Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Samuel Raymond RW Yohanes Edwin B. LENSA NORMAL Posisi Lensa di Bola Mata.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Samuel Raymond RW Yohanes Edwin B. LENSA NORMAL Posisi Lensa di Bola Mata."— Transcript presentasi:

1 Samuel Raymond RW Yohanes Edwin B

2 LENSA NORMAL

3 Posisi Lensa di Bola Mata

4 Anatomi Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg

5 Fisiologi Transparansi  untuk keperluan refraksi Avaskular, kapsul yang permeabel, dehidrasi relatif, glutation Metabolisme  sebagian besar untuk transpor aktif Sumber dari aqueous humour Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg

6

7 KATARAK

8 Definisi Kekeruhan lensa yang bersifat progresif Berasal dari katarrhakies  air terjun Faktor paling banyak : penuaan PERDAMI. Katarak. Available from Cited on : Monday : 20:00

9 Epidemiologi Merupakan 51% kebutaan di dunia (20 juta jiwa) Onset di negara berkembang lebih cepat dibandingkan dengan negara maju Perbandingan wanita : pria = 1:8 Indonesia : 1,02% dari 1,47% kebutaan pada populasi Permasalahan : jumlah lansia yang semakin banyak WHO. Cataract. Available from cited on Monday : 21:00www.who.int Soehardjo. Kebutaan Katarak : faktor risiko, gejala klinis, pengendalian. Jogja : UGM, 2008

10 Dampak katarak dalam aspek kehidupan Indra penglihat mempunyai berbagai fungsi seperti binocular vision, peripheral vision, kemampuan visuospasial, dan penglihatan dari berbagai jarak. Kehilangan daya penglihatan sebelah mata dapat menurunkan fungsi yang membutuhkan kemampuan dua bola mata seperti visuospasial dan binocular. Fungsi visual mempunyai peran penting untuk kesehatan fisik dan mental, salah satunya adalah mobilitas. Pada pasien usia lanjut, kehilangan daya penglihatan, Penurunan persepsi jarak dan kontras secara independen dapat meningkatkan risiko jatuh dan fraktur pinggul. Collins N, Mizuiri D, Ravetto J, Lum FC. Cataract in the adult eye. San Fransisco : American Academy of Ophthalmology; Page 4-6.

11 Etiologi Penyebab paling banyak : usia. Usia menyebabkan lensa menjadi lebih tebal dan berat. Produksi serat lensa terus menerus menyebabkan pengerasan dan kompresi nukleus Faktor lain : Keturunan, kongenital Masalah kesehatan misalnya diabetes, Penggunaan obat tertentu Gangguan pertumbuhan Sinar UV Asap rokok Operasi mata trauma Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

12 Patofisiologi Katarak sinilis : lensa akan mengalami perubahan menjadi lebih berat dan tebal & penurunan akomodasi Epitel sel lensa akan menurun pada usia lanjut Berkurangnya transportasi pada usia lanjut (termasuk antioksidan) Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw- Hill; p

13 Klasifikasi Berdasarkan cara didapat katarak dibagi menjadi Kongenital, acquired Berdasarkan morfologi, katarak diklasifikasikan menjadi Subkapsular, inti, kortikal Berdasarkan stadium kematangan yakni Insipien, imatur, matur, hipermatur Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg

14 Katarak Kongenital adalah katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir. Terjadi pada 3 dari bayi, 2/3 kasus terjadi bilateral Dapat disebabkan oleh penyakit keturunan (autosomal dominan) sebanyak 25% kasus, atau infeksi kongenital, penyakit metabolik, malnutrisi. Penyakit Metabolik: Galacatoasemia Lowe Syndrome Fabry' disease Mannosidosis Infeksi Intrauterine Rubella Toksoplasmosis CMV varicella Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

15 Katarak Kongenital I. Congenital capsular cataracts 1. Anterior capsular cataract 2. Posterior capsular cataract II. Polar cataracts 1. Anterior polar cataract 2. Posterior polar cataract III. Nuclear cataract IV. Lamellar cataract V. Sutural and axial cataracts 1. Floriform cataract 2. Coralliform cataract 3. Spear-shaped cataract 4. Anterior axial embryonic cataract VI. Generalized cataracts 1. Coronary cataract 2. Blue dot cataract 3. Total congenital cataract 4. Congenital membranous cataract Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg

16 Congenital cataracts. (A) Nuclear; (B) lamellar; (C) dense lamellar with ‘riders’; (D) coronary; (E) dense blue dot; (F) sutural and fine blue dot Congenital cataracts. (A) Flat anterior polar; (B) pyramidal anterior polar; (C) anterior polar with persistent pupillary membrane; (D) posterior polar associated with Mittendorf dot; (E) ‘oil droplet’; (F) membranous Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

17 Katarak Didapat kekeruhan terjadi akibat degenerasi lensa yang sudah terbentuk sebelumnya. Mekanisme pasti mengapa terjadi degenerasi tersebut masih belum jelas. Faktor-faktor seperti fisikia, kimia, dan biologis yang mengganggu keseimbangan air dan elektrolit diduga mempengaruhi kekeruhan lensa. Berdasarkan penyebab, dibagi menjadi Katarak Senilis Katarak Metabolik Katarak Trauma Katarak Sekunder Kanski JJ. Clinical ophthalmology: a systematic approach – 7th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; P

18 Katarak Senilis paling sering dijumpai. Katarak ini biasanya bilateral, namun onset nya berbeda antara mata. Berdasarkan letaknya, katarak senilis dapat terjadi di kortikal, nukleus, dan subkapsular. Faktor-faktor yang berperan dalam katarak senilis: faktor keturunan, radiasi UV, diet, riwayat dehidrasi, dan merokok. faktor-faktor yang dapat membuat onset menjadi lebih cepat : faktor keturunan, DM (katarak nuklear), distrofi miotonik (katarak subkapsular) dan dermatitis atopik. Kanski JJ. Clinical ophthalmology: a systematic approach – 7th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; P

19 kortikal (katarak halus : gambar atas kanan, atas kiri, dan tengah kiri), nukleus (katarak kasar : gambar tengah kanan) subkapsular (gambar bawah kiri). Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

20 Mekanisme Kekeruhan. 1. Katarak senilis kortikal. Peningkatan usia/aging  penurunan protein, asam amino, kalium  peningkatan konsentrasi natrium dan hidrasi lensa  koagulasi protein yang ada di korteks  opasifikasi lensa 2. Katarak senilis nuklear. sklerosis nuklear yang berkaitan dengan dehidrasi dan penebalan nukleus  terjadi peningkatan protein tidak terlarut air  opasifikasi lensa Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg

21 Stadium Maturasi katarak 1.Katarak insipien 2.Katarak intumesen 3.Katarak imatur 4.Katarak matur 5.Katarak hipermatur 6.Katarak Morgagni (A) Mature cataract; (B) hypermature cataract with wrinkling of the anterior capsule; (C) Morgagnian cataract with liquefaction of the cortex and inferior sinking of the nucleus; (D) total liquefaction and absorption of the cortex with inferior sinking of the lens Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Kanski JJ. Clinical ophthalmology: a systematic approach – 7th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; P

22 Katarak Metabolik DM Hiperglikemia  kadar glukosa di humour aqueous ↑  glukosa difusi ke lensa  Metabolisme glukosa menjadi sorbitol oleh aldose reductase  Sorbitol terakumulasi di lensa  overhidrasi osmotik sekunder. Dermatitis atopi Terdapat pada 10% kasus Shield-like dense anterior subcapsular plaque, Posterior subcapsular opacities Myotonic Distrophy Terdapat pada 90% kasus posterior subcapsular opacities Neurofibromatosis type 2 Terdapat pada 60% kasus posterior subcapsular or capsular, cortical or mixed. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

23 (A)Diabetic snowflake cataract; (B) advanced diabetic cataract; (C) stellate posterior subcapsular cataract in myotonic dystrophy; (D) advanced left cataract in a patient with myotonic dystrophy; (E) bilateral advanced cataracts in atopic dermatitis; (F) shield-like anterior subcapsular cataract in atopic dermatitis Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

24 Katarak Sekunder terbentuk akibat penyakit mata lainnya. Penyebab paling sering adalah uveitis anterior kronik. (inflamasi di intraokuler  katabolisme pada batas darah- aqueous atau darah-vitreous. Penyakit lain: Acute congestive angle-closure High (pathological) myopia Hereditary fundus dystrophies Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

25 (A) Early uveitic posterior subcapsular cataract; (B) uveitic anterior plaque opacities; (C) extensive posterior synechiae and anterior lens opacity; (D) glaukomflecken

26 Katarak Trauma dapat terjadi akibat trauma tajam, tumpul, sengatan listrik, radiasi infra merah, dan radiasi ion. (A)Penetrating trauma; (B) blunt trauma; (C) electric shock and lightning strike; (D) infrared radiation (glassblower's cataract); (E) ionizing radiation Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

27 Gejala Klinis Katarak Katarak berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan nyeri disertai gangguan penglihatan yang muncul secara bertahap. Penglihatan kabur dan berkabut Fotofobia Penglihatan ganda Kesulitan melihat di waktu malam Sering berganti kacamata Perlu penerangan lebih terang untuk membaca Seperti ada titik gelap didepan mata Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

28 Gejala Klinis katarak menurut tempat terjadinya sesuai anatomi lensa : Katarak Inti/Nuclear Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat,dan untuk melihat dekat melepas kaca mata nya Penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning, lensa akan lebih coklat Menyetir malam silau dan sukar Katarak Kortikal Kekeruhan putih dimulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan Penglihatan jauh dan dekat terganggu Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra Katarak Subscapular Kekeruhan kecil mulai dibawah kapsul lensa, tepat jalan sinar masuk Dapat terlihat pada kedua mata Mengganggu saat membaca Memberikan keluhan silau dan ”halo” atau warna sekitar sumber cahaya Mengganggu penglihatan Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

29 Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan olftalmologis 1.visual acuity testing. 2.oblique illumination examination. 3.test for iris shadow. 4.distant direct ophthalmoscopic examination. 5.Slit-lamp examination. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p

30 Diagnosis Banding Katarak kongenital dengan tanda leukokoria retinoblastoma, retinopathy of prematurity, persistent hyperplastic primary vitreus (PHPV) Immature senile cataract (ISC) dapat didiagnosis banding dengan sklerosis nukleus Katarak matur dapat didiagnosis banding dengan penyebab lain refleks pupil putih (leukokoria) Katarak imaturSklerosis nukleus Penurunan visus progresif tanpa nyeri Lensa berwarna abu Bayangan iris adaBayangan iris tidak ada Titik hitam pada cahaya merah yang diamati pada olftalmoskopi langsung dari kejauhan Tidak ada titik hitam pada cahaya merah Pemeriksaan slit-lamp menunjukkan area korteks katarakPemeriksaan slit-lamp bersih Tajam penglihatan tidak membaik dengan pin-holeTajam penglihatan membaik dengan pin-hole Katarak maturLeukokoria Refleks putih pada area pupil Ukuran pupil normalUkuran pupil semidilatasi Gambaran purkinje keempat tidak adaGambaran purkinje keempat ada Pemeriksaan slit-lamp menunjukkan lensa katarak Pemeriksaan slit-lamp menunjukkan lensa dengan refleks putih di belakang lensa USG normalUSG peningkatan opasitas pada kavitas vitreus Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p

31 Tatalaksana Bedah ICCEECCE Non bedah Causa : kontrol DM, obat katarogenik Menunda progresi Meningkatkan penglihatan Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p

32 Ekstraksi katarak intrakapsular (ICCE) Intracapsular cataract extraction seluruh lensa katarak dgn kapsul intak diangkat sudah jarang dilakukan sejak adanya ECCE Indikasi: (saat ini) sublukasi dan dislokasi lensa Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

33 ICCE A, passing of superior rectus suture; B, fornix based conjunctival flap; C, partial thickness groove; D, completion of corneo-scleral section; E, peripheral iridectomy; F, cryolens extraction; G&H, insertion of Kelman multiflex intraocular lens in anterior chamber; I, corneo-scleral suturing. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p

34 Ekstraksi katarak ekstrakapsular (ECCE) sebagian besar bagian anterior dengan epitel, nukleus, dan korteks diangkat, tetapi kapsul posterior dipertahankan intak Indikasi : semua (anak & dewasa) kontraindikasi: sublukasi atau dislokasi lensa Teknik : Conventional extracapsular cataract extraction (ECCE), Manual small incision cataract surgery (SICS), Phacoemulsification Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4 th ed. New Delhi : New Age Publishers, pg Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

35 Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p Conventional extracapsular cataract extraction (ECCE), A, anterior capsulotomy can- opener's technique; B, removal of anterior capsule; C, completion of corneo-scleral section; D, removal of nucleus (pressure and counter-pressure method); E, aspiration of cortex; F, insertion of inferior haptic of posterior chamber IOL; G, insertion of superior haptic of PCIOL; H, dialing of the IOL; I, corneo-scleral suturing.

36 phacoemulsification Manual small incision cataract surgery (SICS) Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p

37 Komplikasi Operasi Rupture of the posterior lens capsule Posterior loss of lens fragments Posterior dislocation of IOL Suprachoroidal haemorrhage Acute postoperative endophthalmitis Delayed-onset postoperative endophthalmitis Posterior capsular opacification Anterior capsular fibrosis and contraction Malposition of IOL Cystoid macular oedema Retinal detachment Eva PR, Whitcher JP. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmologi 16 th ed. New york : mcGraw-Hill; p

38 DAFTAR PUSTAKA PERDAMI. Katarak. Available from: [cited on: Monday, 18/03/2013, 20:00]. WHO. Cataract. Available from : (cited on Monday 18 March 2013 : 21:00) Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; p Soehardjo. Kebutaan katarak: faktor risiko, gejala klinis, dan pengendalian. [Disertasi]. Jogjakarta: Universitas Gajah Mada; Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury's General Ophthalmology 16th Edition. New York: McGraw-Hill; p Kanski JJ. Clinical ophthalmology: a systematic approach – 7th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; P Artini W, Hutauruk JA, Yudisianil. Pemeriksaan Dasar Mata. Jakarta : Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI-RSCM; Halaman Collins N, Mizuiri D, Ravetto J, Lum FC. Cataract in the adult eye. San Fransisco : American Academy of Ophthalmology; Page 4-6.


Download ppt "Samuel Raymond RW Yohanes Edwin B. LENSA NORMAL Posisi Lensa di Bola Mata."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google