Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dipresentasikan oleh : Nadia Naraswati 12/343581/PEK/17997 Konsentrasi : Marketing Pembimbing : Ibu Yulia Arisnani Widyaningsih, MBA., Ph.D.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dipresentasikan oleh : Nadia Naraswati 12/343581/PEK/17997 Konsentrasi : Marketing Pembimbing : Ibu Yulia Arisnani Widyaningsih, MBA., Ph.D."— Transcript presentasi:

1 Dipresentasikan oleh : Nadia Naraswati 12/343581/PEK/17997 Konsentrasi : Marketing Pembimbing : Ibu Yulia Arisnani Widyaningsih, MBA., Ph.D

2 Pertumbuhan umat Muslim dunia mencapai 21,01 (Isfahan et. al. 2013). Populasi umat Islam Indonesia. Dengan 232,5 juta penduduknya, 88,22% muslim. Ketani proyeksikan jumlah umat muslim Indonesia mencapai 232,3 juta orang ditahun Sebuah market yang besar. PROSPEK BISNIS ORIENTASI KEAGAMAAN: BI sebut asset syari’ah telah tumbuh diatas trilliun diatas proyeksi moderat. ASEI sebut pasar Asuransi syari’ah juga tumbuh 3.21% pada Animo beribadah ke tanah Suci juga tumbuh diatas kapasitas kuota. Jumlah antrian terlama mencapai 2014 bahkan mencapai 15 tahun (Kompas).

3 TENTANG ESQ TOUR AND TRAVEL ESQ Tour and Travel Sebuah jasa biro perjalanan. Selain melayani plesir dunia, inti produk utamanya adalah melayani pemberangkatan Umroh dan Haji

4 ESQ TT dengan mensematkan nama ESQ, tentu tidak terlepas dengan citra, target dan segmen yang ingin dibangun. Customer ESQ training. ESQ sendiri dalah sebuah lembaga motivasi yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan EQ (intelejensi emosional) dan SQ (intelejensi spiritual) ESQ di didirikan dan dikembangkan oleh Ary Ginandjar. Dengan demikian pasar ESQ TT ingin menjaring pelanggan utamanya adalah orang-orang yang punya atensi terhadap pengembangan ESQ. Ini juga akan memberikan kesan berbeda antara ESQ TT dengan Tour and Travel lain Apa beda ESQ TT dengan biro lain sehingga perlu diteliti?

5 Sebagai bisnis, sentimen relijius maupun keterikatan dengan tokoh kerap tidak sukses dalam jangka panjang. Ada kegagalan menerjemahkan usaha kedalam kontent layanan yang benar-benar profesional. Misal: Kasus Aa Gym dengan Manajemen Qolbu, Kasus Yusuf Mansur, yang kemudian menjadi kontroversi di masyarakat. Apakah bisnis yang diprakarsai oleh Ary Ginandjar ini sama dengan kasus-kasus tersebut, atau bisa menjadi unit bisnis layanan yang profesional dan mandiri? Apakah faktor relijius-spiritual-emotional yang dicerminkan dengan brand ESQ pada ESQ TT menjadi determinan penting dalam mempengaruhi perilaku pembelian target marketnya?

6 Apakah Spiritual Intelligence dan Spiritual Congruence berpengaruh positif terhadap sikap pengguna jasa layanan pada ESQ TT? Apakah Brand Personality berpengaruh positif terhadap Brand Trust pengguna jasa layanan pada ESQ TT? Apakah Komitmen Relijius memoderasi pengaruh antara Brand Personality dengan Brand Trust pengguna jasa layanan pada ESQ TT? Apakah Attitude dan Brand Trust berpengaruh positif terhadap Purchase Intention jasa layanan pada ESQ TT? Apakah Brand Trust memediasi Brand Personality dengan Purchase Intention pengguna jasa layanan pada ESQ TT?

7 Melakukan pembuktian pengaruh positif Spiritual Intelligence dan Spiritual Congruence terhadap sikap pengguna jasa layanan pada ESQ TT. Melakukan pembuktian pengaruh positif Brand Personality terhadap Brand Trust pengguna jasa layanan pada ESQ TT. Melakukan analisis kemampuan moderasi pengaruh Komitmen Relijius antara Brand Personality dengan Brand Trust pengguna jasa layanan pada ESQ TT. Melakukan pembuktian pengaruh positif Attitude dan Brand Trust terhadap Purchase Intention jasa layanan pada ESQ TT. Melakukan analisis kemampuan mediasi Brand Trust antara Brand Personality dengan Purchase Intention pengguna jasa layanan pada ESQ TT.

8 Penelitian ini diharapkan akan memberikan analisis dan evaluasi tentang peranan pada pendekatan pemasaran khususnya pendekatan strategi pemasaran ESQ TT dengan pendekatan emosional-religius. Perusahaan akan dapat menilai apakah kebijakan pemasaran khususnya segmentasi target pasar maupun penggunaan brand dengan pendekatan Brand Personality efektif atau tidak dalam mendorong peningkatan penjualan jasanya, dan apakah kebijakan tersebut menciptakan konsumen yang benar-benar setia

9 SPIRITUAL INTELLIGENCE (SI) DAN SPIRITUAL ATTITUDE (AT) Teori Reasonned Action (TRA) (Ajzen & Fishbein,1980; Ajzen & Madden, 1998) behavioral beliefs dan outcome evaluation menentukan sikap seseorang. Vallerant dkk. (1992) secara empiris bahwa normative beliefs mempengaruhi sikap. Kepercayaan normatif diantaranya bersumber dari agama dan nilai-nilai spiritual. Kotler dkk (2002) membagi pemasaran pada tiga era: marketing product, kepuasan pelanggan, dan spirit marketing masyarakat kreatif. Era ketiga ini juga disebut sebagai spiritual marketing. Saat ini adalah era perubahan dari customer satisfaction ke spiritual marketing. Hashim & Musa (2014) telah menunjukkan model hubungan antara spiritual intelligence terhadap attitude, dan attitude dengan perilaku pembelian. Dengan demikian ada hubungan langsung (direct effect) antara SI terhadap attitude HIPOTESIS 1 : Sepritual Intelligence (SI) berpengaruh positif terhadap Spiritual Attitude (AT) pengguna jasa layanan

10 SPIRITUAL CONGRUENCE (SC) DAN ATTITUDE Teori kesenjangan diri (self discrepency) dari Higgins (1987) menjelaskan ketika terjadi kesenjangan ideal (ideal discripency) dengan kesenjangan seharusnya (ought discripency) akan memicu kecemasan sosial. Upaya menghindari kecemasan tersebut adalah menyesuaikan diri antara keyakinan diri (self belief) pada self domain dan self standpoint. Omar (2010) menyebut teori discrepency ini dengan teori kesesuaian (congruence). Ketika terjadi kesesuian antara keinginan seseorang dengan lingkungannya akan menghasilkan sikap positif (positive attitude). Hashim & Musa (2014) menunjukkan model hubungan antara SC dengan Attitude. Sementara itu Hohenstein et al. (2007) menunjukan self-congruity berpengaruh secara positif terhadap sikap, kepuasan dan loyalitas. HIPOTESIS 2 : Sepritual Congruence (SC) berpengaruh positif terhadap Spiritual Attitude (AT) pengguna jasa layanan

11 BRAND PERSONALITY DAN TRUST Aaker (1997) menunjukkan bahwa brand personality sebagai karakteristik manusia yang diasosiakan dengan merek. Teori Self discrepencey (Higgins, 1987) individu cenderung memilih sesuatu yang mempunyai kesesuaian dengan karekteristik dirinya. Barzooei & Asgari (2003) menunjukkan faktor relijius seperti halal brand akan membantu konsumen muslim untuk merasa sesuai tanpa ragu dan memilihnya. Delgado-Ballestar & Munuera-Aleman (2005) menjelaskan dalam teori pemasaran kepercayaan merupakan bagian yang sangat penting, bahkan ketika konsumen percaya pada merek (brand trust) mereka akan meyakini bahwa merek tersebut akan selalu menjaga janjinya. HIPOTESIS 3 : Brand Personality (BP) berpengaruh positif terhadap Brand Trust (BT) pengguna jasa layanan

12 ATTITUDE DAN PERILAKU PEMBELIAN Teori TRA dan TPB menjelaskan bahwa attitude berpengaruh terhadap perilaku seseoraing (Azjen & Fishbein,1980). Bredahl (2000) yang menguji model TRA dan TPB menemukan bahwa keputusan pembelian berkaitan dengan sikap terhadap pembelian produk, dimana sikap itu sendiri ditentukan oleh tingkat kepercayaan (trustworthy). Valerand dkk (1992) menyatakan bahwa TRA memungkinkan untuk memahami secara cukup tentang prediksi perilaku moral (moral behavior), didalamnya dijelaskan pengaruh yang kuat antara sikap dengan behavioral intentions. HIPOTESIS 4 : Spiritual Attitude (AT) berpengaruh positif terhadap Purchase Intentions (PI) pengguna jasa layanan

13 BRAND TRUST DAN PERILAKU PEMBELIAN. Delgado-Balelstar & Munuera-Aleman (2005) menjelaskan brand trust merupakan harapan (expectancy). Sebagai ekspektansi maka merek di dasarkan pada keyakinan pelanggan bahwa merek memiliki kualitas dalam hal konsistensi, kompetensi, jujur, tanggungjawab maupun faktor positif lainnnya yang dapat memberikan timbulnya rasa percaya pelanggan. Barzooei & Asgari (2003) menjelaskan bahwa niat beli konsumen terhadap suatu merek akan dapat menggambarkan kebutuhannya (needs), harapannya (expectations), dan persespinya (perceptions). Dikemukakan pula bahwa kepercayaan terhadap suatu merek ditentukan oleh aspek emosional dan aspek rasional. Sisi rasional berhubungan dengan kredibilitas yang berhubungan dengan kemampuan merek untuk memuaskan konsumen ataupun kinerja dari merek tersebut. Dengan demikian semakin tinggi suatu merek mampu memenuhi kebutuhan konsumen, harapannya dan persepsinya baik sisi emosional maupun sisi rasionalnya (memenuhi janji) akan semakin tinggi keinginan untuk memiliki atau membeli produk tersebut HIPOTESIS 5 : Brand Trust (BT) berpengaruh positif terhadap Purchase Intentions (PI) pengguna jasa layanan HIPOTESIS 6 : Brand Trust (BT) Memediasi Brand Personality (BP) dengan Purchase Intentions (PI)

14 Menurut tujuan, masuk dalam kategori testing hyphotesis (Asep, 2006:83). Menurut tujuan, masuk dalam kategori testing hyphotesis (Asep, 2006:83). Menurut hubungan antar variabel, masuk ranah penelitian kausal (causal study). Menurut hubungan antar variabel, masuk ranah penelitian kausal (causal study). Menurut unit analisis, penelitian ini masuk dalam kategori unit analisis individual (Asep, 2006:88) karena menggunakan responden individual sebagai sampel penelitian. Menurut unit analisis, penelitian ini masuk dalam kategori unit analisis individual (Asep, 2006:88) karena menggunakan responden individual sebagai sampel penelitian. Penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif.

15 Spritutal Intelligence Spritutal congruence Spiritual Attitude Purchase Intention Brand Personality Brand Trust Sumber: (Fishbein & Azjen, 2010); Hasim & Musa (2014); (Aaker, 1997); Delgado-Ballestar & Munuera-Aleman (2005); Barzooei & Asgar (2013) H1 H2 H3 H4 H5 H6

16 Independent Variabel (Variabel Bebas) : Spiritual Intelligence (X1),Spiritual Congruence (X2),Brand Personality (X3). Mediasi : Spiritual Attitude (Z1),Brand Trust (Z2). Dependent Variabel (Variabel Terikat) : Purchase Intention (Y).

17

18 Lanjutan…

19

20  Populasi penelitian adalah target pasar dari ESQ Tours Travel khususnya pelanggan yang telah mengikuti ESQ training.  Sampel penelitian adalah pelanggan ESQ training yang belum menggunakan jasa ESQ Tours Travel.  Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria. Kriterianya adalah pernah mengikuti training ESQ atau pernah menggunakan layanan unit bisnis ESQ lainnya.  Ukuran sampel : 380 responden.

21 Metode Pengumpulan Data Data Primer: Kuesioner(Skala Likert 1-5) Data Sekunder: Jurnal, buku, artikel. Responden Usia : tahun Mengetahui Informasi mengenai ESQ Pernah mengikuti pelatihan ESQ Jumlah responden : 35 x 10 = 350 responden. Uji Validitas & Reliabilitas Uji Validitas dengan Pearson Product Moment dengan kriteria R hit. > R tab.(1- tailed) ((Sugiyono, 2001: 114; Sanusi, 2011: 77). Uji Reliabilitas dengan Cronbach Alpha > 0,5. (Summertajaya, 2007). Metode Analisis Data Analisis dengan menggunakan metode SEM (PLS/Partial Least Square)

22 Kembali dan layak diolah 348 Sebar 400 Responden 380 Orang

23 1. Uji Validitas pada variabel Spiritual Intelligence Itemr hitungP-valueKeterangan SI Valid SI Valid SI Valid SI Valid SI Valid SI Valid SI Valid SI Valid Keterangan : r dengan p-value <= 5%, maka valid. I. Uji Validitas

24 Lanjutan… 2. Uji Validitas pada variabel Spiritual Congruence Itemr hitungP-valueKeterangan SC Valid SC Valid SC Valid SC Valid SC Valid SC Valid SC Valid Keterangan: r dengan p-value <= 5%, valid

25 Lanjutan… 3. Uji Validitas pada variabel Attitude Itemr hitungP-valueKeterangan AT Valid AT Valid AT Valid AT Valid AT Valid AT Tidak Valid Keterangan: r dengan p-value <= 5%, maka valid

26 Lanjutan… 4. Uji Validitas pada variabel Brand Personality Itemr hitungP-valueKeterangan BP Valid BP Valid BP Valid BP Tidak Valid BP Valid Keterangan: r dengan p-value <= 5%, maka valid

27 Lanjutan… 5. Uji Validitas pada variabel Brand Trust Itemr hitungP valueKeterangan BT Valid BT Valid BT Valid BT Valid BT Valid BT Valid BT Valid Keterangan: r dengan p-value <= 5%, maka valid

28 Lanjutan… 6. Uji Validitas pada variabel Purchase Intentions Itemr hitungP-valueKeterangan PI Valid PI Valid PI Valid PI Valid PI Valid Keterangan: r dengan p-value <= 5%, maka valid

29 Hasil Pengolahan Data (Pre-Test) II. Uji Reliabilitas VariabelCronbach’s Alpha ItemKeterangan Spiritual Intelligence 0,8508Reliabel Spiritual Congruence 0,9327Reliabel Attitude0,465 0, Tidak Reliabel Reliabel Brand Personality 0,7154Reliabel Brand Trust0,8367Reliabel Purchase Intentions 0,7325Reliabel Keterangan : Cronbach’s Alpha dengan batas minim. 0.5/> 0,5, maka RELIABEL

30 Ket: total sampel (n) 348

31 Lanjutan… Ket: total sampel (n) 348

32

33 Manifes telah membentuk konstruk- konstruk yang diteliti. Loading factor maksimal masing- masing indikator berada di kolom variabel konstruk. Indikator dinyatakan valid Kriteria nilai loading valid minimal 0.5

34 AVE = Square root of Average of Variance/discriminant validity CR = Composite Reliability

35 Goodness of fit (Inner Model) KET: Q 2 = 1 – ( 1 – R AT 2 ) ( 1 – R BT 2 ) ( 1- R PI 2 ) Baik (fit) jika Q 2 >= 0.6

36 Ket: *** Signifikan pada alpha 1% (t kritis 2,59 ** Signifikan pada alpha 5% (t kritis 1,96) ***

37 Uji Hipotesis

38 Pengaruh langsung BP terhadap BT sebesar 0.67 dengan t-statistik (Signifikan) Pengaruh lansgung BT terhadap PI sebesar 0.52 dengan t-statistik (Signifikan) Pengaruh langsung BP terhadap PI sebesar 0,28 dengan t-statistik 6.37 (Signifikan) Karena pengaruh BP terhadap PI maka mediasi BT antara BP dengan PI bersifat PARSIAL. Ini berarti BP tidak selalu harus berdampak pada trust agar timbul niat beli.

39 Attitude (AT) terbukti berpengaruh positif terhadap Purchase Intentions (PI) Brand personality (BP) terbukti berpengaruh positif terhadap Brand Trust (BT) Brand Personality (BP) terbukti berpengaruh positif terhadap Purchase Intentions (PI) Brand trust (BT) terbukti berpengaruh positif terhadap Purchase Intentions (PI) Spiritual Congruence (SC) terbukti berpengaruh posifit terhadap Attitude (AT) Spiritual Intellegence (SI) tidak terbukti berpengaruh positif terhadap Attitude (AT) Brand Trust memediasi secara parsial Brand Personality dengan Purchase Intentions

40 Temuan menunjukkan peran penting dari Brand Personality baik dalam membentuk Brand Trust pada konsumen juga menumbuhkan niat beli. Oleh sebab itu manajemen perlu lebih fokus dan konsisten dalam menentukan karakteristik brand yang sesuai dengan target konsumenya Pentingnya Spiritual Congruence dalam membentuk Attitude, dan pengaruh attitude terhadap Purchase Intentions dapat digunakan manajerial dalam menentukan menentukan segmentasi pasar dan menentukan target pasar potensialnya. Manajemen harus tahu lebih detail siapa konsumenya, bagaimana konsumen itu dapat di dekati, dan strategi apa untuk memperkuat loyalitasnya, dan positioning apa yang perlu dibangun.

41 Pengukuran Spiritual Intelligence. Pengukuran yang digunakan dengan menggunakan skala likert, tidak terlalu mendalam dalam mengukur kemampuan spiritual. Sebagaimana pengukuran skor IQ, dan EQ yang memiliki pengukuran komprehensif dengan berbagai parameter, disarankan penelitian menggunakan metode skor pengukuran SQ yang lebih mendalam. Pengukuran sikap. Rujukan Vallerand et. al. (1992), menggunakan variabel dikotomis untuk membedakan sikapnya secara tegas. Sementara dalam penelitian ini menggunakan likert.

42 Penelitian yang akan datang perlu mempertimbangkan variabel sikap relijius sebagai variabel moderator antara brand personality dengan brand trust maupun antara brand personality dengan purchase intention. Perlunya memperkuat strategi segmentasi produk sehingga di dapatkan positioning yang jelas atas produk yang ditawarkan.

43


Download ppt "Dipresentasikan oleh : Nadia Naraswati 12/343581/PEK/17997 Konsentrasi : Marketing Pembimbing : Ibu Yulia Arisnani Widyaningsih, MBA., Ph.D."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google