Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertemuan ke 2 1. Analisis Deskriptif Tabel I-O 2. Analisis Pengganda Tabel I-O

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertemuan ke 2 1. Analisis Deskriptif Tabel I-O 2. Analisis Pengganda Tabel I-O"— Transcript presentasi:

1

2 Pertemuan ke 2 1. Analisis Deskriptif Tabel I-O 2. Analisis Pengganda Tabel I-O

3 ANALISIS DESKRIPSI TABEL INPUT-OUTPUT

4 Tabel Input-Output Tabel I-O adalah suatu tabel yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa yang terjadi antar sektor produksi di dalam suatu ekonomi dalam bentuk penyajian berupa matriks.

5 Cara Membaca Tabel Input-Output Secara baris, dapat dibaca bahwa : (1). Total permintaan = total penawaran (2). Total permintaan = permintaan antara + permintaan akhir = permintaan antara + (konsumsi rumah tangga + konsumsi pemerintah + pembentukan modal + ekspor) (3). Penawaran = Output domestik + impor Output = permintaaan antara + (konsumsi rumah tangga + konsumsi Pemerintah + pembentukan modal + ekspor ) - impor (4). Output = permintaan antara + PDB menurut penggunaan Seca ra kolom, dapat dibaca bahwa: (5). Total Input = Input antara + Input primer Input = Input antara + PDRB menurut sektor Jadi PDB menurut penggunaan = PDB menurut sektor

6 KEGUNAAN Sebagai alat analisis antar sektor secara menyeluruh dalam suatu perekonomian Sebagai instrumen perencanaan ekonomi yang bersifat lintas sektoral

7 Supply dan Demand Matriks Permintaan Antara (Intermediate Consumption) Matriks Permintaan Antara (Intermediate Consumption) Matriks Permintaan Akhir (Final Cons) Matriks Balas Jasa Faktor Produksi (Gross Value Added) Total Input Demand Impor Output Supply Identity

8 Struktur Penawaran Dan Permintaan *Penawaran (kol 700) = Permintaan (kol 310) *Penawaran = Produksi domestik/Output (kol 600) + Impor (kol 409 = kol 401 s/d 405) + TTM (kol 509 = kol 501 s/d 503) *Permintaan = Permintaan antara (kol 180 = kol 1 s/d …) + Permintaan Akhir (kol 309) *Permintaan Akhir = Konsumsi RT & Lemb. Nirlaba (kol 301) + Konsumsi Pemerintah (kol 302) + PMTB (kol 303) + Perubahan Stok (kol 304) + Ekspor (kol 305 dan 306)

9 *Melihat peranan produksi domestik dan impor *Melihat peranan permintaan antara dan permintaan akhir *Melihat peranan komponen permintaan akhir domestik (Konsumsi RT & Lemb. Nirlaba, Kons. Pemerintah, PMTB dan Perubahan StoK serta Ekspor) *Melihat sektor sebagai produsen utama *Melihat sektor dengan surplus/defisit tertinggi/terendah dengan melihat perbandingan/selisih permintaan dan penawaran *Mencerminkan tinggi/rendah ekspor suatu sektor tertentu *Pasokan impor suatu sektor tertentu

10 Struktur Permintaan & Penawaran Tahun 2005 (Miliar Rp)

11 Struktur Output Output (kol 600 atau baris 210) = baris 190 (baris 1 s/d …) + baris 209 Melihat kontribusi output masing-masing sektor Melihat output terbesar/terkecil Melihat “Leading Sector” dalam perekonomian

12

13 Struktur Nilai Tambah Bruto (NTB) – NTB (baris 209 = baris 201 s/d 205) – Ditentukan oleh nilai output (nilai produksi) dan input antara dalam proses produksi – Output besar/kecil belum tentu NTB besar/kecil – Melihat kontribusi NTB masing-masing sektor – Melihat NTB terbesar/terkecil – Melihat komposisi komponen NTB (upah & gaji, surplus usaha, penyusutan, pajak tak langsung/PTL dan subsidi) masing-masing sektor

14 Struktur NTB Tahun 2005

15 Struktur NTB menurut komponennya

16 Komponen Nilai Tambah Bruto menurut sektor

17 Komposisi komponen NTB menurut sektor

18 Struktur Permintaan Akhir *Permintaan akhir(kol 309 = kol 301 s/d 306) *Melihat kontribusi permintaan akhir masing- masing sektor *Melihat permintaan akhir terbesar/terkecil *Melihat komposisi komponen permintaan akhir (konsumsi RT & lemb. nirlaba, konsumsi pemerintah, PMTB, perubahan stok dan ekspor)

19 Struktur permintaan akhir tahun 2005 ® Etjih Tasriah

20

21 Analisis angka pengganda (multiplier)

22 Koefisien input-output (i-o coefficient) Nama lain: koefisien input langsung (direct input coefficient) a 32 = 0,3 berarti untuk memproduksi setiap Rp 1 output sektor 2, dibutuhkan input antara dari sektor 3 sebesar 30 sen

23 Matriks teknologi Jika ada n sektor, maka akan ada nxn banyaknya koefisien input- output a ij. Keseluruhan koefisien tersebut dapat disajikan dalam sebuah matriks A sebagai berikut Matriks ini disebut pula matriks teknologi Salah satu konsekuensi dari perhitungan koefisien input- output ialah sebagai berikut:

24 Dengan beberapa manipulasi aljabar … Dengan menyatakan bahwa z ij = a ij. X j maka sistem persamaan kita yang terdahulu dapat dituliskan ulang dalam bentuk berikut

25 Dan beberapa manipulasi aljabar lagi …

26 Sehingga jika kita bertanya: Bagaimanakah efek suatu perubahan eksogen (yaitu perubahan pada nilai permintaan akhir Y) terhadap output X? Kita ketahui bahwa (I – A)X = Y. Maka,

27 Leontief Inverse dan pengganda Keynes

28 Tabel transaksi perekonomian hipotetis Sektor ProduksiPermintaan AkhirTotal Output 12CIX Sektor Produksi Input PrimerL N Total Input

29 Leontief inverse

30 Perubahan final demand

31 Dalam bentuk tambahan (incremental)

32 Angka pengganda Analisis angka pengganda mencoba melihat apa yang terjadi terhadap variabel-variabel endogen, yaitu output sektoral, apabila terjadi perubahan variabel- variabel eksogen, seperti permintaan akhir, di perekonomian Perubahan variabel eksogen --- konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah --- Perubahan variabel endogen --- output/produksi --- Angka pengganda (multiplier)

33 Tiga macam angka pengganda Pengganda output (output multiplier) Pengganda pendapatan rumah tangga (income multiplier) Pengganda tenaga kerja (employment multiplier)

34 Angka pengganda output Jika ada tambahan final demand sebesar Rp 1 di satu sektor tertentu (katakan sektor i), berapa besar tambahan output sektor tersebut? Rp 1 tambahan final demand di sektor i --- konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah --- Tambahan output di sektor i Angka pengganda output ( output multiplier )

35 Dari contoh kasus hipotetis terdahulu Katakan terdapat tambahan final demand sebesar Rp 1 untuk sektor 1 sementara final demand sektor 2 tidak berubah. Dituliskan, Dengan menggunakan Angka pengganda (multiplier) output sektor 1:

36 Untuk sektor 2, dan seterusnya … Dengan cara yang sama, jika terdapat tambahan final demand sebesar Rp 1 untuk sektor 2, sementara final demand sektor 1 tidak berubah, maka Angka pengganda (multiplier) output sektor 2: Dengan menggunakan Sehingga secara umum dapat dituliskan

37 Angka pengganda pendapatan RT Jika ada tambahan final demand sebesar Rp 1 di satu sektor tertentu (katakan sektor i), berapa besar tambahan pendapatan rumah tangga di sektor tersebut? Pendapatan rumah tangga berasal dari penerimaan gaji/upah tenaga kerja – yang pada gilirannya merupakan proporsi tertentu dari output yang diproduksi Rp 1 tambahan final demand di sektor i --- konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah --- Tambahan output di sektor i Angka pengganda output ( output multiplier ) Tambahan pendapatan rumah tangga di sektor i Angka pengganda pendapatan rumah tangga ( household income multiplier )

38 Hubungan output-pendapatan rumah tangga Pendapatan rumah tangga berasal dari pembayaran upah/gaji oleh sektor produksi Untuk setiap Rp1 output sektor i, berapakah proporsi yang dikeluarkan untuk membayar upah/gaji? Dapat dilihat pada mat- riks input primer. Biasa- nya diletakkan sebagai input primer pertama Sehingga, proporsi upah/gaji dalam struktur produksi Sektor i dapat dilihat pada koefisien a n+1,i

39 Dari contoh kasus hipotetis terdahulu Tambahan pendapatan rumah tangga: Ini adalah SIMPLE HOUSEHOLD INCOME MULTIPLIER, dinotasikan:

40 Efek awal alternatif  Type-I multiplier Di contoh terdahulu, angka multiplier didapatkan dengan menggunakan efek awal (initial effect) dari perubahan sektoral, yaitu sebesar Rp 1. Sehingga: Alternatif lain adalah dengan menggunakan efek awal sebesar proporsi upah/gaji dalam total output, yaitu koefisien a n+1,j. Sehingga: Ini disebut dengan TYPE-1 HOUSEHOLD INCOME MULTIPLIER

41 Angka pengganda tenaga kerja Jika ada tambahan final demand sebesar Rp 1 di satu sektor tertentu (katakan sektor i), berapa besar tambahan penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut? Terdapat hubungan yang proporsional antara output yang diproduksi dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Jika kita ketahui besar tambahan output yang akan diproduksi, maka dapat dihitung pula jumlah tenaga kerja yang diperlukan Rp 1 tambahan final demand di sektor i --- konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah --- Tambahan output di sektor i Angka pengganda output ( output multiplier ) Tambahan serapan tenaga kerja di sektor i Angka pengganda tenaga kerja ( employment multiplier )

42 Dari contoh kasus hipotetis terdahulu Tambahan jumlah pekerja: Ini adalah SIMPLE EMPLOYMENT MULTIPLIER, dinotasikan: Kita membutuhkan data jumlah pekerja Di setiap sektor. Katakan data yang ada: Sektor 1 = 4 orang pekerja Sektor 2 = 10 orang pekerja Selanjutnya dapat dihitung rata-rata output sektoral untuk tiap pekerja: Berarti:

43 Efek awal alternatif  Type-I multiplier Di contoh terdahulu, angka multiplier didapatkan dengan menggunakan efek awal (initial effect) dari perubahan sektoral, yaitu sebesar Rp 1. Sehingga: Alternatif lain adalah dengan menggunakan efek awal sebesar proporsi upah/gaji dalam total output, yaitu koefisien w j. Sehingga: Ini disebut dengan TYPE-1 EMPLOYMENT MULTIPLIER

44 Data input-output Indonesia 1990 Kode tabel 1 Pertanian 2 Pertambangan & penggalian 3 Industri 4 Listrik, gas & air minum 5 Konstruksi 6 Jasa non-publik 7 Jasa publik & jasa lainnya 8 Kegiatan yg tdk jelas batasannya

45 Angka pengganda pendapatan RT

46 Angka pengganda tenaga kerja

47 Beberapa konsep tambahan

48 Efek langsung dan tidak langsung Jika terjadi tambahan permintaan akhir tentunya tambahan tersebut haruslah diproduksi, dan otomatis menjadi tambahan output. Di contoh kasus kita di atas, terjadi tambahan permintaan akhir untuk sektor 1 sebesar 200. Otomatis output sektor 1 harus naik setidaknya sebesar 200 tersebut. Inilah yang disebut dengan EFEK LANGSUNG Memproduksi tambahan output akibat efek langsung tadi memerlukan input dan bahan baku dari sektor 2. Bagi sektor 2 ini adalah tambahan permintaan. Namun dalam proses produksinya, sektor 2 membutuhkan input pula dari sektor 1 → sehingga output sektor 1 lag-lagi naik. Kenaikan karena keterkaitan antarsektor ini disebut dengan EFEK TIDAK LANGSUNG

49 Round-by-round effect

50 Jika dilakukan terus menerus … Bagaimana membuktikan bahwa jika tahap- tahapan tersebut dilakukan terus menerus hingga tambahan output yang diperlukan oleh setiap sektor adalah nol, maka nilai total output yang diperlukan tersebut akan dapat dinyatakan dalam X = (I – A) -1 Y

51 Efek tidak langsung – IO Indonesia 1990 Kode tabel 1 Pertanian 2 Pertambangan & penggalian 3 Industri 4 Listrik, gas & air minum 5 Konstruksi 6 Jasa non-publik 7 Jasa publik & jasa lainnya 8 Kegiatan yg tdk jelas batasannya

52 Terimakasih


Download ppt "Pertemuan ke 2 1. Analisis Deskriptif Tabel I-O 2. Analisis Pengganda Tabel I-O"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google