Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. KOLOKIUM.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. KOLOKIUM."— Transcript presentasi:

1

2 Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. KOLOKIUM

3 PENDAHULUAN

4 LATAR BELAKANG

5 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sejauh mana pengaruh penambahan larutan daun pepaya dapat mengobati ikan mas koki yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari daun pepaya terhadap kelangsungan hidup ikan mas koki yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif penggunaan obat yang lebih ekonomis dan aman digunakan untuk pengobatan Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) atau penyakit bercak merah akibat Aeromonas hydrophila pada ikan mas koki

6 Kerangka Pemikiran Permasalahan Hasil Uji Pendahuluan Tanaman Herbal ReferensiPengobatan

7 Hipotesis Penelitian

8 METODE PENELITIAN

9 Waktu Dan Tempat Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2012, di Laboratorium FHA Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran untuk uji pendahuluan Lc50, dan Laboratorium kesehatan ika, serta Laboratorium karantina ikan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi untuk uji utama. Penelitian ini meliputi persiapan alat dan bahan serta uji pendahuluan pada bulan Maret 2012, uji utama telah dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2012.

10 Alat Dan Bahan Alat  Timbangan digital, untuk menimbang berat bahan yang digunakan.  Laminar flow, sebagai tempat untuk proses inokulasi bakteri.  Blender, sebagai alat untuk menghaluskan daun pepaya.  Autoclave, untuk sterilisasi media.  Mikroskop, untuk pengamatan bakteri.  Jarum ose, untuk mengambil bakteri yang akan dikulturkan.  Cawan petri, sebagai wadah biakan bakteri dan tempat penyimpanan bakteri yang sudah dimurnikan.  1 bak fiber, untuk tempat stok ikan uji.  Jangka sorong, untuk mengukur zona hambat bakteri.  15 akuarium ukuran (60 cm X 40 cm X 40 cm), untuk media penelitian.  5 buah aerator kecil, untuk memenuhi persediaan oksigen diperairan.  Sentrifuge, alat untuk memutarkan sampel sehingga partikel-partikel yang ada didalam sampel tersebut terpisah.  Tabung erlenmeyer, sebagai wadah untuk pembuatan media bakteri.

11  Bunsen, untuk mensterilkan jarum ose.  Gelas ukur, sebagai pengukur zat cair yang akan digunakan.  Micropippet, untuk pengambilan zat cair.  Kertas saring whatman no. 42, untuk uji in vitro.  Jaring penangkap ikan, untuk menangkap ikan uji.  Termometer akuarium, sebagai alat untuk mengukur suhu air.  DO-meter dan pH meter untuk mengukur kadar oksigen terlarut dan pH air.  Sfektrofotometer, untuk menghitung dan menentukan konsentrasi bakteri.  Staining jar, untuk media fiksasi dan pewarnaan.  Hot Plates, untuk memanaskan media TSA dan Rimler-Shott.  Magnetic stirrer, untuk mengaduk media TSA dan Rimler-Shott.  Alat suntik, sebagai alat untuk memindahkan bakteri ke tubuh ikan uji.

12 Bahan  450 ekor ikan mas koki (Carassius auratus) jenis Oranda. Ikan yang digunakan berukuran 4-6 cm dengan berat ±15 gram per ekor, dengan masing-masing akuarium 20 ekor ikan uji termasuk 100 ekor untuk uji pendahuluan LC jam, 300 ekor untuk uji utama dan 50 ekor untuk stok.  Pakan ikan biasa (komersil), sebagai pakan ikan selama penelitian.  Daun papaya (Carica papaya), sebagai bahan herbal untuk pengobatan penyakit.  Alkohol dan aquadest steril, untuk mencuci preparat dan pengenceran (bahan pelarut daun pepaya).  Media Bakteri, yang meliputi bahan-bahan TSA, TSB, PBS, dan Media selektif Rimler-Shott.  Bakteri, isolat bakteri Aeromoas hydrophila diperoleh dari BBPAT Sukabumi.  Berbagai zat kimia seperti, xylol, parrafin, hematoksilin, dan eosin, untuk uji histopatologi organ.

13 Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perendaman ikan mas koki dalam larutan daun pepaya selama 48 jam dengan konsentrasi sebesar 0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500, dan 2000 ppm. Konsentrasi yang digunakan untuk penelitian utama didasarkan atas penelitian pendahuluan.

14 Penelitian Pendahuluan Penelitian Utama 1. Uji In vitro 2. Uji LC Jam 1. Uji In vivo 2. Kualitas Air 3. Kelangsungan Hidup 4. Uji Histopatologi Daun Pepaya Aeromonas

15 Hasil Uji In vitro Prosedur Uji in vitro 1.Sterilisasi alat dan bahan 2.Pembuatan larutan daun pepaya 3.Perendaman kertas saring whatman (15 menit) 4.Pembuatan media TSA 5.Pembuatan larutan bakteri 6.Pengkulturan bakteri dengan cara penanaman Spread Plate (agar tabur ulas) 7.Penempelan kertas whatman yang sudah direndam larutan daun pepaya sesuai konsentrasi 8.Inkubasi selama 24 jam pada suhu 27 0 C 9.Pengamatan dan Pengukuran zona bening pada kertas whatman dengan menggunakan jangka sorong.

16 Hasil Uji LC JamLC 50 Prosedur uji LC Jam 1.Persiapan alat dan bahan 2.Pembuatan larutan daun pepaya berbagai dosis 3. Adaptasi dengan media pemeliharaan selama 24 jam 4.Penambahan larutan daun pepaya ke media pemeliharaan sesuai dosis 5.Pengamatan selama 48 jam 6.Perhitungan kelangsungan hidup dengan tarap 50%

17 Tahap – tahap dalam melakukan uji in vivo Adaptasi Penginfeksian Bakteri (0,1ml) Perendaman dengan larutan daun pepaya Pemeliharaan & Pengamatan Beck

18 Daun pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpain, polifenol, pseudokarpaina, glikosid, karposid, saponin, sakarosa, dektrosa, dan flavonoid. Dari sekian banyak senyawa dan zat aktif pada daun papaya, yang bersifat larut dalam air yaitu alkaloid, polifenol, dan flavonoid. Polifenol merupakan senyawa fenol yang khas pada tanaman pepaya. Fenol dapat merusak membran sel bakteri dan menyebabkan lisis (terlarutnya) sel bakteri (Nogrady, 1992). Daun Pepaya Segar Pembuatan Larutan Daun PepayaPepaya

19 Aeromonas hydrophila merupakan bakteri yang distribusinya sangat luas. Bakteri ini dapat di temukan pada air tawar terpolusi maupun pada air laut yang kadar garamnya tinggi. Selain itu, bakteri ini juga ditemukan pada intestinum ikan yang sehat. Aeromonas hydrophila mungkin paling sering menyebabkan wabah pada ikan yang diternakan maupun ikan yang hidup bebas pada air tawar. Penyakit akibat bakteri ini pada ikan dikenal sebagai Motile Aeromonads Septicemia (MAS) atau Red Pest yang mengalami stres karena berbagai sebab (Kamiso dan Triyanto 1993). Langkah – langkah preparasi Aeromonas hydrophila Biakan Murni IsolasiPenginfeksian Peningkatan Peningkatan Patogenitas

20 Daun Pepaya segar Penyaringan Penimbangan sesuai konsentrasi Pelarutan dengan akudes suhu 45 0 C Digunting dan ditimbang sebagai berat basah Penghancuran dengan Blender Larutan disebar ke tempat media pemeliharaan Beck

21  Kustiawati (2010), menyatakan bahwa daun bandotan diketahui dapat menghambat laju pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila pada konsentrasi 1500 ppm karena pada tanaman bandotan diketahui mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, dan polifenol yang cukup tinggi (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).  Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kandungan flavonoid, fenol, dan alkaloid pada tanaman herbal dapat menghambat dan membunuh laju pertumbuhan bakteri sehingga tanaman yang mengandung senyawa alkaloid, fenol, dan flavonoid dapat digunakan sebagai obat anti bakteri dengan konsentrasi yang berbeda sesuai dengan tingginya kandungan ketiga senyawa tersebut didalam tanaman itu sendiri (Ditjen Perikanan, 2001). Beck

22 Isolat Murni Penginfeksian ke ikan sampai ikan sakit Penginfeksian kembali ke ikan Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C Pengambilan organ ginjal dari ikan yang sakit untuk diisolasi kembali pada media selektif RS Pemanenan bakteri ke media brot (TSB) inkubasi 24 jam suhu 27 0 C Perhitungan bakteri dengan metode pengenceran Sentrifuge kecepatan 3000 rpm 15 menit

23 Beck Hasil uji LC jam larutan daun pepaya pada ikan mas koki Conc. Number Exposed Number Resp. ObservedRespondingPredicted ProportionAdjusted forProportion RespondingControlsResponding PointExposure Concentration (%) ( ppm ) LC/EC LC/EC LC/EC LC/EC LC/EC LC/EC LC/EC LC/EC LC/EC

24 Konsentrasi (ppm) Zona daya hambat (mm) ulangan ke- Rata - rata zona daya hambat III Kontrol ,335,275,3 5006,136,236, ,937,036, ,277,237, ,537,637, ,988,038, ,339,539,43 Beck Hasil Pengamatan Zona Hambat Pada Metode Difusi Agar

25 HASIL DAN PEMBAHASAN

26 Gejala Klinis Ikan Mas Koki yang Terinfeksi Aeromonas hydrophila Ikan mas koki menunjukkan gejala klinis dalam waktu 4-6 jam setelah dilakukan penyuntikan bakteri Aeromonas hydrophila patogen. Gejala klinis yang teramati berupa peradangan (inflamasi) yang dicirikan dengan pembengkakan dan warna kemerahan pada bekas suntikan Peradangan pada ikan (Hari ke 2) Pada pengamatan 72 jam setelah penyuntikan (hari ke-3), gejala peradangan berlanjut menjadi tukak dan beberapa ikan mengalami pendarahan (hemoragi) yang dicirikan dengan keluarnya darah dari kulit Tukak pada ikan (Hari ke 3) Gejala klinis yang masih teramati pada ikan yang bertahan hidup (sembuh parsial) adalah berupa sisik yang rontok dan warna kemerahan pada kulit ikan tetapi sudah menunjukan perbaikan terutama respon terhadap pakan yang sudah mulai kembali normal seperti ikan sehat Penyembuhan Tukak pada Ikan (Hari ke 8)

27 Uji Refleks Ikan Mas Koki Uji refleks ikan dilakukan dengan menepuk dinding akuarium pada setiap perlakuan

28 Hari ke - Perlakuan ABCDE Respon Ikan Mas Koki Terhadap Pakan Keterangan: (++) Respon pakan normal (+) Respon pakan rendah (-) Respon pakan tidak ada

29 Konsentrasi Larutan Daun Pepaya (ppm) Kelangsungan Hidup (%) Hasil Trannsformasi Ke- Arcsin Signifikasi 0 512,92 a ,6643,08 b ,3358,93 d ,3343,83 c ,3344,04 b Rata – rata Kelangsungan Hidup Ikan Mas Koki

30 Grafik Kelangsungan Hidup Harian A = 0 ppm B = 500 ppm C = 1000 ppm D = 1500 ppm E = 2000 ppm perlakuan tingkat kelangsungan hidup ini mengalami penurunan pada perlakuan E (konsentrasi daun pepaya 2000 ppm) terdapat penurunan kelangsungan hidup yang berbeda nyata apabila dibandingkan dengan perlakuan C (konsentrasi daun pepaya 1000 ppm)

31 Grafik Hubungan Konsentrasi Daun Pepaya Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Mas Koki Analisis regresi untuk melihat antara konsentrasi larutan daun pepaya dan tingkat kelangsungan hidup ikan mas koki yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila menghasilkan hubungan kuadratik dengan mengikuti persamaan y = -44,27x ,21x + 4,525. Dari hasil analisis regresi diperoleh nilai R 2 = 0,9863 yang berarti pengaruh perbedaan konsentrasi larutan daun pepaya terhadap kelangsungan hidup ikan mas koki sebesar 99,31 %.

32 Perbandingan Antar Perlakuan Keterangan : *Tiap Rata – rata perlakuan yang memiliki huruf yang sama memberikan pengaruh tidak berbeda nyata, sementara perlakuan yang diikuti huruf yang berurutan memberikan pengaruh berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5 %.

33 Uji Histopatologi Organ Hati Setelah Pengobatan Organ Hati Sebelum diinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila Organ Hati setelah diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila Keterangan: 1 = Hepatosit 2 = Sinusoid 1 = Hemoragi (Pendarahan) ; 2 = Nekrosis (Kematian sel) ; 3 = Degenerasi Vakuola (Inti sel hancur) 1 = Sinusoid ; 2 = Nekrosis (Kematian sel) ; 3 = Hepatosit

34 2 1 Organ ginjal sebelum terinfeksi Aeromonas hydrophila Keterangan: 1 = Tubulus Distal 2 = Glomerulus Organ ginjal setelah terinfeksi Aeromonas hydrophila Keterangan: 1 = Nekrosis 2 = Artropi (Pengerutan Sel) 3 = Hemoragi 4 = Degenerasi Vakuola (Inti sel hancur) 3 4 Keterangan: 1 = Glomerulus 2 = Tubulus Distal 3 = Degenerasi Vakuola 4 = Artropi (Pengerutan Sel) Organ ginjal setelah pengobatan 1 2

35 Awal PengamatanAkhir Pengamatan PerlakuanUlanganSuhupHDOSuhupHDO ( 0 C)(mg/L)( 0 C)(mg/L) 124,87,874,0124,77,924,13 A225,07,904,1324,77,954,25 324,87,723,9825,07,844,05 124,87,884,2325,17,974,42 B224,67,904,3125,37,944,24 325,07,854,3224,87,904,47 125,17,853,9725,07,923,96 C225,07,904,0524,97,904,01 324,87,764,1324,67,804,20 124,97,724,2424,87,824,34 D224,87,844,2124,87,924,25 324,87,644,3224,67,744,57 124,97,904,0525,27,924,42 E224,87,724,2024,97,873,98 324,67,864,1224,67,954,36 Optimum23-25 a 6,5-8,5 b 3,0-5,0 b a 6,5-8,5 b 3,0-5,0 b Pustaka : a (Agus, 2001) b (Boyd, 1990)

36 KESIMPULAN DAN SARAN

37 1.Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan larutan daun papaya dengan menggunakan metode perendaman selama 48 jam dapat mengobati penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila yang menyerang ikan mas koki (Carassius auratus). 2.Konsentrasi 1000 ppm merupakan konsentrasi yang paling efektif selama penelitian dimana menghasilkan kelangsungan hidup sebesar 73,33 %. Dari hasil pengamatan gejala klinis dan uji histopatologi menunjukan perbedaan dimana ikan uji pada perlakuan efektif lebih cepat mengalami proses penyembuhan dibandingkan dengan kontrol (tanpa perendaman daun pepaya). 1.Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh pemberian larutan daun pepaya terhadap resistensi dari bakteri Aeromonas hydrophila. 2.Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai penerapan pengobatan dengan metode perendaman larutan daun pepaya pada skala lapangan agar dapat diterapkan oleh para pembudidaya ikan dengan skala besar. kesimpulan saran

38 Mantappp


Download ppt "Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. Pembimbing: Roffi Grandiosa, S.Pi., M.Si. dan Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. KOLOKIUM."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google