Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

SISTEM PENDIDIKAN TECHNOPRENEURSHIP: Menjawab Kebutuhan Lulusan Akan “Soft-Skills” Pelatihan & Workshop Pengembangan Soft Skills Melalui Proses Pembelajaran.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "SISTEM PENDIDIKAN TECHNOPRENEURSHIP: Menjawab Kebutuhan Lulusan Akan “Soft-Skills” Pelatihan & Workshop Pengembangan Soft Skills Melalui Proses Pembelajaran."— Transcript presentasi:

1 SISTEM PENDIDIKAN TECHNOPRENEURSHIP: Menjawab Kebutuhan Lulusan Akan “Soft-Skills” Pelatihan & Workshop Pengembangan Soft Skills Melalui Proses Pembelajaran Bogor, Desember 2006 Dr. Sukardi Departemen TIN, Fateta IPB

2 Apa itu “Soft-Skills” ?  Strong Work Ethic  Positive Attitude  Good Communication Skills  Time Management Abilities  Problem-Solving Skills  Acting as a Team Player  Self-Confidence  Ability to Accept and Learn from Criticism  Flexibility/Adaptability  Working Well Under Pressure Kate Lorenz, CareerBuilder.com

3 Mengapa perlu “Soft-Skills” ?  USA TODAY.COM melaporkan bahwa banyak manajer pe-recruit tenaga kerja percaya bahwa mahasiswa (lulusan) telah memiliki keterampilan teknis, tetapi umumnya mereka lemah dalam “soft-skills”.  Etos kerja, komunikasi, pengumpulan informasi, dan people skills merupakan “soft-skills” penting yang diperlukan.  Kemudian “analytical dan problem-solving skills”.

4 Mengapa “Soft-Skills” Lemah ?  Mahasiswa: Waktu masuk universitas tidak/belum memikirkan persyaratan dunia kerja. Beranggapan bahwa menjadi sarjana dengan IPK tinggi akan menjamin sukses di masa depan.  Program Pendidikan: Cenderung lebih banyak membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik daripada non-akademik.

5 Bagaimana Mengatasi Kelemahan “Soft-Skills” ?  Syracuse University mengembangkan “general skills” yang dibutuhkan dunia kerja.  Selama masa studi, para mahasiswa membangun kemampuan keterampilan yang diperlukan tersebut.  Kemampuan “soft-skills” mereka kembang- kan melalui matakuliah-matakuliah yang berorientasi pada project (project-oriented coursework), pengalaman bekerja, dan pengalaman praktek lapangan.

6 Bagaimana Mengatasi Kelemahan “Soft-Skills” …  Continuing Education Program (CEP-FTUI) menyelenggarakan program training soft-skill: Meningkatkan standar kompetensi calon pekerja dan pelaku industri Dapat diikuti oleh mahasiswa tingkat III, IV serta alumni universitas.  Program Soft-skill competence building: Leadership, Interpersonal skill, English for Business, Strategic Management, Business Development, Sales Marketing Engineering, Customer Relationship Management, Finance for Engineering.  Memberikan setifikat keahlian pada bidang-bidang engineering dan softskill yang mendukung standar kompetensi teknologi.

7 “Soft Skills” di Departemen TIN: Sistem Pendidikan Berorientasi Technopreneurship

8 Latar Belakang  Adanya gagasan untuk lebih mendekatkan TIN kepada masyarakat melalui implementasi teknologi-teknologi yang dihasilkan: Setiap tahun TIN menghasilkan kurang lebih 120 judul skripsi; implementasi masih rendah. TIN “seolah” tertinggal dalam mengembangkan teknologi yang digunakan di masyarakat (agroindustri). Pengalaman praktis TIN dalam agroindustri masih minim.

9 Latar Belakang …  Adanya keinginan Departemen untuk lebih banyak lagi menghasilkan lulusan yang bertindak sebagai penyedia kerja (job creator)  Solusi kesempatan kerja yang semakin sempit: Mereka akan bertindak sebagai pengguna teknologi TIN dan menjadi agroindustrialis ulung. Kontribusi nyata TIN dalam pembangunan agroindustri di Indonesia.

10 Latar Belakang … European Commission, 2004

11 Latar Belakang …  Perlu ditentukan mode untuk memenuhi dua hal di atas. Where we are now now Where we want to be to be

12 Mengapa Technopreneurship?  TIN telah memiliki persyaratan untuk melaksanakan pendidikan technopreneurship: Kemampuan menghasilkan teknologi. Kemampuan manajerial. Kemampuan entrepreneurial.  Infrastruktur pendukung telah dimiliki TIN melalui networking dan grants yang dimenangkan.networking

13 Persyaratan  Kurikulum  Soft skills enrichment  Infrastruktur  Metode pembelajaran  Partnership  Orientasi riset Technopreneurship drivers Mengapa Technopreneurship?

14  Entrepreneurship atau technopreneurship telah diakui di banyak negara sebagai penggerak penting perekonomian (Lihat Audretsch, 2002: Entrepreneurship: A Survey of the Literature) Entrepreneurship: A Survey of the Literature  Daya tarik entrepreneurship terhadap universitas-universitas Amerika demikian tinggi (Purdue, Chicago, Connecticut, dll: Brett et al University Spin-off Companies).  Study dari Ernst & Young (Zimmerer & Scarborough, 2002) melaporkan bahwa 78% dari orang-orang paling berpengaruh di Amerika mengatakan bahwa entrepreneurship akan menjadi trend yang menentukan di abad ini.

15 Konsep Sistem Pendidikan Technopreneurship (SPT) TIN  SPT dapat direpresentasikan dengan sebuah model sistem produksi INPUT- PROSES-OUTPUT.  Pada sistem tersebut, Input adalah Mahasiswa, Proses adalah SPT, dan Output adalah Sarjana. sarjana technopreneur  Dalam hal ini, sarjana yang akan dihasilkan adalah sarjana technopreneur.

16 Konsep Sistem Pendidikan Technopreneurship (SPT) TIN … OUTPUT INPUTPROSES Sarjana Technopreneur Mahasiswa SPT Model Sistem Produksi SPT

17 Konsep Sistem Pendidikan Technopreneurship (SPT) TIN … Sub Sistem dan Komponen SPT Sub SistemKomponen SDMDosen, Mahasiswa, Laboran, Teknisi, Pegawai Fasilitas fisikRuang kelas, laboratorium, peralatan lab, bahan praktikum, teaching industry, perusahaan partner, perpustakaan, alat bantu pengajaran, Internet ProsedurKatalog Pendidikan, SOP, SK, GBPP, SAP PerlakuanKuliah, praktikum, responsi, tugas project, PR, kunjungan industri, PL, skripsi (penelitian) PentahapanSemester Pengawasan mutuUTS, UAS, Quiz, Seminar, Ujian sarjana Jaminan MutuSistem Jaminan Mutu MetodeCurriculum delivery, metode pengajaran MaterialKurikulum, ATK, consumables, teknologi PembiayaanSponsor, partnership PendukungRoad map penelitian, networking ……

18 Konsep Sistem Pendidikan Technopreneurship (SPT) TIN …  Singapore has taken a gardener's approach to technopreneurship: If you want a flower to blossom, you must plant the seed in a favorable environment with enough water, soil, and sunlight.  Similarly, in order for technopreneurs to grow, they must have the infrastructure and resources they need.  The seed for technopreneurship essentially planted itself in Singapore when the Internet brought down the barriers to entry for business.  Since then the government has been working to ensure that the environment is ripe for technopreneurship.  Infrastructure, efficiency, and Internet access alone, however, cannot grow technopreneurs. Another necessary ingredient is an educated and affordable workforce. (David Burnett – IBM, 2000)

19 Visi Sistem Pendidikan Technopreneurial Departemen TIN IPB Tahun 100% 50% 0% 50% 100% Proporsi Job CreatorProporsi Job Seeker ??

20 Technopreneur(ship)  The term "technopreneur" has become one of the hottest buzzwords in Singapore to describe people who are willing to embrace risk and take the entrepreneurial plunge into industries ranging from IT to biotech (Burnett, 2000).  “ Technopreneurship-merging technology prowess and entrepreneurial skills- is the real source of power in today's knowledge- based economy ” (Manuel Cereijo).

21 SPT – Sarjana Technopreneur Suatu sistem pendidikan yang secara konsisten dan kontinual menghasilkan sarjana technopreneur, yaitu sarjana yang memiliki kemampuan mengaplikasikan pengetahuan teknologi, manajerial, dan entrepreneurial dalam (agro)industri atau bisnis baik sebagai owner maupun sebagai worker untuk mencapai kesejahteraan bagi dirinya maupun bagi masyarakat.

22 Implementasi SPT  Dalam implementasi SPT di TIN, semua elemen sub sistem SPT harus diarahkan untuk berkontribusi dalam mencetak, mempersiapkan, atau menghasilkan, mengevaluasi sarjana technopreneur  Menumbuhkan mindset.  Karakteristik sarjana technopreneur yang akan dihasilkan harus terdefinisi dalam quality policy sistem jaminan mutu TIN yang diketahui setiap elemen sub sistem.  Implementasi SPT di TIN dapat dilakukan dengan memodifikasi proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan.

23 Implementasi SPT …  Model implementasi SPT di NTU (Nanyang Technological University: NTU Knowledge competency building and experiential learning UW Academic program of real-life applications. Compa- nies Corporate visits: Real-life applications and entrepreneurial experiences (Silicon Valley, San Francisco, USA; Shanghai, China) Business plan for competition competing in a S$ 30,000 Evaluate IP positions and develop business concepts.

24 Implementasi SPT: Sebuah Model Foundation Creativity AssessmentAssessment: Analysis and synthesis Maturity Stages Supports CurriculumCurriculum, Staff, Teaching method, Lab facilities Teaching method Lab facilities DAT’s Research and DevelopmentDAT’s Research and Development, Library, Teaching industry, Focus group discussion, DAT networking Self financing, Partnership, other sources State-owned company, Private company, Local government, DAT, Individual (young entrepreneur), other parties Foundations to Techno-preneurship (TPB, sem.3 to sem.6) Product (Idea) Development Turning Technology into Business Feasibility Study (Raw Materials, Supplies, Market, Location, Engineering and Technology, Management, Human Resources, Financial, etc.) Business-offering Business Implementation Methods

25 Target Implementasi Sistem Pendidikan Technopreneurial Departemen TIN IPB Dengan menerapkan sistem pendidikan berorientasi technopreneurship, TIN berharap lulusannya akan memiliki: Kemampuan sebagai job seeker yang berdaya saing, Kemampuan sebagai job creator yang profesional, dan Kemampuan sebagai higher degree pursuer yang unggul.

26


Download ppt "SISTEM PENDIDIKAN TECHNOPRENEURSHIP: Menjawab Kebutuhan Lulusan Akan “Soft-Skills” Pelatihan & Workshop Pengembangan Soft Skills Melalui Proses Pembelajaran."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google