Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

IS THE RESOURCES BASED “VIEW” A USEFUL PRESPECTIVE FOR STRATEGIC MANAGEMENT RESEARCH? Richard L. Priem John E Butler.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "IS THE RESOURCES BASED “VIEW” A USEFUL PRESPECTIVE FOR STRATEGIC MANAGEMENT RESEARCH? Richard L. Priem John E Butler."— Transcript presentasi:

1 IS THE RESOURCES BASED “VIEW” A USEFUL PRESPECTIVE FOR STRATEGIC MANAGEMENT RESEARCH? Richard L. Priem John E Butler

2 Tujuan Artikel Outline conceptual challenges for improving this situation, including rigorously formalizing the RBV, answering the causal "how" questions, incorporating the temporal component, and integrating the RBV with demand heterogeneity models.

3 Two Elementary Question 1.Is the foundational and unembellished RBV actually a theory? 2.Is the RBV likely to be useful for building understanding in strategic management? 1.Is the foundational and unembellished RBV actually a theory? 2.Is the RBV likely to be useful for building understanding in strategic management?

4 DEFINITION AND DIFFUSION OF THE RBV Kontribusi utama dari artikel ini adalah untuk mengarahkan peneliti strategi kembali ke resources sebagai anteseden penting untuk produk dan kinerja perusahaan. Identifikasi isu-isu yang berpotensi tinggi dapat membantu mengarahkan pembangunan teori dan penelitian sekaligus mengklarifikasi kontribusi potensi RBV dalam bidang strategi. Kontribusi utama dari artikel ini adalah untuk mengarahkan peneliti strategi kembali ke resources sebagai anteseden penting untuk produk dan kinerja perusahaan. Identifikasi isu-isu yang berpotensi tinggi dapat membantu mengarahkan pembangunan teori dan penelitian sekaligus mengklarifikasi kontribusi potensi RBV dalam bidang strategi.

5 Pendekatan yang dilakukan Mengevaluasi tingkat difusi RBV pada seluruh literatur strategi yang menggunakan topik penelitian strategi Memeriksa kerangka dasar RBV, seperti disajikan di artikel Barney (1991) yang bersifat ekspositoris, untuk melihat persyaratan utama dalam theoritical sytem Tabel 1 menunjukkan perwakilan definisi RBV sebagai usaha Barnney (1991) untuk memformalkan RBV sebagai teori. Mengevaluasi tingkat difusi RBV pada seluruh literatur strategi yang menggunakan topik penelitian strategi Memeriksa kerangka dasar RBV, seperti disajikan di artikel Barney (1991) yang bersifat ekspositoris, untuk melihat persyaratan utama dalam theoritical sytem Tabel 1 menunjukkan perwakilan definisi RBV sebagai usaha Barnney (1991) untuk memformalkan RBV sebagai teori.

6

7 Argumen Barney terhadap asumsinya: 1.Resources yang langka dapat menghasilkan competitive advantage 2.Ketika resources tersebut imitable tidak dapat disubstitusikan dan tidak transferable, bisa menghasilkan sustainable competitive advantage Untuk mengevaluasi tingkat formalitas difusi RBV, Priem memetakan studi RBV versus eighteen strategy research topic originally yang diidentifikasi oleh Schendel and Hofer (1979) yang kemudian digunakan Shrivasta (1987) untuk mengkategorikan program riset strategic management Argumen Barney terhadap asumsinya: 1.Resources yang langka dapat menghasilkan competitive advantage 2.Ketika resources tersebut imitable tidak dapat disubstitusikan dan tidak transferable, bisa menghasilkan sustainable competitive advantage Untuk mengevaluasi tingkat formalitas difusi RBV, Priem memetakan studi RBV versus eighteen strategy research topic originally yang diidentifikasi oleh Schendel and Hofer (1979) yang kemudian digunakan Shrivasta (1987) untuk mengkategorikan program riset strategic management

8

9 Pengujian Teori RBV Evaluate fundamental RBV statements as to their "lawlike" status. Investigate aspects of the logic of the RBV for theoretical force and internal consistency. Evaluate fundamental RBV statements as to their "lawlike" status. Investigate aspects of the logic of the RBV for theoretical force and internal consistency.

10 Lawlike Generalizations in the RBV Teori adalah serangkaian statement terkait yang sistematis, termasuk beberapa generalisasi seperti lawlike, yang dapat diuji secara empiris Mengevaluasi RBV sebagai sistem teoritis dengan mengandalkan skema dan definisi yang diusulkan oleh Rudner (1966), Bacharach (1989), Whetten (1989, Hunt(1991), dan McKelvey (1997), dengan mengacu pada ide orang lain di mana menjelaskan eksposisi khusus untuk RBV. Sistem statement memiliki kekuatan scientific theory harus lawlike mencakup (1) are generalized conditionals, (2) have empirical content, and (3) exhibit nomic necessity. Teori adalah serangkaian statement terkait yang sistematis, termasuk beberapa generalisasi seperti lawlike, yang dapat diuji secara empiris Mengevaluasi RBV sebagai sistem teoritis dengan mengandalkan skema dan definisi yang diusulkan oleh Rudner (1966), Bacharach (1989), Whetten (1989, Hunt(1991), dan McKelvey (1997), dengan mengacu pada ide orang lain di mana menjelaskan eksposisi khusus untuk RBV. Sistem statement memiliki kekuatan scientific theory harus lawlike mencakup (1) are generalized conditionals, (2) have empirical content, and (3) exhibit nomic necessity.

11 Generalized Conditionals Generalized Conditionals adalah pernyataan “if / then". RBV jelas mengandung pernyataan seperti: Pendukung RBV menyatakan bahwa jika atribut perusahaan rare dan valuable, maka atribut resources dapat memberikan competitive advantage bagi perusahaan. Dan resources yang diberikannya competitive advantage bagi perusahaan sulit untuk ditiru dan tidak bisa disubstitusikan, maka resources tersebut dapat memberikan perusahaan sustainable competitive advantage (Barney, 1991). Hal ini merupakan generalized conditional dan sesuai dengan kriteria Rudner Generalized Conditionals Generalized Conditionals adalah pernyataan “if / then". RBV jelas mengandung pernyataan seperti: Pendukung RBV menyatakan bahwa jika atribut perusahaan rare dan valuable, maka atribut resources dapat memberikan competitive advantage bagi perusahaan. Dan resources yang diberikannya competitive advantage bagi perusahaan sulit untuk ditiru dan tidak bisa disubstitusikan, maka resources tersebut dapat memberikan perusahaan sustainable competitive advantage (Barney, 1991). Hal ini merupakan generalized conditional dan sesuai dengan kriteria Rudner

12 Empirical Content Membahas semantik dan logic of theory, bukan ketidakjelasan. Kriteria konten empiris membantu pemisahan pernyataan pure analytic, yang benar karena bentuk "either/or" atau karena cara mereka mendefinisikan istilah, dari pernyataan sintetis, yang dapat kita ketahui benar hanya setelah penyelidikan (Hunt, 1991 ). Nontheoretical, laporan analitik dapat ditentukan untuk menjadi benar atau salah berdasarkan logika atau definisi istilah. Membahas semantik dan logic of theory, bukan ketidakjelasan. Kriteria konten empiris membantu pemisahan pernyataan pure analytic, yang benar karena bentuk "either/or" atau karena cara mereka mendefinisikan istilah, dari pernyataan sintetis, yang dapat kita ketahui benar hanya setelah penyelidikan (Hunt, 1991 ). Nontheoretical, laporan analitik dapat ditentukan untuk menjadi benar atau salah berdasarkan logika atau definisi istilah.

13 Barney mendefinisikan competitive advantage as a firm "implementing a value creating strategy not simultaneously being implemented by any current or potential competitors“ Further, he reasons that competitive advantage cannot exist for identical firms, because since "these firms all implement the same strategies, they will improve their efficiency and effectiveness in the same way, and to the same extent" (1991: 102, 104). Barney mendefinisikan competitive advantage as a firm "implementing a value creating strategy not simultaneously being implemented by any current or potential competitors“ Further, he reasons that competitive advantage cannot exist for identical firms, because since "these firms all implement the same strategies, they will improve their efficiency and effectiveness in the same way, and to the same extent" (1991: 102, 104).

14 Revised statements 1."Uncommon organizational attributes that enable tiims to conceive of and imp Jem en f value-creating strategies can be a source of implementing a value-creating strategy not simultaneously being implemented by any current or potential competitors," 2."Uncommon organizational attributes that enable a firm to conceive oi or implement strategies that improve its efficiency and effectiveness can be a source that may enable a firm to conceive of or implement strategies that improve its efficiency and effectiveness," and 3."Uncommon organizational attributes that expJoif opportune (ies and neutralize threats in a firm's environment can be a source of implementing an opportunity-exploiting and threat-neutralizing strategy not simultaneously being implemented by any current or potential competitors." 1."Uncommon organizational attributes that enable tiims to conceive of and imp Jem en f value-creating strategies can be a source of implementing a value-creating strategy not simultaneously being implemented by any current or potential competitors," 2."Uncommon organizational attributes that enable a firm to conceive oi or implement strategies that improve its efficiency and effectiveness can be a source that may enable a firm to conceive of or implement strategies that improve its efficiency and effectiveness," and 3."Uncommon organizational attributes that expJoif opportune (ies and neutralize threats in a firm's environment can be a source of implementing an opportunity-exploiting and threat-neutralizing strategy not simultaneously being implemented by any current or potential competitors."

15 Masalah mendasar dalam pernyataan “resources organisasi yang berharga dan langka dapat menjadi sumber competitive advantage" (Barney, 1991: 107) Competitive advantage didefinisikan berupa value dan rarity dan karakteristik sumber daya diargumentasikan mengakibatkan competitive advantage adalah value dan rarity. Sebaliknya, karakteristik dan outcome harus dikonsep secara independen untuk menghasilkan synthetic statement. Masalah mendasar dalam pernyataan “resources organisasi yang berharga dan langka dapat menjadi sumber competitive advantage" (Barney, 1991: 107) Competitive advantage didefinisikan berupa value dan rarity dan karakteristik sumber daya diargumentasikan mengakibatkan competitive advantage adalah value dan rarity. Sebaliknya, karakteristik dan outcome harus dikonsep secara independen untuk menghasilkan synthetic statement.

16 Nomic Necessity Nomic necessity is the characteristic of theory that demands "the occurrence of some phenomenon must be associated with some other phenomenon; the relationship cannot be, simply, by chance" (Hunt, 1991: 111). To be a lawlike generalization, a statement must possess theoretical force by describing relationships that must occur, rather than by specifying accidental or spurious relationships (Gaski, 1985). Nomic necessity is the characteristic of theory that demands "the occurrence of some phenomenon must be associated with some other phenomenon; the relationship cannot be, simply, by chance" (Hunt, 1991: 111). To be a lawlike generalization, a statement must possess theoretical force by describing relationships that must occur, rather than by specifying accidental or spurious relationships (Gaski, 1985).

17 The Logic of RBV Jika suatu perusahaan secara konsisten menghasilkan nilai yang lebih besar daripada yang dihasilkan oleh perusahaan lain dalam industri, ia harus memiliki setidaknya satu rare resources. Jika suatu perusahaan memiliki rare resources, tidak berarti bahwa hal itu akan menghasilkan nilai lebih besar dari perusahaan lain dalam industri. Nilai sumber daya ditentukan oleh karakteristik sisi permintaan, dengan model RBVeksogen. Jika suatu perusahaan secara konsisten menghasilkan nilai yang lebih besar daripada yang dihasilkan oleh perusahaan lain dalam industri, ia harus memiliki setidaknya satu rare resources. Jika suatu perusahaan memiliki rare resources, tidak berarti bahwa hal itu akan menghasilkan nilai lebih besar dari perusahaan lain dalam industri. Nilai sumber daya ditentukan oleh karakteristik sisi permintaan, dengan model RBVeksogen.

18 Gambar 1 menunjukkan bagaimana product markets mempengaruhi factor value melalui model yang disederhanakan untuk single factor of production dan single product, di mana tidak faktor biaya maupun faktor kuantitas yang tetap

19 IS THE RBV SUITABLE FOR STRTAGEY RESEARCH? Charateristic of strategy and the RBV The field of strategic management has a number of distinctive characteristics that include embracing practitioners and valuing prescription (Barney, 1992). Meyer has noted, for example, that "true to its general management orien­tation, the field of strategy has consistently used firm level performance as the definitive depen­dent variable" (1991: 824). A fundamental question for strategy researchers is the utility of the RBV in developing meaning­ful management tools in the form of actionable prescriptions for practitioners Charateristic of strategy and the RBV The field of strategic management has a number of distinctive characteristics that include embracing practitioners and valuing prescription (Barney, 1992). Meyer has noted, for example, that "true to its general management orien­tation, the field of strategy has consistently used firm level performance as the definitive depen­dent variable" (1991: 824). A fundamental question for strategy researchers is the utility of the RBV in developing meaning­ful management tools in the form of actionable prescriptions for practitioners

20 Prescription regarding competitive advantage itself, however, still is hindered because the cri­teria for value in the RBV remain, at present, in an exogenous "black box."

21 Boundaries of the RBV Dubin (1976) dan Whetten (1989) berpendapat bahwa aspek teori sama pentingnya dengan teori itu sendiri dimana identifikasi konteks teori diharapkan berkelanjutan. Miller dan Shamsie (1996) mengambil langkah menuju pembentukan batas-batas atas RBV dengan konteks hipotesis di mana resources tertentu ditentukan untuk menjadi lebih atau kurang berharga. Tindakan ini adalah salah satu usaha pertama untuk mengintegrasikan model RBV dan model lingkungan dengan mengidentifikasi nilai-nilai resources melalui karakteristik product markets. Dubin (1976) dan Whetten (1989) berpendapat bahwa aspek teori sama pentingnya dengan teori itu sendiri dimana identifikasi konteks teori diharapkan berkelanjutan. Miller dan Shamsie (1996) mengambil langkah menuju pembentukan batas-batas atas RBV dengan konteks hipotesis di mana resources tertentu ditentukan untuk menjadi lebih atau kurang berharga. Tindakan ini adalah salah satu usaha pertama untuk mengintegrasikan model RBV dan model lingkungan dengan mengidentifikasi nilai-nilai resources melalui karakteristik product markets.

22 All Inclusive Resources Resources berarti sesuatu yang bisa dianggap sebagai kekuatan atau kelemahan untuk perusahaan tertentu. Resources suatu perusahaan pada waktu tertentu dapat didefinisikan sebagai aset mereka (tangible dan intangible) yang terikat semipermanently bagi perusahaan (Gua. 1980). Mengidentifikasi sumber daya tertentu mungkin sangat efektif untuk pelaku dalam konteks tertentu mungkin membantu langkah pertama dalam membangun batas-batas (dan kontribusi) RBV dalam manajemen strategis. Resources berarti sesuatu yang bisa dianggap sebagai kekuatan atau kelemahan untuk perusahaan tertentu. Resources suatu perusahaan pada waktu tertentu dapat didefinisikan sebagai aset mereka (tangible dan intangible) yang terikat semipermanently bagi perusahaan (Gua. 1980). Mengidentifikasi sumber daya tertentu mungkin sangat efektif untuk pelaku dalam konteks tertentu mungkin membantu langkah pertama dalam membangun batas-batas (dan kontribusi) RBV dalam manajemen strategis.

23 The Process Black Box and the RBV Pertanyaan "How" menangani masalah black box dalam penelitian strategi (Lawrence, 1997; Whetten, 1989). When, where dan who merupakan tiga pertanyaan, Whetten berpendapat, perlu "menetapkan batas generalisasi, dan diambil dari berbagai teori" (1989: 492). Miller dan Shamsie (1996) telah mengangkat dan mulai menjawab pertanyaan penting when, ehere dan how tentang resources berbasis pengetahuan dan kinerja perusahaan. Pertanyaan "How" menangani masalah black box dalam penelitian strategi (Lawrence, 1997; Whetten, 1989). When, where dan who merupakan tiga pertanyaan, Whetten berpendapat, perlu "menetapkan batas generalisasi, dan diambil dari berbagai teori" (1989: 492). Miller dan Shamsie (1996) telah mengangkat dan mulai menjawab pertanyaan penting when, ehere dan how tentang resources berbasis pengetahuan dan kinerja perusahaan.

24 Static and Dynamic Approaches to the RBV Argumen RBV statis memiliki keterbatasan 1.Deskriptif, mengidentifikasi karateristik umum resources tanpa memperhatikan dan mambandingka resources yang berbeda 2.Melalui proses mana resources tertentu memberikan competitive advantage tetap berada dalam black box 3.Beberapa resources dipelajari, seperti tacit knowledge, secara inheren, praktisi sulit memanipulasinya 4.Dalam penelitian RBV, sering menyebut variabel independen “resources” dan variabel dependen “competitive advantage” 5.Masalah itu cukup mudah diidentifikasi, posteriori, banyak resources yang valuable pada perusahaan yang berkinerja tinggi Hal diatas bisa membatasi kegunaannya bagi peneliti Argumen RBV statis memiliki keterbatasan 1.Deskriptif, mengidentifikasi karateristik umum resources tanpa memperhatikan dan mambandingka resources yang berbeda 2.Melalui proses mana resources tertentu memberikan competitive advantage tetap berada dalam black box 3.Beberapa resources dipelajari, seperti tacit knowledge, secara inheren, praktisi sulit memanipulasinya 4.Dalam penelitian RBV, sering menyebut variabel independen “resources” dan variabel dependen “competitive advantage” 5.Masalah itu cukup mudah diidentifikasi, posteriori, banyak resources yang valuable pada perusahaan yang berkinerja tinggi Hal diatas bisa membatasi kegunaannya bagi peneliti

25 Diskusi 1.Considerable conceptual work remains before the RBV can meet the requirements of a theoretical structure; 2. The RBV makes implicit assumptions about product markets, just as earlier environment-based models made implicit assumptions about resources; and 3. The fundamental "value" variable is exogenous to the RBV. As a perspective for strategy research, 4.Overly inclusive definitions of resources make it more difficult to establish contextual and prescriptive boundaries, and 5. Static, cross-sectional approaches to RBV development may result in causal hows and whys remaining in a black box. 1.Considerable conceptual work remains before the RBV can meet the requirements of a theoretical structure; 2. The RBV makes implicit assumptions about product markets, just as earlier environment-based models made implicit assumptions about resources; and 3. The fundamental "value" variable is exogenous to the RBV. As a perspective for strategy research, 4.Overly inclusive definitions of resources make it more difficult to establish contextual and prescriptive boundaries, and 5. Static, cross-sectional approaches to RBV development may result in causal hows and whys remaining in a black box.

26 Orang berspekulasi bahwa RBV hanyalah trend keilmuan maajemen dan telah memperoleh penerimaan karena penerapannya yang luas dan terminologinya menarik. Tantangan kritis termasuk memformalisasikan RBV, menjawab pertanyaan bagaimana, menggabungkan komponen waktu, dan mengintegrasikan RBV dengan model heterogenitas permintaan. Prasyarat untuk teori (Rudner, 1966) adalah bahwa laporan harus sistematis dan terkait, sehingga memiliki konsistensi internal (Dubin, 1976). Untuk memeriksa konsistensi internal, semua konsep dalam setiap pernyataan teori harus didefinisikan secara jelas, semua hubungan antar konsep harus ditentukan dengan jelas, dan semua keterkaitan antara pernyataan dalam teori harus digambarkan dengan jelas (Hunt, 1991: 152). Orang berspekulasi bahwa RBV hanyalah trend keilmuan maajemen dan telah memperoleh penerimaan karena penerapannya yang luas dan terminologinya menarik. Tantangan kritis termasuk memformalisasikan RBV, menjawab pertanyaan bagaimana, menggabungkan komponen waktu, dan mengintegrasikan RBV dengan model heterogenitas permintaan. Prasyarat untuk teori (Rudner, 1966) adalah bahwa laporan harus sistematis dan terkait, sehingga memiliki konsistensi internal (Dubin, 1976). Untuk memeriksa konsistensi internal, semua konsep dalam setiap pernyataan teori harus didefinisikan secara jelas, semua hubungan antar konsep harus ditentukan dengan jelas, dan semua keterkaitan antara pernyataan dalam teori harus digambarkan dengan jelas (Hunt, 1991: 152).

27 Simpulan RBV saat ini tidak muncul untuk memenuhi kriteria empirical content yang diperlukan pada theoritical system Hal ini tidak berarti bahwa conceptual work dimulai dari resources prespective bukan teori Juga tidak berarti bahwa RBV tidak memiliki potensi untuk mencapai status teori di masa depan. Potensi terbesar kemungkinan hanya akan terwujud melalui penggunaan complementary dan integrated RBV secara bersama, dan demand oriented prespective. Usaha peneliti RBV untuk memformalkan RBV, untuk menjawab pertanyaan bagaimana, dan untuk menggabungkan komponen temporal yang masing-masing akan mungkin memberikan peningkatan kontribusi. RBV saat ini tidak muncul untuk memenuhi kriteria empirical content yang diperlukan pada theoritical system Hal ini tidak berarti bahwa conceptual work dimulai dari resources prespective bukan teori Juga tidak berarti bahwa RBV tidak memiliki potensi untuk mencapai status teori di masa depan. Potensi terbesar kemungkinan hanya akan terwujud melalui penggunaan complementary dan integrated RBV secara bersama, dan demand oriented prespective. Usaha peneliti RBV untuk memformalkan RBV, untuk menjawab pertanyaan bagaimana, dan untuk menggabungkan komponen temporal yang masing-masing akan mungkin memberikan peningkatan kontribusi.

28 Terima Kasih


Download ppt "IS THE RESOURCES BASED “VIEW” A USEFUL PRESPECTIVE FOR STRATEGIC MANAGEMENT RESEARCH? Richard L. Priem John E Butler."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google