Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

INDUCTIVE AND DEDUCTIVE REASONING Dedy Djamaluddin Malik (Kuliah ke-4)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "INDUCTIVE AND DEDUCTIVE REASONING Dedy Djamaluddin Malik (Kuliah ke-4)"— Transcript presentasi:

1 INDUCTIVE AND DEDUCTIVE REASONING Dedy Djamaluddin Malik (Kuliah ke-4)

2 INDUCTIVE REASONING  Penalaran induktif adalah proses berpikir yang diambil dari bukti-bukti faktual dari satu genus sehingga terbentuk satu kesimpulan atas seluruh genus.  Kesimpulan yang berasal dari penalaran induktif disebut dengan hipotesis (jawaban sementara).  Kesimpulan (conclusion) dari penalaran induktif tidak bersifat “pasti benarnya”.  Kesimpulan penalaran induktif sering bersifat “probabilistik”(kemungkinan).

3 SIGNIFICANCE OF INDUCTIVE REASONING  Induksi membawa kita ke dalam fakta-fakta nyata dalam kehidupan kongkrit sehingga terhindar dari argumen berdasarkan asumsi.  Induksi akan mendorong kita cermat dan berhati- hati membuat kesimpulan yang tergesa-gesa dan sembrono atas satu realitas.  Dengan induksi kita dapat membuat prediksi dan penyimpulan yang akan mendasari proses bernalar deduktif.

4 INDUCTIVE REASONING PROCESS  Observasi (observation)  Jumlah sampel (number sampling)  Penalaran analogis (analogical reasoning)  Pengenalan yang berpola (pattern recognition)  Penalaran sebab-akibat atau kausal (causal reasoning)  Penalaran statistik (statistical reasoning)

5 OBSERVATION  Ada realitas yang ditangkap (attention to certain reality)  Timbul isu  Terjadi konseptualisasi dan definisi  Timbul kategorisasi  Lahir klasifikasi  Lahir penyimpulan

6 NUMBER SAMPLING  Jumlah sampel harus memadai  Kriteria kelayakan sampel harus sesuai dengan teknik pengambilan sampling: (1) sistematic sampling; (2) simple random sampling; (3) stratified random sampling; (4) cluster sampling.  Non random sampling: (1) convenience sampling; (2) quota sampling; (3)purposive sampling.

7 ANALOGICAL REASONING PRINCIPLES  RELEVANSI KEMIRIPAN  JUMLAH KEMIRIPAN  TINGKAT DISANALOGI  TINGKAT KONTRA ANALOGI  PERBEDAAN ANALOGATE  KEKHASAN KESIMPULAN

8 PATTERN RECOGNITION  Persepsi orang tentang realitas bisa berubah bila dikondisikan secara terpola.  Pola pengenalan dan pengubahan manusia terhadap realitas perseptual dapat dikondisikan sebagaimana yang dilakukan kepada binatang.  Conditioning (pelaziman/pembiasaan) dapat mengubah persepsi, sikap dan perilaku orang atas realitas.

9

10

11

12 INDUCTIVE PRINCIPLES 1. Prinsip keseragaman alam (nature uniformity). Dalilnya, alam punya hukum yang sama dan seragam. Air itu memadamkan api; api hakikatnya membakar; semua logam tenggelam dalam air; 2. Prinsip identitas. Tiap realitas memiliki identitasnya masing yang unik dan disting. Identitas Tuhan misalnya, tidak bisa disamakan dengan yang lain. “Anda sebagai person, tidak bisa disamakan dengan orang lain. 3. Prinsip alasan yang mencukupi (self-sufficient condition). Tiap “being” (yang ada, realitas) harus ada alasan yang mencukupi atas keberadaannya. Orang jahat pasti ada alasan rasionalitasnya. 4. Prinsip kausalitas. Apapun yang terjadi dalam realitas pasti ada penyebabnya. Sebab mendatangkan akibat. 5. Prinsip tidak ada kemungkinan lain. Jika A salah, maka A tidak dapat benar. Diantara dua kontradiksi tak ada jalan tengah. Tak bisa sebagian salah dan/atau sebagian benar.

13 FORMAL METHOD OF INDUCTIVE  OBSERVASI  EKSPERIMEN  HIPOTESIS  VERIFIKASI  APLIKASI

14 INDUCTIVE EXAMPLES  Bukti (evidence) 1: John dekat dengan dosen X dan nilainya A.  Bukti 2: Rika dekat dengan dosen X dan nilainya A.  Bukti 3: Suryo dekat dengan dosen X dan nilainya A.  Kesimpulan (conclusion): Bila saya dekat dengan dosen X, maka nilai saya pun akan mendapat nilai A.

15 INDUCTIVE FALLACIES  Hasty generalization: kekeliruan bernalar induktif akibat dari ketidakcukupan sampel atau analisis statistik yang digunakan.  Confusing cause and effect: kejadian A dan B dalam waktu yang bersamaan (secara kebetulan) dianggap A menyebabkan B.  False analogy: kekeliruan mempersamakan genus yang tidak sejenis: isteri >< anjing.  Guilt by association: dalil atau penyimpulan ditolak karena kita tidak suka dengan orangnya, meskipun benar. 1+2=3. Kata Setan, Fir’aun dan Hitler: 1+2=3.  Slippery slope: once you are being late. Next time you will be come late. Satu peristiwa yang terjadi skrg akan berulang di kemudian hari.(non sequitur).

16 DEDUCTIVE REASONING  Penalaran yang diambil dari proposisi atau dalil- dalil umum (general) ke proposisi atau dalil-dalil khusus (specific).  Validitas kesimpulan (conclusion) sangat bergantung pada premis mayor dan premis minor.  Tidak mungkin kesimpulan “cacat”(invalid) bila premis mayor dan premis minor valid.

17 DEDUCTIVE SYLLOGISM  Premis mayor (major premise): adalah dalil atau asumsi umum yang sudah diketahui kebenarannya secara valid.  Premis minor (minor premise): adalah contoh spesifik yang berkaitan dengan dalil atau asumsi dari premis mayor.  Kesimpulan (conclusion): pengambilan kesimpulan berdasarkan urutan logis dari premis mayot dan premis minor.

18 SYLLOGISM EXAMPLE  Premis mayor: All man are mortal (General principle)  Premis minor: Plato is man (specific instance)  Conclusion: Plato is mortal (follows logically from the major).  Argumentasi yang valid merupakan kesimpulan yang diambil dari premis mayor dan minor.  Kesimpulan akan valid bila premis mayor dan minor tidak memiliki “cacat”(invalid).

19 VALIDITY AND TRUTHFULLNESS  Valid adalah kebenaran yang mengikuti urutan logis dari premis mayor dan minor.  Validity adalah pengamatan dan pengujian yang konsisten berdasarkan kriteria nalar obyektif yang diterima komunitas ilmiah.  Truth adalah kesesuaian pernyataan dengan realitas obyektif: (1) beleivable: (2) provable; (3) testable.  Truthfullness: pengakuan dari hasil akal budi manusia atas kebenaran baik secara rasional maupun empiris.


Download ppt "INDUCTIVE AND DEDUCTIVE REASONING Dedy Djamaluddin Malik (Kuliah ke-4)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google