Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KONSEP DASAR Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KONSEP DASAR Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya."— Transcript presentasi:

1

2 KONSEP DASAR Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar Manusia memulai kehidupannya dengan Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian

3 Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar : Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar : Pembiasaan klasik, Pembiasaan klasik, Pembiasaan operan Pembiasaan operan Peniruan. Peniruan.

4 Perilaku manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Perilaku manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Manusia cenderung akan mengambil sti-mulus yang menyenangkan dan menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan. Manusia cenderung akan mengambil sti-mulus yang menyenangkan dan menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan.

5 Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diteri- manya. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diteri- manya. Memahami kepribadian manusia : mempelajari dan memahami bagai-mana terbentuknya suatu tingkah laku Memahami kepribadian manusia : mempelajari dan memahami bagai-mana terbentuknya suatu tingkah laku

6 KARAKTERISTIK KONSELING BEHAVIORAL : Berfokus pada tingkah laku yang tampak Berfokus pada tingkah laku yang tampak Cermat dan operasional dalam merumuskan tujuan konseling Cermat dan operasional dalam merumuskan tujuan konseling Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik Penilaian obyektif terhadap tujuan konseling Penilaian obyektif terhadap tujuan konseling

7 ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah

8 Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya Tingkah laku maladaptif terjadi karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat Tingkah laku maladaptif terjadi karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar

9 TUJUAN KONSELING  Menghapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

10 Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik Diinginkan oleh klien Diinginkan oleh klien Konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut Konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut Klien dapat mencapai tujuan tersebut Klien dapat mencapai tujuan tersebut Dirumuskan secara spesifik Dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan- tujuan khusus konseling. Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan- tujuan khusus konseling.

11 DESKRIPSI PROSES KONSELING Proses konseling dibingkai oleh kerangka kerja untuk mengajar klien dalam mengubah tingkah lakunya Proses konseling dibingkai oleh kerangka kerja untuk mengajar klien dalam mengubah tingkah lakunya Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut

12 1. Identifikasi Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar- benar dialaminya pada waktu itu Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar- benar dialaminya pada waktu itu Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.

13 2. Perumusan Tujuan Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a. Konselor dan klien mendifinisikan a. Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien masalah yang dihadapi klien b. Klien mengkhususkan perubahan positif b. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sbg hasil konseling yang dikehendaki sbg hasil konseling

14 c. Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : c. Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : 1) apakah tujuan benar-benar diinginkan klien 1) apakah tujuan benar-benar diinginkan klien 2) apakah tujuan itu realistik 2) apakah tujuan itu realistik 3) kemungkinan manfaatnya 3) kemungkinan manfaatnya 4) kemungkinan kerugiannya. 4) kemungkinan kerugiannya.

15 d. Konselor dan klien membuat d. Konselor dan klien membuat keputusan apakah : keputusan apakah : 1) melanjutkan konseling dengan 1) melanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan dilaksanakan 2) mempertimbangkan kembali 2) mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai tujuan yang akan dicapai 3) melakukan referal 3) melakukan referal

16 3. Implementasi Teknik menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling 4. Evaluasi melakukan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling melakukan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling 5. Tindak lanjut memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling. memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.

17 TEKNIK KONSELING Teknik konseling behavioral diarahkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk Teknik konseling behavioral diarahkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk

18 Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan ag ar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya, penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan ag ar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya, penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.

19 Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung) Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung) Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak

20 TEKNIK-TEKNIK KONSELING Latihan Asertif Latihan Asertif Digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar Digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar Terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya Cara : permainan peran dengan bimbingan konselor, diskusi kelompok

21 Desensitisasi Sistematis Desensitisasi Sistematis Memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan

22 o Dengan pengkondisian klasik respon- respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap o Tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

23 Pengkondisian Aversi Pengkondisian Aversi o Digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) shg tk laku tsb terhambat kemunculannya. Stimulus dpt brp sengatan listirk atau ramuan yang membuat mual o Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya o Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

24 Pembentukan Tingkah laku Model Pembentukan Tingkah laku Model o Digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk o Konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh o Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor : dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.

25 KETERBATASAN Konseling Behavioral 1. Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulatif, dan pribadi, bersifat manipulatif, dan mengabaikan hubungan antar pribadi mengabaikan hubungan antar pribadi 2. Lebih terkonsentrasi kepada teknik 3. Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor

26 4. Konstruksi belajar yang dikembangkan dan digunakan oleh konselor behavioral dan digunakan oleh konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menje- tidak cukup komprehensif untuk menje- laskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus diuji laskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus diuji 5. Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk tingkah laku yang lain.

27

28 KONSEP DASAR Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut.

29 Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi.

30  Hakikat manusia menurut Gestalt : Hanya dapat dipahami dalam keseluruhan konteksnya Hanya dapat dipahami dalam keseluruhan konteksnya Merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu Merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu Aktor bukan reaktor Aktor bukan reaktor

31 Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya Dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab Dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab Mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. Mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.

32 Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia : Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia : tidak ada yang “ada” tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.

33 Kecemasan : Kecemasan : “kesenjangan antara “kesenjangan antara saat sekarang dan saat sekarang dan yang akan datang” yang akan datang” Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpu- kau pada masa depan, maka mereka mengalami kecemasan.

34 Unfinished business Unfinished business (urusan yang tak selesai) (urusan yang tak selesai) perasaan-perasaan yang tidak perasaan-perasaan yang tidak tersalurkan/terungkapkan tersalurkan/terungkapkan seperti : dendam, kemarahan, seperti : dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan berdosa, rasa diabaikan

35 Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan di ba- wa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubung- an yang efektif dengan dirinya sendi- ri dan orang lain Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan di ba- wa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubung- an yang efektif dengan dirinya sendi- ri dan orang lain Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia berani mengha- dapi dan menangani/mengatasinya Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia berani mengha- dapi dan menangani/mengatasinya

36 ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH Individu bermasalah terjadi karena adanya pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog” Individu bermasalah terjadi karena adanya pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog” o Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam o Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.

37 Perkembangan yang terganggu karena terjadi ketidakseimbangan antara apa-apa yang diinginkan dan apa-apa yang dilakukan Perkembangan yang terganggu karena terjadi ketidakseimbangan antara apa-apa yang diinginkan dan apa-apa yang dilakukan Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya

38 Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi

39 Spektrum tingkah laku bermasalah : Spektrum tingkah laku bermasalah : 1. K epribadian kaku (rigid) 2. Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung 3. Menolak berhubungan dengan lingkungan 4. Memeliharan unfinished bussiness 5. Menolak kebutuhan diri sendiri 6. Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih”. kontinum “hitam-putih”.

40 TUJUAN KONSELING Tujuan utama : Tujuan utama : Membantu klien berani Membantu klien berani menghadapi tantangan dan menghadapi tantangan dan kenyataan kenyataan Klien dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.

41 Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, ia baru memanfaatkan sebagian dari potensinya yang dimilikinya Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, ia baru memanfaatkan sebagian dari potensinya yang dimilikinya Melalui konseling konselor Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. dikembangkan secara optimal.

42 Tujuan spesifik Tujuan spesifik 1. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta menda-patkan insight secara penuh 2. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya

43 3 3. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) 4. Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip- prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.

44 DESKRIPSI PROSES KONSELING Fokus utama konseling : bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya Tugas konselor : mendorong klien untuk Tugas konselor : mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya dirinya dan mau mencoba menghadapinya Klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang

45 Konselor menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun memberi nasihat Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri Konselor membantu klien menghadapi transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien.

46 Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila Konselor membantu membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. Konselor membantu membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.

47 Deskripsi Fase-fase Proses Konseling : Fase pertama Fase pertama  konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien  Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing- masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.

48 Fase kedua Fase kedua  Konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien  Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :

49 1. Membangkitkan motivasi klien :  memberi kesempatan klien untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya  Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. 2. Mebangkitkan otonomi klien :  menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.

50 Fase ketiga Fase ketiga  Konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini  Klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini.

51  Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor   Melalui fase ini, konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang, dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.

52 Fase keempat Fase keempat  Setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling  Pada fase ini klien menunjukkan gejala- gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.

53  Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya.  Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.

54 TEKNIK KONSELING Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal  Penekanan Tanggung Jawab Klien, konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya.

55 Orientasi Sekarang dan Di Sini Orientasi Sekarang dan Di Sini  Konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang  Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang  Konselor tidak bertanya dengan pertanyaan “mengapa”.

56 Orientasi Eksperiensial Orientasi Eksperiensial   konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah- masalahnya, sehingga klien mampu mengintegrasikan kembali dirinya:   klien mempergunakan kata ganti personal   klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan   klien mengambil peran dan tanggung jawab   klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya

57 Teknik-teknik Konseling Gestalt Teknik-teknik Konseling Gestalt  Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya : Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya :  kecenderungan orang tua lawan anak

58  Kecenderungan “anak baik” lawan “anak bodoh”  Kecenderungan bertanggung jawab lawan masa bodoh  Kecenderungan otonom lawan tergantung  Kecenderungan kuat atau tegar lawan lemah

59  Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko

60 Latihan “Saya Bertanggung Jawab” Latihan “Saya Bertanggung Jawab”  Teknik untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyek-sikan perasaannya itu kepada orang lain.  Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “...dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.

61  Misalnya :  “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”  “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”.  “Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”.  Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.

62 Bermain Proyeksi Bermain Proyeksi  Proyeksi :  Memantulkan kepada orang lain perasaan- perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain

63  Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya  Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.

64 Teknik Pembalikan Teknik Pembalikan  Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya  Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan- perasaan yang dikeluhkannya.

65  Misalnya : Konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan Konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan

66 Tetap dengan Perasaan Tetap dengan Perasaan  Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan dan ia sangat ingin menghindarinya  Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

67  Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan  Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

68  Untuk membuka dan membuat jalan me- nuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru : tidak cukup hanya mengkonfron- tidak cukup hanya mengkonfron- tasi dan menghadapi perasaan - perasaan yang ingin dihindarinya tasi dan menghadapi perasaan - perasaan yang ingin dihindarinya  membutuhkan keberanian dan pengalam- an untuk bertahan dalam kesakitan pera- saan yang ingin dihindarinya itu.

69 KETERBATASAN KONSELING BEHAVIORISTIK 1. Pendekatan gestalt cenderung kurang memperhatikan faktor kognitif 2. Pendekatan gestalt menekankan tanggung jawab atas diri sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab pada orang lain tetapi mengabaikan tanggung jawab pada orang lain

70 3. Menjadi tidak produktif bila penggunaan teknik-teknik gestalt dikembangkan secara mekanis 4. Dapat terjadi klien sering bereaksi negatif terhadap sejumlah teknik gestalt karena merasa dirinya dianggap anak kecil atau orang bodoh.

71 CLIENT CENTRED THEORY Tokoh : Carl Rogers (1902) Konsep unggul : Konselor bukan orang yang tahu segalanya Konseli adalah orang yang mampu mengarahkan dirinya sendiri (self-direction), sehingga tidak perlu : advice, suggestion, persuassion, teaching, diagnosis dan interpretation

72 Hakekat Manusia 1. Organisme (the total individual) 2. Medan phenomenal (the totally of experience) 3. Self, merupakan bagian dari medan phenomenal yang terdeferensiasikan dan tediri dari pola pengamatan dan penilaian sadar dari “I” atau “Me”

73 Tujuan Konseling Membantu konseli agar menjadi manusia yang berfungsi seutuhnya

74 Sifat Organisme dan self 1. Oganisme : memenuhi kebutuhan, mengaktualisasi diri dan melambangkan pengalaman  menolak 2. Self : berinteraksi dengan lingkungan, menginteraksi nilai orang lain secara tidak wajar, mengnginkan keselarasan, ertindak selaras dengan self, pengalaman yang tidak selaras dengan self dianggap ancaman dan self mungkin berubah karena hasil kematangan dan belajar

75 Kepribadian SEHAT : Kepribadian SEHAT : 1.Terbuka dengan pengalaman baru 2.Percaya pada diri sendiri 3.Mempergunakan sumber dari dalam diri untuk mengevaluasi 4.Keinginan untuk terus tumbuh Ke[ribadian TIDAK SEHAT : Tidak selaras antara konsep diri dengan pengalaman

76 Tehnik Konseling Tidak ada tehnik khusus, yang penting dalam komunikasi banyak menggunakan tehnik “bersama” konseli.

77 PSYCHOANALYSIS THERAPY Tokoh : Sigmund Schlomo Freud Konsep unggulan : Investigasi pemikiran dan perasaan yang tidak disadari Konsep Id, Ego dan Superego

78 Hakekat Manusia Manusia ditentukan oleh tekanan irasional, motivasi yang tidak disadari, dorongan biologis, dorongan instink dan kejadian psikoseksual 6 th pertama Manusia memiliki instink hidup dan instink mati Manusia ibarat gunung es, hal yang tampak adalah kesadaran dan yang terbenam adalah ketidaksadaran

79 Kepribadian : SEHAT : Mampu mengintegrasikan id dan ego TIDAK SEHAT : Memiliki ego defence mechanism

80 Tujuan Konseling : 1. M M M Mengembalikan fungsi ego agar lebih kuat dengan menumbuhkan self- knowledge 2.Mampu mencapai kesadaran diri, berbuat jujur, mengendalikan perilaku 3. Memberi lingkungan yang kondusif

81 Tehnik Konseling : 1.Penafsiran 2.Analisis mimpi 3.Asosiasi Bebas

82 TRAIT AND FACTOR Tokoh : E.Griffit Williamson Konsep Unggulan : penggunaan alat-alat pengukur ilmiah atribut manusia

83 Hakekat Manusia : 1 Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik maupun buruk 2 Manusia berkembang dalam masyarakat dan tidak bisa sepenuhnya hidup diluar masyarakat 3 Manusia ingin mencapai kehidupan yang baik

84 Kepribadian 1. SEHAT : memahami diri 2. TIDAK SEHAT : tidak memahami diri

85 Tujuan Konseling 1. Membantu menerima pandangan diri sendiri, berpikir jernih dan mengontrol perkembangan secara rasional 2. Memperkuat pemahaman sifat agar dapat bereaksi secara wajar 3. Mengubah sifat subyektif dan kesalahan dalam konsep diri

86 Prosedur konseling 1. Rapport 2. Activity of understanding 3. Planning 4. Advicing 5. Try out of planning 6. Referral

87 Extensial therapy Tokoh : Victor Frankl (1905) Konsep Unggulan : semua manusia akan berusaha untuk mendapatkan arti hidup dan tujuan yang ingin diraihnya selama hidupnya. semua manusia akan berusaha untuk mendapatkan arti hidup dan tujuan yang ingin diraihnya selama hidupnya.

88 Hakekat manusia 1. Berpusat pada diri sendiri 2. Memiliki karakter untuk menyatakan diri dan melindungi diri 3. Memiliki kemungkinan bergerak 4. Memiliki kesadaran subyektifitasnya sendiri dalam hubungan denngan orang lain 5. Memiliki keunikan : kesadaran diri(pengetahuan terhadap bahaya dari luar) 6. Memiliki kecemasan  perasaan untuk bertahan terhadap sesuatu yang akan mencelakakan diri

89 PRIBADI SEHAT : 1. Freedom 2. Choice 3. Independent 4. Responsibility

90 Tujuan Konseling : Membantu individu agar mampu bertindak dan menerima kebebasan dan bertanggungjawab dalam tindakan

91 REALITY THERAPY Tokoh : William Glasser Konsep Unggulan : 1. Konseling yang menekankan pada masa kini dan nyata 2. Menolak konsep sakit mental,tetapi tidak bertanggung jawab 3. Berorientasi pada masa yang akan datang 4. Menekanan pentingnya nilai 5. Mencarikan alternatif nyata(apa yang harus dilakukan, apa yang diinginkan) dalam membantu 6. Menghapus hukuman, tetapi penanaman disiplin 7. Menekankan konsep tanggungjawab

92 Hakekat manusia 1. Manusia mempunyai kebutuhan psikologis tunggal 2. Ciri kepribadian yang khas menimbulkan dinamika tingkah laku 3. Setiap orang mempunyai kemampuan potensial 4. Potensi harus diusahakan untuk berkembang

93 Kepribadian sehat 1. Berperilaku penuh tanggung jawab 2. Memiliki disiplin

94 Tujuan Konseling 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri 2. Mendorong berani bertanggung jawab 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata 4. Membantu untuk disiplin dan bertanggung jawab atas kesadaran sendiri

95 Prosedur konseling 1. Menciptakan rapport 2. Identifikasi perilaku bermasalah 3. Evaluasi perilaku 4. Merencanakan perilaku yang bertanggung jawab 5. Komitmen 6. Pengakhiran Konseling

96 Prinsip-prinsip konseling 1. Involvement 2. Making value judgment 3. Making a plan 4. Getting a commitment 5. Never give up (pantang menyerah/ulet) 6. Eliminated punishment (konsekuensi logis tetap)

97 Tehnik Konseling 1. Role playing 2. Humor 3. Modelling 4. Konfrontasi (kejutan verbal), ditantang 5. Melibatkan secara lebih efektif 6. Membuat perencanaan (planning) 7. Pembatasan konseling  structuring 8. Bertanya (What, who, when, where, how)

98 Humanistic therapy Sejarah : Sejarah : Tokoh : Abraham A. Maslow Konsep Unggulan : 1.Manusia mempunyai kemampuan khas : refleksi diri, aktualiasi potensi kreatif, menentukan bagi diri sendiri secara aktif 2.Mengerti manusia sebagaimana adanya,mengetahui mereka dari realitasnya,melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya,memahami mereka bergerak dan keberadaannya unik dan konkrit 3.Potensi kreatif, kesehatan psikologis dan hirarki motivasi

99 Hakekat manusia Filsafat eksistensialis (manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan) Filsafat eksistensialis (manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan) Bebas menentukan dan berkeinginan Bebas menentukan dan berkeinginan Manusia tidak pernah statis Manusia tidak pernah statis Pengalaman personal berhubungan dengan eksistensi dalam dunia orang lain Pengalaman personal berhubungan dengan eksistensi dalam dunia orang lain

100 Kepribadian ideal Melihat kehidupan sebagaimana yang diinginkan, tidak emosional Melihat kehidupan sebagaimana yang diinginkan, tidak emosional Dapat meramalkan masa depan berdasar pada apa yang benar dan apa yang salh Dapat meramalkan masa depan berdasar pada apa yang benar dan apa yang salh Memiliki kerendahan hati Memiliki kerendahan hati Persepsinya murni tidak dipalsukan kecemasan, harapan,ketakutan ataupun optimisme palsu Persepsinya murni tidak dipalsukan kecemasan, harapan,ketakutan ataupun optimisme palsu Mengabdi pada tugas, pekerjaan dan jabatan Mengabdi pada tugas, pekerjaan dan jabatan Kreatif (fleksibel, berani, spontan,terbuka) Kreatif (fleksibel, berani, spontan,terbuka) Dalam mengalami konflik derajatnya ringan Dalam mengalami konflik derajatnya ringan Tidak egois Tidak egois Menghormati diri sendiri secara sehat Menghormati diri sendiri secara sehat Bebas dari pengaruh orang lain Bebas dari pengaruh orang lain Mempunyai kebebasan psikologis Mempunyai kebebasan psikologis Dapat mengalami pengalaman puncak Dapat mengalami pengalaman puncak

101 Tujuan Konseling Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima apa adanya Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima apa adanya Meningkatkan self-actualizaton Meningkatkan self-actualizaton Menghilangkan hambatan dalam self- actualization Menghilangkan hambatan dalam self- actualization Membantu menemukan pilhan bebas sesuai kondisi diri Membantu menemukan pilhan bebas sesuai kondisi diri

102


Download ppt "KONSEP DASAR Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar Manusia mahluk reaktif yang tingkah lakunya."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google