Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono.  Pembahasan mengenai neraka merupakan pokok bahasan yang dapat digolongkan bersifat eskatologis.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono.  Pembahasan mengenai neraka merupakan pokok bahasan yang dapat digolongkan bersifat eskatologis."— Transcript presentasi:

1 Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

2  Pembahasan mengenai neraka merupakan pokok bahasan yang dapat digolongkan bersifat eskatologis.

3 PENGERTIAN NERAKA  Istilah “neraka” untuk menunjuk pengertian “lubang” (hole, hollow).  Sebagai kata benda yang dibentuk dari kata “helan” atau behelian yang artinya: tempat tersembunyi.  Karena itu pengertian neraka pada prinsipnya menunjuk suatu tempat yang gelap dan tempat yang tersembunyi.

4

5 ISTILAH LATIN Istilah neraka dari bahasa Latin adalah inferum, inferi. Kata infernus berasal dari akar kata “in” yang menunjuk suatu tempat di dalam dan berada di bawah bumi.

6  Neraka dalam bahasa Yunani adalah Hades. Pengertian Hades berasal dari akar kata “fid” yang menunjuk pada sesuatu tempat yang tersembunyi, gelap dan tidak terlihat oleh mata.

7  Neraka dalam bahasa Ibrani adalah Sheol atau Gehena. Pengertian Gehenna berasal dari kata gê-hinnom (Neh. 11:30), atau gê-ben- hinnom (Yos. 15:8), dan gê-benê-hinnom (2 Raj. 23:10) "lembah anak-anak Hinom. Nama tempat lembah Hinom sekarang adalah Wadi er-rababi.Jadi istilah sheol menunjuk kepada keadaan tenggelam, berada di suatu lubang, atau gua yang berada di bawah bumiNeh. 11:30Yos. 15:82 Raj. 23:10

8  Dalam pengertian gereja Roma Katolik, kata neraka dipergunakan istilah infernus, yang menunjuk kepada pengertian yang berbeda-beda, yaitu:

9 1. Tempat penghukuman yang dikhususkan bagi iblis, setan dan manusia yang hidupnya sangat jahat.

10 2. Tempat penghukuman bagi anak- anak yang belum sempat dibaptis (limbus parvulorum) atau orang- orang yang mewarisi dosa asal, tetapi tanpa dosa-dosa yang mematikan. Sehingga setelah penghukuman tersebut lewat, mereka akan mewarisi keselamatan dan hidup kekal di dalam kerajaan sorga.

11 3. Tempat penghukuman bagi nenek- moyang umat percaya (limbo partum) yang wafat sebelum Kristus, sehingga mereka masih harus menunggu penyelamatan untuk masuk ke dalam kerajaan sorga. Dalam hal ini gereja Katolik meyakini bahwa saat Kristus wafat, rohNya pergi ke neraka untuk membebaskan roh dari orang-orang yang demikian (bandingkan I Petr. 3:19- 20).

12 4. Tempat penyucian dosa (purgatorium), yang mana umat percaya sewaktu meninggal masih memiliki dosa-dosa ringan sehingga mereka harus terlebih dahulu mengalami penghukuman yang sifatnya temporal, setelah itu mereka diizinkan masuk ke dalam kerajaan sorga.

13  Dalam Perjanjian Baru, pengertian neraka dipakai untuk menunjuk tempat penghukuman seperti gua yang gelap bagi malaikat- malaikatNya (2 Pet.2:4). Neraka sebagai jurang maut atau "abyss" (Luk. 8:31).2 Pet.2:4Luk. 8:31

14  tempat penderitaan/ "place of torments" (Luk. 16:28).Luk. 16:28  sebagai lautan api/ "pool of fire" (Why. 19:20).Why. 19:20  sebagai dapur api/"furnace of fire" (Mat. 13:42, 50).Mat. 13:42, 50  api yang tak terpadamkan/"unquenchable fire" (Mat. 3:12).Mat. 3:12  api yang kekal/"everlasting fire" (Mat.18:8; 25:41; Jud. 7).Mat.18:8 25:41Jud. 7  kegelapan yang paling gelap/"exterior darkness" (Mat. 22:13; 25:30). kegelapan yang paling dahsyat/"storm of darkness" (2 Pet. 2:17; Jude 13).22:1325:302 Pet. 2:17Jude 13

15

16  neraka juga dipakai untuk tempat kebinasaan (apoleia), lihat Fil. 3:19.  Keruntuhan dan kebinasaan (olethros). Lihat 1 Tim. 6:9.1 Tim. 6:9  Kebinasaan selama-lamatnya (olethros aionios). Lihat di 2 Tes. 1:9.2 Tes. 1:9  kebinasaan dalam dagingnya (phthora). Lihat di Gal. 6:8. Gal. 6:8  Neraka sebagai suatu kematian (Rom. 6:21).Rom. 6:21  Neraka sebagai "kematian kedua" (Why. 2:11).Why. 2:11

17 Pandangan Perjanjian Lama Di Ayb. 14:14, terdapat ungkapan Ayub yang sangat pesimistis terhadap kehidupan setelah kematian

18 Ayub mengajukan suatu pertanyaan di tengah-tengah-tengah pergumulannya, yaitu: “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup kembali? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku”.

19 Ungkapan Ayub tersebut mengekspresikan keyakinan umat Israel pada zaman itu, yang menganggap manusia setelah mati tidak akan mengalami kebangkitan atau kehidupan kekal. Di Ayb. 14:12, Ayub berkata: “demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya”.

20  Dasar pandangan ini adalah bahwa eksistensi roh dan tubuh pada hakikatnya tidak terpisahkan, sehingga setelah roh meninggalkan tubuh, roh manusia tidak dapat bereksistensi secara penuh.

21  Dengan pemahaman bahwa tubuh dan roh merupakan eksistensi yang utuh, maka setelah kematian, jiwa atau roh orang percaya tidak pergi ke sorga atau ke neraka. Roh mereka mengalami ketidaksadaran sampai kebangkitan tubuh. Pandangan ini disebut dengan “coemeteria” (sleeping places).

22 Martin Luther juga berpendapat demikian: “We shall sleep until He comes and knocks on the little grave and says, “Doctor Martin, get up!” Then I shall rise in a moment and be happy with Him forever”.

23 pandangan Alkitab Perjanjian Baru, setelah kematian, kehidupan manusia terus berlanjut. Roh manusia tidak terlelap dalam tidur panjang atau berada di dalam ketidaksadaran. Di Mat. 17:3, ketika Tuhan Yesus menampakkan kemuliaanNya (peristiwa transfigurasi), disaksikan bahwa datanglah Musa dan Elia berbicara dengan Dia. PANDANGAN PERJANJIAN BARU

24  Ajaran gereja Roma Katolik tentang api penyucian dosa (purgatorium) memahami neraka sebagai tempat penghukuman atau penyucian dosa yang temporal bagi orang-orang percaya kepada Kristus namun sewaktu mereka hidup di dunia masih memiliki hutang atau dosa-dosa tertentu.

25  Pemahaman Alkitab tentang neraka sebagai tempat penyucian dosa tidak pernah dinyatakan secara eksplisit. Sebab menurut pandangan Alkitab peristiwa kematian merupakan akhir dari kesempatan untuk pertumbuhan moral dan spiritual. Dalam hal ini melalui kematian yang telah dialaminya, seseorang akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dan sikap imannya di pengadilan akhir (Ibr. 9:27).

26  Iman Kristen tidak pernah memahami melalui kematian, seseorang masih memiliki kesempatan dan dapat mengalami proses yang gradual ke reinkarnasi yang lebih tinggi atau lebih rendah.

27 Di Luk 16:19-31: kisah orang kaya yang dihukum dalam api neraka tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan lagi. II Kor. 5:10, yaitu setiap orang apakah melakukan yang baik atau jahat, semuanya akan menghadap takhta pengadilan Kristus. II Petr. 2:9 menyatakan bahwa Allah akan menghukum orang-orang jahat pada hari penghakiman.

28 Peristiwa kematian orang percaya yang menantikan kebangkitan tubuh sering disebut sebagai peristiwa antara (intermediate state).

29  Untuk orang-orang percaya yang mati pada saat kini lebih tepat mereka disebut telah berada dalam kerajaan sorga tanpa “tubuh”, dan kelak pada akhir zaman mereka akan mengenakan tubuh sorgawi di dalam kerajaan sorga

30 TUBUH MULIA ATAU KEBINASAAN  Manakala umat percaya mengalami kebangkitan tubuh, maka mereka kelak akan mengenakan tubuh yang mulia (Fil. 3:20-21).  Bagi mereka yang tidak diselamatkan, mereka saat ini berada di dalam neraka tanpa “tubuh” tetapi pada akhir zaman mereka akan mengenakan tubuh kebinasan di dalam penghukuman neraka yang kekal.

31  Namun ada pula kelompok orang yang menyebut Kristen seperti Saksi Yehovah yang menolak penghukuman Allah di neraka.

32  Ajaran tersebut hanya menekankan keselamatan dan pengampunan Allah tanpa ruang sedikitpun bagi manusia untuk mempertanggungjawabkan makna dan tujuan hidupnya.  Manakala Allah dalam kasih dan anugerahNya yang begitu besar sehingga tidak tersedia ruang sedikitpun bagi tanggungjawab manusia dan keadilanNya, maka seluruh makna kasih dan anugerah Allah tersebut hanya menjadi anugerah yang murah, dan kasih yang tidak berharga sama sekali.


Download ppt "Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono.  Pembahasan mengenai neraka merupakan pokok bahasan yang dapat digolongkan bersifat eskatologis."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google