Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional. Kosmologi Buddhis The 31 Planes of Existence Mount Meru.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional. Kosmologi Buddhis The 31 Planes of Existence Mount Meru."— Transcript presentasi:

1 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional

2 Kosmologi Buddhis The 31 Planes of Existence Mount Meru

3 Kosmologi Buddhis 31 Alam Kehidupan Mount Meru

4 Kosmologi Buddhis 31 Alam Kehidupan Gunung Meru

5

6 31 Alam Kehidupan 4 Alam tanpa bentuk Makhluk dengan batin saja Bukan persepsi pun bukan tidak- persepsi Kekosongan Kesadaran tanpa batas Ruang tanpa batas 16 Alam berbentuk Makhluk materi halus 5 Kediaman Murni untuk Anagami 10 Alam Brahma 1 Alam untuk makhluk dengan tubuh saja (tanpa batin) 6 Alam Dewa 1 Alam Manusia Alam Raksasa Alam Hantu Kelaparan Alam Binatang Alam Neraka

7 Gunung Meru A square mountain with four sides and is 84,000 yojanas (672,000 km) high. It lies at the centre of the world. Around it are seven 7 lakes separated by 7 rings of golden mountains. Outside, in a great ocean, are 4 continents. We humans live on the southern continent called ‘Jambudvipa’.

8 Gunung Meru Gunung persegi dengan empat sisi dan tingginya 84,000 yojana (672,000 km). Around it are seven 7 lakes separated by 7 rings of golden mountains. Outside, in a great ocean, are 4 continents. We humans live on the southern continent called ‘Jambudvipa’.

9 Gunung Meru Gunung persegi dengan empat sisi dan tingginya 84,000 yojana (672,000 km). Terletak di tengah-tengah dunia. Around it are seven 7 lakes separated by 7 rings of golden mountains. Outside, in a great ocean, are 4 continents. We humans live on the southern continent called ‘Jambudvipa’.

10 Gunung Meru Gunung persegi dengan empat sisi dan tingginya 84,000 yojana (672,000 km). Terletak di tengah-tengah dunia. Disekitarnya adalah 7 danau yang dipisahkan oleh 7 lingkaran gunung keemasan. Outside, in a great ocean, are 4 continents. We humans live on the southern continent called ‘Jambudvipa’.

11 Gunung Meru Gunung persegi dengan empat sisi dan tingginya 84,000 yojana (672,000 km). Terletak di tengah-tengah dunia. Disekitarnya adalah 7 danau yang dipisahkan oleh 7 lingkaran gunung keemasan. Diluar, dalam lautan besar, adalah 4 benua. We humans live on the southern continent called ‘Jambudvipa’.

12 Gunung Meru Gunung persegi dengan empat sisi dan tingginya 84,000 yojana (672,000 km). Terletak di tengah-tengah dunia. Disekitarnya adalah 7 danau yang dipisahkan oleh 7 lingkaran gunung keemasan. Diluar, dalam lautan besar, adalah 4 benua. Kita (manusia) tinggal di benua sebelah selatan yang bernama ‘Jambudvipa’.

13 Gunung Meru 84,000 yojana persegi bagian atas merupakan surga Tavatimsa, alam tertinggi dalam kontak jasmani langsung dengan bumi. Below are terrace constituting the "heavens" of the Four Great Kings, and is divided into four parts, facing north, south, east & west. The seas surrounding Mount Meru are the abodes of the Asuras who are at war with the Tavatimsa gods.

14 Gunung Meru 84,000 yojana persegi bagian atas merupakan surga Tavatimsa, alam tertinggi dalam kontak jasmani langsung dengan bumi. Bagian bawah adalah tingkatan yang merupakan "surga-surga" dari Empat Maha Raja, dan terbagi menjadi empat bagian, menghadap utara, selatan, timur & barat. The seas surrounding Mount Meru are the abodes of the Asuras who are at war with the Tavatimsa gods.

15 Gunung Meru 84,000 yojana persegi bagian atas merupakan surga Tavatimsa, alam tertinggi dalam kontak jasmani langsung dengan bumi. Bagian bawah adalah tingkatan yang merupakan "surga-surga" dari Empat Maha Raja, dan terbagi menjadi empat bagian, menghadap utara, selatan, timur & barat. Lautan yang mengelilingi gunung Meru adalah tempat kediaman dari Asura yang selalu berperang dengan dewa Tavatimsa.

16

17 Gunung Meru Diatas surga Tavatimsa adalah alam-alam Dewa dan Brahma yang lebih tinggi. Mount Meru is also 84,000 yojanas (672,000 km) deep. In contrast, the diameter of the earth is only about 12,000 km. The Hell realms are located below the earth’s crust and are divided into 136 Hot Hells and Cold Hells.

18 Gunung Meru Diatas surga Tavatimsa adalah alam-alam Dewa dan Brahma yang lebih tinggi. Gunung Meru juga 84,000 yojana (672,000 km) dalamnya. In contrast, the diameter of the earth is only about 12,000 km. The Hell realms are located below the earth’s crust and are divided into 136 Hot Hells and Cold Hells.

19 Gunung Meru Diatas surga Tavatimsa adalah alam-alam Dewa dan Brahma yang lebih tinggi. Gunung Meru juga 84,000 yojana (672,000 km) dalamnya. Kontrasnya, garis tengah dari bumi hanya sekitar 12,000 km. The Hell realms are located below the earth’s crust and are divided into 136 Hot Hells and Cold Hells.

20 Gunung Meru Diatas surga Tavatimsa adalah alam-alam Dewa dan Brahma yang lebih tinggi. Gunung Meru juga 84,000 yojana (672,000 km) dalamnya. Kontrasnya, garis tengah dari bumi hanya sekitar 12,000 km. Alam Neraka terletak dibawah lapisan kulit bumi dan terbagi kedalam 136 Neraka Panas dan Neraka Dingin.

21

22

23

24 Gunung Meru Bahkan sampai pada akhir dari abad ke 19, pandangan global Buddhis terkandung dalam keberadaan dari gunung Meru secara harfiah dan bumi yang datar, sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks. The Christians used this to call in question the credibility of Buddhism during the famous Christian-Buddhist debates in Sri Lanka in the 1870’s. This point is still occasionally brought up today by Christians.

25 Gunung Meru Bahkan sampai pada akhir dari abad ke 19, pandangan global Buddhis terkandung dalam keberadaan dari gunung Meru secara harfiah dan bumi yang datar, sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks. Umat Kristen menggunakan hal ini untuk mempertanyakan kredibilitas dari ajaran Buddha menjelang debat Kristen-Buddhis yang terkenal di Sri Lanka pada tahun 1870’an. This point is still occasionally brought up today by Christians.

26

27 Gunung Meru Bahkan sampai pada akhir dari abad ke 19, pandangan global Buddhis terkandung dalam keberadaan dari gunung Meru secara harfiah dan bumi yang datar, sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks. Umat Kristen menggunakan hal ini untuk mempertanyakan kredibilitas dari ajaran Buddha menjelang debat Kristen-Buddhis yang terkenal di Sri Lanka pada tahun 1870’an. Titik ini adakalanya masih dipertanyakan saat ini oleh umat Kristen.

28 canadianchristianity.com September 2009 Pelajar Kristen menimbang kepercayaan Buddhis Oleh James A. Beverley Pengakuan pada pribadi yang luar biasa dari Dalai Lama adalah persoalan yang berbeda dari penilaian umat Kristen terhadap ajaran Buddha. Terdapat alasan kuat mengapa umat Kristen harus meragui ajaran Buddha, apakah Theravada (Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Sri Lanka), Mahayana (Tiongkok, Jepang, Korea), atau Vajrayana (Tibet, Mongolia, Nepal). Ilmu Pengetahuan Walaupun ajaran Buddha mengaku bersifat ilmiah and rasional, banyak teori dalam kitab suci Buddhis yang nampaknya sangat keliru, termasuk ajaran tentang medis, pandangan astrologi dan teori kosmologi. Sehubungan dengan yang terakhir, semua sekolah Buddhis mengajarkan selama berabad-abad – berdasarkan pernyataan dari Gautama – bahwa bumi adalah datar, dan ditengah-tengahnya terdapat gunung besar yang bernama Meru. Empat dinding dari Meru terdiri dari batu yang berharga, dan warna dari batu mencerminkan warna dari langit di empat benua utama. Jika anda tidak dapat mempercayai Buddha tentang kebenaran dari fakta geografis, mengapa mempercayai Beliau tentang persoalan kekuatan gaib?

29 Gunung Meru Dalam debat Kristen-Buddhis, umat Buddhis tetap pada pandangan mereka tentang gunung Meru, mengakui keberadaannya, mungkin di kutub utara, tetapi belum ditemukan. The Christians gave the Buddhists a globe and asked them to show where Mount Meru is. Of course they could not. Nowadays, Buddhists have abandoned the idea of a literal Mount Meru, regarding it as just a myth.

30 Gunung Meru Dalam debat Kristen-Buddhis, umat Buddhis tetap pada pandangan mereka tentang gunung Meru, mengakui keberadaannya, mungkin di kutub utara, tetapi belum ditemukan. Umat Kristen memberikan bola bumi pada umat Buddha dan meminta mereka untuk menunjukkan keberadaan gunung Meru. Tentu saja mereka tidak bisa. Nowadays, Buddhists have abandoned the idea of a literal Mount Meru, regarding it as just a myth.

31 Gunung Meru Dalam debat Kristen-Buddhis, umat Buddhis tetap pada pandangan mereka tentang gunung Meru, mengakui keberadaannya, mungkin di kutub utara, tetapi belum ditemukan. Umat Kristen memberikan bola bumi pada umat Buddha dan meminta mereka untuk menunjukkan keberadaan gunung Meru. Tentu saja mereka tidak bisa. Sekarang ini, umat Buddha telah meninggalkan ide dari gunung Meru secara harfiah, dan menganggapnya sebagai mitos saja.

32 Konsepsi dan Kelahiran Although celibate, Queen Maya conceives the Buddha as he entered her womb as a white elephant, in a dream. On the way to visit her father, the Queen gives birth while standing up with the infant emerging from the side of her body. Four great Brahma angels held out a golden net to receive the infant.

33 Konsepsi dan Kelahiran Walaupun hidup suci, Ratu Maya mengandung calon Buddha ketika beliau memasuki rahim ibunya sebagai seekor gajah putih, dalam sebuah mimpi. On the way to visit her father, the Queen gives birth while standing up with the infant emerging from the side of her body. Four great Brahma angels held out a golden net to receive the infant.

34 Konsepsi dan Kelahiran Walaupun hidup suci, Ratu Maya mengandung calon Buddha ketika beliau memasuki rahim ibunya sebagai seekor gajah putih, dalam sebuah mimpi. Dalam perjalanan mengunjungi ayahnya, Ratu melahirkan dengan posisi berdiri, dan bayi keluar dari samping tubuhnya. Four great Brahma angels held out a golden net to receive the infant.

35 Konsepsi dan Kelahiran Walaupun hidup suci, Ratu Maya mengandung calon Buddha ketika beliau memasuki rahim ibunya sebagai seekor gajah putih, dalam sebuah mimpi. Dalam perjalanan mengunjungi ayahnya, Ratu melahirkan dengan posisi berdiri, dan bayi keluar dari samping tubuhnya. Empat dewa Maha Brahma menyebarkan jaringan emas untuk menerima sang bayi.

36

37 Konsepsi dan Kelahiran Although celibate, Queen Maya conceives the Buddha as he entered her womb as a white elephant, in a dream. On the way to visit her father, the Queen gives birth while standing up with the infant emerging from the side of her body. Four great Brahma angels held out a golden net to receive the infant.

38 Konsepsi dan Kelahiran Maksud yang memungkinkan adalah untuk menunjukkan bahwa Buddha dikandungi tanpa perlunya penyatuan seksual diantara kedua orang tuanya. On the way to visit her father, the Queen gives birth while standing up with the infant emerging from the side of her body. Four great Brahma angels held out a golden net to receive the infant.

39 Konsepsi dan Kelahiran Maksud yang memungkinkan adalah untuk menunjukkan bahwa Buddha dikandungi tanpa perlunya penyatuan seksual diantara kedua orang tuanya. Untuk menunjukkan bahwa sang bayi tidak keluar dari “saluran biasa”, dengan demikian mempertahankan kesucian dan kebersihannya. Four great Brahma angels held out a golden net to receive the infant.

40 Konsepsi dan Kelahiran Maksud yang memungkinkan adalah untuk menunjukkan bahwa Buddha dikandungi tanpa perlunya penyatuan seksual diantara kedua orang tuanya. Untuk menunjukkan bahwa sang bayi tidak keluar dari “saluran biasa”, dengan demikian mempertahankan kesucian dan kebersihannya. Menunjukkan pada Brahmin/Hindu bahwa bahkan dewa-dewa mereka harus turun untuk menerima sang bayi.

41 Tujuh Langkah Pertama Sang bayi kemudian mulai berjalan mengambil tujuh langkah, dengan tumbuhnya bunga teratai di setiap langkah kakinya dan mendeklamasikan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir kali. Likely a later addition to the story. But may be taken to mean that the Buddha has already successfully cultivated the 7 Factors of Enlightenment.

42

43 Simbol Sebagai contohnya adalah Dewi yang penuh cinta kasih dalam tradisi Mahayana : Kuan Yin. Eleven heads symbolizes the ability to hear the cries of suffering beings. Thousand arms symbolizes the ability to come to the aid of many.

44

45

46 Simbol Sebagai contohnya adalah Dewi yang penuh cinta kasih dalam tradisi Mahayana : Kuan Yin. Sebelas kepala menyimbolkan kemampuan mendengarkan tangisan penderitaan para makhluk. Thousand arms symbolizes the ability to come to the aid of many.

47 Simbol Sebagai contohnya adalah Dewi yang penuh cinta kasih dalam tradisi Mahayana : Kuan Yin. Sebelas kepala menyimbolkan kemampuan mendengarkan tangisan penderitaan para makhluk. Ribuan tangan menyimbolkan kemampuan memberikan bantuan pada banyak makhluk.

48

49

50

51 Tujuh Langkah Pertama Sang bayi kemudian mulai berjalan mengambil tujuh langkah, dengan tumbuhnya bunga teratai di setiap langkah kakinya dan mendeklamasikan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir kali. Likely a later addition to the story. But may be taken to mean that the Buddha has already successfully cultivated the 7 Factors of Enlightenment.

52 Tujuh Langkah Pertama Sang bayi kemudian mulai berjalan mengambil tujuh langkah, dengan tumbuhnya bunga teratai di setiap langkah kakinya dan mendeklamasikan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir kali. Sepertinya, ini adalah tambahan belakangan pada cerita, tetapi dapat diartikan bahwa Buddha telah sukses mengembangkan 7 faktor pencerahan di kehidupan lampau Beliau.

53 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Ketika tumbuh dewasa, ayahnya melindunginya dari kenyataan akan kesakitan, penuaan dan kematian berhubung dia menginginkan anaknya untuk menjadi Raja dunia dan bukan Buddha.

54

55 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian While growing up, his father shielded him from the realities of sickness, old age and death as he wished his son to be a great Universal Monarch instead of a Buddha.

56 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Ini kemungkinan besar adalah pembubuhan, agar cerita tentang Buddha lebih menarik untuk orang banyak.

57 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Akan tetapi, walaupun usaha terbaik telah diberikan ayahnya untuk menjauhkan orang sakit, tua dan mati, Dewa memperlihatkan tanda-tanda ini pada Pangeran.

58 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Akan tetapi, walaupun usaha terbaik telah diberikan ayahnya untuk menjauhkan orang sakit, tua dan mati, Dewa memperlihatkan tanda-tanda ini pada Pangeran. Pangeran kemudian melepaskan keduniawian dan meninggalkan istana pada tengah malam dengan kuda dan kusirnya, dengan bantuan Dewa meredam semua bunyi sehingga tidak ada yang terbangun.

59

60 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian However, despite the best efforts of his father to keep away the sick, old and dying, the Prince was shown these sights by the Devas. The Prince subsequently renounced and left the palace in the dead of the night with his horse and charioteer, with the Devas suppressing all the noise so that no one would be awakened.

61 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Empat penglihatan hanya disebutkan dalam kitab komentar dan kemungkinan besar Pangeran menyadari kebenaran ini oleh dirinya sendiri dan mulai merenungi hal ini dengan sendirinya. The Prince subsequently renounced and left the palace in the dead of the night with his horse and charioteer, with the Devas suppressing all the noise so that no one would be awakened.

62 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Empat penglihatan hanya disebutkan dalam kitab komentar dan kemungkinan besar Pangeran menyadari kebenaran ini oleh dirinya sendiri dan mulai merenungi hal ini dengan sendirinya. Karena pada usia ini, meninggalkan rumah untuk pencarian spiritual adalah bagian dari budaya India yang telah terbentuk (Brahmin/Sramana). Oleh karenanya, pelepasan keduniawian pangeran menyakitkan keluarga, tetapi bukan tidak biasa.

63 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Ariyapariyesana Sutta MN. 26 "So, at a later time, while still young, a black- haired young man endowed with the blessings of youth in the first stage of life; and while my parents, unwilling, were crying with tears streaming down their faces; I shaved off my hair & beard, put on the ochre robe and went forth from the home life into homelessness.”

64 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Ariyapariyesana Sutta MN. 26 "Di kemudian hari, ketika masih muda, sebagai seorang pemuda berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, di masa jaya kehidupan; and while my parents, unwilling, were crying with tears streaming down their faces; I shaved off my hair & beard, put on the ochre robe and went forth from the home life into homelessness.”

65 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Ariyapariyesana Sutta MN. 26 "Di kemudian hari, ketika masih muda, sebagai seorang pemuda berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, di masa jaya kehidupan; dan walaupun orang-tuaku, tidak menginginkannya, menangis dengan wajah penuh air mata; I shaved off my hair & beard, put on the ochre robe and went forth from the home life into homelessness.”

66 Empat Penglihatan dan Pelepasan Keduniawian Ariyapariyesana Sutta MN. 26 "Di kemudian hari, ketika masih muda, sebagai seorang pemuda berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, di masa jaya kehidupan; dan walaupun orang-tuaku, tidak menginginkannya, menangis dengan wajah penuh air mata; Aku mencukur rambut & jenggotku, mengenakan jubah kuning dan pergi dari kehidupan berumah menuju tanpa rumah.”

67 Dilindungi Raja Naga Pada minggu ke 6 pencerahan, terjadi badai besar dan Raja Naga Mucalinda keluar dari kediamannya, dan melingkari tubuh Buddha untuk melindunginya. At the end of the week, King Mucalinda appeared before the Buddha as a young man and with joined hands, paid his respects.

68 Dilindungi Raja Naga Pada minggu ke 6 pencerahan, terjadi badai besar dan Raja Naga Mucalinda keluar dari kediamannya, dan melingkari tubuh Buddha untuk melindunginya. Pada akhir minggu tersebut, Raja Mucalinda muncul di hadapan Buddha sebagai seorang pemuda dan dengan bersikap anjali, memberikan penghormatannya.

69

70

71

72

73

74 Dilindungi Raja Naga On the 6 th week of Enlightenment, there was a great storm and the Naga King Mucalinda came out of his abode, and coiled round the body of the Buddha to protect him. At the end of the week, King Mucalinda appeared before the Buddha as a young man and with joined hands, paid his respects.

75 Dilindungi Raja Naga Sebenarnya ada sebuah tempat di India yang disebut “Tanah Naga”, di sebelah Timur–Laut yang didiami oleh berbagai suku pegunungan. Juga, kota “Nagpur” berarti “Kota dari Naga”. At the end of the week, King Mucalinda appeared before the Buddha as a young man and with joined hands, paid his respects.

76 Dilindungi Raja Naga Sebenarnya ada sebuah tempat di India yang disebut “Tanah Naga”, di sebelah Timur–Laut yang didiami oleh berbagai suku pegunungan. Juga, kota “Nagpur” berarti “Kota dari Naga”. Jadi ada kemungkinan bahwa suku atau komunitas dari penduduk yang disebut Naga memberikan perlindungan pada Buddha saat cuaca buruk, dan ini menjadi berlebihan atau disalahpahami.

77

78 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Setelah minggu ke 7 dari pencerahannya, Buddha mempertimbangkan bahwa beliau tidak akan membabarkan Dhamma berhubung Dhamma sangat sulit untuk dipahami. Brahma Sahampati read the Buddha’s mind and appeared before him, pleading that the Buddha teach the Dhamma for those with little dust in their eyes.

79 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Setelah minggu ke 7 dari pencerahannya, Buddha mempertimbangkan bahwa beliau tidak akan membabarkan Dhamma berhubung Dhamma sangat sulit untuk dipahami. Brahma Sahampati membaca pikiran Buddha dan muncul di hadapan Beliau, memohon kepada Buddha untuk mengajarkan Dhamma kepada mereka dengan sedikit debu di mata.

80

81 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma After the 7 th week of His enlightenment, the Buddha considered that he would not preach the Dhamma as it was too profound. Brahma Sahampati read the Buddha’s mind and appeared before him, pleading that the Buddha teach the Dhamma for those with little dust in their eyes.

82 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Ini berarti menyia-nyiakan semua pengembangan yang dilakukannya selama berabad-abad untuk menjadi Samma Sambuddha, dan keinginan Beliau sendiri untuk mengajari Dhamma. Brahma Sahampati read the Buddha’s mind and appeared before him, pleading that the Buddha teach the Dhamma for those with little dust in their eyes.

83 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Ini berarti menyia-nyiakan semua pengembangan yang dilakukannya selama berabad-abad untuk menjadi Samma Sambuddha, dan keinginan Beliau sendiri untuk mengajari Dhamma. Dalam Sutta Padhana, Buddha sebelum pencerahan, menyatakan pada Mara bahwa “Saya akan berkelana dari kota ke kota membimbing banyak pengikut.” Snp 3.2.

84 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Dua penjelasan yang memungkinkan untuk kontradiksi yang nyata ini : Brahma Sahampati is the personification of the Buddha’s compassion to teach the Dhamma to the world. This is a later insertion to elevate the Buddha above the Brahmin/Hindu gods as Brahma Sahampati pleads the Buddha to teach the Dhamma.

85 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Dua penjelasan yang memungkinkan untuk kontradiksi yang nyata ini : Brahma Sahampati adalah personifikasi dari belas kasih Buddha untuk mengajari Dhamma pada dunia. This is a later insertion to elevate the Buddha above the Brahmin/Hindu gods as Brahma Sahmapati pleads the Buddha to teach the Dhamma.

86 Permohonan untuk Pembabaran Dhamma Dua penjelasan yang memungkinkan untuk kontradiksi yang nyata ini : Brahma Sahampati adalah personifikasi dari belas kasih Buddha untuk mengajari Dhamma pada dunia. Ini adalah sisipan belakangan untuk mengagungkan Buddha diatas dewa Brahmin/Hindu karena Brahma Sahampati memohon kepada Buddha untuk mengajari Dhamma.

87 Ibunda Sariputta Dalam kitab Komentar Jataka, terdapat cerita dari Sariputta, pulang ke rumah menjumpai ibunya, seorang Brahmin, mengetahui bahwa kematian dirinya telah dekat. At his deathbed, she saw Maha Brahma, King Sakka (Lord Indra) and other devas coming to pay respects to her son. So she thought how great must he be, and greater still the Buddha!

88 Ibunda Sariputta Dalam kitab Komentar Jataka, terdapat cerita dari Sariputta, pulang ke rumah menjumpai ibunya, seorang Brahmin, mengetahui bahwa kematian dirinya telah dekat. Di ranjang kematiannya, sang ibu melihat Maha Brahma, Raja Sakka (Tuhan Indra) dan dewa lainnya datang memberi hormat kepada putranya. Jadi dia berpikir betapa agungnya dia, dan lebih agung lagi Sang Buddha!

89

90

91

92 Ibunda Sariputta Tanpa perlu berkata, dia kemudian berpindah ke ajaran Buddha oleh Sariputta… This story has even been told whereby it was explained that King Sakka is the same as the Taoist deity 天公 Tiān Gōng. So therefore implying that Taoists should convert to Buddhism!

93 Ibunda Sariputta Tanpa perlu berkata, dia kemudian berpindah ke ajaran Buddha oleh Sariputta… Cerita ini telah pernah diceritakan dimana dijelaskan bahwa Raja Sakka serupa dengan dewa Tao 天公 Tiān Gōng. So therefore implying that Taoists should convert to Buddhism!

94 Ibunda Sariputta Tanpa perlu berkata, dia kemudian berpindah ke ajaran Buddha oleh Sariputta… Cerita ini telah pernah diceritakan dimana dijelaskan bahwa Raja Sakka serupa dengan dewa Tao 天公 Tiān Gōng. Maka dengan itu tersirat bahwa umat Tao harus berpindah ke ajaran Buddha!

95 Pembabaran Abhidhamma Beberapa tahun kemudian, setelah melakukan keajaiban ganda, Buddha naik ke surga Tavitimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ibunya dan juga para dewa. During the 3 months of his preaching, the Buddha would come down to earth for his alms, creating an image of himself in Tavatimsa to continue teaching.

96 Pembabaran Abhidhamma Beberapa tahun kemudian, setelah melakukan keajaiban ganda, Buddha naik ke surga Tavitimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ibunya dan juga para dewa. Selama 3 bulan membabarkan Dhamma, Buddha akan turun ke bumi untuk meminta sedekah, dengan menciptakan kesan dari dirinya di Tavatimsa untuk melanjuti pembabaran.

97

98 Pembabaran Abhidhamma Some years later, after performing the Twin Miracles, the Buddha ascended to the Tavitimsa heaven to preach the Abhidhamma to his mother and the devas. During the 3 months of his preaching, the Buddha would come down to earth for his alms, leaving an image of himself in Tavatimsa to continue teaching.

99 Pembabaran Abhidhamma Tidak disebutkan tentang Abhidhamma dalam Sidang Pertama. Para pelajar memperkirakan kemunculannya sekitar abad ke-3 sebelum Masehi, atau 100 – 200 setelah kemangkatan Buddha. During the 3 months of his preaching, the Buddha would come down to earth for his alms, leaving an image of himself in Tavatimsa to continue teaching.

100 Pembabaran Abhidhamma Tidak disebutkan tentang Abhidhamma dalam Sidang Pertama. Para pelajar memperkirakan kemunculannya sekitar abad ke-3 sebelum Masehi, atau 100 – 200 setelah kemangkatan Buddha. Kemungkinan besar adalah mitos untuk meningkatkan status dari Abhidhamma dan mempromosikan penerimaannya. Ini adalah ajaran yang berguna tetapi harus diletakkan dalam konteks yang sesuai.

101 Pembabaran Abhidhamma Setelah Beliau selesai membabarkan Abhidhamma, Raja Dewa menciptakan tiga tangga yang terbuat dari perak, emas dan permata yang berharga sehingga Buddha dapat turun ke kota manusia yang bernama Sankassa. While descending, the Buddha used his powers to enable the millions of humans who had come to welcome him, to see the celestial beings accompanying him down.

102 Pembabaran Abhidhamma Setelah Beliau selesai membabarkan Abhidhamma, Raja Dewa menciptakan tiga tangga yang terbuat dari perak, emas dan permata yang berharga sehingga Buddha dapat turun ke kota manusia yang bernama Sankassa. Semasa turun, Buddha menggunakan kekuatannya sehingga jutaan manusia yang datang menyambut, mampu melihat makhluk surgawi yang menemaninya turun.

103

104 Pembabaran Abhidhamma After he finished preaching the Abhidhamma, the Deva king created a triple staircase made from silver, gold and precious gems so that the Buddha could descend to the human town of Sankassa. While descending, the Buddha used his powers to enable the millions of humans who had come to welcome him, to see the celestial beings accompanying him down.

105 Pembabaran Abhidhamma Semuanya ini adalah cerita yang mengesankan orang dari jaman dahulu. Akan tetapi, mereka hanya disebutkan dalam Komentar Abhidhamma, bahkan lebih belakangan dari Abhidhamma itu sendiri. While descending, the Buddha used his powers to enable the millions of humans who had come to welcome him, to see the celestial beings accompanying him down.

106 Pembabaran Abhidhamma Semuanya ini adalah cerita yang mengesankan orang dari jaman dahulu. Akan tetapi, mereka hanya disebutkan dalam Komentar Abhidhamma, bahkan lebih belakangan dari Abhidhamma itu sendiri. Bertolak-belakang dengan karakter Buddha dan berlawanan dengan instruksinya sendiri dalam memamerkan kekuatan fisik dan keajaiban.

107 Kehidupan dan Ajaran Buddha Kita harus mencoba untuk membedakan antara : Facts Legends Symbolism This will reduce our ignorance and delusion and allow us to see things more clearly. Apply Kalama Sutta!

108 Kehidupan dan Ajaran Buddha Kita harus mencoba untuk membedakan antara : Kenyataan Legends Symbolism This will reduce our ignorance and delusion and allow us to see things more clearly. Apply Kalama Sutta!

109 Kehidupan dan Ajaran Buddha Kita harus mencoba untuk membedakan antara : Kenyataan Legenda Symbolism This will reduce our ignorance and delusion and allow us to see things more clearly. Apply Kalama Sutta!

110 Kehidupan dan Ajaran Buddha Kita harus mencoba untuk membedakan antara : Kenyataan Legenda Simbol This will reduce our ignorance and delusion and allow us to see things more clearly. Apply Kalama Sutta!

111 Kehidupan dan Ajaran Buddha Kita harus mencoba untuk membedakan antara : Kenyataan Legenda Simbol Ini akan mengurangi kebodohan dan khayalan kita dan mengizinkan kita untuk melihat segala sesuatu dengan lebih jelas.

112 Kehidupan dan Ajaran Buddha Kita harus mencoba untuk membedakan antara : Kenyataan Legenda Simbol Ini akan mengurangi kebodohan dan khayalan kita dan mengizinkan kita untuk melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Terapkan Kalama Sutta!

113 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Feet with level soles (flat feet) Hands and feet are webbed Arms reaching down to the knees Male organs enclosed in a sheath Proportioned like a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

114 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Hands and feet are webbed Arms reaching down to the knees Male organs enclosed in a sheath Proportioned like a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

115 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Arms reaching down to the knees Male organs enclosed in a sheath Proportioned like a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

116 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Male organs enclosed in a sheath Proportioned like a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

117 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Kemaluan terbungkus selaput Proportioned like a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

118 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Kemaluan terbungkus selaput Potongan badan bagaikan pohon banyan Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

119 Pohon Banyan Britannica Concise Encyclopedia: banyan Pohon dengan bentuk yang tidak biasa dari gen ara kelompok bebesaran (mulberry), asli dari Asia tropis. Akar-akar udara yang berkembang dari cabangnya menurun ke bawah dan berakar di tanah untuk membentuk batang pohon yang baru. Pohon banyan mencapai ketinggian sekitar 100 kaki (30 m) dan menyebar secara menyamping dengan tak terbatas.

120

121 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Kemaluan terbungkus selaput Potongan badan bagaikan pohon banyan Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

122 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Kemaluan terbungkus selaput Potongan badan bagaikan pohon banyan Empat puluh buah gigi Tongue can touch the forehead Head like a turban

123 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Kemaluan terbungkus selaput Potongan badan bagaikan pohon banyan Empat puluh buah gigi Lidah dapat menyentuh dahi Head like a turban

124 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Telapak kaki rata Tangan dan kaki bagaikan jala Kedua lengan menyentuh kedua lutut Kemaluan terbungkus selaput Potongan badan bagaikan pohon banyan Empat puluh buah gigi Lidah dapat menyentuh dahi Kepala bagaikan berserban

125 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Ke 32 Tanda-tanda ini adalah ide sebelum ajaran Buddha dan kemungkinan diimpor belakangan ke dalam ajaran Buddha sebagai cara meyakinkan Brahmin/Hindu bahwa Buddha patut dihormati dan dipuja. It is unlikely for the Buddha to claim to have these outward physical characteristics when he clearly had the appearance of a normal human being.

126 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Ke 32 Tanda-tanda ini adalah ide sebelum ajaran Buddha dan kemungkinan diimpor belakangan ke dalam ajaran Buddha sebagai cara meyakinkan Brahmin/Hindu bahwa Buddha patut dihormati dan dipuja. Sepertinya tidak mungkin bagi Buddha untuk menyatakan bahwa dirinya memiliki karakteristik fisik luar ini ketika Beliau dengan jelas memiliki penampilan dari seorang manusia yang normal.

127 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Terdapat banyak indikasi bahwa penampilan Buddha adalah normal dalam berbagai cara : Upaka was impressed by the Buddha’s clear faculties and radiant complexion. King Ajatasattu unable to tell the Buddha from other monks. Maha Kassapa said to have a strong resemblance to the Buddha. Nanda often mistaken for the Buddha from a distance.

128 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Terdapat banyak indikasi bahwa penampilan Buddha adalah normal dalam berbagai cara : Upaka terkesan dengan indera yang jernih dan wajah yang bersinar dari Buddha. Maha Kassapa said to have a strong resemblance to the Buddha. Nanda often mistaken for the Buddha from a distance.

129 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Terdapat banyak indikasi bahwa penampilan Buddha adalah normal dalam berbagai cara : Upaka terkesan dengan indera yang jernih dan wajah yang bersinar dari Buddha. Raja Ajatasattu tidak dapat membedakan Buddha dari bhikkhu-bhikkhu yang lainnya. Maha Kassapa said to have a strong resemblance to the Buddha. Nanda often mistaken for the Buddha from a distance.

130 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Terdapat banyak indikasi bahwa penampilan Buddha adalah normal dalam berbagai cara : Upaka terkesan dengan indera yang jernih dan wajah yang bersinar dari Buddha. Raja Ajatasattu tidak dapat membedakan Buddha dari bhikkhu-bhikkhu yang lainnya. Maha Kassapa dikatakan sangat mirip dengan Buddha. Nanda often mistaken for the Buddha from a distance.

131 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Terdapat banyak indikasi bahwa penampilan Buddha adalah normal dalam berbagai cara : Upaka terkesan dengan indera yang jernih dan wajah yang bersinar dari Buddha. Raja Ajatasattu tidak dapat membedakan Buddha dari bhikkhu-bhikkhu yang lainnya. Maha Kassapa dikatakan sangat mirip dengan Buddha. Nanda selalu dikira sebagai Buddha dari suatu jarak.

132 Dhatu-vibhanga Sutta MN 140 Ven. Pukkusati : “I have gone forth out of dedication to that Blessed One. That Blessed One is my teacher. It is of that Blessed One's Dhamma that I approve." The Buddha : "But where, monk, is that Blessed One staying now? Have you ever seen that Blessed One before? On seeing him, would you recognize him?“ Ven. Pukkusati : "No, my friend, I have never seen the Blessed One before, nor on seeing him would I recognize him."

133 Dhatu-vibhanga Sutta MN 140 Yang Mulia. Pukkusati : “Saya telah melepaskan keduniawian karena pengabdian pada Sang Bhagava. Sang Bhagava tersebut adalah guru saya. Saya menerima Dhammanya Sang Bhagava tersebut.” The Buddha : "But where, monk, is that Blessed One staying now? Have you ever seen that Blessed One before? On seeing him, would you recognize him?“ Ven. Pukkusati : "No, my friend, I have never seen the Blessed One before, nor on seeing him would I recognize him."

134 Dhatu-vibhanga Sutta MN 140 Yang Mulia. Pukkusati : “Saya telah melepaskan keduniawian karena pengabdian pada Sang Bhagava. Sang Bhagava tersebut adalah guru saya. Saya menerima Dhammanya Sang Bhagava tersebut.” Buddha : “Tetapi dimanakah, Bhikkhu, Sang Bhagava tersebut sekarang tinggal? Apakah anda pernah melihat Sang Bhagava sebelumnya? Dengan melihatnya, dapatkah anda mengenali Beliau?” Ven. Pukkusati : "No, my friend, I have never seen the Blessed One before, nor on seeing him would I recognize him."

135 Dhatu-vibhanga Sutta MN 140 Yang Mulia. Pukkusati : “Saya telah melepaskan keduniawian karena pengabdian pada Sang Bhagava. Sang Bhagava tersebut adalah guru saya. Saya menerima Dhammanya Sang Bhagava tersebut.” Buddha : “Tetapi dimanakah, Bhikkhu, Sang Bhagava tersebut sekarang tinggal? Apakah anda pernah melihat Sang Bhagava sebelumnya? Dengan melihatnya, dapatkah anda mengenali Beliau?” Yang Mulia. Pukkusati : “Tidak, sahabat, saya tidak pernah melihat Sang Bhagava sebelumnya, dan apabila saya melihatnya, saya tidak dapat mengenali Beliau.”

136 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Feet with level soles (flat feet) Hands and feet are webbed Arms reaching down to the knees Male organs enclosed in a sheath Tall as a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

137 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Hands and feet are webbed Arms reaching down to the knees Male organs enclosed in a sheath Tall as a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

138 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Arms reaching down to the knees Male organs enclosed in a sheath Tall as a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

139 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Mengenali sifat alami dari makhluk-makhluk Male organs enclosed in a sheath Tall as a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

140 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Mengenali sifat alami dari makhluk-makhluk Menyatukan keluarga, sanak keluarga dan teman- teman Tall as a banyan tree Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

141 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Mengenali sifat alami dari makhluk-makhluk Menyatukan keluarga, sanak keluarga dan teman- teman Memperhatikan kesejahteraan makhluk Forty teeth Tongue can touch the forehead Head like a turban

142 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Mengenali sifat alami dari makhluk-makhluk Menyatukan keluarga, sanak keluarga dan teman- teman Memperhatikan kesejahteraan makhluk Meninggalkan ucapan salah & bergembira dalam kedamaian Tongue can touch the forehead Head like a turban

143 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Mengenali sifat alami dari makhluk-makhluk Menyatukan keluarga, sanak keluarga dan teman- teman Memperhatikan kesejahteraan makhluk Meninggalkan ucapan salah & bergembira dalam kedamaian Mempraktekkan ucapan tanpa cela & yang sesuai Head like a turban

144 32 Tanda-tanda dari Manusia Luar Biasa Lakkhana Sutta DN. 30 Tindakan jasmani, ucapan dan pikiran yang baik Kedermawanan, tindakan yang bermanfaat, kejujuran Mengenali sifat alami dari makhluk-makhluk Menyatukan keluarga, sanak keluarga dan teman- teman Memperhatikan kesejahteraan makhluk Meninggalkan ucapan salah & bergembira dalam kedamaian Mempraktekkan ucapan tanpa cela & yang sesuai Unggul dalam keahlian dan tindak-tanduk

145 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Umat Buddhis terdahulu menyadari tentang konsep Brahmana bahwa seorang ‘Manusia Luar Biasa' dapat diketahui dari karakteristik fisiknya. This concept was rejected by teachings such as the Lakkhana Sutta. The Sutta’s message is that our conduct of body, speech and mind are far more important than our physical characteristics.

146 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Umat Buddhis terdahulu menyadari tentang konsep Brahmana bahwa seorang ‘Manusia Luar Biasa' dapat diketahui dari karakteristik fisiknya. Konsep ini ditolak oleh ajaran-ajaran seperti Lakkhana Sutta. The Sutta’s message is that our conduct of body, speech and mind are far more important than our physical characteristics.

147 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Umat Buddhis terdahulu menyadari tentang konsep Brahmana bahwa seorang ‘Manusia Luar Biasa' dapat diketahui dari karakteristik fisiknya. Konsep ini ditolak oleh ajaran-ajaran seperti Lakkhana Sutta. Pesan dari Sutta tersebut adalah bahwa tindakan jasmani, ucapan dan pikiran kita jauh lebih penting dari karakteristik fisik kita.

148 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Akan tetapi, metode yang dipakai oleh Sutta ini hanya sesuai untuk kebudayaan dan lingkungan dari kaum Brahmana atau Hindu. Such an approach is unlikely to work in today’s modern and educated society, and will probably even cast doubts on the credibility of Buddhism. It may also impede new entrants to Buddhism, and hinder the learning and development of practicing Buddhists.

149 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Akan tetapi, metode yang dipakai oleh Sutta ini hanya sesuai untuk kebudayaan dan lingkungan dari kaum Brahmana atau Hindu. Pendekatan seperti ini tidak dapat berfungsi dalam lingkungan modren dan terpelajar dewasa ini, dan kemungkinan dapat menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas ajaran Buddha. It may also impede new entrants to Buddhism, and hinder the learning and development of practicing Buddhists.

150 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Akan tetapi, metode yang dipakai oleh Sutta ini hanya sesuai untuk kebudayaan dan lingkungan dari kaum Brahmana atau Hindu. Pendekatan seperti ini tidak dapat berfungsi dalam lingkungan modren dan terpelajar dewasa ini, dan kemungkinan dapat menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas ajaran Buddha. Ia juga dapat merintangi pengikut baru ajaran Buddha, dan menghalangi pembelajaran dan perkembangan dari praktisi Buddhis.

151 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Ajaran Buddha tidak seharusnya diperkenalkan sebagai dongeng, misteri, keajaiban dan kerumitan yang berlebihan. Buddhism should nowadays be presented in a manner that is clear, down-to-earth, practical and above all, applicable to modern society and daily life. In this way, more and more people will be able to accept and truly practice the Dhamma in the way that the Buddha originally envisaged.

152 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Ajaran Buddha tidak seharusnya diperkenalkan sebagai dongeng, misteri, keajaiban dan kerumitan yang berlebihan. Ajaran Buddha sekarang ini seharusnya diperkenalkan dalam cara yang jelas, sederhana, praktis dan diatas semuanya, bisa diterapkan dalam lingkungan modren dan kehidupan sehari- hari. In this way, more and more people will be able to accept and truly practice the Dhamma in the way that the Buddha originally envisaged.

153 Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional Ajaran Buddha tidak seharusnya diperkenalkan sebagai dongeng, misteri, keajaiban dan kerumitan yang berlebihan. Ajaran Buddha sekarang ini seharusnya diperkenalkan dalam cara yang jelas, sederhana, praktis dan diatas semuanya, bisa diterapkan dalam lingkungan modren dan kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, lebih banyak orang akan mampu menerima dan sungguh-sungguh mempraktekkan Dhamma dalam cara sebagaimana pertimbangan Buddha pada awalnya.

154 Keajaiban Pengajaran Sangarava Sutta AN 3.60 "Brahman, there are these three miracles. Which three? The miracle of psychic power, the miracle of telepathy, and the miracle of instruction. "As for the miracle where a certain person gives instruction in this way… this is the miracle that, of the three, appeals to me as the highest & most sublime.”

155 Keajaiban Pengajaran Sangarava Sutta AN 3.60 "Brahmana, terdapat tiga keajaiban ini. Tiga yang manakah? Keajaiban dari kekuatan fisik, keajaiban dari telepati, dan keajaiban dari instruksi.” "As for the miracle where a certain person gives instruction in this way… this is the miracle that, of the three, appeals to me as the highest & most sublime.”

156 Keajaiban Pengajaran Sangarava Sutta AN 3.60 "Brahmana, terdapat tiga keajaiban ini. Tiga yang manakah? Keajaiban dari kekuatan fisik, keajaiban dari telepati, dan keajaiban dari instruksi.” "Sehubungan dengan keajaiban dimana seseorang memberikan instruksi dengan cara ini... ini adalah keajaiban bahwa, dari ketiganya, muncul kepada saya sebagai yang tertinggi & teragung.”

157 Keajaiban Pengajaran Apakah kita membutuhkan semua cerita yang dibuat-buat dan bersifat dongeng ini untuk mengesankan orang tentang Buddha dan ajarannya? It is now a different day and age, where people are more intelligent and educated. Presenting Buddhism with excessive myths, legends and miracles only serves to degrade Buddhism and detract from the real teachings of the Buddha.

158 Keajaiban Pengajaran Apakah kita membutuhkan semua cerita yang dibuat-buat dan bersifat dongeng ini untuk mengesankan orang tentang Buddha dan ajarannya? Sekarang ini adalah masa yang berbeda, dimana orang-orang lebih pintar dan terpelajar. Presenting Buddhism with excessive myths, legends and miracles only serves to degrade Buddhism and detract from the real teachings of the Buddha.

159 Keajaiban Pengajaran Apakah kita membutuhkan semua cerita yang dibuat-buat dan bersifat dongeng ini untuk mengesankan orang tentang Buddha dan ajarannya? Sekarang ini adalah masa yang berbeda, dimana orang-orang lebih pintar dan terpelajar. Memperkenalkan ajaran Buddha dengan mitos yang berlebihan, legenda dan keajaiban hanya berfungsi untuk merendahkan ajaran Buddha dan jauh dari ajaran Buddha yang sebenarnya.

160 Keajaiban Pengajaran Kita harus melihat lebih dalam terhadap legenda dan keajaiban apapun dan jika perlu, rasionalkan dan letakkan mereka dalam konteks yang sesuai. Buddhists should now be more discerning and not just take everything on faith, even towards the scriptures. We should not forget to apply the Buddha’s advice in the Kalama Sutta, even to our own scriptures and teachings.

161 Keajaiban Pengajaran Kita harus melihat lebih dalam terhadap legenda dan keajaiban apapun dan jika perlu, rasionalkan dan letakkan mereka dalam konteks yang sesuai. Umat Buddha dewasa ini seharusnya lebih bijak dan tidak hanya mempercayai segala sesuatunya berdasarkan kepercayaan, bahkan terhadap kitab suci. We should not forget to apply the Buddha’s advice in the Kalama Sutta, even to our own scriptures and teachings.

162 Keajaiban Pengajaran Kita harus melihat lebih dalam terhadap legenda dan keajaiban apapun dan jika perlu, rasionalkan dan letakkan mereka dalam konteks yang sesuai. Umat Buddha dewasa ini seharusnya lebih bijak dan tidak hanya mempercayai segala sesuatunya berdasarkan kepercayaan, bahkan terhadap kitab suci. Kita tidak boleh lupa untuk menerapkan nasehat Buddha dalam Kalama Sutta, bahkan terhadap kitab suci dan ajaran kita sendiri.

163 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

164 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

165 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

166 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

167 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

168 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

169 Kalama Sutta Jangan bersandar pada hal-hal berikut tanpa pengujian lebih lanjut : Ajaran lisan atau wahyu Ketuhanan Tradisi Laporan atau rumor Kitab suci atau buku-buku suci Alasan yang bersifat logis Alasan yang bersifat filosofis Penampilan luar Opini pribadi Kekuasaan atau Ahli Guru sendiri

170 Dipersiapkan oleh T Y Lee


Download ppt "Presentasi Ajaran Buddha yang Rasional. Kosmologi Buddhis The 31 Planes of Existence Mount Meru."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google