Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 PROFIL DIREKTORAT PENANGANAN PASCA PANEN. 2 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 PROFIL DIREKTORAT PENANGANAN PASCA PANEN. 2 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN."— Transcript presentasi:

1 1 PROFIL DIREKTORAT PENANGANAN PASCA PANEN

2 2 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN

3 3 Visi : “ Menjadi Institusi yang peduli dan berkomitmen tinggi untuk mewujudkan masyarakat pertanian yang sejahtera, handal dan berdaya saing melalui penyelanggaraan birokrasi yang profesional dan berintegritas”

4 4 Misi : 1.Menumbuhkembangkan kelembagaan petani (gapoktan) yang dapat berperan tidak saja sebagai produsen tetapi juga sebagai pemasok bahan baku melalui penerapan manajemen, teknologi dan permodalan secara profesional. 2.Mengembangkan sistem agroindustri terpadu di pedesaan dalam farm-gate marketing system dari hulu sampai hilir sehingga mampu meningkatkan pedapatan petani, kesempatan kerja dan nilai tambah produk pertanian secara adil dan proporsional 3.Mengembangkan penerapan manajemen mutu hasil pertanian untuk meningkatkan daya saing produk segar 4.Meningkatkan daya serap pasar domestik dan internasional melalui kebijakan distribusi, negosiasi, proteksi dan promosi secara efektif dan efisien 5.Mengembangkan kapasitas institusi yang profesional dan berintegritas tinggi

5 5 DASAR FILOSOFI PANCA YASA: 1.Perbaikan infrastruktur pertanian. 2.Pengembangan kelembagaan 3.Penyuluhan. 4.Fasilitasi pembiayaan pertanian. 5.Pemasaran hasil pertanian. TRILOGI PPHP: 1.Pembangunan PPHP berbasis GAPOKTAN yang berorientasi agribisnis. 2.Mereposisi peran PETANI tidak saja sbg PRODUSEN tetapi juga sbg SUPPLIER (PEMASOK) bahan baku dalam FARM-GATE - MARKETING SYSTEM. 3.Pembangunan Agroindustri Pedesaan menjadidasarfilosofi KEGIATAN UTAMA :  Penanganan Pasca Panen  Pengembangan Agroindustri Pedesaan  Pengembangan Mutu & Standarisasi  Pengembangan Pemasaran

6 6 GAPOKTAN (PETAN, PENYULUH + PENDAMPING + SUPERVISOR + PENGAMAT HAMA + PENGAMAT BENIH DAN LAIN-LAIN) (10-15 KELOMTAN) DENGAN LUAS HAMPARAN > 500 HA UNIT USAHA PASCA PANEN UNIT USAHA SAPROTAN PEMBIAYAANSIMPAN/PINJAM PEMASARAN GABAH/ BERAS KELOMTAN (20-25 PETANI) KELOMTAN (20-25 PETANI) KELOMTAN (20-25 PETANI)

7 7 KARAKTERISTIK UMUM PROGRAM/KEGIATAN PPTP DI PUSAT DAN DAERAH Pusat Ditjen PPHP Dinas Pert Provinsi Kab./Kota GAPOKTAN • Pendampingan • Fasilitasi Modal • Fasilitasi Fisik dan Alsintan • Monev dan lap • Kebijakan, Pedoman dan Standarisasi • Pembinaan, Bimtek & Pengawalan • Sistem informasi/ Database • Gerakan Penyadaran Publik (Public awareness/promosi) • Pelayanan publik (teknis/ bisnis) • Pengawalan/ Supervisor • Pelatihan/ Magang • Promosi • Sarana Strategis • Koordinasi, Monev dan Lap Implementasi Kegiatan

8 8 KEBIJAKAN DAN STRETEGI PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN

9 9 Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat : “ Melaksanakan penyiapan, perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan standar, norma, pedoman, kreteria dan prosedur serta pemberian bimbingan teknis dan evalusi di bidang penanganan pasca panen ”

10 TUJUAN DAN SASARAN :  Mendukung Pencapaian Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN) dengan Tambahan Produksi Padi sebesar 3,5 Juta Ton (GKG) atau 2 Juta Ton Beras per Tahun dan PK-PCBN sebesar 3,5 juta ton  Mendukung swasembada, pengembangan agribisnis dan ketahanan pangan nasional  Meningkatkan kesejahteraan petani

11 MELALUI PROGRAM/ KEGIATAN 1.Penekanan susut pasca panen, meningkatkan rendemen dan mempertahankan mutu hasil serta mempertahankan daya simpan produk 2.Menumbuhkembangkan kelembagaan usaha pasca panen berbasis gapoktan untuk mereposisi peran petani/gapoktan dari produsen menjadi pemasok bahan baku industri dan pasar. 3.Memfasilitasi kebutuhan petani/gapoktan dalam memperoleh dan memanfaatkan (a) alat mesin pasca panen secara optimal, (b) akses permodalan/kredit (KKP-E/KUR) dari lembaga keuangan/bank, (c) akses pasar Farm-Gate Marketing System 3.Memfasilitasi kebutuhan petani/gapoktan dalam memperoleh dan memanfaatkan (a) alat mesin pasca panen secara optimal, (b) akses permodalan/kredit (KKP-E/KUR) dari lembaga keuangan/bank, (c) akses pasar dalam rangka mewujudkan Farm-Gate Marketing System. 4. Meningkatnya kemampuan dan ketrampilan petani/ gapoktan di bidang teknis dan manajemen pasca panen melalui bimbingan teknis, pendampingan dan pengawalan

12 12 Pendekatan Wilayah Penumbuhan dan Pengembangan Kelembagaan Kecamatan Pasca Panen berbasis Gapoktan. Pengembangan/ Penyebaran Sarana dan Teknologi Panen dan Pasca Panen secara Tepat Sasaran sesuai Kebutuhan (spesifik lokasi) Pengembangan Kerjasama/ Kemitraan Usaha antara Gapoktan dengan Industri dan Pasar. Optimalisasi Pemanfaatan Sarana dan Teknologi (Alat Mesin) Panen dan Pasca Panen TRIMATRA PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN 1. Pendekatan Sarana dan Teknologi 2. Pembinaan, Penyuluhan, Bimbingan Teknis dan Manajemen, Pelatihan Pendampingan, Supervisor dan Pengawalan 3.

13 KONDISI AKTUAL :  Kelembagaan usaha pasca panen (kecamatan pasca panen) berbasis gapoktan belum mantap, mandiri dan profesional  Tingkat susut hasil (losses) padi tahun 2008 sudah menurun menjadi 10,82% dibandingkan tahun 1996 sebesar 20,51%  Mutu produk yang dihasilkan masih relatif rendah dan tidak seragam  Prasarana dan teknologi pasca panen di tingkat petani (gapoktan), terutama jumlah dan jenisnya belum memadai  Kinerja usaha pelayanan jasa (UPJA) pasca panen, LDM/ Gudang Pengering, Penggilingan Padi dan Silo Jagung, Packaging House, RPU, RPH belum optimal  Petani/gapoktan belum mempunyai kemampuan untuk menghasilkan produk bermutu dan harga produk yang layak  Belum tersedianya informasi potensi dan waktu panen yang rinci hingga tingkat kabupaten, kecamatan/desa  Pengamanan harga khususnya pada saat panen raya belum mantap.

14 Hasil Survey Susut Panen dan Pasca Panen Gabah/ Beras Tahun 2008 Total susut panen dan pasca panen selama 13 tahun terakhir mengalami penurun sebesar 9,28% yaitu dari 20,51% (BPS 1996) menjadi 10,82% (BPS 2008) dengan perincian sbb : NoUraian 1995/ Perubahan 1. Susut Panen (%) 9,529,529,529,52 1,20 1,20 - 8,32 2. Susut Perontokan (%) 4,78 4,78 0,18 0,18 - 4,60 3. Susut Pengeringan (%) Konversi Pengeringan (%) 2,1386,51 3,27 3,2786,02 + 1,14 - 0,49 4. Susut penggilingan Rendemen Penggilingan (%) 2,1963,20 3,25 3,2562,74 + 1,06 - 0,46 5. Susut Pengangkutan (%) 0,19 0,19 1,53 1,53 + 1,34 + 1,34 6. Susut Penyimpanan (%) 1,61 1,61 1,39 1,39 - 0,22 Total (%) 20,51 20,51 10,82 10,82 9,69 9,69 *) BPS 1996 dan 2008

15 PENANGANAN PASCAPANEN JAGUNG Perkiraan Susut Pasca Panen Traditional Untuk Jagung yang Dipanen Pada Kadar Air Rendah Kagiatan Pasca Panen Perkiraan Susut % TercecerMutu Panen (Kadar Air %) (*) Pengangkutan ke rumah (Kadar Air %) 0.1- Pemipilan dengan tenaga manusia (Kadar Air %) 0.5 – – 4.0 Penjemuran jagung pipil 1 – 3 hari (Kadar Air %) (*) Jumlah Susut 1.2 – – 9.0 (*) Kegiatan tertunda akibat gangguan cuaca

16 PENANGANAN PASCAPANEN JAGUNG Perkiraan Susut Pasca Panen Traditional Untuk Jagung yang Dipanen Pada Kadar Air Tinggi Kagiatan Pasca Panen Perkiraan Susut % TercecerMutu Panen (Kadar Air 35 – 40%) (*) Pengangkutan ke rumah (Kadar Air 35 – 40%) 0.1- Penjemuran Jagung Tongkol (Kadar air 17 – 20%) (*) Pemipilan dengan tenaga manusia (Kadar Air %) 0.5 – – 4.0 Penjemuran jagung pipil 1 – 3 hari (Kadar Air %) (*) Jumlah Susut – 10.0 (*) Kegiatan tertunda akibat gangguan cuaca

17 PENANGANAN PASCAPANEN KEDELAI PENANGANAN PASCAPANEN KEDELAI Kagiatan Pasca Panen Perkiraan Susut % TercecerMutu Panen (Kadar Air 17 – 20 %) 1.0 Penjemuran di Lahan Onggokan 4 – 6 Jam (Kadar Air 14 – 17 %) Perontokan Dengan Tenaga Manusia (Kadar Air 14 – 17 %) Pengangkutan Dalam Karung (Kadar Air 14 – 17 %) -- Jumlah Susut Perkiraan Susut Pasca Panen Dengan Cara Tradisional Untuk Kedelai yang Dipanen Pada Kadar Air Rendah

18 PENANGANAN PASCAPANEN KEDELAI Perkiraan Susut Pasca Panen Tradisonal Untuk Kedelai yang Dipanen Pada Kadar Air Tinggi Kagiatan Pasca Panen Perkiraan Susut % TercecerMutu Panen (Kadar Air 30 – 40 %) Penjemuran di Lahan Kelompokan 3 – 5 hari (Kadar Air %) Pengangkutan ke rumah Kelompokan atau onggokan (Kadar Air %) 1.0- Penjemuran di pekarangan, kelompokan, 3 – 5 hari (Kadar air 15 – 17 %) Penundaan di beranda rumah onggokan, 3 – 7 hari (Kadar air 15 – 17 %) 1.0 Perontokan dengan tenaga manusia (Kadar air 15 – 17%) Jumlah Susut

19 19 PROGRAM AKSI/LANGKAH OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN 1. Penyelamatan/memperpanjang daya simpan produk dan penurunan susut panen/pasca panen : a. Menumbuhkembangkan kelembagaan (kecamatan) a. Menumbuhkembangkan kelembagaan (kecamatan) pasca panen berbasis gapoktan. pasca panen berbasis gapoktan. b. Melakukan Gerakan Pelayanan Penanganan Pasca b. Melakukan Gerakan Pelayanan Penanganan Pasca Panen melalui GP4GB Panen melalui GP4GB c. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan c. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan petani/gapoktan dibidang teknis dan manajemen petani/gapoktan dibidang teknis dan manajemen penanganan pasca panen penanganan pasca panen d. Pengadaan dan penyaluran alat mesin pasca panen tepat d. Pengadaan dan penyaluran alat mesin pasca panen tepat guna seperti mesin panen tipe gendong/ sabit bergerigi, terpal, guna seperti mesin panen tipe gendong/ sabit bergerigi, terpal, thresher multiguna, penggilingan padi, dll thresher multiguna, penggilingan padi, dll e. Pengembangan unit pelayanan jasa alat mesin seperti dalam grup panen dan revitalisasi penggilingan padi kecil, grup panen dan revitalisasi penggilingan padi kecil, pengembangan gudang, dryer, RMU/ RMP dan Silo Jagung, pengembangan gudang, dryer, RMU/ RMP dan Silo Jagung, Packaging House, RPU, RPH dll Packaging House, RPU, RPH dll

20 20 PROGRAM AKSI/LANGKAH PERASIONAL 2.Peningkatan mutu hasil, dengan kegiatan : a. Revitalisasi penggilingan padi kecil, gudang pengering dan penyimpanan berbasis jaminan mutu produk penyimpanan berbasis jaminan mutu produk b. Bimbingan teknis dan manajemen dalam rangka penerapan SOP dan GHP penanganan pasca panen SOP dan GHP penanganan pasca panen 3.Fasilitasi pemanfaatan modal melalui skim kridit perbankan (KKP-E/KUR) dan BLM/ PUAP, BUMN atau Dana Bantuan Sosial. 4.Sekolah Lapang PPHP, Bimbingan Teknis dan manajemen, Pendampingan dan Pengawalan 5.Menjalin Kerjasama Kemitraan Usaha antara Gapoktan dengan perusahaan agroindustri dan pemasaran di daerah. 6.Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan Lanjutan ………………..

21 21 Kelembagaan Usaha Pasca Panen Berbasis GAPOKTAN UNIT PEMBELIAN PRODUK Benihbersertifikat PETANI/GAPOKTAN Panen & Perontokan Komoditi segar UNIT PASCA PANEN • Pembersihan • Pengeringan • Grading/ Sortasi • Penyimpanan, • Penggilingan dll. UNITAGROINDUSTRI • Pengolahan • Pengemasan/ Packaaging • Pelabelan • Distribusi, dll. Prod KG Prod KG UNIT PERGUDANGAN Manajemen Stock/ Sistem Resi Gudang Prod Olahan UNIT PEMASARAN Produk Berlabel UNIT PENYULUHAN & JAMINAN MUTU UNIT SAPRODI & PEMBIAYAAN • Benih, pupuk • Pestisida, dll. PELANGGAN (Industri/ Konsumen/ Pasar)

22 22 Ditjen PPHP Kondisi Awal :  Kelembagaan lemah  Susut hasil tinggi  Mutu hasil rendah dan beragam  Harga Fluktuatif dan cenderung jatuh saat panen raya  Ketersediaan tidak kontinyu Kondisi Akhir :  Kelembagaan Gapoktan Mandiri & Prof  Susut hasil yang menurun  Daya simpan produk lebih lama  Mutu hasil tinggi dan seragam  Harga lebih terjamin  Ketersediaan kontinyu Pendampingan, Supervisi dan Pengawalan oleh PT  Sekolah Lapang PPHP  Pelatihan GHP (SOP)  Pemanfaatan Alsin PPTP.  Pemetaan Produksi & Pasar  Fasilitasi pelayanan akses teknologi, modal dan pasar   Pelayanan Informasi Publik DEPTAN dan DINAS PERTANIAN Kelompok Kerja (POKJA) Propinsi dan Kabupaten/ Kota Sarana & Teknologi Kebijakan (Lama) Sarana & Teknologi Kebijakan (Baru) GAPOKTAN MODEL AGRIBISNIS TP TERPADU Monitoring Kemitraan dan Pemasaran Evaluasi Kemitraan dan Pemasaran RANCANGAN SISTEM PENDAMPINGAN, PENGAWALAN DAN SUPERVISI PENANGANAN PASCA PANEN

23 SEMANGAT KERJASAMA ABGC DALAM PENANGANAN PASCA PANEN Ditjen PPHP (G) Petani/Gapoktan (C) Perguruan Tinggi (A) Pengusaha (B) Es I Deptan/ Pemda/ Insatansi Terkait (G)

24 Perspektif Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tahun Tanaman Pangan 1. Mempertahankan tingkat susut hasil panen dan pasca panen khususnya gabah/beras < 10% khususnya gabah/beras < 10% 2. Meningkatkan rendemen gabah-beras menjadi 65% dari 62,74% 3. Penyediaan sarana dan teknologi pasca panen tepat guna 4. Peningkatan kemitraan usaha 5. Penurunan kadar aflatoksin pada jagung (50 ppb untuk pakan dan 20 ppb untuk pangan 20 ppb untuk pangan 6. Meningkatkan kualitas hasil 7. Optimalisasi bantuan alat mesin pasca panen 8. Pengawalan dan pendampingan

25 Perpektif Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tahun Hortikultura Hortikultura 1. Menekan tingkat susut hasil panen dan pasca panen < 10% 2. Memperpanjang usia kesegaran dan keutuhan sayuran, buah- buahan dan biofarmaka unggulan buahan dan biofarmaka unggulan 3. Penyediaan sarana dan teknologi pasca panen tepat guna 4. Peningkatan kemitraan usaha 5. Meningkatkan kualitas hasil 6. Optimalisasi bantuan alat mesin pasca panen 7. Pengawalan dan pendampingan

26 Perpektif Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tahun Perkebunan 1. Meningkatkan mutu hasil komoditas perkebunan unggulan (kopi, kakao dan karet) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku (kopi, kakao dan karet) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri industri 2. Meningkatkan rendemen 3. Penyediaan sarana dan teknologi pasca panen tepat guna 4. Peningkatan kemitraan usaha 5. Optimalisasi bantuan alat mesin pasca panen 6. Pengawalan dan pendampingan

27 Perpektif Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tahun Peternakan 1. Meningkatkan penerapan GHP untuk meningkatkan produksi ternak yang layak dikonsumsi dan dipasarkan ternak yang layak dikonsumsi dan dipasarkan 2. Meningkatkan penerapan kaidah rantai dingin (Cold Chain Management System) pada penanganan pasca panen produk ternak segar 3. Penyediaan sarana dan teknologi pasca panen tepat guna 4. Peningkatan kemitraan usaha 5. Meningkatkan kualitas hasil 6. Optimalisasi bantuan alat mesin pasca panen 7. Pengawalan dan pendampingan

28 28 Program Kegiatan Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tahun 2009 PUSAT

29 1. Pengawalan dan Bimtek Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil (PPK) 2. Pengawalan dan Bimtek Pengembangan Gudang Pengering dan dan Lantai Jamur 3. Pengawalan dan Bimtek Operasionalisasi Silo Jagung 4. Pengawalan dan Bimtek Revitalisasi LDM 5. Pengawalan dan Bimtek Kelembagaan Kec. Pasca Panen berbasis Gapoktan 6. Pengawalan Implementasi GP4GB mendukung P2BN, di 13 Kab/ 7 Propinsi. 7. Workshop Silo Jagung 8. Workshop Revitalisasi PPK 9. Penyusunan RSNI Alsin Pasca Panen Tanaman Pangan MEKANISASI PASCA PANEN TANAMAN PANGAN

30 1. Pengawalan dan Penerapan Penanganan Pasca panen pada Grading dan Packaging House 2. Bimbingan Teknis Penanganan Pasca panen hortikultura MEKANISASI PASCA PANEN HORTIKULTURA

31 1. Pengawalan penarapan pasca panen Karet 2. Bimbingan teknis penerapan pasca panen Lada 3. Bimbingan teknis penerapan pasca panen kopi menunjang agroindustri kopi 4. Bimbingan teknis penerapan pasca panen kakao menunjang agroindustri kakao 5. Bimbingan teknis penerapan pasca panen mete menunjang agroindustri mete 6. Penyusunan RSNI alat mesin pasca panen perkebunan MEKANISASI PASCA PANEN PERKEBUNAN

32 1. Bimbingan teknis penanganan pasca panen produk ternak ruminansia 2. Bimbingan teknis penanganan pasca panen produk ternak unggas 3. Bimbingan teknis penanganan pasca panen produk ternak sapi perah 4. Bimbingan teknis penanganan sarana pakan produk pengolahan pakan ternak sekala kecil MEKANISASI PASCA PANEN PETERNAKAN

33 33 Program Kegiatan Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tahun 2009 DAERAH

34 KEGIATAN PENANGNAN PASCA PANEN TANAMAN PANGAN DANA TUGAS PEMBANTUAN DAERAH :NOKOMODITASKEGIATAN1.PADI • REVITALISASI LDM (TP 10 PROPINSI, 21 KABUPATEN) KABUPATEN) • PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN/ UPJA PANEN (TP 174 KABUPATEN/ 31 PROPINSI) UPJA PANEN (TP 174 KABUPATEN/ 31 PROPINSI) • IMPLEMENTASI GP4GB (TP 13 KAB/ 7 PROPINSI) 2.JAGUNG • REVITALISASI SILO JAGUNG (TP 57 PROPINSI) • PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN/ UPJA PANEN (TP 26 KABUPATEN/ 14 PROPINSI) UPJA PANEN (TP 26 KABUPATEN/ 14 PROPINSI) 3.KEDELE • PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN/ UPJA PANEN (TP 6 KABUPATEN/ 4 PROPINSI) UPJA PANEN (TP 6 KABUPATEN/ 4 PROPINSI)

35 KEGIATAN PENANGNAN PASCA PANEN HORTIKULTURA DANA TUGAS PEMBANTUAN DAERAH :NOKOMODITASKEGIATAN1.SAYURANBLIMBING JERUK PISANG MANGGIS • PENGEMBANGAN GRADING DAN PACKAGING HOUSE (14 PROPINSI, 20 KAB) HOUSE (14 PROPINSI, 20 KAB) 2.SAYURAN • RUANG PENYIMPANAN COLD STORAGE (1 PROPINSI, 1 KABUPATEN) (1 PROPINSI, 1 KABUPATEN)

36 KEGIATAN PENANGNAN PASCA PANEN PERKEBUNAN DANA TUGAS PEMBANTUAN DAERAH :NOKOMODITASKEGIATAN1.KAKAO • PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN (18 PROPINSI, 36 KABUPATEN) (18 PROPINSI, 36 KABUPATEN) 2.KARET • PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN (18 PROPINSI, 36 KABUPATEN) (18 PROPINSI, 36 KABUPATEN) 3.LADA • PENGEMBANGAN PENANGANAN PASCA PANEN (1 PROPINSI, 1 KABUPATEN) (1 PROPINSI, 1 KABUPATEN) 4.KOPI • PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PENGOLAHAN (11 PROPINSI, 17 KABUPATEN) (11 PROPINSI, 17 KABUPATEN) 5.METE • PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PENGOLAHAN (3 PROPINSI, 12 KABUPATEN) (3 PROPINSI, 12 KABUPATEN)

37 KEGIATAN PENANGNAN PASCA PANEN PETERNAKAN DANA TUGAS PEMBANTUAN DAERAH :NOKOMODITASKEGIATAN1. PAKAN TERNAK • OPERASIONALISASI PENGOLAHAN PAKAN TERNAK SEKALA KECIL (10 PROPINSI, 25 KAB) TERNAK SEKALA KECIL (10 PROPINSI, 25 KAB)

38 38 Prosedur Pengembangan Penanganan Pasca Panen

39 1. Gapoktan harus memiliki organisasi yang mantap dan berusaha dibidang pasca panen tanaman pangan yang disahkan oleh Bupati atau Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. 2. Gapoktan yang mempunyai aturan organisasi (AD/ART) yang baku dan disepakati oleh seluruh anggota. 3. Mempunyai dana operasional yang cukup dan manajemen usaha yang baik serta adanya pencatatan usaha secara teratur. 4. Mempunyai sumber daya manusia (pengelola/manajer dan operator) yang memadai dan terampil di bidang teknis dan manajemen Penentuan Kreteria Gapoktan Penerima Bantuan Alsin Pasca Panen

40 Pembentukan POKJA/ TIM TEKNIS Seleksi CP/CL Gapoktan Penerima Bantuan Alsin PP Rapat POKJA Penentuan Gapoktan dengan BA Penetapan Penetapan Gapoktan Terpilih GAPOKTAN TERPILIH Menyusun Usulan Proposal Rencana Usaha Pendampingan, Supervisi dan Pengawalan Persetujuan POKJA KPA TIM PENGADAAN PENGADAAN BANTUAN ALSIN PASCA PANEN ALSIN PASCA PANEN Penyerahan Berita Acara Pendayagunaan Alsin

41 1. Perekrutan tenaga pendamping (site manajer) dilakukan oleh KPA atau Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, dengan kontrak kerja selama kurang lebih 10 bulan yang diikat dengan perjanjian kontrak kerja. 2. Pendamping adalah sarjana pertanian atau pakar dengan latar belakang dibidang teknologi/mekanisasi pertanian, pasca panen atau sosial ekonomi pertanian. 3. Pendamping akan dilatih dan dikawal oleh supervisor atau Tenaga Ahli dari Perguruan Tinggi yang ditunjuk oleh Dinas Pertanian Propinsi. 4. Untuk operasional di lapangan dalam puncak kegiatan (panen raya) pendamping dapat bekerjasama/ bersinergi dengan pakar atau penyuluh kontrak. Rekruitmen Tenaga Pendamping (Site Manager)

42  Menyusun data base/profil luas panen, pola (luas tambah) panen, ketersediaan alat dan mesin pasca panen, produksi, susut hasil (losses), pencatatan dan kelayakan usaha Gapoktan, harga dan lain-lain.  Pendampingan terhadap pencatatan usaha dan penggunaan/ penerapan, pengelolaan alat dan mesin pasca panen secara optimal.  Sebagai konsultan Gapoktan untuk dapat membuat proposal usaha yang dapat diajukan ke lembaga keuangan/ bank.  Mobilisasi dan pemberdayaan gapoktan dalam pemanfaatan alat dan mesin pasca panen.  Pendampingan gapoktan dalam transaksi penjualan hasil pertanian.  Melaporkan perkembangannya kegiatan pendampingan penanganan pasca panen ke Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. Tugas dan Fungsi Tenaga Pendamping (Site Manager)

43 1. Perekrutan tenaga supervisor dilakukan oleh KPA atau kepala Dinas Pertanian Propinsi sesuai dengan kontrak kerja selama kurang lebih 10 bulan. 2. Supervisor adalah perorangan atau tim tenaga ahli atau pakar yang berasal dari Perguruan Tinggi, LSM atau swasta Rekruitmen Tenaga Supervisor

44 1. Mengawal dan membina kegiatan pengembangan penanganan pasca panen yang dilakukan oleh pendamping (site manajer) di kabupaten/ kota. Satu supervisor mempunyai wilayah binaan 3-5 site manajer kabupaten/kota. 2. Memberikan pelatihan/ bimbingan teknis dan manajemen usaha pasca panen 3. Mengadakan pertemuan rutin bulanan dengan pendamping, penyuluh dan instansi terkait untuk pengawalan kegiatan pasca panen 4. Mengadakan monitoring dan evaluasi kegiatan penanganan pasca panen 5. Membuat laporan perkembangan kegiatan. Tugas dan Fungsi Supervisor

45  Bantuan modal ini bertujuan untuk membantu gapoktan penerima bantuan alsin pasca panen untuk pembelian bahan baku dan usahanya  Bantuan modal ini dapat digunakan untuk lebih dari satu Gapoktan, bergantung pada pagu yang tersedia  Modal usaha ini disalurkan melalui mekanisme penyaluran langsung (LS) ke rekening gapoktan BANTUAN PENGUATAN MODAL USAHA KELOMPOK

46 “UPJA pasca panen (grup panen) berbasis gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk oleh gapoktan dibidang pelayanan jasa pemanenan kepada petani dengan menggunakan sistem grup/ kelompok yang terdiri 10 – 15 orang dimana 6-9 orang memanen, 2-3 orang mengumpulkan hasil panen pada terpal, dan 2-3 orang merontok/memipil/ mengupas dengan mesin perontok serbaguna (multipurpose power thresher)” “UPJA pasca panen (grup panen) berbasis gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk oleh gapoktan dibidang pelayanan jasa pemanenan kepada petani dengan menggunakan sistem grup/ kelompok yang terdiri 10 – 15 orang dimana 6-9 orang memanen, 2-3 orang mengumpulkan hasil panen pada terpal, dan 2-3 orang merontok/memipil/ mengupas dengan mesin perontok serbaguna (multipurpose power thresher)” PENGEMBANGAN UPJA PASCA PANEN (GRUP PANEN) BERBASIS GAPOKTAN

47 “Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil (PPK) adalah upaya meningkatkan rendemen dan kualitas gabah/beras pada PPK dengan jalan membentuk penggilingan padi baru minimal 2 phase atau menambah dan mengganti satu atau beberapa bagian unit mesin penggilingan padi seperti mesin pembersih (cleaner), mesin pecah kulit (husker), mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (separator), mesin penyosoh (polisher), mesin pencuci/ pengkristal beras (shinning) dan mesin pemisah beras kepala, beras patah dan menir (shifter) dan atau motor penggeraknya (generator)” “Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil (PPK) adalah upaya meningkatkan rendemen dan kualitas gabah/beras pada PPK dengan jalan membentuk penggilingan padi baru minimal 2 phase atau menambah dan mengganti satu atau beberapa bagian unit mesin penggilingan padi seperti mesin pembersih (cleaner), mesin pecah kulit (husker), mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (separator), mesin penyosoh (polisher), mesin pencuci/ pengkristal beras (shinning) dan mesin pemisah beras kepala, beras patah dan menir (shifter) dan atau motor penggeraknya (generator)” RWEVITALISASI PENGGILINGAN PADI KECIL

48 Lumbung Desa Modern (LDM) adalah unit usaha pengeringan dan penyimpanan gabah yang bertujuan untuk membangun sistem tunda jual gabah dan pengelolaan stok serta distribusi gabah/beras yang mampu mendorong aktivitas ekonomi khususnya bagi kepentingan ekonomi petani/ gapoktan padi di pedesaan khususnya bagi kepentingan ekonomi petani dan konsumen serta industri dengan menerapkan sistem resi gudang Lumbung Desa Modern (LDM) adalah unit usaha pengeringan dan penyimpanan gabah yang bertujuan untuk membangun sistem tunda jual gabah dan pengelolaan stok serta distribusi gabah/beras yang mampu mendorong aktivitas ekonomi khususnya bagi kepentingan ekonomi petani/ gapoktan padi di pedesaan khususnya bagi kepentingan ekonomi petani dan konsumen serta industri dengan menerapkan sistem resi gudang PENGEMBANGAN LUMBUNG DESA MODERN

49 “Silo Jagung adalah unit usaha pasca panen jagung berbasis gapoktan yang mememperoleh bantuan paket alat mesin pasca panen jagung yang terintegrasi mulai proses pemipilan, pembersihan, pengeringan dan penyimpanan jagung serta pengemasan” “Silo Jagung adalah unit usaha pasca panen jagung berbasis gapoktan yang mememperoleh bantuan paket alat mesin pasca panen jagung yang terintegrasi mulai proses pemipilan, pembersihan, pengeringan dan penyimpanan jagung serta pengemasan” PENGEMBANGAN SILO JAGUNG BERBASIS GAPOKTAN

50 1.2006, DI 8 PROPINSI – 18 KABUPATEN PENGEMBANGAN SILO JAGUNG , DI 17 PROPINSI - 38 KABUPATEN TOTAL : 20 PROPINSI - 57 KABUPATEN , DI 1 PROPINSI - 1 KABUPATEN Propinsi Sulbar, Kab. Mamuju

51 PENGEMBANGAN SILO JAGUNG TAHUN 2006 DI 8 PROPINSI – 18 KABUPATEN A. PROPINSI SULSEL 1. Kab. Pinrang 2. Kab. Takalar 3. Kab. Sinjai 4. Kab. Bulukumba 5. Kab. Soppeng 6. Kab. Bantaeng 7. Kab. Bone 8. Kab. Maros 9. Kab. Jeneponto B. PROPINSI SULTENG 10. Kab. Tejo Una-Una C. PROPINSI SULUT 11. Kab. Minahasa 12. Kab. Bolaang Mangondow D. PROPINSI KALSEL : 13. Kab. Tanah Laut E. PROPINSI JAWA TENGAH : 14. Kab. Sragen F. PROPINSI JAWA TIMUR 15. Kab. Bojonegoro G. PROPINSI GORONTALO 16. Kab. Pahuwato H. PROPINSI SUMSEL 17. Kab. Musi Banyuasin I. PROPINSI NTB 18. Kab. Lombok Tengah

52 1.Propinsi Sumatera Utara - Kab. Karo - Kab. Karo - Kab. Toba Samosir - Kab. Simalungun 2. Propinsi Sumatera Barat - Kab. Pasaman Barat - Kab. Pasaman Barat 3. Propinsi Bengkulu - Kab. Seluma - Kab. Seluma 4. Propinsi Lampung - Kab. Lampung Selatan - Kab. Lampung Timur - Kab. Lampung Tengah - Tanggamus 5.Propinsi Banten - Kab. Lebak - Kab. Lebak 6.Propinsi Jawa Barat Kab. Ciamis Kab. Bandung 7.Propinsi Jawa Tengah - Kab. Batang - Kab. Sukoharjo - Kab. Sukoharjo - Kab. Banyumas - Kab. Blora - Kab. Grobogan 8. Propinsi DIY - Kab. Gunung Kidul - Kab. Bantul - Kab. Kulon Progo LOKASI PENGEMBANGAN SILO JAGUNG TAHUN Prop. Jawa Timur - Kab. Kediri - Kab. Banyuwangi - Kab. Lamongan - Kab. Pamengkasan - Kab. Pasuruan 10. Propinsi NTB - Kab. Lombok Timur - Kab. Sumbawa 11. Propinsi NTT - Kab. Timor Tengah Utara - Kab. Belu - Kab. Timor Tengah Selatan 12. Propinsi Sulawesi Utara - Kab. Minahasa Selatan 13. Propinsi Sulawesi Tenggara - Kab. Konawe Selatan 14. Propinsi Kalimantan Barat - Kab. Bengkayang 15. Propinsi Sulawesi Selatan - Kab. Bulukumba - Kab. Gowa 16. Propinsi Gorontalo - Kab. Pahuwato - Kab. Gorontalo 17. Propinsi Sulawesi Tenga - Kab. Donggala 18. Propinsi Sulawesi Barat - Kab. Mamuju

53 PAKET SILO JAGUNG SKALA KECIL

54 PAKET SILO SKALA BESAR

55 RIAU JAMBI SUMBAR BENGKULU BABEL BANTEN DKI JAKARTA BALI NTB NTT KALBAR KALTENG KALTIM SULTRA SULTENG GORONTALO SULUT MALUKU PAPUA KEP.RIAU MALUKU UTARA Kab. Aceh Besar Kab. Pidie NAD Kab. Simalungun Kab. Labuhan Batu Kab. Serdang Bedagai SUMUT Kab. Banyuasin Kab. OKU Timur SUMSEL Kab. Lampung Tengah LAMPUNG Kab. Gowa Kab. Pinrang SULSEL Kab. Banjar Kab. HSU KALSEL Kab. Ngawi Kab. Malang Kab. Jember JATIM Kab. Bantul DI YOGYAKARTA Kab. Demak Kab. Pemalang Kab. Grobogan JATENG Kab. Karawang Kab. Indramayu Kab. Cirebon JABAR PETA LOKASI LUMBUNG DESA MODERN LEGENDA : = Sentra Produksi Padi = Bukan Sentra Prod. Padi PAPUA BARAT

56 STRUKTUR MESIN LUMBUNG DESA MODERN Struktur Mesin LDM dan Silo Jagung

57 ALIRAN PROSES PENGERINGAN PADA LDM

58 Kegiatan Revitalisasi LDM/ SILO JAGUNG: • Penguatan kapasitas kelembagaan LDM/ silo berbadan hukum • Peningkatan pengetahuan dan keterampilan manager dan teknisi/ operator dibidang teknis dan manajemen • Audit peralatan dan teknologi LDM/ SILO agar dapat operasional secara optimal • Pengembangan sumber permodalan dan rencana bisnis LDM/SILO • LDM/SILO, sumber panasnya dari TUNGKU minyak tanah solar maka biaya pengeringan relatif tinggi sehingga perlu penambahan Tungku Sekam (Husk Furnace Burner)

59 Permasalahan Pengembangan Penanganan Pasca Panen  Pemekaran wilayah/ otonomi daerah  Lokasi tidak sesuai kebutuhan  Organisasi/kelembagaan pasca panen kurang mantap (tidak adanya pencatatan dan analisis usaha/ akuntansi) dan belum berbadan hukum  Petani/kelompok tani/ gapoktan kurang paham tentang pengembangan penanganan pasca panen  Keterampilan pengelola dan operator masih terbatas  Kerjasama kemitraan usaha belum mantap  Permodalan lemah  Penanggungjawab pembinaan tidak jelas/ tumpang tindih (overlaping)

60 Faktor Kunci Pengembangan Penanganan Pasca Panen  Managemen dan organisasi/ kelembagaan berjalan secara mantap (adanya pencatatan dan analisis usaha) serta mandiri  Bahan baku tersedia berkesinambungan  Memiliki modal usaha dan berorientasi pada bisnis/ keuntungan  Peralatan dan mesin berfungsi baik  Pengelola/ manajer dan operatornya terampil baik teknis dan manajemen  Ada variasi pola pengembangan kemitraan usaha dan pasar  Usaha pasca panen harus berbadan hukum  Usaha pasca panen tidak menangani satu jenis komoditas saja

61 Pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan teknis saja akan menghasilkan perkembangan yang kurang baik. Lebih baik dan menguntungkan apabila dilakukan pendekatan teknis dan manajemen mulai dari manajemen kelembagaan, nanajemen penyediaan bahan baku, manajemen usaha dan pemasaran secara serentak bersama-sama

62 62 Keragaan Peralatan Mesin Pasca Panen Tanaman Pangan

63 PENGADAAN ALAT MESIN PASCA PANEN PADI TAHUN 2007 No. Jenis Alat Jumlah (Unit) PropinsiStatus 1. Sabit Bergerigi kondisinya baik 2.Terpal Pedal Thresher Kondisinya baik 4. Power Thresher kondisinya baik Sumber : Dit Penanganan Pasca Panen, Ditjen PPHP Deptan Tahun 2007

64 PENGADAAN ALAT MESIN PASCA PANEN PADI TAHUN 2007 No. Jenis Alat Jumlah (Unit) PropinsiStatus 5. Penggilingan Padi 1 phase 6517 Kondisinya baik 6. Penggilingan Padi 2 phase 4417 Kondisinya baik 7. Dryer Vertical 817 Kondisinya baik 8. Moisture Tester Kondisinya baik Sumber : Dit Penanganan Pasca Panen Ditjen PPHP Deptan Tahun 2007

65 KETERSEDIAAN ALAT MESIN PASCA PANEN PADI TAHUN 2007 No. Jenis Alat Jumlah (Unit) 1. Sabit gerigi Terpal Pedal Thresher Power Thresher Penggilingan Padi Kecil Penggilingan Padi Besar RMU Dryer Cleaner Husker Polisher Separator37 9.Reaper59 Sumber : Diolah oleh Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen PPHP Tahun 2007

66 KETERSEDIAAN BENGKEL DAN UPJA No. Jenis Alat Jumlah (Unit) PropinsiStatus 1. Bengkel Alsintan Diperkiraka hanya 80 % yang beroperasi 2.UPJA Sumber : Laporan dari Dinas Pertanian Propinsi dan Kabupaten/Kota, Tahun 2007

67 KETERSEDIAAN KELEMBAGAAN PASCA PANEN PADI No. Jenis Kelembagaan JumlahPropinsiStatus 1.2. Kecamatan Pasca Panen Penggilingan Padi Semua aktif Diperkirakan hanya 90 % Aktif Sumber : Laporan dari Dinas Pertanian Kabupaten Tahun 2007

68 KETERSEDIAAN KELEMBAGAAN PASCA PANEN PADI No. Jenis Kelembagaan JumlahPropinsiStatus UPGB Drying Center Gudang Semua aktif (BULOG) Sumber : Bulog, 2007

69 69 Spesifikasi Peralatan Mesin Pasca Panen Tanaman Pangan

70 70 Mesin Panen Padi Tipe Gendong Gambar : Mesin Panen Tipe Gendong Spesifikasi Teknis : Kapasitas potong : 500 – 600 m2 per jam atau 0,3 Ha/ 6 jam/orang 3 orang/ Ha/ 6 jam Konsumsi bahan bakar: 0,5 – 0,7 liter/ jam Mempunyai Test Report

71 71 Spesifikasi Teknis : Panjang : 8 m Lebar : 8 m Tebal : Minimum 0,4 mm Berat : 230 – 240 gr/m2 Mempunyai Test Report Terpal Plastik Pasca Panen

72 72 Power Thresher Multiguna untuk padi, jagung dan kedele Minimum 650 kg/jam Maksimum 5 % Minimum 95 % Minimum 90 % Minimum 60 % Spesifikasi Teknis Kapasitasout put : Persentase Kehilangan : HasilEfisiensi : PerontokanTingkat : Kebersihan: Mempunyai Test Report

73 73 Tungku Sekam Sistem Siklonik (Cyclonic Husk Burner) Spesifikasi Teknis a. Energi panas - Pengeringan gabah - Pengeringan jagung b. Udara panas yang dihasilkan dihasilkan c. Pemakaian sekam - Pengeringan gabah - Pengeringan jagung e. Arang sekam yang dihasilkan - Pengeringan gabah - Pengeringan jagung dihasilkan - Pengeringan gabah - Pengeringan jagung f. Suhu arang sekam g. Total daya (Power) ::::::::: 300 k W 500 k W 70 – 300  C (dapat diatur sesuai kebutuhan) 20 – 60 kg/jam 60 – 100 kg/jam 5 – 15 kg/jam 20 – 30 kg/jam 30 – 40  C sehingga memungkinkan untuk langsung dikemas Maksimum 4,5 HP h. Mempunyai test report

74 Paddy Cleaner Spesifikasi Teknis : Kapasitas: minimal 4 ton (input) Putaran: 325 – 375 rpm Daya: 4 – 5 HP Konstruksi: Rangka: besi siku dan besi UNP Tebal plate: 2 –3 mm Perlengkapan: Dilengkapi dengan 2 (dua) tahap pembersihan yaitu : (1) dengan sistem hisapan blower dan aspirator serta (2) dengan sistem ayakan/saringan besi plat berlubang. Mempunyai test report

75 Spesifikasi Teknis : Spesifikasi Teknis : Kapasitas: 900 – 1200 kg/jam (input) Kapasitas: 900 – 1200 kg/jam (input) Putaran: 900 – 1000 rpm Putaran: 900 – 1000 rpm Daya: 18 – 20 HP Daya: 18 – 20 HP Konstruksi: Konstruksi: Rangka : Besi Plate ST 37 Tebal plat: 2 – 6 mm Perlengkapan: Perlengkapan: Dilengkapi dengan blower tiup dan blower hisap sehingga beras putih yang dihasilkan bersih dan bening. Mempunyai test report Rice Milling Unit

76 76 KESIMPULAN 1. Kegiatan penanganan pasca panen perlu dukungan dan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) yang meliputi Akademisi (A), Businessman (B), Government (G) dan Community (C) 2. Fasilitasi bantuan alsin pasca panen bersifat pemicu dan pemacu yang akan diharapkan dapat replikasi oleh petani/gapoktan di lapangan 3. Dengan semangat otonomi daerah, kegiatan penanganan pasca panen sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah daerah, sehingga diharapkan dapat difasilitasi oleh APBN, APBD dan Swasta secara berkelanjutan. 4.Penanganan pasca panen merupakan upaya strategis untuk mendukung program Pengembangan Agribisnis yang terpadu di perdesaan, program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), Ketahanan Pangan Nasional dan Peningkatan Kesejahteraan Petani.

77 77 Informasi lebih lanjut hubungi : Unit Layanan Publik Ditjen PPHP – DEPTAN Jl. Harsono RM No. 3, Kantor Pusat Deptan Gd D. Lt 2 Ragunan, Pasar Minggu – Jakarta Selatan (12550) Telp – Web :

78 Terima Kasih Wassalamu’alaikum Wr Wb.


Download ppt "1 PROFIL DIREKTORAT PENANGANAN PASCA PANEN. 2 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google