Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Membangun Citra Positif dan Penanganan Krisis Informasi Oleh: HADI MUSTOFA DJURAID Rapat Kerja Nasional Informasi dan Humas Kementerian Agama Bogor, 5.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Membangun Citra Positif dan Penanganan Krisis Informasi Oleh: HADI MUSTOFA DJURAID Rapat Kerja Nasional Informasi dan Humas Kementerian Agama Bogor, 5."— Transcript presentasi:

1 Membangun Citra Positif dan Penanganan Krisis Informasi Oleh: HADI MUSTOFA DJURAID Rapat Kerja Nasional Informasi dan Humas Kementerian Agama Bogor, 5 Juni 2014

2 Raker Informasi dan Humas 2

3  “Humas adalah upaya yang disengaja, direncanakan, dan berlanjut untuk membentuk dan menjaga kesepahaman antara sebuah organisasi dan publiknya” – British Institute of PR  “Mencakup keseluruhan komunikasi yang terencana, baik ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan saling pengertian – Frank Jefkin  “… adalah seni dan ilmu pengetahuan sosial untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekuensinya, menasehati para pemimpin organisasi, dan melaksanakan program yang terencana mengenai kegiatan-kegiatan melayani, baik kepentingan organisasi maupun kepentingan publik atau umum.” -Pernyataan Asosiasi PR Seluruh Dunia, Mexico,

4 Raker Informasi dan Humas Humas pemerintah adalah lembaga humas dan/atau praktisi humas yang melakukan fungsi manajemen dalam bidang informasi dan komunikasi yang persuasif, efektif, dan efisien, untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan publik melalui berbagai sarana kehumasan dalam rangka menciptakan citra dan reputasi yang posistif instansi pemerintah (Peraturan Meneg PAN dan RB no. 30 Tahun 2011 tentang Tata kelola Kehumasan di Lingkungan Pemerintah. 4

5 Raker Informasi dan Humas Kata kunci dalam Kehumasan, menurut Wilcox, Ault, Agee (1998)* : –Deliberate: disengaja –Planned: direncanakan –Performance: tolok ukur hasil –Public Interest: membawa manfaat bagi organisasi dan masyarakat umum –Two-way Communication: komunikasi timbal balik *) dalam “Public Relations, Strategies and Tactics”. 5

6 Raker Informasi dan Humas Memberikan penerangan kepada publik, Melakukan persuasi melalui berbagai pendekatan untuk mengubah sikap dan tingkah laku publik Menyatukan sikap dan perilaku suatu lembaga sesuai dengan harapan masyarakat (Edward L. Bernays) 6 Dua Fungsi: External Relations Internal Relations

7 Raker Informasi dan Humas Eksternal: membina hubungan harmonis dan saling pengetian antara organisasi dan stake hoders-nya dan mencegah timbulnya rintangan psikologis yang mungkin terjadi antara keduanya dalam rangka menjaga dan memperkuat reputasi dan citra organisasi Internal: membangun kebersamaan dan kesefahaman di lingkungan intern lembaga/organisasi terhadap tugas, tanggung jawab, dan tujuan organisasi/lembaga 7

8 Raker Informasi dan Humas Internal Relations  Penerbitan Buletin  Family Gathering  Kegiatan olahraga dan hobi  Dll External Relations  Stakeholders Relations  Parlemen, Kementerian, Lembaga Negara  Ormas, LSM  Public figure, opinion maker  Media Relations  Understanding Media  Media Handling 8 Standar Kompetensi Humas Pemerintah Mencakup 2 (Dua) Lingkup Tugas

9 Raker Informasi dan Humas Ekspektasi publik terhadap Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II amat tinggi, termasuk dan/atau khususnya terhadap Kementerian Agama. Publik menaruh harapan besar agar Kementerian Agama mampu membuat perubahan yang mendasar di seluruh ruang lingkup tugasnya, dan mampu menjadi kementerian yang layak diteladani oleh kementerian atau lembaga pemerintah lainnya; Sejumlah bidang tugas Kementerian Agama selalu menjadi isu krusial yang menjadi sorotan utama publik, yaitu: –Penyelenggaraan ibadah haji beserta seluruh aspek terkait –Kehidupan umat beragama, khususnya terkait dengan isu kebebasan beragama dan kerukunan antar umat beragama –Hal-hal yang terkait dengan praktik good governance, khususnya menyangkut pengelolaan anggaran/keuangan Kuatnya tertanam stigma negatif terhadap Kementerian Agama 9

10 Raker Informasi dan Humas Realitas dan Kompleksitas Persoalan di Era Reformasi Pemerintah telah banyak melakukan perubahan dan perbaikan menuju tatanan yang lebih baik, berbagai kemajuan dan prestasi telah diraih. Namun pencapaian dan prestasi itu belum terkomunikasikan dengan baik untuk membangun citra dan reputasi pemerintah yang lebih positif. Hal itu antara lain disebabkan dua hal penting, yaitu trend sikap redaksional media dan belum optimalnya fungsi kehumasan pemerintah. Media massa masih mengacu pada adagium bad news is a good news. Akibatnya public awareness terhadap program dan capaian Kementerian Agama menjadi rendah sehingga berdampak pada public images yang cenderung negatif. 10 Keterbukaan Informasi dan Kemerdekaan Pers telah menghadirkan dilema tersendiri bagi pemerintah

11 Raker Informasi dan Humas 11 ORDE LAMA (1945 – 1966) Media memiliki tujuan yang sama: Kemerdekaan dari penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ERA REFORMASI (1999 – Sekarang) Kebebasan pers ditandai dengan penghapusan Kebebasan pers ditandai dengan penghapusan Departemen Penerangan dalam Kabinet Reformasi. UU Pers Tahun ‘99 membebaskan perusahaan pers UU Pers Tahun ‘99 membebaskan perusahaan pers Dari kewajiban izin publikasi. Terjadi peningkaiatn jumlah media secara signifikan Terjadi peningkaiatn jumlah media secara signifikan ORDE BARU (1966 – 1999) Kebebasan pers dibatasi oleh peraturan perundangan,Kebebasan pers dibatasi oleh peraturan perundangan, dan digunakan sebagai alat pemerintah untuk mendukung tujuan dan rencana pemerintah (SIUP, Departemen Penerangan) Isi berita harus mendukung pemerintah/penguasa. Isi berita harus mendukung pemerintah/penguasa. Evolusi Jurnalisme di Indonesia

12 Raker Informasi dan Humas –Euforia reformasi masih akan terus berlangsung. Sebagian orang berpendapat sudah ’kebablasan’, melewati batas-batas kewajaran. Bagi pemerintah, perkembangan ini mengganggu dan 'annoying'. –Kemudahan untuk mendapatkan SIUPP membuat standarisasi profesi kewartawanan menjadi rendah. Asal ada uang, setiap orang bisa mendirikan koran dan radio tanpa memperhitungkan apakah seseorang mengerti jurnalistik atau tidak, mampu menggunakan profesi jurnalistik secara bertanggungjawab atau tidak. –Rendahnya standar profesi ini membuat standar kualitas dan kredibilitas isi pemberitaan juga dipertanyakan. –Banyak penerbitan tidak sehat. Karena tidak sehat maka wartawan tidak digaji secara pantas. Banyak wartawan hanya mengharapkan ’amplop’. Penegakan kode etik wartawan telah menjadi problem tersendiri bagi organisasi profesi wartawan. 12

13 Raker Informasi dan Humas –Bad News is (still) Good News. –Media juga cenderung menjadi ANTI-PROSES serta tidak konsisten mengedepankan satu masalah sampai tuntas. –Kolom-kolom media menjadi kecil (Post-Journalism). –Pendekatan hiburan menjadi pilihan. –Masyarakat kita memiliki SHORT-SOCIAL MEMORY (tergantung pendidikan), sehingga satu isu yang panas dapat segera dilupakan orang bila ada isu baru. –Media hanya mewawancarai (walau secara berkala juga mencipta) MEDIA DARLING, selebritas-selebritasnya. 13

14 Raker Informasi dan Humas  MAINSTREAM  Menjunjung tinggi standard dan etika jurnalistik  Memihak pada kepentingan publik  Fungsi Bisnis dan edukasi sama-sama menonjol  Dapat menjadi acuan dan referensi yang trusted.  Relatif mudah deal secara rasional  NON-MAINSTREAM  Biased  Own agenda menonjol, baik secara institusi maupun pribadi-pribadi  Cenderung lemah dalam standard dan etika jurnalistik  Sekadar menjadi alat untuk mencapai tujuan-tujuan pemilik, pengelola atau tujuan pribadi jurnalisnya.  Relatif sulit deal secara rasional, biasanya deal dengan uang 14

15 Raker Informasi dan Humas Realitas Kehumasan Pemerintah: 1.Persoalan kompetensi akibat keterbatasan wawasan dan pemahaman, kapasitas dan kecakapan 2.Persoalan struktural kelembagaan. Terdapat banyak jumlah dan jenis satker, komunikasi dan kordinasi yang kurang maksimal 3.Efektivitas program kehumasan 15

16 Raker Informasi dan Humas  Pemerintah berkomitmen untuk tidak memutar mundur jarum jam sejarah. Pemerintah tetap berkomitmen penuh mendukung keterbukaan informasi dan kemerdekaan pers. Meskipun dalam praktiknya, iklim kondusif tersebut cenderung disalahmengerti dan disalahgunakan oleh sejumlah kalangan media. 16 Hal itu berarti tugas dan fungsi Humas Pemerintah semakin berat dan penuh tantangan!

17 Raker Informasi dan Humas Membangun public awareness terhadap kiprah, program, dan kinerja Kementerian Agama; Memperkuat citra dan reputasi Kementerian Agama sebagai institusi yang kredibel, kapabel, akuntabel, serta penuh integritas dan dedikasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab Situasi yang kondusif untuk melaksanakan seluruh kebijakan dan program Kementerian Agama Dukungan publik dan stakeholders terhadap kebijakan dan program Kementerian Agama 17

18 Raker Informasi dan Humas Media Understanding: Pahami cara kerja dan kebutuhan media Media Relations: Jalin hubungan baik dengan media Media Handling: Tangani dengan baik kegiatan yang berkaitan dengan media 18

19 MEDIA RELATIONS

20 KOORDINASI KEHUMASAN KEMENAG RI 20 Friend or or Foe??? Foe???

21 Raker Informasi dan Humas 21 “Di era komunikasi, mereka yang gagal atau tidak mampu berkomunikasi dengan publik akan dilupakan” John Beardsley (2004) ……..media adalah sarana paling efektif untuk berkomunikasi dengan publik & membangun citra dan reputasi

22 Raker Informasi dan Humas Media adalah “KAWAN” jika: –Kita mampu mengembangkan hubungan baik dan saling memahami, sehingga kita bisa memetik manfaat dari kelebihan dan kekuatan media. Media adalah “LAWAN” bila: –Kita tidak mampu menjalin relasi yang positif, saling percaya, dan saling memahami. –Kita tidak siap mengoptimalkan potensi pers dengan pendekatan yang media friendly. 22

23 Raker Informasi dan Humas “Media Relations hanyalah salah satu bagian dari Public Relations, namun ini bisa menjadi perangkat yang amat penting dan menentukan, bahkan menjadi porsi terbesar dari Public Relations. Begitu kita bisa menyusun pesan yang bukan saja diterima tapi dianggap penting oleh media, maka kita sudah membuat langkah besar untuk keberhasilan program” Barbara Averill (1997) 23

24 Raker Informasi dan Humas Interaksi yang baik dengan media adalah penting karena kita bisa mengendalikan PROSES tetapi tidak bisa mengendalikan HASIL. Karena itu: Setiap interaksi dengan media sebaiknya direncanakan dan dipersiapkan dengan baik Setiap interaksi dengan media sebaiknya direncanakan dan dipersiapkan dengan baik 24

25 Raker Informasi dan Humas 25 Materi / Substansi Informasi Waktu Kesiapan juru bicara Jenis interaksi dengan media

26 Raker Informasi dan Humas Media bukan alat tapi mitra dalam mencapai tujuan Pahami kebutuhan media massa dan bagaimana media massa bekerja Jangan pernah berbohong Jadilah narasumber yang berharga dengan mengembangkan profesionalitas, respek, dan saling percaya Jangan membuat persoalan yang tidak perlu dengan media 26

27 Raker Informasi dan Humas Fast: Menghormati deadline wartawan. Jika seorang wartawan menelpon untuk suatu informasi, tanggapi telepon secepatnya, meskipun sudah di luar jam kantor. Factual: Harus sesuai fakta dan menarik. Suatu cerita selalu didasarkan pada fakta yang ada. Berikan sumber-sumber fakta yang ada dan berikan pula data statistik. Frank: Jujur. Jangan menyesatkan wartawan. Terbukalah dan tanggapi pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan. Fair: Organisasi harus adil terhadap wartawan jika mereka mengharapkan wartawan untuk adil kepada mereka. Friendly: Seperti layaknya orang lain, wartawan juga senang akan sopan santun, respek, dan kebaikan. Ingat nama mereka, baca apa yang mereka tulis, dengarkan apa yang mereka ucapkan, ketahui kesenangan mereka, dan berterima kasihlah kepada mereka. 27

28 Raker Informasi dan Humas Pemberitaan media yang positif –Media Audit Persepsi yang positif di kalangan internal (user), media, pemangku kepentingan, terhadap citra personal Menteri/Pejabat Kementerian, dan kebijakan/program Kementerian. –Survey, polling, etc Kepuasan publik terhadap pelayanan lembaga –Survey,polling, etc 28

29 Raker Informasi dan Humas Fungsi Humas secara luas tidak hanya menjadi tanggung jawab Bagian Humas, tapi seluruh unsur/bagian dan pimpinan/pejabat lembaga; Oleh sebab itu penting bagi seluruh pimpinan/pejabat lembaga untuk memiliki kemampuan media relations yang baik, di antaranya faham media (media savy) sehingga bisa berhubungan dan menangani media/wartawan dengan baik 29

30 MANAJEMEN KRISIS

31 Raker Informasi dan Humas 1.Secara simultan muncul pemberitaan negatif tentang lembaga atau figur penting lembaga di media massa, khususnya media mainstream 2.Intensitas pemberitaan negatif terus meningkat dari waktu ke waktu 3.Berkembangnya antipati, kekecewaan, keraguan, atau ketidakpercayaan terhadap lembaga akibat pemberitaan tersebut krisis informasi

32 Raker Informasi dan Humas manajemen krisis informasi Manajemen Krisis Informasi adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengidentifikasi, mengevaluasi dan merespon isu-isu kebijakan publik yang potensial merusak citra, reputasi, dan kredibilitas lembaga 2 2 esensi manajemen krisis: Identifikasi dini atas isu yang berpotensi mempengaruhi organisasi Respons strategis yang didesain untuk mengurangi atau dampak dari isu tersebut

33 Raker Informasi dan Humas menekan dampak buruk akibat kerusakan yang diakibatkan oleh berkembangnya informasi tertentu menjaga dan memulihkan kredibilitas lembaga di mata publik dan stakeholderstujuan

34 Raker Informasi dan Humas 1. Perencanaan/Planning 2. Identifikasi/Identification 3. Pengucilan/Isolation 4. Membatasi/limitation 5. Menekan/reduction 6. Pemulihan/recovery lingkup manajemen krisis

35 Raker Informasi dan Humas fungsi perencanaan Merumuskan langkah secara sistematis dan terorganisasi, dengan tahapan dan target yang jelas

36 Raker Informasi dan Humas lingkup perencanaan  Mengidentifikasi krisis  Pembentukan tim/unit krisis  Pengembangan pesan  Perumusan agenda  Edukasi dan sosialisasi internal  Pengembangan daftar kontak darurat

37 Raker Informasi dan Humasidentifikasi  Kerentanan yang dihadapi lembaga  Ancaman-ancaman yang dihadapi lembaga  Mengklasifikasi krisis yang mungkin terjadi  Analisis potensi kerusakan dan dampak krisis  Pemetaan media dan stakeholders

38 Raker Informasi dan Humas pemetaan media & stakeholders  Advokatif  Positif  Netral  Negatif  Ambivalen  Akses yang tidak mencukupi  Media relations yang lemah  Kurang jelas dalam berkomunikasi  Tidak responsif dalam melihat trend KESALAHAN DALAM MENGHADAPI STAKEHOLDERS SIKAP MEDIA & STAKEHOLDERS

39 Raker Informasi dan Humas merumuskan pesan Dalam situasi krisis, harus ada satu atau lebih pesan kunci/key message yang terus menerus disampaikan kepada publik Prinsip Pesan Kunci:  tidak apriori  tidak defensif  valid dan akurat, didukung data dan fakta Pesan Kunci memuat:  Informasi yang jelas dan akurat  Posisi dan sikap lembaga  Keinginan kuat untuk menyelesaikan masalah  Langkah dan tindakan yang sudah dan akan ditempuh

40 Raker Informasi dan Humas manajemen pesan Akurasi informasi __________ Kecepatan distribusi informasi Empati Jujur Terbuka Profesionalitas Keberhasilan Komunikasi = + Kredibilitas

41 Raker Informasi dan Humas tim / unit krisis Tim / Unit penanganan krisis terdiri dari unsur pimpinan, humas, dan pihak terkait Berfungsi sebagai tim yang secara terus menerus memantau, mencermati, serta responsif dan proaktif mengambil tindakan yang diperlukan untuk meredam krisis Tim / Unit Krisis dilengkapi dengan: SOP Penanganan Krisis Tim Analisis Tim Media Juru Bicara

42 Raker Informasi dan Humas juru bicara Juru Bicara penting karena:  Dalam situasi krisis, informasi kepada media dan publik harus terencana, terkendali, dan terukur  Harus ada kebijakan one door policy: semua informasi kepada media dan publik hanya melalui satu pintu

43 Raker Informasi dan Humas prinsip juru bicara  Berwenang berbicara kepada publik dan media mewakili lembaga  Memiliki otoritas di dalam lembaga baik dari sisistruktural, keahlian, dan pengalaman  Memiliki inisiatif tinggi yang didukung media relations yang baik  Memiliki karakteristik:  Empatik  Jujur dan otentik  Menguasai masalah  Responsif dan proaktif  Terbuka menerima kritik  Good looking

44 Raker Informasi dan Humas 44 Knowledge (pengetahuan) Availability (mudah dihubungi) Willingness (suka membantu/service attitude) Speaking qualities (mampu berbicara dengan baik) Physical presence (penampilan meyakinkan) Media savvy (melek media) juru bicara -2 juru bicara -2 Juru bicara semestinya bisa menjadi media darling. Karakteristik media darling:

45 Raker Informasi dan Humas 45 available If reporters know you are available, they will call you before they call the competition. reliable If you are reliable, you will have more control over the story outcome. credible If you are credible, you will establish a long-term, mutually beneficial relationship with the media. juru bicara -3 juru bicara -3

46 Raker Informasi dan Humas 46 Siap menghasilkan pernyataan yang layak kutip (great quotes). Menghormati deadline Tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang off the record juru bicara -4 juru bicara -4

47 Raker Informasi dan Humas perumusan agenda Merumuskan langkah yang harus dijalankan oleh Tim Krisis Di antaranya: –Mengoptimalkan media relations –Media analysis untuk mencermati trend pemberitaan dan merusmuskan respon –Menyusun fact sheet tentang isu yang sedang dihadapi –Merespon isu yang berkembang dengan tetap mengedepankan pesan kunci / key message –Tetap membuka pintu untuk media dan merespon positif permintaan wawancara/talkshow media –Proaktif menginformasikan berbagai kinerja dan capaian positif yang yang tidak terkait langsung dengan isu utama yang sedang disorot publik –Mengadakan pertemuan terbatas pimpinan media untuk backgrounders –Mengupayakan third party endorsement: dukungan pihak ketiga yang memiliki pengaruh/kewibawaan di mata media dan publik

48 Raker Informasi dan Humas perumusan agenda -2  Implementasi SOP penanganan krisis  Menjadi sumber informasi dan rujukan media  Bersifat empati lebih awal jika terkait dengan jatuhnya korban  Tunjukkan kompetensi dan pengalaman  Bersikap jujur dan terbuka

49 Raker Informasi dan Humas sosialisasi internal Menginformasikan kepada jajaran internal mengenai potensi kerawanan akibat terjadinya krisis Memberi arahan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam situasi krisis Menekankan untuk tidak berbicara kepada media dalam bentuk apa pun

50 Raker Informasi dan Humas kegagalan komunikasi krisis  Munculnya berbagai pesan dari berbagai sumber (key message tidak jelas)  Diseminasi informasi yang terlambat  Perilaku arogan  Meremehkan rumor dan membiarkan berkembang  Meremehkan tekanan publik

51 Raker Informasi dan Humas recovery  Perbaikan sistem dan perencanaan  Memperkuat hubungan stakeholders  Proaktif mengembangkan media relations  Proaktif menginformasikan capaian dan kinerja lembaga

52 Raker Informasi dan Humas


Download ppt "Membangun Citra Positif dan Penanganan Krisis Informasi Oleh: HADI MUSTOFA DJURAID Rapat Kerja Nasional Informasi dan Humas Kementerian Agama Bogor, 5."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google