Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

IKLAN DAN POLITIK Pertemuan ke-4 Mata kuliah Kajian Sosial Iklan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "IKLAN DAN POLITIK Pertemuan ke-4 Mata kuliah Kajian Sosial Iklan."— Transcript presentasi:

1 IKLAN DAN POLITIK Pertemuan ke-4 Mata kuliah Kajian Sosial Iklan

2

3

4

5

6

7

8 Iklan dan politik Periklanan politik tabiatnya hampir sama dengan periklanan komersial. Sepak terjangnya merupakan bagian dari fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan (Baca: partai politik) yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis (baca: pemilu) tanpa mengandalkan iklan (politik)

9 Iklan dan politik Dalam politik abad informasi, Citra politik seorang tokoh, yang dibangun melalui aneka media cetak dan elektronik terlepas dari kecakapan, kepemimpinan dan prestasi politik yang dimiliki. Seakan menjadi mantra yang menentukan pilihan politik. Melalui mantra elektronik, peresepsi, pandangan dan sikap politik masyarakat dibentuk bahak dimanipulasi. Politik kini menjadi politik pencitraan, yang merayakan Citra ketimbang kompetensi politik – The politis image. Kekuatan mantra elektronik telah menghanyutkan para elit politik dalam gairah mengkonstruksi Citra diri, tanpa peduli relasi Citra itu dengan realitas sebenarnya. Kesenangan Citra diri menggiring pada narsisme politik.

10 Narsisme Narsisme tidak hanya diartikan sebagai kecenderungan pencarian kepuasan seksual melalui tubuh sendiri (Freud), tetapi juga segala bentuk penyanjungan sendiri (self-admiration), pemuasan diri (self-satisfaction), atau pemujaan diri (self-glorification) atau segala kecenderungan melihat dunia sebagai cermin atau proyeksi dari ketakutan dan hasrat seseorang.

11 GARA-GARA SELFIE PEMBAWA ACARA OSCAR, ELLEN DEGENERS: Ribu retweet dalam 30 menit di twitter 2. hampri 3 juta retweet dalam enam jam di twitter 3. samsung menyumbang 3 juta US Dolar ke yayasan sosial DeGeners untuk 2 selfie yang diunggahnya 4. Samsung mendapat 900 komentar di media sosial: 23% positif, 69% netral, 8% negatif (sumber:majalah tempo)

12 Narsisme politik 1. Kecenderungan pemujaan diri yang membangun Citra diri, meskipun bukan realitas sebenarnya. Ex: dekat dengan petani, pembela wong cilik, akrab dengan pedagang pasar, pemimpin bertakwa, peka kesatuan bangsa, pemberantas praktek korupsi dan pembela nurani bangsa. 2. Adalah cermin artifisialisme politik melalui konstruksi cinta diri yang sebaik, secerdas, seintelek, sesempurna dan seideal mungkin tanpa menghiraukan pandangan umum.

13 Narsisme politik 3. Bentuk keseketikaan politik yang merayakan cara instan dan efek yang segera, tetapi tak menghargai proses politik. Aneka Citra politik yang mestinya dibangun secara alamiah melalui karya, pemikiran, tindakan, dan prestasi politik. Akan tetapi mentalitas menerabas telah mendorong tokoh miskin prestasi untuk mengambil jalan pintas dengan memanipulasi Citra secara instan. 4. Cermin politik seduksi, yaitu aneka trik bujuk rayu, persuasi dan retorika komunikasi politik yang tujuannya menyakinkan setiap orang. Bahwa Citra yang ditampilkan adalah kebenaran. Padahal Citra tersebut tak lebih dari wajah penuh Make up, gincu, kosmetik dan topeng-topeng politik yang menutupi wajah sebenarnya. – political camouflage.

14 Iklan dan politik Jeffrey Scheuer, dalam The sound Bite Society: television Ana The American Dream, televisi berwatak kapitalistik cenderung menolak segala bentuk kompleksitas demi merayakan simplisitas. Politik yang terjebak didalamnya menghasilkan simplifikasi politik. Simplifikasi politik adalah politik anti nalar, yang mengabaikan kompleksitas konteks, logika formal atau hukum kausal dari satu persoalan. Ia sebaliknya merayakan logika informal, yang mentolerir aneka sesat pikir, kedangkalan, jalan pintas, pernyataan tanpa argumen, penjelasan tanpa bukti, pembicaraan lepas konteks, dan cara berpikir tak logis.

15 Iklan dan politik Corel West, dalam democarcy matters: winning The fight against Imperrialism, mengatakan bahwa demokrasi berlebihan menciptakan nihilisme demokratik, yaitu praktek demokrasi yang diwarnai strategi kebohongan, manipulasi dan kepalsuan. Demokrasi lebih merayakan trik-trik mengangkat emosi, perasaan dan kesenangan dengan mengabaikan substansi politik.

16 Iklan dan politik Iklan politik, tidak ada bedanya dengan iklan komersial, yang didalamnya antara gemerlap Citra yang ditampilkan dan realitas yang sesungguhnya terdapat jurang yang dalam. Citra tentang cinta rakyat kecil, peduli orang miskin, sahabat petani, peduli pendidikan atau pembela nurani bangsa tak lebih dari Citra indah dan menyilaukan, yang berputar-putar di dalam ruang pertandaan dan semiotik, tetapi tak pernah menyentuh dan direalisasikan di dunia kehidupan nyata.

17 Iklan dan politik Para pengiklan politik ini sejatinya melupakan kaidah DKV yang paling fundamental, yaitu: 1. Unity (aspek kesatuan) 2. Simplicity (aspek kesederhanaan) 3. Surprise (aspek kejutan)

18 Iklan dan politik Menurut David Ogilvy, iklan televisi yang paling berhasil ditayangkan ketika ia menghadirkan 1 atau paling 2 gagasan saja. Tema yang sederhana dan dikemas dalam satu kesatuan utuh.

19 Iklan politik Iklan politik yang gentayangan di media lebih mengedepankan konsep hard selling. Mereka menyukai konsep semacam ini karena dianggap mujarab mendongkrak popularitas seluruh elemen partai politik. Dalam konteks ini upaya tebar pesona partai politik berikut elite politik lebih mengkonsentrasikan kemasan luar daripada isinya. Artinya, kemasan tebar pesona dalam bentuk iklan politik, justru semakin memperlebar tingkat kesenjangan antara kemasan dengan isinya. Antara tokoh politik atau partai politik dengan masyarakat calon pemilih.

20 Iklan politik Masyarakat yang cerdas tidak akan terpengaruh oleh janji tokoh politik yang manis di mulut namun pahit dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Secara teoritis,. Proses pencitraan caleg dan kandidat presiden yang dilukiskan lewat iklan politik, sejatinya mengajak kita untuk mengembangkan imajinasi prospektif tentang iklan politik ideal. Sayangnya, hal tersebut jauh pasak daripada tiangnya. Yang terjadi kemudian kita sedang menonton iring-iringan jenazah kematian iklan politik.

21 Iklan politik Kematian iklan politik ditandai dengan perlombaan visual yang dilakukan para caleg dan kandidat presiden lewat upaya tebar pesona demi menarik simpati massa. Aktivitas kampanye cenderung memproduksi visual sampah dan mengarah pada perilaku teror visual. Mereka memposisikan dirinya bagaikan sebuah produk consumer goods. Bagaikan seorang peserta kontes idola, tidak mengutamakan ideologi, tetapi hanya sekedar idologi. Beriklan itu penting karena beriklan sama dengan berinvestasi. Beriklan tidak sama dengan cara kerja petani yang menanam padi, lalu beberapa bulan kemudian panen. Beriklan terutama politik ibarat menanam pohon jati. Prosesnya lama dan setiap saat perlu perawatan intensif.

22

23 Menghayalkan iklan politik yang ideal Ahmad Zaini, New media Director Hakuhodo Indonesia menganologikan membuat iklan seperti orang PDKT dalam sebuah tahap pacaran. 1. Memahami siapa yang akan kita rayu, apa yang dia butuhkan, apa yang dia sukai dan dia benci (understanding consumer's need). Pada iklan politik mengetahui apa yang paling dibuthkan rakyat Indonesia saat ini adalah poin crusial untuk memulai sebuah kampanye. 2. Mengetahui posisi kita di hatinya. Dalam iklan politik bukan Cuma penentuan posisi di mata rakyat yang penting, tapi juga penentuan posisi kita dan posisi kompetitor di mata rakyat. Hasil akhirnya adalah posisi yang unik dan membangun image yang kuat di posisi itu. 3. Bicaralah dari hati ke hati, terbuka, jujur dan personal. 4. Pakailah media yang paling tepat untuk sampai ke hatinya.

24 Iklan Politik Kalau sebuah iklan politik secara jernih mampu mengolah empat poin tersebut dan mengaplikasikannya menjadi ide komunikasi yang menarik, maka iklan politik tersebut kemungkinan besar mendapat nilai yang bagus. Iklan politik tidak bisa berjalan sendiri. Ia harus dibarengi komunikasi berbentuk lain yang akan membangun karakter dari calon atau partai politik. Proses mencoba dan mencicipi itu harus digantikan dengan Products experience lain. Bagi calon yang sudah populer, maka karya (artis/ publik figur) atau kebijakan saat memimpin (yang pernah menjabat). Untuk calon baru komunikasi berbentuk biografi akan sangat membantu.

25 Jangan menjanjikan janji setinggi langit apalagi surga, kalau hanya mampu sebatas tinggi atap.

26


Download ppt "IKLAN DAN POLITIK Pertemuan ke-4 Mata kuliah Kajian Sosial Iklan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google