Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kelompok 1: Gabriella Gita(10406002) Iradani Katalia(10406003) Kania Suciati D.(10406005) Udi Jumhawan(10406015) Chitra Risnayanti(10406011) Lukito Perkasa(10406032)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kelompok 1: Gabriella Gita(10406002) Iradani Katalia(10406003) Kania Suciati D.(10406005) Udi Jumhawan(10406015) Chitra Risnayanti(10406011) Lukito Perkasa(10406032)"— Transcript presentasi:

1

2 Kelompok 1: Gabriella Gita( ) Iradani Katalia( ) Kania Suciati D.( ) Udi Jumhawan( ) Chitra Risnayanti( ) Lukito Perkasa( ) Astri Prabawanti( ) Sakinah( ) Sopian( )

3 Tujuan utama: melindungi kesehatan konsumen dan memastikan keamanan dari perdagangan makanan (food trade), dan mengatur koordinasi dari seluruh standar kerja pembuatan makanan, baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun oleh swasta. CODEX komisi dari FAO dan WHO dengan tujuan untuk mengembangkan standar makanan, petunjuk, dan pustaka terkait.

4  National food legislation  Food control  Codex structure  Consumer participation  Use of codex standards and related texts at the national and regional levels  Implementation of codex strategic plan  Nutritional issue within the region

5  Item 1Adoption of the Agenda  Item 2Matters Arising from the 25th (extraordinary), 26th and 27 th Sessions of the Codex Alimentarius Commission and the 51 st, 52 nd (extraordinary), 53rd and 54th Sessions of the Executive Committee  Item 3 Consideration of the Proposals for Codex Standards  Item 4 Report on Activities of FAO and WHO Complementary to the Work of the Codex Alimentarius Commission  Item 5 Capacity Building for Food Standards and Regulations  Item 6 Information and Reports on Food Control and Food Safety Issues Including Acceptance of Codex Standards  Item 7 Consumer Participation in Food Standards Setting at the Codex and National Level  Item 8 Nomination of the Coordinator  Item 9 Other Business, Future Work and Date and Place of the Next Session  Item 10Adoption of the Report Sumber: -

6  Afghanistan  Bangladesh  Bhutan  Brunei Darussalam  Cambodia  China  Democratic People's Republic of Korea  India  Indonesia  Japan  Laos  Malaysia  Mongolia  Myanmar  Nepal  Pakistan  Philippines  Republic of Korea  Singapore  Sri Lanka  Thailand  Vietnam Source: (http://www.fsis.usda.gov/Codex_Alimentarius/Codex_Coordinating_Asia/index.asp)

7 Japan

8

9  Evaluasi ilmiah terhadap efek yang telah diketahui atau berpotensi merugikan kesehatan manusia sebagai akibat paparan oleh bahaya yang terkait dengan makanan.  Evaluasi mencakup tahap: - identifikasi bahaya - karakterisasi bahaya - penilaian paparanpenilaian paparan - karakterisasi risiko

10

11 1) E.coli O-157:H7 dan residu pestisida  produk impor. 2) Logam berat (Hg, Se)  makanan laut (utama).

12  High Performance Liquid Chromatoghraphy (HPLC) – Kolom : C-18 – Detektor : UV – Panjang gelombang : 280 nm  Ekstraksi residu pestisida dan logam berat dari bahan makanan : √ dipilih dari salah satu pelarut yang dapat melarutkan residu pestisida

13

14

15

16

17 India

18  Fats and Oils Industry  Marine Products Industry  Dairy Products Industry  Cereals and Cereal Products Industry, Including Cereals, Pulses, Legumes and Tree and Ground Nuts  Fruits and Vegetables Industries  Meat and Meat Products Industry, Including Animal Feedstuff  Sugar and Sweetening Agents Industries, Including Honey and Artificial Sweetening Agents  Mineral and Packaged Drinking Water Industries  Spices and Condiments Industry, Including the Codex Standard for Food Grade Salt  Street Food

19  Prinsip dasar dalam menangani produk laut: Kebersihan, Minimalisasi kerusakan, Kontaminasi, dan Dekomposisi.  Selain itu, konstruksi, desain fasilitas, dan personel yang menangani juga perlu diperhatikan.  Unsur-unsurnya: pencahayaan, higienitas, kontrol hama, dan perawatan peralatan. NB: Peralatan dan ruangan sebaiknya menggunakan material berbahan dasar tahan karat, tidak menyerap air, dan kering.  Bahaya yang potensial menyerang produk laut: Bahaya biologis seperti parasit, bakteri, virus, biotoksin, skombrotoksin, fikotoksin, siguatoksin, dan tetrodotoksin. Bahaya bahan kimia beracun. Bahaya fisik seperti benturan, jatuh, tertimpa, dll.

20 Hal-hal yang harus diperhatikan:  Zat tambahan makanan, seperti senyawa asam, pewarna, dan penambah rasa  Kontaminan seperti logam berat dan residu pestisida yang tertinggal  Higienitas, yaitu kebersihan produk karena produk ini biasanya juga langsung dikonsumsi tanpa melalui proses pemasakan  Pelabelan, sebagai tindakan preventif untuk menghindari keracunan makanan dan sebagai identitas

21 Hal-hal yang perlu diperhatikan:  Prosedur penanganan, dimulai pada saat pemotongan. Meliputi kebersihan alat, fasilitas, dan personel, sanitasi, dan konstruksi bangunan  Untuk lebih lengkapnya, pengawasan dimulai pada hewan potong itu sendiri, yaitu pada komposisi pakan, sumber pakan, penggunaan pakan, penyakit-penyakit yang mungkin terjadi berkaitan dengan pakan, proses produksi pakan dan penyimpanannya. Untuk pakan yang berasal dari tumbuhan, juga perlu diperhatikan pupuk dan sumber air yang digunakan.  Prosedur penyimpanan  Prosedur pemrosesan, termasuk prinsip pengawetan dan kriteria kontaminasi mikroorganisme  Prosedur distribusi

22 Produk gula dan pemanis buatan, persyaratan umumnya:  Bahan tambahan yang boleh digunakan maksimum 5%  Kriteria kualitas: polarisasi pada kandungan sukrosa, debu ber- sulfat, jumlah massa yang hilang pada proses pengeringan, dan warna  Higienitas: kebersihan pada proses produksi Produk madu, kriteria kualitas yang dipersyaratkan:  Memiliki kandungan fruktosa dan glukosa yang cukup  Konsistensi kekentalan fluida  Rasa dan aroma  Tidak mengandung bahan tambahan apapun  Tidak terjadi proses fermentasi pada produk  Tidak dilakukan proses pemanasan  Memiliki kandungan air yang cukup  Konduktivitas elektrik

23 Unsur-unsur yang perlu diperhatikan, yaitu:  Komposisi dan faktor kualitas:  Treatment and handling  Surface active agents  Kandungan pestisida  Kandungan mineral  Kandungan hidrokarbon aromatic poli-nuklear  Higienitas selama proses produksi dan distribusi  Persyaratan mikrobiologi  Packaging  Labeling: nama produk, nama dan tempat perusahaan, lokasi geografis sumber air, komposisi kimia, hasil treatment.

24 Dalam regulasi produk ini, dibutuhkan pengawasan pada faktor-faktor: area tempat produk diproduksi perlindungan dari kHigienitas ontaminasi buangan produk, kontrol terhadap irigasi, kontrol hama dan penyakit, pembersihan, pengemasan, dan transportasi. Desain dan konstruksi lokasi, fasilitas, gedung, area penanganan, penyediaan air, pembuangan, fasilitas cuci tangan, fasilitas disinfeksi, pencahayaan, ventilasi, fasilitas penyimpanan buangan sementara. Peralatan pemilihan material, desain fasilitas sanitasi, konstruksi, instalasi, dan identifikasi alat. Persyaratan higienitasperawatan, disinfeksi, pembersihan, kontrol hama, penyimpanan bahan-bahan berbahaya

25 Higienitas personel dan persyaratan kesehatan pelatihan sanitasi, pemeriksaan medis, penyakit menular, kecelakaan, mencuci tangan, kebersihan personal, perilaku personal, sarung tangan dan perlengkapan personal lainnya, dan pengawasan. Pencegahan kontaminasi silang. Spesifikasi produk akhir bebas dari mikroorganisme pathogen, substansi yang dihasilkan mikroorganisme, dan material yang dihasilkan atau berasal dari serangga, burung, hewan rodensia. Kriteria mikrobiologis: bebas Salmonella. Zat tambahan makanan hanya yang diperbolehkan. Kontaminan kimiawi arsen (<0.5 mg/kg), tembaga(<2 mg/kg), timbale (<2 mg/kg), cadmium (<0.5 mg/kg), merkuri (0.1 mg/kg). Pelabelan: nama produk, kandungan, produsen, tanggal kadaluarsa.

26  Street food makanan siap saji yang disiapkan dan dijual di jalan.  Persyaratan dalam penyiapan: Makanan harus dimasak dan tidak ada perubahan warna yang terjadi Sedapat mungkin, makanan yang sudah dimasak tsb terlindungi dari segala sumber kontaminasi. Makanan yang sudah matang tidak dicampur dengan yang belum matang. Makanan beku sebaiknya dipanaskan dulu sampai 70°C, segera sebelum dikonsumsi. Berbagai jenis sayuran mentah sebaiknya disimpan pada suhu di bawah 5°C. Peralatan yang dugunakan berbahan dasar gelas atau logam Hindari penggunaan bungkus makanan yang terdapat cetakan tinta

27 South East Asia

28  Populasi Asia Tenggara > ¾ hidup dari bercocok tanam.  Dalam mempersiapkan makanan, masyarakat lebih memperhatikan hal-hal berikut : ▫ Nutrisi ▫ Nilai ekonomis ▫ praktis  Pengaruh tata cara makan ala Eropa.  Makanan yang populer di Asia Tenggara : ▫ Nasi ▫ Ikan ▫ Sayur-sayuran ▫ Buah-buahan ▫ Makanan berbumbu

29  Jenis makanan yg saat ini digemari oleh masyarakat Asia Tenggara  Fast food

30 Berbagai hal yg diperlukan oleh negara berkembang : Infrastruktur pengontrol bahan makanan pokok Strategi kontrol makanan nasional Peraturan dalam bidang pangan Pemeriksaan dan sertifikasi makanan Kemampuan menganalisis Analisis risiko Sistem pemeriksaan food-borne diseases: Keikutsertaan dalam codex Implementasi sistem asuransi keamanan pangan oleh industri

31  Produk  Distributor  Pemain Pasar  Permasalahan : Fasilitas & infrastruktur tidak mencukupi Kurangnya pengetahuan mengenai teknologi modern Kurangnya pemahaman akan GHP, GAP, dan GMP

32

33  Negara harus mengembangkan kebijakan keamanan pangannya sendiri  mengikuti ketentuan internasional.  Pemerintah harus memeriksa peraturan makanan secara berkala & melakukan revisi jika diperlukan.  Pemeriksaan makanan harus diletakkan pada prioritas utama

34  Kapasitas analitis nasional harus diperkuat dengan pengadaan training bagi pihak2 terkait dalam pemerintahan.  Pemerintah harus mampu menentukan kebutuhan untuk pemeriksaan food-borne diseases.

35  Pemerintah harus memperhatikan produsen makanan, industri, dan pasar u/ memastikan keamanan pangan.  Pemerintah harus memperhatikan para penjual makanan kaki lima untuk memastikan bahwa makanan yang dijual aman bagi kesehatan.

36  Pemerintah harus mengingatkan konsumen u/ waspada dalam memilih makanan.  Pemerintah harus memfasilitasi fokus pendidikan & training,baik jangka pendek maupun jangka panjang, di semua sektor.  Pemerintah harus memberikan dukungan dalam penelitian untuk keamanan pangan dan memberikan proritas yang bertujuan dalam penyediaan data penting untuk manajemen keamanan pangan yang lebih baik.

37 Perhatian thd permasalahan keamanan pangan Kesadaran terhadap konsekuensi kesehatan akibat konsumsi makanan yg terkontaminasi. Penelitian

38  Pengesahan  Manajemen Pengontrolan Pangan  Inspeksi Pangan  Laboratorium Pengontrolan Pangan  Informasi, edukasi, komunikasi, dan pelatihan  Pemenuhan kebutuhan oleh Industri Pangan  International and Regional Trade Framework

39  Filipina  pelopor untuk program area legislation  Malaysia  inspeksi pangan & sertifikasi, monitoring, & pengawasan  Singapura  laboratorium (penelitian)  Indonesia  konsumer & empowerment  Thailand  information-sharing melalui ASEAN Food Safety Network.

40 PEOPLE'S REPUBLIC OF CHINA REPUBLIK RAKYAT CHINA Food Hygiene Law Undang-undang Kebersihan Pangan

41

42 Gambaran Umum CHAPTER IGENERAL PROVISIONSGENERAL PROVISIONS CHAPTER IIFOOD HYGIENEFOOD HYGIENE CHAPTER III HYGIENE OF FOOD ADDITIVESHYGIENE OF FOOD ADDITIVES CHAPTER IV HYGIENE OF CONTAINERS, PACKAGINGS, UTENSILS AND EQUIPMENT USED FOR FOOD CHAPTER VFORMULATION OF FOOD HYGIENE STANDARDS AND MEASURES FOR FOOD HYGIENE CONTROLFORMULATION OF FOOD HYGIENE STANDARDS AND MEASURES FOR FOOD HYGIENE CONTROL CHAPTER VIFOOD HYGIENE CONTROL CHAPTER VIIFOOD HYGIENE SUPERVISION CHAPTER VIIILEGAL RESPONSIBILITY CHAPTER IXSUPPLEMENTARY PROVISIONS

43 CHAPTER I GENERAL PROVISIONS BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 tujuan Pasal 2 sistem pengawasan Pasal 3 wewenang, hak, dan kewajiban akan pengawasan Pasal 4 cakupan hukum Pasal 5 partisipasi publik dalam pengawasan dan jaminan pemerintah Food Hygiene Law Undang-undang Kebersihan Pangan

44 CHAPTER IIFOOD HYGIENE BAB II KEBERSIHAN MAKANAN Pasal 6 persyaratan umum makanan Pasal 7 makanan untuk bayi dan anak prasekolah Pasal 8 persyaratan higienis dalam proses produksi dan pemasaranpersyaratan higienis dalam proses produksi dan pemasaran Pasal 9 makanan yang dilarang diproduksi dan dipasarkanmakanan yang dilarang diproduksi dan dipasarkan Pasal 10 makanan tidak mengandung bahan-bahan medisinal

45 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran 1) Lingkungan luar dan dalam lokasi harus bersih dan kering. Bebas lalat, rodensia, kecoa, dan serangga berbahaya lain dan kondisi yang ada tidak boleh mendukung perkembangbiakannya. Berjarak dengan lokasi toksik dan berbahaya.

46 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 2) Perusahaan harus memiliki ruang kerja untuk persiapan bahan-bahan mentah dan pemprosesan, pengepakan, dan penyimpanan sesuai dengan varietas dan kuantitas produk.

47 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 3) Terdapat sarana dan prasarana untuk disinfeksi, tempat ganti, toilet, pencahayaan (natural atau buatan), ventilasi, pencegahan kebusukan, proteksi terhadap debu, eliminasi lalat dan rodensia, pencucian, pembuangan limbah, dan penampungan sampah.

48 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 4) Tata ruang dari instalasi dan aplikasi teknologi harus dalam urutan yang tepat Mencegah kontaminasi silang (makanan yang akan diproses dan makanan siap konsumsi, bahan mentah dan produk, makanan dan senyawa beracun)

49 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 5) Tableware, kitchenware dan container untuk makanan siap konsumsi harus dibersihkan dan didisinfeksi sebelum digunakan Peralatan memasak harus dicuci sesudah digunakan dan disimpan tetap bersih

50 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 6) Tempat penyimpanan yang digunakan untuk penyimpanan, transportasi, dan bongkar muat makanan harus aman dan tetap bersih Menghindari kontaminasi makanan

51 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 7) Makanan siap konsumsi harus disimpan dalam tempat tidak beracun dan bersih

52 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 8) Pihak-pihak yang terlibat dalam produksi dan pemasaran makanan harus mempertahankan standar kebersihan, mencuci tangan, dan mengenakan pakaian kerja yang bersih dan tutup kepala ketika menyiapkan dan menjual makanan

53 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran (Lanjutan) 9) Air yang digunakan harus memenuhi standar kehigienisan nasional untuk air minum pada area perkotaan dan pedesaan 10) Deterjen dan disinfektan yang digunakan harus aman dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia

54 Pasal 8 Persyaratan Higienis Proses Produksi dan Pemasaran Persyaratan higienis untuk produksi atau pemasaran makanan yang dijalankan oleh pelaku bisnis dan penjual makanan keliling baik di perkotaan maupun pedesaan harus disusun dengan merujuk kepada Hukum ini. (by the standing committees of the people's congresses in the provinces, autonomous regions, or municipalities directly under the Central Government) Food Hygiene Law Undang-undang Kebersihan Pangan

55 Pasal 9 Makanan yang Dilarang Diproduksi dan Dipasarkan 1) Makanan yang terdeteriorasi, tengik, berjamur, dihinggapi serangga, terkontaminasi, mengandung benda asing atau memiliki keabnormalan secara sensoris. 2) Makanan yang mengandung atau terkontaminasi senyawa toksik yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. 3) Makanan yang mengandung parasit patogen, mikroorganisme, atau toksin mikroba melebihi batas toleransi. 4) Daging dan produk daging yang belum diinspeksi oleh petugas kesehatan hewan ternak atau gagal melewati inspeksi tersebut. 5) Hewan ternak, unggas, binatang buruan, dan hewan akuatik yang telah mati karena penyakit, keracunan, atau penyebab yang tidak diketahui, beserta produk olahannya. 6) Makanan yang terkontaminasi karena penggunaan kontainer yang rusak atau kotor, atau kendaraan pengangkut yang kotor. Food Hygiene Law Undang-undang Kebersihan Pangan

56 CHAPTER III HYGIENE OF FOOD ADDITIVES BAB III KEBERSIHAN BTM Pasal 11 produksi, pemasaran, dan penggunaannya harus sesuai standar-standar higienis

57 CHAPTER IV HYGIENE OF CONTAINERS, PACKAGINGS, UTENSILS AND EQUIPMENT BAB IV KEBERSIHAN PERALATAN Pasal 12containers, packagings, utensils dan equipment harus sesuai dengan regulasi kebersihan yang ada Pasal 13material yang digunakan untuk membuat peralatan harus aman. produk mudah dibersihkan Food Hygiene Law Undang-undang Kebersihan Pangan

58 CHAPTER V FORMULATION OF FOOD HYGIENE STANDARDS AND MEASURES FOR FOOD BAB V FORMULASI DAN PENGHITUNGAN STANDAR HIGIENIS MAKANAN Pasal 14 pengatur kebijakan: departemen administratif kesehatan masyarakat dibawah Dewan Pemerintahan standar kebersihan, regulasi dan inspeksi prosedur pada makanan, BTM, containers, packagings, utensils dan equipment, deterjen dan disinfektan, toleransi kontaminasi dan senyawa radioaktif. Pasal 15desentralisasi kebijakan Pasal 16 norma kepentingan terhadap ilmu kesehatan dalam BTM bahan kimia agrikultur prosedur inspeksi kebersihan dalam penyembelihan hewan ternak dan unggas Food Hygiene Law Undang-undang Kebersihan Pangan

59  ftp://ftp.fao.org/codex/Circular_letters/CXCL2008/cl0 8_15e.pdf ftp://ftp.fao.org/codex/Circular_letters/CXCL2008/cl0 8_15e.pdf   Coordinating_Asia/index.asp Coordinating_Asia/index.asp


Download ppt "Kelompok 1: Gabriella Gita(10406002) Iradani Katalia(10406003) Kania Suciati D.(10406005) Udi Jumhawan(10406015) Chitra Risnayanti(10406011) Lukito Perkasa(10406032)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google