Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PARASITOLOGI Oleh dr. Lilly Haslinda, M.Biomed Parasitologi  Ilmu yang mempelajari jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PARASITOLOGI Oleh dr. Lilly Haslinda, M.Biomed Parasitologi  Ilmu yang mempelajari jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan."— Transcript presentasi:

1

2 PARASITOLOGI Oleh dr. Lilly Haslinda, M.Biomed

3 Parasitologi  Ilmu yang mempelajari jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan jasad lain dengan maksud untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari jasad itu Zooparasit = parasit yang berupa hewan, dibagi ; a. Protozoa => ameba b. Metazoa => helmintes dan artropoda

4 Parasitologi kedokteran Dipelajari Zooparasit, yang termasuk dalam golongan : Dipelajari Zooparasit, yang termasuk dalam golongan : helmintes ( cacing ) helmintes ( cacing ) protozoa ( bersel satu ) protozoa ( bersel satu ) artropoda ( serangga ) artropoda ( serangga ) Dalam mempelajari parasit perlu dikenal berbagai istilah dan definisi. Dalam mempelajari parasit perlu dikenal berbagai istilah dan definisi.

5

6

7

8

9

10

11 H o s p e s Menurut macam nya hospes dibagi :  Hospes definitif Hospes tempat parasit hidup, tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak secara seksual Hospes tempat parasit hidup, tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak secara seksual  Hospes perantara Hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia Hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia

12 H o s p e s HHHHospes reservoar Hewan yang mengandung parasit dan merupakan sumber infeksi bagi manusia HHHHospes paratenik Hewan yang mengandung stadium infektif parasit tanpa menjadi dewasa; dan stadium infektif ini dapat ditularkan dan menjadi dewasa pada hospes definitif

13 Vektor Suatu jasad ( serangga ) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan Suatu jasad ( serangga ) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan Contoh : nyamuk Anopheles menularkan parasit (plasmodium) malaria dan culex sebagai vektor filariasis. Contoh : nyamuk Anopheles menularkan parasit (plasmodium) malaria dan culex sebagai vektor filariasis.

14 Zoonosis  Adalah penyakit hewan yang dapat ditularkan kepada manusia.  Contoh : balantidiosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Balantidium coli, suatu parasit babi yang kadang ditularkan kepada manusia

15 Cara menulis Nama parasit : International Code of Zoological Nomenclature. Tiap parasit digolongkan kedalam filum, kelas, ordo, famili, genus dan spesies. Spesies : ditentukan dua nama, contoh Ascaris lumbricoides.

16 Parasitologi kedokteran FK UNRI 1. Helmintologi kedokteran 2. Protozoologi kedokteran 3. Entomologi kedokteran 4. Imunoparasitologi dan imunodiagnosis penyakit parasit

17 Penyakit parasit yg mrpk masalah kesekatan masyarakat di Indonesia Malaria Toksoplasmosis Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah Filariasis Mikosis superfisialis

18 HELMINTOLOGI  Adalah; ilmu yang mempelajari parasit yang berupa cacing.  Dibagi ; 1. Nemathelminthes (c. benang) 2. Platyhelminthes (c. pipih) 2. Platyhelminthes (c. pipih)  Kelas Nematoda ; Nematoda usus Nematoda jaringan Nematoda jaringan

19 PLATYHELMINTHES  Kelas Trematoda ; Trematoda darah Trematoda hati Trematoda hati Trematoda usus Trematoda usus Trematoda paru Trematoda paru  Kelas Cestoda

20 Protozoologi Protozoa : hewan bersel satu yang hidup sendiri atau dalam bentuk koloni Protozoa : hewan bersel satu yang hidup sendiri atau dalam bentuk koloni Tiap protozoa merupakan kesatuan lengkap yang sanggup melakukan semua fungsi kehidupan Tiap protozoa merupakan kesatuan lengkap yang sanggup melakukan semua fungsi kehidupan

21 Protozoa dibagi dalam empat kelas: 1. Rhizopoda : Entamoeba histolytica Entamoeba coli Entamoeba coli Entamoeba hartmanni Entamoeba hartmanni Iodamoeba butschlii Iodamoeba butschlii Dientamoeba fragilis Dientamoeba fragilis Endolimax nana Endolimax nana Entamoeba gingivalis Entamoeba gingivalis

22 Protozoa 2. Mastigophora = flagellata : protozoa yang mempunyai flagel (cambuk) tddr 2 gol : I. Flagelata traktus digestivus : yg hidup di I. Flagelata traktus digestivus : yg hidup di rongga usus dan mulut serta flagelata rongga usus dan mulut serta flagelata traktus urogenital : vagina, uretra dan traktus urogenital : vagina, uretra dan prostat prostat II. Flagelata darah dan jaringan : hidup dlm II. Flagelata darah dan jaringan : hidup dlm darah dan jaringan tubuh ( alat dalam ) darah dan jaringan tubuh ( alat dalam )

23 Protozoa 3. Ciliata = bulu getar contoh : Balantidium coli. contoh : Balantidium coli. Protozoa terbesar pada manusia. Protozoa terbesar pada manusia. Hospes : babi dan beberapa spesies Hospes : babi dan beberapa spesies kera. kera. Fungsi bulu getar : untuk bergerak dan Fungsi bulu getar : untuk bergerak dan mengambil makanan. mengambil makanan.

24 Protozoa 4. Sporozoa : I. Coccidia : genus Eimeria I. Coccidia : genus Eimeria genus Isospora genus Isospora genus Toxoplasma genus Toxoplasma II. Haemosporidia : genus Plasmodium II. Haemosporidia : genus Plasmodium

25 Entomologi Morfologi, daur hidup dan perilaku nyamukMorfologi, daur hidup dan perilaku nyamuk Vektor penyakit protozoaVektor penyakit protozoa Vektor penyakit cacing ( filariasis )Vektor penyakit cacing ( filariasis ) Vektor penyakit virus, riketsia, spiroketa dan bakteriVektor penyakit virus, riketsia, spiroketa dan bakteri Vektor mekanikVektor mekanik Hospes perantaraHospes perantara Pengendalian vektorPengendalian vektor Insektisida dan resistensiInsektisida dan resistensi Artropoda penyebab penyakit, alergi dan reaksi toksikArtropoda penyebab penyakit, alergi dan reaksi toksik

26 NEMATODA USUS  Spesies yang ditularkan melalui tanah disebut “soil transmitted helminths“ yang terpenting : Ascaris lumbricoides Ascaris lumbricoides Necator americanus Necator americanus Ancylostoma duodenale Ancylostoma duodenale Trichuris trichiura Trichuris trichiura Strongyloides stercoralis Strongyloides stercoralis  Nematoda usus penting yang lain ; Oxyuris vermicularis dan Trichinella spiralis Oxyuris vermicularis dan Trichinella spiralis

27 1. Ascaris lumbricoides  Hospes dan nama penyakit: Hospesnya manusia Hospesnya manusia Penyakitnya askariasis Penyakitnya askariasis  Distribusi geografi: Kosmopolit, pada anak sekolah dasar Kosmopolit, pada anak sekolah dasar  Morfologi dan daur hidup : jantan uk;10-30 cm, betina cm. jantan uk;10-30 cm, betina cm. Stad dewasa hidup dirongga usus muda Stad dewasa hidup dirongga usus muda C.betina bertelur sbnyk /hr C.betina bertelur sbnyk /hr

28

29 Morfologi dan daur hidup  Telur yang dibuahi, besarnya ± 60x45 mikr dan yang tidak dibuahi 90x40 mikron. dan yang tidak dibuahi 90x40 mikron.  Dilingkungan yg sesuai, telur yg dibuahi berkembang mjadi bentuk infektif ± 3 mgg  Bentuk infektif => tertelan => menetas di usus halus. Larva menembus dinding usus halus => pembuluh darah atau saluran limfe => jantung => paru.

30

31

32

33 Morfologi dan daur hidup  Larva diparu => alveolus => trakea => faring, menimbulkan rangsangan => batuk => esofagus => usus halus  Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa.  Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur ± 2 bulan.

34

35 Patologi dan gejala klinis  Gejala timbul disebabkan ; cacing dewasa dan larva  Larva: Perdarahan kecil dinding alveolus, batuk, demam dan eosinofilia.  Foto thorak ; infiltrat yg menghilang dlm waktu 3 minggu.  Keadaan ini disebut: sindrom Loeffler.

36 Patologi dan gejala klinis Gangguan disebabkan cacing dewasa: biasanya ringan, mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Pd infeksi berat; anak => malabsorbsi Efek serius ; bila cacing ini menggumpal dalam usus => tjd obstruksi usus ( ileus ) Kead ttt; c.dewasa; mengembara ke saluran empedu, apendiks atau bronkus dan menimbulkan keadaan gawat darurat shg kadang perlu operatif.

37

38

39 D i a g n o s i s  Cara D/ : Pemeriksaan tinja langsung  Telur dalam tinja memastikan D/ askariasis.  Cacing dewasa keluar sendiri melalui mulut atau hidung maupun tinja

40

41 P e n g o b a t a n  Piperazin dosis tunggal ; dewasa 3-4 gram dewasa 3-4 gram anak 25 mg/kgBB anak 25 mg/kgBB  Pirantel pamoat dosis tunggal 10 mg/kgBB  Mebendazol 2x100 mg/hr selama 3 hr atau 500 mg dosis tunggal  Albendazol dosis tunggal 400 mg.

42 Pengobatan Oksantel-pirantel pamoat ; infeksi campuran A.lumbricoides dan T.trichiura. Oksantel-pirantel pamoat ; infeksi campuran A.lumbricoides dan T.trichiura. Pengobatan masal, syarat ; Pengobatan masal, syarat ; - mudah diterima masyarakat - mudah diterima masyarakat - aturan pakai sederhana - aturan pakai sederhana - efek samping minim - efek samping minim - polivalen - polivalen - murah - murah

43 Prognosis Baik Sembuh sendiri, 1,5 tahun Pengobatan, kesembuhan 70 – 99%.

44 Epidemiologi Kurangnya pemakaian jamban mnimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di halaman, bawah pohon. Hal ini akan memudahkan terjadi reinfeksi. Kebiasaan tinja sebagai pupuk Tanah liat, kelembaban tinggi dan suhu 25 o C – 30 o C sangat baik utk perkembangan telur menjadi bentuk infektif. Mencuci tangan, gunting kuku, pemakaian jamban dapat mencegah askariasis.

45 Toxocara canis dan Toxocara cati  Hospes dan penyakit: T.canis pada anjing. T.canis pada anjing. T.cati pada kucing. T.cati pada kucing. Belum ditemukan infeksi campuran. Belum ditemukan infeksi campuran. Kadang2 ditemukan pada manusia ; parasit mengembara ( erratic parasite ) menyebabkan ; visceral larva migrans. Kadang2 ditemukan pada manusia ; parasit mengembara ( erratic parasite ) menyebabkan ; visceral larva migrans.

46

47

48 Mulut Toxocara canis

49 Toxocara canis

50 Telur Toxocara canis  Dg mikrs.elektr. Mikrs. cahaya

51 Distribusi dan geografik Kosmopolit, ditemukan di Indonesia Kosmopolit, ditemukan di Indonesia Jakarta ; prevalensi pada anjing 38,3% Jakarta ; prevalensi pada anjing 38,3% kucing 26,0 % kucing 26,0 %

52 Toxocara cati

53

54 Morfologi  T.canis jantan, ukuran ; 3,6 - 8,5 cm betina 5,7 – 10,0 cm betina 5,7 – 10,0 cm  T.cati jantan 2,5 – 7,8 cm betina 2,5 – 14,0 cm betina 2,5 – 14,0 cm  Bentuk menyerupai A.lumbricoides muda.  T.canis; sayap servikal spt lanset  T.cati ; sayap lebih lebar spt kobra

55 Ekor ; kedua spesies hampir sama jantan; spt jari menunjuk ( digitiform) betina ; bulat meruncing Telur mjd infektif di tanah ; 3 minggu Bentuk infektif ini dpt tertelan; anjing, kucing dan manusia

56 Patologi dan gejala klinis Pd manusia ; larva tdk menjadi dewasa dan mengembara di alat2 dalam ; hati Pd manusia ; larva tdk menjadi dewasa dan mengembara di alat2 dalam ; hati Penyakit ; visceral larva migrans, gejala; eosinofilia, demam dan hepatomegali Penyakit ; visceral larva migrans, gejala; eosinofilia, demam dan hepatomegali

57 Diagnosis D/ pasti visceral larva migran: menemukan larva atau potongan larva => sukar ditegakkan D/ pasti visceral larva migran: menemukan larva atau potongan larva => sukar ditegakkan Reaksi imunologi ; dapat membantu diagnosis Reaksi imunologi ; dapat membantu diagnosis

58 Cacing tambang ( hookworm ) Spesies yang penting; - Necator americanus → manusia - Ancylostoma duodenale → manusia - Ancylostoma braziliense → kucing, anjing - Ancylostoma ceylanicum → anjing, kucing - Ancylostoma caninum → anjing, kucing

59 Necator americanus Ancylostoma duodenale Necator americanus Ancylostoma duodenale  Sejarah; cacing tambang ditemukan di Eropa pd pekerja tambang.  Hospes : manusia  Nama penyakit : nekatoriasis dan ankilostomiasis  Distribusi geografi : seluruh daerah katulistiwa, pertambangan dan perkebunan.

60 Necator americanus Ancylostoma duodenale Prevalensi; tinggi di pedesaan.  1972 – 1979 berkisar 50%  1990 – 1991 ; 0 – 24,7 %  Sumut, 2478 anak SD 6,7 %

61 Morfologi dan daur hidup  Cacing dewasa hidup di rongga usus halus.  Mulut besar, melekat pada mukosa usus  Cacing betina N.americanus tiap hari bertelur ± 9000 butir, A.duodenale ±  C.betina panjang ± 1 cm, jantan ± 0,8 cm  Bentuk badan N.americanus : huruf S A.duodenale : huruf C A.duodenale : huruf C  N.americanus memp benda kitin  A.duodenale dua pasang gigi.  Cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks

62 Ancylostoma duodenale

63 Necator americanus

64 Morfologi dan daur hidup  Telur ; dikeluarkan dg tinja, uk 60 x 40 mikron, berbtk bujur dg dinding tipis tdpt 4-8 sel 4-8 sel  Larva rabditiform panjang 250 mikron.  Larva filariform panjang 600 mikron

65 Larva rabditiform N.americanus

66 Larva filariform N.americanus

67 Telur cacing tambang

68 Morfologi dan daur hidup  Daur hidup : Telur => larva rabditiform => larva filariform => menembus kulit => kapiler darah => jantung kanan => paru => bronkus => trakea => laring => usus halus.  Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Infeksi A.duodenale juga mungkin dengan menelan larva filariform.

69

70 Patologi dan gejala klinis 1.Stadium larva : Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit, terjadi ground itch. Perubahan pada paru biasanya ringan. Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit, terjadi ground itch. Perubahan pada paru biasanya ringan. 2.Stadium dewasa : anemia hipokrom mikrositer, eosinofilia anemia hipokrom mikrositer, eosinofilia

71 Patologi dan gejala klinis Gejala tgt pd:  Spesies dan jumlah cacing  Keadaan gizi ( Fe dan protein ) N.americanus; kehilangan darah 0,005 – 0,1cc A.duodenale; 0,08 – 0,34 cc/hari

72 Patologi dan gejala klinis  Adanya toksin penyebab anemia ( - )  Tidak menyebabkan kematian, tp daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun  Kadar Hb sesuai dg berat penyakit

73 Diagnosis  D/ ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar. Dalam tinja lama mgkn ditemukan larva.  Membedakan spesies; biakan tinja dg cara Harada-Mori Pengobatan : Pirantel pamoat 2-3 hari berturut - turut

74 Epidemiologi  Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun penting dalam penyebaran infeksi.  Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva : tanah gembur ( pasir, humus ), suhu opt N.americanus 28 o C-32 o C, A.duodenale 23 o C-25 o C  Untuk menghindari infeksi : memakai sandal atau sepatu.

75 Ancylostoma braziliense Ancylostoma caninum H.Definitif : kucing dan anjing H.Definitif : kucing dan anjing Penyakit : Creeping eruption Penyakit : Creeping eruption Distribusi : tropik dan subtropik Distribusi : tropik dan subtropik Di Jakarta : Di Jakarta : kucing 72% A.braziliense kucing 72% A.braziliense anjing 18% A.b dan 68% A.c anjing 18% A.b dan 68% A.c

76 A.Braziliense dan A.caninum Morfologi ; -A.braziliense → 2ps gigi tdk sama besar Jantan pjg 4,7-6,3mm. Betina 6,1-8,4mm. Jantan pjg 4,7-6,3mm. Betina 6,1-8,4mm. -A.caninum → 3 ps gigi Jantan pjg 10mm. Betina 14mm Jantan pjg 10mm. Betina 14mm

77 Ancylostoma caninum

78

79 A.braziliense dan A.caninum Patologi dan gejala klinis;  Pd manusia larva tdk menjadi dewasa Kelainan kulit; creeping eruption, creeping Kelainan kulit; creeping eruption, creeping disease atau cutaneous larva migrans. disease atau cutaneous larva migrans.  Creeping eruption; dermatitis, khas kelainan intra kutan serpiginosa  Tempat larva filariform menembus kulit ; papel keras, merah dan gatal

80 Cutaneus larva migrans

81

82 Patologi dan gejala klinis Brp → terowongan intrakutan sempit ; garis merah, menimbul, gatal dan tambah pjg menurut gerakan larva Sepanjang garis tdpt vesikel kecil dan dpt tjd infeksi sekunder Jakarta, 46 creeping erruption, kelainan ditemukan tu pd kaki dan lengan bawah, punggung dan pantat

83 diagnosis 1. Gambaran klinis khas 2. Biopsi Pengobatan; 1. Semprotan kloretil 2. Albendazol, do tunggal 400mg 3 hr. Anak < 2th albendazol salep 2%. Anak < 2th albendazol salep 2%.

84 Ancylostoma ceylanicum Dapat menjd dewasa pd manusia Dapat menjd dewasa pd manusia 2 ps gigi tidak sama besar 2 ps gigi tidak sama besar Di Jakarta; dari 100 anjing 37% Di Jakarta; dari 100 anjing 37% 50 kucing 24% 50 kucing 24%

85 Ancylostoma ceylanicum

86 Trichuris trichiura Trichuris trichiura  Hospes : Manusia  Nama penyakit : trikuriasis  Distribusi geografi: kosmopolit, terutama daerah panas dan lembab, spt di Indonesia.  Prevalensi, 1996; Sumsel 60% dr 365 anak SD

87 Morfologi dan daur hidup  Cacing betina : panjang ± 5 cm, jantan 4 cm  Bagian anterior : langsing seperti cambuk, ±3/5 panjang tubuh  Bagian posterior: lebih gemuk, cacing betina tumpul dan jantan melingkar serta terdapat satu spikulum  Dewasa hidup : di kolon asendens dan sekum dgn bgn anterior masuk dedalam mukosa usus.

88

89

90 Morfologi dan daur hidup  Cacing betina bertelur butir/hr.  Telur berukuran mikron, bentuk tempayan  Telur dibuahi dikeluarkan bersama tinja.  Telur matang ; 3-6 minggu pada tanah lembab dan teduh  Telur matang ; berisi larva dan merupakan bentuk infektif  Cara infeksi: hospes menelan telur matang

91

92 Morfologi dan daur hidup  Larva => usus halus, setelah dewasa masuk ke kolon, terutama sekum.  Masa pertumbuhan : telur – dewasa bertelur 30 –90 hari Patologi dan gejala klinis; prolapsus mukosa rektum, iritasi, peradangan mukosa usus, perdarahan pada tempat melekat, anemia.  Infeksi berat dan menahun : Diare pd anak, sindrom disentri, anemia, BB menurun

93

94

95

96 Diagnosis  Menemukan telur dalam tinja Pengobatan ; a. Mebendazol 2x100 mg 3 hari atau a. Mebendazol 2x100 mg 3 hari atau dosis tunggal 500 mg. dosis tunggal 500 mg. b. Albendazol dosis tunggal 400mg b. Albendazol dosis tunggal 400mg c. Oksantel pirantel pamoat dosis c. Oksantel pirantel pamoat dosis tunggal 10 – 15 mg/kgBB tunggal 10 – 15 mg/kgBB

97 Epidemiologi  Penting utk penyebaran penyakit : kontaminasi tanah dengan tinja.  Telur tumbuh ditanah liat, lembab dan teduh dgn suhu ± 30 o C  Pemakaian tinja sebagai pupuk merupakan sumber infeksi  Pencegahan : pembuatan jamban, pendidikan, sanitasi, mencuci tangan, mencuci sayuran

98 Strongyloides stercoralis  Hospes : manusia  Penyakit : strongilodiasis  Distribusi : tropik dan subtropik  Morfologi dan daur hidup : cacing dewasa betina sebagai parasit di vilus duodenum dan yeyunum. cacing dewasa betina sebagai parasit di vilus duodenum dan yeyunum. Berbentuk filiform, halus, tidak berwarna Berbentuk filiform, halus, tidak berwarna panjang 2mm. panjang 2mm.

99 Strongyloides stercoralis Berkembangbiak : diduga partenogenesis. Berkembangbiak : diduga partenogenesis. Telur di mukosa usus => larva rabditiform =>rongga usus dan dikeluarkan bersama tinja. Telur di mukosa usus => larva rabditiform =>rongga usus dan dikeluarkan bersama tinja. 3 macam daur hidup : 3 macam daur hidup : 1. Siklus langsung 1. Siklus langsung 2. Siklus tidak langsung 2. Siklus tidak langsung 3. Autoinfeksi 3. Autoinfeksi

100 1. Siklus langsung  Sesudah 2 sampai 3 hari di tanah, larva rabditiform yang berukuran kira-kira 225 x 16 mikron, berubah menjadi larva filariform dengan bentuk langsing dan merupakan embentuk infektif, panjangnya kira-kira 700 mikron. Bila larva filaliform menembus kulit manusia, larva tumbuh, masuk kedalam peredaran darah vena dan kemudian melalui jantung

101

102 2. Siklus tidak langsung  Larva rabditiform ditanah → cacing jantan dan betina bentuk bebas.  betina uk 1 mm x 0,06mm jantan uk 0,75mm x 0,04mm, ekor melengkung, 2 spikulum jantan uk 0,75mm x 0,04mm, ekor melengkung, 2 spikulum  Pembuahan → telur → larva rabditiform → larva filariform → hospes baru atau mengulangi fase hidup bebas  Terjadi bila keadaan lingkungan optimum : tropik dg iklim lembab

103

104 3. Autoinfeksi Larva rabditiform → larva filariform (terjadi kadang2 di usus atau di sekitar anus ) → menembus mukosa usus atau kulit perianal → daur perkembangan Larva rabditiform → larva filariform (terjadi kadang2 di usus atau di sekitar anus ) → menembus mukosa usus atau kulit perianal → daur perkembangan Tjd pd pasien : obstipasi lama, diare menahun Tjd pd pasien : obstipasi lama, diare menahun Menyebabkan strongiloidiasis menahun Menyebabkan strongiloidiasis menahun

105

106

107 Patologi dan gejala klinis  Larva filariform menembus kulit : creeping eruption disertai gatal  Cc dewasa : kelainan mukosa usus muda  Infeksi ringan : tidak menimbulkan gejala  Infeksi sedang: sakit epigastrium tengah dan tidak menjalar,mgk mual, muntah, diare dan konstipasi  Hiperinfeksi: cc dewasa ditemukan diseluruh traktus digestivus dan larva di alat dalam ( paru, hati, kandung empedu)

108

109

110 Sering ditemukan pd orang dg gangguan imunitas dan dapat menimbulkan kematian Pemeriksaan darah : mgk eosinofilia atau hiperesinofilia Diagnosis D/pasti: menemukan larva rabditiform dlm tinja segar, biakan atau aspirasi duodenum.

111 Pengobatan DOC : albendazol 400mg satu/dua kali sehari selama 3 hari. Mebendazol : 3 x 100mg selama 2 atau 4 mgg. Prognosis Infeksi berat : dapat menyebabkan kematian

112 Epidemiologi Panas, lembab dan sanitasi kurang ; menguntungkan shg tjd daur yg tidak langsung Panas, lembab dan sanitasi kurang ; menguntungkan shg tjd daur yg tidak langsung Tanah : gembur, berpasir dan humus. Tanah : gembur, berpasir dan humus. Pencegahan : sanitasi dan melindungi kulit Pencegahan : sanitasi dan melindungi kulit penerangan ke masyarakat penerangan ke masyarakat

113 Trichostrongylus spp  Sering ditemukan pada herbivora.  Beberapa spesies ditemukan pd manusia. Siklus hidup dan morfologi  Kecil spt cacing tambang  Hidup tertanam dalam mukosa usus kecil  Infeksi; menelan larva infektif  di usus kecil jd dewasa 3-4 mgg, tanpa siklus paru

114

115 Trichostrongylus spp Telur mirip dg cacing tambang, sedikit lebih panjang dan bagian ujung lebih runcing. Tanah hangat dan lembab,telur menetas dalam 24 jam. Setelah 60 jam larva menjadi infektif

116

117 Gejala Klinis Tgt jumlah cacing dan kerusakan mukosa. Tgt jumlah cacing dan kerusakan mukosa. Perdarahan dan deskuamasi dpt tjd, tp G/K tidak nyata kecuali ada beratus cacing Perdarahan dan deskuamasi dpt tjd, tp G/K tidak nyata kecuali ada beratus cacingDiagnosis D/ pasti : menemukan telur dlm tinja D/ pasti : menemukan telur dlm tinja

118 Pengobatan Tiabendazol 25 mg/kg 2hari Tiabendazol 25 mg/kg 2hari Pirantel pamoat 11 mg/kg dosis tunggal Pirantel pamoat 11 mg/kg dosis tunggalEpidemiologi Pencegahan : mencuci dan memasak Pencegahan : mencuci dan memasak sayuran sayuran

119 5. Oxyuris vermicularis Hospes : manusia Hospes : manusia Penyakit : enterobiasis atau oksiuriasis Penyakit : enterobiasis atau oksiuriasis Distribusi geografi; kosmopolit, lebih banyak didaerah dingin krn jarang mandi dan ganti baju dalam. Penyebaran ditunjang eratnya hubungan dan lingkungan yg sesuai Distribusi geografi; kosmopolit, lebih banyak didaerah dingin krn jarang mandi dan ganti baju dalam. Penyebaran ditunjang eratnya hubungan dan lingkungan yg sesuai

120 Morfologi dan daur hidup  betina uk; 8-13 mm x0,4 mm, anterior ada pelebaran kutikulum disebut alae. Bulbus esofagus jelas. Ekor runcing.  Jantan uk; 2-5 mm, alae, ekor melingkar, spikulum jarang ditemukan  Habitat dewasa; rongga sekum, usus besar dan usus halus  Makanannya isi usus

121

122 Morfologi dan daur hidup  Cacing gravid mengandung telur, migrasi kedaerah perianal utk bertelur.  Telur jarang dikeluarkan di usus sehingga jarang ditemukan dalam tinja  Telur bentuk lonjong dan datar pd satu sisi (asimetrik ). Dinding bening. Matang ± jam  Infeksi ; menelan telur matang atau larva yg menetas di perianal migrasi kembali ke usus besar

123

124 Morfologi dan daur hidup  Telur matang yg tertelan => menetas di duodenum => larva rabditiform berubah dua kali sebelum dewasa di yeyunum dan bgn atas ileum.  Waktu utk daur hidup ; ± 2 minggu – 2 bulan  Infeksi dapat sembuh sendiri ( self limited )

125

126

127 Patologi dan gejala klinis  Iritasi sekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing gravid migrasi menyebabkan pruritus  Pruritus ani tjd malam hr => luka garuk  Cacing gravid mengembara dan dpt bersarang di vagina dan tuba Fallopii => radang

128 Diagnosis  D/ diduga pada anak yang gatal sekitar anus malam hari  D/ ; menemukan telur dan cacing dewasa  Pengobatan ; a. seluruh keluarga di obati a. seluruh keluarga di obati b. Piperazin dosis tuggal 3-4 gr (dws) b. Piperazin dosis tuggal 3-4 gr (dws) atau 25 mg/kgBB (anak) atau 25 mg/kgBB (anak)

129 Epidemiologi  Penularan dapat terjadi pada satu keluarga  Telur dapat diisolasi dr debu di sekolah, kafe dan menjadi sumber infeksi  Di rumah telur ditemukan ; di lantai, meja, kursi, bufet, toilet, bak mandi alas kasur, pakaian dan tilam.

130 Nematoda jaringan 1.Wuchereria bancrofti Hospes ; manusia Hospes ; manusia penyakit ; filariasis bankrofti atau penyakit ; filariasis bankrofti atau wukereriasis bankrofti wukereriasis bankrofti distribusi ; tersebar di daerah tropis distribusi ; tersebar di daerah tropis

131 Daur hidup dan morfologi  Dewasa jantan dan betina hidup disaluran dan kelenjar limfe, bentuk spt benang warna putih susu  betina uk; mm x 0,25 mm jantan uk; 40 mm x 0,1 mm jantan uk; 40 mm x 0,1 mm  Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria bersarung, hidup didalam darah dan terdapat di darah tepi pada waktu tertentu saja di darah tepi pada waktu tertentu saja umumnya periodisitas nokturna ; mikrofilaria hanya terdapat didalam darah tepi malam hari umumnya periodisitas nokturna ; mikrofilaria hanya terdapat didalam darah tepi malam hari

132 Daur hidup dan morfologi  Kota ; ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus  Desa ; vektornya nyamuk Anopheles atau Aedes  Mikrofilaria terisap oleh nyamuk, berubah mjd larva std 1 – III (bentuk infektif), nyamuk menggigit manusia, tumbuh larva std IV dan V (dewasa)

133 Patologi dan gejala klinis  GK/ dibagi dua ; 1. Disebabkan cacing dewasa ; limfadenitis 1. Disebabkan cacing dewasa ; limfadenitis dan limfangitis retrograt akut dan di dan limfangitis retrograt akut dan di ikuti obstruktif menahun th kmdn ikuti obstruktif menahun th kmdn 2. Mikrofilaria ; biasanya tidak menimbul 2. Mikrofilaria ; biasanya tidak menimbul kan kelainan tp kead ttt ; occult filariasis kan kelainan tp kead ttt ; occult filariasis

134 Diagnosis  D/ berdasarkan gejala klinis dan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium.  Pengobatan ; 1. dietilkarbamazin sitrat (DEC) 1. dietilkarbamazin sitrat (DEC) 2. Ivermectin 2. Ivermectin  Epidemiologi ; filariasis bankrofti dijumpai di perkotaan dan pedesaan

135 2. Brugia malayi 3.Brugia timori  Hospes Brugia malayi ; manusia dan hewan  Hospes Brugia timori ; manusia  Penyakit ; filariasis malayi filariasis timori filariasis timori kadang-kadang ; filariasis brugia kadang-kadang ; filariasis brugia  Distrib ; B.malayi di Asia termsk Indonesia  B.timori hanya di Indonesia timur; Pulau Timor, Flores, Rote, Alor dan NTT

136 Daur hidup dan morfologi  Dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan pembuluh limfe  Periodisitas B.malayi ; nokturna, subperiodik nokturna atau non periodik  B.timori ; periodik nokturna  B.malayi manusia ditularkan ; nyamuk Anopheles barbirostris  B.malayi manusia dan hewan; nyamuk Mansonia

137 Patologi dan gejala klinis  GK filariasis malayi = filariasis timori  Stad akut; demam dan peradangan saluran dan kelenjar limfe, hilang timbul berulang  Filariasis brugia, sistem limfe kelamin tidak terkena beda dgn filariasis bankrofti  Elefantiasis hanya mengenai tungkai bawah atau kadang lengan bawah

138 Diagnosis  D/ berdasarkan GK dan dibuktikan dgn mikrofilaria di darah tepi  Pengobatan ; DEC Ivermectin Ivermectin  Epidemiologi ; B.malayi dan B.timori hanya terdapat diperkotaan, karena vektornya tidak dapat berkembang biak diperkotaan

139 Trematoda  Umumnya bersifat hemafrodit kecuali cacing Schistosoma  Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes, dibg ; 1.Trematoda hati ( Fasciola hepatica ) 1.Trematoda hati ( Fasciola hepatica ) 2.Trematoda usus ( F.buski, Echinostoma ) 2.Trematoda usus ( F.buski, Echinostoma ) 3.Trematoda paru ( P.westermani ) 3.Trematoda paru ( P.westermani ) 4.Trematoda darah ( S.japonicum ) 4.Trematoda darah ( S.japonicum )

140 1. Fasciola hepatica  Hospes ; kambing dan sapi, kadang ditemukan pada manusia  Penyakit ; fasioliasis  Distribusi ; America Latin, Perancis dan negara sekitar Laut Tengah

141 Morfologi dan daur hidup  Dewasa ; bentuk pipih seperti daun, uk ± 30x13 mm  Bgn anterior spt kerucut dan puncak kerucut tdpt batil isap mulut ± 1mm, dasar kerucut tdpt batil isap perut ± 1,6 mm  Telur berukuran 140x90 mikron dikeluarkan dalam tinja dalam kead blm matang  Telur matang dalam air dan berisi mirasidium  Telur menetas => mirasidium mencari keong air  Keong air ; M => S => R1 => R2 => SK

142 Morfologi dan daur hidup  SK keluar dan mencari HP II, yaitu ; tumbuhan air, pd permukaan tumbuhan dibtk metaserkaria dibtk metaserkaria  Infeksi ; makan tumbuhan air yg mengandung metaserkaria

143 Patologi dan gejala klinis  Kerusakan parenkim hati  Peradangan saluran empedu, penebalan dan sumbatan shg menimbkan sirosis periportal  Diagnosis ; menemukan telur dalam tinja, cairan duodenum atau cairan empedu

144 2. Paragonimus westermani  Hospes : Manusia dan binatang memakan ketam atau udang  Penyakit ; paragonimiasis  Distr ;RRC, Taiwan, Korea, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand, India, Malaysia, Afrika dan Amerika Latin. Indonesia autokton pd binatang, manusia kasus impor

145 Morfologi dan daur hidup  Cacing dewasa hidup dalam kista di paru  Bentuknya lonjong menyerupai biji kopi, uk x 4-6 mm  Telur bentuk lonjong, operkulum agak tertekan kedalam, uk mikron x mikron  Telur => mirasidium => keong air; M => S => R1 => R2 => SK  Serkaria keluar keong mencari HP II ( ketam atau udang batu) membtk metaserkaria

146 Morfologi dan daur hidup  Infeksi:makan ketam/udang batu tdk masak  Dalam hospes definitif metaserkaria mjd cacing dewasa  Patologi dan gejala klinis ; batuk kering mjd batuk berdarah ( endemik hemoptisis )  Diagnosis; menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura  Pengobatan ; Prazikuantel dan bitionol  Epidemiologi ; penyakit berhub dg kebiasaan makan ketam tidak dimasak

147 3.Fasciolopsis buski  Hospes; manusia dan babi  Penyakit ; fasiolopsiasis  Distr ; RRc, Taiwan, Vietnam, Thailand, India dan Indonesia  Morfologi dan daur hidup: dewasa, uk 2- 7,5 cm dan lebar 0,8-2 cm, bentuk lonjong dan tebal  Telur ; lonjong, dinding transparan, sebuah operkulum pada sebuah kutub

148 Morfologi dan daur hidup  Mirasidium => HP1(keong air tawar)=> serkaria=> HP2 (tumbuhan air) metaserkaria  Infeksi; makan tumbuhan air mengandung metaserkaria tidak dimasak  GK; diare, nyeri ulu hati, mual, muntah  D/ pasti; menemukan telur dalam tinja  Pengobatan; diklorofen, niklosamid dan prazikuantel

149 4. Echinostoma sp  Hospes; manusia, anjing, tikus burung, ikan  Penyakit ; ekinostomiasis  Distr; Filipina, Cina Indonesia dan India  Morfologi dan daur hidup; beda dg trematoda lain => duri -duri leher 37 – 51  Dewasa; hidup di usus halus  Telur punya operkulum

150 Morfologi dan daur hidup  Mirasidium =>HP1 (keong kecil ) sporokista, redia, serkaria => HP2 (keong besar) metaserkaria  GK; biasanya ringan. Infeksi berat ; radang dinding usus atau ulserasi, diare, sakit perut, anemi dan edema  D/ menemukan telur dalam tinja.  Pengobatan; Tetrakloroetilen, prazikuantel  Epidemiologi; Keong sawah untuk konsumsi sebaiknya dimasak matang

151 5.Schistosoma japonicum  Hospes ; manusia, anjing, kucing, rusa, tikus sawah, sapi dan babi  Penyakit ; oriental schistosomiasis, skistosomiasis japonika, Katayama atau demam keong  Distr; RRC, Jepang, Filipina, Taiwan, Muangthai, Vietnam, Malaysia dan Indonesia ( hanya di Sulawesi Tengah ; Danau Lindu dan Lembah Napu )

152 Morfologi dan daur hidup  Dewasa jantan uk 1,5 cm dan betina 1,9 cm hidup di vena mesenterika superior  Telur ditemukan di dinding usus halus dan alat dalam spt; hati, paru dan otak  GK; stadium I gatal. Gejala intoksikasi demam, hepatomegali dan eosinofilia.  Stadium II; sindrom disentri  Stadium III (menahun); sirosis hati dan splenomegali

153 Diagnosis  Menemukan telur dalam tinja atau jaringan hati dan rectum  Pengobatan; niridazol 25 mg/kgBB/hr selama 10 hr  HP; keong air Oncomelania hupensis lindoensis

154 Cestoda 1.Taenia saginata (Cacing pita sapi)  Hospes definitif; manusia  Hospes perantara ; sapi, kerbau  Penyakit : teniasis saginata  Distr ; kosmopolit

155 Morfologi dan daur hidup  Cacing terdiri dr; skoleks(kepala), leher dan strobila. Panjang 4-12m. Skoleks uk 1-2mm  4 batil isap, tanpa kait  Telur melekat pd rumput bersama tinja, rumput dimakan sapi, telur menetas, masuk otot (sistiserkus bovis)  Bila manusia makan daging sapi yang kurang matang, cacing tumbuh dewasa di usus halus

156 Gejala klinis  Sakit ulu hati, mual, muntah, mencret. Gejala disertai dg ditemukannnyaproglotid  Diagnosis; ditemukannya proglotid dan telur  Pengobatan; prazikuantel dan albendazol  Epid; sering ditemukan di negara penduduknya makan daging tidak matang

157 2. Taenia solium  Cacing pita daging babi  Hospes definitif ; manusia  Hospes perantara ; manusia dan babi  Penyakit ; cacing dewasa => teniasis solium larva => sistiserkosis larva => sistiserkosis  Distr; kosmopolit, tp jarang di negara Islam

158 Morfologi dan daur hidup  Uk 2-4m, terdr skoleks, leher dan strobila  Skoleks 4 batil isap dg rostelum memp 2 baris kait  Telur => HP otot babi => manusia (usushalus)  GK; nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala.  Diagnosis ; ditemukan telur dan proglotid, telur sukar dibedakan dg T. saginata  Pengobatan; prazikuantel,albendazol, pembedahan sistiserkosis


Download ppt "PARASITOLOGI Oleh dr. Lilly Haslinda, M.Biomed Parasitologi  Ilmu yang mempelajari jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google