Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dipresentasikan Oleh: I R W A N T O

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dipresentasikan Oleh: I R W A N T O"— Transcript presentasi:

1 Dipresentasikan Oleh: I R W A N T O

2 SIFAT TEGAKAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TEGAKAN SUKSESI TOLERANSI PERSAINGAN KONSEP ZONE OPTIMUN

3 Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh- tumbuhan oleh yang lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhan dapat tumbuh diatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitas dirusak oleh suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan diganti oleh yang lain (Daniel, et al, 1992).

4 Tansley (1920) mendefinisikan suksesi sebagai perubahan tahap demi tahap yang terjadi dalam vegetasi pada suatu kecendrungan daerah pada permukaan bumi dari suatu populasi berganti dengan yang lain. Clements (1916) membedakan enam sub-komponen : (a) nudation; (b) migrasi; (c) excesis; (d) kompetisi; (e) reaksi; (f) final stabilisasi, klimaks.

5 Hutan Bakau Avicennia Hutan Bakau Rhizophora-Bruguiera Hutan Bakau Bruguiera-Xylocarpus Hidrosere Pada Lumpur Vegetasi Cryptogamae Vegetasi Rumput Neyaraudia-Saccharum Hutan Ficus macaranga Hutan Belukar Neonauclea-Ficus Hutan Hujan Dataran Rendah (Klimaks) Skema Terjadinya Vegetasi Klimaks Paham Monoklimaks (Soerianegara, 1972) Xerosere Pada Tuf Batu Kambang

6 PROF. DR. IR. DJOKO. MARSONO ( ) INVASI PERBAIKAN HABITAT PERJALANAN MENUJU KLIMAKS LUMUT HYDROSERE (BASAH) XEROSERE (KERING)

7 SUKSESI PRIMER SUKSESI SEKUNDER SUKSESI CYCLES INVASI --> KLIMAKS HUTAN KLIMAKS YG TERGANGGU ALANG2->SEMAK->KEBAKARAN Macaranga, Malotus, Trema, Anthocephalus, Duabanga dll

8

9 Annual weeds Perennial weeds and grasses Shrubs Young pine forest Mature oak-hickory forest Mesic succession (Old Field)

10 Time Small herbs and shrubs Heath mat Jack pine, black spruce, and aspen Balsam fir, paper birch, and white spruce climax community Exposed rocks Lichens and mosses Xerarch Succession (from bare rock)

11 P E R S A I N G A N Spesies Sama Spesies Berbeda KEBUTUHAN YANG SAMA Unsur hara Air Cahaya Ruang Hidup dll

12 Allelopathy : 1.Zat dari Akar 2.Zat dari Daun 3.Zat pada waktu mati Pinus merkusii guguran daun menghambat pertumbuhan jenis lain Alang-alang, cepat menguasai Pisang (Musa sp) rumpun melebar, membusuk mengeluarkan racun

13 TOLERANSI Cahaya rendah Perakaran Tinggi Toleran : Jenis yang tahan terhadap naungan Intoleran : Jenis yang tidak tahan terhadap naungan Semitoleran : Tingkat semai toleran, tingkat pohon intoleran Toleransi adalah kemampuan relatif suatu pohon untuk bertahan hidup di bawah naungan (Baker, 1950).

14 A BC Faktor Pembatas Metabolisme opt max min Eury Steno (Cahaya, Suhu, Air, dll) KONSEP ZONE OPTIMUN

15 PERTUMBUHAN TEGAKAN

16

17 Kelemahan ekologis dan ekonomis hutan murni tanaman seumur Pemanfaatan tempat tumbuh tidak sempurna (akar dangkal, tajuk tipis) Defisiensi unsur hara tertentu Humus mentah susah hancur, menghasilkan allelopathy Mudah diserang hama dan penyakit Mudah diserang angin dan tumbang Mudah diserang kebakaran Kurang luwes menghadapi permintaan pasar Kurang bervariasi sebagai habitat satwa liar Intersepsi tajuk dan infiltrasi air tidak sempurna (tingkat erosi besar) Kurang menarik dari sudut estetika Bila menggunakan jenis asing tidak diketahui rotasi

18 HUTAN PRIMER Karena perbedaan tapak, timbul struktur dan tipe hutan yang Beraneka, sehingga tidak ada resep yang berlaku umum Jenis pohon sangat banyak (40-80/ha), sehingga jumlah batang per Jenis sangat sedikit Jenis-jenis pohon bercampur individual Pada suatu tapak terdapat variasi struktur dan komposisi Frekwensi jenis pada umumnya rendah, namun ada juga yang penyebarannya vertikal dan horisontalnya tinggi. ( H.Lamprecht dalam Sutisna 1996 )

19 Struktur diameter “plenter” (huruf J terbalik ) Sedikit batang yang mulus, pohon-pohon besar sering bolong Hanya sedikit (0-20%) jenis pohon niagawi, volume terjual sekitar 0-20 m3/ha, kecuali hutan dipterocarpaceae yang mengandung banyak kayu seragam. Riapnya kecil, dalam skala luas besarnya nol. Walaupun terdapat permudaan namun jumlahnya sering sedikit saja.

20

21 HUTAN SEKUNDER Hutan sekunder adalah fase pertumbuhan hutan dari keadaan tapak gundul, karena alam ataupun antropogen, sampai menjadi klimaks kembali. Tidak benar bahwa hutan sekunder tidak alami lagi, yang benar istilahnya adalah “Hutan Alam Sekunder” untuk membedakannya dari hutan alam primer.

22 Sifat-sifat hutan sekunder: Komposisi dan struktur tidak saja tergantung tapak namun juga tergantung pada umur. Tegakan muda berkomposisi dan struktur lebih seragam dibandingkan hutan aslinya. Tak berisi jenis niagawi. Jenis-jenis yang lunak dan ringan, tidak awet, kurus, tidak laku. Persaingan ruangan dan sinar yang intensif sering membuat batang bengkok. Jenis- jenis cepat gerowong. Riap awal besar, lambat laun mengecil. Karena struktur, komposisi dan riapnya tidak akan pernah stabil, sulit merencanakan pemasaran hasilnya.

23 Tegakan Tinggal Tegakan alam setelah tebang pilih. Tergantung kekerasan panen, ada yang tumbuh kembali menjadi klimaks, ada pula yang menjadi hutan sekunder. Tegakan tinggal inilah yang menjadi tipe terpenting dewasa ini di Indonesia dan menjadi pusat perhatian silvikultur.

24 (Marsono dan Sastrosumarto, 1981) (Bambang Waldy, 1986), (Marsono dkk, 1983 dan 1990) Kelompok C situasi sampai 2 tahun setelah penebangan, semai dipterocarpaceae menderita, mati dan dominansi menurun, faktor pembalakan dan suhu, kelembaban dan LTR (Light transmission ratio) yang mendadak. Kelompok A situasi 4 – 6 tahun setelah penebangan, kondisi semai mirip dengan kondisi sebelum penebangan. (pionir sdh tumbuh, dipterocarpaseae berbunga, Taguar (1967) di Philipina 5 tahun setelah penebangan terdapat semai – per ha.

25

26 My Web :


Download ppt "Dipresentasikan Oleh: I R W A N T O"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google