Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dr. Djoko Poernomo, M.Si Dosen Mata Kuliah Filsafat Ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember 5 September 2014 (1)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dr. Djoko Poernomo, M.Si Dosen Mata Kuliah Filsafat Ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember 5 September 2014 (1)"— Transcript presentasi:

1 Dr. Djoko Poernomo, M.Si Dosen Mata Kuliah Filsafat Ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember 5 September 2014 (1)

2  Alkisah bertanya seorang awam ke filsuf, “Sebutkan berapa jenis manusia berdasarkan pengetahuannya”. Filsuf berpantun:  Ada orang yang tahu di tahunya  Ada orang yang tahu di tidaktahunya  Ada orang yang tidak tahu di tahunya  Ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya  “Bagaimana caranya agar saya orang awam mendapatkan pengetahuan yang benar?” Filsuf: “ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu”.

3  Pengetahuan dimulai dengan rasa INGIN TAHU, kepastian dimulai dengan rasa RAGU-RAGU, dan filsafat dimulai dengan keduanya.  Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu.  Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini. Berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

4  Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai sekarang.  Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri sendiri: 1) Apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu? 2) Apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? 3) Bagaimana kita ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? 4) Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran ilmiah? 5) Mengapa kita mesti mempelajari ilmu? Apakah kegunaan yang sebenarnya?

5  Berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui: 1) Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya kita ketahui dalam kehidupan ini? 2) Dibatas manakah ilmu mulai dan di batas manakah ia berhenti? 3) Kemanakah kita harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? 4) Apakah kelebihan dan kekurangan ilmu?

6  Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan berpijak di bumi sedang tengadah ke langit. Ia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestaan. maknanya….  Karakteristik (sifat) berpikir filsafat adalah: 1) Menyeluruh 2) Mendalam 3) Spekulatif

7  Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri.  Ia ingin melihat hakekat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya. Ia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama. Ia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.  Simpul SOCRATES: “Yang saya tahu, saya tidak tahu apa-apa”. Sungguh! Betapa rendah hati ia.

8  Seorang yang berpikir filsafati tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. 1) Mengapa ilmu dapat disebut benar? 2) Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? 3) Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa?  Bagaikan sebuah lingkaran, kita harus mengurai mulai dari satu titik awal dan akhir. Bagaimana menentukan titik awal (atau akhir) yang benar? Memang tidak mudah menjangkau semuanya. kita…berspekulasi…  SHAKESPEARE: “Masih banyak lagi di langit dan di bumi selain yang terjaring dalam filsafatmu”.

9  Kita mulai curiga terhadap filsafat: bukankah spekulasi adalah suatu dasar yang tidak bisa diadakan?  Jawab filsuf: memang, namun itu tidak bisa dihindarkan. Bagai menyusur sebuah lingkaran, kita harus menentukan sebuah titik awal bagaimanapun spekulatifnya. Yang penting adalah dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak.  Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Adakah hukum yang mengatur alam dan segenap sarwa kehidupan?

10  Kita “sebaiknya” menyadari bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dari serangkaian spekulasi, kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan.  Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran.  Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang moral.  Tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.

11  Filsafat bagaikan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infantri adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ILMU.  Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.  Setelah penyerahan dilakukan maka filsafat pun pergi. Ia kembali menjelajah laut lepas: berspekulasi dan meneratas.

12  Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu- ilmu sosial, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat.  Issac Newton ( ) menulis hukum-hukum fisikanya sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686), Adam Smith ( ) bapak ilmu ekonomi menulis buku The Wealth of Nations (1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow.  Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy).

13  Terdapat taraf peralihan. Dalam taraf ini, bidang filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan sektoral, misalnya ilmu ekonomi.  Peralihan awal konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat. Misalnya ekonomi masih merupakan penerapan etika dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif (yang seharusnya) dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang filsafati.  Tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya kepada (penemuan) hakekat alam sebagaimana adanya. Dalam menyusun pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif dengan jembatan yang berupa pengajuan hipotesis yang dikenal sebagai metode logico- hypothetico-verifikatif.

14  “Tiap ilmu dimulai dengan filsafat dan diakhiri dengan seni… muncul dalam hipotesis dan berkembang ke keberhasilan” ujar Will Durant (1933). AUGUSTE COMTE ( ) membagi 3 tingkatan perkembangan pengetahuan tersebut ke dalam tahap: religius, metafisik, dan positif.  Tahap pertama, asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi.  Tahap berikutnya, orang mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik tersebut.  Tahap terakhir, adalah tahap pengetahuan ilmiah, (ilmu) dimana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikatif yang obyektif.

15  Selaras dengan sifatnya, maka filsafat menelaah SEGALA masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai PIONIR, ia mempersoalkan hal-hal yang pokok: terjawab masalah satu, ia pun merambah pertanyaan lain, begitu seterusnya sesuai dengan jamannya.  Ilustrasi permasalahan yang dikaji filsafat:  What is a man?  What is?  What?

16  Pada tahap awal sekali, filsafat mempersoalkan siapakah manusia itu. HALO SIAPA KAU?  Contoh manusia dalam perspektif ilmu ekonomi dan ilmu administrasi. Ilmu ekonomi mempunyai asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjauhi ketidaknyamanan semungkin bisa. Ia bisa serakah, hedonis, dsb (homo economicus). Ilmu Administrasi mempunyai tujuan menelaah kerjasama antar manusia dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  The righ (assumption of) man on the right place penting banget.

17  Pertanyaan berkisar tentang hidup dan eksistensi manusia.  Apakah hidup ini sebenarnya?  Apakah hidup ini absurd, tanpa arah, tanpa bentuk, bagaikan amuba yang berzigzag?

18  Ini berhubungan dengan epistemologi (dan bahasa).  Ilustrasi: biarpun seorang ilmuwan terkemuka dalam “karya ilmiahnya” mengutip sejumlah ilmuwan dunia bahkan pemenang hadiah Nobel, mengemukakan sejumlah fakta yang aktual, namun bila tidak jelas yang mana masalah, yang mana hipotesis, yang mana kerangka pemikiran, yang mana kesimpulan, yang keseluruhannya terkait dan tersusun dalam penalaran ilmiah, maka itu percuma saja (GIGO = garbage in garbage out).  WITTGENSTEIN (1972): tugas utama filsafat bukanlah menghasilkan sesusun pernyataan filsafati melainkan menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin.

19  Ilustrasi: “Masalah utama disertasi saudara, ialah saudara berlaku sebagai seorang pemborong bahan bangunan dan bukan arsitek yang membangun rumah. Memang banyak sekali, bertumpuk di sana sini, namun tidak merupakan dinding; kayunya menumpuk sekian meter kubik namun tidak merupakan atap. Sebagai ilmuwan saudara harus membangun kerangka dengan bahan-bahan tersebut, kerangka pemikiran yang orisinal dan meyakinkan, disemen oleh penalaran dan pembuktian yang tidak meragukan… ” kata seorang penguji.  Ah… daripada disebut pemborong bahan bangunan, belajar lagi sajalah…

20  Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)  Etika (Filsafat Moral)  Estetika (Filsafat Seni)  Metafisika  Politik (Filsafat Pemerintahan)  Filsafat Agama  Filsafat Ilmu  Filsafat Pendidikan  Filsafat Hukum  Filsafat Sejarah  Filsafat Matematika, dll.

21  Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah).  Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu- ilmu sosial.  Namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dimana keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.

22  Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu seperti yang terkait dengan: 1) Landasan ontologis 2) Landasan epistemologis 3) Landasan aksiologis

23  Obyek apa yang ditelaah ilmu?  Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut?  Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?

24  Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?  Bagaimana prosedurnya?  Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar?  Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya?  Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

25  Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?  Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?  Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

26


Download ppt "Dr. Djoko Poernomo, M.Si Dosen Mata Kuliah Filsafat Ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember 5 September 2014 (1)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google