Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERCEPATAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI DALAM MENGANTISIPASI MEA 2015 Dr. Adjat Daradjat, M.Si.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERCEPATAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI DALAM MENGANTISIPASI MEA 2015 Dr. Adjat Daradjat, M.Si."— Transcript presentasi:

1 PERCEPATAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI DALAM MENGANTISIPASI MEA 2015 Dr. Adjat Daradjat, M.Si

2 PERNYATAAN “Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap Indonesia harus memasuki pasar bebas yang berlaku mulai tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara berkembang.” Soeharto, saat penutupan KTT APEC 1994 di Bogor “Setelah KTT ASEAN ke-22 tanggal April 2013 di Brunei Darussalam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan mulai sekarang stop atau jangan lagi menyampaikan pernyataan bahwa Indonesia belum siap menghadapi MEA 2015” 2 “Jangan Kita Lengah Menuju MEA tahun 2015” “ Ingat Pelajaran tahun 2003 Saat Kita Menyetujui ACFTA” “Pastikan Kesiapan Sektor Perdagangan, Investasi, Pariwisata dan Perindustrian” Presiden Susilo Bamang Yudhoyono dalam Ratas di Kemenperin, 27 Juli

3 KONSEP KOMUNITAS ASEAN ASEAN Community ASEAN Political Security Community ASEAN Economic Community ASEAN Socio- Culture Community

4 Bea masuk turun ke 0% pada 2010 (kecuali CLMV pada 2015) Mutual Recognition Agreements (MRA) untuk 8 jasa profesi Mendorong hubungan pasar modal dan pengembangan pasar saham. Mendorong dan melindungi investasi antar negara ASEAN atas dasar perlakuan Nasional. Mengijinkan saham asing sampai 70% IMPLEMENTASI AEC 2015

5 5 Terbentuknya Pasar dan basis produksi tunggal Kawasan Berdaya- saing Tinggi Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Merata Bebas arus barang Bebas jasa Bebas investasi Bebas tenaga kerja Bebas arus permodalan Priority Integration Sectors (PIS) Pengembangan sektor food- agriculture-forestry Kebijakan persaingan Perlindungan konsumen, HKI Pembangunan infrastruktur Kerjasama energi Perpajakan E-commerce Pendekatan koheren terhadap hubungan ekonomi eksternal, Partisipasi yang semakin meningkat dalam jaringan suplai global 4 Pilar ASEAN Economic Community (AEC) Integrasi dengan Perekonomian Dunia Pengembangan UKM Mempersempit kesenjangan pembangunan antar negara ASEAN

6 6 Catatan: * = Maret 2013 : 77,54% NoCountries Periode * 1Brunei D Cambodia Indonesia Lao PDR Malaysia Myanmar Philippine Singapore Thailand Vietnam ASEAN-wide

7 Sumber: ASEAN Secretariat (2010) Country Trade With WorldTrade With ASEAN ExportsImportsExports Share to World Imports Share to World Brunei Darussalam ,32.460,01.721,1 13,92% 1.191,1 48,42% Cambodia6.710,66.133,6833,7 12,42% 2.170,1 35,38% Indonesia , , ,9 20,69% ,3 32,27% Lao PDR1.746,52.209,4959,8 54,96% 1.570,5 71,08% Malaysia , , ,7 24,56% ,0 27,77% Myanmar8.119,26.805,93.957,4 48,74% 3.250,3 47,76% Philippines48.042, ,48.635,3 17,97% ,3 23,61% Singapore , , ,5 31,15% ,4 21,36% Thailand , , ,6 31,56% ,2 17,05% Vietnam95.365, , ,8 14,16% ,2 19,95% 7 ASEAN TRADE-WORLD & INTRA-REGIONAL Mayoritas perda. negara-negara aggt ASEAN dilakukan dgn negara-negara non-ASEAN. Hal tsbt menunjukan bhw potensi perda. intra-regional ASEAN blm sepenuhnya dimanfaatkan. Dalam Juta USD

8 INDONESIA NET IMPORTER PERDAGANGAN JASA (Juta USD) Uraian Jasa-Jasa Jasa Transportasi Jasa Perjalanan (Travel) Jasa Komunikasi Jasa Konstruksi Jasa Asuransi Jasa Keuangan Jasa Komputer dan Informasi Royalti dan Imbalan Lisensi Jasa Bisnis Lainnya Jasa Personal, Kultural & Rekreasi Jasa Pemerintah Sumber: Direktorat Statistik dan Ekonomi Moneter Bank Indonesia

9  ASEAN Agreement on MNP ditandatangani pada Pertemuan AEM ke-44, November 2012 di Kamboja.  Tujuannya: Menyediakan hak dan kewajiban terkait dengan pergerakan tenaga kerja di antara negara anggota ASEAN, Memfasilitasi pergerakan tenaga kerja yg terkait dgn kegiatan perdagangan dan investasi di antara negara anggota ASEAN, Membangun prosedur yang transparan dan efisien dalam aplikasi formalitas keimigrasian terkait ijin tinggal sementara dari tenaga kerja dimana perjanjian ini berlaku, Melindungi integritas perbatasan negara anggota dan melindungi tenaga kerja domestik dan tenaga kerja permanen di dalam teritori negara anggota, 9 ASEAN AGREEMENT ON MNP

10  ASEAN MNP Agreement membatasi 3 kategori tenaga kerja yang dapat memanfaatkan perjanjian ini, yaitu: Business Visitor yaitu pegawai dan/atau wakil dari satu perusahaan di negara ASEAN yg melakukan kunjungan dlm rangka negosiasi perjanjian bisnis serta investasi dan tidak diizinkan melakukan transaksi dagang selama kunjungan. Contractual Service Supplier yaitu natural person yang merupakan pegawai dari suatu perusahaan di negara ASEAN melaksanakan suplai jasa kepada perusahaan di negara ASEAN lainnya berdasarkan kontrak diantara kedua perusahaan tersebut. Suplai jasa yang dilakukan bersifat sementara. Intra Corporate Transferee yaitu natural person yang merupakan pegawai dari suatu perusahaan di negara ASEAN dan dipekerjakan sementara untuk melakukan suplai jasa pada investasi perusahaan tersebut di negara ASEAN lainnya. Adapun kategori Intra Corporate Transferee yang dapat menikmati fasilitas ASEAN MNP Agreement adalah jabatan/posisi executive, manager dan specialist. 10 lanjutan...

11 Ease of doing business in ASEAN ASEAN membersEase of doing business (Country rankings 1-183) Brunei Darussalam83 Cambodia138 Indonesia129 Lao PDR165 Malaysia18 MyanmarNA Philippines136 Singapore1 Thailand17 Viet Nam98 11 Sumber : Global Competitiveness Index

12 Country Change Singapore23+ Japan96- Malaysia2126+ Korea2422- China2627+ Thailand3938- Indonesia4644- India5651- Vietnam6559- Philipinnes7583- Cambodia PERINGKAT DAYA SAING BEBERAPA NEGARA DI ASIA Sumber: Global Competitiveness Report Peringkat Indonesia di bawah Thailand, Malaysia dan Singapura. 12

13 PELUANG DAN TANTANGAN GLOBALISASI Globalisasi dan Liberalisasi Perdagangan merupakan keniscayaan. Bisa menjadi tantangan atau peluang tergantung kemampuan daya saing, khususnya kapasitas SDM.

14 Inti dari Globalisasi dan Perdagangan Bebas Inti dari Globalisasi dan Perdagangan Bebas Kemampuan adaptasi terhadap perubahan (adaptability) Kemampuan daya saing ( Competitivenes) Kemampuan daya saing ( Competitivenes)

15 Faktor-Faktor Unggulan Kekayaan alamLuas wilayah Jumlah penduduk : A. Jumlah tenaga kerja, B. Sasaran pembangunan Kebijakan pemerintah

16 Stabilitas politik & Keamanan Dalam konteks request & offer, Indonesia merupakan negara penerima (receiver) tetapi juga sekaligus sebagai pengirim (sender) yang potensil. Pertumbuhan industriKesempatan kerja luas

17 Pembangunan SDM merupakan komitmen pemerintah Indonesia untuk dapat bersaing di pasar global

18 Pengembangan SDM berbasis kompetensi menjadi syarat mutlak untuk terwujudnya SDM yang unggul dan kompeten serta mampu menempatkan diri sebagai Intangible Asset.

19 SDM KOMPETEN Pelatihan berbasis kompetensi Sistem/pola kerja industri berbasis kompetensi Pendidikan berbasis kompetensi Pendidikan dalam masyarakat (Community Education)

20 SERTIFIKASI KOMPETENSI Proses memberi pengakuan terhadap capaian kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan dan atau profesi tertentu, yang diberikan oleh otoritas yang berwenang, berbasis pada standar kompetensi yang telah disepakati dan ditetapkan.

21 SERTIFIKAT KOMPETENSI Merupakan produk hukum yang menjadi legitimasi (pengakuan) terhadap capaian kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, berbasis pada standar kompetensi yang telah disepakati dan ditetapkan.

22 Sistem Sertifikasi Kompetensi Kerja Merupakan bagian integral dari pembangunan ketenagakerjaan secara menyeluruh, melalui peningkatan kemampuan dan kompetensi kerja, sehingga mampu mendorong ke arah: Perluasan kesempatan kerja Penanggulangan pengangguran Peningkatan kesejahteraan pekerja Perlindungan kerja Peningkatan daya saing usaha

23 Landasan Hukum Pembentukan BNSP Pasal 27 ayat 2 tahun 1945 UUD no 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan PP no 23 Tahun 2004 Tentang BNSP

24 TANTANGAN DALAM IMPLEMENTASI SERTIFIKASI KOMPETENSI Jumlah dan jenis kompetensi : KKNI, jabatan, klaster, unit kompetensi. Siapa saja yang sudah kompeten, berapa jumlahnya, serta apa kualifikasi kompetensinya Lokasi dan sebaran tenaga kerja dan profesi yang kompeten 1.Belum tersedianya peta kompetensi kerja dan kompetensi profesi, antara lain :

25 2.Tujuan dan manfaat sertifikasi kompetensi belum difahami secara totalitas, sehingga dianggap sulit, mahal dan kurang bermanfaat 3.Sertifikasi kompetensi belum menjadi kebutuhan penting dan mendesak untuk dipenuhi dalam pengembangan SDM, masih kalah oleh prioritas kebutuhan lainnya yang bersifat instan dan fenomenal, seperti : kenaikan upah, jaminan sosial, kesejahteraan, perlindungan kerja, perselisihan kerja, dsb. 4.Masih ditemukan ego sektoral dalam pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja Lanjutan...

26 5.Masih lemahnya kemampuan dan komitmen untuk menyusun perangkat pengembangan SDM berbasis kompetensi, seperti : penyusunan standar kompetensi, penyusunan program dan modul pelatihan, skema kompetensi, perangkat asesmen, pembentukan LSP, dsb. 6.Standar kompetensi yang tidak relevan dengan kebutuhan dan karakteristik industri maupun tuntutan kebutuhan konsumen 7.Kualitas standar kompetensi nasional kurang memiliki daya saing, karena masih lebih rendah dari standar kompetensi internasional dan atau standar kompetensi khusus dari negara lain Lanjutan...

27 ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) Pasar tunggal ASEAN barang maupun jasa. 2.Dari jumlah penduduk dan luas wilayah, Indonesia merupakan pasar paling potensial 3.Indonesia merupakan negara dengan karakteristik ganda, sebagai negara receiver tapi sekaligus negara sender yang potensil. 4.Untuk kebutuhan request and offer, Indonesia harus mampu membuat Peta Pasar Kerja ASEAN (Map of Labor Market), sehingga dapat dipetakan potensi pasar kerja di Indonesia yang kemungkinan diinvasi negara lain, serta jenis dan jumlah pekerjaan di negara lain, yang dapat kita invasi.

28 5.Indonesia harus mampu menetapkan jenis-jenis pekerjaan yang kiranya dapat menjadi unggulan untuk dapat mengisi permintaan di Indonesia sendiri maupun kebutuhan di negara lain, yang kiranya tidak akan mampu diisi oleh tenaga kerja dari negara-negara lain. Misalnya : tenaga tukang disektor konstruksi, tenaga-tenaga teknis lainnya, dimana negara lain justru mengalami kesulitan karena kurang tersedianya tenaga kerja setempat. 6.Indonesia harus mampu mengidentifikasi jenis-jenis keterampilan Tenaga Kerja Indonesia yang akan menjadi unggulan dan bersifat spesifik, sehingga dinilai tidak akan mampu dipenuhi oleh negara lain, atau kalaupun ada, kompetisinya hanya terbatas dengan negara- negara tertentu, misalnya Filipina. 7.Harus mampu menciptakan standar kompetensi kerja yang berdaya saing dan spesifik, sehingga sulit diadaptasi oleh tenaga kerja dari negara lain.

29 8.Indonesia harus mampu mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan yang kiranya menurut hitungan ekonomis dinilai akan lebih menguntungkan apabila dikerjakan oleh orang asing. 9.Meningkatkan kerjasama saling pengakuan dengan negara dan institusi yang equivalent dari negara lain, melalui proses MOU maupun MRA


Download ppt "PERCEPATAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI DALAM MENGANTISIPASI MEA 2015 Dr. Adjat Daradjat, M.Si."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google