Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

POLITIK PENDIDIKAN: KEBUDAYAAN, KEKUASAAN DAN PEMBAHASAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "POLITIK PENDIDIKAN: KEBUDAYAAN, KEKUASAAN DAN PEMBAHASAN."— Transcript presentasi:

1

2 POLITIK PENDIDIKAN: KEBUDAYAAN, KEKUASAAN DAN PEMBAHASAN

3 Pengantar; Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire

4 Titik Tolak Filsafat Freire Situasi Penindasan Dehumanisasi Titik Tolak Filsafat Freire Terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas, karena hak-hak asasi mereka dinistakan, mereka dibuat tidak berdaya dan dibenamkan dalam kebudayaan bisu Terjadi atas diri minoritas kaum penindas, karena telah mendustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi sesamanya

5 Pandangan Freire tentang Fitrah Manusia Fitrah Manusia Sebagai Subjek dan objek Memiliki Naluri Memiliki Keterbatasan Manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan Lingkungan dunianya, sehingga Dengan pikiran dan tindakannya Ia mampu merubah dunia Dan realitas Memiliki Kesadaran Memiliki Kepribadian Memiliki Eksistensi

6 Pandangan Freire tentang Hakekat Pendidikan yang Ideal Pendidikan Orientasi Unsur yang Terlibat Pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri secara objektif dan subjektif Pengajar Pelajar Realitas Dunia Subjek sadar Objek tersadari

7 Pandangan Freire tentang Sistem Pendidikan yang Pernah Ada dan Mapan Sistem pendidikan sebagai Banking of Education Pelajar diibaratkan sebagai sumber investasi dan deposito yang diperlakukan sebagai bejana kosong. Sedangkan Guru diibaratkan sebagai investor Menciptakan nekrofili, tidak melahirkan biofili Pelajar akan menjadikan diri mereka sebagai duplikasi guru mereka dulu, dan lahirlah generasi baru manusia penindas

8 Formulasi Filsafat Pendidikan Freire Pendidikan Kaum Tertindas Pendidikan untuk pembebasan bukan untuk pengusaan (dominasi) Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia yang secara metodologis bertumpu pada prinsip-prinsip aksi dan refleksi total Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan Penjinakan sosial-budaya (social and cultural domestication) Pendidikan merangsang kearah diambilnya suatu tindakan, Kemudian tindakan tersebut direffleksikan kembali, dan dari refleksi itu diambil tindakan baru yang lebih baik, sehingga proses pendidikan merupakan daur bertindak dan berpikir

9 Daur berpikir dan bertindak Bertindak Dan seterusnya Berpikir Prinsip praxis Tindakan (action) kata = karya = PRAXIS (word) (word) Pikiran (reflection)

10 Model Pendidikan Freire Model Pendidikan Freire Pendidikan Hadap Masalah Anak didik menjadi subjek yang belajar, bertindak dan berpikir serta berbicara mengenai hasil tindakan dan pemikirannya Guru mengajukan bahan untuk dipertimbangkan oleh siswa, pertimbangan guru diuji kembali setelah dipertemukan dengan pertimbangan siswa Guru dan siswa saling belajar serta saling memanusiakan, Sehingga hubungan keduanya merupakan subjek – subjek, Bukan subjek-objek

11 DIALOGISANTI DIALOGIS Subjek (Pemimpin pembaharu, misalnya: guru) Subjek (Anggota masyarakat membaharu, misalnya: murid) Subjek (Kaum elit berkuasa) Interaksi Objek (Keadaan yang harus dipertahankan) Objek (Mayoritas kaum tertindas sebagai realitas) Objek (Realitas yang harus diperbaharui dan dirubah (sebagai objek bersama)) Humanisasi (Sebagai proses tanpa henti (sebagai tujuan)) Dehumanisasi (Berlangsungnya situasi penindasan (sebagai tujuan))

12 Penyadaran Pendidikan Kaum Tertindas Proses Penyadaran

13 Konsep Pendidikan Melek-Hurup Fungsional 1.Tahap Kodifikasi dan Dekodifikasi; merupakan tahap pendidikan melek hurup elementer dalam konteks konkret dan teoritis (melalui gambar, cerita rakyat) 2.Tahap diskusi kultural; merupakan tahap lanjutan dalam satuan kelompok-kelompok kerja kecil yang sifatnya problematis dengan menggunakan kata-kata kunci. 3.Tahap aksi kultural; merupakan tahap praxis yang sesungguhnya tindakan setiap orang atau kelompok menjadi bagian langsung dari realitas.

14 Sosok Paulo Freire Freire lahir di Recife, Braszilia tahun Meraih gelar doktor pendidikan dari Universitas Recife pada tahun Tahun bekerja sebagai konsultan UNESCO di Chili sambil menjalani masa pembuangan dan pengasingan politiknya oleh pemerintah militer Brazil. Kemudian menjadi guru besar tamu di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Harvard, serta menjabat sebagai Penasehat Ahli Kantor Pendidikan Dewan Greja Sedunia Berasal dari keluarga golongan menengah yang kemudian jatuh miskin dan tertindas. Pada usia 8 tahun bersumpah untuk mengabdikan seluruh hidupnya bagi kaum miskin dan tertindas di seluruh dunia

15 Keberadaan buku Paolo Freire sangat tepat disaat krisis pendidikan yang terjadi di Amerika

16 Sekolah telah gagal memenuhi tuntutan kapitalisme dan ekonomi pasar Krisis ini bersumber pada kemandegan perekonomian Amerika Peran Amerika kurang mewujudkan perdamaian dunia

17 Sekolah tidak lebih dari sekedar pasar yang menawarkan buruh Secara sosial berfungsi sebagai pendukung sistem ekonomi kapitalis dan dominasi tertentu Sekolah telah menjadi alat reproduksi ekonomi dan budaya

18 Memunculkan ide pembebasan (emancipatory) dari versi filsafat sekular dan religius dalam inti pemikiran kaum borjuis Memasukkan pemikiran-pemikiran yang radikal Mengkombinasikan ‘bahasa kritik’ dan ‘bahasa alternatif’ (the leanguage of possibility)

19 Menciptakan model teori pendidikan dengan mengaitkan antara teori kritis- radikal dengan tuntutan perjuangan radikal Menolak penindasan yang universal Menjelaskan dan memetakan penderitaan masyarakat dalam konteks sosial yang berbeda

20 Menjadi filsafat tentang harapan dan perlawanan dalam teologi pembebasan

21 Logika dominasi menunjukan adanya kombinasi rekayasa ideologis dan ‘material’ pada masa lalu maupun masa sekarang Freire

22 1.Menghubungan proses perlawanan masyarakat dengan karakteristik sosialnya sambil terus menerus menanamkan keyakinan untuk melawan kekuasaan yang menindas demi meraih kebebasan diri 2.Pendidikan merupakan sebuah Pilot Project dan agen untuk melakukan perubahan guna membentuk masyarakat baru (Cultural Politics) 3.Pendidikan merupakan latihan untuk memahami makna kekuasaan dan komponen yang terlibat dalam berkomunikasi tidak dalam pola kuasa menguasai

23 Pendidikan merupakan tempat: 1.Mendiskusikan masalah politik dan kekuasaan secara mendasar 2.Untuk mempertegas keyakinan secara lebih mendalam tentang manusia 3.Untuk merumuskan dan memperjuangkan masa depan

24

25 Yaitu mengkritisi teori pendidikan tradisional yang mengabaikan pentingnya hubungan antara pengetahuan, kekuasaan dan pendominasian Dan tidak memberi kesempatan untuk menumbuhkembangkan tradisi humanistik dalam memperlakukan setiap individu

26 Pada Teori pendidikan tradisional, sekolah hanya memberikan sedikit kebebasan pada peserta didik yang berasal dari kelas pekerja dan kelompok masyarakat tertindas Sekolah merupakan alat “canggih” untuk membentuk hubungan produksi kapitalisme dan melegitimasi ideologi kapitalis dalam kehidupan sehari-hari

27 Sekolah hanya melakukan transformasi dan pembentukan dominasi budaya dengan cara menggunakan dan memilih bahasa, membentuk cara berpikir, menciptakan hubungan sosial, bentuk budaya dan pengalaman tertentu

28 Dimulai dengan proses produksi yang terdiri dari bermacam-macam cara FREIRE Mengawali dan mengakhiri pembahasannya dengan logika reproduksi politik, ekonomi dan budaya SOSIOLOGI PENDIDIKAN

29

30 “Liberated Humanity”

31 Perlawanan terhadap semua bentuk penindasan Hubungan kritik ideologi dan gerakan massa Visi politik profetiknya berhutang budi pada semangat dan dinamika ideologis masyarakat

32 Analisa Freire dikatakan utopis karena menolak untuk menghindar dari resiko dan bahaya yang mengancamnya sebab dia menantang struktur kekuasaan yang dominan Visi politiknya profetis karena seharusnya manusia meyakini kekuasaan Tuhan sehingga memiliki kesadaran dan semangat untuk selalu menumpas kebatilan

33 1.Caranya menganalisa dianggap tidak relevan dengan konteks Amerika Utara, maka ia mengantisipasinya dengan menunjukkan contoh variasi pengalaman pendidikannya 2.Ia tidak pernah menyebutkan karyanya diadaptasi dari latar belakang tertentu

34

35 Kekuasaan dipandang sebagai kekuatan negatif dan positif, sifatnya dialektis Kekuasaan bekerja pada dan melalui masyarakat Kekuasaan merupakan daya dorong dari semua perilaku manusia untuk mempertahankan hidupnya dan berusaha mewujudkan cita-cita

36

37 Konservatif dan progresif “ kelompok yang tertindas berhak memiliki kebudayaan yang progresif dan revolusioner yang harus membebaskan mereka dari kekangan kelas-kelas yang mendominasi”

38 Kekhususan sosial dan sejarah Masalah-masalahnya Penderitaan Visi dan bentuk tindakan resistensi yang membentuk budaya dari kelompok subordinatif

39

40 Seorang disebut intelektual bila dengan konsisten menafsirkan dan memberi makna terhadap hidupnya di dunia Turut serta memberikan gagasan bagaimana cara memandang dunia Bersifat organik karena bukan orang luar yang menerapkan teori pada masyarakat Bergabung dan hidup bersama untuk mengkondisikan dalam proyek sosial yg radikal

41

42 Sejarah ditancapkan dalam bentuk budaya yang memaknai pembicaraan, pemikiran, pakaian dan tindakan yang menjadi subyek analisa sejarah Sejarah bersifat dialektis

43 BAB I Perilaku Belajar

44 Menulis Bibliografi Menuliskan bibliografi dimaksudkan: Merangsang keinginan pembaca Menantang pembaca Memiliki daya tarik

45 Lanjutan 3 type pembaca yang harus diperhatikan dalam menulis bibliografi : Pembaca yang menjadi sasaran Bibliografi penyusun buku Penulis bibliogafi lainnya

46 Cara mengembangkan sikap kritis dalam belajar a.Pembaca harus mengetahui peran dirinya : - Bukan karena daya piket pengarang - Serius dan analisa yang tajam - Tidak memisahkan diri dari konteks - Mengamati kebenaran fakta dalam teks - Memilah-milah komponen teks bacaan - Merenungkan dan mengaitkan dengan pengetahuan kita sebelumnya. - Timbul hasrat untuk meneliti

47 Lanjutan b.Pada dasarnya praktek belajar adalah bersikap untuk dunia: - Belajar adalah memikirkan pengalaman - Memikirkan pengalaman adalah cara terbaik untuk berpikir secara benar. - Memelihara ingin tahu sangat menguntungkan.

48 Lanjutan c.Kapan saja mempelajari sesuatu kita dituntut lebih akrab dengan bibliografi yang telah kita baca,dan juga bidang studi secara umum atau bidang studi yang kita alami. d.Perilaku belajar mengasumsikan hubungan dialektis antar pembaca dan penulis yang refleksinya dapat ditemukan dalam tema teks tersebut.

49 lanjutan e.Perilaku belajar menuntut rasa rendah hati(sense of modesty) - Jika kita rendah hati dan krisis teks yg sulitpun akan dipahami dengan baik. - Kesabaran dan komitmen yang kuat - Kualitas perilaku belajar tidak bisa di- ukur dengan jumlah halaman yang kita baca semalam atau buku yang kita baca selama satu semester.

50 Lanjutan Belajar bukanlah mengkonsumsi ide,namun menciptakan dan terus menciptakan ide.

51 Bab II Sebuah Pandangan Kritis Dalam Pemberantasan Buta Huruf

52 Pandangan Mengenai Buta Hurup Buta huruf dianggap sebagai “Racun”(poison herb) Buta huruf dianggap sebagai “penyakit” (disease) yang menular pada orang lain. Kadang-kadang buta huruf dianggap sebagai “bisul” yang menyengsarakan sehingga harus “diobati” Selain buta huruf dianggap sebagai racun, penyakit bisul yang harus diobati. Juga dianggap sebagai “Orang yang Hilang” oleh karena itu metode pemberantasannya: dapat memberikan kata-kata kepada siswa yang mengandung “makna”sehingga membuat orang menjadi cerdas. Sehingga orang yang hilang tadi bisa diselamatkan.

53 Teks dan Siswa Teks “sebuah gambar ilustrasi rumah kecil yang indah dekorasinya, juga dua orang anak yang senyum ceria serta sehat dengan tas dipundaknya sedang melambaikan tangan kepada orang tuanya sewaktu mereka akan berangkat ke sekolah. Siswa “diberikan kekuatan harapan” (misalnya, janji yang diungkapkan secara eksplisit bahwa setelah siswa menyelesaikan pelajaran ini,mereka akan mendapatkan pekerjaan).

54 Buta Huruf dan Melek Huruf Orang yang menjadi buta huruf karena kondisi yang memaksa. Dalam lingkungan tertentu, orang yang buta huruf adalah : orang yang memang tidak butuh untuk membaca. Di lingkungan yang lain, dia adalah: orang yang hak melek hurufnya dirampas. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain lewat kasus ini : 1. Dia hidup di suatu kebudayaan yang komunikasinya, jika tidak selalu, kebanyakan dilakukan secara lisan. Maka tidak ada gunanya mereka mempunyai kemampuan menulis. 2. karena hidup dalam kebudayaan tulis, maka dia yang tidak dapat membaca dianggap buta huruf. Orang menjadi buta huruf karena oleh belum datangnya kesempatan untuk belajar membaca dan menulis.

55 Pemberantasan Buta Huruf Yang Transformatif Siswa belajar berdasarkan pengalaman sosialnya dalam rangka melakukan transformasi ini merupakan cara untuk menekuni pekerjaannya masing-masing atau menciptakan dunianya sendiri melalui proses itulah mereka mengambil kesimpulan : 1.Hambatan untuk mendapat hak belajar secara langsung berasal dari rendahnya apresiasi mereka selama terhadap hasil kerja mereka sendiri. 2.Apresiasi ini merupakan cara untuk mendapatkan pengetahuan sehingga tidak beralasan kalau sampai menjadi buta huruf. 3.Kebodohan dan kepandaian seseorang itu tidak absolut, sehingga tidak seorang pun berhak mengklaim bahwa dirinya yang paling mengetahui atau mengklaim orang lain sebagai yang paling bodoh.

56 Teori dan Praktik Untuk memahami antara teori dan praktik dalam pendidikan perlu melihat hubungan antara keduanya dalam kehidupan masyarakat. Ada teori yang menjelaskan tetang kelas-kelas yang dominan secara umum, dan praktik pendidikan sebagai salah satu aspeknya dengan demikian praktik dan teori tidak bisa bersifat netral. Sebagai contoh: kelas-kelas yang dominan tidak perlu berpikir untuk menyatukan praktik dan teori ketika mereka menunda pekerjaan Secara praktik yang perlu dibicarakan secara kritis adalah kata- kata Generatif (generatif words) inilah yang membuat siswa berubah status yang dari buta huruf menjadi melek huruf, dan menjadi modal untuk membuat kalimat dengan kosa kata mereka sendiri

57 Lanjutan Disana ada sebuah kesadaran baru ketika kita mengetahui bahwa manusia pada hakikatnya, makhluk yang berbudaya karena dengan karya dan pekerjaan kita bisa dapat berubah dunia (meskipun banyak hal yang harus dilakukan dari tahapan pengenalan konsep sampai pada transformasi yang nyata. Hal ini sering didiskusikan oleh kelompok pekerja urban di Amerika Latin, di Chilli dan sebagainya,mereka berkata-berkata: “sekarang tidak ada orang hidup tanpa dunianya” sehingga bagaimana kalau semua orang akan meninggal dunia. Akan tetapi masih ada tanda kehidupan yang lain. Apakah ini masih disebut dunia?

58 Merubah dunia melalui karya, ‘memproklamasikan’, mengekspresikan dunia dan mengekspresikan dirinya sendiri, semua ini adalah perilaku manusia yang unik. Bab III Petani Sebagai Penulis Buku

59 Pendidikan dalam berbagai tingkat akan lebih dihargai jika dapat merangsang tumbuhnya keinginan manusia untuk mengekspresikan diri secara total. Hal ini yang tidak dilakukan ‘pendidikan bergaya bank’. Pendidik mengganti ekspresi diri dengan penyetoran yakni menganggap siswa sebagai modal (capitalize). Semakin efisien siswa dalam belajar berarti dia dianggap semakin terdidik.

60 Sesungguhnya masalah ini berkaitan dengan reformasi pertanian. Jika sistem latifundium (large estate) diubah menjadi asentamiento (menempatkan individu-individu sebagai penyewa awal tanah yang luas dalam perkampungan tertentu), orang berharap akan muncul bahasa dan cara baru untuk mengekspresikan pemikirannya.

61 PERAN GURU Guru seharusnya memperhatikan penyeleksian kata-kata generatif ketika menulis teks bacaan. Teks tidak boleh mendiskriminasikan wanita atau pria dalam konteks transformasi yang mereka lakukan. Tujuan teks itu tidak boleh hanya menggambarkan sesuatu yang kemudian harus dihafalkan.

62 Pendidikan seharusnya mengungkapkan kehidupan nyata yang sebenarnya bermasalah juga menghadirkan tantangan yang dihadapi siswa setiap hari. Sebuah kata dalam teks yang sedang dianalisa dapat membangkitkan diskusi yang hangat di sekitar isu asentamiento: mengatur tata kehidupan baru, masalah kesehatan, dan kebutuhan untuk mengembangkan cara yang efektif untuk menanggapi tantangan yang baru.

63 Semua ini bukan hanya menuntut keyakinan yang kuat dari para guru sebagai pihak yang berperan penting, namun juga perlunya evaluasi yang terus menerus terhadap kerja mereka. Evaluasi bukan inspeksi. Inspeksi, pendidik hanya menjadi objek pengamatan pejabat dari pusat. Kalau evaluasi, setiap orang adalah subjek yang bekerja sama dengan pejabat-pejabat itu dalam melakukan kritik dan menjaga jarak dengan kerja mereka. Evaluasi bersifat dialektis.

64 Jika dalam proses pendidikan itu ditemukan masalah,masalah itu biasanya berpangkal pada guru, bukannya kesalahan teori evaluasi yang berada di luar wilayah pendidikan. Selama berlangsungnya diskusi tentang masalah yang ada -seperti kodifikasi- guru seharusnya meminta para petani untuk menuliskan tanggapannya -dalam kalimat yang pendek atau terserah mereka- pertama-tama di papan tulis dan kemudian di atas kertas.

65 Tujuan dua tahap penulisan Tahap 1, menawarkan kepada sebuah kelompok diskusi mengenai gagasan yang ditulis oleh temannya. Agar pengalamannya dapat dimengerti, maka yang menulislah yang mengkoordinasikan diskusi ini; Tahap 2, adalah untuk mengembangkan pendapat mereka yang akan bermanfaat setelah dikumpulkan menjadi sebuah buku.

66 ‘Kodifikasi’ yang dilakukan oleh para petani bukan sekedar bantuan visual yang digunakan para pendidik untuk ‘membentuk’ kelas yang baik. Sebaliknya kodifikasi itu merupakan sebuah objek pengetahuan yang -dalam menjembatani antara pendidik dan siswanya- menyingkap tabir kehidupan.

67 Ketika ikut mengurai kodifikasi bersama-sama dengan guru-guru, berarti mereka menganalisa kehidupannya sendiri, dan dalam diskusi yang panjang mereka mengeluarkan segenap ketajaman penglihatannya terhadap diri mereka sendiri kaitannya dengan realitas objektif. Usaha seperti ini akan membantu siswa dan juga guru untuk menyelesaikan apa yang selalu penulis sebut dengan visi tentang realitas yang ‘menyatu’ dan untuk mendapatkan pemahaman tentang keseluruhannya

68 PERAN PARA SPESIALIS Sama pentingnya memberikan motivasi kepada guru dan para ahli yang terlibat dalam banyak aktivitas di dunia ke tiga -misalnya ahli agronomi, agrikultura, pegawai kesmas, pegawai administrasi, dokter hewan- untuk menganalisa diskusi yang dilakukan petani, khususnya dalam seminar.

69 Kata perjuangan (struggle), misalnya, menjadi hidup dalam diskusi itu pada asentamiento yang berbeda, khususnya mengenai perjuangan untuk mendapatkan hak tanahnya. Analisa terhadap diskusi petani dapat melengkapi rangkaian isu yang relevan dengan komunitas petani, sehingga dapat dibahas secara interdisipliner dan dapat menjadi dasar untuk merencanakan materi program pendidikan untuk mereka yang sudah melek huruf.

70 Analisa tentang dekodifikasi yang direkam memberi cahaya terang pada daerah terpencil yang nantinya akan dijadikan unit-unit belajar dalam berbagai bidang: agrikultura, kesehatan, matematika, ekologi, geografi, sejarah, ekonomi dst. Yang penting adalah bahwa setiap bidang ini selalu diselenggarakan dengan tetap menjaga keterkaitan dengan kehidupan dan pengalaman nyata petani.

71 Ketika dekodifikasi yang direkam itu ditranskripsikan, pendidik dan pimpinan komunitas petani harus menyusun sebuah buku sebagai teks yang merupakan antologi tulisan para petani. Lantas, buku-buku ini dibagikan kepada kelompok tani dari daerah lain. Dengan mempelajari teks yang mereka tulis sendiri atau yang ditulis temannya dari daerah lain, berarti para petani mempelajari sebuah wacana.

72 Akhirnya, diharapkan akan muncul usaha yang lebih serius untuk mengembangkan pendidikan yang merangsang petani agar mengekspresikan diri petani. Cara-cara seperti ini akan lebih cepat berhasil, dalam arti petani lebih cepat menangkap pelajaran baca-tulis dan kebenaran yang ada di balik kehidupan mereka.

73 BAB IV Aksi Budaya dan Reformasi Agraria

74 Aksi Budaya dan Reformasi Agraria Reformasi Agraria menuntut pemikiran yang kritis tentang sistem kehidupan masyarakat dan konsekuensi- konsekuensinya

75 lanjutan Reformasi ini mengisyaratkan keyakinan akan peningkatan produksi, namun yang harus di diskusikan adalah bagaimana memaknai dan meningkatkan produksi tersebut, sebab ada pandangan yang keliru mengatakan bahwa peningkatan produksi tidak akan tercapai jika tanpa kerjasama dengan dunia masa kini. Akibatnya petani dijadikan hanya sebagai alat produksi saja

76 Hal ini menyebabkan perubahan cara kerja tidak dianggap sebagai penciptaan sebuah dunia baru; sebuah kebudayaan dan sejarah baru yang berkebalikan dengan masa sebelumnya. Ini berarti bahwa peningkatan produksi bidang agrikultural tidak terlepas dari karakteristik kebudayaan

77 Budaya menjadi kendala dalam reformasi pertanian, sebab petani memndang dan memahami dunia menurut pola kebudayaan yang dikendalikan oleh ideologi kelompok yang dominan

78 Selanjutnya perlu dilakukan aksi vertikal dan manipulatif, melibatkan invasi budaya dan aksi yang menawarkan sintesa budaya Aksi budaya ini dimulai dengan menyelidiki tema-tema generatif dimana petani dapat melakukan refleksi dan penilaian diri secara kritis

79 Aksi budaya ini hanya akan berarti jika dihadirkan sebagai contoh pengalaman sosial secara teoritis dimana petani berperan serta

80 Akhirnya visi dan kesadaran petani memerlukan starting point yang dilakukan guru bersama petani untuk mengevaluasi secara kritis pandangan dunia mereka, sehingga keterlibatan petani dalam transformasi yang sebenarnya menjadi lebih jelas dan makin meningkat


Download ppt "POLITIK PENDIDIKAN: KEBUDAYAAN, KEKUASAAN DAN PEMBAHASAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google