Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

8/19/041 HAEMATOPOEISIS Dr. SUDIRMAN LUBAIT BAGIAN HISTOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "8/19/041 HAEMATOPOEISIS Dr. SUDIRMAN LUBAIT BAGIAN HISTOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS."— Transcript presentasi:

1 8/19/041 HAEMATOPOEISIS Dr. SUDIRMAN LUBAIT BAGIAN HISTOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2 8/19/042 JARINGAN HEMATOPOIETIK KEHIDUPAN INTRAUTERIN – FASE PREHEPATIK (PRIMORDIAL) SACCUS VITELLINUS – FASE HEPATOSPLENIK HEPAR DAN LIEN – FASE MEDULLOLIMFATIK (DIFINITIF) MEDULLA OSSEUM JARINGAN LIMFOID KEHIDUPAN EKSTRAUTERIN (DIFINITIF) – MEDULLA OSSEUM – JARINGAN LIMFOID

3 8/19/043 JARINGAN HEMATOPOIETIK SECARA BERTURUT-TURUT INTRAUTERIN

4 8/19/044 PEMBENTUKAN SEL-SEL DARAH INTRA-UTERIN PEMBENTUKAN SEL-SEL DARAH TIDAK SECARA SIMULTAN PEMBENTUKAN DIAWALI DENGAN SEL ERITROSIT PRIMITIF PADA 2 MINGGU PERTAMA DISUSUL OLEH SEL ERITROSIT DIFINITIIF DALAM SACCUS VITELLINUS SEL MEGAKARIOSIT MULAI DIBENTUK PADA BULAN 1 1/2 DISUSUL PEMBENTUKAN SEL GRANULOSIT PADA BULAN KEDUA PADA BULAN KE LIMA SEL-SEL DARAH TELAH LENGKAP DIBUAT DALAM SUMSUM TULANG

5 8/19/045 JARINGAN MIELOID SETELAH UMUR JANIN 5 BULAN JARINGAN MIELOID = JARINGAN HEMATOPOIETIK LOKASI: –RONGGA-RONGGA TULANG YANG DIISI OLEH SUMSUM TULANG (MEDULLA OSSEUM) STRUKTUR –ANYAMAN SINUSOID DARAH –DI LUAR SINUSOID TERDAPAT: STROMA DARI SEL-SEL RETIKULER PRIMITIF SEL-SEL INDUK (HEMOSITOBLAS) DENGAN SEMUA TURUNANNYA FUNGSI –MEMASOK SEL-SEL DARAH KE DALAM DARAH DAN JARINGAN LIMFOID

6 8/19/046 JARINGAN MIELOID sinusoid SEL-SEL HEMATOPOE- TIK BAGAN JARINGAN MIELOID

7 8/19/047 JARINGAN DARAH KOMPONEN –SEL-SEL DARAH ERITROSIT LEKOSIT –AGRANULOSIT »LIMFOSIT »MONOSIT –GRANULOSIT »SEL NETROFIL »SEL EOSINOFIL »SEL BASOFIL TROMBOSIT –SUBSTANSI INTERSELULER PLASMA DARAH –SERUM –FIBRINOGEN

8 8/19/048 TEORI HEMATOPOIETIK TEORI MONOFILETIK: –SEL MESENKHIM EMBRIONAL HEMOSITOBLAS –HEMOSITOBLAS MITOSIS/DIFERENSIASI TEORI POLIFILETIK: –2 JENIS SEL INDUK UNTUK: JARINGAN MIELOID JARINGAN LIMFOID –UNTUK SETIAP JENIS SEL DARAH TERDAPAT 1 SEL INDUK GARIS HEMATOPOIESIS –ERITROPOIESIS –GRANULOPOIESIS –LIMFOPOIESIS –MONOPOIESIS –TROMBOSITOPOIESIS

9 8/19/049 HEMATOPOIESIS

10 8/19/0410 ERITROPOIESIS GARIS DIFERENSIASI: –PROERITROBLAS –ERITROBLAS BASOFIL –ERITROBLAS POLIKHROMATOFIL –NORMOBLAS (ERITROBLAS ORTOKHROMAT) –RETIKULOSIT –ERITROSIT PERUBAHAN YANG TERJADI –UKURAN SEL SEMAKIN KECIL –NUKLEOLI MENGHILANG –KHROMATIN SEMAKIN KASAR, BERAKHIR INTI HILANG –RIBOSOM SEMAKIN BERKURANG –MITOKHONDRIA SEMAKIN BERKURANG –HEMOGLOBIN SEMAKIN MENINGKAT

11 8/19/0411 ERITROPOIESIS HEMOSITOBLAS ERITROSIT PRIMITIF ERITROSIT DEFINITIF

12 8/19/0412 POLA PERUBAHAN STRUKTUR SEL PADA ERITROPOIESIS

13 8/19/0413 PERAN SEL RETIKULUM DALAM ERITROPOIESIS TUJUAN: –MENGHASILKAN ERITROSIT YANG MAMPU MENGIKAT OKSIGEN DENGAN HEMOGLOBIN MEKANISME PEMBENTUKAN HEMOGLOBIN –SINTESIS PROTEIN –PENGIKATAN Fe DARI SEL RETIKULUM YANG DIKELILINGI ERITROBLAS SECARA BERKELOMPOK DALAM BENTUK FERITIN OLEH HB FUNGSI SEL RETIKULUM: –PENYAMPAIAN FERITIN UNTUK PEMBENTUKAN HB –FAGOSITOSIS SISA-SISA INTI YANG DILEPASKAN DAN SEL-SEL YANG RUSAK

14 8/19/0414 MORFOLOGI SEL-SEL ERITROPOIESIS PROERITROBLAS: –SEL BESAR 2 2  m - 28  m, SITOPLASMA BASOFIL, INTI BESAR AKTIVITAS SINTESIS PROTEIN, MITOSIS BEBERAPA KALI ERITROBLAS BASOFIL: –UKURAN 16  m - 18  m, INTI BESAR = 3/4 SEL, KHROMATIN LEBIH PADAT DAN KASAR, MITOSIS BEBERAPA KALI ERITROBLAS POLIKHROMATOFILIK –UKURAN 12  m - 15  m, INTI 1/2 SEL, KROMATIN PADAT BERKELOMPOK MERATA, SITOPLASMA MERAH JAMBU KARENA HB, MITOSIS BEBERAPA KALI NORMOBLAS –UKURAN 8  m - 10  m, INTI EKSENTRIK, KR. PADAT = 1/4 SEL, SITOPLASMA SEMAKIN ASIDOFIL (INTI PIKNOTIK) RETIKULOSIT (TANPA INTI) –MAMPU BERKONTRAKSI BUAT TONJOLAN MASUK SINUSOID

15 8/19/0415 ERITROPOIESIS DALAM SEDIAAN JARINGAN MIELOID PROERITROBLAS BASOPHYLIC ERITROBLAS POLYCHROMATOPHYLIC ERITROBLAS ORTHOCHROMATIC ERITROBLAS

16 8/19/0416 PENGENDALIAN ERITROPOIESIS TEKANAN OKSIGEN DALAM DARAH MENURUN AKAN MERANGSANG PRODUKSI HORMON ERITROPOIETIN YANG DIHASILKAN DALAM GINJAL HORMON ERITROPOIETIN MERANGSANG ERITROPOIESIS DALAM JARINGAN MIELOID

17 8/19/0417 MEDULLA OSSEUM HEMOSITOBLAS PROERITROBLAS ERITROBLAS BASOFILIK ERITROBLAS POLIKHROMATOFILIK NORMOBLAS RETIKULOSIT RETIKULOSIT (1%) ERITROSIT DARAH GINJAL PO 2 ERITROGENIN ERITROPOIETINOGEN PLASMA ERITROPOIETIN PENGENDALIAN ERITROPOIESIS

18 8/19/0418 GRANULOPOIESIS HEMOSITOBLAS MIELOBLAS 15  m - 20  m PROMIELOSIT: – INTI BULAT, BESAR, KHROMATIN HALUS SITOPLASMA BASOFIL. BANYAK MITOKHONDRIA, RIBOSOM, GRAN. ER, MITOSIS MIELOSIT, 16  m - 24  m, –INTI BERTAKIK, KHROMATIN KASAR, SITOPLASMA LEBIH BASOFIL, BUTIR-BUTIR AZUROFIL (LISOSOM), rER, mulai tampak butir-butir spesifik, sehingga dapat dibedakan: BUTIR NETROFIL BUTIR EOSINOFIL BUTIR BASOFIL –MITOSIS

19 8/19/0419 GRANULOPOIESIS METAMIELOSIT –INTI DENGAN TAKIK YANG DALAM, MENANDAKAN PEMBEN- TUKAN INTI YANG BERGELUNG, LEBIH JELAS KHROMATINNYA, SITOPLASMA MERAH JAMBU, BUTIR AZUROFIL HALUS, TIDAK BERMITOSIS. –DIBEDAKAN BUTIR SPESIFIK: NETROFIL : METAMYELOSIT NETROFIL EOSINOFIL : METAMYELOSIT EOSINOFIL BASOFIL : METAMYELOSIT BASOFIL GRANULOSIT DENGAN INTI BENTUK PITA/BATANG –BENTUK BATANG MELENGKUNG SEBELUM SEL MENJADI DEWASA –SUDAH BERADA DALAM PEREDARAN DARAH GRANULOSIT DEWASA –SEL NETROFIL, SEL EOSINOFIL DAN SEL BASOFIL – INTI BERUBAH MENJADI BERSEGMEN-SEGMEN BULAT

20 8/19/0420 GRANULOPOIESIS HEMOSITOBLAS MIELOBLAS PROMIELOSIT MIELOSIT METAMIELOSIT GRANULOSIT N BE

21 8/19/0421 GRANULOPOIESIS DALAM SEDIAAN APUS DARAH MIELOSIT METAMIELOSIT

22 8/19/0422 HEMOSITOBLAS MIELOBLAS PROMIELOSIT MIELOSIT METAMIELOSIT GRANULOSIT BERINTI BATANG GRANULOSIT DEWASA RUANG CADANGAN MEDULLA OSSEUM PEREDARAN DARAH DAERAH PINGGIRAN ALIRAN DESTRUKSI MIGRASI MOBILITAS SEL GARIS GRANULOSIT

23 8/19/0423 AGRANULOSITOPOIESIS MONOSITOPOIESIS –MONOBLAS MONOSIT SEL MAKROFAG MONOSIT : PEMBULUH DARAH SEL MAKROFAG: (EKSTRA VASKULER) JARINGAN LIMFOSITOPOIESIS –LIMFOBLAS PROLIMFOSIT DIBENTUK DALAM THYMUS : LIMFOSIT T DIBENTUK DALAM MEDULLA OSSEUM: LIMFOSIT B LIMFOSIT B PLASMASIT : ANTIBODY LIMFOSIT T & LIMFOSIT B: JARINGAN LIMFOID DAN DARAH

24 8/19/0424 AGRANULOSITOPOIESIS HEMOSITOBLAS LIMFOPOIESIS MONOSITOPOIESIS

25 8/19/0425 TROMBOSITOPOIESIS HEMOSITOBLAS MEGAKARIOBLAS –MEGAKARIOBLAS: 15  m - 50  m INTI BESAR, OVOID SEPERTI GINJAL, BANYAK NUKLEOLUS SITOPLASMA BASOFIL HOMOGEN BANYAK RIBOSOM, MITOSIS, DIFERENSIASI –MEGAKARIOSIT: 35  m  m INTI BERLOBUS, KHROMATIN JELAS, NUKLEOLUS : NEG SITOPLASMA BASOFIL, BUTIR AZUROFIL –MEGAKARIOSIT: TERPECAH-PECAH MEMBENTUK: TROMBOSIT (DALAM DARAH) MEKANISME: INVAGINASI MEGAKARIOSIT PADA BEBERAPA TEMPAT (TERPECAH-PECAH)

26 8/19/0426 MEKANISME PEMBENTUKAN TROMBOSIT DARI MEGAKARIOSIT SINUSOID TROMBOSIT MEGAKARIOSIT TROMBOSIT

27 8/19/0427 KOMPONEN DARAH –SUBSTANSI INTERSELULER (PLASMA DARAH): SERUM FIBRINOGEN –SEL-SEL: ERITROSIT LEKOSIT –AGRANULOSIT: »LIMFOSIT »MONOSIT –GRANULOSIT »SEL NETROFIL »SEL EOSINOFIL »SEL BASOFIL TROMBOSIT

28 8/19/0428 SUBSTANSI INTERSELULER (PLASMA DARAH): PERBANDINGAN TERHADAP SEL: 40 % - 50 % MAKROSKOPIK: –CAIRAN KEKUNING-KUNINGAN SETENGAH KENTAL KOMPOSISI: –AIR 90 % –PROTEIN 7 % ALBUMIN GLOBULIN FIBRINOGEN –GARAM ANORGANIK 0,9 % –SENYAWA ORGANIK: ASAM AMINO VITAMIN HORMON LIPID

29 8/19/0429 KOMPONEN SELULER DARAH

30 8/19/0430 ERITROSIT JUMLAH: 5 JUTA DALAM SETIAP 1 mm 3 MORFOLOGI: –BERBENTUK CAKRAM PIPIH BULAT BIKONKAF –DIAMETER: NORMAL: 7,2  m: MIKROSIT: 6  m MAKROSIT: 9  m - 12  m –TANPA INTI –DIBATASI OLEH MEMBRAN SEL –KEHILANGAN ORGANELA –YANG BARU DILEPASKAN MENGANDUNG rRNA, RETIKULOSIT KOMPOSISI: AIR 60 %, SISANYA: PROTEIN, HB UMUR: 120 HARI FUNGSI: –MENGIKAT OKSIGEN DENGAN HB MEMBENTUK OKSIHEMO- GLOBIN

31 8/19/0431 MORFOLOGI ERITROSIT KAPILER DARAH

32 8/19/0432 HUBUNGAN STRUKTUR DAN FUNGSI FUNGSI ERITROSIT DIUNTUNGKAN KARENA PENGAMBILAN OKSIGEN MENINGKAT –BENTUK CAKRAM BIKONKAF : MENAMBAH LUAS PERMUKAAN %, JARAK PERMUKAAN DENGAN PUSAT SEL LEBIH PENDEK –TANPA INTI MEMBERIKAN TEMPAT LEBIH UNTUK HB DILINDUNGI DARI KERUSAKAN: DENGAN TEPI MELENGKUNG MEMBULAT MEMUDAHKAN PEREDARAN ERITROSIT TANPA TERJADI KERUSAKAN SEL

33 8/19/0433 PENAMPILAN ERITROSIT DAN STATUS KESEHATAN BERBAGAI BENTUK ABNORMAL –POIKILOSITOSIS: UKURAN DIAMETER –NORMOSIT (7,2  m) –MAKROSIT (9  m - 12  m ) –MIKROSIT (> 6  m) WARNA ERITROSIT: –NORMOKHROMIK BAGIAN TENGAH TIDAK LEBIH DARI 1/3 DIAMETER –HIPOKHROMIK BAGIAN TENGAH YANG PUCAT MELEBAR –HIPERKHROMIK BAGIAN TENGAH YANG PUCAT MENYEMPIT KADAR HB –ANEMIA : KURANG DARI NORMAL

34 8/19/0434 LEUKOSIT GRANULER 1. NETROFIL 2. EOSINOFIL 3. BASOFIL AGRANULER 1. MONOSIT 2. LIMFOSIT

35 8/19/0435 SEL NETROFIL NETROFIL MATANG/DEWASA: –JUMLAH : % DARI SELURUH LEKOSIT: mm 3 –BULAT, DIAMETER: 10  m - 12  m –INTI BERLOBUS ( BUAH) SITOPLASMA: BUTIR AZUROFIL DAN BUTIR SPESIFIK (NETRAL) NETROFIL MUDA –JUMLAH: 1 - 2% –INTI BERBENTUK BATANG FUNGSI: FAGOSITOSIS

36 8/19/0436 SEL NETROFIL

37 8/19/0437 PERBANDINGAN JUMLAH NETROFIL PADA TINGKAT PERKEMBANGAN BERBEDA KELOMPOK I : INTI BATANG 9% KELOMPOK II: BERLOBUS 2 25% KELOMPOK III: BERLOBUS 3 46% KELOMPOK IV: BERLOBUS 4 15% KELOMPOK V: BERLOBUS 5 5% APABILA BERGESER KE KIRI (ATAS) : INFEKSI

38 8/19/0438 PERKEMBANGAN BENTUK INTI NETROFIL KIRI KANAN

39 8/19/0439 SEL EOSINOFIL JUMLAH: % DARI SELURUH LEKOSIT – BUTIR DALAM SETIAP 1 mm 3 UKURAN: 10  m - 15  m BENTUK: BULAT INTI BERLOBUS 2 BUTIR SPESIFIK EOSINOFIL UKURAN 0,5  m - 1  m FUNGSI: HUBUNGAN DENGAN RADANG DAN ALERGI

40 8/19/0440 SEL EOSINOFIL

41 8/19/0441 SEL BASOFIL JUMLAH: 0,5 % BENTUK BULAT UKURAN: 10  m - 12  m INTI TIDAK JELAS LOBUSNYA TERTUTUP BUTIR SPESIFIK BUTIR SPESIFIK: –WARNA BASOFIL FUNGSI: –MENGHASILKAN HISTAMIN PADA ALERGI

42 8/19/0442 SEL BASOFIL

43 8/19/0443 LIMFOSIT JUMLAH: % DARI SELURUH JUMLAH LEKOSIT – SETIAP mm 3 DARAH TERDAPAT PULA DALAM JARINGAN LIMFOID BENTUK BULAT UKURAN: –LIMFOSIT KECIL: 7  m - 8  m (92%) –LIMFOSIT SEDANG: –LIMFOSIT BESAR: 12  m (BENTUK MUDA) BENTUK INTI: BULAT AGAK EKSENTRIS SITOPLASMA: TIDAK ADA BUTIR-BUTIR SPESIFIK FUNGSI: SEL DALAM SISTEM IMUN –LIMFOSIT T –LIMFOSIT B –TIDAK DAPAT DIBEDAKAN SECARA MORFOLOGIK

44 8/19/0444 LIMFOSIT DENGAN TEM DENGAN SEM DENGAN MIKROSKOP CAHAYA

45 8/19/0445 MONOSIT JUMLAH : 3 - 8% DARI SELURUH LEKOSIT BENTUK BULAT UKURAN: 12  m - 15  m BENTUK INTI: OVAL, TAPAL KUDA, “TERLIPAT- LIPAT”. KHROMATIN: LEBIH HALUS DARI PADA INTI LIMFOSIT SITOPLASMA LEBIH BANYAK, BIRU, MENGANDUNG BUTIR-BUTIR MENGANDUNG PEROKSIDASE SEGERA KELUAR PEMBULUH DARAH MENJADI SEL MAKROFAG FUNGSI: FAGOSITOSIS DAN DALAM SISTEM IMUN

46 8/19/0446 MONOSIT

47 8/19/0447 TROMBOSIT TIDAK DAPAT DIGOLONGKAN SEBAGAI SEL TIDAK BERINTI JUMLAH: RIBU DALAM SETIAP 1 mm 3 DARAH BENTUK TIDAK TERATUR, SEBAGAI KEPING UKURAN: 2  m - 5  m BIASANYA BERKELOMPOK DALAM SEDIAAN STRUKTUR SUBMIKROSKOPIK –MASIH MEMILIKI ORGANELA –BUTIR GLIKOGEN FUNGSI: PEMBEKUAN DARAH

48 8/19/0448 TROMBOSIT


Download ppt "8/19/041 HAEMATOPOEISIS Dr. SUDIRMAN LUBAIT BAGIAN HISTOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google