Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Asih Rahayu,drh,M.kes. Laboratorium mikrobiologi Fak. Kedokteran Universitas wijaya kusuma surabaya.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Asih Rahayu,drh,M.kes. Laboratorium mikrobiologi Fak. Kedokteran Universitas wijaya kusuma surabaya."— Transcript presentasi:

1 Asih Rahayu,drh,M.kes. Laboratorium mikrobiologi Fak. Kedokteran Universitas wijaya kusuma surabaya

2 Definisi : Mikologi /mycology : ilmu tentang jamur / fungi ( Greek /Yunani :Mykos = mushroom = jamur ; logos = ilmu) Mikologi /mycology : ilmu tentang jamur / fungi ( Greek /Yunani :Mykos = mushroom = jamur ; logos = ilmu) Terdapat ratusan ribu spesies jamur di alam yang penggolongannya sangat variatif : dapat berdasarkan struktur, sifat fisiologis, cara reproduksi, penyakit yang ditimbulkan dsb.  membingungkan ! Terdapat ratusan ribu spesies jamur di alam yang penggolongannya sangat variatif : dapat berdasarkan struktur, sifat fisiologis, cara reproduksi, penyakit yang ditimbulkan dsb.  membingungkan ! Diperkirakan hanya sekitar 300 spesies yang patogen bagi hewan dan manusia Diperkirakan hanya sekitar 300 spesies yang patogen bagi hewan dan manusia Dari beberapa kepustakaan menyebutkan angka yang sangat variatif karena ternyata banyak peneliti / ilmuwan memberikan nama yang berbeda pada obyek yang sama Dari beberapa kepustakaan menyebutkan angka yang sangat variatif karena ternyata banyak peneliti / ilmuwan memberikan nama yang berbeda pada obyek yang sama

3 Fungi / jamur Sistim Kingdom : Animal & PLANT Sistim Kingdom : Animal & PLANT Phylum:I. Tracheophyta Phylum:I. Tracheophyta II. Bryophyta III.THALLOPHYTA Sub phylum: 1. Algae Sub phylum: 1. Algae 2. FUNGI Class :a. Schizomycetes  BAKTERI Class :a. Schizomycetes  BAKTERI b. EUMYCETES  JAMUR Sistim Haeckel : PROTISTA : Sistim Haeckel : PROTISTA : 1. Lower protista / Procaryotic  bakteri 2. Higher Protista / Eucaryotic  jamur

4 Morfologi : Terdiri dari 2 jenis : 1. Yeast / khamir : Unicellular growth of fungi Koloni halus mirip koloni bakteri Spheris (bulat) sampai ellips (oval) Diameter 3-15 µm Reproduksi umumnya dengan budding (tunas), walaupun ada yang binnary fission

5 Jenis yeast electron microscope

6 Struktur yeast skema

7 Jenis yeast mikroskopis

8

9 Proses budding : Proses budding : 1. didahului di bagian tertentu (spesific point) dari dinding selnya 2. Terdapat tekanan dari dalam sel pada daerah tersebut kemudian akan membengkak seperti balon menuju ke arah luar 3. Pembengkaan tsb semakin besar dan membentuk semacam tunas baru diikuti pembagian inti sel secara mitosis kemudian progeny nucleus migrasi ke tunas baru 4. Dinding sel masing – masing tunas akan berkembang bersama & melekat satu dengan yang lainnya 5. Setelah pembentukan tunas sempurna, kedua sel akan memisah dan pada bekas perlekatannya masih terdapat scar (bud scar)

10 Budding skema

11

12

13 Budding Electron microscope

14 Jenis yeast Electron microscope

15 Apabila terjdi kegagalan memisah maka terlihat seperti bentukan rantai yang terdiri dari tunas yeast yang bulat (chains of spherical yeast) Apabila terjdi kegagalan memisah maka terlihat seperti bentukan rantai yang terdiri dari tunas yeast yang bulat (chains of spherical yeast) Beberapa spesies yeast secara khas dapat memproduksi tunas yang gagal memisah dan menjadi panjang sehingga terlihat seperti rantai yang terdiri dari tunas yeast yang memanjang mirip hyphae dan disebut sebagai pseudohyphae ( eg : Candida spp) Beberapa spesies yeast secara khas dapat memproduksi tunas yang gagal memisah dan menjadi panjang sehingga terlihat seperti rantai yang terdiri dari tunas yeast yang memanjang mirip hyphae dan disebut sebagai pseudohyphae ( eg : Candida spp)

16 Pseudohyphae mikroskopis

17

18

19

20 Pseudohyphae di bawah mikroskop

21 2.Mold = mould / kapang Multiseluler growth of fungi Filamentous colonies Mempunyai hyphae (single : hypha) Hyphae sangat banyak dan saling bertumpukan membentuk massa yang disebut mycelia (single : mycelium) Terdapat 2 tipe hyphae : septate hyphae & aseptate hyphae Note : sitoplasma dari septate hyphae saling berhubungan melalui coenocyte

22 Jenis mold makroskopis

23 Jenis mold mikroskopis

24 Septate hyphae skema

25 Septate hyphae mikroskopis

26 Aseptate hyphae skema

27 Fungi ini bila tumbuh pada media, myceliumnya akan menembus media dan membentuk anchor ( semacam “akar” ) sebagai tempat perlekatan yg. disebut sebagai vegetative /substrate hyphae. Pada bagian atas juga terdapat mycelia yang disebut sebagai reproductive / aerial hyphae Fungi ini bila tumbuh pada media, myceliumnya akan menembus media dan membentuk anchor ( semacam “akar” ) sebagai tempat perlekatan yg. disebut sebagai vegetative /substrate hyphae. Pada bagian atas juga terdapat mycelia yang disebut sebagai reproductive / aerial hyphae Fungi ini biasanya diindentifikasi berdasarkan pemeriksaan morfologinya Fungi ini biasanya diindentifikasi berdasarkan pemeriksaan morfologinya Pemeriksaan morfologi ada 2 macam yaitu makroskopis dan mikroskopis Pemeriksaan morfologi ada 2 macam yaitu makroskopis dan mikroskopis

28 Pemeriksaan makroskopis : melihat bentuk dan ciri – ciri koloni fungi pada media / kultur ( misalnya tampakan permukaan koloni : seperti kapas, beludru,berbutir dsb atau tampakan warna / pigmentasi koloni dari permukaan & dasar ) Pemeriksaan makroskopis : melihat bentuk dan ciri – ciri koloni fungi pada media / kultur ( misalnya tampakan permukaan koloni : seperti kapas, beludru,berbutir dsb atau tampakan warna / pigmentasi koloni dari permukaan & dasar ) Pemeriksaan mikroskopis : secara langsung dari penderita & dari hasil kultur / biakan Pemeriksaan mikroskopis : secara langsung dari penderita & dari hasil kultur / biakan

29 Contoh biakan jamur pada media

30 Contoh biakan jamur : Aspergillus niger pada Saboroud Dextrose Agar

31 FUNGI DIMORFIK Selain fungi bentuk yeast dan mold, beberapa spesies fungi menunjukkan bentuk dimorfik Selain fungi bentuk yeast dan mold, beberapa spesies fungi menunjukkan bentuk dimorfik Fungi ini tumbuh dengan 2 macam bentuk : yeast dan mold dalam 2 kondisi lingkung- an yang berbeda Fungi ini tumbuh dengan 2 macam bentuk : yeast dan mold dalam 2 kondisi lingkung- an yang berbeda Beberapa Fungi patogen manusia ini akan berbentuk yeast bila suhu lingkungannya sekitar 37 º C dan berbentuk mold bila temperatur lingkungannya sekitar º C. Fungi dimorfik lain (non patogen for human ) ada yang morfogenesisnya karena pengaruh nutrien, karbondioksida dll. Beberapa Fungi patogen manusia ini akan berbentuk yeast bila suhu lingkungannya sekitar 37 º C dan berbentuk mold bila temperatur lingkungannya sekitar º C. Fungi dimorfik lain (non patogen for human ) ada yang morfogenesisnya karena pengaruh nutrien, karbondioksida dll.

32

33

34 Struktur sel : Cell wall : mengandung chitin, chitosan, cellulosa, glucan, mannan  antigenic Cell wall : mengandung chitin, chitosan, cellulosa, glucan, mannan  antigenic Cel membrane : bilayer = higher eucar- yotic. Mengandung sterol (beda dengan bakteri / kecuali mycoplasma) berupa ergosterol dan zymosterol (beda dengan mammalia : cholesterol)  obat antimikotik toxis terhadap sel human Cel membrane : bilayer = higher eucar- yotic. Mengandung sterol (beda dengan bakteri / kecuali mycoplasma) berupa ergosterol dan zymosterol (beda dengan mammalia : cholesterol)  obat antimikotik toxis terhadap sel human Cytoplasma : Endoplasmic Reticulum, nuclei, nucleoli, vacuola, mitochondria etc. Cytoplasma : Endoplasmic Reticulum, nuclei, nucleoli, vacuola, mitochondria etc.

35 Habitat : Natural habitat kebanyakan fungi adalah air, tanah, bahan – bahan organik Natural habitat kebanyakan fungi adalah air, tanah, bahan – bahan organik Fungi ada yang obligat aerob dan fakulta- tive aerob Fungi ada yang obligat aerob dan fakulta- tive aerob

36 Reproduksi : Secara : seksual, aseksual Secara : seksual, aseksual Seksual : pola sama dengan higher eucaryotic (plasmogamy, karyogami, meiosis)  spora Seksual : pola sama dengan higher eucaryotic (plasmogamy, karyogami, meiosis)  spora Aseksual : vegetative / fragmentasi hyphae  conidia Aseksual : vegetative / fragmentasi hyphae  conidia

37

38 Klasifikasi : Untuk mikologi kedokteran : Tidak penting diklasifikasikan berdasarkan taxa ( karena fungi patogen hanya sedikit spesies dari ribuan spesies yang tersebar dalam banyak famili) Untuk mikologi kedokteran : Tidak penting diklasifikasikan berdasarkan taxa ( karena fungi patogen hanya sedikit spesies dari ribuan spesies yang tersebar dalam banyak famili) Klasifikasi lebih bermakna berdasarkan site of infection Klasifikasi lebih bermakna berdasarkan site of infection

39 Klasifikasi fungi patogen for human Site of infection : 1. Superficial mycosis / cutaneus my- cosis 2. Subcutaneus mycosis 3. Systemic mycosis 4. Opportunistic mycosis

40 Jenis penyakit yang disebabkan jamur /fungi: 1. Fungus allergi 2. Mycotoxicosis & mycetismus 3. Mycosis

41 Fungus allergi: Tractus Respiratorius peka terhadap spora jamur atau bagian lain dari jamur yang bersifat potent allergen Tractus Respiratorius peka terhadap spora jamur atau bagian lain dari jamur yang bersifat potent allergen

42 Mycotoxicosis & mycetismus: Mycotoxicosis Adalah penyakit yang timbul akibat mycotoxin (toksin yang dihasilkan dari proses metabolisme fungi) yang ikut termakan bersama makanan Mycotoxicosis Adalah penyakit yang timbul akibat mycotoxin (toksin yang dihasilkan dari proses metabolisme fungi) yang ikut termakan bersama makanan Note: Beda dengan keracunan akibat makan jamur/mushroom  (jamur membentuk endotoxin)  disebut mycetismus Note: Beda dengan keracunan akibat makan jamur/mushroom  (jamur membentuk endotoxin)  disebut mycetismus

43 Contoh mycotoxin : Contoh mycotoxin : Afla toxin : dihasilkan oleh Aspergillus flavus. Jamur ini sering mencemari kacang-kacangan Afla toxin : dihasilkan oleh Aspergillus flavus. Jamur ini sering mencemari kacang-kacangan Ochratoxin A : dihasilkan oleh Penicillium viridicatum Ochratoxin A : dihasilkan oleh Penicillium viridicatum Zearalenone : dihasilkan oleh Fusarium Zearalenone : dihasilkan oleh Fusarium Patulin : dihasilkan olehAspergillus clavatus Patulin : dihasilkan olehAspergillus clavatus Alimentary toxic aleukia : dihasilkan oleh Fusarium sporotrichoides. Jamur ini sering mencemari gandum Alimentary toxic aleukia : dihasilkan oleh Fusarium sporotrichoides. Jamur ini sering mencemari gandum

44 Gejala : Acut dan chronis tergantung jenis dan jumlah toxin yang terkonsumsi Acut dan chronis tergantung jenis dan jumlah toxin yang terkonsumsi Mycetismus : biasanya acut & menye- babkan kematian Mycetismus : biasanya acut & menye- babkan kematian Mycotoxicosis : biasanya chronis (eg:aflatoxin)  Hepatoma, nekrosis he- par, fibrosis, kelainan neoplastik. Tetapi ada yg acut (eg:alimentary toxic aleukia ) Mycotoxicosis : biasanya chronis (eg:aflatoxin)  Hepatoma, nekrosis he- par, fibrosis, kelainan neoplastik. Tetapi ada yg acut (eg:alimentary toxic aleukia )

45 Mycosis pada Immunocompromised host : Dapat disebabkan oleh jamur sapro- fit, opportunistik maupun patogen Dapat disebabkan oleh jamur sapro- fit, opportunistik maupun patogen Cara infeksi biasanya melalui : inhalasi spora, sedangkan jamur sa- profit / opportunistik dapat menem- bus mucosa dan secara hematogen menyebar ke organ dalam Cara infeksi biasanya melalui : inhalasi spora, sedangkan jamur sa- profit / opportunistik dapat menem- bus mucosa dan secara hematogen menyebar ke organ dalam

46 Superficial / cutaneus Mycosis : Penyakit ini mengenai lapisan permukaan kulit / yang mengandung keratin : stratum corneum, rambut dan kuku Penyakit ini mengenai lapisan permukaan kulit / yang mengandung keratin : stratum corneum, rambut dan kuku Dibagi menjadi 2 kelompok : Dibagi menjadi 2 kelompok :  Non dermatophyte ( eg :tinea versi- color, otomycosis, Black piedra, White piedra, onimycosis)  Dermatophytes (dermatophytosis)

47 Pityriasis versicolor : =PANU =PANU Disebabkan oleh Malassezia furfur (flora normal kulit yang tumbuh ber- lebihan) Disebabkan oleh Malassezia furfur (flora normal kulit yang tumbuh ber- lebihan) Tumbuh dalam stratum corneum be- rupa kelompok sel bulat, bertunas, dinding tebal, hifa pendek dan bengkok Tumbuh dalam stratum corneum be- rupa kelompok sel bulat, bertunas, dinding tebal, hifa pendek dan bengkok

48

49

50

51

52 Lesi dimulai berupa bercak tipis dan kecil yang selanjutnya banyak dan menyebar disertai sisik Lesi dimulai berupa bercak tipis dan kecil yang selanjutnya banyak dan menyebar disertai sisik Lesi tampak jelas. Pada kulit gelap: bercak berupa hipopigmentasi, pada kulit terang :bercak berupa hiperpigmentasi  versicolor Lesi tampak jelas. Pada kulit gelap: bercak berupa hipopigmentasi, pada kulit terang :bercak berupa hiperpigmentasi  versicolor Kadang terasa gatal bila berkeringat Kadang terasa gatal bila berkeringat Dengan Wood’s lamp (UV)  wood’s light positif (fluoresensi hijau kebiruan) Dengan Wood’s lamp (UV)  wood’s light positif (fluoresensi hijau kebiruan)

53

54

55 Pemeriksaan lab : direct dengan bahan scraping kulit (dapat dengan cellotape) + KOH 10%  mikroskopis : tampak spora berkelompok + hyphae pendek berkelompok Pemeriksaan lab : direct dengan bahan scraping kulit (dapat dengan cellotape) + KOH 10%  mikroskopis : tampak spora berkelompok + hyphae pendek berkelompok Terapi: tergantung luas / tidaknya daerah terkena Terapi: tergantung luas / tidaknya daerah terkena lokal / topikal dengan salicyl spiritus tinc- ture atau salep derivat imidazol (miko- nazol, isokonazol, klotrimazol, ekonazol) & tolnaftat salep/tincture lokal / topikal dengan salicyl spiritus tinc- ture atau salep derivat imidazol (miko- nazol, isokonazol, klotrimazol, ekonazol) & tolnaftat salep/tincture

56 Sistemik /oral : ketonazol Sistemik /oral : ketonazol Pencegahan reinfeksi : perebusan pakaian Pencegahan reinfeksi : perebusan pakaian Epidemiologi: kosmopolitan terutama di daerah tropis. Penyebaran penyakit ini melalui kontak dan ada faktor lainnya (ada individu yang mudah terinfeksi & ada yang sulit terinfeksi) Epidemiologi: kosmopolitan terutama di daerah tropis. Penyebaran penyakit ini melalui kontak dan ada faktor lainnya (ada individu yang mudah terinfeksi & ada yang sulit terinfeksi)

57 Otomycosis : Infeksi fungi pada liang telinga Infeksi fungi pada liang telinga Disebabkan oleh :Aspergillus, Penicillium, Mucor, Rhyzopus, Candida Disebabkan oleh :Aspergillus, Penicillium, Mucor, Rhyzopus, Candida Bersifat acut dan chronis Bersifat acut dan chronis Gejala berupa rasa “penuh” pada telinga akibat pertumbuhan jamur Gejala berupa rasa “penuh” pada telinga akibat pertumbuhan jamur Sering terjadi infeksi sekunder oleh bakteri  gatal & nyeri Sering terjadi infeksi sekunder oleh bakteri  gatal & nyeri

58

59

60

61 Diagnosa : serumen atau kulit liang telinga diambil dengan cottonswab steril  direct mikroskopis+KOH 10% : hyphae dan spora Diagnosa : serumen atau kulit liang telinga diambil dengan cottonswab steril  direct mikroskopis+KOH 10% : hyphae dan spora Dapat dibiakkan pada Saboroud Dextrosa Agar  identifikasi spesies jamur Dapat dibiakkan pada Saboroud Dextrosa Agar  identifikasi spesies jamur Terapi : pengeluaran kotoran telinga, irigasi & topikal antimikotik Terapi : pengeluaran kotoran telinga, irigasi & topikal antimikotik Epidemiologi: kosmopolitan, kebiasaan mengorek telinga dan serumen yang basah merupakan faktor predisposisi Epidemiologi: kosmopolitan, kebiasaan mengorek telinga dan serumen yang basah merupakan faktor predisposisi

62 Piedra: Piedra = batu Piedra = batu Infeksi jamur pada rambut Infeksi jamur pada rambut Terdiri dari piedra putih & piedra hitam Terdiri dari piedra putih & piedra hitam

63 White piedra: Disebabkan oleh :Trichosporon beigelii Disebabkan oleh :Trichosporon beigelii Infeksi pada rambut ketiak & pubis, kadang pada kepala, jenggot & kumis Infeksi pada rambut ketiak & pubis, kadang pada kepala, jenggot & kumis Epidemiologi : jarang ditemukan. Terutama di iklim sedang / dingin Epidemiologi : jarang ditemukan. Terutama di iklim sedang / dingin Gejala : rambut terdapat benjolan warna putih & lunak Gejala : rambut terdapat benjolan warna putih & lunak Diagnosa : direct mikroskopis dari benjolan + KOH 10%  hyphae tak berwarna atau putih kekuningan Diagnosa : direct mikroskopis dari benjolan + KOH 10%  hyphae tak berwarna atau putih kekuningan Terapi :potong rambut, cuci dengan sublimat 1/2000 atau shampo ketonazol Terapi :potong rambut, cuci dengan sublimat 1/2000 atau shampo ketonazol

64

65

66

67

68 Black piedra: Disebabkan oleh Piedraia hortai Disebabkan oleh Piedraia hortai Infeksi pada rambut kepala Infeksi pada rambut kepala Epidemiologi : di daerah tropik, menular melalui kontak (sisir, alat potong rambut dll) Epidemiologi : di daerah tropik, menular melalui kontak (sisir, alat potong rambut dll) Gejala : terdapat benjolan yang keras & berwarna coklat / hitam, sulit dilepaskan, rambut mudah patah & berbunyi bila disisir Gejala : terdapat benjolan yang keras & berwarna coklat / hitam, sulit dilepaskan, rambut mudah patah & berbunyi bila disisir Diagnosis : benjolan  direct mikroskopis + KOH 10%  hyphae warna tengguli + ascus warna jernih mengandung 2-8 ascospora Diagnosis : benjolan  direct mikroskopis + KOH 10%  hyphae warna tengguli + ascus warna jernih mengandung 2-8 ascospora Terapi: Potong rambut, cuci setiap hari dengan sublimat 1/2000 atau shampo antimikotik Terapi: Potong rambut, cuci setiap hari dengan sublimat 1/2000 atau shampo antimikotik

69

70

71

72

73 Onimycosis: Infeksi pada kuku Infeksi pada kuku Disebabkan oleh :Candida, Fusarium, Cephalosporium, Scopulariopsis, Aspergillus etc. & dermatophyte (dibahas tersendiri = tinea unguium) Disebabkan oleh :Candida, Fusarium, Cephalosporium, Scopulariopsis, Aspergillus etc. & dermatophyte (dibahas tersendiri = tinea unguium) Epidemiologi: kosmopolitan, dapat kompleks ( mikosis di bagian tubuh yang lain) Epidemiologi: kosmopolitan, dapat kompleks ( mikosis di bagian tubuh yang lain)

74 Gejala : Dapat terjadi pada satu kuku atau lebih, permukaan kuku tak rata, tak mengkilat, kuku rapuh, kuku mengeras. Dapat dimulai dari distal atau proximal. Bila disebabkan oleh Conidia seringkali disertai paronikia( radang jaringan sekitar Kuku) Gejala : Dapat terjadi pada satu kuku atau lebih, permukaan kuku tak rata, tak mengkilat, kuku rapuh, kuku mengeras. Dapat dimulai dari distal atau proximal. Bila disebabkan oleh Conidia seringkali disertai paronikia( radang jaringan sekitar Kuku) Diagnosis : Direct mikroskopis  scraping kuku + KOH 10%  hyphae atau spora atau yeast.Perlu kultur lenih lanjut untuk menentukan jenis fungi. Diagnosis : Direct mikroskopis  scraping kuku + KOH 10%  hyphae atau spora atau yeast.Perlu kultur lenih lanjut untuk menentukan jenis fungi.

75 Terapi : lama ( 6 bulan) karena perlu pergantian kuku. Terapi : lama ( 6 bulan) karena perlu pergantian kuku. Obat sebaiknya bentuk cairan supaya mudah masuk rongga kuku yang rusak (dengan derivat azol) Obat sebaiknya bentuk cairan supaya mudah masuk rongga kuku yang rusak (dengan derivat azol) Kuku dipotong / dibuang / pencabutan Kuku dipotong / dibuang / pencabutan Per oral : derivat azol Per oral : derivat azol

76

77

78

79 DERMATOPHYTOSIS Dermatophytosis = tinea ( Romawi )  diduga disebabkan larva cacing  tinea (English = worm) Dermatophytosis = tinea ( Romawi )  diduga disebabkan larva cacing  tinea (English = worm) Dermatophytosis = herpes circinata (Greek/Yunani)  bentuk kelainannya berupa lingkaran yang makin lama semakin besar (english = ring) Dermatophytosis = herpes circinata (Greek/Yunani)  bentuk kelainannya berupa lingkaran yang makin lama semakin besar (english = ring) Dermatophytosis = ring worm (English)  perpaduan dari kata lingkaran dan cacing Dermatophytosis = ring worm (English)  perpaduan dari kata lingkaran dan cacing

80 Klasifikasi penyakit : Klasifikasi pada umumnya berdasarkan site of infection : Klasifikasi pada umumnya berdasarkan site of infection : Tinea capitis (kulit kepala / scalp) Tinea barbae (kulit wajah / face) Tinea corporis (kulit tubuh / body) Tinea cruris (kulit kelamin / groin) Tinea pedis (kulit kaki / feet) Tinea unguium (kuku / nails)

81 Klasifikasi penyakit juga dapat berdasarkan fungi penyebabnya: Klasifikasi penyakit juga dapat berdasarkan fungi penyebabnya: Microsporosis (disebabkan oleh Microsporum spp) Trichophytosis (disebabkan oleh Trichophyton spp) Epidermophytosis (disebabkan oleh Epidermophyton spp)

82 Etiologi : Causa dermatophytosis : Causa dermatophytosis : 1. Microsporum spp ( >17 speci- es) 2. Trichophyton spp ( > 23 spe- cies) 3. Epidermophyton spp ( 2 spe- cies)

83 Jaringan terinfeksi : Microsporosis  HAIR, SKIN, NAILS Microsporosis  HAIR, SKIN, NAILS Trichophytosis  HAIR, SKIN, NAILS Trichophytosis  HAIR, SKIN, NAILS Epidermophytosis  SKIN, NAILS Epidermophytosis  SKIN, NAILS

84 Epidemiologi : Pola penularan contact communicable: dari orang ke orang lain; dari hewan ke hewan lain ; dari tanah ke hewan / manusia ; dari manusia ke hewan atau dari hewan ke manusia  Pola penularan contact communicable: dari orang ke orang lain; dari hewan ke hewan lain ; dari tanah ke hewan / manusia ; dari manusia ke hewan atau dari hewan ke manusia   Anthropophilic : human  human  Zoophilic : Animal  human  Geophilic : Soil  human / animal  Sumber infeksi : manusia, hewan, tanah / debu

85 Gejala : Dermatophytosis :Tergantung penyebab & respons immun penderita, umumnya lesi berbentuk lingkaran berbatas tegas, terdapat sisik2 dan gatal terutama saat berkeringat. Dermatophytosis :Tergantung penyebab & respons immun penderita, umumnya lesi berbentuk lingkaran berbatas tegas, terdapat sisik2 dan gatal terutama saat berkeringat. Dapat menimbulkan reaksi allergi = reaksi –id  dermatofitid  vesicel2 di telapak tangan / kaki & bagian tubuh lain  gatal & vesicel tidak mengandung fungi  infeksi sekunder oleh bakteri  pustula  + rasa sakit Dapat menimbulkan reaksi allergi = reaksi –id  dermatofitid  vesicel2 di telapak tangan / kaki & bagian tubuh lain  gatal & vesicel tidak mengandung fungi  infeksi sekunder oleh bakteri  pustula  + rasa sakit

86 Diagnosa laboratoris : Direct examination  wet mount Direct examination  wet mount Pemeriksaan langsung dari penderita  scraping kulit / rambut / kuku terinfeksi, letakkan pada object glass + KOH 10%, tutup dengan cover glass  mikroskop 400 x  septate hyphae Wood’s light  sinari bagian yang terinfeksi dengan lampu wood  pendaran warna hijau kekuningan / fluorescent Wood’s light  sinari bagian yang terinfeksi dengan lampu wood  pendaran warna hijau kekuningan / fluorescent

87

88

89

90 Culture : specimen berupa rambut, kulit atau kuku yang terinfeksi ditanam pada media khusus untuk jamur : Saboroud Dextrose Agar (SDA) (medium general)  ciri- ciri pertumbuhan diamati meliputi permukaan atas dan bawah / dasar medium atau ditanam pada medium selective & differential untuk dermatophyte, misalnya DTM  tumbuh berwarna merah Culture : specimen berupa rambut, kulit atau kuku yang terinfeksi ditanam pada media khusus untuk jamur : Saboroud Dextrose Agar (SDA) (medium general)  ciri- ciri pertumbuhan diamati meliputi permukaan atas dan bawah / dasar medium atau ditanam pada medium selective & differential untuk dermatophyte, misalnya DTM  tumbuh berwarna merah

91 Mikroskopis dari kultur : Dibuat preparat basah pada object glass dengan spesimen dari kultur + zat warna lactophenol cotton blue ( biru), tutup dengan cover glass  mikroskop 400X  septate hyphae, conidia berupa microconidia atau macroconidia yang khas untuk tiap spesies. Mikroskopis dari kultur : Dibuat preparat basah pada object glass dengan spesimen dari kultur + zat warna lactophenol cotton blue ( biru), tutup dengan cover glass  mikroskop 400X  septate hyphae, conidia berupa microconidia atau macroconidia yang khas untuk tiap spesies.

92 Pengobatan & prognosis : Batas tegas : Fungisid / fungistatik lokal / topikal + keratolitik eg: sulfur + asam salisilat atau derivat azol, naftilin, terbinafin, siklopiroksolamin, amorolfin Batas tegas : Fungisid / fungistatik lokal / topikal + keratolitik eg: sulfur + asam salisilat atau derivat azol, naftilin, terbinafin, siklopiroksolamin, amorolfin Menahun  batas tak jelas  p.o eg: griseofulvin, derivat azol Menahun  batas tak jelas  p.o eg: griseofulvin, derivat azol Prognosenya baik Prognosenya baik

93 Microsporosis : 1. Microsporum audouinii : Antropophilic Antropophilic Terutama pada anak – anak Non inflamasi pada kulit terutama bagian kepala / tinea capitis Ectothrix  rambut pecah – pecah Kultur : bagian atas putih –cream ; bagian bawah coklat-oranye

94

95

96

97 2. Microsporum canis Zoophilic Inflamasi pada kulit badan atau kepala / tinea corporis atau tinea capitis Ectothrix Kultur: bagian atas putih – kuning ; bagian bawah oranye – coklat Conidia : Macroconidia µm x µm, 8-15 segmen, dinding tebal & kasar

98

99

100

101 3.Microsporum gypseum Geophilic Tinea capitis, tinea corporis & tinea barbae EctothrixInflamasi Laesi soliter / tidak meluas, sering terdapat infeksi sekunder oleh bakteri Kultur : bagian atas putih – coklat granuler, bagiam bawah coklat Conidia : macroconidia 10-40µm, 3-6 segmen, dinding kasar & tebal, ujung datar

102

103

104

105

106

107

108

109 4.M.ferrugineum Anthropophilic Tinea capitis & tinea corporis Ectothrix Kultur : waxy oranye-kuning. Conidia : -

110 Trichophytosis 1. Trichophyton concentricum Anthropophilic Jarang pada rambut & kuku Tinea corporis  TINEA IMBRICATA = DAYAKSE SCRUFT  kulit mengelupas berbentuk lingkaran / concentric ring & overlaps Kultur : putih-kuning-coklat Mikroskopis dari kultur : tidak khas

111 2. T. mentagrophytes Zoo & anthropophilic Tinea corporis, tinea pedis & tinea unguium, kadang tinea barbae, tinea cruris & tinea capitis Inflamasi & terdapat vesicula Ectothrix Kultur : Fluffy form  putih, bagian bawah coklat muda-merah & granular form  merah, bagian bawah kuniing-merah-coklat Conidia : microconidia 2-5µm, cluster pada hyphae ; macroconidia kadang terlihat  dinding tipis + coiled hyphae

112 3. T.rubrum Anthropophilic Anthropophilic Tinea pedis, tinea corporis, tinea cruris, tinea unguium, tinea capitis Tinea pedis, tinea corporis, tinea cruris, tinea unguium, tinea capitis Acut & chronic + inflamasi Acut & chronic + inflamasi Lesi bagian luar kemerahan, meradang & menonjol Lesi bagian luar kemerahan, meradang & menonjol Pada kuku bersifat chronis & resisten terhadap pengobatan, kadang timbul MAJOCCHI’S GRANULOMA Pada kuku bersifat chronis & resisten terhadap pengobatan, kadang timbul MAJOCCHI’S GRANULOMA

113 Kultur : Fluffy form  putih, bagian bawah merah ; Granular form  merah, bagian bawah merah Kultur : Fluffy form  putih, bagian bawah merah ; Granular form  merah, bagian bawah merah Conidia: dari granular form  microconidia 3-6µm pada hyphae (tear drops) ; macroconidia jarang 5-30µm, 3-5 segmen Conidia: dari granular form  microconidia 3-6µm pada hyphae (tear drops) ; macroconidia jarang 5-30µm, 3-5 segmen DD  T.mentagrophytes(koloni merah)  test urease : + (T.mentagrophytes) ; test hair penetration : + (T.mentagrophytes) DD  T.mentagrophytes(koloni merah)  test urease : + (T.mentagrophytes) ; test hair penetration : + (T.mentagrophytes)

114 4.T.tonsurans Rambut & kulit kepala  tinea capitis  black dot Rambut & kulit kepala  tinea capitis  black dot Anthropophilic Anthropophilic Chronis, persisten bertahun – tahun Chronis, persisten bertahun – tahun Endothrix  invasi folikel rambut  merusak jaringan  kebotakan / bald spots Endothrix  invasi folikel rambut  merusak jaringan  kebotakan / bald spots

115 Direct dari rambut : microconidia di endothrix Direct dari rambut : microconidia di endothrix Kultur : velvet berlekuk, putih – coklat – kuning, bagian bawah kuning – coklat – merah Kultur : velvet berlekuk, putih – coklat – kuning, bagian bawah kuning – coklat – merah Conidia : menempel pada hyphae atau sterigmata, club shape 2-8µm, kadang membesar  balloons Conidia : menempel pada hyphae atau sterigmata, club shape 2-8µm, kadang membesar  balloons

116 5. T.violaceum Anthropophilic Anthropophilic Tinea capitis Tinea capitis Endothrix-folikel Endothrix-folikel Black dots  bald spots Black dots  bald spots Direct : = T.tonsurans Direct : = T.tonsurans Kultur : hyphae distorsi, conidia -, chlamydospora Kultur : hyphae distorsi, conidia -, chlamydospora

117 6.T.verrucosum Zoophilic Zoophilic Inflamasi,Tinea corporis, tinea capitis Inflamasi,Tinea corporis, tinea capitis Sering terdapat infeksi sekunder oleh bakteri Sering terdapat infeksi sekunder oleh bakteri Direct : conidia pada endothrix 5-10µm Direct : conidia pada endothrix 5-10µm Kultur : Koloni 3 macam  variety albus, variety ochraceum & variety discoides Mikroskopis dari kultur : conidia – (pada SDA), hyphae pleimorfik + chlamydo- spora Kultur : Koloni 3 macam  variety albus, variety ochraceum & variety discoides Mikroskopis dari kultur : conidia – (pada SDA), hyphae pleimorfik + chlamydo- spora

118 7.T.schoenleinii Anthropophilic Anthropophilic Chronic tinea capitis  favus  jaringan parut  typical favus : crusta menonjol, kuning, terdapat hyphae + air space / bubbles pada folikel rambut (scalp & body)  TINEA FAVOSA Chronic tinea capitis  favus  jaringan parut  typical favus : crusta menonjol, kuning, terdapat hyphae + air space / bubbles pada folikel rambut (scalp & body)  TINEA FAVOSA Kultur : waxy, putih  conidia jarang, hyphae antler like candelier Kultur : waxy, putih  conidia jarang, hyphae antler like candelier

119 Epidermophytosis: Epidermophyton floccosum Epidermophyton floccosum  Anthropophilic  Tinea cruris, tinea pedis, kadang tinea unguium  Rambut tidak terinfeksi  Kultur : macroconidia 10-40µm, dinding halus, tipis, 2-5 segmen, cluster

120 Notes : Tinea corporis: Tinea corporis:  Umumnya disebabkan semua dermatophytes  Kosmopolitan, tropis, banyak di Indonesia  Kulit licin tak berambut, lesi lingkaran, tepi merah, ada vesikel, bagian tengah bersisik, gatal

121 Tinea pedis / athleet’s foot : Tinea pedis / athleet’s foot :  Semua dermatophyte dapat menyebabkan kelainan ini terutama Trichophyton  Kosmopolitan, semua daerah,banyak di Indonesia  Lesi pada sela jari kaki, telapak & lateral kaki. Terutama pada orang yang selalu memakai sepatu tertutup & berkaus kaki (lembab) & selalu basah (tukang cuci)  Acut : gatal, merah,vesicular  Kronis : gatal, bersisik, kulit pecah2  Ada infeksi sekunder  pustula + nyeri

122 Tinea cruris : Tinea cruris :  Penyebabnya semua dermatophytes  Kosmopolitan, banyak di Indonesia  Lesi di inguinal, paha bagian dalam & perineum, bersisik, erytrema Tinea barbae Tinea barbae  Terutama oleh dermatophytes zoophilic  Jarang ada di Indonesia  Lesi pada dagu, wajah, sampai ke folikel rambut

123 SUBCUTANEUS MYCOSIS: Penyebab umumnya adalah fungi saprofit yang banyak ditemukan pada tanah, atau tanaman yang membusuk Penyebab umumnya adalah fungi saprofit yang banyak ditemukan pada tanah, atau tanaman yang membusuk Untuk dapat menyebabkan pe- nyakit, fungi ini harus menem- bus jaringan sub cutan Untuk dapat menyebabkan pe- nyakit, fungi ini harus menem- bus jaringan sub cutan

124 SPOROTRICHOSIS Penyebab : Sporothrix / sporotrichum schenkii Penyebab : Sporothrix / sporotrichum schenkii Fungi Dimorfik; Saprofit pada tumbuhan & kayu lapuk Fungi Dimorfik; Saprofit pada tumbuhan & kayu lapuk Resiko tinggi : profesi yang berhubungan de- ngan tanaman /kayu / kebun Resiko tinggi : profesi yang berhubungan de- ngan tanaman /kayu / kebun Port d’entry : trauma pada kulit, biasanya anggota gerak ; jarang dapat melalui inhalasi spora Port d’entry : trauma pada kulit, biasanya anggota gerak ; jarang dapat melalui inhalasi spora

125 Menyebar melalui aliran lymphe  lesi lokal terbentuk sebagai pustula / abces / tukak  saluran lymphe menebal seperti tali  banyak nodule & abces sepanjang saluran lymphe Menyebar melalui aliran lymphe  lesi lokal terbentuk sebagai pustula / abces / tukak  saluran lymphe menebal seperti tali  banyak nodule & abces sepanjang saluran lymphe Biasanya tidak ada rasa nyeri Biasanya tidak ada rasa nyeri Dapat terjadi penyebaran infeksi ke persendian Dapat terjadi penyebaran infeksi ke persendian Secara histologis : lesi berupa peradangan chronis & granulomatosa yang mengalami nekrosis Secara histologis : lesi berupa peradangan chronis & granulomatosa yang mengalami nekrosis

126 Gambaran klinis : 1. Sporotrichosis cutan: Hanya terjadi secara lokal di tempat trauma ; tidak menyebar melalui kelenjar lymphe 2. Sporotrichosis lymphatica lokalisata Terdapat lesi primer pada tempat trauma  tonjolan kecil keras  abces lunak, pecah  saluran lymphe  menembus kulit  sporotrichotic cancre 3. Sporotrichosis diseminata Lesi primer  saluran lymphe  menyebar ke kulit atau mucosa.  hematogen  tulang & organ dalam

127 4. Sporotrichosis pulmonum Bukan merupakan sub cutaneus mycosis karena penularannya melalui inhalasi. Gejalanya mirip dengan infeksi paru oleh sebab lain

128 Diagnosa laboratoris : Specimen : pus atau biopsi jaringan terinfeksi Specimen : pus atau biopsi jaringan terinfeksi Mikroskopis langsung : Fungi Jarang terdeteksi Mikroskopis langsung : Fungi Jarang terdeteksi Kultur: Saboroud Dextrosa Agar / SDA  pada suhu 25-30ºC : mold / hyphae  hyphae halus + spora menyerupai bunga di ujung conidiophora & pada suhu 37ºC : Yeast  Blastospora (blastoconidia) Kultur: Saboroud Dextrosa Agar / SDA  pada suhu 25-30ºC : mold / hyphae  hyphae halus + spora menyerupai bunga di ujung conidiophora & pada suhu 37ºC : Yeast  Blastospora (blastoconidia)

129 Terapi & prognosis: Sebagian besar kasus bersifat chronis & sembuh sendiri Sebagian besar kasus bersifat chronis & sembuh sendiri KI p.o KI p.o Preparat azol p.o Preparat azol p.o Amphotericin B i.v Amphotericin B i.v Prognose umumnya baik, kecuali disemi- nata dapat timbul kematian Prognose umumnya baik, kecuali disemi- nata dapat timbul kematian

130 Chromoblastomycosis / Chromomycosis Granulomatosa progresif lambat Granulomatosa progresif lambat Disebabkan oleh fungi golongan dematiaceae (berdinding gelap), yang paling sering ditemukan adalah : Phialophora verrucosa, Phialophora pedrosoi, Phialophora compactum, Phialophora dermatitidis, Cladosporium carionii, Rhinocladiella aquaspersa Disebabkan oleh fungi golongan dematiaceae (berdinding gelap), yang paling sering ditemukan adalah : Phialophora verrucosa, Phialophora pedrosoi, Phialophora compactum, Phialophora dermatitidis, Cladosporium carionii, Rhinocladiella aquaspersa

131 Patogenesa & Gambaran klinis: Fungi Masuk melalui trauma kulit, terutama pada anggota gerak Fungi Masuk melalui trauma kulit, terutama pada anggota gerak Tumbuh lambat (bulan – tahun) Tumbuh lambat (bulan – tahun) Nodule – nodule sepanjang aliran lymphe  seperti bunga kol disertai abces berwarna hitam Nodule – nodule sepanjang aliran lymphe  seperti bunga kol disertai abces berwarna hitam Histologis : lesi berupa granuloma ; terdapat sel yeast warna coklat tua/ hitam di dalam lekosit atau giant cell Histologis : lesi berupa granuloma ; terdapat sel yeast warna coklat tua/ hitam di dalam lekosit atau giant cell

132 Epidemiologi: Terutama di daerah tropis Terutama di daerah tropis Resiko tinggi : orang yang tidak memakai alas kaki ( fungi bersifat saprofit) Resiko tinggi : orang yang tidak memakai alas kaki ( fungi bersifat saprofit) Penyakit ini tidak ditularkan ( non commu- nicable) Penyakit ini tidak ditularkan ( non commu- nicable)

133

134 Diagnosa laboratoris: Specimen : Scraping / biopsi lesi Specimen : Scraping / biopsi lesi Direct microscopy : specimen scraping + KOH 10%  sel yeast berwarna gelap Direct microscopy : specimen scraping + KOH 10%  sel yeast berwarna gelap Biopsi  granuloma + yeast berwarna gelap Biopsi  granuloma + yeast berwarna gelap Kultur : Bahan ditanam pada SDA  conidia khas ( tergantung spesies penyebabnya) Kultur : Bahan ditanam pada SDA  conidia khas ( tergantung spesies penyebabnya)

135 Mycetoma : Adalah Lesi lokal yang membengkak + granula (koloni fungi yang mengalir dari sinus – sinus) Adalah Lesi lokal yang membengkak + granula (koloni fungi yang mengalir dari sinus – sinus) Disebabkan oleh berbagai Fungi & bakteri Disebabkan oleh berbagai Fungi & bakteri MIKROBIOLOGI : MIKROBIOLOGI : Yang disebabkan oleh bakteri golongan Actinomycetes disebut sebagai Actinomyce- toma Yang disebabkan oleh fungi disebut sebagai mycetoma

136 Fungi penyebab mycetoma paling sering adalah : Pseudoallescheria boydii, Madurella sp., Phialophora sp., Acremonium sp. Fungi penyebab mycetoma paling sering adalah : Pseudoallescheria boydii, Madurella sp., Phialophora sp., Acremonium sp. Note : Bakteri penyebab actinomy- cetoma : Nocardia brasiliensis, Actinomadura madurae Note : Bakteri penyebab actinomy- cetoma : Nocardia brasiliensis, Actinomadura madurae

137 Fungi masuk melalui Trauma kulit terutama anggota gerak  sub cutan  otot  tulang  deformitas Fungi masuk melalui Trauma kulit terutama anggota gerak  sub cutan  otot  tulang  deformitas Terapi : actinomycetoma dengan Streptomisin + trimetoprim + sulfametoksazol & drainage sebelum deformitas. Untuk mycetoma belum ada obat yang poten, bisa dicoba dengan azol & pembedahan. Terapi : actinomycetoma dengan Streptomisin + trimetoprim + sulfametoksazol & drainage sebelum deformitas. Untuk mycetoma belum ada obat yang poten, bisa dicoba dengan azol & pembedahan.

138 Mycosis systemic : Disebabkan oleh jamur saprofit, semu- anya bersifat dimorfik Disebabkan oleh jamur saprofit, semu- anya bersifat dimorfik Infeksi biasanya per inhalasi Infeksi biasanya per inhalasi Biasanya asimptomatis Biasanya asimptomatis Biasa terjadi pada orang –orang tertentu yang mempunyai daya immun rendah & bersifat fatal Biasa terjadi pada orang –orang tertentu yang mempunyai daya immun rendah & bersifat fatal Menginfeksi organ – organ dalam Menginfeksi organ – organ dalam

139 Patogenesis & gambaran klinis: Arthroconidia  per inhalasi  2/3 penderita bersifat asymptomatis & 1/3 penderita menunjukkan gejala mirip influenza (demam, batuk, arthralgia, sakit kepala) Arthroconidia  per inhalasi  2/3 penderita bersifat asymptomatis & 1/3 penderita menunjukkan gejala mirip influenza (demam, batuk, arthralgia, sakit kepala) 15% penderita yang menunjukkan gejala : membentuk reaksi hipersensitivitas 1-2 minggu kemudian (bentuk erytema nodosum / erytema multiformis 15% penderita yang menunjukkan gejala : membentuk reaksi hipersensitivitas 1-2 minggu kemudian (bentuk erytema nodosum / erytema multiformis Gejala2 tsb diatas disebut sebagai valley fever / desert rheumatism  dapat sembuh sendiri Gejala2 tsb diatas disebut sebagai valley fever / desert rheumatism  dapat sembuh sendiri

140 50% kasus menunjukkan perubahan radiologik paru berupa infiltrat, pneu- monia, efusi pleura  5 % kasus menunjukkan residu paru ( nodul soliter atau cavitas berdinding tipis)  dapat sembuh sendiri atau menjadi chronis 50% kasus menunjukkan perubahan radiologik paru berupa infiltrat, pneu- monia, efusi pleura  5 % kasus menunjukkan residu paru ( nodul soliter atau cavitas berdinding tipis)  dapat sembuh sendiri atau menjadi chronis 1% kasus menunjukkan infeksi menyebar  fatal 1% kasus menunjukkan infeksi menyebar  fatal

141 Coccidioidomycosis: Disebabkan oleh Coccidioides immitis Disebabkan oleh Coccidioides immitis Pada jaringan terinfeksi, pus, sputum / suhu 37ºC  berbentuk bola (Spherula) dengan dinding tebal berisi spora  pecah  spora keluar  tumbuh menjadi spherula baru Pada jaringan terinfeksi, pus, sputum / suhu 37ºC  berbentuk bola (Spherula) dengan dinding tebal berisi spora  pecah  spora keluar  tumbuh menjadi spherula baru Biakan pada suhu kamar / di alam  koloni seperti kapas, putih, hifa aerial, arthroconidia  conidia/spora  infektif Biakan pada suhu kamar / di alam  koloni seperti kapas, putih, hifa aerial, arthroconidia  conidia/spora  infektif Antigen : spherulin (filtrat dari spherula) & coccidioidin (filtrat dari mycelium) Antigen : spherulin (filtrat dari spherula) & coccidioidin (filtrat dari mycelium)

142 Diagnosis laboratoris: Specimen : sputum, pus, cairan spinal, biopsi jaringan, darah (untuk test serologis) Specimen : sputum, pus, cairan spinal, biopsi jaringan, darah (untuk test serologis) Direct microscopy : fresh specimen dicentrifuge  spherula Direct microscopy : fresh specimen dicentrifuge  spherula Kultur: arthroconidia dari kultur sangat patogen (infektif) !!!! Kultur: arthroconidia dari kultur sangat patogen (infektif) !!!! Serologis : test immunodifusi & aglutinasi latex  ab IgM &IgG terhadap ag coccidioidin (2-4 minggu setelah infeksi) Serologis : test immunodifusi & aglutinasi latex  ab IgM &IgG terhadap ag coccidioidin (2-4 minggu setelah infeksi)

143 Epidemiologi & terapi Daerah endemik adalah daerah kering Daerah endemik adalah daerah kering Tidak ditularkan dari orang ke orang Tidak ditularkan dari orang ke orang Setelah sembuh dari infeksi primer terdapat immunitas terhadap reinfeksi Setelah sembuh dari infeksi primer terdapat immunitas terhadap reinfeksi Infeksi primer pada individu dengan immunitas normal  sembuh sendiri + terapi suportif Infeksi primer pada individu dengan immunitas normal  sembuh sendiri + terapi suportif Pada individu dengan immunitas tertekan  terapi azol Pada individu dengan immunitas tertekan  terapi azol

144 Histoplasmosis : Disebabkan oleh Histoplasma capsulatum Disebabkan oleh Histoplasma capsulatum Merupakan mycosis intrasel pada RES Merupakan mycosis intrasel pada RES Pada sel fagosit atau pada kultur 37ºC  terdapat sel yeast budding uninucleat Pada sel fagosit atau pada kultur 37ºC  terdapat sel yeast budding uninucleat Kultur : Pada SDA dengan suhu kamar  koloni putih-coklat seperti kapas  conidia berdinding tebal, mempunyai tonjolan (conidia tuberculate) & microconidia Kultur : Pada SDA dengan suhu kamar  koloni putih-coklat seperti kapas  conidia berdinding tebal, mempunyai tonjolan (conidia tuberculate) & microconidia

145 Antigen : histoplasmin Antigen : histoplasmin Infeksi : per inhalasi  99% asymp- tomatis Infeksi : per inhalasi  99% asymp- tomatis 1% penderita menunjukkan gejala seperti influenza  sembuh sendiri 1% penderita menunjukkan gejala seperti influenza  sembuh sendiri Infeksi berat  terutama pada individu dengan sistim immun rendah  RES : lympadenopathy, spleenomegali & hepatomegali ; demam tinggi & anemia  tanpa terapi antimikotik  fatal Infeksi berat  terutama pada individu dengan sistim immun rendah  RES : lympadenopathy, spleenomegali & hepatomegali ; demam tinggi & anemia  tanpa terapi antimikotik  fatal

146 Histologik: Pada Organ – organ dalam yang terinfeksi  terdapat daerah ne- krosis + granuloma & sel fagosit berisi yeast Histologik: Pada Organ – organ dalam yang terinfeksi  terdapat daerah ne- krosis + granuloma & sel fagosit berisi yeast Fungi ini banyak tumbuh pada tanah yang mengandung tinja burung / kelelawar Fungi ini banyak tumbuh pada tanah yang mengandung tinja burung / kelelawar Tidak dapat ditularkan dari orang ke orang Tidak dapat ditularkan dari orang ke orang Terapi : suportif + amphotericin B Terapi : suportif + amphotericin B

147 Blastomycosis: Disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis Disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis Berupa granulomatosa chronis Berupa granulomatosa chronis Pada jaringan terinfeksi, pus, eksudat atau pada kultur 37ºC  terdapat yeast multinucleat Pada jaringan terinfeksi, pus, eksudat atau pada kultur 37ºC  terdapat yeast multinucleat Antigen : blastomisin Antigen : blastomisin Infeksi: per inhalasi  infiltrasi paru ( mirip dengan kelainan paru akibat mikroorganisme lain ) Infeksi: per inhalasi  infiltrasi paru ( mirip dengan kelainan paru akibat mikroorganisme lain )

148 Histologik : pyogranulomatosa, netrofil, granuloma non kaseosa Histologik : pyogranulomatosa, netrofil, granuloma non kaseosa Specimen : sputum, pus, eksudat, urine, biopsi Specimen : sputum, pus, eksudat, urine, biopsi Direct microscopy : yeast Direct microscopy : yeast Terapi : amphoterisin B Terapi : amphoterisin B

149 Paracoccidioidomycosis: Disebabkan oleh Paracoccidioides bra- siliensis Disebabkan oleh Paracoccidioides bra- siliensis Infeksi : per inhalasi  paru  organ lain Infeksi : per inhalasi  paru  organ lain Pada jaringan terinfeksi  terlihat yeast banyak tunas /tuberculate Pada jaringan terinfeksi  terlihat yeast banyak tunas /tuberculate Histologis: granuloma kaseosa, yeast di dalam giant cell Histologis: granuloma kaseosa, yeast di dalam giant cell Antigen : paracoccidioidin Antigen : paracoccidioidin

150 Opportunistic mycosis: Disebabkan oleh fungi non patogen & flora normal (eg : candida sp., Penicillium sp., Aspergillus sp., Mucor, Rhyzopus,cryptococcus sp. etc) Disebabkan oleh fungi non patogen & flora normal (eg : candida sp., Penicillium sp., Aspergillus sp., Mucor, Rhyzopus,cryptococcus sp. etc) Biasanya menimbulkan infeksi pada individu dengan sistim immun terganggu Biasanya menimbulkan infeksi pada individu dengan sistim immun terganggu

151 Candidosis / candidiasis : Penyebab tersering adalah Candida albicans  merupakan flora normal Penyebab tersering adalah Candida albicans  merupakan flora normal Morfologi : yeast & pseudohyphae Morfologi : yeast & pseudohyphae Specimen : swab & scraping permukaan lesi, sputum, eksudat dll ( tergantung kasusnya) Specimen : swab & scraping permukaan lesi, sputum, eksudat dll ( tergantung kasusnya)

152 Gambaran klinis : 1. Candidosis mulut : = sariawan = sariawan Pada mucosa mulut terdapat bercak putih (berisi pseudomycelium) Pada mucosa mulut terdapat bercak putih (berisi pseudomycelium) Predisposisi : pemakaian corticosteroid, antibiotika, diabetes, immunodefisiensi Predisposisi : pemakaian corticosteroid, antibiotika, diabetes, immunodefisiensi

153

154

155

156

157

158

159

160 2. Candidosis pada genitalia wanita : Berupa vulvovaginitis Berupa vulvovaginitis Terdapat iritasi, gatal & pengeluaran sekret Terdapat iritasi, gatal & pengeluaran sekret Predisposisi : kehilangan pH asam pada genitalia wanita, hamil, terapi progesteron, terapi antibiotika, diabetes Predisposisi : kehilangan pH asam pada genitalia wanita, hamil, terapi progesteron, terapi antibiotika, diabetes 3. Candidiasis cutan : Pada kulit yang lembab ( lipatan-lipatan) Pada kulit yang lembab ( lipatan-lipatan) Lesi merah, terdapat sekret Lesi merah, terdapat sekret Predisposisi : penderita diabetes, obesitas Predisposisi : penderita diabetes, obesitas

161 4. Candidiasis kuku: Ada paronikia  Nyeri, bengkak, merah Ada paronikia  Nyeri, bengkak, merah Terdapat penebalan & terjadi alur trans- versal pada kuku Terdapat penebalan & terjadi alur trans- versal pada kuku 5. Candidosis paru & organ lain: Merupakan infeksi sekunder Merupakan infeksi sekunder 6. Candidosis mucocutan chronis Pada individu dengan immunodefisiensi Pada individu dengan immunodefisiensi

162 Cryptococcosis: Disebabkan oleh Cryptococcus neo- formans Disebabkan oleh Cryptococcus neo- formans Fungi ini berupa yeast dengan capsul karbohidrat Fungi ini berupa yeast dengan capsul karbohidrat Merupakan fungi saprofit terutama pada tinja kering burung merpati Merupakan fungi saprofit terutama pada tinja kering burung merpati Gambaran klinis : berupa meningitis chronis Gambaran klinis : berupa meningitis chronis

163 Aspergillosis: Disebabkan oleh Aspergillus fumigatus Disebabkan oleh Aspergillus fumigatus Gambaran klinis : keratitis, sebagi fungi pen- cemar luka bakar, otitis eksterna, aspergillosis paru. Gambaran klinis : keratitis, sebagi fungi pen- cemar luka bakar, otitis eksterna, aspergillosis paru. Aspergillosis paru : Aspergillosis paru : 1.fungus balls ( fungi tumbuh pada rongga / sinus yang sudah ada sebelumnya) 1.fungus balls ( fungi tumbuh pada rongga / sinus yang sudah ada sebelumnya) 2.granuloma invasif  menyebabkan pneumonia necrotic, haemoptisis  menyebar ke organ lain 3.allergic

164 Mucormycosis: = zigomycosis = fikomikosis = zigomycosis = fikomikosis Disebabkan oleh golongan zigomycetes / mucorales eg: Mucor & Rhyzopus Disebabkan oleh golongan zigomycetes / mucorales eg: Mucor & Rhyzopus Fungi ini mempunyai morfologi yang sama, perbedaannya : Rhyzopus mempunyai “rhizoid” Fungi ini mempunyai morfologi yang sama, perbedaannya : Rhyzopus mempunyai “rhizoid” Fungi ini berproliferasi pada dinding pembuluh darah  trombosis Fungi ini berproliferasi pada dinding pembuluh darah  trombosis


Download ppt "Asih Rahayu,drh,M.kes. Laboratorium mikrobiologi Fak. Kedokteran Universitas wijaya kusuma surabaya."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google