Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

OLEH : SHANTI EMAWATI, S.Pt., MP.. Tujuan pembelajaran kompetensi kewirausahaan Mahasiswa akan dapat memahami, menerapkan dan menjadikan pola hidup berwirausaha.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "OLEH : SHANTI EMAWATI, S.Pt., MP.. Tujuan pembelajaran kompetensi kewirausahaan Mahasiswa akan dapat memahami, menerapkan dan menjadikan pola hidup berwirausaha."— Transcript presentasi:

1 OLEH : SHANTI EMAWATI, S.Pt., MP.

2 Tujuan pembelajaran kompetensi kewirausahaan Mahasiswa akan dapat memahami, menerapkan dan menjadikan pola hidup berwirausaha dengan kemampuan berkomunikasi, memimpin dan menerapkan manajemen usaha dalam mengelola usahanya dengan baik dan benar. Mahasiswa akan dapat memahami, menerapkan dan menjadikan pola hidup berwirausaha dengan kemampuan berkomunikasi, memimpin dan menerapkan manajemen usaha dalam mengelola usahanya dengan baik dan benar.

3 Rencana pembelajaran Bagian 1 : Kompetensi Karakter Bagian 1 : Kompetensi Karakter Metode pembelajaran kompetensi karakter Metode pembelajaran kompetensi karakter Kriteria penilaian kompetensi karakter Kriteria penilaian kompetensi karakter Bab I. Karakter wirausaha sukses : membangun mimpi dan mengejar cita-cita Bab I. Karakter wirausaha sukses : membangun mimpi dan mengejar cita-cita Suplemen bab I. Wirausaha dan Impian Suplemen bab I. Wirausaha dan Impian A. Impian menjadi wirausaha A. Impian menjadi wirausaha B. Impian harus smart B. Impian harus smart

4 C. Pengertian Entrepreneur/wirausaha C. Pengertian Entrepreneur/wirausaha D. Pendapat para pakar mengenai kewirausahaan D. Pendapat para pakar mengenai kewirausahaan E. Keuntungan dan kerugian wirausaha E. Keuntungan dan kerugian wirausaha F. Langkah-langkah memulai wirausaha F. Langkah-langkah memulai wirausaha BAB II. Karakter wirausaha sukses : memotivasi diri sendiri BAB II. Karakter wirausaha sukses : memotivasi diri sendiri Suplemen Bab 2. Karakter kewirausahaan Suplemen Bab 2. Karakter kewirausahaan A. Karakter Wirausahawan A. Karakter Wirausahawan

5 B. Faktor-faktor penyebab kegagalan wirausaha B. Faktor-faktor penyebab kegagalan wirausaha BAB III. Karakter Wirausaha Sukses : Menyelesaikan masalah 1 : Menjalankan usaha (problem solving) BAB III. Karakter Wirausaha Sukses : Menyelesaikan masalah 1 : Menjalankan usaha (problem solving) Suplemen Bab 3. Menentukan Peluang Usaha Suplemen Bab 3. Menentukan Peluang Usaha A. Menemukan peluang usaha A. Menemukan peluang usaha B. Memilih lapangan usaha dan mengembangkan gagasan usaha B. Memilih lapangan usaha dan mengembangkan gagasan usaha

6 BAB IV. Karakter wirausaha sukses : Menyelesaikan masalah 2 : Ketegasan BAB IV. Karakter wirausaha sukses : Menyelesaikan masalah 2 : Ketegasan Suplemen Bab 4. Ketegasan dalam aspek produksi Suplemen Bab 4. Ketegasan dalam aspek produksi A. Pendahuluan A. Pendahuluan B. Definisi produksi B. Definisi produksi C. Kebutuhan proses produksi C. Kebutuhan proses produksi D. Bahan baku D. Bahan baku E. Biaya produksi E. Biaya produksi F. Proses produksi F. Proses produksi

7 G. Pengendalian produksi G. Pengendalian produksi H. Penutup H. Penutup Bagian 2 : Kompetensi Komunikasi dan interpersonal Bagian 2 : Kompetensi Komunikasi dan interpersonal Metode pembelajaran kompetensi komunikasi dan interpersonal Metode pembelajaran kompetensi komunikasi dan interpersonal Kriteria penilaian komptensi ko9munikasi dan interpersonal Kriteria penilaian komptensi ko9munikasi dan interpersonal BAB V. Komunikasi dan Interpersonal Skill : komunikasi BAB V. Komunikasi dan Interpersonal Skill : komunikasi

8 Suplemen Bab 5. Komunikasi Suplemen Bab 5. Komunikasi A. Pengertian komunikasi A. Pengertian komunikasi B. Komponen komunikasi B. Komponen komunikasi C. Tujuan dan fungsi komunikasi C. Tujuan dan fungsi komunikasi D. Kegunaan mempelajari ilmu komunikasi D. Kegunaan mempelajari ilmu komunikasi E. Komunikasi dalam organisasi E. Komunikasi dalam organisasi F. Teknik presentasi F. Teknik presentasi G. Persiapan presentasi G. Persiapan presentasi H. Presentasi H. Presentasi

9 BAB VI. Komunikasi dan Interpersonal Skill : Kepemimpinan BAB VI. Komunikasi dan Interpersonal Skill : Kepemimpinan Suplemen Bab 6. Kepemimpinan Suplemen Bab 6. Kepemimpinan A. Pengertian kepemimpinan A. Pengertian kepemimpinan B. Peran kepemimpinan dalam manajemen B. Peran kepemimpinan dalam manajemen C. Gaya kepemimpinan C. Gaya kepemimpinan D. Syarat-syarat kepemimpinan D. Syarat-syarat kepemimpinan E. Pemimpin formal dan informal E. Pemimpin formal dan informal F. Kepala dan pemimpin F. Kepala dan pemimpin

10 G. Kasus kepemimpinan dalam tim G. Kasus kepemimpinan dalam tim H. Keterampilan dasar kepemimpinan H. Keterampilan dasar kepemimpinan BAB VII. Komunikasi dan Interpersonal Skill : Motivasi BAB VII. Komunikasi dan Interpersonal Skill : Motivasi Suplemen Bab 7. Motivasi Suplemen Bab 7. Motivasi A. Konsep motivasi A. Konsep motivasi B. Teori motivasi B. Teori motivasi C. Motivasi dalam kaitannya dengan kepuasan kerja C. Motivasi dalam kaitannya dengan kepuasan kerja

11 D. Teori proses motivasi kerja D. Teori proses motivasi kerja E. Keterkaitan motivasi dengan kepuasan kerja E. Keterkaitan motivasi dengan kepuasan kerja F. Motivasi dalam peningkatan kinerja dan produktivitas F. Motivasi dalam peningkatan kinerja dan produktivitas Bagian 3 : Kompetensi Kreativitas dan Inovasi Bagian 3 : Kompetensi Kreativitas dan Inovasi Metode pembelajaran kompetensi kreatifitas dan inovasi Metode pembelajaran kompetensi kreatifitas dan inovasi

12 Kriteria penilaian kompetensi kreatifitas dan inovasi. Kriteria penilaian kompetensi kreatifitas dan inovasi. BAB VIII. Mengembangkan Inovasi dan Menciptakan Produk dan Layanan yang unggul BAB VIII. Mengembangkan Inovasi dan Menciptakan Produk dan Layanan yang unggul Sumplemen Bab 8. Kreatifitas dan inovasi Sumplemen Bab 8. Kreatifitas dan inovasi A. Peranan Inovasi dan Kreativitas dalam Pengembangan Produk dan Jasa A. Peranan Inovasi dan Kreativitas dalam Pengembangan Produk dan Jasa B. Mengembangkan Produk dan Jasa Yang Unggul B. Mengembangkan Produk dan Jasa Yang Unggul

13 BAB IX. Menetapkan Inovasi dan Menciptakan Produk dan Layanan yang unggul BAB IX. Menetapkan Inovasi dan Menciptakan Produk dan Layanan yang unggul Suplemen Bab 9. Penetapan produk unggul dan manajemen inovasi Suplemen Bab 9. Penetapan produk unggul dan manajemen inovasi A. Quality Function Deployment (QFD) A. Quality Function Deployment (QFD) Bagian 4 : Kompetensi menjual produk atau jasa Bagian 4 : Kompetensi menjual produk atau jasa Metode pembelajaran kompetensi menjual produk atau jasa Metode pembelajaran kompetensi menjual produk atau jasa

14 Kriteria penilaian kompetensi menjual produk atau jasa Kriteria penilaian kompetensi menjual produk atau jasa BAB X. Menjual Produk Kepada Konsumen Retail BAB X. Menjual Produk Kepada Konsumen Retail Suplemen Bab 10. Pemasaran Suplemen Bab 10. Pemasaran A. Pendahuluan A. Pendahuluan B. Definisi Pemasaran B. Definisi Pemasaran C. Tugas, Fungsi dan Orientasi Pemasaran C. Tugas, Fungsi dan Orientasi Pemasaran

15 D. Strategi Pemasaran D. Strategi Pemasaran E. Penentuan Target Perusahaan E. Penentuan Target Perusahaan F. Bauran Pemasaran F. Bauran Pemasaran G. Penutup G. Penutup BAB XI. Menjual Produk Kepada Konsumen Korporasi BAB XI. Menjual Produk Kepada Konsumen Korporasi Suplemen Bab 11. Menjual kepada konsumen korporasi Suplemen Bab 11. Menjual kepada konsumen korporasi A. Mempelajari Konsumen Korporasi A. Mempelajari Konsumen Korporasi

16 B. Menghubungi Konsumen Korporasi B. Menghubungi Konsumen Korporasi C. Presentasi C. Presentasi D. Negosiasi D. Negosiasi E. Mencapai Persetujuan dan Kesepakatan E. Mencapai Persetujuan dan Kesepakatan Bagian 5: Kompetensi manajemen usaha Bagian 5: Kompetensi manajemen usaha Metode pembelajaran kompetensi manajemen usaha Metode pembelajaran kompetensi manajemen usaha Kriteria penilaian kompetensi manajemen usaha Kriteria penilaian kompetensi manajemen usaha

17 BAB XII. Manajemen Keuangan Pribadi BAB XII. Manajemen Keuangan Pribadi Suplemen bab 12. Mengelola keuangan pribadi Suplemen bab 12. Mengelola keuangan pribadi A. Mengelola Keuangan Pribadi A. Mengelola Keuangan Pribadi B. Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga B. Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga BAB XIII. Manajemen Keuangan Usaha BAB XIII. Manajemen Keuangan Usaha Suplemen Bab 13. Manajemen keuangan usaha Suplemen Bab 13. Manajemen keuangan usaha

18 A. Aktivitas Penggunaan Dana A. Aktivitas Penggunaan Dana B. Aktivitas Perolehan Dana B. Aktivitas Perolehan Dana C. Aktivitas Pengelolaan Dana C. Aktivitas Pengelolaan Dana BAB XIV. Mengevaluasi dan Mengendalikan Usaha BAB XIV. Mengevaluasi dan Mengendalikan Usaha Suplemen Bab 14. Evaluasi kinerja Suplemen Bab 14. Evaluasi kinerja A. Mengukur Kinerja Aktual A. Mengukur Kinerja Aktual B. Membandingkan Kinerja Aktual dengan Standar B. Membandingkan Kinerja Aktual dengan Standar

19 C. Melakukan tindakan manajerial C. Melakukan tindakan manajerial SUPLEMEN KHUSUS SUPLEMEN KHUSUS BAB XV. Aspek organisasi dan manajemen bisnis BAB XV. Aspek organisasi dan manajemen bisnis A. Pendahuluan A. Pendahuluan B. Definisi Organisasi dan Manajemen B. Definisi Organisasi dan Manajemen C. Organisasi Perusahaan C. Organisasi Perusahaan D. Manajemen Perusahaan D. Manajemen Perusahaan

20 BAB I. KARAKTER WIRAUSAHA SUKSES : Membangun Mimpi dan Mengejar Cita- cita (dream) Lulusan berdaya saing, ditandai sejumlah kemampuan yang tinggi, baik hard skill dan softskill serta pengetahuan dibidang spiritual, emosional, maupun kreativitas Lulusan berdaya saing, ditandai sejumlah kemampuan yang tinggi, baik hard skill dan softskill serta pengetahuan dibidang spiritual, emosional, maupun kreativitas

21 kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Godsell (2005) menyatakan bahwa salah satu orientasi pendidikan adalah menjadikan peserta didik (mahasiswa) mandiri dalam arti memiliki mental yang kuat untuk melakukan usaha sendiri, tidak lebih sebagai pencari kerja (job seeker) akan tetapi sebagai pencipta lapangan pekerjaan (job creator) Godsell (2005) menyatakan bahwa salah satu orientasi pendidikan adalah menjadikan peserta didik (mahasiswa) mandiri dalam arti memiliki mental yang kuat untuk melakukan usaha sendiri, tidak lebih sebagai pencari kerja (job seeker) akan tetapi sebagai pencipta lapangan pekerjaan (job creator)

22 WIRAUSAHA DAN IMPIAN berdasarkan riset yang dilakukan oleh Asnadi (2005) terhadap 5 perguruan tinggi negeri di Indonesia ditemukan bahwa hampir 75 persen responden (mahasiswa) tidak memiliki rencana yang jelas setelah lulus. berdasarkan riset yang dilakukan oleh Asnadi (2005) terhadap 5 perguruan tinggi negeri di Indonesia ditemukan bahwa hampir 75 persen responden (mahasiswa) tidak memiliki rencana yang jelas setelah lulus. Muncul pengangguran terdidik Muncul pengangguran terdidik

23 Sakernas (2010) Sakernas (2010) mengemukakan fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan Indonesia dimana semakin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau kemungkinan menjadi pengangguran semakin tinggi mengemukakan fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan Indonesia dimana semakin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau kemungkinan menjadi pengangguran semakin tinggi upaya dalam mengurangi tingkat pengangguran terdidik di Indonesia adalah dengan menciptakan lulusan-lulusan yang tidak hanya memiliki orientasi sebagai job seeker namun job maker atau yang kita sebut wirausaha. upaya dalam mengurangi tingkat pengangguran terdidik di Indonesia adalah dengan menciptakan lulusan-lulusan yang tidak hanya memiliki orientasi sebagai job seeker namun job maker atau yang kita sebut wirausaha.

24 Ernanie (2010), dalam seminarnya mengungkapkan ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan Ernanie (2010), dalam seminarnya mengungkapkan ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan berisiko seperti berwirausaha. Syaefuddin (2003) mengatakan bahwa seharusnya para lulusan melihat kenyataan bahwa lapangan kerja yang ada tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan perguruan tinggi di Indonesia, Syaefuddin (2003) mengatakan bahwa seharusnya para lulusan melihat kenyataan bahwa lapangan kerja yang ada tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan perguruan tinggi di Indonesia,

25 para lulusan perguruan tinggi mulai memilih berwirausaha sebagai pilihan karirnya, mengingat potensi yang ada di negeri ini sangat kondusif untuk melakukan wirausaha. para lulusan perguruan tinggi mulai memilih berwirausaha sebagai pilihan karirnya, mengingat potensi yang ada di negeri ini sangat kondusif untuk melakukan wirausaha. Ilik (2010) mengatakan bahwa, untuk memulai menjadi seorang wirausaha, setiap mahasiswa harus memiliki impian yang kokoh yang dibangun tidak dalam waktu singkat Ilik (2010) mengatakan bahwa, untuk memulai menjadi seorang wirausaha, setiap mahasiswa harus memiliki impian yang kokoh yang dibangun tidak dalam waktu singkat

26 Urgensi impian ini semakin penting mengingat resiko dari wirausaha ini tidaklah kecil, bila mahasiswa tidak memiliki impian yang kokoh maka sangat mungkin baginya untuk cepat Urgensi impian ini semakin penting mengingat resiko dari wirausaha ini tidaklah kecil, bila mahasiswa tidak memiliki impian yang kokoh maka sangat mungkin baginya untuk cepat

27 A. Motivasi Untuk Meraih Impian Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi penggerak untuk maju. Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi penggerak untuk maju. Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk mewujudkannya. Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk mewujudkannya. Dunia ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan teknologi yang lebih hebat itu berkat impian orang-orang besar. Orang- orang besar itu adalah para pemimpi. Dunia ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan teknologi yang lebih hebat itu berkat impian orang-orang besar. Orang- orang besar itu adalah para pemimpi.

28 A.1. Impian Merupakan Sumber Motivasi Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar seseorang. Bahkan impian dapat menjamin keberhasilan, karena senantiasa menjadi sumber motivasi hingga mencapai tujuan atau menggapai tujuan selanjutnya. Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar seseorang. Bahkan impian dapat menjamin keberhasilan, karena senantiasa menjadi sumber motivasi hingga mencapai tujuan atau menggapai tujuan selanjutnya. Dorongan motivasi itulah yang akan menggerakkan tubuh dan mengatur strategi yang harus ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi dan menjalin komunikasi maupun bekerjasama dengan orang lain. Dorongan motivasi itulah yang akan menggerakkan tubuh dan mengatur strategi yang harus ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi dan menjalin komunikasi maupun bekerjasama dengan orang lain.

29 A.2. Impian Menciptakan Energi Besar untuk Berprestasi Impian menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja. Impian menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja. Impian itu sendiri sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang tidak mudah. Impian itu sendiri sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang tidak mudah. Menurut Anais Nin, "Hidup ini mengerut atau berkembang sesuai dengan keteguhan hati seseorang”. Menurut Anais Nin, "Hidup ini mengerut atau berkembang sesuai dengan keteguhan hati seseorang”. Terdapat empat tips sederhana dalam menjadikan impian sebagai sumber energi kita, yaitu Terdapat empat tips sederhana dalam menjadikan impian sebagai sumber energi kita, yaitu disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet dan sikap mental positif. disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet dan sikap mental positif.

30 Terdapat empat tips sederhana dalam menjadikan impian sebagai sumber energi kita, yaitu Terdapat empat tips sederhana dalam menjadikan impian sebagai sumber energi kita, yaitu disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet dan sikap mental positif. disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet dan sikap mental positif.

31 Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun mungkin orang lain mengkritik atau menghalangi. Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun mungkin orang lain mengkritik atau menghalangi. Kepercayaan itu juga membentuk kesadaran bahwa manusia diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Kepercayaan itu juga membentuk kesadaran bahwa manusia diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Tips yang kedua adalah loyalitas atau fokus untukmerealisasikan impian. Tips yang kedua adalah loyalitas atau fokus untukmerealisasikan impian. Untuk mendapatkan daya dorong yang luar biasa, maka tentukanpula target waktu. Untuk mendapatkan daya dorong yang luar biasa, maka tentukanpula target waktu.

32 Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan seseorang bekerja lebih lama dan keras. Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan seseorang bekerja lebih lama dan keras. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap mental positif. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap mental positif. Seseorang yang mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan memerlukan pengorbanan, kerja keras dan komitmen, waktu serta dukungan dari orang lain Seseorang yang mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan memerlukan pengorbanan, kerja keras dan komitmen, waktu serta dukungan dari orang lain

33 A.3. Impian Menjadikan Kehidupan Manusia Lebih Mudah Dijalani Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala rintangan dan tantangan. Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala rintangan dan tantangan. Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk merealisasikannya. Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk merealisasikannya.

34 A.4. Konsep Be – do – have Be Do Have adalah suatu konsep yang terdapat dalam buku One Minute Millionaire oleh Mark Victor Hansen dan Robert G. Allen. Be Do Have adalah suatu konsep yang terdapat dalam buku One Minute Millionaire oleh Mark Victor Hansen dan Robert G. Allen. Uniknya konsep ini bukan diawali dari kerja (do) menuju milyarder, tetapi diawali oleh menjadi (be). Uniknya konsep ini bukan diawali dari kerja (do) menuju milyarder, tetapi diawali oleh menjadi (be). Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pikirkan Anda ingin menjadi apa?hal ini sejalan dengan konsep dasar manajemen yaitu “think what u do and do what u think” Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pikirkan Anda ingin menjadi apa?hal ini sejalan dengan konsep dasar manajemen yaitu “think what u do and do what u think”

35 Setelah Anda sudah mengetahuinya, maka lakukan hal (do) yang diperlukan untuk menuju be (menjadi apa yang Anda inginkan) Setelah Anda sudah mengetahuinya, maka lakukan hal (do) yang diperlukan untuk menuju be (menjadi apa yang Anda inginkan)

36 Ketika seseorang ingin menjadi programmer, maka lakukanlah tindakan yang mendukung menjadi programmer. Ketika seseorang ingin menjadi programmer, maka lakukanlah tindakan yang mendukung menjadi programmer. Belilah alat-alat atau hal-hal yang bisa membantu menjadi programmer, temui para programmer-progammer, diskusikanlah dengan mentor/pembimbing jika ada yang mengalami kesulitan, lakukanlah dengan teguh dan pantang mengeluh, maka orang tersebut akan memiliki hasil yang luar biasa berupa pengakuan dan tergantikannya harga yang telah dibayar berupa kerja keras, biaya, dan impitan pada masa sebelumnya. Belilah alat-alat atau hal-hal yang bisa membantu menjadi programmer, temui para programmer-progammer, diskusikanlah dengan mentor/pembimbing jika ada yang mengalami kesulitan, lakukanlah dengan teguh dan pantang mengeluh, maka orang tersebut akan memiliki hasil yang luar biasa berupa pengakuan dan tergantikannya harga yang telah dibayar berupa kerja keras, biaya, dan impitan pada masa sebelumnya.

37 Makna be – do have juga menunjukkan sikap perspektif jangka panjang. Makna be – do have juga menunjukkan sikap perspektif jangka panjang. Sikap ini berarti bahwa seseorang yang sukses dalam berencana dan bertindak selalu memiliki perspektif jangka panjang Sikap ini berarti bahwa seseorang yang sukses dalam berencana dan bertindak selalu memiliki perspektif jangka panjang Satu-satunya cara untuk membentuk perspektif jangka panjang ini ialah dengan merumuskan visi anda saat ini Satu-satunya cara untuk membentuk perspektif jangka panjang ini ialah dengan merumuskan visi anda saat ini

38 1.2. Impian Harus Smart Pernahkah Anda mendengar ketika ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepada mahasiswa “apa impian kalian?” lalu mereka berkata “ingin menjadi orang sukses” atau “ingin membahagiakan orang tua”. Pernahkah Anda mendengar ketika ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepada mahasiswa “apa impian kalian?” lalu mereka berkata “ingin menjadi orang sukses” atau “ingin membahagiakan orang tua”.

39 Sekilas nampak bahwa jawaban mahasiswa ini sangat baik dan mulia, namun demikian impian ini sangatlah abstrak dan tidak jelas apa ukuran/indikator kesuksesan tersebut sehingga sangat sulit untuk ditentukan bagaimana langkah-langkah untuk mewujudkannya Sekilas nampak bahwa jawaban mahasiswa ini sangat baik dan mulia, namun demikian impian ini sangatlah abstrak dan tidak jelas apa ukuran/indikator kesuksesan tersebut sehingga sangat sulit untuk ditentukan bagaimana langkah-langkah untuk mewujudkannya

40 smart Specific. Artinya Anda harus jelas mengenai apa yang anda inginkan, dengan demikian anda akan lebih mudah dalam membuat perencanaan. Specific. Artinya Anda harus jelas mengenai apa yang anda inginkan, dengan demikian anda akan lebih mudah dalam membuat perencanaan. Dengan demikian, istilah “Saya memiliki impian menjadi orang sukses” diganti Dengan demikian, istilah “Saya memiliki impian menjadi orang sukses” diganti

41 misalnya ; “Saya memiliki impian untuk menjadi seorang manajer pemasaran di PT X dengan penghasilan Rp X” atau “saya ingin menjadi seorang wirausahawan di bidang X dengan penghasilan sebesar Rp X dan lainnya. misalnya ; “Saya memiliki impian untuk menjadi seorang manajer pemasaran di PT X dengan penghasilan Rp X” atau “saya ingin menjadi seorang wirausahawan di bidang X dengan penghasilan sebesar Rp X dan lainnya. Measurable. Artinya impian haruslah terukur. Dengan demikian, anda akan tahu kapan impian anda telah tercapai. Measurable. Artinya impian haruslah terukur. Dengan demikian, anda akan tahu kapan impian anda telah tercapai.

42 Achieveble. Artinya Impian anda harus dapat anda raih. Jika impian itu terlalu besar, anda perlu memecah impian itu menjadi impian yang lebih kecil dulu sebagai langkah awal atau bagian dalam pencapaian impian besar. Achieveble. Artinya Impian anda harus dapat anda raih. Jika impian itu terlalu besar, anda perlu memecah impian itu menjadi impian yang lebih kecil dulu sebagai langkah awal atau bagian dalam pencapaian impian besar. Realistic. Artinya, impian Anda harus masuk akal. Makna masuk akal ini biasanya dikaitkan dengan kemampuan/ketersediaan sumber daya yang dimiliki. Realistic. Artinya, impian Anda harus masuk akal. Makna masuk akal ini biasanya dikaitkan dengan kemampuan/ketersediaan sumber daya yang dimiliki.

43 Time Bond. Impian haruslah memiliki garis waktu yang jelas kapan impian tersebut ingin Anda raih. Time Bond. Impian haruslah memiliki garis waktu yang jelas kapan impian tersebut ingin Anda raih. Misalnya : “ saya memiliki impian mendirikan sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu 10 tahun dari sekarang”. Misalnya : “ saya memiliki impian mendirikan sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu 10 tahun dari sekarang”.


Download ppt "OLEH : SHANTI EMAWATI, S.Pt., MP.. Tujuan pembelajaran kompetensi kewirausahaan Mahasiswa akan dapat memahami, menerapkan dan menjadikan pola hidup berwirausaha."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google