Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Aspek Ekonomi Pengendalian Rokok di Indonesia Abdillah Ahsan MSE. Peneliti Lembaga Demografi – FEUI Dosen FEUI Disampaikan Pada “ PERTEMUAN SOSIALISASI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Aspek Ekonomi Pengendalian Rokok di Indonesia Abdillah Ahsan MSE. Peneliti Lembaga Demografi – FEUI Dosen FEUI Disampaikan Pada “ PERTEMUAN SOSIALISASI."— Transcript presentasi:

1 Aspek Ekonomi Pengendalian Rokok di Indonesia Abdillah Ahsan MSE. Peneliti Lembaga Demografi – FEUI Dosen FEUI Disampaikan Pada “ PERTEMUAN SOSIALISASI KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI TENTANG RPP PENGAMANAN BAHAN YANG MENGANDUNG ZAT ADIKTIF BERUPA PRODUK TEMBAKAU BAGI KESEHATAN‘ – Puskom-Kemkes 19 September 2012

2 Outline Jendela Peluang Bonus Demografi Trend Konsumsi Rokok Beban Konsumsi Rokok dan Kemiskinan Data dan Argumen Ekonomi Pro TC (industri rokok, pertanian tembakau dan cukai rokok) Amanat Konsitusi Tentang Pengendalian Konsumsi Rokok Penanggulangan Dampak Sosial Ekonomi

3 Angka Ketergantungan per 100 penduduk usia kerja > >50 satu (1) orang bekerja menangung hampir satu anak dua (2) orang bekerja menangung satu anak tiga(3) orang bekerja menanggung satu anak tanggungan meningkat karena pesatnya pertambahan lansia Sumber: Sri Moertiningsih Adioetomo 3

4 Bonus Demografi Perubahan struktur umur penduduk dan menurunnya beban ketergantungan (dependency ratio) memberikan peluang yang disebut bonus demografi atau demographic dividend Dikaitkan dengan munculnya suatu kesempatan, the window of opportunity yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat. Sumber: Sri Moertiningsih Adioetomo 4

5 The Window of Opportunity (Jendela Peluang) The window of opportunity Indonesia akan terjadi tahun dimana Dependency Ratio mencapai titik terendah 44 per 100 Artinya, sebuah keluarga dgn 4 anggota, 3 orang bekerja hanya menanggung satu anak Tetapi akan meningkat lagi sesudah 2030 karena meningkatnya proporsi penduduk lansia Hanya terjadi satu kali dalam sejarah suatu penduduk Sumber : Sri Moertiningsih Adioetomo 5

6 6

7 Bonus Demografi Landasan Pertumbuhan Ekonomi, syaratnya:  Suplai tenaga kerja yang besar meningkatkan pendapatan per kapita apabila ada kesempatan kerja yang produktip, dan bisa menabung.  Peranan perempuan: jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan memasuki pasar kerja, membantu peningkatan pendapatan  Tabungan rumah tangga yang diinvestasikan secara produktip  Modal manusia yang besar apabila ada investasi untuk itu. Modal Manusia terdiri dari Pendidikan dan Kesehatan yang berkualitas  Meningkatnya konsumsi rokok akan menurunkan kualitas kesehatan dan mengancam pencapaian Bonus Demografi Sumber : Sri Moertiningsih Adioetomo 7

8 Prevalensi merokok melonjak 1995: 27% penduduk dewasa 15+ merokok 2010: 35% penduduk dewasa merokok %Perokok Laki-laki dewasa: 1995: 53% (1 dari 2 laki-laki) 2010: 66% (2 dari 3 laki-laki) %perokok perempuan dewasa: 1995: 1.7% 2010: 4.2% Naik lebih dari 2 X lipat Sumber : Susenas 1995, 2001, dan 2004 Riskesdas 2007 dan 2010 Global Adult tobacco survey Indonesia 2011

9 Trend Produksi Rokok Meningkat Sumber: Meningkat-92-di-2011

10 Monitor: Current Tobacco Use Source: Global Adult Tobacco Survey,

11 Monitor: Tobacco Use by Gender Source: Global Adult Tobacco Survey,

12 Monitor: Current Tobacco Smoking Source: Global Adult Tobacco Survey,

13 Protect: Exposed to SHS at Workplace Source: Global Adult Tobacco Survey, Note: In the past 30 days preceding the survey

14 Protect: Exposed to SHS in Homes Source: Global Adult Tobacco Survey,

15 Offer: Desire to Quit Smoking Note: In the next 12 months among current smokers Source: Global Adult Tobacco Survey,

16 Offer: Quit Ratios Note: Former smokers among current daily smokers Source: Global Adult Tobacco Survey,

17 Enforce: Noticed Cigarette Marketing in Stores * In the past 30 days preceding the survey Source: Global Adult Tobacco Survey,

18 Affordability Note: Price of 100 packs of Manufactured Cigarettes as Percentage of Per Capita GDP

19 Pengeluaran RT Termiskin (quintile 1) perokok, Indonesia, Susenas No.Jenis Pengeluaran Rp% % % % % % % % 1Minuman Alkohol4870,135100,147100,166580,127320,129450, , ,15 2Pajak dan Asuransi1.1080, , , , , , , ,72 3Pemeliharaan Rumah1.9910, ,435570, , , , , ,53 4Daging5.5681, , , , , , , ,90 5Barang Tahan Lama4.9041, , , , , , , ,13 6Pesta dan Upacara6.4261, , , , , , , ,70 7Pendidikan3.3580, , , , , , , ,88 8Buah-buahan8.6362, , , , , , , ,26 9Umbi-umbian6.1861, , , , , , , ,30 10Bahan Makanan Lainnya4.7731, , , , , , , ,88 11Kesehatan7.3551, , , , , , , ,02 12Pakaian dan Alas Kaki , , , , , , , ,63 13Bumbu9.2202, , , , , , , ,77 14Telur dan Susu8.1192, , , , , , , ,25 15Kacang , , , , , , , ,28 16 Makanan dan Minuman Jadi , , , , , , , ,15 17Minyak dan Lemak , , , , , , , ,20 18Barang dan Jasa9.5792, , , , , , , ,52 19Bahan Minuman , , , , , , , ,95 20Sayur-sayuran , , , , , , , ,68 21Listrik, Telepon, dan gas , , , , , , , ,70 22Ikan , , , , , , , ,06 23Sewa , , , , , , , ,40 24Rokok dan Sirih , , , , , , , ,91 25Padi-padian , , , , , , , ,03 Total Pengeluaran

20 Pengeluaran RT perokok menurut Kelompok Pengeluaran, Susenas 2010 No.Jenis Pengeluaran Q1Q2Q3Q4Q5 Rp% % % % % 1Minuman Alkohol , , , , ,15 2Pajak dan Asuransi , , , , ,73 3Pemeliharaan Rumah , , , , ,68 4Daging , , , , ,89 5Barang Tahan Lama , , , , ,69 6Pesta dan Upacara , , , , ,77 7Pendidikan , , , , ,48 8Buah-buahan , , , , ,49 9Umbi-umbian , , , , ,39 10Bahan Makanan Lainnya , , , , ,22 11Kesehatan , , , , ,22 12Pakaian dan Alas Kaki , , , , ,92 13Bumbu , , , , ,66 14Telur dan Susu , , , , ,23 15Kacang , , , , ,87 16 Makanan dan Minuman Jadi , , , , ,54 17Minyak dan Lemak , , , , ,20 18Barang dan Jasa , , , , ,01 19Bahan Minuman , , , , ,51 20Sayur-sayuran , , , , ,74 21Listrik, Telepon, dan gas , , , , ,96 22Ikan , , , , ,54 23Sewa , , , , ,74 24Rokok dan Sirih , , , , ,73 25Padi-padian , , , , ,65 Total Pengeluaran

21 Pengeluaran untuk Rokok di RT termiskin setara dengan Rokok dan Sirih = 13 x Daging 0,90% 5 x Susu & Telur 2,25% 2 x Ikan 6,06% 2 x Sayur-sayuran 5,68% 6 x Pendidikan 1,88% 6 x Kesehatan 2,02%

22 Kesempatan yang Hilang akibat 10 tahun Merokok Konsumsi Rokok per Hari = 1 bungkus = Rp ,- Konsumsi Rokok per Bln = 30 bungkus = Rp Konsumsi Rokok per Thn= 365 bungkus = Rp Konsumsi Rokok per 10 thn = 3650 bungkus = Rp > (Biaya Haji, Sekolah s1 UI, DP Rumah, Renovasi Rumah, DP Mobil, Beli Motor, Modal Usaha Kecil, Franchise Makanan Ringan, dll)

23 Beban Konsumsi Rokok ,7% kematian akibat penyakit terkait dengan merokok. Laki-laki : 100,680 jiwa. Perempuan : 89,580 jiwa. Total : 190,260 jiwa Sumber : Soewarta Kosen 2012

24 Beban Konsumsi Rokok 2010 Kerugian Ekonomi akibat hilangnya waktu produktif terkait meningkatnya kematian, kesakitan dan disabilitas terkait dengan merokok Rp. 105,3 Trilliun Biaya pembelian rokok Rp. 138 Trilliun Biaya rawat inap akibat penyakit terkait merokok Rp. 1,85 Trilliun Biaya rawat jalan akibat penyakit terkait merokok Rp. 0,26 Trilliun Sumber : Soewarta Kosen 2012

25 Beban Konsumsi Rokok Total kerugian makroekonomi terkait konsumsi rokok Rp. 245,4 Trilliun Penerimaan cukai hasil tembakau 2010 : Rp. 56 Trilliun 2010 : Kerugian makroenomi terkait konsumsi rokok 4 X lebih besar dari penerimaan cukai hasil tembakau Sumber : Soewarta Kosen 2012

26 Amanat Konstitusi Tentang Pengendalian Konsumsi Rokok Undang-Undang No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 113 (1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat Adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. (2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau Dst Pasal 114 Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan Bergambar. Pasal 115 ayat 2 Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya.

27 Amanat Konstitusi Tentang Pengendalian Konsumsi Rokok UU No. 39 tahun 2007 tentang Cukai Pasal 2 ayat 1 Barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik: a. konsumsinya perlu dikendalikan; b. peredarannya perlu diawasi; c. pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup; atau d. pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan,

28 Pengalaman Australia Plain packaging means that the glamour is gone from smoking and cigarettes are now exposed for what they are: killer products that destroy thousands of Australian families. In the future, cigarette packets will serve only as a stark reminder of the devastating health effects of smoking. Let there be no mistake, big tobacco is fighting against the Government for one very simple reason—because it knows, as we do, that plain packaging will work. While it is fighting to protect its profits, we are fighting to protect lives. Pidato Menkes Australia Pada Peluncuran Plain Packaging

29 Pengalaman Thailand

30 Produksi Daun Tembakau 10 Negara Terbesar 2010 No.Negara Produksi Daun Tembakau (ribu Ton) 1China 3,005,753 2Brazil780,942 3India755,5 4USA326,08 5Malawi215 6Indonesia135,7* 7Argentina123,3 8Pakistan119,323 9Zimbabwe109,737 10Italy97,2 Indonesia penghasil daun tembakau Keenam setelah Cina, Brazil, India dan Amerika Serikat dan Malawi : Indonesia memproduksi 135,7 ribu ton daun tembakau Sumber: diakses dari pada 28 Mei 2012 dan *Statistik Perkebunan Indonesia : Tembakau, Kementerian Pertanian.http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx pada 28 Mei 2012

31 Produksi Daun Tembakau (ribu ton), Indonesia, Menurun 33% ( menurun 23%) Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia : Tembakau, Kementerian Pertanian.

32 Luas Lahan Tembakau (ha), Indonesia, menurun 17% ( Naik 6%) Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia : Tembakau, Kementerian Pertanian.

33 Produktivitas Pertanian Tembakau (kg/ha), Indonesia, Menurun 5% ( Menurun 12%) Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia : Tembakau, Kementerian Pertanian.

34 Ekspor dan Impor Daun Tembakau, Indonesia TahunImpor (ton)Ekspor (ton) Produksi (ton) Konsumsi (ton) % Impor thd konsumsi ,54617,401156,432147,287 18, ,54222,403140,283134,14421, ,10832,365111,655118,91221, ,22637,259121,370128,40323, ,32130,926130,134120,73933, ,95321,989140,169114,20542, ,06033,240151,025139,20532, ,10842,281209,626204,79923, ,21949,960105,580132,32117, ,91437,096135,384131,56631, ,24835,957204,329206,03816, ,34643,030199,103197,78722, ,28942,686192,082201,47916, ,57940,638200,875211,93414, ,17146,463165,108176,40019, ,14253,729153,470159,05730, ,51453,729146,265145,48037, ,74246,834164,851141,94349, ,30250,269168,037141,00454, ,19952,515176,510175,82630, ,68557,408135,678127, % impor daun tembakau terhadap konsumsinya meningkat dari 18% di tahun 1990 menjadi 52% di tahun 2010 Setengah konsumsi tembakau Indonesia berasal dari Impor Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia : Tembakau, Kementerian Pertanian, 2011

35 Nilai Ekspor dan Impor Daun Tembakau, Indonesia Net ekspor 1990 Positif USD 16,6 Juta Net Ekspor 2010 Negatif USD 183 Juta Defisit perdagangan daun tembakau semakin parah Tahun Nilai Ekspor US$ (000) Nilai Impor US$ (000) Nilai Net Ekspor US$ (000) ,61241,96316, ,86258, ,94964,54716, ,01476,995-10, ,261100,217-46, ,456104,474-43, ,623134,153-49, ,743157,767-53, ,552108,46439, ,833128,021-36, ,287114,834-43, ,404139,608-48, ,684105,953-29, ,87495,190-32, ,618120,854-30, ,433179,201-61, ,787189,915-82, ,423267, , ,196330, , ,629290, , ,633378, ,077

36 Jumlah Petani Tembakau, Tahun Petani Tembakau Jumlah pekerja di sektor pertanian (000) Jumlah semua pekerja (000) % petani tembakau terhadap jumlah pekerja di sekor pertanian % petani tembakau terhadap seluruh pekerja ,801,80, ,802,61, ,401,00, ,901,70, ,701,60, ,402,31, ,22,00, ,91,70, ,01,70, ,11,60, , ,11,20, , ,11,40, , ,81,40, , ,41,50, ,360 42, , , : : Hanya 1,6% dari keseluruhan pekerja sektor pertanian dan 0,6% dari seluruh pekerja Sumber: a) Statistik Perkebunan Indonesia (Tree Crop Estate Statistic of Indonesia) : Tembakau, Kementerian Pertanian, b) Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia (Sakernas) , BPS, Jakarta

37 Resiko Usaha Perkebunan Tembakau 1.Perubahan Cuaca Tanaman tembakau sangat peka tehadap perubahan cuaca, khususnya perubahan curah hujan.  curah hujan lebih basah dibanding normal (efek El Nina)  Kualitas daun tembakau akan menurun (ditandai dengan berkurangnya lelet pada daun-- daun tidak lengket jika dipegang tangan).  curah hujan di bawah normal (karena kemarau panjang)  menurunkan produksi daun tembakau karena tanaman tembakau banyak yang mati.

38 Resiko Usaha Pertanian Tembakau 2. Perubahan Harga Harga tembakau yang tidak menentu karena pada saat panen penentuan kualitasnya tergantung para grader (pembeli/tengkulak) tembakau. Pembeli yang menentukan kualitas dan harga tembakau “…Belum tahu, sekarang panas (menjamin kualitas tembakau akan baik), tapi saat panen ada hujan, harga hancur. (Belum lagi) dipermainkan (harga) dengan pabrik, itu susahnya orang tani. (Indepth : Petani Kabupaten Kendal).

39 Resiko Usaha Pertanian Tembakau 3. Hama Tanaman Tanaman tembakau harus dirawat dengan “telaten” layaknya merawat bayi. Tanaman tembakau jika tidak dirawat secara intensif akan berakibat terkena hama dan akhirnya gagal panen. Tanaman tembakau harus selalu diamati karena jika petani lengah hama akan cepat berkembang dan merusak daun tembakau. 4. Turunnya Pembelian Permintaan atau pembelian tembakau bisa turun apabila persediaan daun tembakau pabrik rokok masih banyak

40 Resiko Lainnya …”di desa kami, banyak petani yang menjadi gila, ada yang siang-siang berjalan sambil membawa obor menyala, layaknya orang yang sedang memeriksa tanaman tembakau di malam hari, bahkan banyak pula yang membakar diri”… (Informan Petani Tembakau dari Sakra Barat Lombok Timur NTB). …”petani tembakau itu punya semboyan yang dikenal 4 M, yaitu bila untung, Mekah (naik haji) dan Merari (kawin lagi), tapi bila rugi Malaysia (jadi TKI) atau Masuk oven(bunuh diri)”…( Informan Petani Tembakau dari Sakra Barat Lombok Timur NTB).

41 Pamekasan Perdagangan tembakau menggunakan sistem bertingkat, yaitu dari petani, ke bandol, ke juragan, lalu ke tauke (pemilik gudang). Umumnya petani di Pamekasan menggarap sendiri tanahnya. Harga tembakau di Madura sangat fluktuatif, bahkan cenderung merugikan. Ada permainan harga, baik antar waktu maupun antar gudang.

42 Pamekasan Harga tembakau tinggi hanya pada tahun tertentu saja. Misal, harga bagus tahun 2006, namun tahun- tahun selanjutnya harga turun. Harga normal kembali pada tahun Kemungkinan harga akan jatuh lagi hingga 4 tahun mendatang. Petani tidak berdaya dengan kondisi ini. Mereka sudah melaporkannya pada pemerintah, namun tidak ada perbaikan kebijakan.

43 Pamekasan Tauke menciptakan ketergantungan bagi bandol dan ketidakberdayaan petani. Bahkan bandol dan petani sampai saling konflik Harga yang diberikan tauke dan bandol tidak manusiawi. Perkilonya kadang turun sampai 6 ribu. Padahal biaya produksi per kilonya mencapai 25 ribu. Bandol di sisi lain kadang juga menjadi korban tauke. Bandol yang merugi tidak tidak membayar uang hak petani. Akibatnya petani yang menanggung beban paling besar.

44 Sumenep Banyak petani yang beralih ke tanaman lain, misalnya, cabe jamu. Petani dan bandol sama-sama merugi. Bandol bahkan menyarankan petani agar berhenti menanam tembakau. Rendahnya harga tembakau di Sumenep disebabkan oleh permainan harga tauke, misalnya menginforkasikan harga yang tinggi saat awal masa tanam, namun menurunkan harga saat musim panen. Penentuan harga dan kualitas tembakau tidak objektif dan tidak jelas.

45 Sumenep Petani tidak bisa mengadukan pada pemerintah, karena pemerintah tidak bisa berperan dalam stabilisasi harga. Pemerintah pernah menetapkan standar minimum harga, namun tetap tidak berlaku di pasar. Harga tetap ditentukan oleh tauke gudang. Gudang bahkan mengancam akan berhenti membeli tembakau jika pengusaha rugi akibat perda harga minimum. Petani merasa bahwa tataniaga era orde lama masih lebih baik. Penyuluhan dan pengendalian harga sangat terasa bagi masyarakat. Tokoh masyarakat melihat pemerintah “takut” pada pengusaha. Pemerintah tidak pernah mempertemukan pengusaha dengan petani dalam mencapai harga yang dikesepakati.

46 Kesimpulan Harga ditentukan sepihak oleh gudang (pabrik rokok). Pihak gudang sangat subyektif dalam menentukan kualitas tembakau. Tidak ada asosiasi/lembaga apapun yang membela kepentingan petani dari tataniaga tembakau yang memiskinkan. Petani kurang mampu melakukan perlawanan tetapi sangat mudah untuk diprovokasi. Penyakit akibat tembakau memberikan dampak menurunnya produkivitas petani.

47 Saran Mengatur kepastian dan mekanisme perlindungan dan pengawasan harga dan kualitas tembakau Kepastian hasil panen tembakau diserap oleh gudang (pabrik) atau pasar alternatif Penetapan dan penegakan aturan dan sanksi, tentang standar kualitas tembakau yang sama-sama dipahami semua pihak Menetapkan dan mengelola media informasi resmi tentang perkembangan pasar tembakau antar daerah penghasil tembakau Mendorong dan memfasilitasi terbentuknya koperasi petani tembakau yang mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani tembakau sebagai pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya.

48 Rekomendasi Kebijakan Untuk meningkatkkan kesejahteraan petani tembakau: 1.Batasi (larang) impor daun tembakau 2.Bantu petani tembakau yang ingin beralih usaha 3.Bantu permodalan petani tembakau 4.Batasi produksi rokok putih 5.Naikkan posisi tawarnya 6.Sistem Resi Gudang ???

49 Kontribusi Industri Rokok, Pertanian Tembakau dan Pertanian Cengkeh terhadap Perekonomian (PDB), 1995, 2000, 2005 and 2008, INDONESIA Kode I-OSektor Nom. (Rp. T)%Rank Nom. (Rp. T)% Ran k Nom. (Rp. T)% Ran k Nom. (Rp. T)% Ran k 53Perdagangan Bangunan Penambangan minyak, gas dan panas bumi Cigarette Industry Clove Tobacco Total5351,3662, Cigarette + Tobacco + Clove Sumber: diolah dari tabel input-output BPS 1995, 2000, 2005 dan 2008

50 Tabel 4.6 Rata-Rata Upah Nominal Per Bulan Buruh Industri Di Bawah Mandor, , Ribuan Tahun/Ku artal Tembakau / Rokok Makanan Seluruh Industri % Tembakau terhadap Makanan % Tembakau terhadap Seluruh Industri 2004/1505,8586,0819,186,361,8 2004/2492,5609,6853,280,857,7 2004/3502,7584,7839,986,059,9 2004/4541,4613,3851,888,363,6 2005/1505,3620,3876,681,557,6 2005/2632,2667,3911,694,769,4 2005/3744,2799,9939,493,079,2 2005/4610,7812,9940,075,165,0 2006/1802,2894,3982,289,781,7 2006/2740,0922,7993,680,274,5 2006/3738,1918,0954,280,477,4 2006/4793,1924,4957,485,882,8 2007/1803,1932,2876,486,291,6 2007/2739,8926,2906,379,981,6 2007/3778,8937,1938,983,182,9 2007/4807,6900,7940,089,785,9 2008/1747,0870,01093,485,968,3 2008/2783,9873,01091,089,871,9 2008/3781,9889,91098,187,971,2 2008/4785,8886,51103,488,671,2 2009/1753,9980,51134,776,966,4 2009/2766,0985,91148,677,766,7 2009/3763,71000,01160,176,465,8 2009/4763,61003,51172,876,165,1 2010/1799,31013,41182,478,967,6 2010/2911,01091,51222,283,574,5 2010/3922,71146,11386,480,566,6 2010/4943,31139,91386,982,868,0 Sumber: Statistik Upah , Statistik Indonesia: Rata-rata upah pekerja di industri rokok selalu lebih rendah dari rata-rata upah industri makanan dan industri secara keseluruhan

51 Tabel 4.5 Distribusi Pekerja Di Perusahaan Produk Tembakau Menurut Jenis Kelamin, Tahu n Laki-lakiPerempuanTotalLaki-lakiPerempuan Tota l (dalam orang)(dalam %) ,7079, ,0780, ,3181, ,4080, ,1079, ,8081, ,1081, ,7382, ,7982, ,0679, ,8982, ,3180, ,7781, ,0380, ,3779, ,9992, ,6281,38100 Sumber: BPS. Statistik Industri Sedang dan Besar Pekerja langsung di Industri rokok sedang dan besar tahun berkisar – Untuk pekerja di Industri rokok kecil diperkirakan (1500 (perkiraan jml perusahaan rokok kecil)X20 (perkiraan rata-rata pekerja per perusahaan) = Total estimasi jumlah pekerja langsung di Industri Rokok (2009) = =

52 Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau UU No. 39 Tahun 2007 Pasal 66A dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2% (dua persen) (1)Penerimaan negara dari cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2% (dua persen) yang digunakan untuk -mendanai peningkatan kualitas bahan baku, -pembinaan industri, -pembinaan lingkungan sosial, -sosialisasi ketentuan di bidang cukai, -dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal.

53 Pemberantasan barang kena culai ilegal : pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu di peredaran atau tempat penjualan eceran pengumpulan informasi hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran Pembinaan Lingkungan Sosial: Kemampuan & ketrampilan kerja masyarakat Manajemen limbah industri HT  AMDAL Kawasan tanpa asap rokok & tempat khusus merokok Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dng penyediaan fasilitas perawatan kesehatan akibat dampak rokok penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga kerja industri hasil tembakau Penguatan ekonomi masy di lingkungan industri HT dlm rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dilaksanakan a.l. mll bantuan permodalan dan sarana produksi Sosialisasi Ketentuan : Menyampaikan ketentuan bidang cukai kpd masyarakat baik secara insidentil maupun periode waktu tertentu Pembinaan industri : Pendataan mesin peralatan industri Penerapan HAKI Pembentukan kawasan industri HT Pemetaan industri HT Kemitraan UKM & UB dlm pengadaan bahan baku Penerapan GMP Peningkatan kualitas bahan baku: Standarisasi kualitas bahan baku Bahan baku dengan kadar nikotin rendah Sarana laboratorium uji dan metode pengujian Penanganan panen dan pasca panen bahan baku Kelembagaan kelompok tani bahan baku industri HT Penggunaan DBH CHT (PMK No. 20/PMK.07/2009)

54 DBHCHT 2012 (PMK 46/PMK.07/2012) Kota Kediri : Rp. 45 Milliar Kudus : Rp. 43 Miliar Pasuruan : Rp. 38 Milliar Malang : Rp. 30 Milliar Kediri : Rp. 22 Milliar Kendal: Rp. 21 Milliar Kota Malang : Rp. 20 Milliar Bojonegoro : Rp. 19 Milliar Kota Surabaya : Rp. 17 Milliar Temanggung : Rp. 15 Milliar


Download ppt "Aspek Ekonomi Pengendalian Rokok di Indonesia Abdillah Ahsan MSE. Peneliti Lembaga Demografi – FEUI Dosen FEUI Disampaikan Pada “ PERTEMUAN SOSIALISASI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google