Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

THE ENGLISH SCHOOL Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "THE ENGLISH SCHOOL Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A."— Transcript presentasi:

1 THE ENGLISH SCHOOL Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A.

2 The English School Teori ini didominasi oleh Teoritisi asal Inggris, dimana international society adalah obyek analisis yg paling utama. Several key thinkers can be noted, such as : Martin Wight (1977), Hedley Bull (1977), Adam Watson (1984), and John Vincent (1986). In more recent years, there are several influental member of the school, such as Robert Jackson, Tim Dunn, Nicholas Wheeler, Barry Buzan, and Richard Little.

3 The main thought of the English School Hedley Bull in his Anarchical Society defines the school as via media between Realism (Neorealism) and Revolutionalism (Idealism/Kantian). It is believe that the main actor of IR remains states and the international system is anarchy. However, albeit an anarchic one, it claims that sovereignty states succeeded in forming a society and order. There is a suprising high level of order and a low level of violence between states in the condition of anarchy. Anarchy is not chaos as what does happen in domestic level.

4 Hubungan internasional tidak semata-mata menggambarkan asumsi-asumsi realis, melainkan juga memiliki aspek-aspek kosmopolitan, yakni pemikiran yang melihat individu sebagai bagian dari umat manusia secara keseluruhan daripada bagian dari sebuah komunitas politik tertentu (warga negara). Dengan memperkenalkan konsepsi masyarakat internasional (international society of state), English school membedakan dirinya dari realisme yang melihat hubungan internasional sebagai perebutan kekuasaan (struggle for power) semata-mata dalam kerangka sistem internasional (international system of states).

5 Konsep masyarakat internasional juga membedakan English school dari liberalisme yang cenderung menganggap tatanan dunia saat ini sebagai langkah awal bagi terbentuknya sebuah komunitas politik universal yang akan menjamin keadilan bagi seluruh umat manusia. Tujuan utama English school adalah menjelaskan keberadaan tatanan yang berkembang di antara berbagai komunitas politik yang merdeka tanpa harus mengacu pada otoritas sentral yang lebih besar (oleh karenanya, anarkhi).

6 International System & International Society International System : it is formed when two or more states have sufficient contact between them and have sufficient impact on one another’s decisions to cause them to behave – at least in some measure – as parts of a whole (Bull-1977) International society: “it is formed when a group of states, conscious of certain common interests, common values, form a society in the sense that they conceive themselves to be bound by a common set of rules in their relations with one another, and share the works of common institution (Bull-1977).

7 Masyarakat internasional pada dasarnya tidak berbeda dari masyarakat domestik karena keduanya merupakan sarana untuk memenuhi tujuan-tujuan umat manusia dan berjalan dengan aturan-aturan dasar yang menentukan bagaimana anggota- anggotanya harus bertindak dan berperilaku ataupun aturan-aturan yang menentukan bagaimana aturan- aturan dasar tersebut dibuat dan dijalankan. Tatanan dalam masyarakat internasional muncul karena komunitas-komunitas politik yang menjadi anggota-anggotanya bersedia mengendalikan diri dalam penggunaan kekerasan dan mengedepankan cara-cara yang beradab dalam hubungan mereka.

8

9 Bagaimana order tercipta dalam sistem yg anarki? Order tercipta karena semua negara pada dasarnya memiliki komitmen atas tiga nilai utama: menghindari konflik/perang, menunjung hak kekayaan pribadi (property rights), dan menjamin terjaganya setiap perjanjian (trust). Due to that matter states not only can make international system but also international society.

10

11 The tension within The English School The English School is interested in the processes which transform systems of states into societies of states. During that processes there’s a tension between maintaining order (the Pluralist group) and creating global justice (the Solidarist one) in certain particular issues. For example: 1. Nuclear weapon issues Pluralist: restriction of further development of nuclear. Solidarist: for the sake of justice all states has an equal right to acquire weapons including nuclear. 2. Humanitarian intervention. Pluralist : not allow for the sake of state’s sovereignty principle. Solidarist : it allow if human right values have been harmed.

12 Dalam kaitannya dengan transformasi ke arah masyarakat internasional, tatanan (order) dan keadilan (justice) merupakan dua tujuan yang sangat mengemuka yang seringkali sulit untuk dikombinasikan. Sejarah memberikan banyak contoh bagaimana prinsip keadilan yang menuntut semua negara diperlakukan sederajad dikorbankan demi tercapainya keseimbangan kekuatan (balance of power). Konflik antara keinginan untuk mencapai tatanan dan keadilan tetap berlangsung sampai sekarang seperti ditunjukkan oleh regim non proliferasi nuklir

13 Konflik antara keinginan untuk membangun order dan mencapai keadilan juga muncul dalam kaitannya dengan perbedaan gagasan mengenai keadilan. Dalam artian ini, upaya untuk memaksakan sebuah konsepsi keadilan kepada anggota masyarakat yang lain cenderung memperlemah upaya untuk membangun masyarakat internasional. Posisi English school cenderung pada menolak dua prinsip yang saling bertentangan: universalisme dan relativisme. English school menekankan penghargaan kepada pluralitas tanpa terjebak pada relativitas nilai dan menekankan pentingnya nilai dominan untuk memahami dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda.

14

15 Bentuk Revolusi Pertama, perjuangan untuk memperoleh kesamaan status sebagai negara berdaulat, seperti yang ditujukkan oleh Cina dan Jepang. Kerdua, perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan yang berlangsung di banyak daerah-daerah koloni atau jajahan. Perjuangan ini menggambarkan revolusi politik. Ketiga, revolusi rasial untuk menentang perbudakan dan perdagangan budak sebagai bentuk supremasi rasial.

16 Bentuk Revolusi Keempat, revolusi ekonomi untuk menentang berbagai bentuk ketidakmerataan serta eksploitasi akibat sistem perdagangan dan keuangan global yang didominasi Barat. Sekalipun revolusi ekonomi ini juga terkait dengan revolusi politik, perjuangan untuk mencapai keadilan ekonomi tetap berlangsung setelah masyarakat-masyarakat koloni mencapai kemerdekaan, seprti dimanifestasikan dalam tuntutan untuk membangun Tata Ekonomi Dunia Baru pada tahun 1970an. Kelima, revolusi kultural, yakni penolakan terhadap bentuk-bentuk imperialisme kultural. Upaya-upaya universalisasi konsepsi hak azasi manusia yang didasarkan pada individualme liberal, misalnya, secara jelas menggambarkan revolusi kultural ini.

17

18 English School is principally about progress in the form of agreements about how to maintain order and, to a lesser degree, about how to promote support for principles of justice. Order is prior to justice, the point being that international order is a fragile achievement and that states have been unable to agree on the meaning of global justice. English School has defended international society from those who are intolerant of its deficiencies, impatient to see change and keen to use force and chicanery to bring other societies round to their preferred ideology. There is a parallel here with those classical realists who were opposed to the crusading mentality in international relations

19

20 English school merupakan sebuah pemikiran atau mazhab yang mempunyai asumsi adanya kerjasama dalam dunia yang anarkhi. Kerjasama itu berbentuk international society. Ada 3 pilar dari English School : Rationalism, Nilai-nilai demokrasi dan HAM. English School melihat negara sebagai sebuah produk dari kesepakatan-kesepakatan, atau melihat sebuah negara ditinjau dari asal-muasaknya, berbeda dengan kaum realis yang melihat sebuah negara sebagai sesuatu yang sudah jadi. Implikasi dari pemikiran English School : bahwa dalam pendangan paham ini dunia harus satu dalam Internasional Society, Mereka tidak melihat adanya pluralitas international society.


Download ppt "THE ENGLISH SCHOOL Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google