Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Ritual-ritual umum Buddhis dan Pembacaan ayat suci.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Ritual-ritual umum Buddhis dan Pembacaan ayat suci."— Transcript presentasi:

1 Ritual-ritual umum Buddhis dan Pembacaan ayat suci

2 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

3 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Offerings Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

4 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

5 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

6 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

7 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

8 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

9 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual : Sujud Persembahan bermacam-macam barang Pelimpahan Jasa Proses Berkeliling Benang Suci Persembahan Jubah Kathina Festival Bulan Hantu

10 Ritual dan Pembacaan ayat suci Pembacaan ayat suci : Penghormatan kepada Buddha Mengambil Perlindungan Lima Sila Recollection of the qualities of the Triple Gem (the Buddha, Dhamma and Sangha)

11 Ritual dan Pembacaan ayat suci Pembacaan ayat suci : Penghormatan kepada Buddha Mengambil Perlindungan Lima Sila Recollection of the qualities of the Triple Gem (the Buddha, Dhamma and Sangha)

12 Ritual dan Pembacaan ayat suci Pembacaan ayat suci : Penghormatan kepada Buddha Mengambil Perlindungan Lima Sila Recollection of the qualities of the Triple Gem (the Buddha, Dhamma and Sangha)

13 Ritual dan Pembacaan ayat suci Pembacaan ayat suci : Penghormatan kepada Buddha Mengambil Perlindungan Lima Sila Recollection of the qualities of the Triple Gem (the Buddha, Dhamma and Sangha)

14 Ritual dan Pembacaan ayat suci Pembacaan ayat suci : Penghormatan kepada Buddha Mengambil Perlindungan Lima Sila Merenungi kualitas dari Tiga Permata (Buddha, Dhamma dan Sangha)

15 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual, pembacaan ayat suci, doa, permohonan dan pemujaan biasanya tidak dianggap sebagai bagian dari Jalan Ariya Berunsur Delapan yang diajarkan oleh Buddha. Why do Buddhists resort to these practices? Should Buddhists continue with these practices?

16 Jalan Ariya Berunsur Delapan Perkataan Benar Moralitas - Sila Perbuatan Benar Penghidupan Benar Usaha Benar Perkembangan batin - Samadhi Perhatian Benar Konsentrasi Benar Pemahaman BenarKebijaksanaan - Panna Pikiran Benar

17 Jalan Ariya Berunsur Delapan Perkataan Benar Moralitas - Sila Perbuatan Benar Penghidupan Benar Usaha Benar Perkembangan batin - Samadhi Perhatian Benar Konsentrasi Benar Pemahaman BenarKebijaksanaan - Panna Pikiran Benar

18 Jalan Ariya Berunsur Delapan Perkataan Benar Moralitas - Sila Perbuatan Benar Penghidupan Benar Usaha Benar Perkembangan batin - Samadhi Perhatian Benar Konsentrasi Benar Pemahaman BenarKebijaksanaan - Panna Pikiran Benar

19 Jalan Ariya Berunsur Delapan Perkataan Benar Moralitas - Sila Perbuatan Benar Penghidupan Benar Usaha Benar Perkembangan batin - Samadhi Perhatian Benar Konsentrasi Benar Pemahaman BenarKebijaksanaan - Panna Pikiran Benar

20 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual, pembacaan ayat suci, doa, permohonan dan pemujaan biasanya tidak dianggap sebagai bagian dari Jalan Ariya Berunsur Delapan yang diajarkan oleh Buddha. Why do Buddhists resort to these practices? Should Buddhists continue with these practices?

21 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual, pembacaan ayat suci, doa, permohonan dan pemujaan biasanya tidak dianggap sebagai bagian dari Jalan Ariya Berunsur Delapan yang diajarkan oleh Buddha. Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Should Buddhists continue with these practices?

22 Ritual dan Pembacaan ayat suci Ritual, pembacaan ayat suci, doa, permohonan dan pemujaan biasanya tidak dianggap sebagai bagian dari Jalan Ariya Berunsur Delapan yang diajarkan oleh Buddha. Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Haruskah umat Buddha meneruskan praktek-praktek tersebut?

23 Ritual Sujud : Made towards a statue which represents the memory of the Buddha, to show our respect and gratitude for his compassion and teachings. Sujud are also made to cultivate humility and lessen our conceit. Knowledgeable Buddhists do not pray to, worship or ask favours from these statues.

24 Ritual Sujud : Dilakukan di hadapan patung Buddha untuk mengenangi Beliau, untuk menunjukkan rasa hormat dan tanda jasa atas belas kasih dan ajarannya. Sujud are also made to cultivate humility and lessen our conceit. Knowledgeable Buddhists do not pray to, worship or ask favours from these statues.

25 Ritual Sujud : Dilakukan di hadapan patung Buddha untuk mengenangi Beliau, untuk menunjukkan rasa hormat dan tanda jasa atas belas kasih dan ajarannya. Sujud juga dilakukan untuk mengembangkan kerendahan hati dan mengurangi kesombongan kita. Knowledgeable Buddhists do not pray to, worship or ask favours from these statues.

26 Ritual Sujud : Dilakukan di hadapan patung Buddha untuk mengenangi Beliau, untuk menunjukkan rasa hormat dan tanda jasa atas belas kasih dan ajarannya. Sujud juga dilakukan untuk mengembangkan kerendahan hati dan mengurangi kesombongan kita. Umat Buddha yang berpengetahuan luas tidak berdoa kepada, memuja atau meminta tanda mata dari patung-patung ini.

27 Ritual Sujud : Ini adalah hal pertama yang biasanya dilakukan seorang umat Buddha ketika ia berkunjung ke Vihara. Tiga sujud dilakukan – kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Theravada Buddhists make a five point prostration. Tibetan Buddhists make a full body prostration, which can be a practice by itself when done is large numbers.

28 Ritual Sujud : Ini adalah hal pertama yang biasanya dilakukan seorang umat Buddha ketika ia berkunjung ke Vihara. Tiga sujud dilakukan – kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Umat Buddha Theravada melakukan sujud lima titik. Umat Buddha Tibet melakukan sujud seluruh badan, yang dapat dilakukan dalam kelompok besar.

29

30

31

32 Ritual Persembahan bermacam-macam barang: Candles - the Dhamma dispelling the darkness of our Kebodohan batin and delusion. Incense - the fragrance of the Dhamma pervading the world. Flowers - the impermanence of our bodies. Water - to purify our minds. Fruits - we are subject to our own kamma.

33 Ritual Persembahan bermacam-macam barang: Lilin – Dhamma menghalau kegelapan kebodohan batin dan khayalan kita. Incense - the fragrance of the Dhamma pervading the world. Flowers - the impermanence of our bodies. Water - to purify our minds. Fruits - we are subject to our own kamma.

34 Ritual Persembahan bermacam-macam barang: Lilin – Dhamma menghalau kegelapan kebodohan batin dan khayalan kita. Dupa – harumnya Dhamma menyelimuti dunia. Flowers - the impermanence of our bodies. Water - to purify our minds. Fruits - we are subject to our own kamma.

35 Ritual Persembahan bermacam-macam barang: Lilin – Dhamma menghalau kegelapan kebodohan batin dan khayalan kita Dupa – harumnya Dhamma menyelimuti dunia. Bunga – ketidak-kekalan dari tubuh kita. Water - to purify our minds. Fruits - we are subject to our own kamma.

36 Ritual Persembahan bermacam-macam barang: Lilin – Dhamma menghalau kegelapan kebodohan batin dan khayalan kita. Dupa – harumnya Dhamma menyelimuti dunia. Bunga – ketidak-kekalan dari tubuh kita. Air – untuk menjernihkan pikiran kita. Fruits - we are subject to our own kamma.

37 Ritual Persembahan bermacam-macam barang: Lilin – Dhamma menghalau kegelapan kebodohan batin dan khayalan kita. Dupa – harumnya Dhamma menyelimuti dunia. Bunga – ketidak-kekalan dari tubuh kita. Air – untuk menjernihkan pikiran kita. Buah – kita adalah sasaran dari kamma kita sendiri.

38

39 Ritual Pelimpahan Jasa : To share the positive kamma that we have accumulated with our departed relatives and all other beings for their happiness. Water (our merits) from a pitcher is slowly poured into a small cup (our departed relatives) which is in a larger bowl. The water overflows signifying our generosity.

40 Ritual Pelimpahan Jasa : Berbagi kamma positif yang telah kita kumpulkan kepada sanak saudara kita yang telah meninggal dan semua makhluk yang lainnya untuk kebahagiaan mereka. Water (our merits) from a pitcher is slowly poured into a small cup (our departed relatives) which is in a larger bowl. The water overflows signifying our generosity.

41 Ritual Pelimpahan Jasa : Berbagi kamma positif yang telah kita kumpulkan kepada sanak saudara kita yang telah meninggal dan semua makhluk yang lainnya untuk kebahagiaan mereka. Air (kebajikan kita) dari kendi dituangkan perlahan-lahan kedalam cangkir kecil (sanak saudara kita yang telah meninggal) dalam mangkuk yang lebih besar. Air yang mengalir menandakan kedermawanan kita.

42

43 Ritual Proses Berkeliling : Walking around an object of veneration such as a stupa, Bodhi tree or Buddha statue. Usually done at least three times in a clockwise direction. This should be done mindfully while contemplating the object of veneration and its meaning and significance. Otherwise it is a meaningless practice.

44 Ritual Proses Berkeliling : Berjalan mengelilingi objek pemujaan seperti Stupa, pohon Bodhi atau patung Buddha. Biasanya dilakukan paling sedikit tiga kali searah jarum jam. This should be done mindfully while contemplating the object of veneration and its meaning and significance. Otherwise it is a meaningless practice.

45 Ritual Proses Berkeliling : Berjalan mengelilingi objek pemujaan seperti Stupa, pohon Bodhi atau patung Buddha. Biasanya dilakukan paling sedikit tiga kali searah jarum jam. Ini harus dilakukan dengan penuh kewaspadaan sambil merenungi objek pemujaan dan artinya. Jika tidak, itu merupakan praktek yang sia-sia.

46

47 Ritual Benang Suci : A ball of coloured thread (usually orange or white) is unravelled during special ceremonies and held at the fingertips of the monks, and sometimes the devotees also. It is believed that the Pembacaan ayat suci will imbue the thread (sometimes connected to bottles of water) with blessings and good luck. It is later cut into small pieces and tied around the wrist.

48 Ritual Benang Suci : Segumpal benang yang berwarna (biasanya warna jeruk atau putih) diuraikan pada waktu upacara istimewa dan diikatkan pada ujung jari dari bhikkhu, dan kadang-kadang juga umat. It is believed that the Pembacaan ayat suci will imbue the thread (sometimes connected to bottles of water) with blessings and good luck. It is later cut into small pieces and tied around the wrist.

49 Ritual Benang Suci : Segumpal benang yang berwarna (biasanya warna jeruk atau putih) diuraikan pada waktu upacara istimewa dan diikatkan pada ujung jari dari bhikkhu, dan kadang-kadang juga umat. Diyakini bahwa pembacaan ayat suci dapat mengilhami benang tersebut (kadang-kadang dihubungkan dengan botol minuman) dengan berkah dan keberuntungan baik. Kemudian dipotong kedalam bagian yang kecil dan diikatkan di pergelangan tangan.

50

51

52

53

54 Ritual Persembahan Jubah Kathina : This stems from a rule made by the Buddha that monks have to spend 3 months in a year staying in one place, during the rainy season in India. This is called “Vassa” and the Kathina festival celebrates the end of this period. It is usually held in the new moon day of October where the laity present gifts to the monks, especially robes, in gratitude.

55 Ritual Persembahan Jubah Kathina : Ini berasal dari peraturan yang dibuat oleh Buddha bahwa para bhikkhu harus menghabiskan 3 bulan dalam setahun tinggal di suatu tempat, selama musim hujan di India. This is called “Vassa” and the Kathina festival celebrates the end of this period. It is usually held in the new moon day of October where the laity present gifts to the monks, especially robes, in gratitude.

56 Ritual Persembahan Jubah Kathina : Ini berasal dari peraturan yang dibuat oleh Buddha bahwa para bhikkhu harus menghabiskan 3 bulan dalam setahun tinggal di suatu tempat, selama musim hujan di India. Ini disebut “Vassa” dan festival Kathina merayakan akhir dari periode ini. Biasanya di laksanakan pada saat bulan baru di bulan Oktober dimana umat awam memberikan hadiah kepada bhikkhu, terutama jubah, sebagai tanda jasa.

57

58

59

60

61 Ritual Festival Bulan Hantu : This is celebrated during the 7 th month of the lunar calendar when it believed that the gates of hell are open for the spirits of the deceased to visit the land of the living. Prayers, food, ‘hell money’ and even paper houses and cars are offered to the spirits of dead relatives to ease their suffering in hell. Concerts are even staged for the spirits, with empty seats reserved for them.

62 Ritual Festival Bulan Hantu : Festival ini dirayakan pada bulan ke 7 dari penanggalan lunar ketika diyakini bahwa gerbang neraka terbuka bagi arwah orang meninggal untuk mengunjungi tempat orang hidup. Prayers, food, ‘hell money’ and even paper houses and cars are offered to the spirits of dead relatives to ease their suffering in hell. Concerts are even staged for the spirits, with empty seats reserved for them.

63 Ritual Festival Bulan Hantu : Festival ini dirayakan pada bulan ke 7 dari penanggalan lunar ketika diyakini bahwa gerbang neraka terbuka bagi arwah orang meninggal untuk mengunjungi tempat orang hidup. Doa, makanan, ‘uang neraka’ bahkan rumah kertas dan mobil diberikan kepada arwah sanak keluarga untuk meringankan penderitaan mereka di neraka. Konser juga dipanggungkan bagi para arwah, dengan reservasi tempat duduk kosong bagi mereka.

64

65

66

67

68

69 Ritual Festival Bulan Hantu : Umat Buddha dan Tao menyatakan festival ini bersumber dari mereka tetapi kelihatannya ini berakar dari agama dan budaya tradisional bangsa Cina dan pemujaan nenek moyang. In Buddhism, it is called Ullambana taken from a Mahayana Sutra of the same name, written several hundred after the Buddha’s passing. It is observed primarily by Mahayana and Tibetan Buddhists.

70 Ritual Festival Bulan Hantu : Umat Buddha dan Tao menyatakan festival ini bersumber dari mereka tetapi kelihatannya ini berakar dari agama dan budaya tradisional bangsa Cina dan pemujaan nenek moyang. Dalam ajaran Buddha, ini disebut Ullambana yang diambil dari Sutra Mahayana dengan nama yang sama, ditulis beberapa ratus tahun setelah kemangkatan Buddha. Khususnya diamati oleh umat Buddha Mahayana dan Tibet.

71 Ritual Festival Bulan Hantu : Ullambana Sutra menjelaskan pengalaman dari salah satu murid utama Buddha, Maudgalyayana (Sansekerta) atau Moggallana (Pali) atau Mu Lian (Cina). He discovered that his mother had been reborn as a Hungry Ghost due to her misdeeds. The Buddha instructed him to offer food and robes to the monks and dedicate the merits to his mother.

72 Ritual Festival Bulan Hantu : Ullambana Sutra menjelaskan pengalaman dari salah satu murid utama Buddha, Maudgalyayana (Sansekerta) atau Moggallana (Pali) atau Mu Lian (Cina). Dia menemukan bahwa ibunya telah terlahir kembali sebagai Hantu Kelaparan karena perbuatan jahatnya. Buddha menginstruksikan dia untuk mempersembahkan makanan dan jubah kepada para bhikkhu dan melimpahkan jasa tersebut kepada ibunya.

73 Ritual dan Pembacaan ayat suci Pembacaan ayat suci : Penghormatan kepada Buddha Mengambil Perlindungan Lima Sila Merenungi kualitas dari Tiga Permata (Buddha, Dhamma dan Sangha)

74 Pembacaan ayat suci Penghormatan kepada Buddha : Namo tassa, bhagavato, arahato, samma-sambudhassa. Honour To Him, The Blessed One, The Worthy One, The Fully Enlightened One.

75 Pembacaan ayat suci Penghormatan kepada Buddha : To express our respect and gratitude to the Buddha for his compassion and teachings.

76 Pembacaan ayat suci Penghormatan kepada Buddha : Untuk menunjukkan rasa hormat dan tanda jasa kepada Buddha atas belas kasih dan ajarannya.

77 Pembacaan ayat suci Penghormatan kepada Buddha : Namo tassa, bhagavato, arahato, samma-sambudhassa. Honour To Him, The Blessed One, The Worthy One, The Fully Enlightened One.

78 Pembacaan ayat suci Penghormatan kepada Buddha : Namo tassa, bhagavato, arahato, samma-sambudhassa. Terpujilah Bhagava, Yang Maha suci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna.

79 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : To reaffirm our commitment as Buddhists and maintain our kammic link with the Triple Gem for all of our future lives.

80 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Untuk memperkokoh komitmen kita sebagai umat Buddha dan memelihara hubungan kamma kita dengan Tiga Permata di semua kehidupan kita yang akan datang.

81 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Buddham Saranam Gacchami. To the Buddha for Refuge I go. Dhammam Saranam Gacchami. To the Dhamma for Refuge I go. Sangham Saranam Gacchami. To the Sangha for Refuge I go.

82 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Buddham Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Buddha. Dhammam Saranam Gacchami. To the Dhamma for Refuge I go. Sangham Saranam Gacchami. To the Sangha for Refuge I go.

83 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Buddham Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Buddha. Dhammam Saranam Gacchami. To the Dhamma for Refuge I go. Sangham Saranam Gacchami. To the Sangha for Refuge I go.

84 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Buddham Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Buddha. Dhammam Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Dhamma. Sangham Saranam Gacchami. To the Sangha for Refuge I go.

85 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Buddham Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Buddha. Dhammam Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Dhamma. Sangham Saranam Gacchami. To the Sangha for Refuge I go.

86 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Buddham Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Buddha. Dhammam Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Dhamma. Sangham Saranam Gacchami. Aku berlindung kepada Sangha.

87 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Dutiyampi Buddham Saranam Gacchami. Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha. Dutiyampi Dhammam Saranam Gacchami. For the second time to the Dhamma for Refuge I go. Dutiyampi Sangham Saranam Gacchami. For the second time to the Sangha for Refuge I go.

88 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Dutiyampi Buddham Saranam Gacchami. Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha. Dutiyampi Dhammam Saranam Gacchami. Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma. Dutiyampi Sangham Saranam Gacchami. For the second time to the Sangha for Refuge I go.

89 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Dutiyampi Buddham Saranam Gacchami. Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha. Dutiyampi Dhammam Saranam Gacchami. Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma. Dutiyampi Sangham Saranam Gacchami. Kedua kalinya aku berlindung kepada Sangha.

90 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Tatiyampi Buddham Saranam Gacchami. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha. Tatiyampi Dhammam Saranam Gacchami. For the third time to the Dhamma for Refuge I go. Tatiyampi Sangham Saranam Gacchami. For the third time to the Sangha for Refuge I go.

91 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Tatiyampi Buddham Saranam Gacchami. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha. Tatiyampi Dhammam Saranam Gacchami. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma. Tatiyampi Sangham Saranam Gacchami. For the third time to the Sangha for Refuge I go.

92 Pembacaan ayat suci Mengambil Perlindungan : Tatiyampi Buddham Saranam Gacchami. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha. Tatiyampi Dhammam Saranam Gacchami. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma. Tatiyampi Sangham Saranam Gacchami. Ketiga kalinya aku berlindung kepada Sangha.

93 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : To remind ourselves of these training rules and our commitment to try our best to observe them.

94 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Untuk mengingatkan diri kita dari peraturan pelatihan ini dan komitmen kita untuk berusaha sebaik kita dalam mengamalinya.

95 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Panatipata veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from taking life. Adinnadana veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from taking what is not given. Kamesu micchacara veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from sexual misconduct.

96 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Panatipata veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Adinnadana veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from taking what is not given. Kamesu micchacara veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from sexual misconduct.

97 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Panatipata veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Adinnadana veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from taking what is not given. Kamesu micchacara veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from sexual misconduct.

98 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Panatipata veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Adinnadana veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. Kamesu micchacara veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from sexual misconduct.

99 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Panatipata veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Adinnadana veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. Kamesu micchacara veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from sexual misconduct.

100 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Panatipata veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Adinnadana veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan. Kamesu micchacara veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila.

101 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Musavada veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from false speech. Sura-meraya-majja-pamadathana veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from intoxicants and drugs that causes heedlessness.

102 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Musavada veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari perkataan yang tidak benar. Sura-meraya-majja-pamadathana veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from intoxicants and drugs that causes heedlessness.

103 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Musavada veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari perkataan yang tidak benar. Sura-meraya-majja-pamadathana veramami sikkhapadam samadiyami. I undertake the training rule to abstain from intoxicants and drugs that causes heedlessness.

104 Pembacaan ayat suci Lima Sila / Panca Sila : Musavada veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari perkataan yang tidak benar. Sura-meraya-majja-pamadathana veramami sikkhapadam samadiyami. Aku bertekad melatih diri menghindari minuman keras dan barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

105 Pembacaan ayat suci Merenungi kualitas dari Tiga Permata : To recollect, contemplate and remind ourselves of the qualities of the Buddha, the Dhamma and the Sangha.

106 Pembacaan ayat suci Merenungi kualitas dari Tiga Permata : Untuk mengingat kembali, merenungi, dan mengingatkan diri kita tentang kualitas dari Buddha, Dhamma dan Sangha.

107 Pembacaan ayat suci Merenungi kualitas dari Tiga Permata : Buddha Sang Bhagava adalah Yang Mahasuci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna dalam pengetahuan dan tindak tanduknya, Pencapai Nibbana, Pengetahu segenap alam, Pembimbing manusia tiada tara, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang Mulia.

108 Pembacaan ayat suci Merenungi kualitas dari Tiga Permata : Dhamma Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava, dapat dengan langsung diselami, dengan hasil yang segera, mengundang untuk dibuktikan, mampu dicapai, dipahami oleh mereka yang bijaksana untuk dirinya sendiri.

109 Pembacaan ayat suci Merenungi kualitas dari Tiga Permata : Sangha Sangha siswa Sang Bhagava bertindak baik, lurus, bijak, dan patut. Yakni, empat pasang makhluk, delapan jenis makhluk suci. Sangha siswa Sang Bhagava patut menerima pujaan, sambutan, persembahan, penghormatan dan ladang tiada taranya di dunia.

110 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

111 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

112 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

113 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

114 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

115 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

116 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

117 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

118 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Penghormatan dan kerendahan hati Peringatan dan perenungan Menguatkan kebiasaan baik Dukungan psikologi Melatih kedermawanan Unsur pengobatan Pembuka bagi praktek lain Kegiatan sosial

119 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

120 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

121 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

122 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

123 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

124 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

125 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

126 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

127 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Kebodohan batin Pandangan salah Kemelekatan pada tradisi Kepercayaan dan pengabdian yang berlebihan Terlalu bergantungan Jalan keluar yang mudah Ketamakan dan nafsu keinginan Kebencian dan keengganan

128 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Praktek-praktek ini dapat dilakukan dengan kebodohan batin atau alasan-alasan salah lainnya. However, these may be ‘stepping stones’ for people who are not knowledgeable, or who are not ready to commence on the proper practice of Buddhism. Thus, we should always be mindful of our own reasons for doing these practices.

129 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Praktek-praktek ini dapat dilakukan dengan kebodohan batin atau alasan-alasan salah lainnya. Akan tetapi, ini dapat menjadi ‘batu loncatan’ untuk orang-orang yang tidak berpengetahuan luas, yang belum siap untuk memulai praktek ajaran Buddha yang benar. Thus, we should always be mindful of our own reasons for doing these practices.

130 Ritual dan Pembacaan ayat suci Mengapa umat Buddha memilih praktek-praktek tersebut? Praktek-praktek ini dapat dilakukan dengan kebodohan batin atau alasan-alasan salah lainnya. Akan tetapi, ini dapat menjadi ‘batu loncatan’ untuk orang-orang yang tidak berpengetahuan luas, yang belum siap untuk memulai praktek ajaran Buddha yang benar. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa waspada dengan alasan kita sendiri dalam melakukan praktek-praktek ini.

131 Ritual dan Pembacaan ayat suci Haruskah umat Buddha meneruskan praktek- praktek tersebut? No-if it hinders our progress. Yes-if it assists our progress. No-if it increases our greed, hatred and delusion. Yes-if it increases our generosity, compassion and Kebijaksanaan.

132 Ritual dan Pembacaan ayat suci Haruskah umat Buddha meneruskan praktek- praktek tersebut? Tida k -jika ia menghalangi kemajuan kita. Yes-if it assists our progress. No-if it increases our greed, hatred and delusion. Yes-if it increases our generosity, compassion and Kebijaksanaan.

133 Ritual dan Pembacaan ayat suci Haruskah umat Buddha meneruskan praktek- praktek tersebut? Tida k -jika ia menghalangi kemajuan kita. Ya-jika ia membantu kemajuan kita. No-if it increases our greed, hatred and delusion. Yes-if it increases our generosity, compassion and Kebijaksanaan.

134 Ritual dan Pembacaan ayat suci Haruskah umat Buddha meneruskan praktek- praktek tersebut? Tida k -jika ia menghalangi kemajuan kita. Ya-jika ia membantu kemajuan kita. Tida k -Jika ia meningkatkan ketamakan, kebencian dan kebodohan batin. Yes-if it increases our generosity, compassion and Kebijaksanaan.

135 Ritual dan Pembacaan ayat suci Haruskah umat Buddha meneruskan praktek- praktek tersebut? Tida k -jika ia menghalangi kemajuan kita. Ya-jika ia membantu kemajuan kita. Tida k -Jika ia meningkatkan ketamakan, kebencian dan kebodohan batin. Ya-Jika ia meningkatkan kedermawanan, belas kasih dan kebijaksanaan kita

136 Dipersiapkan oleh T Y Lee


Download ppt "Ritual-ritual umum Buddhis dan Pembacaan ayat suci."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google