Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Penjadualan Pada Prosesor Tunggal END. Pokok Bahasan: (1) Pendahuluan Jenis-jenis penjadualan – Penjadualan jangka panjang (long-term) – Penjadualan jangka.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Penjadualan Pada Prosesor Tunggal END. Pokok Bahasan: (1) Pendahuluan Jenis-jenis penjadualan – Penjadualan jangka panjang (long-term) – Penjadualan jangka."— Transcript presentasi:

1 Penjadualan Pada Prosesor Tunggal END

2 Pokok Bahasan: (1) Pendahuluan Jenis-jenis penjadualan – Penjadualan jangka panjang (long-term) – Penjadualan jangka menengah (medium-term) – Penjadualan jangka pendek (short-term) – Penjadualan I/O – Letak penjadualan Algoritma penjadualan – Kriteria penjadualan jangka pendek (short-term) – Penjadualan dengan prioritas – Penjadualan alternatif Parameter-parameter pada penjadualan alternatif First-Come-First-Served (FCFS) Round Robin (RR)

3 Pokok Bahasan: (2) Algoritma penjadualan: (lanjutan) – Penjadualan alternatif (lanjutan) Shortest Process Next (SPN) Shortest Remaining Time (SRT) Highest Response Ratio Next (HRRN) Feedback (FB) – Perbandingan performansi Analisis antrian Model Simulasi – Penjadualan fair-share

4 Pendahuluan Scheduling merupakan pengaturan penggunaan waktu prosesor (processor time) bagi sejumlah proses yang saling berkompetisi Mengapa harus ada penjadualan ? – Supaya setiap proses dapat dilayani secara adil – Agar tidak terjadi starvation – Supaya efisien dalam penggunaan waktu prosesor – Agar dapat meminimalkan terjadinya overhead – Supaya response time dapat terpenuhi – Supaya dapat memaksimalkan throughput

5 Penjadualan Jangka Panjang (1) Adalah keputusan untuk menambah suatu proses ke kelompok proses yang akan dieksekusi Terjadi pada saat suatu proses baru diciptakan (lokasinya masih di dalam harddisk) Frekuensi dilakukannya lebih jarang daripada medium-term scheduling Membuat perkiraan kasar (coarse-grained) dalam menambahkan suatu proses

6 Penjadualan Jangka Panjang (2) Kapan saat yang tepat untuk menambah satu proses atau lebih ? – Tergantung pada derajat multiprogramming yang diinginkan – Makin banyak proses yang diciptakan, maka: Alokasi waktu prosesor untuk setiap proses semakin sedikit Makin tinggi derajat multiprogrammingnya Kualitas layanan untuk setiap proses semakin berkurang

7 Penjadualan Jangka Panjang (3) Proses mana yang akan ditambahkan (create) ? – Tergantung pada kriteria: Berdasarkan prioritas (sama atau berbeda) Berdasarkan waktu eksekusi yang diperlukan Berdasarkan ketersediaan resource melalui I/O – Jika informasi dan resource tersedia, maka scheduler akan melayani semua jenis proses (processor-bound maupun I/O-bound) – Apa yang dimaksud proses processor-bound ? » Proses yang lebih banyak melakukan komputasi dan sedikit melakukan operasi I/O – Apa yang dimaksud proses I/O-bound ? » Proses yang lebih banyak melakukan operasi I/O dan sedikit melakukan komputasi

8 Penjadualan Jangka Menengah Adalah keputusan untuk menambahkan sejumlah proses (sebagian atau seluruhnya) ke dalam main memory Terjadi pada saat swapping Keputusan untuk melakukan swapping menentukan derajat multiprogramming Frekuensi dilakukannya lebih sering daripada long-term scheduling Akan dibahas pada materi tentang Proses, Manajemen memori, dan Memori virtual

9 Penjadualan Jangka Pendek Adalah keputusan untuk memilih proses mana yang akan dieksekusi diantara sejumlah proses yang sudah siap dieksekusi Sangat sering dilakukan Disebut juga dispatcher (yang bertugas untuk mengirimkan job) Membuat perkiraan halus (fine-grained) dalam memutuskan proses yang akan dieksekusi – Short-term scheduling dilakukan bila terjadi event seperti misalnya: Clock interrupts I/O interrupts Signals (misal: semaphore) Pemanggilan ke sistem operasi (system call)

10 Penjadualan I/O Keputusan untuk memilih proses mana yang akan diberi kesempatan untuk menggunakan I/O device diantara sejumlah proses yang sama-sama akan menggunakan I/O device tersebut Dibahas pada materi Manajemen I/O

11 Letak Penjadualan (1) Letak penjadualan pada status proses

12 Letak Penjadualan (2) Tingkatan penjadualan

13 Letak Penjadualan (3) Penjadualan pada diagram antrian

14 Kriteria Penjadualan Short-term (1) Ada 4 macam kriteria penjadualan jangka pendek: – User-oriented Karakteristik sistem dilihat dari sudut pandang user atau proses – System-oriented Karakteristik sistem dilihat dari sisi efektifitas dan utilitas penggunaan prosesor – Performance-related Karakteristik sistem dinilai dengan menggunakan parameter yang kuantitatif (terukur) – Not-performance-related Karakteristik sistem dinilai dengan menggunakan parameter yang kualitatif (tidak dapat diukur dan dianalisis) Kombinasi kriteria penjadualan yang dapat terjadi: – User-oriented, Performance-related – User-oriented, Not-performance-related – System-oriented, Performance-related – System-oriented, Not-performance-related

15 Kriteria Penjadualan Short-term (2) Parameter pada User oriented, Performance related – Turnaround time: Merupakan interval waktu sejak suatu proses masuk ke sistem hingga selesai dieksekusi – Response time: Pada data processing: – Adalah waktu yang diperlukan sejak suatu permintaan (request) dikirimkan oleh suatu proses hingga response terhadap request tersebut diperoleh Pada Real-time: – Adalah waktu yang diperlukan sejak task siap dieksekusi hingga selesai mengerjakan sebuah job Merupakan parameter yang lebih baik dibanding turnaround time dari sisi user Contoh: Suatu sistem interaktif dirancang dapat memberikan layanan yang baik bagi user bila response time-nya tidak lebih dari 2 detik. Maka tugas utama scheduling adalah memaksimalkan jumlah user yang menerima response time rata-rata 2 detik atau kurang

16 Kriteria Penjadualan Short-term (3) – Deadline: Merupakan batas akhir suatu proses sudah harus selesai Proses yang sudah mendekati deadline lebih diutamakan, agar prosentase pemenuhan deadline dapat diperoleh secara maksimal Parameter pada User oriented, Non-performance related – Predictability: Layanan terhadap user dari waktu ke waktu tetap sama dan tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh sistem Sebuah job akan dieksekusi dalam periode yang relatif sama dan dengan biaya yang sama tanpa dipengaruhi kondisi beban sistem Jika waktu eksekusi dan biaya yang diperlukan berubah-ubah akan membingungkan user, sehingga kestabilan sistem rendah

17 Kriteria Penjadualan Short-term (4) Parameter pada System oriented, Performance related – Throughput: Adalah jumlah proses yang dapat diselesaikan dalam periode waktu tertentu Semakin banyak semakin baik Nilainya bergantung pada panjang proses rata-rata dan metode scheduling yang digunakan – Processor utilization: Merupakan prosentase waktu dimana prosesor sibuk Nilainya sangat berarti pada shared system Nilainya kurang penting pada sistem user tunggal (misal sistem real-time)

18 Kriteria Penjadualan Short-term (5) System oriented, Non-performance related – Fairness: Adalah nilai ‘keadilan’ (kesetaraan) perlakuan sistem scheduling terhadap setiap proses, agar tidak terjadi starvation – Enforcing priorities: Scheduling harus lebih mengutamakan proses yang mempunyai prioritas lebih tinggi – Balancing resources: Scheduling harus dapat menjaga keseimbangan dalam penggunaan resource

19 Penjadualan dengan Prioritas (1) Setiap proses diberi nomor prioritas yang nilainya dapat sama atau berbeda Scheduler selalu memilih proses yang mempunyai prioritas paling tinggi Digunakan beberapa antrian untuk menangani antrian proses dengan prioritas berbeda-beda Proses dalam antrian dengan prioritas lebih rendah baru akan dieksekusi jika semua proses dalam antrian yang lebih tinggi telah dieksekusi

20 Penjadualan dengan Prioritas (2) Nomor prioritas: – Pada sistem Unix semakin tinggi angka prioritas, maka prioritasnya semakin rendah. Prioritas nomor 0 merupakan prioritas tertinggi – Pada sistem Windows berlaku kebalikannya – Dalam perkuliahan ini digunakan penomoran prioritas model Unix Kelemahan model prioritas: – Proses dengan prioritas rendah dapat mengalami starvation – Solusi: Prioritas suatu proses dapat berubah berdasarkan waktu atau history-nya

21 Penjadualan dengan Prioritas (3) Antrian prioritas: Pada gambar di atas hanya digambarkan sebuah blocked queue Ready queue Bisa lebih dari satu

22 Parameter-Parameter pada Penjadualan Alternatif (1) Selection function Decision mode: – Nonpreemptive – Preemptive Service time Turnaround Time (TAT) Normalized Turnaround Time (NTAT)

23 Parameter-Parameter pada Penjadualan Alternatif (2) Selection function: – Cara yang digunakan untuk memilih satu diantara sejumlah proses yang akan dieksekusi selanjutnya – Pemilihan dapat didasarkan pada: Prioritas proses Urutan kedatangan proses Karakteristik eksekusi proses: – Lama waktu yang telah digunakan untuk menunggu – Lama waktu yang telah digunakan dalam eksekusi – Total waktu yang diperlukan oleh proses – dll

24 Parameter-Parameter pada Penjadualan Alternatif (3) Decision mode: – Digunakan untuk menentukan kapan selection function dijalankan – Ada 2 kategori: Nonpreemptive: (tidak dapat disela) – Sekali suatu proses berada dalam status running  tetap akan running hingga: » telah selesai, atau » ter-blok oleh dirinya sendiri akibat menunggu I/O atau layanan dari sistem operasi

25 Parameter-Parameter pada Penjadualan Alternatif (4) – Ada 2 kategori: (lanjutan) Preemptive: – Proses yang sedang running dapat disela dan dimasukkan pada status ready – Preempt dapat disebabkan oleh: » Terjadi interrupt dari proses lain » Terjadi interrupt dari clock interrupt – Kekurangan preemptive: » Overhead tinggi – Kelebihan preemptive: » Dapat mencegah terjadinya monopoli oleh suatu proses » Layanan terhadap keseluruhan proses lebih baik

26 Parameter-Parameter pada Penjadualan Alternatif (5) Service time = T s – Merupakan waktu prosesor yang digunakan oleh suatu proses dalam satu siklus proses (sejak proses dieksekusi hingga selesai, tidak termasuk waktu tunggu) Turnaround Time (TAT) = T r – Merupakan total waktu suatu proses berada di dalam sistem = residence time = waktu tunggu + waktu eksekusi = finish time – arrival time

27 Parameter-Parameter pada Penjadualan Alternatif (6) Normalized Turnaround Time (NTAT) – Perbandingan antara turnaround time dengan service time = T r / T s – Lebih bermakna daripada TAT – Nilainya menunjukkan delay relatif yang dialami oleh suatu proses – Nilai terkecil adalah 1 (tanpa delay) – Makin besar nilainya  kualitas layanannya semakin turun

28 First-Come-First-Served (FCFS ) (1) Algoritma: – Proses yang datang pertama yang dieksekusi – Proses yang berada di antrian ready paling lama yang dieksekusi Disebut juga algoritma FIFO (First In First Out) Kelebihan: (+) Merupakan metode scheduling paling sederhana (+) Overhead kecil (+) Dapat mencegah starvation

29 First-Come-First-Served (FCFS ) (1) Karakteristik FCFS: w = waktu untuk menunggu

30 First-Come-First-Served (FCFS ) (2) Kekurangan: (-) Proses yang pendek dapat dirugikan, bila urutan eksekusinya setelah proses yang panjang Contoh: – Service time proses Y adalah 1/100 dari proses X, tetapi normalized turnaround time-nya 100 kali lebih besar  sangat dirugikan

31 First-Come-First-Served (FCFS ) (3) Kekurangan: (lanjutan) (-) FCFS cenderung menguntungkan proses processor- bound dibanding proses I/O-bound Proses processor-bound: – Proses yang lebih sering melakukan perhitungan komputasi daripada mengakses I/O device Proses I/O-bound: – Proses yang lebih banyak menggunakan I/O device daripada menggunakan prosesor Contoh: – Bila proses I/O-bound berada di belakang proses processor- bound yang sedang dieksekusi  proses tersebut terpaksa harus menunggu meskipun saat itu I/O device sedang tidak digunakan – Solusi: gabungkan dengan model prioritas

32 First-Come-First-Served (FCFS ) (4) Contoh: – Terdapat 5 buah proses yang akan dieksekusi menggunakan algoritma scheduling FCFS. Waktu kedatangan dan waktu layanan untuk masing-masing proses seperti pada tabel di bawah. Gambarkan urutan eksekusi yang terjadi dan hitung finish time, TAT, dan NTAT untuk masing-masing proses.

33 First-Come-First-Served (FCFS ) (6) Solusi:

34 Round-Robin (RR ) (1) Algoritma: – Eksekusi proses diatur berdasarkan alokasi waktu tertentu (slot waktu) yang diatur dengan clock interrupt Clock interrupt terjadi secara periodik Setiap satu slot waktu mempunyai ukuran yang sama (disebut teknik time slicing) Bila terjadi clock interrupt, maka: – Proses yang sedang running  dimasukkan ke dalam antrian ready – Proses di antrian ready paling depan dieksekusi

35 Round-Robin (RR ) (2) Karakteristik RR:

36 Round-Robin (RR ) (3) Kekurangan: (-) Performansinya lebih buruk dibanding FCFS jika ukuran slot lebih besar daripada ukuran proses terbesar. Kenapa ? (-) Dapat terjadi overhead berlebihan jika ukuran setiap slot (slice) terlalu kecil (lihat halaman selanjutnya) Ukuran terkecil harus lebih besar daripada ukuran proses terkecil agar overhead dapat dikurangi Slot waktu > service time

37 Round-Robin (RR ) (4) Slot waktu < service time, sehingga: –Eksekusi sebuah proses tidak selesai dalam satu slot waktu –Sebuah proses akan menempati lebih dari satu slot (bisa berurutan, bisa pula terselingi proses lain)

38 Round-Robin (RR ) (5) Kekurangan: (lanjutan) (-) Proses I/O bound mendapatkan waktu layanan lebih sedikit Mengapa ? – Karena proses I/O bound bersifat burst (sesaat), sehingga hanya membutuhkan waktu prosesor dalam waktu lebih singkat daripada slot yang disediakan – Sesudah mengirimkan burst  proses I/O bound akan ter-blok dan menunggu hingga I/O device yang diakses selesai – Proses I/O bound baru mendapatkan giliran untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya setelah satu putaran atau lebih

39 Round-Robin (RR ) (6) Solusi: – Round robin dimodifikasi menjadi Virtual Round Robin (VRR) dengan menambahkan sebuah antrian yang disebut antrian auxiliary – Mekanismenya: Proses yang ter-blok akibat menunggu I/O device selesai dimasukkan pada antrian I/O untuk device tertentu Bila I/O device telah selesai  proses yang ter-blok tadi dimasukkan ke dalam antrian auxiliary Bila slot waktu proses yang sedang running habis  proses yang dieksekusi berikutnya bukan proses dalam antrian ready, tetapi yang diprioritaskan adalah proses yang terdapat di dalam antrian auxiliary Proses yang ter-blok akibat I/O device dapat menyelesaikan sisa pekerjaannya

40 Round-Robin (RR ) (7) Solusi: VRR

41 Round-Robin (RR ) (8) Kelebihan Round Robin: (+) Dapat menghindari ketidakadilan layanan terhadap proses kecil seperti yang terjadi pada FCFS (+) Response time lebih cepat untuk proses berukuran kecil (+) Dapat mencegah starvation (+) Overhead kecil, jika ukuran proses rata-rata lebih kecil dibanding ukuran quantum/slot

42 Round-Robin (RR ) (9) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan RR (ukuran kuantum q=1):

43 Round-Robin (RR ) (10) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan RR (ukuran kuantum q=4):

44 Shortest Process Next (SPN ) (1) Algoritma: – Eksekusi proses diatur berdasarkan perkiraan ukuran proses terkecil – Proses yang datang belakangan langsung berada pada antrian proses terdepan bila ukurannya paling kecil Kelebihan: (+) Dapat mencegah kerugian yang dialami proses kecil seperti pada FCFS (+) Throughput tinggi (+) Proses kecil mempunyai response time kecil Kekurangan: (-) Scheduler harus mengetahui/memperkirakan ukuran setiap proses yang akan dieksekusi (-) Proses besar dapat mengalami starvation (-) Overhead bisa tinggi, untuk apa ?

45 Sistem Operasi/Endro Ariyanto/ #44 Shortest Process Next (SPN ) (2) Karakteristik SPN: s = total service time yang diperlukan

46 Shortest Process Next (SPN ) (3) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan SPN:

47 Shortest Remaining Time (SRT ) (1) Algoritma: – Eksekusi proses diatur berdasarkan perkiraan sisa waktu terkecil Proses yang baru masuk dapat langsung dieksekusi bila total waktu eksekusinya lebih kecil daripada sisa waktu proses yang sedang running Merupakan model preemptive-nya SPN Kapan pemilihan proses yang akan dieksekusi dilakukan ? – Bila ada proses baru yang masuk, atau – Bila proses yang sedang running telah selesai

48 Shortest Remaining Time (SRT ) (2) Kekurangan: (-) Terjadi overhead akibat scheduler harus menghitung/memperkirakan sisa waktu eksekusi setiap proses untuk menentukan sisa waktu yang terkecil (-) Dapat terjadi starvation pada proses yang panjang (-) Proses yang panjang dikalahkan oleh proses yang kecil Kelebihan: (+) Kualitas layanan rata-rata yang diterima proses lebih baik (jumlah proses yang memperoleh nilai NTAT = 1 lebih banyak) (+) Throughput tinggi (+) Response time cepat

49 Shortest Remaining Time (SRT ) (3) Karakteristik SRT: e = waktu eksekusi yang telah dijalani s = total service time yang diperlukan (termasuk e)

50 Shortest Remaining Time (SRT ) (4) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan SRT:

51 Highest Response Ratio Next (HRRN ) (1) Algoritma: – Pemilihan proses didasarkan pada rasio response tertinggi Rasio response (R) diperoleh dari perbandingan antara jumlah waktu tunggu (w) ditambah perkiraan service time (s) dengan perkiraan service time (s) Response (R) adalah identik dengan NTAT Data waktu eksekusi diperoleh dari developer atau berdasarkan rekaman sebelumnya Proses kecil akan cenderung menghasilkan rasio response besar, sehingga didahulukan

52 Highest Response Ratio Next (HRRN ) (2) Karakteristik: w = waktu untuk menunggu s = total service time yang diperlukan

53 Highest Response Ratio Next (HRRN ) (3) Keuntungan: (+) Dapat mencegah starvation (+) Setiap proses akan mendapatkan layanan yang seimbang (+) Response time cepat (+) Throughput tinggi Kekurangan: ( ̶ ) Terjadi overhead akibat scheduler harus mengetahui/memperkirakan service time (waktu untuk eksekusi) proses-proses yang akan dieksekusi

54 Highest Response Ratio Next (HRRN ) (4) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan HRRN:

55 Feedback (FB) (1) Penjadualan menggunakan model preemptive Setiap proses mempunyai nomor prioritas Nomor prioritas dapat berubah (dinamis) Setiap satu nomor prioritas disediakan antrian tersendiri Dalam setiap antrian digunakan algoritma FCFS, kecuali antrian untuk prioritas terendah Pada antrian prioritas terendah digunakan algoritma round robin

56 Feedback (FB) (2) Algoritma FB sederhana: – Setiap proses yang datang langsung masuk pada antrian prioritas tertinggi, sehingga langsung dieksekusi selama satu slot atau satu kuantum – Bila proses tersebut ter-preempt oleh proses lain atau jatah waktunya habis selanjutnya dimasukkan ke dalam antrian prioritas lebih rendah (teknik ini disebut multilevel feedback) Proses pendek akan cepat selesai Proses yang panjang akan mengalami beberapa kali penurunan derajat prioritas Bila telah berada pada antrian terendah  seterusnya berada pada antrian ini hingga selesai

57 Feedback (FB) (3) Mekanisme FB sederhana:

58 Feedback (FB) (4) Karakteristik: Selection function: Digunakan time slicing Jatah waktu eksekusi dinamis Prioritas dinamis

59 Feedback (FB) (5) Kelebihan: (+) Dapat digunakan pada kondisi dimana informasi tentang panjang proses atau perkiraan waktu eksekusi tidak diketahui Kekurangan: (-) Turn around time (TAT) proses yang panjang dapat semakin lama (-) Proses yang panjang dapat mengalami starvation bila terus menerus datang proses yang baru (-) Overhead tinggi

60 Feedback (FB) (6) Bagaimana solusi untuk mencegah starvation ? –D–Dengan FB dinamis –D–Digunakan jatah waktu eksekusi dinamis : Proses pada antrian prioritas tertinggi (RQ0) diberi jatah eksekusi satu kuantum Proses pada antrian prioritas berikutnya (RQ1) diberi jatah eksekusi dua kuantum Proses pada antrian prioritas berikutnya (RQi) diberi jatah eksekusi 2 i kuantum Apakah sudah terhindar dari starvation ? –B–Belum !! –S–Solusi: Proses yang sudah terlalu lama berada pada suatu antrian  prioritasnya dinaikkan

61 Feedback (FB) (7) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan FB sederhana (q=1):

62 Feedback (FB) (8) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan FB sederhana (q=1): (lanjutan)

63 Feedback (FB) (9) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan FB dinamis (q=2 i ):

64 Feedback (FB) (10) Solusi untuk contoh kasus seperti pada FCFS dengan FB dinamis (q=2 i ): (lanjutan)

65 Karakteristik Beberapa Algoritma Penjadualan

66 Perbandingan Performansi Beberapa Algoritma Penjadualan

67 Performansi Algoritma Penjadualan Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi performansi penjadualan ? – Probabilitas distribusi service time berbagai macam proses – Efisiensi penjadualan – Mekanisme context switching – Karakteristik permintaan I/O – Performansi subsistem I/O

68 Analisis Antrian (1) Kondisi analisis: – Terdapat 2 kelas prioritas (prioritas 1 dan prioritas 2) – Service time proses prioritas 2 adalah 5 kali service time proses prioritas 1 – Rata-rata kedatangan proses sesuai dengan model Poisson – Antrian pada setiap kelas prioritas menggunakan algoritma FCFS – Tidak ada proses yang hilang (meninggalkan antrial) saat sedang antri – Tidak ada proses yang terhenti saat sedang dieksekusi – Hanya terdapat satu server antrian

69 Analisis Antrian (2) Rumus-rumus: = rata-rata kedatangan proses per detik  = utilitas prosesor (%)

70 Analisis Antrian (3) Grafik Normalized Response Time untuk proses pendek (prioritas 1):

71 Analisis Antrian (4) Apa analisis anda ? – Untuk model tanpa prioritas, semakin tinggi utilitas prosesor maka nilai normalized response time-nya naik secara eksponensial – Untuk model prioritas tanpa preemption kenaikan nilai normalized response time terjadi secara linier sebanding dengan kenaikan utilitas prosesor – Kondisi terbaik terjadi ketika nilai normalized response time berada di sekitar satu jika digunakan model prioritas dengan preemption – Semakin tinggi utilitas prosesor, maka normalized response time-nya semakin tinggi

72 Analisis Antrian (5) Grafik Normalized Response Time untuk proses panjang (prioritas 2):

73 Analisis Antrian (6) Apa analisis anda ? – Karakteristik sistem pada model tanpa prioritas memberikan nilai normalized response time lebih baik daripada model dengan prioritas – Karakteristik sistem pada model prioritas tanpa preemption memberikan nilai normalized response time paling jelek dibanding model lainnya – Semakin tinggi utilitas prosesor, maka normalized response time-nya naik secara eksponensial – Pada saat utilitas mencapai 0,9 akan menyebabkan nilai normalized response time menjadi tidak terhingga

74 Analisis Antrian (7) Grafik Normalized Response Time semua proses:

75 Analisis Antrian (8) Apa analisis anda ? – Karakteristik sistem pada model prioritas tanpa preemption memberikan nilai normalized response time paling jelek dibanding model lainnya – Karakteristik sistem pada model prioritas dengan preemption memberikan nilai normalized response time paling baik daripada model lainnya – Semakin tinggi utilitas prosesor, maka normalized response time-nya naik secara eksponensial – Pada saat utilitas mencapai 0,9 akan menyebabkan nilai normalized response time menjadi tidak terhingga

76 Model Simulasi (1) Kondisi simulasi: – Jumlah proses yang digunakan sebanyak proses – Arrival rate = 0,8 – Rerata service time T s = 1 – Utilisasi prosesor  =.T s = 0,8 – Proses dikelompokkan berdasarkan percentile service time – Setiap satu kelompok terdiri dari 500 proses – Percentile pertama terdiri dari proses-proses berukuran kecil – Percentile kedua terdiri dari 500 proses berukuran lebih panjang, demikian seterusnya

77 Model Simulasi (2) Grafik Normalized Turnaround Time hasil simulasi:

78 Model Simulasi (3) Apa analisis anda ? – Performansi FCFS paling jelek dibanding algoritma penjadualan lainnya –...

79 Model Simulasi (4) Grafik Waktu Tunggu hasil simulasi:

80 Penjadualan Fair-Share (1) Diterapkan pada sistem multiuser Aplikasi user terdiri dari banyak proses (thread) User hanya melihat performansi dari aplikasi, bukan bagaimana proses dieksekusi Perlu adanya penjadualan berdasarkan kelompok proses (fair-share scheduling) Penjadualan dibuat berdasarkan prioritas: – Prioritas proses – Lama waktu proses menggunakan prosesor – Lama waktu group menggunakan prosesor Semakin besar angka prioritasnya, maka prioritas proses/group semakin rendah

81 Penjadualan Fair-Share (2) CPU j (i) = Utilisasi prosesor oleh proses j pada interval i GCPU j (i) = Utilisasi prosesor oleh grup k pada interval i W k = bobot grup k, 0 < W k  1 dan  W k = 1

82

83 Traditional UNIX Scheduling Multilevel feedback using round robin within each of the priority queues If a running process does not block or complete within 1 second, it is preempted Priorities are recomputed once per second Base priority divides all processes into fixed bands of priority levels

84 Bands Decreasing order of priority – Swapper – Block I/O device control – File manipulation – Character I/O device control – User processes

85

86 Referensi Stallings, William Operating System: Internal and Design Principles. Fifth edition. Prentice Hall Web: – ftp://ftp.prenhall.com/pub/esm/computer science.s41/stallings/slides/OS5e-PPT-Slides/ ftp://ftp.prenhall.com/pub/esm/computer science.s41/stallings/slides/OS5e-PPT-Slides/ –


Download ppt "Penjadualan Pada Prosesor Tunggal END. Pokok Bahasan: (1) Pendahuluan Jenis-jenis penjadualan – Penjadualan jangka panjang (long-term) – Penjadualan jangka."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google