Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: Perkembangan, Arah Kebijakan, dan Prospek DR. Endy Dwi Tjahjono Kepala Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik -

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: Perkembangan, Arah Kebijakan, dan Prospek DR. Endy Dwi Tjahjono Kepala Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik -"— Transcript presentasi:

1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: Perkembangan, Arah Kebijakan, dan Prospek DR. Endy Dwi Tjahjono Kepala Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik - Departemen Statistik DISAJIKAN PADA ACARA EVALUASI KURIKULUM DAN TRAINING FOR TRAINERS PENGAYAAN KEBANKSENTRALAN YOGYAKARTA, 20 MARET 2014

2 2 AGENDA AGENDA I.Teori Keseimbangan Eksternal II.Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia III.Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia IV.Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan V.Prospek dan Arah Kebijakan

3 3 I. Teori Keseimbangan Eksternal  Transaksi berjalan ditentukan oleh level disposable income dan besarnya konsumsi.  Di sisi lain, kondisi transaksi berjalan merupakan hasil dari saving-investment gap yang terjadi pada sektor swasta dan pemerintah.  Transaksi berjalan akan defisit bila konsumsi lebih tinggi dari disposable income atau level investasi melebihi tabungan.

4 4 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia  Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pd Tw. IV’13 kembali mencatat surplus $4,4 miliar setelah selama tiga triwulan sebelumnya mengalami defisit.  Perbaikan ini disumbang oleh penurunan tajam pada defisit transaksi berjalan menjadi $4,0 miliar (1,98% PDB) dari sebelumnya $8,5 miliar (3,85% PDB) dan surplus transaksi modal & finansial yg meningkat menjadi sebesar $9,2 miliar.  Dengan perkembangan tsb, cadangan devisa meningkat dari $95,7 miliar pd akhir Sept’13 menjadi $99,4 miliar pd akhir Des’13, setara dgn 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

5 5 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia  Penurunan defisit transaksi berjalan pd Tw. IV’13 terutama didukung oleh naiknya surplus neraca perdagangan barang.  Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat krn ekspor nonmigas mulai tumbuh positif (3,8% yoy) seiring pemulihan ekonomi global dan koreksi harga komoditas yg semakin terbatas. Sementara itu, impor nonmigas terkontraksi (6,6% yoy) sejalan dg moderasi perekonomian domestik dan depresiasi rupiah.  Defisit neraca perdagangan migas menyempit akibat turunnya impor migas di saat ekspor migas masih tumbuh positif. Transaksi Berjalan & Komponennya Transaksi Berjalan & Neraca Perdagangan Nonmigas Neraca Perdagangan Migas

6 6 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia  Setelah sejak Tw. II’12 terus terkontraksi, ekspor nonmigas Tw. IV’13 tumbuh 3,8% (yoy), didorong oleh peningkatan permintaan ekspor.  Di sisi lain, harga komoditas relatif lebih baik dibanding triwulan sebelumnya, meski masih mengalami penurunan.

7 7 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Perkembangan Ekspor 10 Komoditas Utama Nonmigas Volume ekspor 10 komoditas utama pd Tw. IV’13 tumbuh positif terutama dipengaruhi oleh naiknya permintaan ekspor minyak nabati, alat listrik, karet dan kayu olahan, serta TPT. Turunnya permintaan batubara dan harga komoditas yg masih tumbuh negatif menahan perbaikan kinerja ekspor komoditas utama nonmigas lebih lanjut.

8 8 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Perkembangan Ekspor Nonmigas ke 10 Negara Tujuan Utama  Perbaikan kinerja ekspor nonmigas Tw. IV’13 didukung oleh akselerasi ekspor ke China (karet mentah, bauksit, dan kertas; total pangsa 17,3%), AS (alat listrik, alas kaki, makanan olahan, udang segar; total pangsa 25,3%), India (minyak kelapa sawit, bijih tembaga, karet; pangsa 43,5%).

9 9 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Impor nonmigas Tw. IV’13 terkontraksi lebih dalam dibanding triwulan sebelumnya terutama krn turunnya volume impor barang modal. Penurunan impor nonmigas terjadi pd kelompok bahan baku dan barang modal, sementara impor brg konsumsi masih terakselerasi.

10 10 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Transaksi modal & finansial Tw. IV’13 mencatat surplus $9,2 miliar, meningkat dibandingkan surplus $5,6 miliar pd triwulan sebelumnya....terutama akibat penarikan pinjaman LN swasta & penarikan simpanan perbankan domestik di LN, yg sebagian ditempatkan pd beberapa instrumen yg disediakan Bank Indonesia. Aliran modal FDI juga tetap kuat dan secara struktur semakin kuat dlm membiayai defisit transaksi berjalan sehingga kondisi eksternal Indonesia semakin sustainable. Arus modal investasi portofolio mengalami penyusutan akibat ketidakpastian global pasca rencana pengurangan stimulus ekonomi di Amerika Serikat.

11 11 III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia  Defisit Transaksi Berjalan terjadi sejak Tw. IV’11 akibat menyusutnya surplus neraca perdagangan barang di tengah defisit neraca jasa dan pendapatan yg persisten.  Pada Tw. IV’13, defisit Transaksi Berjalan mengecil seiring meningkatnya surplus neraca perdagangan barang.

12 12 III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia  Berkurangnya surplus neraca perdagangan nonmigas di satu sisi dipengaruhi oleh ekspor yg terus menurun akibat melambatnya permintaan eksternal dan menurunnya harga komoditas.  Di sisi lain, impor pd akhirnya menurun seiring permintaan domestik yang termoderasi. Ekspor Nonmigas dan Permintaan Dunia Impor Nonmigas dan Perkembangan Harga

13 13 III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia  Produksi minyak yg terus menurun di tengah tren peningkatan konsumsi BBM mendorong tingginya impor minyak shg defisit neraca migas melebar.  Komposisi penggunaan BBM terbesar dari sektor transportasi (72%), diikuti oleh sektor layanan umum (12%), dan sektor kelistrikan (11%). Komposisi Konsumsi BBM Lifting Minyak dan Konsumsi BBM

14 14 III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia  Tingginya ketergantungan thdp penyedia jasa asing (nonresiden), terutama jasa angkutan barang (freight) impor, menyebabkan neraca jasa persisten mengalami defisit.  Jasa travel merupakan satu-satunya komponen jasa penyumbang surplus. Namun demikian, meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yg bepergian ke LN seiring bertambahnya midle income class dan low cost carrier di tengah lambatnya pertumbuhan infrastuktur pariwisata Indonesia mengakibatkan surplus jasa travel relatif stabil.  Derasnya aliran masuk modal asing ke Indonesia selain mencerminkan persepsi positif investor asing thdp fundamental ekonomi Indonesia, yg disertai dgn tingkat profitabilitas perusahaan yg masih tinggi, juga berimplikasi pada besarnya imbal hasil yg diterima investor asing shg defisit neraca pendapatan tetap tinggi. Defisit Neraca PendapatanDefisit Neraca Jasa

15 15 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan Pemerintah dan Bank Indonesia melakukan beberapa kebijakan untuk menurunkan defisit Transaksi Berjalan ke level yang sustainable.  Kebijakan Terkait Nonmigas:  Demand Restraining Peningkatan rasio GWM – LDR Kenaikan BI Rate Penurunan pertumbuhan kredit perbankan Penerapan LTV sektor properti dan otomotif Penyesuaian nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya  Shifting to domestic goods consumption / imports restaining Penerapan pajak impor barang mewah Penyesuaian nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya

16 16 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan Pemerintah dan Bank Indonesia melakukan beberapa kebijakan untuk menurunkan defisit Transaksi Berjalan ke level yang sustainable.  Kebijakan Terkait Migas: Penyesuaian harga BBM subsidi (memperbaiki struktur APBN) Kebijakan bauran energi dan penggunaan biofuel  Kebijakan Terkait Transaksi Finansial:  Capital Flows Management Pelonggaran Month Holding Period TD Valas Currency Swap  Financial Deepening Mini MRA TD Valas

17 17 V. Prospek dan Arah Kebijakan  Pemulihan ekonomi dunia masih berlanjut, terutama ditopang oleh perbaikan ekonomi negara maju. Perbaikan ekonomi negara maju akan mendorong perbaikan permintaan produk ekspor Indonesia terutama produk manufaktur. Peningkatan permintaan dunia juga akan memperbaiki harga ekspor Indonesia. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi China yg termoderasi oleh kebijakan rebalancing negara tsb akan mempengaruhi perkembangan ekspor komoditas primer pd level yg lebih terbatas.  Moderasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan berlanjut dengan komposisi yang lebih seimbang. Penyesuaian konsumsi domestik, baik dari rumah tangga maupun industri, diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2014 sbg dampak kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah selama  Ke depan, BI tetap fokus pada pengendalian inflasi sesuai target 4,5 ± 1% dan defisit transaksi berjalan pada kisaran -0,25 – 2,5% PDB. Dengan kombinasi perkembangan global dan domestik serta beberapa risiko ke depan yg masih mewarnai perkembangan perekonomian, a.l. pergantian pemerintahan, kebijakan tappering Amerika Serikat, Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan kebijakan ekonomi ketat untuk menjaga tercapainya inflasi dan keseimbangan eksternal yg sustainable melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudential.

18 18

19 19 I. Teori Keseimbangan Eksternal Keterangan: -GDP: gross domestic products -C: private consumption -G: gov’t expenditure -I: gross domestic investment -X: exports -M: imports -CA: current account -NY: net income from abroad -NCT: net current transfers -GNDY: gross national disposable income -Y: GNDY -A: absorption -S: gross saving

20 20 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Perkembangan Ekspor Nonmigas

21 21 II. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Perkembangan Impor Nonmigas

22 22 Nilai tukar memiliki pengaruh yang lebih sensitif terhadap impor dibandingkan terhadap ekspor, sebagaimana ditunjukkan oleh elastisitas NT terhadap ekspor nonmigas dan impor nonmigas masing-masing sebesar +0,11% dan -0,29%. Setiap depresiasi sebesar Rp1,000/USD dalam satu tahun akan meningkatkan ekspor nonmigas sebesar USD1,4 miliar dan menurunkan impor nonmigas sebesar USD2,8 miliar, sehingga neraca perdagangan nonmigas membaik sebesar USD4,2 miliar, dan scr total transaksi berjalan membaik USD5,4 miliar. III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia

23 23 Ekspor nonmigas lebih dipengaruhi oleh faktor permintaan luar negeri (WTV) dan faktor harga komoditi dibanding faktor nilai tukar. Impor nonmigas dipengaruhi oleh faktor nilai tukar, permintaan dalam negeri (domestic demand) dan faktor ekspor nonmigas. III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia

24 24 III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia Faktor Determinan Konsumsi BBM Konsumsi BBM dipengaruhi oleh faktor permintaan dalam negeri (PDB domestik) dan harga BBM dengan elastisitas masing-masing 0,87 dan -0,17. Dari hasil simulasi, kenaikan harga BBM sebesar Rp1000/liter akan berdampak pada penurunan konsumsi BBM sebesar 9,21 juta barel dalam satu tahun, sehingga mendorong perbaikan neraca perdagangan minyak sebesar USD1,0 miliar.

25 25 III. Faktor Determinan Defisit Transaksi Berjalan di Indonesia Transmisi Skenario Fixed Subsidy Terhadap NPI  Fixed Subsidy/kenaikan harga BBM berdampak pada penurunan konsumsi BBM. Trade Balance Migas membaik sehingga mendorong penurunan defisit Transaksi Berjalan.  Peningkatan harga (inflasi) juga mendorong turunnya konsumsi dan investasi yang menyebabkan FDI dan investasi lainnya turun. Namun defisit fiskal yg membaik akibat penurunan subsidi dan BI rate yg meningkat mampu menarik aliran masuk investasi portofolio yg lebih besar sehingga TMF membaik.  Secara keseluruhan, penerapan fixed subsidy/kenaikan BBM akan memperbaiki overall balance NPI sehingga mendorong peningkatan cadangan devisa dan menurunkan beban intervensi.

26 26 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan Bank Indonesia Sempurnakan Ketentuan Transaksi Swap Lindung Nilai (30 Desember 2013) Bank Indonesia (BI) melakukan penyempurnaan ketentuan terkait Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia dengan menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.15/17/PBI/2013 yang akan berlaku tanggal 3 Februari Transaksi Swap Lindung Nilai kepada BI adalah transaksi swap beli bank dalam valuta asing terhadap Rupiah, dalam rangka lindung nilai yang dilakukan antara bank dengan BI. Penyediaan instrumen swap lindung nilai bagi pelaku pasar domestik tersebut merupakan upaya BI dalam memperdalam pasar valas domestik dimana instrumen swap jangka menengah-panjang masih terbatas. Hal ini ditujukan untuk meminimalkan risiko nilai tukar dan meningkatkan kegiatan investasi di Indonesia. Beberapa penyempurnaan yang diatur dalam PBI tersebut antara lain mengenai perluasan cakupan underlying transaksi, perpanjangan tenor transaksi dan setelmen secara netting, pricing, mekanisme transaksi dan dokumentasi transaksi. Dengan penyempurnaan ini, kontrak lindung nilai dapat dilakukan dengan jangka waktu hingga 3 (tiga) tahun yang dilaksanakan melalui Transaksi Swap Lindung Nilai kepada BI dengan tenor 3 (tiga), 6 (enam), atau 12 (dua belas) bulan. Transaksi tersebut dapat diperpanjang dengan penyelesaian secara netting. Melalui transaksi tersebut, bank dapat melakukan aktivitas lindung nilai atas kegiatan ekonomi baik atas nama nasabah maupun atas nama Bank. PBI ini mencabut PBI No.7/36/PBI/2005 dan akan direview dari waktu ke waktu menyesuaikan perkembangan pasar valas domestik.

27 27 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan Penyempurnakan Aturan Rasio LTV/FTV Untuk Stabilitas Sistem Keuangan dan Ketahanan Perbankan (25 September 2013)

28 28 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan Langkah-Langkah Lanjutan Penguatan Bauran Kebijakan Bank Indonesia untuk Pengendalian Inflasi, Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah, dan Penurunan Defisit Transaksi Berjalan (29 Agustus 2013) 1.Untuk menambah keragaman tenor dan memenuhi kebutuhan pengelolaan liquiditas valas, lelang Term Deposit (TD) valas dengan tenor overnight (o/n) sudah dimulai sejak hari ini, di samping tenor 7, 14, dan 30 hari yang selama ini telah ada. 2.Bank Indonesia melakukan lelang Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dengan tenor 1 dan 3 bulan. Seperti diumumkan sebelumnya, SDBI adalah instrumen moneter Bank Indonesia dapat diperdagangkan antar-bank di dalam negeri. Selain itu, Bank Indonesia juga mempunyai instrumen term-repo dengan underlying SBI dan SBN yang sewaktu-waktu dapat dilakukan untuk mengantisipasi risiko kemungkinan terjadinya tekanan dan keketatan likuiditas di pasar uang secara industri perbankan. 3.Memperkuat kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan kredit dan manajemen risiko perbankan. Sebagai tindak lanjut keputusan RDG sebelumnya, penguatan ketentuan Loan-to-Value (LTV) terhadap tipe-tipe tertentu kredit kepemilikan rumah dan apartemen akan diberlakukan dalam waktu dekat. Langkah-langkah pengawasan (supervisory action) terhadap bank-bank yang penyaluran kreditnya masih tinggi juga dilakukan. Untuk memperkuat manajemen risiko likuiditas perbankan, dilakukan penguatan ketentuan GWM-LDR dan GWM Sekunder. Bank Indonesia juga akan memperhitungkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) sebagai komponen Giro Wajib Minimum (GWM) Sekunder.

29 29 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan Kebijakan Untuk Meningkatkan Pasokan Valas Secara Lebih Efektif dan Dalam Rangka Pendalaman Pasar Keuangan (23 Agustus 2013). 1.Memperluas jangka waktu Term Deposit Valas yang saat ini 7, 14, dan 30 hari menjadi 1 hari s.d. 12 bulan. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan keragaman tenor penempatan devisa oleh bank umum di Bank Indonesia. 2.Merelaksasi ketentuan pembelian valas bagi eksportir yang telah melakukan penjualan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Kebijakan ini bertujuan memberikan kemudahan bagi eksportir melakukan pembelian valas dengan menggunakan underlying dokumen penjualan valas. 3.Menyesuaikan ketentuan transaksi forex Swap bank dengan Bank Indonesia yang diperlakukan sebagai pass-on transaksi bank dengan pihak terkait. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kedalaman transaksi derivatif. 4.Merelaksasi ketentuan utang luar negeri (ULN), dengan menambah jenis pengecualian ULN jangka pendek bank, berupa giro rupiah (VOSTRO) milik bukan penduduk yang menampung dana hasil divestasi yang berasal dari hasil penyertaan langsung, pembelian saham dan/atau obligasi korporasi Indonesia serta Surat Berharga Negara (SBN). Kebijakan ini bertujuan mengelola permintaan valas oleh nonresiden tanpa mengurangi aspek kehati-hatian bank dalam melakukan pinjaman luar negeri. 5.Menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI). Kebijakan ini bertujuan memberikan ruang yang lebih luas bagi perbankan untuk mengelola likuiditas rupiah melalui instrumen yang dapat diperdagangkan, yang pada gilirannya dapat mendorong pendalaman pasar uang.

30 30 IV. Kebijakan untuk Menurunkan Defisit Transaksi Berjalan FX Swap Surat Edaran No. 15/24/DPM tanggal 5 Juli 2013 Perihal Perubahan Kelima Atas Surat Edaran Bank Indonesia No.12/18/DPM Perihal Operasi Pasar Terbuka Tujuan : 1.FX swap merupakan bagian penguatan operasi moneter Bank Indonesia untuk pengelolaan likuiditas valas dan rupiah di pasar. 2.Dimaksudkan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) bagi investor maupun pengusaha terhadap risiko pergerakan nilai tukar Rupiah atas kebutuhan likuiditas valas dan rupiahnya. 3.Merupakan salah satu upaya Bank Indonesia dalam mendorong pendalaman pasar melalui pembentukan harga yang lebih efisien dan transparan, serta pengayaan instrumen, sehingga pelaku pasar tidak hanya bergantung pada instrumen cash market dalam pengelolaan likuiditasnya.” Lelang Perdana pada tanggal 18 Juli 2013


Download ppt "NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: Perkembangan, Arah Kebijakan, dan Prospek DR. Endy Dwi Tjahjono Kepala Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik -"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google