Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENDIDIKAN KELUARGA BERWAWASAN GENDER Oleh: Ir. Suyatno, M.Kes Office:Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Jl. Prof Sudarto, SH, Tembalang.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENDIDIKAN KELUARGA BERWAWASAN GENDER Oleh: Ir. Suyatno, M.Kes Office:Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Jl. Prof Sudarto, SH, Tembalang."— Transcript presentasi:

1 PENDIDIKAN KELUARGA BERWAWASAN GENDER Oleh: Ir. Suyatno, M.Kes Office:Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Jl. Prof Sudarto, SH, Tembalang – Semarang Selatan Contact: Hp , Blog:www.suyatno.blog.undip.ac.id.

2 2 Sosial kodrat o Laki-laki o Perempuan Manusia dilahirkan Konsekuensinya dg sex sbg Perempuan Konsekuensi dg sex sbg Laki-laki

3 3 Apa Pengertian Gender? melihat perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi karakteristik, sikap dan perilaku masing- masing dalam konteks sosial budaya, berbeda dengan seks yang hanya melihat perbedaan tersebut dari sudut jenis kelamin saja. melihat perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi karakteristik, sikap dan perilaku masing- masing dalam konteks sosial budaya, berbeda dengan seks yang hanya melihat perbedaan tersebut dari sudut jenis kelamin saja. konstruksi sosial yang membedakan peran dan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya. konstruksi sosial yang membedakan peran dan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya. konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial budaya masyarakat. konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial budaya masyarakat.

4 4 Apa perbedaan Gender & Sex? Gender: Gender: Karena Sosial Karena Sosial Tidak universal/tidak sama dimana saja Tidak universal/tidak sama dimana saja Dapat dipertukarkan Dapat dipertukarkan Dinamis Dinamis Bergantung Bergantung Bukan kodrat Bukan kodrat Sex : Karena beda Biologis Karena beda Biologis Universal/Sama dimana saja Universal/Sama dimana saja Tidak dpt dipertukarkan Tidak dpt dipertukarkan Statis Statis Tidak Tergantung masa Tidak Tergantung masa Kodrat Kodrat

5 5 Apa itu Stereotipe Gender? Laki-laki: Laki-laki: - maskulin - maskulin - rasional - rasional - tegas - tegas - ceroboh - ceroboh - tdk pencemburu - tidak setia……… - tdk pencemburu - tidak setia……… Pelabelan laki-laki dan perempuan berdasarkan karakteristik tertentu pada suatu masyarakat Perempuan: - feminim - emosional - lemah lembut - teliti - pencemburu - setia………..

6 6 Pembagian Peran Perempuan/laki-laki: Peran seks: Perempuan Laki-laki Peran seks: Perempuan Laki-laki -hamil -menghamili -melahirkan-menyusui Peran Jender: Peran Jender:  Reproduksi/keg RT: vv -  Mencari nafkah : v vv  Kegiatan Sosial : v vv Bagaimana perbandingan antara L dan P ?

7 Kebutuhan Gender: Kebutuhan Spesifik/seks : sesuai ciri biologis Kebutuhan Spesifik/seks : sesuai ciri biologis  Pembalut, bH dll  Kebutuhan air lebih banyak dll  Bangku tempat duduk, tangga, toilet dll Peran jender: Peran jender:  Siswa perempuan sekolah malam butuh transport,  Lingkungan belajar yang aman  Peralatan belajar  Baju/pakaian dll

8 8 Kebutuhan Gender: Taktis : jangka pendek  kebutuhan spesifik/gender  meliputi kebt spesifik dan kebth utk peran jender Strategis : jangka panjang  kebutuhan menuju kesetaraan  contoh: regulasi/undang2, pendidikan dll

9 9 Kapan Gender tidak jadi masalah? Jika : 1.dilakukan secara adil 2.menguntungkan kedua belah pihak

10 Contoh Gender yang tidak jadi masalah: 1. Terjadi kesepakatan kedua belah pihak (lk+pr) di dalam pembagian tugas 2. Perempuan masih memiliki kesempatan utk kegiatan lain di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan bermasyarakat dan mengembangkan diri 3. Laki-laki membantu perempuan dengan pekerjaan di rumah apabila tugas perempuan yg lain juga cukup berat 4. …………………………

11 11 Kapan Gender jadi masalah ? Jika: 1.terjadi ketimpangan 2.satu pihak dirugikan 3.satu jenis kelamin dibedakan derajatnya 4.satu jenis kelamin dianggap tidak mampu 5.satu jenis kelamin diperlakukan lebih rendah 6.satu jenis kelamin mengalami ketidakadilan gender

12 1. Perempuan tdk berkembang krn harus di rumah saja 2. Anka-anak perempuan tidak mendapat pendidikan seperti anak laki kerena dianggap tdk perlu 3. Perempuan tergantung pada nafkah suami shg kalau suami meninggal perempuan sulit utk menghidupi anak-anaknya krn tdk ada ketrampilan & pengalaman 4. Laki-laki tidak mau tahu dengan pekerjaan di rumah karena marasa tdk pantas melakukan ‘pekerjaan perempuan’, meskipun istri sangat repot 5. …………………………. Contoh Gender yang jadi masalah:

13 13 Dalam Masyarakat perlu adanya: Kesetaraan dan keadilan gender Kesetaraan gender adalah: Kesetaraan gender adalah: kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Keadilan gender adalah : Keadilan gender adalah : suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan

14 14 Dikatakan adil/setara Gender: Jika: Jika: > Terdapat pembagian kerja/peran laki-laki dan perempuan sesuai dengan harkat dan martabatnya dalam hal: 1.akses (peluang) 2.partisipasi 3.kontrol - keputusan atas diri sendiri 4.mengambil manfaat

15 15 Kapan ada Ketidakadilan gender ? Jika ada berbagai tindak ketidakadilan atau diskriminasi yang bersumber pada keyakinan gender Jika ada berbagai tindak ketidakadilan atau diskriminasi yang bersumber pada keyakinan gender Diskriminasi, yaitu: Diskriminasi, yaitu: adanya pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai tujuan mengurangi atau menghapus pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, dll oleh perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara perempuan dan laki-laki

16 16 Apa Penyebab Kesenjangan Gender? 1. Budaya (kawin muda, pencari nafkah dll) 2. Rendahnya komitmen 3. Sensitifitas gender pada pengambil kebijakan 4. lemahnya civil society 5. kebijakan 6. ekonomi-kemiskinan 7. interpretasi agama 8. keyakinan gender (kepantasan dll) 9. sarana dan prasarana 10. geografis 11. beban ganda 12. pendidikan tidak menjanjikan

17 17 Ketidakadilan Gender dapat terjadi di mana saja? 1. Negara 2. Masyarakat 3. Budaya/keyakinan 4. Tempat kerja 5. Rumahtangga 6. Keyakinan pribadi

18 18 Contoh kaitan keyakinan gender dg ketidakadilan gender Keyakinan Gender Bentuk Ketidakadilan Gender Perempuan: lembut dan bersifat emosional Tidak boleh menjadi manajer atau pemimpin sebuah institusi Perempuan: pekerjaan utamanya di rumah dan kalau bekerja hanya membantu suami (tambahan) Dibayar lebih rendah dan tidak perlu kedudukan yang tinggi/penting Lelaki: berwatak tegas dan rasional Cocok menjadi pemimpin dan tidak pantas kerja di rumah dan memasak

19 Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender

20 Sosialisasi Idiologi Gender MarginalisasiKekerasanstereotypeBeban kerjaSubordinasi

21 1. Marjinalisasi (Pemiskinan) Suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan atau laki-laki Suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan atau laki-laki Bentuknya macam-macam: Bentuknya macam-macam: 1.Terpinggirkannya karier perempuan untuk menjadi pimpinan, promosi atau pendidikan lanjut krn dianggap tdk sesuai jadi pimpinan 2.Perempuan tidak perlu pendidikan tinggi karena akhirnya nanti juga ke dapur 3.Pada laki-laki, adanya anggapan bahwa mereka sebagai penyangga ekonomi keluarga, akibatnya banyak yang drop-out krn harus bekerja

22 2. Subordinasi (penomorduaan) Sikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki Sikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki dibangun atas dasar keyakinan satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding yang lain dibangun atas dasar keyakinan satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding yang lain Bentuknya macam-macam: Bentuknya macam-macam: –Perempuan sebagai konco wingking –Perempuan lebih dikalahkan dari laki-laki dalam pendidikan oleh keluarganya –Perempuan dianggap tidak cocok untuk berbagai pekerjaan –Mengurus rumahtangga dianggap sebagai kodrat perempuan, dll

23 Contoh Kasus Seorang Ibu di India dengan dua anak kembarnya. Anak laki-laki disusui oleh ibunya (diberi ASI), sedangkan anak berjenis kelamin perempuan diberi susu botol. Mengapa demikian?

24 Contoh Kasus: Kitab Wulangreh Ajaran khusus untuk perempuan dalam Serat Centhini Rancangkapti (Kias Lima Jari Tangan) Jempol (ibu jari) berarti “Pol ing tyas”, sebagai istri harus berserah diri sepenuhnya kepada suami Jempol (ibu jari) berarti “Pol ing tyas”, sebagai istri harus berserah diri sepenuhnya kepada suami Penuduh (telunjuk), berarti jangan sekali-kali berani mematahkan “tudung kakung” Penuduh (telunjuk), berarti jangan sekali-kali berani mematahkan “tudung kakung” Panunggul (jari tengah), berarti selalu “meluhurkan” (mengunggulkan) suami dan menjaga martabat suami Panunggul (jari tengah), berarti selalu “meluhurkan” (mengunggulkan) suami dan menjaga martabat suami Jari manis, berarti tetap manis mukanya dalam malayani suami dan bila suami menghendaki sesuatu Jari manis, berarti tetap manis mukanya dalam malayani suami dan bila suami menghendaki sesuatu Jejentik (kelingking), berarti istri harus selalu “athak- ithikan” (terampil dan banyak akal) dalam semua pekerjaan melayani suami Jejentik (kelingking), berarti istri harus selalu “athak- ithikan” (terampil dan banyak akal) dalam semua pekerjaan melayani suami

25 3. Stereotype atau Pelabelan Negatif Suatu sikap negatif masyarakat terhadap perempuan yang membuat posisi perempuan selalu pada pihak yang dirugikan Suatu sikap negatif masyarakat terhadap perempuan yang membuat posisi perempuan selalu pada pihak yang dirugikan Bentuknya macam-macam: Bentuknya macam-macam: –Prempuan bersolek dianggap memancing perhatian lawan jenis, shg jk terjadi pelecehan seksual maka perempuan yang disalahkan –Bayi perempuan diberi warna pink (feminim) dan laki- laki warna biru (maskulin) dll –Perempuan perayu, mudah selingkuh

26 Contoh: Teks Lagu SABDA ALAM Diciptakan alam pria dan wanita Dua makhluk dalam asuhan dewata Ditakdirkan bahwa pria berkuasa Adapun wanita lemah Lembut manja Wanita dijajah pria sejak dulu Dijadikan perhiasan sangkar madu Namun ada kala pria tak berdaya Tekuk lutut di sudut kerling wanita

27 4. Violence atau Kekerasan terhadap perempuan Segala bentuk kekerasan yang akibatnya berupa kerusakan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis pada perempuan termasuk ancaman-ancaman dari perbuatan semacam itu, seprti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau di dalam kehidupan pribadi seseorang Segala bentuk kekerasan yang akibatnya berupa kerusakan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis pada perempuan termasuk ancaman-ancaman dari perbuatan semacam itu, seprti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau di dalam kehidupan pribadi seseorang

28 Kekerasan dalam rumahtangga Meliputi: 1. Kekerasan fisik 2. Kekerasan psikologis 3. Kekerasan ekonomi 4. Kekerasan seksual UU No 23 tahun 2004 tentang perlindungan terhadap KDRT

29 Data Kekerasan berbasis Gender Data Perempuan Korban Kekerasan: Tahun 2004  kasus Tahun 2004  kasus Tahun 2005  kasus Tahun 2005  kasus Tahun 2006  kasus Tahun 2006  kasus Tahun 2007  kasus Tahun 2007  kasus Tahun 2008  kasus Tahun 2008  kasus (KOMNAS Perempuan)

30 30 TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN MENURUT TEMPAT KEJADIAN (%) Sumber: KNPP bekerjasama dengan BPS, Susenas 2006 TEMPAT TERJADINYA KEKERASAN YANG TERBANYAK ADALAH DI RUMAH (PERDESAAN 64,1% DAN PERKOTAAN 71,2%)

31 31 TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN MENURUT PELAKU (%) Sumber: KNPP bekerjasama dengan BPS, Susenas ,1% PELAKU KEKERASAN ADALAH ”SUAMI” (PERDESAAN 50,4%, PERKOTAAN 58,8%)

32 32 TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN MENURUT JENIS KEKERASAN (%) Sumber: KNPP bekerjasama dengan BPS, Susenas 2006 JENIS KEKERASAN YANG TERBANYAK DIALAMI PEREMPUAN ADALAH ”PENGHINAAN” (65,8%) DAN PENGANIAYAAN (25,3%)

33 Korban dan Pelaku KDRT Korban: - istri 75 % Korban: - istri 75 % - anak-anak 23,1 % Pelaku  laki-laki : Pelaku  laki-laki : - suami - ayah - anak laki-laki - paman - mertua - majikan, dll

34 09/04/ :30 WIB 1 Dari 5 ABG Putri Alami Kekerasan Seksual Saat Pacaran Nadhifa Putri – detikcom Jakarta - Kekerasan seksual di kalangan remaja atau ABG sangat memprihatinkan. 1 Dari 5 remaja putri mengalami kekerasan seksual saat berpacaran atau dating violence. "Harus diwaspadai adanya kekerasan di masa pacaran atau dating violence. Satu dari 5 remaja putri di Indonesia pernah mengalami kekerasan dalam masa berpacaran," kata Meutia Hatta saat konferensi pers Rencana Aksi Nasional Mewujudkan Keluarga Bersih dari Pornografi di Kantor Menneg PP, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (9/4/2008) Kata Meutia, dating violence banyak terjadi karena remaja yang kecanduan pornografi. Kecanduan itu, menyebabkan pemaksaan pada remaja perempuan agar mau berhubungan intim. "Pelaku akan melakukan pemaksaan dan pelecehan secara verbal ataupun fisik dengan memperlihatkan gambar porno," tambahnya. Dia juga mengatakan, berdasarkan toptenreveiw.com Indonesia masuk nomor 7 dari 10 peringkat dunia negara pengakses pornografi. Dari survey itu, di tahun 2006 berkembang 100 ribu situs bermaterikan pornogrofi anak yakni usia 18 tahun ke bawah. Data itu menyebutkan 89 persen chating anak muda berkonotasi seksual. Rata-rata pengaksesnya berusia 11 tahun. Sedangkan 80 persennya berusia tahun telah biasa mengakses pornografi hardcore atau adegan hubungan intim yang memperlihatkan alat vital. "Yang lebih parah lagi data tersebut menyebutkan 90 persen akses pornografi dilakukan saat belajar dan melakukan tugas bersama," jelas Meutia. ( mar / nvt )

35 Teks Lagu: HATI YANG LUKA Berulang kali aku mencoba selalu untuk mengalah Demi keutuhan kita berdua walau kadang sakit Lihatlah tanda merah di pipi bekas tapak tanganmu Sering kau lakukan bila kau marah menutupi salahmu Samakah aku, bagai burung disangkar yang dijual orang Hingga sesukamu kau lakukan itu, kau sakiti hatiku Dulu segenggam emas kau pinang aku Dulu bersumpah janji di depan saksi Tapi semua hilanglah sudah ditelan duka Tapi semua hilanglah sudah hati yang luka Kalaulah memang kita berpisah, itu bukan suratan Mungkin itu lebih baik, agar kau puas mengikuti salahmu Pulang saja aku pada ibuku atau ayahku Diskusikan: Apa ketidakadilan gender/kekerasan yang dialami perempuan berdasarkan teks lagu di atas? Apa ketidakadilan gender/kekerasan yang dialami perempuan berdasarkan teks lagu di atas?

36 Mahasiswi Cabuli Bocah SMP, Kasus Unik dan Mengherankan Iqbal Fadil - detikcom Mahasiswi Cabuli Bocah SMP, Kasus Unik dan Mengherankan Iqbal Fadil - detikcom Jakarta - Selama ini yang selalu menjadi korban pencabulan atau kekerasan seksual adalah perempuan. Karena itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi mengaku agak heran dan menganggap unik kasus mahasiswi FM (19) di Bandung yang mencabuli JS (13) sehingga membuat dirinya hamil. "Ini unik. Ini kasus baru bagi kita," ungkap pria yang akrab disapa Kak Seto itu ketika dihubungi detikcom, Selasa (3/4/2007). Namun Kak seto mengaku belum pernah dihubungi secara langsung oleh orangtua korban untuk berkonsultasi mengenai hal ini. "Saya belum pernah dihubungi. Mungkin mereka konsultasi ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)," imbuhnya. Meski begitu, lanjut dia, KPA akan aktif mencari tahu perkembangan kasus ini. "Saya belum tahu cerita lengkapnya. Nanti akan kita tindaklanjuti," ujar dia. Pria yang mempopulerkan lagu "Si Komo" itu mengatakan Komnas PA akan melakukan mediasi terhadap kedua pihak. "Kita akan upayakan mediasi dulu. Kalau tidak berhasil baru dilanjutkan ke proses hukum," pungkas dia. FM, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, mencabuli JS sejak tahun Saat itu, usia FM 19 tahun dan JS 13 tahun. Selama berkali-kali FM mencabuli JS sampai berhubungan badan. Akhirnya, FM pun hamil. Desember 2005 lalu, FM melahirkan anaknya dan dia menyatakan ayah anaknya adalah JS. Keluarga JS tidak terima dengan kasus ini dan menuding FM melakukan tindakan pencabulan. Kasus ini akhirnya dilaporkan ke polisi. Dalam waktu dekat, kasus ini akan disidangkan. ( bal / asy ) Jakarta - Selama ini yang selalu menjadi korban pencabulan atau kekerasan seksual adalah perempuan. Karena itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi mengaku agak heran dan menganggap unik kasus mahasiswi FM (19) di Bandung yang mencabuli JS (13) sehingga membuat dirinya hamil. "Ini unik. Ini kasus baru bagi kita," ungkap pria yang akrab disapa Kak Seto itu ketika dihubungi detikcom, Selasa (3/4/2007). Namun Kak seto mengaku belum pernah dihubungi secara langsung oleh orangtua korban untuk berkonsultasi mengenai hal ini. "Saya belum pernah dihubungi. Mungkin mereka konsultasi ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)," imbuhnya. Meski begitu, lanjut dia, KPA akan aktif mencari tahu perkembangan kasus ini. "Saya belum tahu cerita lengkapnya. Nanti akan kita tindaklanjuti," ujar dia. Pria yang mempopulerkan lagu "Si Komo" itu mengatakan Komnas PA akan melakukan mediasi terhadap kedua pihak. "Kita akan upayakan mediasi dulu. Kalau tidak berhasil baru dilanjutkan ke proses hukum," pungkas dia. FM, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, mencabuli JS sejak tahun Saat itu, usia FM 19 tahun dan JS 13 tahun. Selama berkali-kali FM mencabuli JS sampai berhubungan badan. Akhirnya, FM pun hamil. Desember 2005 lalu, FM melahirkan anaknya dan dia menyatakan ayah anaknya adalah JS. Keluarga JS tidak terima dengan kasus ini dan menuding FM melakukan tindakan pencabulan. Kasus ini akhirnya dilaporkan ke polisi. Dalam waktu dekat, kasus ini akan disidangkan. ( bal / asy )

37 5. Double Burden atau Beban Ganda Pembagian tugas dan tanggung jawab yang memberatkan salah satu jenis kelamin Pembagian tugas dan tanggung jawab yang memberatkan salah satu jenis kelamin

38 38 Jenis Kebijakan: Responsif gender: Responsif gender:  menyempitkan kesenjangan berdasarkan data awal Netral gender: Netral gender:  tidak mengarah Bias Gender: Bias Gender:  meningkatkan kesenjangan gender Ada kebijakan yang netral tetapi ----> implementasinya Bias ----> implementasinya Bias

39 39 Kebijakan perlu responsif Gender: Merespon perbedaan-perbedaan: Merespon perbedaan-perbedaan:  aspirasi/keinginan/kebutuhan  Pengalaman Baik Laki-laki atau perempuan

40 40 Isu Kesenjangan Gender terkait dengan: 1. Akses dan pemerataan:  under participation 2. Mutu dan relevansi:  under achievement 3. Manajemen:  under representation  unfair treatment

41 41 Dimensi kesenjangan jender: 1) Kurangnya partisipasi (under participation)  perempuan di seluruh dunia menghadapi problema yang sama, partisipasi perempuan dalam pendidikan formal jauh lebih rendah dibanding laki-laki.  murid perempuan yg tidak meneruskan pendidikan ke tingkat lanjutan jauh lbh besar dibanding laki-laki.  Alasan pengunduran diri murid perempuan umumnya adalah jarak sekolah yg jauh dari tempat tinggal, tuntutan tugas domestik, tidak ada biaya, tidak diijinkan orang tua, dikawinkan.  Pada tingkat pendidikan PT, partisipasi perempuan sangat rendah dan umumnya terbatas pada bidang- bidang ilmu sosial, humaniora, pendidikan, biologi, kimia dan farmasi.

42 42 2) Kurangnya prestasi (under achievement)  Data penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa pada tingkat dasar prestasi murid perempuan pada umumnya setara, bahkan terkadang lebih baik dibanding murid laki-laki.  Namun setelah lepas sekolah dasar prestasi tersebut cenderung menurun tajam, terutama untuk subyek yang berkaitan dengan sains dan teknologi.  Banyak murid perempuan yang sebenarnya cukup berbakat urung memilih bidang sains dan teknologi pada pendidikan tingkat lanjutan.  Citra maskulin sains dan teknologi menyebabkan para remaja putri yang sedang giat membentuk identitas feminimnya, bersikap menghindar terhadap subyek tersebut.

43 43 3) Kurangnya keterwakilan (under representation)  Partisipasi perempuan sebagai tenaga ahli maupun pimpinan menunjukkan kecenderungan disparitas progresif.  Jumlah guru perempuan pada tahap pendidikan dasar umumnya sama atau melebihi jumlah tenaga guru laki-laki, namun pada tahap pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi, jumlah tersebut menunjukkan penurunan yang drastis.  Representasi tenaga perempuan dalam administrasi pendidikan, pengambilan keputusan dan penyusunan kurikulum sangat rendah, sehingga kepentingan murid perempuan kadang kurang mendapat perhatian.

44 44 4) Perlakuan yang tidak adil (unfair treatment)  Kegiatan pembelajaran dan proses interaksi dalam kelas seringkali bersifat merugikan murid perempuan  Hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan murid pria disekolah dasar dan lanjutan ditanyai gurunya 3 hingga 8 kali lebih banyak dibanding murid perempuan.  Kemampuan dan minat murid laki-laki (terutama terhadap sains) terus didorong dan dibina, sementara pengembangan kemampuan dan minat murid perempuan terabaikan.

45 45 Ada tiga kemungkinan alasan rendahnya partisipasi perempuan dalam pendidikan lebih tinggi (Suleeman,1995): 1. Tidak tersedianya sarana dan prasarana sekolah untuk jenjang pendidikan SLTP ke atas sekitar tempat tinggal. –alasan jarak dan keselamatan selama perjalanan menuju ke sekolah menghambat anak perempuan ke jenjang lebih tinggi. 2. Relatif tingginya biaya pendidikan dan bagi keluarga masih miskin, biaya pendidikan tsb belum terjangkau. –para orang tua masih beranggapan bahwa lebih baik menanamkan investasi dlm bidang pendidikan kepada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan 3. Adanya norma di dlm masyarakat bahwa anak perempuan lebih diperlukan membantu orang tua di rumah, sedangkan anak laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk membantu menambah penghasilan keluarga.

46 46


Download ppt "PENDIDIKAN KELUARGA BERWAWASAN GENDER Oleh: Ir. Suyatno, M.Kes Office:Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Jl. Prof Sudarto, SH, Tembalang."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google