Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENALARAN DAN DEFINISI Disusun oleh : 1.YUNI DESITA (7516121313) 2.HOTDI SITORUS (7516121314) 3.MULIATIE (7516121315)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENALARAN DAN DEFINISI Disusun oleh : 1.YUNI DESITA (7516121313) 2.HOTDI SITORUS (7516121314) 3.MULIATIE (7516121315)"— Transcript presentasi:

1 PENALARAN DAN DEFINISI Disusun oleh : 1.YUNI DESITA ( ) 2.HOTDI SITORUS ( ) 3.MULIATIE ( )

2  Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.  Didasari sejumlah proposisi (pernyataan/fakta) yang diketahui atau dianggap benar (pengamatan),  Proses seorang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui disebut menalar. pengertian

3 Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 :14), istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya : 1. Cara → menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis. 2. Hal → mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman. 3. Proses → proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip pengertian

4  Dua bagian dalam penalaran, yaitu : proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).  Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi  Penalaran dikelompokkan menjadi dua yaitu penalaran induktif dan deduktif pengertian

5 Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Contoh: Jika dipanaskan, besi memuai. Jika dipanaskan, tembaga memuai. Jika dipanaskan, emas memuai. Jika dipanaskan, platina memuai. ∴ Jika dipanaskan, logam memuai. PENALARAN INDUKTIF

6 3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF 1.Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena.  peristiwa-peristiwa khusus untuk mengambil kesimpulan secara umum.  dari segi bentuknya dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu : loncatan induktif dan yang bukan loncatan induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45).

7 2 (dua) macam generalisasi 1.Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif (Generalisasi tidak sempurna) adalah sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. 2.Generalisasi dengan Loncatan Induktif (Generalisasi sempurna) adalah sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang digunakan tersebut dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan

8 3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF 2.Analogi yaitu proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.  Kesimpulan yang diambil dengan analogi, yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya.  Tujuan analogi adalah meramalkan kesamaan, menyingkap kekeliruan dan menyusun sebuah klasifikasi.

9 3 (tiga) macam PENALARAN INDUKTIF 3.Kausal  adalah paragraph yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat.  Setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.  Hubungan kausal yang berlangsung dalam tiga pola, yaitu : sebab akibat, akibat-sebab, akibat-akibat.

10 PENALARAN deduktif  Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.  Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.

11 PENALARAN deduktif Jenis penalaran deduktif yaitu: 1.Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. 2.Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. 3.Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. 4.Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

12 PENALARAN deduktif  Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.  Simpulan secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis  simpulan secara adalah penarikan simpulan dari dua premis Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.

13 PENGERTIAN “DEFINISI”  Definisi berasal dari kata latin: definire, yang berarti: menandai batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti.  Setiap definisi harus mempunyai 2 bagian, yaitu: 1.Sesuatu yang akan didefinisikan, yang dikenal dengan istilah definiendum/genera 2.Penjelasan yang menjelaskan sesuatu tersebut, yang dikenal dengan istilah definiens/differentia

14 Tujuan membuat definisi Irving M Copi, menjelaskan ada 5 tujuan membuat definisi, yaitu : 1.Menambah perbendaharaan kata 2.Menghilangkan kerancuan atau ambiguitas. 3.Memperjelas arti suatu kata. 4.Menjelaskan secara teoritis. 5.Mempengaruhi tingkah laku.

15 JENIS-JENIS “DEFINISI” Menurut Alex Lanur, Poespoprodjo dan Nicolas Rescher, ada 3 macam, yaitu :  Definisi nominalis ialah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum dimengerti.  Definisi realis ialah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh sesuatu istilah sehingga isi yang dikandung oleh suatu istilah tersebut dijelaskan secara rinci.  Definisi prakstis ialah penjelasan tentang sesuatu hal ditinjau dari segi kegunaan atau tujuan

16 JENIS-JENIS “DEFINISI” Irving M Copi, ada 5 jenis definisi, yaitu : 1. Definisi Stipulatif, menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum dimengerti. 2. Definisi Lexical, penjelasannya pun sama dengan definisi riil. 3. Definisi Ketepatan (Precising Definition), definisi dibuat dan dapat menimbulkan definisi baru sehingga harus benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi kerancuan. 4. Definisi Teoritis, definisi yang muncul dalam rangka mengusulkan agar teori yang ditemukan diterima dengan mudah oleh masyarakat. 5. Definisi Persuasif, yaitu suatu definisi yang dibuat untuk mempengaruhi pikiran, tingkah laku dan emosi orang yang membaca dan mendengarnya.

17 TEKNIK MEMBUAT DEFINISI Ada 8 teknik menurut Nicholas Rescher, yaitu : 1.Enumerative Definition, yaitu suatu teknik pendefinisian dengan cara memberikan daftar lengkap dari setia bagian kata yang didefinisikan 2.Ostensive Definition, definisi dibuat dengan mengungkapkan perwakilan dari bagian kata yang didefinisikan. 3.Genetic Definition, definisi dibuat dengan memaparkan organisasi atau unsur-unsur pembangun kata yang didefinisikan 4.Constructive Definition,definisi yang dibuat dengan mengungkapkan instruksi atau perintah

18 TEKNIK MEMBUAT DEFINISI Ada 8 teknik menurut Nicholas Rescher, yaitu : 5.Constructive Definition,definisi yang dibuat dengan mengungkapkan instruksi atau perintah. 6.Operational Definition, Definisi yang dibuat berdasarkan serangkaian percobaan yang dapat menentukan cocok atau tidaknya kata itu dalam kasus yang khusus sifatnya. 7.Synonymous Definition,defini yang dibuat dengan menacu pada definiendum yang sama, contoh : laki-laki adalah pria 8.Abbreviative Definition, Definisi yang dibuat dengan menjelaskan kepanjangan, simbol dari definiendum, contoh : INA adalah Indonesia, yth adalah yang terhormat.

19 syarat MEMBUAT DEFINISI 1.Definisi tidak boleh masuk ke dalam definisi. 2.Definis tidak boleh terlalu luas dan terlalu sempit 3.Definisi harus mengacu pada atribut esensial yang dimiliki atau terdapat dalam definiendum 4.Definisi harus jelas, harus menghindari kerancuan dan kesamar-samaran 5.Definisi harus literal 6.Definisi tidak boleh dalam bentuk kaimat negatif, 7.Definisi harus dievaluasi senetral mungkin, ini ada kaitannya dengan “Loaded” Definition. 8.Definisi yang dibuat harus teris konsisten dengan definisi yang sudah berlaku 9.Definisi harus dapat dibolak-balikkan dengan hal yang didefinisikan

20 PENALARAN SEKIAN& TERIMA KASIH


Download ppt "PENALARAN DAN DEFINISI Disusun oleh : 1.YUNI DESITA (7516121313) 2.HOTDI SITORUS (7516121314) 3.MULIATIE (7516121315)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google