Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Perbandingan Sistem Saluran Pencernaan. Proses merubah makanan/pakan dari bentuk yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana agar dapat dicerna.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Perbandingan Sistem Saluran Pencernaan. Proses merubah makanan/pakan dari bentuk yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana agar dapat dicerna."— Transcript presentasi:

1 Perbandingan Sistem Saluran Pencernaan

2 Proses merubah makanan/pakan dari bentuk yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana agar dapat dicerna oleh mahluk hidup

3 Sistem Pencernaan  MONOGASTRIK UNGGAS UNGGAS  POLIGASTRIK Sapi, Domba, Kambing Sapi, Domba, Kambing  MONOGASTRIK Mamalia Kelinci, Kuda, Babi, anjing, kucing Kelinci, Kuda, Babi, anjing, kucing  Berdasar : Saluran Makanan (Anatomi) Saluran Makanan (Anatomi) Makanan sumber energi Makanan sumber energi DLL DLL

4 BERDASARKAN SUSUNAN ALAT PENCERNAAN :  RUMINANSIA  BERLAMBUNG JAMAK  (RUMEN, RETIKULUM, OMASUM, ABOMASUM)  NON RUMINANSIA  BERLAMBUNG TUNGGAL/ SEDERHANA

5 PENCERNAAN Syaraf Hormon Syaraf Hormon Mekanis Kimia Mekanis Kimia Gerakan Enzim/Non enzim Gerakan Enzim/Non enzim SALURAN PENCERNAAN

6 SUSUNAN GIGI

7 Pusat Kontrol  APPETIK THERMOSFAR COUNTER= PUSAT LAPAR  SAFITELY THERMOSFAR COUNTER= PUSAT KENYANG

8 Known as a modified monogastric system

9 Mulut/Mouth/Beak - break down feed Esophagus - tube from mouth to stomach that is open at the mouth end Crop - feed storage and moistening Proventriculus - glandular stomach (HCI and gastric juices); enzymatic Gizzard - muscular stomach; mechanical breakdown Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Unggas (Monogastrik)

10 Small Intestine - enzymatic digestion and absorption -Functions of the small intestine: digestion of proteins, carbohydrates, and fats; absorption of the end products of digestion -Enzymes in the small intestine Ceca - essentially non functioning in monogastrics Large Intestine -bacterial activity -water absorption -waste storage Cloaca - common chamber for GI and urinary tracts Vent - common exit for GI and urinary tracts

11 Ayam

12

13 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Monogastrik mamalia Mouth -gather and chew feed using tongue and teeth -salivary glands moisten feed to aid in swallowing -saliva begins the carbohydrate breakdown with salivary amylase Esophagus - tube from mouth to stomach that is open at the mouth end -separated from stomach by the esophageal sphincter Stomach -muscular gland lined sac that receives ingesta from the esophagus and conducts both physical and chemical digestion -primary secretions: pepsin - enzyme that digests protein; hydrochlorides - acids that aid in protein digestion

14 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Monogastrik mamalia continued… Small Intestine -enzymatic digestion and absorption -Functions of the small intestine: digestion of proteins, carbohydrates, and fats; absorption of the end products of digestion 1. duodenum - most digestion occurs here 2. jejunum - some digestion and some absorption occur 3. ileum - mostly absorption - Bile - made in liver, stored in gall bladder, active in the small intestine, emulsifies fat to aid in digestion

15 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Monogastrik mamalia continued… Enzymes in the small intestine

16 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Monogastrik mamalia continued… … Cecum - essentially non functioning in many monogastrics. Rabbits and horses have an enlarged cecum that acts like a rumen and is involved with microbial digestion (fermentation) Large Intestine -bacterial activity -water absorption -waste storage

17 Babi / Pig

18 Kelinci

19 Andi Mushawwir

20

21 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Ruminant Rumination - the regurgitation, rechewing and reswallowing of ingested food Cud - mass of regurgitated ingesta; bolus Process of rumination 1. regurgitate bolus from rumen 2. rechew and reinsalivate 3. reswallow 4. repeat with another bolus 1.Anus7. Reticulum 2.Rectum8. Esophagus 3.Cecum9. Abomasum 4.Colon10. Omasum 5.Duodenum11. Small Intestine 6.Rumen Ruminants are characterized by having a stomach with four compartments

22 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Ruminant continued… Mouth -contains dental pad, teeth, tongue and saliva -saliva contains no salivary amylase Esophagus -tube from mouth to stomach -tube from stomach to mouth

23 Rumen - large fermentation vat; also called the "paunch" -anaerobic -Temperature = 39 o C (103 o F) -saturated with gasses -constant motion Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Ruminant continued… Lining of the rumen

24 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Ruminant continued… Functions of Microorganisms -digest roughages to make Volatile Fatty Acids -make protein -make vitamins K and B complex (Very similar to cecum of rabbit and horse) The function of the rumen is to house microorganisms.

25 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Ruminant continued… Reticulum - "honeycomb" -houses microorganisms -catches hardware (ingested by animal) -houses the opening to the omasum Omasum - "manyplies“ or “book” -full of folded tissue -water absorption Abomasum - true stomach -pepsin -HCl

26 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Pada Ruminant continued… Small Intestine -enzymatic digestion and absorption -Functions of the small intestine: digestion of proteins, carbohydrates, and fats; absorption of the end products of digestion 1.duodenum 2.jejunum 3.ileum Cecum - some microbial fermentation Large Intestine -water absorption -waste storage

27 Ruminant / Domba

28 Jenis Sistem pencernaan

29

30 PENCERNAAN DALAM LAMBUNG RUMINANSIA

31 GERAKAN LAMBUNG RUMINANSIA  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI :  MEKANIS, dapat dipejari dengan : FISTULA RUMEN FISTULA RUMEN SINAR RONTGEN SINAR RONTGEN MEMBUKA RONGGA DADA MEMBUKA RONGGA DADA (+ CAIRAN Na FISIOLOGIK  ORGAN TIDAK MATI) (+ CAIRAN Na FISIOLOGIK  ORGAN TIDAK MATI)  KIMIAWI BERKAITAN DENGAN AKTIVITAS MIKROORGANISME BERKAITAN DENGAN AKTIVITAS MIKROORGANISME  MIKROBIOLOGIS PROSES MENGUBAH ZAT/BAHAN MENJADI BERNILAI GIZI TINGGI PROSES MENGUBAH ZAT/BAHAN MENJADI BERNILAI GIZI TINGGI

32 GERAKAN RUMEN-RETIKULUM  MAKANAN DITELAN  KANTUNG DORSAL ANTERIOR  YANG BERAT  MASUK RETIKULUM  RINGAN  BERCAMPUR DENGAN YANG LEBIH BERAT  BERKUMPUL DALAM RUMEN SECARA BERTAHAP  SIFAT BOLUS (FISIK) YANG DITELAN  BERVARIASI TERGANTUNG JENIS MAKANAN  HIJAUAN  RUMEN  PADAT  BOLUS OVAL DAN TIDAK TERATUR BOLUS RUMPUT KERING (HAY)  TERAPUNG BOLUS RUMPUT KERING (HAY)  TERAPUNG BOLUS KONSENTRAT  DASAR RUMEN BOLUS KONSENTRAT  DASAR RUMEN

33  PADA SAPI  MAKANAN BAIK DAN SELALU TERSEDIA  BERCAMPUR LUMAT (TIDAK ADA CAIRAN BEBAS DIATAS B. M.)  PADA SAPI  DIPUASAKAN  TERDAPAT CAIRAN BEBAS DIANTARA BAHAN MAKANAN.  AGAR BAHAN MAKANAN TERENDAM BAIK  AIR   UNTUK PEMBENTUKAN SALIVA

34 Fungsi Gerakan Rumen – Retikulum  ISI RUMEN BERCAMPUR RATA  M. O. BERCAMPUR RATA  FERMENTASI MERATA  SALIVA MENYEBAR KESELURUH RUMEN  TERAPUNGNYA ZAT-ZAT PADAT SELAMA FERMENTASI TERHALANG  MEMBANTU PENGANGKUTAN DAN PERJALANAN DIGESTA DARI RUMEN DAN RETIKULUM KE ABOMASUM  PENCAMPURAN TERJADI KARENA KONTRAKSI RUMEN DAN RETIKULUM  ADANYA KOORDINASI DARI GERAKAN BAGIAN LAMBUNG LAIN

35 PENGATUR GERAKAN RUMEN- RETIKULUM  SYARAF VAGUS  SYARAF SYMPATIS GERAKAN KUAT  SAAT MEMAMAH BIAK GERAKAN KUAT  SAAT MEMAMAH BIAK PADA BAGIAN RUMEN VENTRAL  DIGESTA PADAT PADA BAGIAN RUMEN VENTRAL  DIGESTA PADAT PADA BAGIAN RETIKULUM  DIGESTA KURANG PADAT  BUTIR- BUTIR MAKANAN LEBIH HALUS PADA BAGIAN RETIKULUM  DIGESTA KURANG PADAT  BUTIR- BUTIR MAKANAN LEBIH HALUS

36 Efisiensi Gerakan Rumen-Retikulum :  KONDISI FISIK ISI RUMEN  CAIRAN RUMEN  SUSPENSI M. O.  PARTIKEL-PARTIKEL MAKANAN  SEMAKIN BESAR  SEMAKIN LAMBAT BERCAMPUR   85% ASAM LEMAK TERBANG DIABSORPSI MELALUI RETIKULORUMEN

37  RUMEN-RETIKULUM BERKONTRAKSI : PADA SAAT MAKAN : x/JAM PADA SAAT MAKAN : x/JAM RUMINASI : 55-70x/JAM RUMINASI : 55-70x/JAM ISTIRAHAT : 47-80x/JAM ISTIRAHAT : 47-80x/JAM  OMASUM MENGGILING PARTIKEL-PARTIKEL MAKANAN MENGGILING PARTIKEL-PARTIKEL MAKANAN ABSORPSI AIR + Na & KMENCEGAH pH PADA ABOMASUM TURUN ABSORPSI AIR + Na & KMENCEGAH pH PADA ABOMASUM TURUN ABSORPSI VFA (ALT)  10% ABSORPSI VFA (ALT)  10%  ABOMASUM PENCERNAAN  KIMIAWI PENCERNAAN  KIMIAWI MIKROORGANISME YANG MASUK  DIBUNUH OLEH ASAM LAMBUNG  DICERNA MIKROORGANISME YANG MASUK  DIBUNUH OLEH ASAM LAMBUNG  DICERNA

38 ABSORPSI DALAM RUMEN-RETIKULUM  VFA (VOLATILE FATTY ACIDS) PENYERAPAN TERJADI SEBELUM DIGESTA MASUK KE AB- OMASUM PENYERAPAN TERJADI SEBELUM DIGESTA MASUK KE AB- OMASUM KONSENTRASI VFA  7-10 KALI LEBIH BESAR DARIPADA AB-OMASUM BUTIRAT > PROPIONAT > ASETAT KONSENTRASI VFA  7-10 KALI LEBIH BESAR DARIPADA AB-OMASUM BUTIRAT > PROPIONAT > ASETAT  ASAM LAKTAT ABSORPSI ASAM LAKTAT  1/10 KALI VFA ABSORPSI ASAM LAKTAT  1/10 KALI VFA KECIL JIKA ADA PROPIONAT KECIL JIKA ADA PROPIONAT BESAR PADA KONDISI ASAM BESAR PADA KONDISI ASAM  AMONIA (NH3) DIABSORPSI > ION AMONIUM DIABSORPSI > ION AMONIUM ABSORPSI PADA pH : 6,5 > PADA pH 4,5 ABSORPSI PADA pH : 6,5 > PADA pH 4,5 KERACUNAN UREA LEBIH BESAR PADA pH 6,5-7 KERACUNAN UREA LEBIH BESAR PADA pH 6,5-7

39  RETIKULUM = PERUT JALA PROTEIN TINGGI  LANGSUNG MASUK KE RETIKULUM KARENA : M.O. MENJAUH (PADA RUMEN) PROTEIN TINGGI  LANGSUNG MASUK KE RETIKULUM KARENA : M.O. MENJAUH (PADA RUMEN) MAKANAN SUDAH DIREMASTIKASI DENGAN BAIK  MASUK KE RETIKULUM MAKANAN SUDAH DIREMASTIKASI DENGAN BAIK  MASUK KE RETIKULUM ANTARA RUMEN-RETIKULUM TERDAPAT LIPATAN  MAMPU MENGATUR MASUKNYA MAKANAN HALUS DAN MAKANAN KASAR  KEMBALI KE RUMEN (RUMINO RETICULARIS) ANTARA RUMEN-RETIKULUM TERDAPAT LIPATAN  MAMPU MENGATUR MASUKNYA MAKANAN HALUS DAN MAKANAN KASAR  KEMBALI KE RUMEN (RUMINO RETICULARIS)  OMASUM = PERUT KITAB MEMILIH BAHAN-BAHAN YANG DAPAT LANGSUNG MASUK AB-OMASUM MEMILIH BAHAN-BAHAN YANG DAPAT LANGSUNG MASUK AB-OMASUM MENYERAP AIR, ASAM MENYERAP AIR, ASAM  ABOMASUM = PERUT KELENJAR FUNDUS  MEMBRANA MUKOSE FUNDUS  MEMBRANA MUKOSE PYLORIK  SEMPIT PYLORIK  SEMPIT FUNGSI : SAMA DENGAN PHLORISS PADA MONOGASTRIK. MAKANAN BELUM DICERNA DIRUMEN DICERNA DI AB- OMASUM FUNGSI : SAMA DENGAN PHLORISS PADA MONOGASTRIK. MAKANAN BELUM DICERNA DIRUMEN DICERNA DI AB- OMASUM PENCERNAAN BERSIFAT : KIMIAWI PENCERNAAN BERSIFAT : KIMIAWI MUCUS, PEPSIN, HCl MUCUS, PEPSIN, HCl

40  = OESOPHAGEAL GROOVE  SULCUS RETICULI = OESOPHAGEAL GROOVE “BY PASS” DARI RUMEN-RETIKULUM- OMASUM “BY PASS” DARI RUMEN-RETIKULUM- OMASUM PENTING PADA HEWAN MUDA MENYUSU PENTING PADA HEWAN MUDA MENYUSU PADA HEWAN DEWASA  MENUTUP SULCUS PADA HEWAN DEWASA  MENUTUP SULCUS  RETICULI PENTING  PADA SAAT PEMBERIAN OBAT AGAR TIDAK MELEWATI RUMEN MISAL :PEMBERIAN ANTIBIOTIKA MISAL :PEMBERIAN ANTIBIOTIKA

41  RUMINASI PROSES MENGUNYAH KEMBALI MAKANAN PROSES MENGUNYAH KEMBALI MAKANAN HEWAN MUDA  BELUM DIBERI HIJAUAN  BELUM RUMINASI HEWAN MUDA  BELUM DIBERI HIJAUAN  BELUM RUMINASI

42 TAHAP RUMINASI

43 1. REGURGITASI PENGELUARAN DIGESTA DARI RUMEN KE MULUT PENGELUARAN DIGESTA DARI RUMEN KE MULUT PARTIKEL KASAR KONTAK DENGAN DINDING RUMEN & RETIKULUM PARTIKEL KASAR KONTAK DENGAN DINDING RUMEN & RETIKULUM DAPAT DIRANGSANG  BAGIAN DINDING RUMEN & RETIKULUM DIGOSOK DAPAT DIRANGSANG  BAGIAN DINDING RUMEN & RETIKULUM DIGOSOK RETIKULUM KONTRAKSI  DIGESTA NAIK SAMPAI CARDIA  CARDIA MEMBUKA  GLOTTIS MENUTUP DAN OSEOPHAGUS MENGEMBANG  TEKANAN NEGATIF PADA OSEOPHAGUS RETIKULUM KONTRAKSI  DIGESTA NAIK SAMPAI CARDIA  CARDIA MEMBUKA  GLOTTIS MENUTUP DAN OSEOPHAGUS MENGEMBANG  TEKANAN NEGATIF PADA OSEOPHAGUS BOLUS LONCAT KE OSEOPHAGUS BOLUS LONCAT KE OSEOPHAGUS TIMBUL ANTI PERISTALTIK  BOLUS MASUK MULUT TIMBUL ANTI PERISTALTIK  BOLUS MASUK MULUT

44 2. REMASTIKASI PENGUNYAHAN KEMBALI PENGUNYAHAN KEMBALI BOLUS MERANGSANG MULUT  REFLEKS MASTIKASI BOLUS MERANGSANG MULUT  REFLEKS MASTIKASI PROSES LEBIH LAMA DARI MASTIKASI PROSES LEBIH LAMA DARI MASTIKASI PENAMBAHAN SEKRESI PAROTIS DAN SALIVA PENAMBAHAN SEKRESI PAROTIS DAN SALIVA 3. REGLUTISI PENELANAN KEMBALI PENELANAN KEMBALI PROSES =DEGLUTISI PROSES =DEGLUTISI BOLUS YANG DITELAN KEMBALI  TIDAK LANGSUNG MASUK KE OMASUM  SEBAGIAN KE RUMEN & RETIKULUM BOLUS YANG DITELAN KEMBALI  TIDAK LANGSUNG MASUK KE OMASUM  SEBAGIAN KE RUMEN & RETIKULUM MAKANAN HALUS  KE RETIKULUM  KONTRAKS  SEBAGIAN KE OMASUM MAKANAN HALUS  KE RETIKULUM  KONTRAKS  SEBAGIAN KE OMASUM

45 ERUKTASI (SENDAWA) PENGELUARAN GAS DARI RUMEN MELALUI MULUT PENGELUARAN GAS DARI RUMEN MELALUI MULUT DALAM RUMEN TERBENTUK GAS CO2, METHAN (CH4) DAN ASAM LEMAK DALAM RUMEN TERBENTUK GAS CO2, METHAN (CH4) DAN ASAM LEMAK SEBAGIAN  DISERAP KEMBALI SEBAGIAN  DISERAP KEMBALI SEBAGIAN LAGI  HARUS DIBUANG SEBAGIAN LAGI  HARUS DIBUANG CO2 DAN CH4  DIBUANG MELAUI PROSES ERUKTASI CO2 DAN CH4  DIBUANG MELAUI PROSES ERUKTASI

46 MEKANISME ERUKTASI  KONTRAKSI RUMEN BAGIAN DORSAL  KONTRAKSI RETIKULUM  CARDIA MEMBUKA  BILA GAS TERLALU CEPAT TERBENTUK  RUMEN MENGEMBANG TERJADI  RUMINAL TYMPANI (‘BLOAT”)  “BLOAT”  “DISTENSI YANG BERLEBIHAN ATAU PENGEMBANGAN RUMEN DAN RETIKULUM AKIBAT TIMBULNYA GAS BERLEBIH SEWAKTU FERMENTASI BAHAN MAKANAN”

47 “BLOAT PRIMER”  KEMBUNG AKIBAT MAKANAN DISEBABKAN OLEH: RUMPUT TERLALU MUDA RUMPUT TERLALU MUDA LEGUMINOSA TERLALU CEPAT TUMBUH LEGUMINOSA TERLALU CEPAT TUMBUH LEGUM TERLALU BANYAK LEGUM TERLALU BANYAK PROTEIN TANAMAN TERLALU TINGGI : 10-15% PROTEIN TANAMAN TERLALU TINGGI : 10-15% TERLALU BANYAK DIBERI MAKANAN HALUS TERLALU BANYAK DIBERI MAKANAN HALUS HEREDITAS. HEREDITAS. “BLOAT SEKUNDER” OBSTRUKSI (TERSUMBAT) OBSTRUKSI (TERSUMBAT) STENOSIS (OESOPHAGUS MENYEMPIT) STENOSIS (OESOPHAGUS MENYEMPIT) HERNIA DIAFHRAGMA HERNIA DIAFHRAGMA

48  TERJADINYA BLOAT GAS TERBENTUK TERLALU CEPAT GAS TERBENTUK TERLALU CEPAT ERUKTASI KURANG ERUKTASI KURANG ANATOMI RUMEN ANATOMI RUMEN GAS BERCAMPUR DENGAN MAKANAN (TROUTHY-BLOAT) DALAM MAKANAN TERLALU BANYAK : PEPSIN, HEMISELULOSA, SAPONIN  GERAKAN RUMEN BERUBAH GAS BERCAMPUR DENGAN MAKANAN (TROUTHY-BLOAT) DALAM MAKANAN TERLALU BANYAK : PEPSIN, HEMISELULOSA, SAPONIN  GERAKAN RUMEN BERUBAH

49  PERTOLONGAN : BERI MINYAK KELAPA BLOAT PRIMER : BLOAT PRIMER : PEMBERIAN MINYAK KELAPA : 0,5-1 LITER UNTUK SAPI, CC UNTUK DOMBA, DIMASUKKAN DENGAN “STOMACH TUBE”PEMBERIAN MINYAK KELAPA : 0,5-1 LITER UNTUK SAPI, CC UNTUK DOMBA, DIMASUKKAN DENGAN “STOMACH TUBE” UNTUK SAPITROCOR/TUSUKUNTUK SAPITROCOR/TUSUK  PENCEGAHAN : PEMBATASAN GRAZING PEMBATASAN GRAZING PENGATURAN PADANG RUMPUT PENGATURAN PADANG RUMPUT PEMBERIAN ANTIBIOTIKA PER-ORAL, PENISILIN DAN TILOSIN PEMBERIAN ANTIBIOTIKA PER-ORAL, PENISILIN DAN TILOSIN

50 PROSES KONSUMSI PAKAN DAN ALIRAN DIGESTA PADA RUMINANSIA PENCERNAAN DALAM RONGGA MULUT

51 1. PREHENSI  PENARIKAN (PENGAMBILAN) MAKANAN KE DALAM MULUT  SPESIES HEWAN BERBEDA.  CARA TIAP SPESIES HEWAN BERBEDA. DASARNYA BIBIR, GIGI, LIDAH DASARNYA BIBIR, GIGI, LIDAH  CARNIVORA  ANJING, KUCING PENGAMBILAN MAKANAN DIBANTU KAKI DEPAN PENGAMBILAN MAKANAN DIBANTU KAKI DEPAN  KUDA  BIBIR ATAS (PALING SENSITIF)  KUAT DAN LINCAH  ORGAN POKOK PREHENSI

52  SAPI  LIDAH (POKOK) BIBIR ATAS DAN BAWAH TERBATAS GERAKANNYA BIBIR ATAS DAN BAWAH TERBATAS GERAKANNYA LIDAH  PANJANG, KUAT, LINCAH BERGERAK, KASAR LIDAH  PANJANG, KUAT, LINCAH BERGERAK, KASAR  DOMBA  LIDAH DAN GIGI SERI (POKOK) LIDAH TIDAK DAPAT DIJULURKAN LIDAH TIDAK DAPAT DIJULURKAN BIBIR ATAS MEMPUNYAI CELAH BIBIR ATAS MEMPUNYAI CELAH  KAMBINGBIBIR ATAS TIDAK BERCELAH

53   MINUM DAN MENETEK  CARNIVORA DAN HERBIVORA BERBEDA  CARNIVORA (KUCING, ANJING)  UJUNG LIDAH MEMBENTUK SENDOK UJUNG LIDAH MEMBENTUK SENDOK  HERBIVORA  MENGHISAP BIBIR TERTUTUP RAPAT BIBIR TERTUTUP RAPAT BAGIAN DEPAN SEDIKIT TERBUKA BAGIAN DEPAN SEDIKIT TERBUKA BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN AIR BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN AIR SAAT MENETEK BIBIR YANG TERBUKA DIISI PUTTING SUSU INDUK SAAT MENETEK BIBIR YANG TERBUKA DIISI PUTTING SUSU INDUK  TEKANAN AMBING  TEKANAN NOL

54 2. MASTIKASI  PENGHANCURAN BAHAN MAKANAN SECARA MEKANIK DALAM MULUT  GIGI INCISOR UNTUKMENARIK DAN MEMOTONG MAKANAN  GIGI MOLAR UNTUK MENGGILING BAG. KECIL  LAMA PENGUNYAHAN  JENIS MAKANAN CARNIVORASEBENTAR DAN SEMPURNA CARNIVORASEBENTAR DAN SEMPURNA HERBIVORA  LAMA & INTENSIF HERBIVORA  LAMA & INTENSIF  PENGUNYAHAN  MEMPERLUAS PERMUKAAN BAHAN MAKANA  KERJA ENZIM INTENSIF  ARAH GERAKAN  LATERAL  PROSES MENGGILING

55 MEKANISME PENGUNYAHAN  SELAMA PENGUNYAHAN : LIDAH DAN PIPI SELALU BERGERAK LIDAH DAN PIPI SELALU BERGERAK MAKANAN  DIANTARA DERETAN GIGI DIKUNYAH TERUS PADA BAGIAN SISI  HALUS  TENGGOROKAN  DITELAN MAKANAN  DIANTARA DERETAN GIGI DIKUNYAH TERUS PADA BAGIAN SISI  HALUS  TENGGOROKAN  DITELAN  SIFAT PROSES PENGUNYAHAN  VOLUNTAIR GERAK DIKENDALIKAN OLEH KEMAUAN GERAK DIKENDALIKAN OLEH KEMAUAN DIKONTROL UNTUK “HIGHER COUNTER” DIKONTROL UNTUK “HIGHER COUNTER” KEADAAN NORMAL  RAHANG TERTUTUP KEADAAN NORMAL  RAHANG TERTUTUP U. D. PENGUNYAHAN  TIDAK BEKERJA U. D. PENGUNYAHAN  TIDAK BEKERJA

56 MEKANISME PENGUNYAHAN (LANJUTAN)  MAKANAN MASUK  U. D. PENGUNYAH RELAKSASI  MULUT TERBUKA  KONTRAKSI U. D.  MULUT TERTUTUP  GERAKAN TERJADI SECARA RITMIS PADA RAHANG ATAS DAN BAWAH  GERAKAN MENGUNYAH  MASTIKASI  RANGSANGAN SENSORIS  SYARAF AFFERENT  SYARAF CRANIAL KE V (N. TRIGEMINUS)  RANGSANGAN DI TERUSKAN  SYARAF AFFERENT MELALUI “RADIX MOTORIS” SYARAF CRANIAL KE V  DI U. D. ELEVANTOR DAN MYLOHYOIDENS.

57 REFLEKS MASTIKASI 1. REFLEKS MENGUNYAH (GNAWING REFLEKS)  TIMBUL SEBAGAI RESPONS TERHADAP RANGSANGAN DAERAH INCISIVUS  GERAKAN MENGUNYAH DARI RAHANG 2. REFLEKS MASTIKASI VERTIKAL (VERTICAL MASTICATING REFLEKS)  TIMBUL SEBAGAI RESPONS TERHADAP RANGSANGAN PADA MEMBRANA MUKOSA PADA DAERAH GIGI MOLAR TENGAH  RAHANG MEMBUKA DAN MENUTUP 3. MULUT TERTUTUP  “RUMINANT REFLEKS”  TERJADI STIMULASI TERHADAP RESEPTOR- RESEPTOR PADA MULUT OLEH MAKANAN  TIMBUL REFLEKS INHIBISI ALAT PENUTUP MULUT  RAHANG TERBUKA

58 URAT DAGING YANG TERLIBAT PROSES MASTIKASI 1. MUSCULUS MASSETER 2. MUSCULUS PTERYGOIDEA INTERNA DAN EKSTERNA 3. MUSCULUS TEMPORALIS 4. MUSCULUS MYOLOHGOIDEA 5. MUSCULUS GENIOHGOIDEA 6. MUSCULUS DIGESTRICUS PADA HERBIVORA  MUSCULUS MASSETER

59 1. MENGGILING MAKANANAN  LUNAK DAN HALUS 2. ENZIM BEKERJA LEBIH AKTIF MAKANAN HALUS  PERMUKAAN MAKANAN RELATIF LUAS 3. MAKANAN HALUS BERCAMPUR SALIVA  MUDAH DITELAN   MASTIKASI  PROSES PENCERNAAN  MENGUBAH MAKANAN MENJADI HALUS DAN BERAIR PADA HERBIVORA FUNGSI MASTIKASI

60  KUDA 1 ½ JAM  BOLUS TERBENTUK 60 – 65 1 ½ JAM  BOLUS TERBENTUK 60 – 65 RUMPUT KERING : 70 – 80 KALI / MENIT RUMPUT KERING : 70 – 80 KALI / MENIT  SAPI BUTIRAN DAN SILAGE BUTIRAN DAN SILAGE MENGUNYAH : 94 KALI GERAKAN / MENIT MENGUNYAH : 94 KALI GERAKAN / MENIT RUMPUT KERING  78 KALI / MENIT RUMPUT KERING  78 KALI / MENIT  SAPI PERAH BUTIRAN  4700 KALI/ HARI BUTIRAN  4700 KALI/ HARI RUMPUT KERING  / HARI RUMPUT KERING  / HARI  SAPI JANTAN  1.4 – 11% WAKTU/HARI UNTUK MASTIKASI MASTIKASI PADA :

61 SALIVASI  KELENJAR AIR LUDAH DAN SEKRESINYA : KEL. PAROTIS KEL. PAROTIS KEL. SUB. MAXILALLIS (MANDIBULARIS) KEL. SUB. MAXILALLIS (MANDIBULARIS) KEL. SUB. LINGUALIS KEL. SUB. LINGUALIS PADA BEBERAPA SPESIES  KEL. BUCCALIS PADA BEBERAPA SPESIES  KEL. BUCCALIS  SALIVA  CAMPURAN SEKRESI KELENJAR PAROTIS, SUB MAXILARIS DAN SUB LINGUALIS BERUPA LENDIR BERTIPE CAIR  BERDASARKAN SEKRESINYA  KEL. SALIVA DIBAGI 3 : TIPE KEL. SEROSA TIPE KEL. SEROSA TIPE KEL. MUKUS TIPE KEL. MUKUS TIPE KEL. SEROSA DAN MUCUS (CAMPURAN) TIPE KEL. SEROSA DAN MUCUS (CAMPURAN)   SERO MUCUS

62  SEKRESI KEL. SEROSA  CAIRAN CUCER MENGANDUNG PROTEIN  TANPA MUCIN MENGANDUNG PROTEIN  TANPA MUCIN  SEKRESI KEL. MUKUS  AGAK KENTAL MENGANDUNG GLYCOPROTEIN MUCIN MENGANDUNG GLYCOPROTEIN MUCIN  SEKRESI KEL. CAMPURAN  CAMPURAN SEROSA & MUCIN  PADA RUMINANSIA  SEKRESI PAROTIS TERJADI TERUS MENERUS  MAKANAN BASAH  ALKALIS  PADA RUMINANSIA  REFLEKS SEKRESI DAPAT SECARA MEKANIS  MERANGSANG BAG. CARDIA PADA AB-OMASUM  SALIVA  BUFFER ASAM-ASAM HASIL FERMENTASI MIKROBA RUMEN

63 FUNGSI SALIVA 1. MEMBASAHI MAKANAN  MASTIKASI DAN MENELAN  MUDAH  MELARUTKAN Z – H 2. LUBRIKASI  PELICIN  BOLUS MUDAH DITELAN  ADANYA MUCIN  BUTIR-BUTIR MAKANAN  MUDAH DIBENTUK BOLA 3. MENCERNA PATI  ADANYA AMYLASE 4. MEDIA UNTUK PERTUMBUHAN & AKTIFITAS BAKTERI  DALAM RUMEN  MENETRALKAN ASAM-ASAM ORGANIK YANG DIBENTUK MIKROBA  MENCEGAH TERJADI BUIH PADA ISI RUMEN  ELEKTROLIT PADA SALIVA : Na, K, Ca, Mg, P DAN UREA YANG MEMPERTINGGI KECAP FERMENTASI MIKROBA Na, K, Ca, Mg, P DAN UREA YANG MEMPERTINGGI KECAP FERMENTASI MIKROBA

64 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEKRESI SALIVA  BENTUK FISIK PAKAN  KANDUNGAN BAHAN KERING  VOLUME CAIRAN ISI PERUT  STIMULASI PSIKOLOGIS SALIVA PADA DOMBA DAN BABI  10 – 15 L / HARI SALIVA PADA DOMBA DAN BABI  10 – 15 L / HARI SALIVA PADA SAPI  75 – 100 L /HARI SALIVA PADA SAPI  75 – 100 L /HARI RUMINANSIA  SERAT KASAR   SEKRESI SALIVA  RUMINANSIA  SERAT KASAR   SEKRESI SALIVA  BIJIAN ENERGI TINGGI  SALIVA   BUFFER RUMEN  BIJIAN ENERGI TINGGI  SALIVA   BUFFER RUMEN  BIJI-BIJIAN  ASAM LEMAK TERBANG   SALIVA  BIJI-BIJIAN  ASAM LEMAK TERBANG   SALIVA  PENEBALAN KERATIN MUKOSA RUMEN PENEBALAN KERATIN MUKOSA RUMEN ACIDURIA PHOSPHERUSA  BERI INFUS Na BICARBONAT KEDALAM RUMEN ACIDURIA PHOSPHERUSA  BERI INFUS Na BICARBONAT KEDALAM RUMEN

65 3. PENELANAN (DEGLUTISI) DIBAGI 3 STADIA  PENELANAN SECARA VOLUNTAIR   DIKENDALIKAN OLEH KEMAUAN  STADIA PHARINX  INVOLUNTAIR  REFLEKS (CEPAT)  STADIA OESOPHAGUS  INVOLUNTAIR  REFLEKS (CEPAT)

66  GLUKOSTATIK PERBEDAAN KADAR GLUKOSA DARAH ARTERI DAN VENA KECIL  LAPAR PERBEDAAN KADAR GLUKOSA DARAH ARTERI DAN VENA KECIL  LAPAR GLUKOSA DARAH VENA > DARAH ARTERI  KENYANG GLUKOSA DARAH VENA > DARAH ARTERI  KENYANG  TERMOSTATIK ENERGI YANG MASUK CUKUP  LAPAR HILANG ENERGI YANG MASUK CUKUP  LAPAR HILANG  KHEMOSTATIK PADA RUMINANSIA (SAPI)  KONSENTRASI METABOLIT TERTENTU DALAM DARAH/RUMEN  MEMPENGARUHI NAFSU MAKAN PADA RUMINANSIA (SAPI)  KONSENTRASI METABOLIT TERTENTU DALAM DARAH/RUMEN  MEMPENGARUHI NAFSU MAKAN MISAL : INFUS ASAM LEMAK TERBANG MISAL : INFUS ASAM LEMAK TERBANG (ASETAT, PROPIONAT) KEDALAM DARAH /RUMEN (ASETAT, PROPIONAT) KEDALAM DARAH /RUMEN  NAFSU MAKAN TURUN  NAFSU MAKAN TURUN  LIPOSTATIK LEMAK DARAH VENA > DARAH ARTERI LEMAK DARAH VENA > DARAH ARTERI  KENYANG  KENYANG LEMAK  SUMBER ENERGI ESSENSIALLEMAK  SUMBER ENERGI ESSENSIAL


Download ppt "Perbandingan Sistem Saluran Pencernaan. Proses merubah makanan/pakan dari bentuk yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana agar dapat dicerna."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google