Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

MATERIALITAS dan RISIKO Kasus : Kau bilang telah melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi ternyata perusahaannya bangkrut ! “Kami melaksanakan audit berdasarkan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "MATERIALITAS dan RISIKO Kasus : Kau bilang telah melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi ternyata perusahaannya bangkrut ! “Kami melaksanakan audit berdasarkan."— Transcript presentasi:

1 MATERIALITAS dan RISIKO Kasus : Kau bilang telah melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi ternyata perusahaannya bangkrut ! “Kami melaksanakan audit berdasarkan standar profesional akuntan publik. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material” (Paragrap scope) “Memperoleh keyakinan yang memadai”  Memberikan informasi kepada para pengguna laporan bahwa auditor tidak dapat memberikan garansi atau memastikan kewajaran dari penyajian laproan keuangan  Terdapat sejumlah Resiko bahwa laporan keuangan tidak disajikan dengan wajar bahkan jika pendapat auditor yang diterbitkan adalah unqualified “Bebas dari salah saji material”  memberikan informasi kepada para pengguna laporan bahwa tanggungjawab auditor terbatas pada informasi keuangan yang material

2 Materialitas Definisi :  Besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tsb. Frasa “Menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, sesuai dengan PABU di Indonesia”  Menunjukkan keyakinan auditor bahwa laporan keuangan secara keseluruhan tidak mengandung salah saji material Konsep materialitas  penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan PABU, sedangkan beberapa hal lain tidak penting, baik individual atau keseluruhan. Laporan Keuangan mengandung salah saji material  Apabila laporan keuangan tsb. mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual atau keseluruhan, cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tsb tidak disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan PABU di Indonesia

3 Salah saji akibat dari  kekeliruan atau kecurangan Auditor tidak bertanggung jawab  dalam merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa salah saji yang disebabkan karena kekeliruan atau kecurangan, tidak material terhadap laporan keuangan Kekeliruan (Error) adalah :  Salah saji atau penghilangan yang “Tidak Disengaja” jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan Kekeliruan mencakup : Kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data yang menjadi sumber penyusunan laporan keuangan Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul dari kecerobohan atau salah tafsir fakta Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, klasifikasi, cara penyajian atau pengungkapan Kecurangan (lebih luas dari segi hukum), namun auditor berkepentingan dengan tindakan curang yang menyebabkan salah saji material dalam laporan keuangan

4 Dua tipe salah saji (SA Seksi 316, PSA No.32 dan PSA No.70 “Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keungan) : Salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan Salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadapnya aktiva Faktor utama yang membedakan “kecurangan” (Fraud) dengan “kekeliruan” (Error) :  Apakah tindakan yang mendasarinya, yang mengakibatkan salah saji dalam laporan keuangan, merupakan tindakan yang “disengaja” atau “tidak disengaja” Auditor tidak membedakan antara kekeliruan dan kecurangan, tanggungjawab auditor adalah memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas salah saji material (perbedaan diungkapkan dalam hal tanggapan auditor terhadap salah saji yang terdeteksi)

5 RESIKO AUDIT dan MATERIALITAS PSA No.25 :  Pedoman bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar auditing Mempengaruhi penerapan standar audit :  Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan (yang tercermin dalam Laporan Audit Bentuk Baku) Perlu dipertimbangkan dalam: a.Merencanakan audit dan merancang prosedur audit (untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup) b.Mengevaluasi apakah laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengn PABU di Indonesia

6 Materialitas Besaran dari suatu penghilangan atau salah saji suatu informasi akuntansi yang dengan mempertimbangkan lingkungan menyebabkan pertimbangan seseorang yang menyandarkan pada informasi tersebut akan berubah atau dipengaruhi oleh penghilangan atau salah saji tersebut

7 Materialitas mempengaruhi proses audit –Perencanaan –Pengumpulan bukti –Evaluasi temuan

8 Materialitas FASB 2 definisi materialitas  besarnya nilai penghapusan atau kesalahan penyajian informasi keuangan yang dalam hubungannya dengan sejumlah situasi yang melingkupinya, membuat hal itu memiliki kemungkinan besar bahwa pertimbangan yang dibuat oleh seorang yang mengandalkan informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau kesalahan penyajian tersebut Tanggung jawab auditor  menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian yang material

9 Menetapkan Pertimbangan Awal tentang Materialitas SAS 47 (AU 312)  Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas (preliminary judgment about materiality)  Nilai kesalahan penyajian gabungan dalam laporan keuangan yang menurut auditor material (ditetapkan pada awal penugasan audit) Berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan –Materialitas lebih merupakan konsep yang relatif bukannya absolut –Sejumlah dasar pertimbangan diperlukan untuk mengevaluasi tingkat materialitas –Faktor kualitatif pun mempengaruhi tingkat materialitas

10 Pertimbangan salah saji material :  Apakah berdampak individual atau gabungan  auditor harus mempertimbangkan sifat dan jumlah pos dalam laporan keuangan yang diaudit  Merupakan pertimbangan profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan memadai dan yang akan meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan  Dihubungkan dengan keadaan sekitarnya dan mencakup pertimbangan  kualitatif maupun kuantitatif

11 Mengalokasikan Pertimbangan Awal Tingkat Materialitas Segmen (Salah Saji yang Masih Dapat Ditoleransi) –Dilakukan selama masa perencanaan –Wajib dilakukan  bukti audit terkumpul berdasarkan segmen bukan berdasarkan laporan keuangan secara keseluruhan –Mayoritas praktisi mengalokasikan tingkat materialitas ke akun neraca daripada mengalokasikannya ke akun laporan laba rugi –Tingkat materialitas ke saldo akun  salah saji yang masih dapat ditoleransi (tolerable misstatement / SAS 39 (AU 350)) –Tiga kesulitan dalam upaya mengalokasikan tingkat materialitas ke akun neraca (segmen) : 1.Auditor memiliki ekspektasi bahwa sejumlah akun tertentu mengandung lenih banyak salah saji daripada akun lainnya 2.Baik salah saji lebih (overstatement) maupun salah saji kurang (understatement) harus tetap dipertimbangkan 3.Biaya audit secara relatif mempengaruhi pengalokasian ini

12 Mengestimasi Nilai Salah Saji serta Membandingkannya dengan Nilai Pertimbangan Awal –Dua tahap pertama  penerapan materialitas dalam suatu perencanaan, –Salah satu cara untuk menghitung estimasi salah saji  membuat suatu proyeksi langsung dari sampel yang ada pada populasi serta menambahkan suatu estimasi atas sampling error –Perhitungan Proyeksi Langsung atas Estimasi Salah Saji (Direct Projection Estimate of Misstaatement) : Nilai salah saji bersih yang Terkandung dalam Sampel Total Nilai Populasi Proyeksi langsung X yang tercatat = atas estimasi salah saji Total Sampel Ilustrasi alokasi

13 RISIKO AUDIT Risiko audit adalah risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material ( risiko bahwa auditor gagal memodifikasi opininya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material) Dalam hal ini ada probabilitas auditor dalam memberikan pendapat yang tidak tepat mengenai laporan keuangan yang diaudit, di mana laporan berisi kesalahan material yang gagal ditemukan oleh auditor

14 Risiko audit diakui dengan pernyataan dalam penjelasan tentang tanggung jawab dan fungsi auditor independen, sbb. :  “Karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, bukan mutlak, bahwa salah saji material terdeteksi” Risiko Audit adalah :  Risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material Risiko audit dapat ditentukan dalam ukuran  kuantitatif dan kualitatif

15 JENIS RISIKO AUDIT 1. Risiko Pengendalian/RP (Control Risk/CR) 2. Risiko Bawaan/RB (Inherent Risk/IR) 3. Risiko Deteksi/RD (Detection Risk/DR) Pada tingkat saldo akun atau golongan transaksi, risiko audit terdiri : 1.Risiko bawaan/inherent risk dan risiko pengendalian/control risk  saldo akun atau golongan transaksi mengandung salah saji (kekeliruan atau kecurangan) yang dapat menjadi material terhadap laporan keuangan apabila digabungkan dengan salah saji pada saldo akun atau golongan transaksi lainnya 2.Risiko deteksi/detection risk  auditor tidak akan mendeteksi salah saji tersebut

16 1. Risiko pengendalian (Control risk)  Risiko bahwa salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern klien.  Merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalin intern untuk mencapai tujuan klien yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan klien  Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern

17 RISIKO PENGENDALIAN (Control Risk) –Risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas (efektivitas internal control entitas)  Ukuran yang digunakan oleh auditor untuk menilai adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji material yang melebihi nilai salah saji yang dapat ditoleransi atas segment tertentu akan tidak terdeteksi oleh pengendalian intern klien Risiko pengendalian menunjukkan : –Penilaian tentang apakah pengendalian intern yang dimiliki klien efektif untuk mencegah atau mendeteksi terjadinya salah saji –Kehendak auditor membuat penilaian berada dibawah nilai maksimum (100%) sebagai bagian dari rencana audit yang dibuatnya

18 Semakin efektif pengendalian intern  semakin rendah faktor risiko pengendalian Hubungan antara risiko pengendalian dan risiko deteksi  saling berlawanan Contoh Control Risk: –kemungkinan pengendalian internal gagal mendeteksi kesalahan material –10 unit x $20 = $2000 –Auditor dapat mengurangi risiko ini dengan melakukan tes terhadap pengendalian internal yang ada

19 2. Risiko bawaan (Inherent risk)  Kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material (asumsi : tidak terdapat pengendalian yang terkait)  Faktor yang mempengaruhi risiko bawaan : Besarnya saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain Faktor Ekstern (perkembangan teknologi) Faktor yang berhubungan dengan beberapa atau seluruh saldo akun atau golongan transaksi yang mempengaruhi risiko bawaan (lihat SA Seksi 316, PSA No.32 dan PSA No. 70 “Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan”, paragraf 10)

20 Risiko bawaan (IR) dan risiko pengendalian (CR)  Harus ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan  Ukuran yang dipergunakan oleh auditor dalam menilai adanya kemungkinan sejumlah salah saji yang material (kekeliruan dan kecurangan) dalam suatu segment sebelum ia mempertimbangkan keefektifan pengendalian intern yang ada Asumsi : tidak ada pengendalian intern (karena pengendalian intern untuk mempertimbangkan resiko pengendalian), rentan adanya kesalahan sajian dalam laporan keuangan  tingkat resiko inheren tinggi

21 INHERENT RISK Kemungkinan terdapat kerugian/kesalahan (sebelum reliabilitas internal controls dipertimbangkan)  menjalankan bisnis adalah berisiko (apalagi bisnis secara internasional) Perusahaan dalam industri yg sedang menurun  IR  Industri dengan volume besar dalam transaksi kas  IR  Auditor tidak dapat mengurangi risiko ini –Contoh: Perusahaan memiliki saldo $10 jt  $2 jt perusahaan tidak menjalankan bisnisnya lagi

22 Menilai Risiko Inheren Faktor yang mempengaruhi risiko akseptibilitas inheren –Sifat bisnis klien –Temuan audit yang diperoleh dari audit sebelumnya –Penugasan awal vs. penugasan ulangan –Pihak terkait –Berbagai transaksi nonrutin –Pertimbangan yang diperlukan untuk mengkoreksi pencatatan berbagai saldo dan transaksi akun –Penyusun populasi Memperoleh informasi untuk menilai risiko inheren –Informasi industri dan bisnis klien –Kunjungan kepada pabrik dan kantor klien –Identifikasi atas para pihak terkait

23 3. Risiko deteksi (Detection risk)  Risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material dalam suatu asersi  Merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor  Timbul karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi, dan karena ketidakpastian lain yang ada, walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%  Berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor  Mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian  Semakin kecil risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini auditor, semakin besar risiko deteksi yang dapat diterima  Semakin besar risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini auditor, semakin kecil tingkat risiko deteksi yang dapat diterima

24 PLANNED DETECTION RISK (Risiko Deteksi yang Direncanakan) –Resiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi (efektivitas prosedur audit)  Ukuran resiko bahwa bukti audit atas segmen tertentu akan gagal mendeteksi keberadaan salah saji yang melebihi suatu nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi, andaikan salah saji semacam itu ada Tergantung pada ketiga faktor lainnya yang terdapat dalam model  rIsiko deteksi terencana hanya akan berubah jika auditor melakukan perubahan pada salah satu dari ketiga faktor Menentukan nilai bukti substantif yang direncanakan oleh auditor untuk dikumpulkan, yang merupakan kebalikan dari ukuran rIsiko deteksi terencana

25 DETECTION RISK –kemungkinan prosedur audit gagal untuk mendeteksi kerugian/kesalahan Ini adalah faktor risiko yang dapat dikendalikan oleh auditors  Substantive procedures

26 HUBUNGAN RISIKO INHEREN, RISIKO DETEKSI YANG DIRENCANAKAN dan BUKTI AUDIT YANG DIRENCANAKAN  risiko inheren berlawanan dengan risiko deteksi terencana, tapi mempunyai hubungan yang searah dengan bukti audit Semakin meningkatnya bukti audit yang diperlukan untuk tingkat resiko inheren yang tinggi  diperlukan staff audit yang berpengalaman

27 RISIKO AKSEPTIBILITAS AUDIT  Ukuran atas tingkat kesediaan auditor untuk menerima kenyataan bahwa laporan keuangan mungkin masih mengandung salah saji yang material setelah audit selesai dilaksanakan serta suatu laporan audit unqualified telah diterbitkan Risiko deteksi yang dapat diterima (DR) tergantung :  Tingkat yang diinginkan untuk membatasi risiko audit suatu saldo atau golongan transaksi  Penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan risiko pengendalian  Penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan risiko pengendalian menurun, risiko deteksi yang daoat diterima akan meningkat Tingkat risiko akseptibilitas audit rendah  auditor ingin memperoleh tingkat keyakinan yang lebih tinggi bahwa laporan keuangan tidak mengandung salah saji yang material Risiko = 0% (yakin sekali)  audit assurance /overal assurancet = satu dikurangi risiko akseptibilitas audit dan Risiko = 100%  benar-benar tidak yakin Hubungan antara risiko akseptibilitas audit dengan risiko deteksi terencana  searah Hubungan antara risiko akseptibilitas audit dan bukti audit yang direncanakan  berlawanan

28 Menilai Risiko Akseptibilitas Audit  Lebih baik dilakukan selama fase perencanaan audit Pengaruh risiko perjanjian pada risiko akseptibilitas audit –Risiko Perjanjian (engagement risk)  Risiko yang akan diderita oleh auditor atau firma audit akibat hubungan dengan klien, walaupun laporan audit yang dibuat bagi klien tersebut telah dibuat dengan benar. Faktor yang mempengaruhi risiko akseptibilitas audit –Derajat kebergantungan para pengguna eksternal pada laporan keuangan Ukuran usaha klien Distribusi kepemilikan Sifat dan nilai kewajiban –Kemungkinan bahwa klien akan mengalami kesulitan keuangan setelah penerbitan laporan audit Posisi likuiditas Laba (rugi) pada tahun sebelumnya Metode pembiayaan pertumbuhan Sifat operasi klien Kompetensi manajemen –Evaluasi auditor atas integritas manajemen

29 Membuat keputusan resiko akseptibilitas audit –Jika nilai tingkat risiko akseptibilitas audit rendah  klien berisiko membutuhkan lebih banyak bukti audit yang ekstensif, penugasan personil yang lebih berpengalaman dan/atau suatu review yang lebih ekstensif pada kertas kerja audit

30 Menilai Risiko Kecurangan Untuk menilai risiko kecurangan, kondisi yang harus diperhatikan saat salah saji material adanya kecurangan : –Insentif/tekanan –Kesempatan –Perilaku/rasionalisasi Informasi yang mempengaruhi risiko kecurangan –Untuk membantu auditor mengevaluasi faktor risiko yang berhubungan dengan ketiga kondisi tersebut Merespon risiko kecurangan –Merancang dan melakukan prosedur audit untuk mengarah kepada resiko kecurangan yang teridentifikasi –Mengubah keseluruhan perilaku dari audit untuk merespon risiko kecurangan yang teridentifikasi –Melakukan prosedur untuk mengarahkan risiko manajemen menguasai kontrol

31 Hubungan antara Risiko dengan Bukti Audit dan Faktor yang Mempengaruhi Risiko  Dua cara auditor mengubah audit untuk merespon risiko : -Perjanjian itu mungkin membutuhkan staf yang lebih berpengalaman -Perjanjian akan ditelaah kembali lebih teliti daripada biasanya Risiko audit untuk segmen –Risiko pengendalian, risiko inheren ditentukan bagi setiap siklus, akun dan tujuan audit –Risiko pengendalian akan berbeda bagi akun yang berbeda, tergantung tingkat efektivitas pengendalian yang ada –Faktor yang mempengaruhi risiko inheren (tingkat kerentanan terhadap penyalahgunaan dan tingkat rutinitas transaksi) berbeda dari satu akun ke akun lainnya –Risiko akseptibilitas audit umumnya ditetapkan auditor selama fase perencanaan dan ditetapkan pada tingkat yang sama bagi setiap siklus dan akun utama –Tingkat risiko pengendalian dan tingkat resiko inheren sangat bervariasi antar siklus, akun atau tujuan audit

32 Hubungan antara Risiko dengan Bukti Audit dan Faktor yang Mempengaruhi Risiko Mengaitkan nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi dan risiko kepada tujuan audit yang terkait dengan saldo Batasan pengukuran –Rendah, Sedang dan tinggi –Cukup sulit mengukur jumlah bukti audit yang diperlukan bagi suatu tingkat risiko deteksi terencana Hubungan antara risiko, materialitas dan bukti audit –Risiko  suatu pengukuran atas ketidakpastian –Materialitas  suatu pengukuran atas ukuran/besaran –Konsep materialitas dan resiko dalam auditing  keduanya mengukur tungkat ketidakpastian suatu nilai pada suatu besaran tertentu

33 MODEL RISIKO AUDIT (Audit Risk Model) RARBRPRD=xx Faktor resiko audit harus ditetapkan rendah: Pengguna laporan Kemungkinan timbul masalah keuangan Integritas manajemen

34 Mengevaluasi Hasil SAS 47, model risiko audit untuk mengevaluasi hasil audit : AcAR = IR x CR x AcDR –AcAR (Achieved Audit Risk/Risiko Audit yang Tercapai) –IR (Inheren Risk/Risiko Inheren ) –CR (Control Risk/Risiko Pengendalian) –AcDR (Achieved Detection Risk/Risiko Deteksi yang Tercapai) Komponen risiko audit  kuantitatif (persentase) atau nonkuantitatif (misalnya, minimum sampai maksimum) Cara untuk mengurangi tingkat risiko audit yang tercapai hingga mencapai tingkat risiko yang dapat diterima: –Mengurangi tingkat risiko inheren, risiko pengendalian dan risiko deteksi yang tercapai dengan meningkatkan uji audit yang substantif Merevisi risiko dan bukti audit –Dilakukan jika penilaian awal atas risiko pengendalian atau risiko inheren telah ditetapkan terlalu rendah atau risiko akseptibilitas telah ditetapkan terlalu tinggi

35 Contoh : Example inventory with IR=40%, CR=60%, AR=5% (fixed  tingkat confidensi 95%).05 =.4 *.6 * DR... then DR=21%  Relationship between DR and substantive procedures

36 RELATIONSHIP BETWEEN TEST of CONTROL and SUBSTANTIVE TEST:  angka DR akan menentukan luasnya uji pengendalian dan teknik audit.  Internal control baik  CR rendah  tes substantifnya tidak perlu luas.  What happens if internal controls are more reliable than last audit?  Last year:.05 =.4 *.6 * DR [DR =.21]  This year:.05 =.4 *.4 * DR [DR =.31]  The more reliable the internal controls, the lower the CR probability; thus the higher the DR will be, and fewer substantive tests are necessary.

37 MODEL RISIKO AUDIT UNTUK PERENCANAAN –Digunakan oleh auditor untuk mempertimbangkan resiko yang ada dalam merencanakan bukti audit yang akan dikumpulkan pada setiap siklusnya –SAS 39 (AU 350)  sampling audit –SAS 47 (AU 312)  materialitas dan resiko AAR PDR= IR X CR dimana : PDR = Planned Detection Risk (Resiko Deteksi yang Direncanakan) AAR= Acceptable Audit Risk (Resiko Akseptibilitas Audit) IR= Inherent Risk (Resiko Inheren) CR= Control Risk (Resiko Pengendalian)

38 Hubungan antara Materialitas, Risiko Audit dan Bukti Audit 1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan. 2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat. 3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari 3 cara berikut : a.Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahakan jumlah bukti audit yang dikumpulkan, b.Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan, c.Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama.


Download ppt "MATERIALITAS dan RISIKO Kasus : Kau bilang telah melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi ternyata perusahaannya bangkrut ! “Kami melaksanakan audit berdasarkan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google