Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc. Drh. Hembang MP.  Disebut juga infectious keratoconjungtivitis atau infectious opthalmia  Menyerang sapi, domba, kambing,

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc. Drh. Hembang MP.  Disebut juga infectious keratoconjungtivitis atau infectious opthalmia  Menyerang sapi, domba, kambing,"— Transcript presentasi:

1 Drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc. Drh. Hembang MP

2  Disebut juga infectious keratoconjungtivitis atau infectious opthalmia  Menyerang sapi, domba, kambing, dan domba dicirikan oleh blefarospasmus, konjungtivitis, lakrimasi, dan berbagai tingkat kekeruhan dan ulserasi kornea  Infectious bovine keratoconjungtivitis (IBK: ‘pinkeye’) adalah penyakit mata yang paling umum diamati pada sapi di seluruh dunia  Bakteri batang, Gram negatif: Moraxella bovis adalah organisma yang paling sering ditemukan pada IBK  Moraxella bovis memiliki 7 serotipe

3  Infectious bovine rhinotracheitis (IBR) dapat dikacaukan dengan IBK. Namun, IBR menyebabkan konjungtivitis tetapi sedikit atau bahkan tidak ada peradangan kornea (keratitis) maupun ulserasi kornea  Mycoplasma spp dapat juga menyebabkan konjungtivitis, baik sendiri atau bersamaan dengan Moraxella bovis

4  Pada domba dan kambing, konjungtivitis ataupun keratokonjungtivitis dihubungkan dengan infeksi Chlamydophila psittaci dan C pecorum  Dapat juga disebabkan oleh Mycoplasma conjungtivae, dan Moraxella ovis  Pada kambing, infeksi oleh Mycoplasma paling sering terjadi  Oleh karena adanya kemungkinan risiko zoonosis maka seseorang harus menggunakan sarung tangan saat mengobati hewan terinfeksi pinkeye

5  Penyakit biasanya akut dan cenderung menyebar secara cepat.  Salah satu atau kedua mata bisa terinfeksi  Lalat muka, radiasi UV dari matahari yang tajam, lingkungan kering dan berdebu, stress transportasi merupakn faktor2 risiko yang berkontribusi terhadap pinkeye  Pada banyak species, hewan muda adalah yang terbanyak terinfeksi tetapi semua umur hewan peka

6  Gejala klinis paling awal adalah fotopobia, blefarospasmus, dan epifora  Selanjutnya cairan mata menjadi mukopurulen. Konjungtivitis dengan berbagai tingkat keratitis hampir selalu terjadi.  Pada domba dan kambing, dapat terjadi polyarthritis  Pada kambing, infeksi ambing dan uterus dapat saja terjadi bersamaan dengan keratokonjungtivitis  Nafsu makan hilang dikarenakan ketidaknyamanan pada mata ataupun kehilangan kemampuan mata untuk menemukan makanan

7  Gejala klinis dapat berlangsung selama beberapa hari hingga minggu  Sebagaian besar ulserasi kornea pada sapi penderita IBK dapat sembuh tanpa kehilangan daya penglihatan  Namun, ruptur kornea dan kebutaan permanen dapat terjadi pada infeksi/kasus yang berat

8 Stadium lanjut Stadium awal

9  Terapkan praktik manajemen yang baik  Pemisahan hewan sakit dari yang sehat  Radiasi UV dari sinar matahari dapat memperparah penyakit. Oleh karena itu hewan sakit harus diisolasi dari sinar matahari langsung  Aplikasikan insektisida untuk mengurangi populasi lalat wajah (Musca autumnalis), vektor penting bagi M bovis  Vaksin atau bakterin M bovis tersedia untuk mencegah infeksi pinkeye pada sapi; diberikan sebelum musim lalat atau diberikan 6-8 minggu sebelum perkiraan datangnya wabah IBK agar menyediakan cukup waktu bagi pembentukan imunitas

10  M bovis peka terhadap berbagai antibiotika  Injeksi penicillin langsung ke dalam konjungtiva (harus dilakukan secara hati-hati)  Injeksi Oxytetracycline LA (2 injeksi dengan dosis 20 mg/kg BB, IM atau SC dengan interval 48 – 72 jam) atau sekali injeksi dengan tulathromycin 2,5 mg/kg BB  Pada domba dan kambing, dimana infeksi chlamydophila dan mycoplasma dominan, direkomendasi pengobatan topikal dengan salep tetracycline, oxytetracycline / polymyxin B, atau erythromycin  Pengobatan topikal tsb diterapkan 3-4 kali sehari

11  Jika pengobatan topikal tidak praktis, dapat diinjeksi dengan oxytetracycline LA (20 mg/kg BB, IM) atau penambahan oxytetracycline ke dalam pakan (80 mg/ekor/hari)  Hewan yang menderita kesakitan akibat uveitis sebagai efek sekunder keratokonjungtivitis dapat diredakan dengan aplikasi salep atropin 1%, 1 -3 kali sehari

12

13  S suis termasuk Lancefield grup D  Hasilkan Alfa hemolisis (hemolisis incomplete)  Distribusi secara luas di seluruh dunia; 35 serotipe  70% adalah serotipe 1 – 9  Terbanyak adalah serotipe 2  S suis normal ditemukan di saluran pernapasan bagian atas, terutama tonsil dan rongga hidung  Juga ditemukan dalam organ genital dan saluran pencernaan babi  Infeksi klinis terutama diamati pada babi sapihan (2-5 minggu setelah sapih), babi muda, tetapi jarang pada babi menyusui

14 Gram-positive cocci, mostly in pairs and short chains, found in cerebrospinal fluid from a 34-year-old man with Streptococcus suis meningitis.

15 Koloni S suis (kecil dan halus)

16  S suis ditemukan di seluruh dunia, pada peternakan yang intensif  Tipe 2 adalah yang terbanyak (90%) menginfeksi  Babi yang sehat secara klinis ternyata dapat menjadi karier bagi sejumlah serotipe  Anak babi terkolonisasi oleh S suis dari sekresi vaginal saat proses kelahirannya (partus) atau selama menyusui pada induk  Penularan di antara kelompok terjadi akibat perpindahan atau pencampuran dengan babi- babi karir yang terlihat sehat  Pemasukan ke dalam kelompok non-infeksi biasanya langsung diikuti dengan kejadian penyakit pada babi sapih dan/atau babi-babi muda

17  Beberapa kelompok yang tidak menunjukkan penyakait dapat saja menunjukkan penyakit tsb ketika berada dalam keadaan stress dan adanya agen penyakit lain  Wabah S suis dilaporkan terjadi bersamaan dengan porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS)

18  Gejala awal berupa demam, dibarengi dengan septisemia yang bertahan beberapa hari jika tidak diobati  Selama periode tsb di atas, terjadi demam yang fluktuatif, hewan lesu, depresi, pincang bergantian.  Pada perakut, hewan mati tanpa menunjukkan gejala  Meningitis adalah gejala yang paling menciri dan sering digunakan sebagai dasar diagnosa presumtif  Tanda-tanda syarafi meliputi depresi, inkoordinasi, ketidakmampuan berdiri, kaki mendayung (paddling), opisthotonus, konvulsi, dan nystagmus

19  Endokarditis juga sering ditemukan pada anak babi yang lebih tua  Babi terinfeksi mungkin juga memperlihatkan tanda-tanda dispnea, & cyanosis  Pembengkakan sendi dan pincang merupakan indikasi adanya poly-arthritis  Gejala gangguan respirasi juga kadang teramati

20  Lesi kebanyakan diamati pada babi sapihan dan babi muda  Lesi meliputi limfadenopati, meningitis, arthritis, serositis, dan endokarditis  Dapat juga teramati eksudat fibrinopurulen di otak, pembengkakan sendi, serositis fibrinous, dan cardiac valvular vegetations  Splenomegali dan hemoragi petekial yang mengindikasikan adanya septisemia dapat juga diamati  Lesi berupa septisemia, meningitis, atau polyarthritis dapat diamati pada anak babi yang menyusui

21 Pneumonia dan pleurisi akibat infeksi S suis tipe 2 Valvular endocarditis

22  Diagnosis presumtif umumnya didasarkan pada riwayat, gejala-gejala klinis, umur hewan, dan lesi-lesi makro.  Isolasi dan penentuan serotipe kuman, dan evaluasi terhadap lesi-lesi mikroskopis dapat meneguhkan diagnosis  Uji serologis tidak selalu tersedia  Karakterisasi genetik oleh laboratorium tertentu penting untuk studi epidemiologis

23  Pengenalan gejala awal dan pengobatan antibiotik secara parenteral adalah metode terbaik penanganan infeksi S suis  Antibiotik beta-lactam, seperti ampicillin dan amoxicillin cukup efektif  Anti radang diperlukan untuk mengurangi peradangan organ atau jaringan  S suis peka terhadap disinfektan golongan aldehyde, hipoklorit, iodine, dan amonium quaternary  Vaksinasi tidak efektif

24  Manusia yang terinfeksi dengan S suis dapat mengalami septisemia, meningitis, kehilangan pendengaran permanen, endokarditis, dan arthritis  Mortalitas mencapai 7%  Mayoritas infeksi S suis pada orang adalah tipe 2  Penularan terjadi melalui kontaminasi luka pada kulit atau selaput lendir oleh darah atau seresi dari babi terinfeksi  Pekerja di peternakan babi, pekerja RPH babi, dan drh adalah pihak yang berisiko tinggi  Infeksi S suis pada orang ini dianggap sering tidak terdiagnosis (underdiagnose) dan tidak terlaporkan di banyak negara di dunia

25

26  Staphylococci adalah bakteri gram positif yang berbentuk coccus berpasangan, membentuk rantai pendek atau bergerombol  Bersifat facultatively anaerobic, tumbuh secara baik pada situasi aerob  Semua species Staphylococcus adalah catalase positive  Menyerang pada hewan dan manusia  Bersifat akut dan kronis.

27

28  35 species, tetapi hanya 5 yang penting kepentingan veteriner  2 species yang sangat penting : 1. S. aureus 2. S. intermedius  Staphylococci ditemukan di seluruh dunia  Terdapat di saluran respiratory atas dan di permukaan epitel semua hewan berdarah panas dan Gastro intestinal  Coagulase-positive species (S. aureus and S intermedius) hidup di distal nasal, external nares, kulit, mucocutaneous borders seperti perineum, external genitalia

29  Coagulase-negative staphylococci (khususnya S. epidermidis) terdapat di kulit dan saluran respiratory bagian atas  Staphylococci juga ditemukan di produk ternak (daging, keju, susu)  Staphylococci dapat ditemukan tanah, debu, udara dan air

30 SpeciaesHostCoagulaseDisease S. aureus++++ humans, horses, ruminants, birds, pigs, cats, (dogs) positivecommon pathogen (pyogenic) of humans and animals S. intermedius++++dogs (cats, cattle) positiveleading pus forming bacteria in dogs S. epidermidis+humans, cattle, dogs, horses (cats) negativepart of normal flora of skin + some mucous membranes; common contaminant of cultures; rarelypathogenic

31 S. hyicus+pigssome are positive exudative dermatis and arthritis in pigs and rarely bovine mastitis S. schleiferi ssp. coagulans++ dogspositiveotitis externa in dogs

32  ENDOGENOUS ( Most infections are caused by the resident strain of bacteria on the animal host)  EXOGENOUS : infeksi dari hewan yang sakit secara langsung maupun tidak langsung melalui fomites (partikel, debu, sekresi), soil, udara and air For example, organisms causing mastitis may be transferred from one cow to another on the hands of the milker, or in the teat dip at the time of milking and therefore management practices and milking hygiene significantly influence the prevalence of staphylococcal mastitis  Staphylococci resisten terhadap disinfectan dan pengeringan  Penularan antar species (e.g. humans-to-cows, dogs- to-humans, humans-to-horses)

33 Swollen hock joint wollen hock joint in a standardbred racehorse called “Used to Run Fast” The joint had been injected 3 days previously with a corticosteroid. A pure culture of a coagulase positive S. aureus was isolated from the joint. This is called septic arthritis 1. Arthritis and Osteomyelitis S aureus is a relatively common cause of septic arthritis in adult horses (and other species)

34 2. Bovine Mastitis  S. aureus is one of the major causes of bovine mastitis worldwide (along with Streptococci and coliforms) and results in significant economic losses  infections occur via the teat canal  the course of infection may be subclinical, acute suppurative, gangrenous (due to alpha haemolysin) or chronic depending on infecting strain, infecting dose, and host resistance  Chronic and subclinical infections are most common 

35 A case of gangrenous mastitis in a cow caused by S. aureus

36 3. Urolithiasis and Cystitis  phosphate (struvite or apatite) urolithiasis of dogs and mink is commonly associated with S. intermedius infections and is associated with urease production by the bacteria (urease breaks down urea to produce ammonia, which increases the pH of urine and leads to precipitation of struvite crystals)  cystitis is a common sequelae to urolithiasis

37 4. Canine Pyoderma  the term “canine pyoderma” covers many clinical pictures, all of which include some degree of pyogenic skin inflammation associated with bacterial infection  S. intermedius is the chief bacterium implicated (occasionally S. aureus), however, the contribution of S. intermedius to the disease process, and the degree of suppuration, is variable  in chronic and recurrent forms, type III and IV hypersensitivity reactions are also thought to be involved  host aspects (concurrent infections, genetic, endocrine, immunological factors) also play an important role  pyoderma is also a problem in horses, and wild and domestic rabbits

38 5. Otitits Externa  S. intermedius together with S. schleiferi ssp coagulans are common causes of otitis externa in dogs 6. Bumble Foot  Bumble Foot is a disease of gallinaceous birds  it is seen as chronic pyogranulomatous process in the subcutaneous tissues of the foot resulting in thick-walled swelling of one or more joints

39  Antibiotics  Pemberian secara topical atau suntik  streptomycin, tetracyclines  Vaccines

40


Download ppt "Drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc. Drh. Hembang MP.  Disebut juga infectious keratoconjungtivitis atau infectious opthalmia  Menyerang sapi, domba, kambing,"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google