAPAR RADIASI TEMPERATUR EXTRIM PENERANGAN TIDAK LAYAK VENTILASI TIDAK LAYAK LINGKUNGAN TIDAK AMAN SEBAB LANGSUNG masmutarno

37 Kondisi tidak aman masmutarno

38 Tindakan tidak aman masmutarno

39 Tindakan tidak aman masmutarno

40 Tindakan tidak aman masmutarno

41 Tindakan dan kondisi tidak aman
masmutarno

42 Kondisi tidak aman masmutarno

43 Tindakan tidak aman masmutarno

44 Tindakan tidak aman masmutarno

45 Tindakan tidak aman masmutarno KEMBALI

46 Penyebab dan Akibat Kerugian
LEMAHNYA KONTROL KERUGIAN PENYEBAB DASAR LANGSUNG INSIDEN FAKTOR PRIBADI FAKTOR KERJA SEBAB DASAR KEMAMPUAN FISIK ATAU PHISIOLOGI TIDAK LAYAK KEMAMPUAN MENTAL TIDAK LAYAK STRESS FISIK ATAU PHISIOLOGI STRESS MENTAL KURANG PENGETAHUAN KURANG KEAHLIAN MOTIVASI TIDAK LAYAK PENGAWASAN / KEPEMIMPINAN ENGINEERING PENGADAAN (PURCHASING) KURANG PERALATAN MAINTENANCE STANDAR KERJA SALAH PAKAI/SALAH MENGGUNAKAN masmutarno

47 Penyebab dan Akibat Kerugian
LEMAHNYA KONTROL KERUGIAN PENYEBAB DASAR LANGSUNG INSIDEN LEMAHNYA PENGENDALIAN LACK OF CONTROL PROGRAM TIDAK SESUAI STANDARD TIDAK SESUAI KEPATUHAN TERHADAP STANDAR Kesimpulan teori domino : Dari Domino Theory Model juga digambarkan mengenai faktor penyebab tidak langsung dalam bentuk sumber bahaya dari perbuatan tidak aman (unsafe act) dan kondisi tidak aman (unsafe condition) Menurut penjelasan pasal 2 undang-undang No 1 tahun 1970 sumber bahaya berkaitan dengan : Mesin, pesawat, alat, instalasi dan bahan Lingkungan kerja Proses produksi Cara kerja Sifat pekerjaan masmutarno

48 KEPATUHAN TERHADAP STANDAR
Atasan memberikan perintah kpd operator forklift yg tdk mempunyai SIO jo. Permenaker No. Per.01/MEN/1989 Memerintahkan cari operator pengganti KEMAMPUAN MENTAL TDK LAYAK STRESS FISIK ATAU PHISIOLOGI STRESS MENTAL kel. Sakit kejar terget pulang cepat cari operator pengganti KURANG PENGETAHUAN KURANG KEAHLIAN Pengalamanan 1 bulan OPERASI TANPA OTORISASI Mengoperasikan forklift tanpa SIO KECEPATAN TIDAK LAYAK Mengoperasikan forklift dg kecepatan tinggi PERBUATAN TAK AMAN KEPATUHAN THD STANDAR FAKTOR PRIBADI klik sini KERUGIAN KELEMAHAN KONTROL PENYEBAB DASAR PENYEBAB LANGSUNG INSIDEN ACCIDENT Manusia : Mati Luber Peralatan Forklift rusak Material : Waktu kerja Biaya perawatan Biaya santunan KONDISI TAK AMAN KONTAK PELINDUNG/PEMBATAS TIDAK LAYAK Tidak ada safety line (garis kuning) di ruang kerja RUANG KERJA SEMPIT/TERBATAS Ruang kerja relatif padat jo. PMP No.7 th. 1964 SISTEM PERINGATAN KURANG Tidak ada rambu/peringatan di ruang kerja FAKTOR KERJA STRUCK AGAINST  menabrak bergerak Forklift menabrak pekerja STRUCK BY  tertabrak oleh benda bergerak Pekerja tertabrak forklift CAUGHT ON  terjepit diantara obyek besar Pekerja terjepit forklift OVERSTRESS  terlalu cepat Mengoperasikan forklift terlalu cepat PENGAWASAN/KEPEMIMPINAN Tidak ada pengawasan supervisor ENGINEERING Forklift tidak dilengkapi alat perlengkapan MAINTENANCE Forklift tdak layak operasi STANDAR KERJA Standar operasi tidak ada shg operator mengopersikan dg kecepatan tinggi masmutarno

49 APAKAH KECELAKAAN BISA DI RAMALKAN ??? masmutarno

50 Piramida Kecelakaan Kematian/ Kec.Serius Data dilaporkan dan tercatat
1 Kecelakaan Ringan 10 Kerusakan Properti 30 Nyaris Celaka 600 Perbuatan & Kondisi Tidak Aman 10.000 Dari berbagai kasus kecelakaan kerja yang telah dilaporkan, para ahli keselamatan kerja kemudian melakukan penyelidikan dan selanjutnya berkesimpulan bahwa suatu kecelakaan yang berakibat fatal biasanya terjadi tidak begitu saja datang dengan tiba-tiba. Ternyata kasus kecelakaan mempunyai bentuk seperti piramida. Suatu kejadian kecelakaan fatal , biasanya didahului dengan adanya 10 kali kecelakaan ringan. Dan 10 kecelakaan ringan itupun sebelumnya juga didahului oleh adanya 30 kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya peralatan (equipment damage) . Sedangkan dari 30 kecelakaan yang berakibat rusaknya peralatan muncul setelah andanya 600 kejadian nyaris celaka (near miss) . Near miss ini sendiri terjadi karena adanya sumber bahaya yang ada di sekitar pekerja . Bilamana Piramida kecelakaan kita gambarkan sebagai suatu bangunan, maka lantai dasar dari piramida tersebut adalah sumber bahaya. Lalu lantai kedua adalah 600 kejadian nyaris celaka , lantai ketiga adalah 30 kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat, lantai keempat 10 kecelakaan ringan dan lantai teratas adalah 1 kecelakaan fatal . Pola perbandingan rumus piramida itu adalah 1 : 10 : 30 : 600 : Dengan adanya rumus piramida kecelakaan ini, para ahli keselamatan kerja berpendapat bahwa puncak daripada piramida tersebut dapat dihilangkan dengan cara mengurangi atau menghilangkan beberapa kasus kecelakaan yang terjadi sebelumnya atau yang berada di bawahnya. Dengan kata lain, bila kita hilangkan semua kasus nyaris celaka maka bentuk bangunan piramida hanya sampai pada lantai keempat saja. Atau bilamana kita kurangi angka kecelakaan yang berakibat rusaknya peralatan dari angka 30 menjadi 20, maka kecelakaan ringan tidak akan mencapai angka 10 . Dan kecelakaan ringan yang tidak mencapai angka 10 ini maka tidak akan menjadikan munculnya 1 kejadian kecelakaan fatal. Belajar dari piramida kecelakaan , kemudian pemerintah dan juga pimpinan berbagai perusahaan membuat suatu aturan keselamatan kerja untuk melindungi setiap warga negaranya atau para pekerjanya agar terhindar dari suatu resiko akibat adanya sesuatu kegiatan atau kondisi yang dapat menimbulkan bahaya. Di sekitar lokasi kerja kitapun saat ini telah tercatat beragam sumber bahaya. Namun kita tak perlu cemas, karena kita telah melakukan survey sumber bahaya atau Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko. Tempat-tempat kerja yang sebelumnya menunjukkan angka resiko tinggi telah dikendalikan dengan pemakaian APD, prosedur kerja dan lain-lain. Kembali kepada diri kita sendiri , marilah kita bekerja dengan selalu mentaati prosedur dan peraturan kerja yang telah dibuat . Karena beberapa contoh kecelakaan fatal akibat melanggar aturan sering kita dengar baik melalui berita yang disiarkan oleh TV maupun Koran . Sebagai contoh kecelakaan lalu lintas disaat lebaran dimana hampir semua penumpang kendaraan kijang tewas setelah sebelumnya tertabrak oleh kereta api. Sebenarnya kecelakaan tersebut dapat dihindari karena di perlintasan kereta api tersebut telah terpasang rambu “STOP”. Tapi rupanya si pengemudi kijang tersebut tidak mau berhenti di rambu stop dan melanggar rambu tersebut . Kemudian dalam kecelakaan pesawat Lion Air di bandara Solo, sebenarnya banyaknya penumpang tewas atau terluka adalah karena adanya kebiasaan penumpang yang tidak memakai seat belt atau melepas seat belt ketika pesawat sedang melakukan pendaratan . Atau pula adanya penumpang pesawat yang kemungkinan menggunakan HP atau peralatan elektronik lain disaat pesawat belum berhenti dengan sempurna. Padahal semua peraturan tersebut dibuat adalah untuk melindungi para penumpang pesawat dan selalu disampaikan oleh pramugari. Marilah kita sadari pentingnya suatu peraturan keselamatan kerja , sebelum kecelakaan menimpa sanak keluarga atau kita sendiri . PERATURAN DIBUAT TIDAK UNTUK MENGHAMBAT PEKERJAAN ANDA, TAPI UNTUK MELINDUNGI ANDA DARI MARA BAHAYA Bahaya masmutarno

51 Safety vs Health Safety Hazard Health Hazard Mechanic Electric Kinetic
Substances Physic Chemical Biologic Ergonomics Psychosocial Flammable Explosive Combustible Corrosive Accidental release 2. Konsekuensi Minor Mayor Fatal 2. Konsekuensi Accident Injuries Terpapar  kontak  penyakit mendadak, menahun, kanker dan dampak terhadap masyarakat umum (Prolonged Reaction) Assets Damage Mendadak, dramatis, bencana (Sudden Reaction) 3. Konsentrasi kepedulian Environment (bahan pencemar) Exposure Work hours PPE Pendidikan Karir jab. Sesuai pendidikan Titik berat pd bahaya tersembunyi Sepertinya kurang urgent (laten) Prinsip pendekatan Pengkajian kepaparan Utk memperkecil kepaparan 3. Konsentrasi kepedulian Process Equipment, facilities, tools Working practices Guarding Pengalaman Karir lapangan + pelatihan Apabila kita bicara keselamatan dan kesehatan kerja, ada perbedaan prinsip menurut pendekatan sumber bahaya (hazard), konsekuensi (akibat yang ditimbulkan) dan konsentrasi kepedulian (bentuk pengendaliannya). Walaupun terdapat perbedaan tersebut pada akhirnya keselamatan dan kesehatan merupakan suatu satu kesatuan yang tidak terpisahkan (ibarat dua sisi mata uang). Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja harus sinergi dan seiring sejalan karena keduanya merupakan bagian integral dari sistem perlindungan tenaga kerja. Gambar di bawah ini menunjukkan keselamatan dan kesehatan kerja ditinjau dari aspek sumber bahaya, konsekuensi dan konsentrasi pengendaliannya. Titik berat pd kerusakan asset, fatality Sepertinya urgen (bahaya mendadak) Prinsip pendekatan Pengkajian resiko Utk memperkecil resiko masmutarno

52 GUNUNG ES - BIAYA KECELAKAAN
4. AKIBAT KECELAKAAN Berdasarkan pengertian kecelakaan dijelaskan bahwa kecelakaan mengakibatkan cidera dan kerusakan harta benda yang dapat menimbulkan kerugian baik bagi si korban beserta keluarganya dalam bentuk penderitaan dan kerugian bagi perusahaan. Bagi perusahaan modern semua bentuk kerugian (loss) tidak diinginkan terjadi karena akan mempengaruhi berbagai hal seperti menurunnya tingkat keuntungan (profit), kompetensi pasar (trade competition) sampai kepada reputasi dan nama baik perusahaan. Oleh karena itu setiap perusahaan berusaha untuk menekan dan mengurangi tingkat kerugian tersebut melalui berbagai program loss prevention sampai program Total Loss Control Management (TLCM) melalui pendekatan disiplin, rekruitmen security dan kecelakaan kerja. Menurut Berg kerugian akibat kecelakaan kerja digambarkan sebagai teori gunung es (Ice Berg) yang menyatakan bahwa kerugian yang langsung terjadi jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan biaya yang tidak langsung dan hal ini pada umumnya tidak disadari oleh para pengusaha. GUNUNG ES - BIAYA KECELAKAAN masmutarno

53 BIAYA DALAM PEMBUKUAN:
GUNUNG ES - BIAYA KECELAKAAN BIAYA KECELAKAAN DAN PENYAKIT Pengobatan/ Perawatan Gaji (Biaya Diasuransikan) $1 Kerusakan gangguan Kerusakan peralatan dan perkakas Kerusakan produk dan material Terlambat dan ganguan produksi Biaya legal hukum Pengeluaran biaya untuk penyediaan fasilitas dan peralatan gawat darurat Sewa peralatan Waktu untuk penyelidikan $5 HINGGA $50 BIAYA DALAM PEMBUKUAN: KERUSAKAN PROPERTI (BIAYA YANG TAK DIASURANSIKAN) $1 HINGGA $3 Gaji terusdibayar untuk waktu yang hilang Biaya pemakaian pekerja pengganti dan/ atau biaya melatih Upah lembur Ekstra waktu untuk kerja administrasi Berkurangnya hasil produksi akibat dari sikorban Hilangnya bisnis dan nama baik BIAYA LAIN YANG TAK DIASURANSIKAN masmutarno

54 Alat kerja / perkakas kerja Bahan Lingkungan Sifat kerja Cara kerja
Obyek pengawasan K3 Bangunan tempat kerja Mesin Pesawat Instalasi Alat kerja / perkakas kerja Bahan Lingkungan Sifat kerja Cara kerja Proses produksi Lembaga Tenaga kerja masmutarno

55 5. PRINSIP DASAR PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA
MENEMUKAN FAKTA/MASALAH  Identifikasi Masalah ANALISIS  Penilaian Resiko  pemeringkatan resiko PEMILIHAN / PENETAPAN ALTERNATIF / PEMECAHAN  Mengendalikan resiko PELAKSANAAN  Tindakan PENGAWASAN  Sejauh mana pelaksanaan  tdk menyimpang dari rencana PRINSIP DASAR : - Pencegahan kecelakaan kerja merupakan inti (core) dari program pelaksanaan K3 yang terencana, terpadu, terkoordinasi dan pengawasan yang terarah - Tujuan pencegahan kec. : setiap pekerja selamat n sehat dlm melaksanakan tugas. Pencegahan kec.  pengetahuan, ketrampilan dan unjuk kerja (realisasi dan implementasi) Banyak konsep dlm pencegahan kec., tapi secara umum seperti tsb di paparan (5 tahapan) 1. Menemukan masalah : Masalah adalah bentuk penyimpangan / deviasi dari suatu rencana, standar atau peraturan perundangan. Masalah dalam K3 adalah sumber bahaya (hazard), karena sumber bahaya merupakan bentuk ketidaksesuaian dengan standar/peraturan perundangan. Proses menemukan masalah / fakta kita kenal dengan identifikasi sumber bahaya dengan cara inspeksi, survey, observasi atau investigasi. Sumber bahya bertalian dengan: 1. Keadaan mesin-mesin, pesawat-pesawat, alat-alat kerja serta peralatan lainnya, bahan-bahan dan sebagainya. 2. Lingkungan; 3. Sifat pekerjaan; 4. Cara kerja; 5. Proses produksi. 2. Analisis Diketahui : - Sebab utama masalah (Penyebab) - Tingkat kekerapannya (Frekuensi kejadian) - Lokasi - Kaitannya dengan manusia maupun kondisi Dihasilkan alternatif pemecahan masalah 3. Pemilihan / penetapan alternatif / pemecahan Dari alternatif  dihasilkan satu pemecahan yang benar-benar efektif dan efisien 4. Pelaksanaan 5. Pengawasan Tahapan penting untuk menunjukkan sejauh mana pelaksanaan atas tindakan koreksi tersebut sesuai dengan rencana dan tidak terjadi penyimpangan pelaksanaan Pada tahapan pengawasan, apabila ditemukan bentuk penyimpangan dalam pelaksanaan (action) dapat dilakukan analisis kembali, namun apabila telah sesuai dengan rencana kerja proses analisis tidak dilakukan lagi. masmutarno

56 Pemeringkatan Risiko Konsekuensi Probabilitas Insignificant (1) Minor
(2) Moderate (3) Major (4) Catastrophic (5) Almost certain S H Likely M L Unlikely Rare H High Risk Hentikan pekerjaan hingga dilakukan perbaikan yang memadai. Segera terapkan rencana pengendaliannya S Significant Risk Masih prioritas tinggi, tetapkan target waktu untuk bertindak M Moderate Risk L Low Risk Tetapkan budget untuk upaya pengendalian, tanggung jawab management harus ditetapkan

57 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Eliminasi Subtitusi Rekayasa Teknis Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut : 1. Eliminasi - Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Substitusi - Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta - Proses menyapu diganti dengan vakum - Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen - Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Rekayasa Teknik - Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) - Pemasangan general dan local ventilation - Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif - Pemisahan lokasi - Pergantian shift kerja - Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan 5. Alat Pelindung Diri Rekayasa Administrasi Alat Pelindung Diri

58 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut : 1. Eliminasi - Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Substitusi - Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta - Proses menyapu diganti dengan vakum - Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen - Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Rekayasa Teknik - Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) - Pemasangan general dan local ventilation - Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif - Pemisahan lokasi - Pergantian shift kerja - Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan 5. Alat Pelindung Diri

59 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Contoh : Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentukpasta Proses menyapu diganti dengan vakum Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen Proses pengecatan spray diganti denganpencelupan Subtitusi Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut : 1. Eliminasi - Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Substitusi - Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta - Proses menyapu diganti dengan vakum - Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen - Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Rekayasa Teknik - Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) - Pemasangan general dan local ventilation - Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif - Pemisahan lokasi - Pergantian shift kerja - Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan 5. Alat Pelindung Diri

60 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Contoh : Pemasangan alat pelindung mesin Pemasangan general dan local ventilation Pemasangan alat sensor otomatis Rekayasa Teknis Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut : 1. Eliminasi - Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Substitusi - Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta - Proses menyapu diganti dengan vakum - Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen - Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Rekayasa Teknik - Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) - Pemasangan general dan local ventilation - Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif - Pemisahan lokasi - Pergantian shift kerja - Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan 5. Alat Pelindung Diri

61 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Pemisahan lokasi Pergantian shift kerja Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan Contoh : Rekayasa Administrasi Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut : 1. Eliminasi - Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Substitusi - Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta - Proses menyapu diganti dengan vakum - Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen - Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Rekayasa Teknik - Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) - Pemasangan general dan local ventilation - Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif - Pemisahan lokasi - Pergantian shift kerja - Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan 5. Alat Pelindung Diri

62 HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO
Helmet Safety Shoes Ear plug/muff Safety goggles Contoh : Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut : 1. Eliminasi - Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya 2. Substitusi - Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta - Proses menyapu diganti dengan vakum - Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen - Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan 3. Rekayasa Teknik - Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding) - Pemasangan general dan local ventilation - Pemasangan alat sensor otomatis 4. Pengendalian Administratif - Pemisahan lokasi - Pergantian shift kerja - Pembentukan sistem kerja Pelatihan karyawan 5. Alat Pelindung Diri APD

63 LANGKAH-LANGKAH MENCEGAH KECELAKAAN
(Menurut ILO) PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Ketentuan & syarat K3 mengikuti perkemb ilmu pengetahuan, tehnik & teknologi Penerapan ketentuan & syarat K3 sejak tahap rekayasa Pengawasan & pemantauan pelaksanaan K3 STANDARISASI Standar K3 maju akan menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan K3 INSPEKSI / PEMERIKSAAN Suatu kegiatan pembuktian sejauh mana kondisi tempat kerja masih memenuhi ketentuan & persyaratan K3 masmutarno

64 RISET TEKNIS, MEDIS, PSIKOLOGIS & STATISTIK
Riset/penelitian untuk menunjang tkt kemajuan bid K3 sesuai perkemb ilmu pengetahuan, tehnik & teknologi PENDIDIKAN & LATIHAN Peningkatan kesadaran, kualitas pengetahuan & ketrampilan K3 bagi TK PERSUASI Cara penyuluhan & pendekatan di bid K3 Bukan melalui penerapan & pemaksaan melalui sanksi-sanksi masmutarno

65 PENERAPAN K3 DI TEMPAT KERJA
ASURANSI Insentif finansial utk meningkatkan pencegahan kec dgn pembayaran premi yg lebih rendah terhdp peusahaan yang memenuhi syarat K3 PENERAPAN K3 DI TEMPAT KERJA Langkah-langkah pengaplikasikan di tempat kerja dlm upaya memenuhi syarat-syarat K3 di tempat kerja masmutarno

66 Terimakasih masmutarno


Download ppt "KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google