Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR Prof. Dr. drg.A.Arsunan Arsin, M.Kes KULIAH UMUM PADA CIVITAS AKADEMIKA PROGRAM STUDI KESMAS FAKULTAS ILMU KESEHATAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR Prof. Dr. drg.A.Arsunan Arsin, M.Kes KULIAH UMUM PADA CIVITAS AKADEMIKA PROGRAM STUDI KESMAS FAKULTAS ILMU KESEHATAN."— Transcript presentasi:

1 EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR Prof. Dr. drg.A.Arsunan Arsin, M.Kes KULIAH UMUM PADA CIVITAS AKADEMIKA PROGRAM STUDI KESMAS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO PALU, TGL 13 MEI 2013

2  Perhatian terhadap penyakit tidak menular makin hari makin meningkat, karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya pada masyarakat.  Dari 3 penyebab utama kematian (WHO, 1990) dua diantaranya adalah penyakit tidak menular yakni penyakit jantung koroner dan stroke.  Perubahan pola struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak memberi andil terhadap pola fertilitas, gaya hidup, sosial ekonomi yang pada gilirannya memacu semakin meningkatnya PTM.  Epidemiologi PTM sangat penting peranannya dengan semakin meningkatnya prevalensi PTM dalam masyatakat. Latar Belakang

3 Istilah lain untuk PTM:  Penyakit Kronik  Penyakit non-infeksi  New communicable disease  Penyakit degeneratif Beberapa Istilah PTM

4 Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu Masa inkubasi yang panjang Perlangsungan penyakit yang berlarut-larut (kronik) Banyak menghadapi kesulitan diagnosis Mempunyai variasi yang luas Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan maupun penanggulangannya. Faktor penyebabnya bermacam-macam (multikausal), bahkan tidak jelas Karakteristik Penyakit Tidak Menular

5 Perbandingan antara PTM dengan Penyakit Menular Penyakit MenularPenyakit Tidak Menular 1. Banyak ditemui di negara berkembang 2. Rantai penularan yg jelas 3. Perlangsungan akut 4. Etiologi mikroorganisme jelas 5. Bersifat single-kausa 6. Diagnosis mudah 7. Agak mudah mencari penyebabnya 8. Biaya relatif murah 9. Jelas muncul di permukaan 10. Morbiditas dan mortalitasnya cenderung menurun. 1. Ditemui di negara industri 2. Tidak ada rantai penularan 3. Perlangsungan kronik 4. Etiologi tidak jelas 5. Biasanya multiple-kausa 6. Diagnosis sulit 7. Sulit mencari penyebabnya 8. Biaya mahal 9. Ada iceberg phenomen 10. Morbiditas dan mortalitasnya cenderung meningkat

6  Penelitian Ekologis  Penelitian Potong Lintang (Cross Sectional Study)  Penelitian Kasus Kontrol  Penelitian Kohor Jenis- Jenis Penelitian untuk PTM

7 Faktor Penyebab (Kausa) merupakan istilah umum untuk berbagai faktor yang mempunyai hubungan dengan timbulnya penyakit. Hubungan Kausal terjadi jika bukti menunjukkan faktor kausal menyebabkan meningkatnya probabilitas terjadinya penyakit, atau sebaliknya jika faktor kausa dikurangi akan menurunkan frekuensi penyakit. Analisis Kausal Analisis Kausal ditujukan kepada pencarian dan penentuan faktor penyebab terjadinya PTM.

8  Hubungan Independen : Hubungan 2 faktor yang tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik.  Hubungan Dependen : Hubungan 2 faktor yang bermakna secara statistik. Yang terdiri dari 1. Hubungan Non-kausal : hubungan semu yang terjadi kebetulan atau karena adanya bias 2. Hubungan Kausal : Hubungan murni bermakna secara statistik dan dapat dibagi menjadi hubungan langsung dan hubungan tidak langsung Hubungan Kausal

9 1. Kuatnya hubungan : Besanya pengaruh faktor kausa dalam menyebabkan terjadinya penyakit 2. Temporaliti : Suatu faktor kausa haruslah mempunyai keberadaan yang mendahului terjadinya penyakit atau akibat (outcome) apa saja 3. Dosis Respon : Jika dosis atau besarnya keterpaparan oleh unsur dinaikkan maka risiko dan besarnya akibat/ penyakit makin besar pula Kriteria Kausa

10 4. Konsisten : walaupun dilakukan oleh orang atau peneliti yang berbeda, hasil penelitian tetap diharapkan serupa. 5. Khusus : kausa harus bersifat khusus, tersendiri/ tunggal, mempunyai pengaruh tunggal yang khusus 6. Layak biologi : kalau keterpaparan terjadi di jalan napas maka secara biologis penyakitnya kemungkinan besar terjadi di jalan napas pula Kriteria kausa

11 7. Koheren : kesesuaian kausa dengan riwaya alamiah (natural history) dan biologi dari penyakit, misalnya rokok kontak dengan sistem pernapasan 8. Bukti percobaan : suatu kausa harus mendapat bukti dari populasi manusia sendiri 9. Analogi : membandingkan satu unsur dengan unsur lainnya yang sejenis. Jika satu unsur menyebabkan penyakit maka unsur lain yang sejenis harus pula menyebabkan hal sama. Kriteria kausa

12 FAKTOR RISIKO

13  Sejarah  Framingham Study adalah sejarah penting perkembangan epidemiologi di bidang PTM. Penelitian ini adalah sebuah penelitian prospektif yang ingin menentukan faktor risiko penyakit jantung.  MRFIT (Multiple Risk Factor Intervention Trial) Penelitian lain yang mencoba mengidentifikasi faktor risiko penyakit jantung/percobaan intervensi  Untuk faktor penyebab PTM dipakai sebutan faktor risiko (risk) >< etiologi untuk penyakit menular atau diagnosis klinis. Faktor Risiko

14  Pengertian Faktor Risiko Risk factors are characteristics, signs, symptoms in disease-free individual which are statistically associated with an increased incidence of subsequent disease (Simborg DW)

15  Macam-Macam Faktor Risiko Menurut dapat tidaknya risiko itu diubah, a. Unchangeable risk factors b. Changeable risk factors Menurut Kestabilan peranan faktor risiko, a. Suspected risk factors b. Established risk factors Faktor risiko yang “well documented dan less documented” Faktor risiko “Strong and Weak”

16  Prediksi : untuk meramalkan kejadian penyakit.  Penyebab : Kejelasan/beratnya faktor risiko dapat mengangkatnya menjadi faktor penyebab, setelah menghapuskan pengaruh dan faktor pengganggu (confounding faktor)  Diagnosis : membantu proses diagnosis  Prevensi : jika satu faktor risiko juga sebagai penyebab pengulangan dapat digunakan untuk pencegahan penyakit meskipun mekanisme penyakit sudah diketahui atau tidak Kegunaan Identifikasi Faktor Risiko :

17  Merokok  Alkohol  Diet/makanan  Gaya Hidup  Kegemukan (obese)  Asbes  Radiasi  Sexual Behavior  Obat-obatan C ontoh Faktor Risiko :

18  Secara sederhana dapat digambarkan sbb : SEHATSAKITMATI Risiko Prognosis Perbedaan Risiko dan prognosis Faktor Risiko :Faktor Prognosis : - Umur tinggi- Tinggi - LDL Tinggi - Umur - HDL Tinggi- Pria - Rokok- Infark anterior - Hipertensi- Jantung Kongesti - Tidak Aktif- Aritmia Ventrikular

19  Harapan hidup 5 tahun (5 year survival rate)  Kasus-fatal : prosentase penderita yang mati karena sakit  Respon : prosentase penderita yang mengalami perbaikan  Remisi : prosentase penderita yang “sembuh” tidak terdeteksi  Kambuh : prosentase yang kembali sakit setelah “sembuh” Angka-angka yang sering digunakan untuk menggambarkan prognosis :

20  Pencegahan Premordial  Pencegahan Tingkat Pertama, yang meliputi : a. Promosi Kesehatan Masyarakat b. Pencegahan Khusus  Pencegahan Tingkat Kedua : a. Diagnosis Dini b. Pengobatan  Pencegahan Tingkat Ketiga : Rehabilitasi Upaya Pencegahan :

21 JANTUNG

22  Penyakit jantung adalah penyakit negara maju atau negara industri lebih tepatnya, penyakit dengan pola hidup modern serta perilaku masyarakat modern.  Penyakit jantung tidak hanya memonopoli negara maju, tetapi juga di negara yang sedang berkembang yang menunjukkan kecenderungan peningkatan modernisasi masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena penyebab penyakit jantung berkaitan dengan keadaan dan prilaku masyarakat maju misalnya tingginya stress, salah makan, dan gaya hidup modern seperti rokok dan minum alkohol yang berlebihan. Jantung

23 ATHEROSKLEROSIS

24  Pengertian Atherosklerosis adalah keadaan pengerasan dinding pembuluh darah  Patogenesis Proses patologi terjadi gangguan/penyakit jantung berkaitan dengan proses atherosklerosis. Konsekuensi adanya atherosklerosis adalah penyempitan liang pembuluh darah yang akan menimbulkan kekurangan aliran darah yang menyebabkan insufisensi oksigen dan makanan yang dialiri pembuluh darah tersebut Epidemiologi Atherosklerosis

25  Faktor yang tidak dapat diintervensi : a. Genetik/Riwayat keluargad. Anatomi coronaria b. Usiae. Profil lipoprotein c. Jenis Kelaminf. Faktor metabolik  Faktor risiko yang dapat diintervensi : a. Rokokd. Obesitas b. Hipertensie. Hiperglisemia c. Heperkolesterolemiaf. Faktor riwayat keluarga dgn iskemik jantung  Faktor Perilaku : kurang gerak (sedentary), stress/tegangan sosial, dan jenis personaliti Faktor Risiko Atherosklerosis

26 HIPERTENSI

27  Masalah Hipertensi 1. Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yg memberi gejala yg akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (otak), penyakit jantung koroner (pembuluh darah jantung) dan left ventricle hyperthrophy (otot jantung) 2. Penderita hipertensi di Indonesia diperkirakan 15 juta dan hanya 4% yang controlled hypertension. 3. Gambaran umum masalah hipertensi : - Prevalensi 6-15% pada orang dewasa. - 50% penderita tidak menyadari diri sebagai penderita - 70% adalah hipertensi ringan - 90% Hipertensi esensial Epidemiologi Hipertensi

28  Umur: BP meningkat sesuai umur, > 40 thn  Ras/Suku: Orang kulit hitam > white  Urban/rural: Kota > desa  Geografis: Pantai > pegunungan  Seks: Wanita > Lelaki  Gemuk: Gemuk > kurus  Stres:Banyak tekanan >  Personality type: Type A > Type B  Diet: Tinggi Garam  DM: Ada >  Water composition: - Sodium: inconsistent - Cadmium : ada bukti dari studi - Lead : Kemungkinan ada hubungan  Alkohol: Meninggi bila minum > 3x/hari  Rokok: non significant  Kopi: belum ditemukan  Pil KB: Risk meninggi dengan lamanya pakai Faktor Risiko Hipertensi

29 STROKE

30  Sinonim stroke = Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO)  Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu.  Ditemukan pada semua golongan usia namun sebagian besar akan dijumpai pada usia di atas 55 tahun.  Insiden stroke bervariasi antarnegara dan tempat. Menurut hasil penelitian yang dikoordinasi oleh WHO memperlihatkan bahwa insiden stroke yang paling tinggi adalah di Ahita (Jepang) yaitu 287 per populasi per tahun, sedang yang terendah adalah di Ibadan (Nigeria) sebesar 150 per populasi per tahun.  Di Indonesia, secara rata-rata disebutkan mortaliasnya sebesar 100 kematian per penduduk per tahun. Gambaran Umum

31 Umur : Rate meninggi sesuai dengan pertambahan umur Ras : Lebih tinggi Black dari white Seks : Lelaki > wanita Hipertensi : faktor risiko tertinggi dari stroke Diabetes : (> 120 mg/100 ml) kuat assosiasinya Obesitas : inconsistent findings Rokok : tidak ditemukan efek besar Kolesterol dan trigliserida : inconsistent Penyakit jantung sebelumnya : risiko meninggi sampai 3 X Atrial fibrilation/TIA : faktor risiko kuat Faktor Risiko Stroke

32 KANKER

33  Kanker Tumor= Pembengkakan Neoplasma= kanker = karsinoma = keganasan Onkologi= ilmu tentang kanker Gambaran Umum Kanker Gambaran Umum Kanker  Kanker bukanlah satu penyakit, tetapi beberapa penyakit dengan patogenesis, gambaran klinik dan penyebab yang berbeda.  Sel-sel kanker tumbuh dengan tanpa kontrol dan tanpa tujuan yang jelas. Pertumbuhan ini akan akan mendesak dan merusak pertumbuhan sel-sel normal.  Pertumbuhan sel-sel kanker akan menyebabkan jaringan menjadi besarb yang disebut sebagai tumor.

34 Kausa Kanker  Secara umum faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab kanker adalah : Kimia: adanya senyawa karbon Fisik: trauma/ pukulan berulang-ulang, penyinaran Bio organisme: Virus Nutrisi: Jamur pada kacang dan padi-padian sebagai penyebab kanker hati Hormon: peningkatan hormon seksual meningkat pada kejadian kanker payudara dan rahim

35 InitationPromotion 1. Dapat berupa zat kimiawi, fisik dan biologi 2. Mengakibatkan perubahan struktur molekuler/genetik sel 3. Bersifat irreversibel 4. Biasanya sulit diidentifikasi 1. Berupa diet, hormon, lingkungan. Dll 2. Perubahan RNA 3. Reversibel, perlu kontinu 4. Lebih mudah diidentifikasi  Karakteristik Initiator dan Promotor Kanker

36 Faktor Risiko Kanker FaktorEstimasi Kontribusi (%) 1.Rokok30% 2.Alkohol3-13% 3.Diet35-50% 4.Food additives1% 5.Pekerjaan4% 6.Asbes3% 7.Radiasi8% 8.Obat-obatan4% 9.Polusi2% 10.Behavior Seks7% 11.Infeksi5-10%

37 Beberapa jenis Kanker dan Faktor Risikonya Jenis Kanker Faktor Risiko 1. Kulit 2. Payudara 3. Colorectal 4. Paru 5. Cervix 6. Endometrial 7. Kandung kemih 8. Mulut Terapar sinar matahari, nevus Kegemukan, riwayat keluarga Polip, riwayat keluarga,low fiber food Rokok, asbes Umur muda, intercourse, multiple seksual prtner, HPV 6 endometrial Kegemukan, post-menopausal estrogen Rokok Rokok, alkohol

38 Upaya Pencegahan Kanker I. Pencegahan tingkat pertama a. Promosi Kesehatan masyarakat, misalnya : 1. Kampanye kesadaran masyarakat 2.. Program pendidikan kesehatan masyarakat 3. Promosi Kesehatan b. Pencegahan Khusus, misalnya : 1. Intervensi sumber keterpaparan 2. Kemopreventif II. Pencegahan tingkat II : a. Diagnosis Dini, misalnya screening b. Pengobatan, misalnya : 1. Kemotearapi 2. bedah III. Pencegahan tingkat III rehabilitasi misalnya perawatan rumah

39 KECELAKAAN LALU LINTAS

40 Masalah Kecelakaan Lalu Lintas  Sekitar 3,5 juta jiwa di dunia terenggut tiap tahunnya akibat kecelakaan dan kekerasandan sebanyak 2 juta di antaranya adalah korban kecelakaan di jalan raya.  Pada tahun 1988, menurut catatan Jasa Raharja, korban yang meninggal, cacat, atau luka sekitar jiwa.  Tahun 1992 menjadi jiwa korban Kecelakaan Lalu Lintas;lebih 100 kejadian per hari.

41 Masalah Penting Kecelakaan lalu Lintas adalah : KLL adalah suatu masalah yang luas dan cuku rancu (kompleks) Sekitar 90% disebabkan oleh faktor manusia (human factor) Dapat terjadi di semua tempat : udara, laut, dan udara Angka kejadian dan kematian yang tinggi. Setiap hari ada 30 orang mati di jalanan Indonesia. Angka kematian yang tinggi, terutama dengan cidera kepala. Kejadian yang ditemukan sekitar KLL setahun atau KLL perhari dengan 30 korban jiwa, 54 luka berat, 76 luka ringan.

42 Faktor Risiko KLL  Faktor Manusia : pejalan kaki, penumpang sampai pengemudi. Faktor pengemudi  Keterampilan mengemudi  Gangguan kesehatan (mabuk, ngantuk, letih)  SIM : tidak semua pengemudi punya SIM Faktor penumpang Misalnya jumlah muatan (baik penumpangnya maupun barangnya) yang berlebih. Faktor pemakai jalanan

43  Faktor Kendaraan Jenis-Jenis Kendaraan :  Kendaraan tidak bermotor : sepeda, becak, gerobak, bendi/delman.  Kendaraan bermotor : sepeda motor, roda tiga/bemo, oplet, sedan, bus, truk gandengan  Faktor Jalanan : keadaan fisik jalanan, rambu-rambu jalanan. Kebaikan jalan Sarana jalanan  Faktor Lingkungan : cuaca, geografik

44 Bentuk Kecelakaan di Jalan  Manusia a. Pengemudi b. Penumpang c. Pemakai jalan lainnya  Kendaraan Sepeda sampai mobil truk  Binatang  Tumbuhan  Bangunan, dan lain-lain

45 Akibat Kecelakaan Lalu Lintas KLL dapat mengakibatkan berbagai cidera sampai kematian seperti : cedera kepala (trauma capitis), Faktor (patah tulang) Ruptura lien (pecah limpa) Upaya Pencegahan : 1. Safety fasilities : helmet,seat belt,sidewalk (koridor),over head bridge (jembatan penyeberangan), trafic signal (rambu jalanan) penyeberangan), trafic signal (rambu jalanan) 2.Penggunaan helm 3.Law enforcement/peraturan

46 Helm dan KLL  Helm (helmet) adalah salah satu alat proteksi cedera kepala yang memungkinkan besar terjadi pada pengemudi kendaraan beroda dua, khususnya sepeda motor.  Peraturan wajib helm ini ditetapkan dalam peraturan SK Menteri Perhubungan No. 188/Aj.403/PHB/86 Masalah pemakaian helm : Masalah pemakaian helm : Tidak semua pengendara memakai helm Tidak semua pengendara memakai helm Token complience (ketaatan semu): hanya pakai takut polisi, asal pakai (tidak diikat dan pasang tepat; asal topi/kualitas rendah) Token complience (ketaatan semu): hanya pakai takut polisi, asal pakai (tidak diikat dan pasang tepat; asal topi/kualitas rendah) Alasan tidak pakai: Malas, discomfort/rasa tidak enak Alasan tidak pakai: Malas, discomfort/rasa tidak enak

47 MEROKOK

48  WHO menyatakan, tembakau membunuh lebih dari lima juta orang pertahun, dan diproyeksi akan membunuh 10 juta sampai tahun  70% berasal dari negara berkembang  Kematian akibat penyakit yang disebabkan rokok sekitar 22,5 % dari total kematian di Indonesia Merokok

49 Rokok  Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yg mengandung sekitar bahan kimiawi. Unsur-unsur yang penting antara lain ; tar, nikotin, benzopyrin, metil kloride, aseton, amonia, dan karbonmonoksida.  Kecenderungan Masalah Rokok :  Umur usia merokok makin muda.  Semakin banyak wanita merokok  Kecenderungan peningkatan konsumsi rokok di negara sedang berkembang.  Demografis  Kesadaran penduduk yg rendah terhadap bahaya rokok  Sosial ekonomi meningkat dan kemampuan membeli rokok juga meningkat  Proteksi terhadap zat-zat berbahaya umumnya kurang  Perokok juga didominasi oleh kelompok pendapatan rendah dan pekerja keras (blue car)  Makin meningkatnya masalah passive smoking.

50 Merokok sebagai Faktor Risiko 1.Batuk menahun 2.Penyakit paru seperti penyakit paru obstruktif menahun (PPOM), bronkhitis, dan empisema 3.Ulkus Peptikum 4.Infertiliti 5.Gangguan kehamilan, bisa berupa keguguran, kehamilan luar rahim 6.Artherosklerosis sampai penyakit jantung koroner 7.Beberapa jenis kanker seperti kanker mulut, kanker paru, kanker sistem pernapasan lainnya. Juga kanker kandung kemih, pankreas, atau ginjal

51 MANUSIA USIA LANJUT

52 Manusia Lanjut Usia  Lansia = Lanjut usia atau manusia usia lanjut (manula) Golongan penduduk yang mendapat perhatian atau pengelompokan tersendiri (populasi berumur 60 tahun atau lebih)  Umur kronologis (kalender) manusia dapat digolongkan dalam berbagai masa, yakni masa anak, remaja, dan dewasa. Masa dewasa dapat dibagi atas dewasa muda (18-30 tahun), dewasa setengah baya (30-60 tahun) dan masa lanjut usia (lebih 60 tahun)  WHO mengelompokkan usia lanjut atas tiga kelompok : kelompok middle age (45-59), kelompok elderly age (60-74) dan kelompok old age (75-90)

53 Karakteristik Lansia  Jenis Kelamin : Lansia lebih banyak pada wanita  Status perkawinan : status masih pasangan lengkap atau sudah hidup janda/duda akan mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis.  Living arrangement: misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama istri, anak atau keluarga lainnya.  Kondisi kesehatan : kondisi umum dan frekuensi sakit  Keadaan ekonomi Sumber pendapatan resmi Sumber pendapatan keluarga Kemampuan pendapatan.

54 Masalah Kesehatan Lansia  Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain  Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola kehidupannya.  Membuat teman baru untuk menggantikan mereka yang sudah meninggal atau berpisah tempat  Mengembangkan aktivitas baru untuk mengisi waktu luang

55 Perubahan pada proses menua  Perubahan fisik-biologis/jasmani Kekuatan fisik secara menyeluruh dirasakan berkurang, merasa cepat capek dan stamina menurun Sikap badan yang semula tegap menjadi membongkok, otot-otot mengecil, hipotrofis, terutama di bagian dada dan lengan Kulit mengerut dan menjadi keriput Rambut memutih dan pertumbuhan berkurang Gigi mulai rontok Perubahan pada mata Pendengaran, daya cium dan perasa mulut menurun Pengapuran pada tulang rawan, seperti tulang dada sehingga rongga dada menjadi kaku sulit bernapas.

56  Perubahan mental-emosional/jiwa : Daya ingat menurun, terutama peristiwa yang baru saja terjadi Sering pelupa/pikun : sering sangat mengganggu dalam pergaulan dengan lupa nama orang.  Perubahan kehidupan seksual Penyakit Lansia dapat meliputi : –Gangguan pembuluh darah: dari hipertensi sampai stroke –Gangguan metabolik : DM –Gangguan persendian : arthritis, encok dan terjatuh –Gangguan sosial : kurang penyesuaian diri & merasa tidak punya fungsi lagi.

57 Penanganan Masalah Lansia  Perlunya menyiapkan sarana pelayanan bagi lansia  Perlu adanya lembaga yang dapat mengayomi para lansia untuk dapat bekerja  Diperlukan adanya jaminan penunjang biaya kesehatan untuk lansia  Pemikiran untuk kondisi sosial kekeluargaan yang mendukung kehidupan lansia seperti extended family daripada pengadaan nursing home atau rumah jompo.

58 Pendekatan keluarga sebagai pendekatan utama dalam hal menghadapi lansia :  Menghormati dan menghargai orang tua  Bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku usia lanjut  Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu dan perhatian  Jangan menganggapnya sebagai beban  Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama  Mintalah nasihat pada mereka dalam peristiwa-peristiwa penting.  Mengajaknya dalam acara-acara keluarga  Dengan memberi perhatian yang baik terhadap orang tua, maka kelak anak-anak kita akan bersikap sama terhadap kita  Membantu mencukupi kebutuhannya  Memeriksa kesehatan secara teratur

59 Terima Kasih


Download ppt "EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR Prof. Dr. drg.A.Arsunan Arsin, M.Kes KULIAH UMUM PADA CIVITAS AKADEMIKA PROGRAM STUDI KESMAS FAKULTAS ILMU KESEHATAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google