Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1.1. Latar Belakang Pisang (Musa paradisiaca L.) adalah tanaman buah, sumber vitamin, mineral dan karbohidrat. Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1.1. Latar Belakang Pisang (Musa paradisiaca L.) adalah tanaman buah, sumber vitamin, mineral dan karbohidrat. Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam."— Transcript presentasi:

1 1.1. Latar Belakang Pisang (Musa paradisiaca L.) adalah tanaman buah, sumber vitamin, mineral dan karbohidrat. Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam skala rumah tangga ataupun kebun pemeliharaannya kurang intensif. Sehingga, produksi pisang Indonesia rendah, dan tidak mampu bersaing di pasar internasional. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah varietas buah-buahan terbanyak.

2 Banyaknya varietas tersebut memberikan kesempatan kepada negara-negara di Asia Tenggara khususnya Indonesia untuk memperkenalkan keluar wilayah Asia. Buah pisang termasuk salah satu komoditas buah-buahan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia sekaligus mempunyai nilai ekonomi sebagai komoditas ekspor (Suyanti, 2007). Dengan demikian penulis tertarik untuk membuat suatu penelitian tentang : Pengaruh Penyimpanan pada Kantong Polietilena dengan Suhu yang Berbeda terhadap Pengawetan Pisang (Musa paradisiaca L.) Rumusan Masalah Berdasarkan judul di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu bagaimana pengaruh penyimpanan pada kantong polietilena dengan suhu yang berbeda terhadap pengawetan pisang (Musa paradisiaca L.).

3 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian untuk mengetahui pengaruh penyimpanan pada kantong polietilena dengan suhu yang berbeda terhadap pengawetan pisang (Musa paradisiaca L.). 1.4 Manfaat Penelitian Adapun penelitian ini dilakukan dan diharapkan bermanfaat untuk : a. Masyarakat : Sebagai bahan informasi dalam upaya pengawetan buah pisang (Musa paradisiaca L.) pada kantong plastik polietilena dengan suhu yang optimal.

4 b. Peneliti : Sebagai tambahan pengetahuan tentang kantong plastik dan suhu yang baik untuk pengawetan pisang (Musa paradisiacaL.). c. Program Studi : Sebagai bahan kajian kepada mahasiswa, khususnya untuk mata kuliah fisiologi tumbuhan, tentang pengaruh penyimpanan pada kantong polietilena dengan suhu yang berbeda terhadap pengawetan pisang (Musa paradisiaca L.).

5 4.5 Ruang Lingkup Penelitian Karena tanaman pisang memiliki banyak jenis dan varietas maka peneliti membatasi penelitian ini pada pisang Ambon (Musa paradisiaca L.) yang sudah matang fisiologi, sebanyak 63 buah pisang. Pisang tersebut didapat dari kebun petani di Negeri Banda Baru. Sedangkan kantong plastik polietilena dibeli di toko bahan- bahan pertanian. Masing-masing kantong plastik polietilena diberi 7 buah pisang sehingga menghasilkan 9 kantong plastik. Dengan masing- masing perlakuan yaitu :  P 1 : kantong plastik polietilena diisi 7 buah pisang (Musa paradisiaca L.) pada suhu 15◦C.  P 2 : kantong plastik polietilena diisi 7 buah pisang (Musa paradisiaca L.) pada suhu 20◦C.  P 3 : kantong plastik polietilena diisi 7 buah pisang (Musa paradisiaca L.) pada suhu 25◦C.

6 2.1. Penyebaran dan Klasifikasi Pisang (Musa paradisiaca L.) Pisang adalah tanaman herba yang berasal dari kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman buah ini kemudian menyebar luar ke kawasan Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Penyebaran tanaman ini selanjutnya hampir merata ke seluruh dunia. Berdasarkan taksonominya, tanaman pisang diklasifikasikan sebagai berikut : Devisi : Spermatophyta Sub Devisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Keluarga : Musaceae Genus : Musa Spesisi : Musa paradisiaca L. ( Rismunandar, 1990).

7 2.2. Morfologi Pisang (Musa paradisiaca L.) Morfologi pisang mencakup bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga dan buah. Pertumbuhan bagian tanaman tersebut saling berkesinambungan satu dengan lainnya. Kendati tanaman pisang terlalu membutuhkan tempat tumbuh yang spesifik, tetap harus diperhatikan persyaratan tumbuh yang dikehendaki agar hasil yang diperoleh bisa lebih optimal. 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Bunga 5. Buah

8 2.3. Syarat Tumbuh Pisang (Musa paradisiaca L.) Pisang termasuk tanaman yang gampang tumbuh karena bisa tumbuh di sembarang tempat. Namun, agar produktivitasnya optimal sebaiknya pisang ditanam di daerah dataran rendah. Ketinggiannya tempat yang ideal untuk pertumbuhan pisang berada di bawah meter dpl. Di atas kisaran tersebut, produksi pisang cenderung kurang optimal, waktu berbuah menjadi lebih lama, serta kulit buah menjadi lebih tebal.

9 Di daerah tersebut, batang pisang digunakan sebagai sumber air minum ternak. Walau tidak menyukai tanah kering, pisang juga tidak terlalu menyukai air yang menggenang seara terus- menerus. Akar tanaman ini memerlukan drainase dan sirkulasi udara dalam tanah yang baik. Tak heran bila tanaman pisang yang tumbuh di tepi sungai yang airnya mengalir kebanyakan tumbuh subur karena sirkulasi udara dalam tanahnya berlangsung baik (Supriyadi, 2008).

10 Kedalaman air tanah yang sesuai untuk pisang yang ditanam pada daerah beriklim biasa adalah cm di bawah permukaan tanah. Sementara jenis tanah yang disukai tanaman pisang adalah tanah liar yang mengandung kapur atau alluvial dengan pH antara 4,5-7,5. Oleh karena itu, tak heran bila tanaman pisang yang tumbuh di daerah dengan tanah berkapur pertumbuhannya akan sangat baik, seperti di Pulau Madura yang banyak memiliki bukit-bukit kapur (Suyanti, 2007).

11 2.4. Manfaat Pisang (Musa paradisiaca L.) Selain sebagai sumber vitamin dan mineral, buah pisang dapat digunakan untuk mengilangkan dahak dan menyaringkan suara. Cara membuatnya adalah buah pisang yang sudah masak dibelah, bagian tengahnya diberi minyak kelapa yang jernih, kemudian di bakar hingga matang Tanaman pisang memang banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusia dan dikenal sebagai tanaman yang multiguna karena selain buahnya, bagian tanaman lain pun bisa dimanfaatkan, mulai dari bonggol hingga daunnya. Berbagai manfaat dari bagian-bagian tanaman pisang adalah sebagai berikut :

12 1. Bunga 2. Daun 3. Batang 4. Buah 5. Kulit buah pisang 6. Bonggol 2.5. Nilai Gizi Buah Pisang (Musa paradisiaca L.) Buah pisang mempunyai kandungan gizi yang baik, antara lain menyediakan energi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah buahan yang lain. Pisang yang kaya akan mineral seperti kaliumz magnesium, besi, fosfor dan kalsium, mengandung vitamin B, B 6 dan c2

13 serta mengandung serotonin yang aktif sebagai neutransmitter untuk Kelancaran fungsi otak.Bila dibandingkan dengan buah apel, nilai energi pisang bernilai lebih tinggi, yakni 136 kalori per 100 g, sedangkan buah apel hanya 54 kalori per 100 g. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik bagi tubuh. Bagi orang yang bertubuh gemuk atau takut gemuk, pisang merupakan buah yang sangat baik untuk dikonsumsi sekalipun dalam jumlah banayak karena kandungan lemaknya masih lebih rendah daripada apel, yaitu hanya 0,13% sementara kandungan apel 0,3% (Anonim, 2007).

14 Kandungan vitamin buah pisang pun sangat tingi, terutama provitamin A berupa betakaroten (45 mg per 100 gram berat kering). Pisang juga mengandung vitamin B, yaitu tiamin, riboflavin, niasin dan vitamin B 6 (piridoksin). Kandungan vitamin B 6 pisang cukup tinggi, yaitu sebesar 0,5 mg per 100 g. Selain berfungsi sebagai koenzim untuk beberapa reaksi dalam metabolisme, vitamin B 6 berperan dalam proses sintetis dan metabolisme protein, khususnya serotonin. Serotonin diyakini berperan aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak. Vitamin B 6 juga berperan dalam metabolisme energi yang berasal dari karbohidrat. Peran vitamin B 6 ini jelas mendukung ketersediaan energi bagi otak untuk aktivitas sehari-hari (Supriyadi, 2008).

15 2.6. Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pangan Kerusakan bahan pangan telah dimulai sejak bahan pangatar tersebut dipanen. Penyebab utama kerusakan bahan pangan adalah :  Pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme  Aktivitas enzim dalam bahan pangan  Suhu, baik suhu tinggi maupun suhu rendah  Udara khususnya oksigen  Kadar air dan kekeringan  Cahaya  Serangga, parasit serta pengerat.

16 Setelah dipanen produk hasil pertanian tetap melakukan fisiologis sehingga dapat disebut sebagai jaringan yang masih hidup. Adanya aktifitas fisiologis menyebabkan produk pertanian akan terus mengalami perubahan yang tidak dapat dihentikan, hanya dapat diperlambat sampai batas tertentu (Santoso, 2006) Polietilena Gambar 2.1 Kantong plastik yang dibuat dari polietilena (Husas, 2008).

17 Polietilena (disingkat PE) (IUPAC: Polietena) adalah termoplastik yang digunakan secara luas oleh konsumen produk sebagai kantong plastik. Sekitar 80 juta metrik ton plastik ini diproduksi setiap tahunnya. Polietilena adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang monomer etilena (IUPAC : etena). Di industri polimer, polietilena ditulis dengan singkatan PE, perlakuan yang sama yang dilakukan oleh Polistirena (PS) dan Polipropilena (PP).IUPAC termoplastikkantong plastikpolimermonomeretilenaetenaPolistirenaPolipropilena Polietilena pertama kali disintesis oleh ahli kimia Jerman bernama Hans von Pechmann yang melakukannya secara tidak sengaja pada tahun 1989 ketika sedang memanaskan diazometana. Ketika koleganya, Eugen Bamberger dan Friedrich Tschirner mencari tahu tentang substansi putih, berlilin, mereka mengetahui bahwa yang ia buat mengandung rantai panjang -CH2- dan menamakannya polimetilena. Kegiatan sintesis polietilena secara industri pertama kali dilakukan,

18 2.8. Metode Pengemasan dengan Polietilen (PE)  Kehilangan air dapat dikurangi dengan jalan memberi pembungkus pada bahan yang akan didinginkan. Salah satu jenis pembungkus yang cukup baik digunakan adalah pembungkus dari bahan plastik.  Berdasarkan penelitian Scott dan Robert (1987) penyimpanan pisang yang masih hijau dalam kantong polietilen dapat memperlambat pematangan pisang selama 14 hari pada suhu 20°C (Husas, 2008) Organoleptik (Cita rasa) Cita rasa adalah perasaan yang timbul menggunakan indera untuk menilai sehingga didapat kesan terhadap suatu rangsangan. Untuk melaksanakan suatu penilaian organoleptik diperlukan panel.

19 Dalam penilaian suatu mutu atau analisis sifat-sifat sensorik atau komoditi, panel bertindak sebagai instrumen yang terdiri dari orang atau kelompok yang bertugas menilai kualitas pisang yang dihasilkan berdasarkan kesan subjektif. Dalam uji organoleptik, indera yang berperan dalam pengujian ini adalah indera penglihatan, penciuman, pencicipan, peraba dan pendengaran. Untuk produk pangan seperti pisang tidak digunakan adalah indera pendengaran. Dalam melakukan suatu penilaian diharuskan melatih indera untuk menilai sehingga didapat suatu kesan terhadap suatu rangsangan diantaranya warna dan rasa yang harus dinilai oleh panelis (Rahayu, 2001).

20 Adapun syarat agar dapat dikatagorikan dalam uji organoleptik adalah sebagai berikut : ◦ Ada contoh yang diuji yaitu benda perangsang dalam hal ini pisang. ◦ Ada panelis sebagai pemproses respon ◦ Ada pernyatan respon yang jujur, yaitu respon yang spontan, tanpa penalaran, imajinasi, ilusi, atau meniru orang lain. Dalam penilaian bahan pangan sifat yang menentukan diterima atau tidak suatu produk adalah sifat inderawinya. Penilaian inderawi ini ada enam tahap yaitu menerima bahan, mengenali bahan, mengadakan klarifikasi sifat-sifat bahan, mengigat kembali sifat-sifat yang diamati dan menguraikan kembali sifat inderawi produk tersebut.

21 Syarat untuk menjadi panelis adalah orang yang mempunyai perhatian pada pekerjaan ini. Selain itu harus dapat menyediakan waktu khusus untuk menilai serta mempunyai kepekaan terhadap apa yang dinilai atau umum untuk menjadi seorang panelis adalah mempunyai perhatian (Anonim, 2009). Dalam penilaian organoleptik dikenal tujuh macam panel yaitu : panel perseorangan, panel terbatas, panel terlatih, panel agak terlatih, panel tak terlatih, panel konsumen dan panel anak-anak. Perbedaan ketujuh panel tersebut didasarkan pada keahlian dan kelakuan dalam penilaian organoleptik. Dalam penilaian organoleptik ini yang digunakan adalah panel terlatih yang terdiri dari orang yang mempunyai kepekaan cukup baik (Rahayu, 2001).

22 Sampel yang akan disajikan kepada 20 orang panelis dengan memberikan kode tertentu dan hasilnya dinyatakan dalam Skala Likert. Skala likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam kuisioner dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survey. Skala likert merupakan metode biopolar yang mengukur baik tanggapan positif ataupun negatif terhadap suatu pernyatan. Skala ini diambil dari nama Rensis Likert yang menerbitkan suatu laporan yang menjelaskan penggunaannya. Sewaktu menggapai pertanyaan dalam skala likert, responden meningkatkan tingkat persetujuan terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Disajikan empat pilihan skala dengan format sebagai berikut :

23  Sewaktu menggapai pertanyaan dalam skala likert, responden meningkatkan tingkat persetujuan terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Disajikan empat pilihan skala dengan format sebagai berikut :  PernyataanSkor  Sangat setuju: 5  Setuju: 4  Tidak setuju: 2  Sangat tidak setuju: 1

24  3.1. Tipe Penelitian  Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksperimen, guna untuk melihat pengaruh penyimpanan pada kantong polietilena dengan suhu yang berbeda terhadap pengawetan pisang (Musa paradisiaca L.).  3.2. Tempat dan Waktu Penelitian  Tempat Penelitian  Penelitian ini dilaksanakan di Negeri Banda Baru Km 14 Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah.  Waktu Penelitian  Penelitian ini dilaksanakan setelah proposal ini diseminarkan dan direncanakan akan berlangsung selama ± 1 bulan.

25  3.3. Objek Penelitian  Objek dalam penelitian ini adalah buah pisang yang sudah matang fisiologi sebanyak 63 buah. Pisang tersebut didapat dari kebun masyarakat.  3.4. Variabel Penelitian  Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :  Variabel bebas (X) yaitu penyimpanan pisang pada kantong plastik polietilena dengan suhu yang berbeda.  Variabel terikat (Y) yaitu pengawetan pisang, dengan indikator kualitas pisang yaitu cita rasa dan warna.  20 

26  3.5.Alat dan Bahan  Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :  Kamera, untuk memotret dokumentasi.  Pisau, untuk memotong pisang dari tangkainya.  Kantong plastik polietilena sebanyak 9 kantong, untuk mengisi pisang.  Karet gelang, untuk mengikat kantong plastik polietilena setelah diisi pisang.  3 buah kulkas, untuk memasukkan kantong plastik yang sudah diisi pisang dengan suhu yang berbeda.  Alat tulis, untuk mencatat hasil penilitian  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :  Buah pisang yang sudah matang fisiologi sebanyak 63 buah.

27  3.6. prosedur penelitian  Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.  Mengambil buah pisang yang sudah disiapkan sebbanyak 63 buah.  Pisang tersebut dibagi ke dalam masing-masing kantong 7 buah pisang perkantong sehingga menghasilkan 9 buah kantong polietilena. pada setiap perlakuan di beri 3 kantong polietilena yang sudah berisi pisang,,jadi jumlah pisang yang terdapat dalam satu perlakuan adalah 21 buah.  Setelah itu kantong tersebut diikat dan diberi label sesuai Perlakuan, yaitu 3 kantong diberi label P1, 3 kantong diberi label P2 dan 3 kanttong diberi label P3

28  Penelitian ini dilakukan 3 perlakuan, dengan suhu yang berbeda yang sudah diatur pada setiap kulkas yaitu pada kulkas 1 diatur dengan suhu 15°C, kulkas 2 diatur dengan suhu 20°C dan kulkas 3 diatur dengan suhu 25°C.  Kantong yang telah diberi label dimasukkan pada setiap kulkas yang sudah diatur suhunya,yaitu label P1 dimasukkan ke dalam kulkas pada suhu 15ºC label P2 dimasukkan ke dalam klkas pada suhu 20°C dan label P3 dimasukkan ke dalam kulkas pada suhu 25°C.  Penelitian dilakukan selama 20 hari dengan indikator kualitas pisang berupa warna,rasa dan kekerasan.  Mencatat hasil penelitian sebagai perbandingan.

29  3.7. Teknik Pengumpulan Data  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :  Observasi  Melakukan pengamatan langsung pada lokasi penelitian sebagai data primer  Keperpustakaan  Menggunakan sejumlah literatur-literatur yang dianggap relevan dengan masalah penelitian dalam melengkapi data hasil penelitian secara sekunder.

30 3.8 Teknik Analisis Data  Data yang didapat dalam penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan cita rasa (organeleptik) untuk menentukan cita rasa dengan ketentuan cita rasa dan warna sebagai berikut :  Cita rasa yang diamati dengan menggunakan nilai skor sebagai berikut :  Paling manis 5  Manis 4  Cukup manis 3  Kurang manis 2  Tidak manis 1

31  Warna yang diamati menggunakan nilai skor sebagai berikut :  kuning 5  paling kuning 4  kunung kecoklatan 3  coklat 2  coklat kehitaman 1  Cita rasa terhadap kekerasan yang diamati menggunakan nilai skor sebagai berikut :  Paling keras 5  keras 4  Cukup keras 3  Kurang keras 2  Tidak keras 1  (Pelu,2009

32 SEKIAN DAN TERIMAH KASIH


Download ppt "1.1. Latar Belakang Pisang (Musa paradisiaca L.) adalah tanaman buah, sumber vitamin, mineral dan karbohidrat. Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google