Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

INDUSTRI INDONESIA MENGHADAPI PASAR BEBAS

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "INDUSTRI INDONESIA MENGHADAPI PASAR BEBAS"— Transcript presentasi:

1 INDUSTRI INDONESIA MENGHADAPI PASAR BEBAS
Dr. MUDRAJAD KUNCORO, SE, M.Soc.Sc Dosen Fakultas Ekonomi dan Pascasarjana UGM HP:

2 KONSENTRASI SPASIAL Bias ke Kabarin: Jawa dan Sumatra
Pola Huruf U: liberalisasi perdagangan semakin meningkatkan konsentrasi geografis

3 KONSENTRASI GEOGRAFIS INDUSTRI BESAR & MENENGAH: BIPOLAR PATTERN
The spatial pattern of LME is concentrated heavily in Java’s main metropolitan regions.

4 Multi-level corruption?

5

6 FIRM STRATEGY STRUCTURE AND RIVALRY FACTOR CONDITIONS DEMAND
CHANCE FIRM STRATEGY STRUCTURE AND RIVALRY FACTOR CONDITIONS DEMAND CONDITIONS RELATED AND SUPPORTING INDUSTRIES Government RELATED AND SUPPORTING INDUSTRIES

7 ANALISIS STRUKTUR INDUSTRI ROKOK KRETEK
Untuk mengukur konsentrasi industri digunakan dua indikator: Rasio konsentrasi: CR4 & CR 8 : pangsa 4 perusahaan terbesar dan pangsa 8 perusahaan terbesar dalam industri. Indeks Herfindahl-Hirschman (IHH): penjumlahan kuadrat pangsa pasar tiap-tiap perusahaan dalam suatu industri. IHH bernilai antara 0-1. Jika mendekati 0 berarti struktur industri mendekati pasar persaingan sempurna. Jika mendekati 1 maka struktur industri cenderung ke pasar monopoli. Jika CR4 = 40%, maka struktur industri dikatakan berbentuk oligopoli (Kuncoro, et al, 1997: Bab 22) Menurut Stigler, suatu industri dikatakan berstruktur oligopoli bila mempunyai konsentrasi industri lebih dari 60%. (Hasibuan, 1993)

8

9 KONSENTRASI INDUSTRI ROKOK KRETEK DI INDONESIA, 1996-1999
Dengan metode Rasio Konsentrasi: rata-rata CR4 industri rokok di Indonesia sebesar 77,56%. Rata-rata CR8 industri rokok di Indonesia sebesar 88,15%. Berdasarkan klasifikasi struktur industri menurut Bain (1956), struktur industri rokok kretek di Indonesia termasuk tipe II yaitu oligopoli dengan tingkat konsentrasi tinggi. Dengan metode IHH diperoleh nilai 0,27 yang berarti struktur industri rokok kretek di Indonesia tidak berstruktur monopoli. Sumber: diolah dari data BPS.

10 KONSENTRASI GEOGRAFIS
Daerah yang termasuk dalam kelas “sangat tinggi” dalam hal sumbangan tenaga kerja dan nilai tambah ternyata memiliki indeks spesialisasi lebih dari satu (Kudus 15.75; Kediri 18.81; Surabaya 3.94; Malang 15.19) Kondisi daerah utama industri rokok kretek ternyata tidak mengalami perubahan pada periode sebelum krisis (1996) maupun periode sesudah krisis/masa recovery (1999)

11 Para Pemain Rokok Pinggiran
Sebagai “follower” Meniru desain grafis & kemasan produk 4 besar Harga murah Pemasaran sebatas kec, kab, provinsi Iklan bombastis & sihir kata: Rokok ini memakai tembakau sangat canggih & cocok untuk kaum intelektual (Dja Yen Ng) Dari umat untuk umat (Aseng Jaya, 565)

12 JURUS 4 P DAN 4 C 4 P (kiat pemasar): 4 C (kiat pelanggan):
PRODUCT: macam produk, mutu, desain, penyajian, ukuran, pelayanan, garansi PRICE: harga dasar, diskon, jangka waktu, syarat PLACE: saluran, cakupan, jenis, lokasi, transportasi PROMOTION: promosi, iklan, wiraniaga, humas, pemasaran langsung 4 C (kiat pelanggan): Customer needs & wants Cost to customers Convenience: kemudahan, kenyamanan Communication Segmen rokok pinggiran: klas bawah, pengin tampil gaul dg merek terkenal, tapi duit cekak

13 Jurus mengekor nama: 369 (Sam Liok Kioe), 565 (Dja Yen Ng), 33 (sam Sam), 21 (Dji It), 468 (Soe Laa Pan) Gudang Gandum, Gudang Gamping, Gudang Rasa

14 AFTA: PELUANG ATAUKAH TANTANGAN?

15 CIRI UTAMA UKM KARAKTERISTIK DISTRIBUSI GEOGRAFIS?
tak ada pemisahan: pemilik & manajerial menggunakan tenaga kerja sendiri (Bimantara) unbankable--> modal sendiri tidak berbadan hukum DISTRIBUSI GEOGRAFIS? Terkonsentrasi di Jawa & Bali (sekitar 69%) Mayoritas berada di perdesaan (74%)

16 Lokasi Kluster IKRT di Pulau Jawa
Sumber: Kuncoro (2002) Pola spasial IBM berbeda dengan IKRT. IKRT tidak memiliki pola “dua kutub” (bipolar pattern). Pola umum IKRT tersebar di daerah perdesaan dan terkonsentrasi di kota-kota kecil.

17 BAGAIMANA KONDISI DAN PETA PERMASALAHAN UKM DI DIY?
Tabel Omzet, Tenaga Kerja dan Unit Usaha Industri Kecil dan Rumah Tangga Menurut Kabupaten di Prop. D.I. Yogyakarta

18 (%Terhadap Total Industri di DIY)
Sebaran Geografis IKRT Menurut Indikator Omset, Tenaga Kerja, dan Unit Usaha di DIY (%Terhadap Total Industri di DIY) Sumber: Sensus Ekonomi diolah

19 Kendala yang Dihadapi Industri Kecil & RT di Kabupaten DIY(dalam % terhadap total)
Sumber: Kuncoro (2002)

20 GRAFIK KENDALA KREDIT UKM DI DIY, 2002
Sumber : SMEDC UGM (2002)

21 KENDALA BANK DLM PEMBIAYAAN KREDIT UKM DI DIY TAHUN 2002
Sumber : SMEDC UGM (2002)

22 KLUSTER UKM TPT DI JAWA Sentra-sentra UKM TPT dalam kondisi “bahaya 1” pasca bom Bali dan kebakaran pasar Tanah Abang Jakarta

23 Sumber Daya Saing yang Berkelanjutan
Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Biaya Inovasi Diferensiasi

24 PELAKU BISNIS BUTUH: BUSINESS AGILITY
KETAJAMAN BISNIS Business Agility = Process Agility + Technical Agility Business Agility = Speed x Flexibility

25 PILIHAN STRATEGI BERSAING: ALIANSI STRATEGIK (partnership):
Kepemimpinan biaya Diferensiasi Fokus ALIANSI STRATEGIK (partnership): Patungan Fungsional Kemitraan

26 POLA KEMITRAAN KETERKAITAN LANGSUNG Pola PIR (inti-plasma)
Pola Dagang (Bapak Angkat sbg Pemasar) Pola Vendor Pola Subkontrak KETERKAITAN TIDAK LANGSUNG (Pembinaan murni)

27 USAHA KECIL & BAPAK ANGKAT
Berdasarkan analisis data BPS (2001): Tidak punya Bapak Angkat (2,4 juta unit usaha atau 95,1%) Punya Bapak Angkat (123 ribu unit usaha atau 4,9%): Bahan baku Pemasaran Permodalan Bimbingan & pelatihan Lainnya Catatan: Jenis keterkaitan merupakan pilihan ganda

28 Kesulitan yang dihadapi oleh IKRT menurut Survei BPS (2001)
Masalah utama yg dihadapi oleh IKRT adalah permodalan, pemasaran, dan bahan baku Masalah teknologi nampaknya bukan merupakan prioritas utama

29 Sumber: Diolah dari BAPEKOINDA DIY (2003)
Jumlah UKMK di DIY yang Menerima Bantuan Kredit Lunak BUMN, 31 Des 2002 (% terhadap Total) Sumber: Diolah dari BAPEKOINDA DIY (2003)

30 Realisasi Kredit Lunak BUMN Kepada UKMK di DIY (per 31 Des 2002)
Sumber: Diolah dari BAPEKOINDA DIY (2003)

31 BUMN yang Telah Menyalurkan Kredit Lunak kepada UKMK di DIY, 31 Des 2002 Catatan: % Total realisasi thd alokasi dana BUMN=49%

32 BUMN DAN UKM: MASALAH DI LAPANGAN
Pembinaan & pemberdayaan yang kurang terpadu & tumpang tindih lemahnya koordinasi antar BUMN kuatnya fanatisme sektoral Kurangnya kepedulian terhadap usaha kecil (Small is beautiful but big is better) UKM belum menjadi bagian integral dari strategi & value chain BUMN Kemitraan hanya mengikuti “perintah” SK Menkeu=>sinterklas Tidak ada kaitan proses produksi antara UKM & BUMN (lemahnya kaitan ke depan & ke belakang)

33 Analisis Rantai Nilai (Value Chain)
Infrastruktur Perusahaan Manajemen SDM Aktivitas pendukung MARGIN Pengembangan Teknologi Pengadaan barang Pelayanan (penyimpanan) Inbound Logistics (mengubah input menjadi output) Operasi gistics (distribusi Outbound Lo- ke konsumen) Pemasaran & Penjualan MARGIN Aktivitas utama

34 Kemitraan BUMN-UKM berbasis Kompetensi Inti
Strategic Competitiveness Above-Average Returns Kemitraan BUMN-UKM berbasis Kompetensi Inti Kompetensi Inti Kapabilitas Stratejik Sumber daya Input proses produksi Tangible vs intangible YA Apakah kapabilitas memenuhi kriteria sustainable competitive advantage? Kapabilitas Integrasi berbagai sumber daya Sumber dari Tidak Berharga Langka Sukar Ditiru Tak Tergantikan * Kapabilitas Sekelompok sumber daya nonstratejik 42

35 Mengapa kluster muncul?
MENGAPA TIDAK MENGEMBANGKAN UKM DENGAN PARADIGMA INDUSTRIAL CLUSTERS? Mengapa kluster muncul? concentration of a mass of skilled workers=> economies of labour supply proximity of specialist suppliers=> an extended division of labour between firms in complementary activities and processes knowledge & technological spillover => economies of information and communication via joint production, invention and improvements Dipelopori: Alfred Marshall, Michael Porter JENIS KLUSTER specialised cluster, e.g. Third Italy, as a model for the competitive success of clusters of small firms craft-based cluster, including textile, furniture, jewelly, ceramics, sporting goods, etc. modern-high technology cluster, e.g. electronic manufacturing complex in California’s Silicon Valley

36 SENTRA INDUSTRI MAKANAN & MINUMAN DI DIY
SEBARAN GEOGRAFIS SENTRA INDUSTRI MAKANAN & MINUMAN DI DIY

37 SENTRA INDUSTRI KAYU & BARANG DARI KAYU DI DIY
SEBARAN GEOGRAFIS SENTRA INDUSTRI KAYU & BARANG DARI KAYU DI DIY

38 PENGEMBANGAN UKM SESUAI DENGAN POTENSI DAERAH


Download ppt "INDUSTRI INDONESIA MENGHADAPI PASAR BEBAS"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google