Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh: J. Purwanto Ruslam SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK PERTEMUAN 13-MPC 2 TEORI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh: J. Purwanto Ruslam SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK PERTEMUAN 13-MPC 2 TEORI."— Transcript presentasi:

1 Oleh: J. Purwanto Ruslam SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK PERTEMUAN 13-MPC 2 TEORI

2

3

4 Contoh: ›Suatu survei akan dilakukan untuk memperkirakan pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga sangat bervariasi antar rumah tangga, sehingga apabila dilakukan survei langsung ( langsung mengambil sejumlah sampel untuk diteliti), memerlukan ukuran jumlah sampel yang besar. ›Untuk menghemat biaya, jumlah sampel dapat dikurangi dengan cara melakukan survei dua fase. Fase 1, diambil sejumlah sampel untuk meneliti variabel bantu yang sangat sederhana, misalnya jumlah ART, jenis pekerjaan atau gaya hidup. Variabel bantu tersebut digunakan sebagai alat utk membuat estimator, strata, atau urutan karakteristik yang akan digunakan pada pemilihan fase 2. Pada fase 2 dipilih sampel yang relatif lebih kecil untuk meneliti variabel utama, yaitu pengeluaran rumah tangga.

5

6 Perbandingan Two Stage Sampling dan Two Phase Sampling ›Two phase sampling membutuhkan kerangka sampel elemen (ssu) yang lengkap dan mutakhir untuk keseluruhan populasi, sedangkan pada two stage sampling kerangka sampel elemen dapat diperoleh di lapangan (melalui listing atau pemutakhiran) hanya pada psu yang terpilih sebagai sampel. ›Secara umum, two stage sampling dapat diaplikasikan tanpa menggunakan variabel bantu, sedangkan pada two phase sampling akan lebih efisien jika memanfaatkan variabel bantu. ›Titik lemah dari two phase sampling adalah penarikan sampel harus menunggu hasil listing untuk keseluruhan preliminary sample selesai, sehingga memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk melengkapinya. Pada two stage sampling, penarikan sampel ssu untuk suatu psu terpilih bisa dilakukan setelah listing di psu tersebut selesai, tanpa harus menunggu selesainya listing di seluruh psu terpilih. ›Sebaliknya two phase sampling dapat meningkatkan efisiensi dengan diterapkan pada multisubject survey atau survei terintegrasi dengan tujuan antara lain efisiensi biaya dan desain.

7 Efisiensi Two Phase Sampling ›Dapat dilakukan integrasi listing untuk survei berbeda. Hasil listing sekaligus dapat digunakan untuk membentuk dua atau lebih kerangka sampel. ›Pembentukan kerangka sampel sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk keperluan multisubject survey dengan memperhatikan sifat variabel pendukung yang sesuai dengan metode sampling yang akan digunakan. ›Melakukan stratifikasi dari kerangka sampel

8 Penarikan sampel dua fase akan lebih baik apabila : - presisi lebih baik dari presisi sampel satu tahap - presisi “melebihi” kenaikan biaya untuk pengukuran variabel bantu N unit unit Two phase sampling frame usu pengukuran vbl bantu pengukuran vbl utama N unit unit sub unit Two stage sampling frame psu pembuatan frame ssu pengukuran vbl utama (psu) (ssu) (psu)

9 Contoh penarikan sampel dua fase utk = 20, = 5 pemilihan fase pertamapemilihan fase kedua

10

11

12

13

14

15

16

17 17 CONTOH APLIKASI DOUBLE SAMPLING FOR STRATIFICATION

18 18 Data dari hasil sensus menunjukkan seluruh petani di suatu wilayah kabupaten dibagi dalam 2 strata, seperti pada tabel berikut:

19 19 PENDUGA VARIANCE : ›Di mana: Juga dari fungsi biaya Sehingga dan

20 20 Penduga Variance: ›Untuk SRS dengan sampel sebanyak 100 tidak menggunakan double sampling, kita peroleh Dengan demikian, relative presisi SRS terhadap double sampling:

21 TERIMA KASIH Have A Nice Sampling


Download ppt "Oleh: J. Purwanto Ruslam SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK PERTEMUAN 13-MPC 2 TEORI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google