Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Oleh: Dr. H. Dalman, M.Pd. PROGRAM PASCASARJANA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Oleh: Dr. H. Dalman, M.Pd. PROGRAM PASCASARJANA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN."— Transcript presentasi:

1 EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Oleh: Dr. H. Dalman, M.Pd. PROGRAM PASCASARJANA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI BANDAR LAMPUNG

2 POKOK BAHASAN 1. Pendahuluan (Selayang Pandang Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia) 2. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip-Prinsip Evaluasi 3. Penyusunan Tes Bahasa 4. Validitas Tes Bahasa 5. Reliabilitas Tes Bahasa 6. Penilaian dalam Tes Bahasa 7. Analisis Hasil Tes 8. Statistik Tes Bahasa 9. Hakikat, Tujuan, dan Pendekatan Tes Bahasa 10. Jenis Tes Bahasa 11. Komponen Tes Kebahasan 12. Tes Kompetensi Kebahasaan 13. Tes Kemampuan Menyimak dan Berbicara 14. Tes Kemampuan Berbahasa Tulis 15. Tes Kesastraan

3 LITERATUR Arikunto, Suharsimi Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Angkara. Aswar, Saifuddin Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cangelosi, James S Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung: ITB. Chaer, Abdul Linguistik Umum. Jakarta: Renika Cipta. Daryanto Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Renika Cipta. Djiwandono, Soenardi M Tes Bahasa: Pegangan Bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: Indeks Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB. Heaton, JB Writing English Language Test (New Edition). London: Longman. Kartawidjaja, Eddy Soewardi Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar. Bandung: Sinar Baru.

4 Lanjutan Nurgiyantoro, Burhan Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE. Purwanto, Ngalim M Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remadja Karya. Silverius, Suke Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Subino Konstruksi dan Analisis Tes: Suatu Pengantar Kepada Teori Tes dan Pengukuran. Jakarta: Depdikbud. Sudijono, Anas Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Thoha, M. Chabib Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Waluyo, dkk Penilaian Pencapaian Hasil Belajar. Jakarta: Karunika. Warkitri, H. Dkk Penilaian Pencapaian Hasil Belajar. (Modul 6-9). Jakarta: Karunika Universitas Terbuka.

5 PENGERTIAN EVALUASI - Evaluasi atau penilaian (evaluation) adalah usaha membandingkan hasil pengukuran dengan suatu patokan yang dibuat sebelumnya. -Evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu dan akan memberikan jawaban atas pertanyaan: What value? ( Wandt & Brown dalam Sudijono, 2006).

6 Pengertian Pengukuran - Pengukuran (measurement) adalah usaha mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Misalnya, mengukur jumlah kata yang dikuasai anak. Hasilnya dapat berupa angka (kuantitas) dan deskripsi (kualitas). - Pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengukur sesuatu. Dalam hal ini, mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu. Misalnya mengukur suhu badan dengan ukuran berupa thermometer: hasilnya 36 derajat Celcius (Sudijono, 2006).

7 Perbedaan antara Pengukuran dan Penilaian ObjekHasil PengukuranPatokan Pembanding Hasil Penilaian Hasil Perbandingan Penguasaan Kata Kerja Angka Matematika 100 buah 129 Rata-rata 101 buah -Angka tertinggi 130 -Rata-rata kelas: 85 -Batas lulus: 80 -Prestasi yang sudah-sudah: jauh di bawah kawan- kawannya Hampir sama dengan rata-rata - Hampir sama dengan angka tertinggi -Jauh lebih tinggi dari rata-rata kelas -Jauh melampaui batas lulus -Prestasi yang sangat gemilang

8 PRINSIP-PRINSIP DASAR EVALUASI HASIL BELAJAR 1. Prinsip Keseluruhan  evaluasi hasil belajar harus dapat mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa. 2. Prinsip Kesinambungan  evaluasi hasil belajar dilaksanakan secara teratur dan sambung-menyambung (kontinu) dari waktu ke waktu. 3. Prinsip Objektivitas  evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila terlepas dari faktor-faktor yang bersifat subjektif.

9 Ciri-Ciri Evaluasi Hasil Belajar Evaluasi yang dilaksanakan dalam rangka mengukur keberhasilan siswa itu, pengukurannya dilakukan secara tidak langsung. Pengukuran dalam rangka menilai keberhasilan belajar siswa pada umumnya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif, atau lebih sering menggunakan simbol-simbol angka. Pada kegiatan evaluasi hasil belajar pada umumnya digunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap. Prestasi belajar yang dicapai oleh para siswa dari waktu ke waktu adalah bersifat relatif, dalam arti: bahwa evaluasi keberhasilan belajar siswa itu pada umumnya tidak selalu menunjukkan kesamaan atau keajegan. Dalam kegiatan evaluasi hasil belajar, sulit untuk dihindari terjadinya kekeliruan pengukuran (error).

10 Faktor-faktor yang menyebabkan kekeliruan dalam pengukuran hasil belajar Faktor alat ukur  alat ukur yang digunakan tidak dapat mengukur secara tepat apa yang diukur. Faktor evaluator sendiri  yang telah melakukan kekeliruan dalam memberikan skor dan menentukan ranking. Faktor peserta didik  senang bermain spekulasi atau tebak-tebakan dalam menjawab soal. Faktor situasi, yaitu situasi pada saat pengukuran hasil belajar itu berlangsung.

11 Kekeliruan pengukuran yang terjadi karena faktor evaluator Karena suasana batin yang sedang menyelimuti diri evaluator pada saat pengukuran hasil belajar dilaksanakan. Karena sifat pemurah atau sifat pelit yang melekat pada diri evaluator. Karena terjadinya hallo effect, di mana guru dan dosen selaku evaluator terpengaruh oleh berita, informasi dan lain-lain yang datang dari teman sejawat, sehingga dalam pemberian nilai hasil belajar, berita atau informasi tersebut mempengaruhi diri guru atau dosen tersebut. Karena guru dan dosen selaku evaluator terpengaruh oleh “kesan masa lalu” mengenai hasil-hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didiknya.

12 Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab Kekeliruan Hasil Pengukuran yang bersumber dari dalam diri peserta didik: Faktor Psikis  faktor kejiwaan atau susana batin yang menyelimuti diri siswa pada saat dilaksanakannya evaluasi hasil belajar. Faktor Fisik  karena kesehatan jasmani sedang terganggu. Faktor Nasib  karena memang nasibnya sedang sial.

13 Langkah-Langkah Pokok dalam Evaluasi Hasil Belajar Menyusun rencana evaluasi hasil belajar Menghimpun data Melakukan verifikasi data Mengolah dan menganalisis data Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan Tindak lanjut hasil evaluasi.

14 Teknik-Teknik Evaluasi Hasil Belajar Teknik Tes  Evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah dilakukan dengan jalan menguji peserta didik. Teknik Nontes  Evaluasi dilakukan tanpa menguji peserta didik.

15 Pendekatan dalam Pengukuran dan Penilaian Pengukuran dan Penilaian itu tunduk pada dua macam pendekatan, yaitu Acuan Norma dan Acuan Patokan. Penilaian Acuan Norma (PAN) – Norm Referenced Approach/Evaluation bercirikan: a. Perbandingan nilai siswa dengan nilai kelasnya apa adanya b. Tidak dikaitkan dengan patokan lain c. Gambarannya: kurva normal d. Penafsiran angka siswa: dari angka rata- rata dan simpangan baku

16 Penilaian Acuan Patokan (PAP) – Criterion Referenced Approach/Evaluation bercirikan: a. Perbandingan nilai siswa dengan batas kelulusan b. Sifat patokan itu tetap c. Dapat dipakai untuk semua siswa pada pelajaran yang sama d. Hambatan yang dialami antara lain sulitnya menentukan patokan.

17 Penggunaan PAN dan PAP PAN dan PAP dapat digunakan untuk semua mata pelajaran (baik teoretis maupun praktis), tetapi PAP lebih membutuhkan kriteria keberhasilan, yaitu PAN dan PAP dapat digunakan untuk semua mata pelajaran (baik teoretis maupun praktis), tetapi PAP lebih membutuhkan kriteria keberhasilan, yaitu - penggunaannya pada ujian pembinaan dan ujian sumatif (akhir) - menginginkan mutu dan jumlah yang lulus banyak. PAN dan PAP membutuhkan pencapaian Tujuan khusus (TIK/TKP) PAN dan PAP membutuhkan pencapaian Tujuan khusus (TIK/TKP) Perbedaan: Batas kelulusan dapat bergeser pada PAN, sedangkan pada PAP batas kelulusan tidak bergeser. PAP sangat memperhatikan tingkat penguasaan dasar. Misalnya, untuk menguasai teori t-test dan Anova, mahasiswa harus memahami penggunaan angka rata- rata dan simpangan baku lebih dahulu. Perbedaan: Batas kelulusan dapat bergeser pada PAN, sedangkan pada PAP batas kelulusan tidak bergeser. PAP sangat memperhatikan tingkat penguasaan dasar. Misalnya, untuk menguasai teori t-test dan Anova, mahasiswa harus memahami penggunaan angka rata- rata dan simpangan baku lebih dahulu.

18 Syarat bagi PAN dan PAP adalah perpaduan program dan penilaian harus selaras, sehingga menuntut hal-hal sebagai berikut: Syarat bagi PAN dan PAP adalah perpaduan program dan penilaian harus selaras, sehingga menuntut hal-hal sebagai berikut: - diperlukan bimbingan selain PBM biasa - guru terampil menyusun program dan penilaian atas dasar kompetensi - guru dan siswa memerlukan sumber belajar yang cukup - siswa sebaiknya mengetahui program dan kriteria keberhasilan - PBM bukan hanya tatap muka - siswa diarahkan pada belajar dinamis - perlu pelaporan yang lengkap dan rapi - guru memerlukan sarana administrasi dan arsip yang baik - guru perlu banyak menyediakan waktu. Implikasi pendekatan penilaian yang dipakai menuntut keterpaduan program pengajaran dan penilaian yang terencana, terarah, dan dinamis. Implikasi pendekatan penilaian yang dipakai menuntut keterpaduan program pengajaran dan penilaian yang terencana, terarah, dan dinamis.

19 Jenis dan Alat Pengukur Ujian Sebagai ALat Pengukur - Ujian atau tes itu terdiri atas ujian buatan guru dan ujian baku. - Tes/Ujian buatan guru berkaitan dengan a. motivasi, yatu mendorong siswa bersikap dan membangun kebiasaan belajar yang baik. b. diagnosis, karena soal yang baik dapat menemukan kelemahan siswa sehingga perlu diagnosis c. penentuan tujuan dan isi kegiatan belajar, terutama tentang ingatan, pemahaman, aplikasi. d. penetapan kedudukan mahasiswa/siswa dalam kelasnya/kelompoknya - Ujian/tes baku berkaitan dengan tes intelegensi, bakat, dan hasil belajar penentuan

20 Perbedaan antara Ujian Buatan Guru dengan Ujian Baku Ujian Buatan Guru Ujian Baku - Berdasarkan materi pelajaran di kelas - Topik-topiknya terbatas - Hanya menguji satu/dua kelas - Dilaksanakan oleh guru - Berdasarkan keseluruhan isi kurikulum - Menyeluruh dan topiknya luas - Dapat menguji siswa pada tempat yang berbeda-beda - Disusun oleh ahli pendidikan psikologi, dan spesialis

21 JENIS UJIAN Ujian Urian - Ujian ini memerlukan rumusan soal yang jelas untuk mempertinggi validitas dan reliabilitas hasil yang dicapai. - Kebaikan ujian ini adalah bahwa siswa mengorganisasikan pikiran dan menjawab dengan bahasanya sendiri. - Kelemahannya antara lain menyangkut pertanyaan, tidak dapat mencakup seluruh materi dan penilaian oleh guru cenderung subjektif. Soal yang keluar untung-untungan bagi siswa

22 - Pemakaiannya perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan… - jumlah murid dan kelas kecil - untuk menguji kemampuan, menghubungkan, mengorganisasi pikiran, menciptakan pola, mengekspresikan ide-ide - redaksi soal jangan panjang berbelit- belit

23 Ujian uraian memerlukan teknik memeriksa yang baik dan memerlukan persyaratan-persyaratan sebagai berikut: (1) Pegang teguh aspek yang dinilai oleh pertanyaan; (2) Siapkan contoh jawaban yang ideal/tepat; (3) Jangan perhatikan nama siswa (4) Sebaiknya guru (penilai) lebih dari satu orang.

24 Ujian Objektif Sifat ujian ini ada yang terstruktur sempurna dan semi sempurna Sifat ujian ini ada yang terstruktur sempurna dan semi sempurna Kebaikannya dapat menguji seluruh aspek materi, siswa hanya menulis seperlunya atau memilih saja, soal tidak bersifat untung-untungan, dan setiap soal ada kuncinya. Kebaikannya dapat menguji seluruh aspek materi, siswa hanya menulis seperlunya atau memilih saja, soal tidak bersifat untung-untungan, dan setiap soal ada kuncinya. Kelemahannya adalah tidak menumbuhkan proses intelektual tinggi, dan siswa cenderung menerka jawaban Kelemahannya adalah tidak menumbuhkan proses intelektual tinggi, dan siswa cenderung menerka jawaban Bentuk soal ujian objektif meliputi: (1) benar- salah, (2) pilihan ganda biasa, (3) pilihan ganda asosiasi, (4) menjodohkan, (5) sebab-akibat, (6) melengkapi, (7) daftar cek dan skala umum. Bentuk soal ujian objektif meliputi: (1) benar- salah, (2) pilihan ganda biasa, (3) pilihan ganda asosiasi, (4) menjodohkan, (5) sebab-akibat, (6) melengkapi, (7) daftar cek dan skala umum.

25 Ujian Benar-Salah Sifat soal ini mudah disusun, tetapi reliabilitasnya rendah, dan siswa cenderung menerka. Oleh karena itu, perlu diperhatikan: (1) jumlah soal harus cukup banyak, (2) soal yang B dan S sebaiknya seimbang, (3) bentuk jawaban jangan merupakan pola, (4) jangan memberi kata-kata kunci sebagai jawaban tak langsung pada soal yang bersangkutan, (5) hindari istilah yang kabur seperti seringkali, sebagian besar, dan lain-lain; juga menghindari pengertian ganda, dan panjang kalimat yang mencolok. Sifat soal ini mudah disusun, tetapi reliabilitasnya rendah, dan siswa cenderung menerka. Oleh karena itu, perlu diperhatikan: (1) jumlah soal harus cukup banyak, (2) soal yang B dan S sebaiknya seimbang, (3) bentuk jawaban jangan merupakan pola, (4) jangan memberi kata-kata kunci sebagai jawaban tak langsung pada soal yang bersangkutan, (5) hindari istilah yang kabur seperti seringkali, sebagian besar, dan lain-lain; juga menghindari pengertian ganda, dan panjang kalimat yang mencolok.

26 Ujian Pilihan Ganda Biasa Bentuk soal: Ada deskripsi soal (tubuh soal) dan kemungkinan jawaban yang hanya satu yang benar/paling benar. Kebaikan: Efektif untuk mengukur informasi, perbendaharaan kata, pengertian, aplikasi prinsip, interpretasi data, menafsirkan, memilah, membedakan, menentukan pendapat, menarik simpulan. Kelemahan: Tidak efektif untuk kemampuan mengorganisasikan bahan dan konsep kematangan berpikir. Oleh karena itu, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: - Tubuh soal harus jelas rumusannya - Masukkan informasi utama dalam tubuh soal - Hubungan gramatikal harus tepat - Hindari kemungkinan jawaban yang jelas-jelas benar/salah. - Ukuran kalimat pada kemungkinan jawaban sebaiknya seimbang. - Pilihan jawaban antara 4-5 buah/soal. - Letak kunci jawaban jangan berpola.

27 Contoh: Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat! Seseorang yang tegeletak di lantai dekat tungku yang sedang mengeluarkan gas. Tindakan yang paling tepat ialah…. A. memanggil dokter B. membawanya ke rumah sakit C. menyiramnya dengan air dingin D. membawa ke tempat yang segar udaranya

28 Ujian Pilihan Ganda Asosiasi  Bentuk Soal: Deskripsi soal dan kemungkinan jawaban lebih dari satu (perlu diasosiasikan)  Kebaikan/kelemahan dan syarat lain sama dengan ujian pilahan ganda biasa.  Contoh: Pilihlah: A. jikalau (1), (2), dan (3) betul B. jikalau (1) dan (3) betul C. jikalau (2) dan (4) betul D. jikalau (4) saja yang betul Soal: Tujuan mencangkok tanaman ialah…. (1) agar segera memperoleh hasil (2) memperoleh hasil sebanyak-banyaknya (3) memperoleh hasil yang besar-besar dan banyak (4) memperoleh buah seperti tanaman yang dicangkok

29 UJIAN MENJODOHKAN  Ada dua kelompok unsur perjodohan, yaitu yang dijodohkan dan jawabannya.  Kelebihan: Mengurangi tekanan kalau penyusunannya baik.  Kelemahan: Hanya mengukur faktor ingatan; kurang mampu mengukur pengertian dan membuat tafsiran.  Syarat: - Bagian yang diperbandingkan harus homogen. - Jawaban lebih banyak daripada yang ditanyakan. - Pertanyaannya pendek-pendek saja. - Soal disusun dalam urutan yang logis. - Petunjuk perlu jelas.

30 Ujian Sebab-Akibat  Ada dua pernyataan di dalam soal yang berfungsi sebagai kemungkinan “sebab-akibat” yang dimaksud.  Kelebihan dan kelemahan sama dengan pilihan ganda asosiasi, tetapi khusus aspek “kemungkinan sebab- akibat” saja.  Syarat: Pertanyaan dan alasannya mungkin sama-sama benar, salah satu salah, atau keduanya salah.  Contoh: Pilihlah: A. jikalau pernyataan dan alasan benar dan berhubungan B. jikalau pernyataan dan alasan benar, tanpa berhubungan C. jikalau pernyataan atau alasan salah D. Jikalau pernyataan dan alasan salah Soal: Pertanian ekstensif sangat tepat dilaksanakan di daerah Jawa dan Bali. sebab Daerah-daerah lain tidak memiliki hutan potensial.

31 Ujian Tinjauan Kasus  Bentuk soal model ini mirip dengan pilihan ganda biasa, namun ungkapan sebelum pertanyaan pada soal bersifat mengupas kasus.  Kelebihan, kekurangan, dan syarat pun sama dengan pilihan ganda biasa.  Contoh: Pembangunan kota A lebih pesat daripada kota B. Kota A banyak dibanjiri oelh orang desa sekitarnya untuk mencari pekerjaan. Akibatnya, harga tanah di kota A lebih mahal daripada kota B. Hal itu karena…. A. daya beli penduduk B rendah B. kota A penduduknya lebih padat C. penduduk kota A kaya-kaya D. penduduk kota B kurang menghargai nilai tanah Catatan: Ciri yang mirip dengan tinjauan kasus ini adalah membaca diagram, tabel, gambar, dan grafik.

32 Ujian Melengkapi  Pada soal ini ada pernyataan, namun belum selesai/lengkap.  Kelebihan: Cocok untuk menguji perbendaharaan kata, nama, waktu, pengertian, dan soal perhitungan.  Kelemahan: Tidak dapat digunakan untuk mengukur hal- hal yang kompleks dan yang bersifat aplikasi.  Syarat: - Jawaban yang diharapkan harus betul-betul dibatasi. - Jangan banyak yang dikosongkan pada satu soal. - Hilangkan kata-kata yang dapat berperan sebgai kunci. - Titik-titik yang akan dilengkapi sebaiknya diletakkan pada akhir ungkapan. Contoh: Patih Majapahit yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara dalam satu negara kesatuan adalah…..

33 Daftar Cek dan Skala Ukuran  Penggunaan daftar ini adalah untuk mengukur objek yang tidak dapat dilakukan dengan ujian esai maupun objektif, dan penggunaan lebih tepat bagi pengamatan terstruktur.  Syarat: Ciri-ciri dalam skala/daftar harus benar-benar jelas tidak menimbulkan pengertian salah.

34 SYARAT-SYARAT ALAT DAN PROSEDUR PENGUKURAN Terdapat empat hal yang berkaitan dengan persyaratan alat dan prosedur pengukuran, yaitu: a) Validitas b) Reliabilitas c) Kepraktisan, dan d) Hubungan ketiganya.

35 Validitas  Pengertian Validitas Validitas adalah alat ukur yang dipakai cocok dengan yang akan diukur (terandalkan). Dalam pengajaran, ujian mata pelajaran harus cocok dengan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.  Jenis-jenis Validitas a. Validitas isi, artinya alat ukur itu sesuai dengan isi bahan yang diajarkan. b. Validitas Konsep atau Konstruksi, yaitu alat ukur itu sesuai dengan konsep ilmu yang diajarkan. c. Validitas Pengukuran Setara, yaitu korelasi hasil ujian setara dengan pengukuran yang sudah ada. d. Validitas Pengukuran Serempak, yaitu korelasi hasil ujian dengan hasil ukuran yang lain yang dilaksanakan secara serempak. e. Validitas Ramalan, yaitu dari hasil pengukuran yang dilakukan itu dapat dijadikan indikator perkembangan selanjutnya.

36 Reliabilitas  Pengertian Reliabilitas Reliabilitas adalah keterpercayaan atas hasil ujian/pengukuran setelah digunakan berulang-ulang (hasilnya sama/konstan = reliabilitas/terpercaya).  Jenis-jenis Reliabilitas a. Reliabilitas Pengukuran Ulang adalah alat itu minimal dapat dipakai dalam dua kali pemakaian b. Reliabilitas Pengukuran Setara, yaitu dua bentuk ujian, tetapi setara isinya. c. Reliabilitas Belah Dua, yaitu membagi soal ujian dan kemudian diberikan kepada dua kelompok siswa.

37 Kepraktisan Soal Kepraktisan itu menyangkut beberapa hal, antara lain sebagai berikut: 1. Penghematan, yaitu suatu kumpulan soal ujian dapat digunakan berulang-ulang sehingga menghemat tenaga menyusun soal baru. 2. Kemudahan dalam Pengadministrasian Syaratnya: (1) soal ujian harus jelas, (2) waktunya tidak terburu-buru, (3) penyusunan soal yang baik dan teratur. 3. Kemudahan dalam penginterpretasian, yaitu berkaitan dengan penggunaan perhitungan, sehingga skor mentah menjadi bermakna.

38 Hubungan antara Validitas, Reliabilitas, dan Kepraktisan Suatu hal penting untuk disadari adalah tidak selalu pengukuran dengan taraf reliabilitas tinggi bervaliditas tinggi juga. Contoh: Ukuran besar kepala tidak valid terhadap ukuran tingkat intelegensi, karena validitas itu berada di atas dan di luar reliabilitas.artinya, seorang yang kepalanya besar tidak selalu intelegensinya rendah.

39 Persiapan dan Penyelenggaraan Ujian  Persiapan dan penyelenggaraan ujian berhubungan erat dengan penetapan TKP/TKI, bahan-bahan pelajaran dan ujian yang kandungannya minimal mencakup kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor.  Perencanaan dan penyusunan soal-soal ujian itu berkaitan dengan: (1) ujian pembinaan bagi materi yang baru diajarkan, dan (2) ujian akhir bagi seluruh bahan ajaran yang disusun berdasarkan kisi-kisi.  Kisi-kisi soal ujian (blue print ujian) meliputi: (1) bahan ajar, (2) jenis kompetensi yang diukur, (3) banyaknya soal, (4) bentuk soal, (5) jumlah dan distribusi soal, yang dilengkapi dengan unsur-unsur: (a) bidang/subbidang studi, (b) sekolah, (c) waktu, (d) pokok/subpokok bahasan yang meliputi: bentuk soal (ABCDE), aspek intelelektual ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi dan tingkat kesukaran (mudah, sedang, sukar).  Untuk menulis soal diperlukan lembaran/format penulisan soal.

40 Penyiapan Bahan Ujian Lebih Lanjut Penyiapan itu meliputi aspek-aspek sebagai berikut: a.Soal-soal tambahan (persediaan soal harus lebih banyak daripada yang dipakai) b.Pemeriksaan kembali akan ketepatan soal c.Pengelompokan soal (soal yang sama jenis disatukan tempatnya) d.Petunjuk-petunjuk harus jelas dan tidak membingungkan siswa e.Perbanyakan (biasanya dilakukan oleh sekolah) f.Kelengkapan lain yang biasanya digunakan, terutama bagi siswa dan guru waktu memeriksa g.Pengadministrasian ujian yang biasanya dilakukan oleh guru dan staf.

41 PENGOLAHAN HASIL UJIAN Pengolahan ujian memerlukan perhitungan statistik, terutama untuk soal objektif. Pengolahan ujian memerlukan perhitungan statistik, terutama untuk soal objektif. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan adalah yang berkaitan dengan pemeriksaan lembar jawaban, penghalusan angka, prosedur penggunaan statistik, dan penerapan pendekatan dalam penilaian. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan adalah yang berkaitan dengan pemeriksaan lembar jawaban, penghalusan angka, prosedur penggunaan statistik, dan penerapan pendekatan dalam penilaian.

42 Pemeriksaan Lembar Jawaban Untuk hal ini perlu dipersiapkan kunci jawaban dan gunakan rumus korelasi: Untuk hal ini perlu dipersiapkan kunci jawaban dan gunakan rumus korelasi: AHU = (∑ B - ∑ S ) AHU = (∑ B - ∑ S ) P – 1 P – 1 AHU = angka hasil ujian ∑ B = pertanyaan (soal) yang djawab denga tepat (benar) ∑ S = pertanyaan (soal) yang dijawab dengan sesat (salah) P = kemungkinan pilihan jawaban untuk masing-masing jenis soal, misalnya: P = kemungkinan pilihan jawaban untuk masing-masing jenis soal, misalnya: - jenis soal benar-salah P = 2 - jenis soal benar-salah P = 2 - Soal pilihan ganda P = jumlah pilihan jawaban - Soal pilihan ganda P = jumlah pilihan jawaban yang tersedia yang tersedia

43 Penghalusan Angka Mentah Untuk hal ini kita perlu menggunakan rumus: AMH = AHU x Na AM AM AMH = Angka mentah yang dihaluskan AHU = Angka hasil ujian (angka mentah) AM = Angka mentah tertinggi yang dapat dicapai apabila semua soal delam ujian dijawab dengan tepat. Na = Nilai tertinggi dalam rentangan nilai akhir yang dimaksudkan.

44 Misalnya: Jika untuk suatu ujian objektif yang terdiri atas 150 soal, Amir memperoleh angka mentah 83, berapakan angka Amir yang telah dihaluskan? Jawab: Untuk rentang nilai 1- 10: 83 x 10 = 5, Untuk rentang nilai 1 – 100 atau nyatakan dalam presentase: Untuk rentang nilai 1 – 100 atau nyatakan dalam presentase: 83 x 100 = 55,3 83 x 100 = 55,3150 Untuk rentang nilai 1 – 4: Untuk rentang nilai 1 – 4: 83 x 4 = 2,21 83 x 4 = 2,21150 AHU = 83 AM = 150 Na = 10/100/4 AMH = 5,53/55,3/2,21

45 Untuk dapat melakukan perhitungan statistik perlu dihitung dan diketahui aspek-aspek prosedur statistik dan penerapan pendekatan serta penilaian Prosedur statistik dilakukan dengan mencari/menghitung: Prosedur statistik dilakukan dengan mencari/menghitung: (1) Rentangan angka (Range) Angka ini diperoleh dari angka tertinggi dikurangi angka terendah (angka ekstrim disingkirkan) (2) Urut jenjang (Rank Order) Caranya adalah dengan mengurutkan angka mentah seluruhnya mulai dari paling besar ke yang paling kecil. (3) Angka rata-rata (Mean) Angka ini diperoleh melalui hasil bagi jumlah angka mentah dengan jumlah peserta ujian. (4) Angka tengah (Median) Angka ini adalah angka paling tengah letaknya (5) Angka yang paling banyak diperoleh (Mode) Angka ini adalah angka yang paling banyak dijumpai pada skor mentah.

46 (6) Simpangan Baku (Standard Deviation) Rumus: (7) Penyebaran atau distribusi normal (Normal Distribution). Bagi ujian yang ditangani secara statistik, gambaran ideal yang terlihat objektif pasti akan berbentuk kurva normal.

47 PENERAPAN PENDEKATAN DALAM PENILAIAN PENERAPAN PAN PENERAPAN PAN Pendekatan ini menggunakan perhitungan statistik terhadap skor mentah, angka rata-rata, simpangan baku, dan kadang-kadang dengan interval.

48 Rumus PAN  A Mean + 1,5 SD  B Mean + 0,5 SD  C Mean – 0,5 SD  D Mean – 1,5 SD  E

49 Penarapan PAP Penerapan PAP tidak menggunakan perhitungan statistik tetapi menggunakan penghalusan angka dan batas kelulusan Penerapan PAP tidak menggunakan perhitungan statistik tetapi menggunakan penghalusan angka dan batas kelulusan Contoh: Contoh: Derajat Penguasaan Nilai Akhir 90% - 100% 80% - 89% 65% - 79% 55% - 64% Kurang dari 55% ABCDE

50 ANALISIS SOAL Analisis soal bermanfaat sebagai bahan diagnosis bagi siswa dan sebagai bahan pertimbangan bagi penyusunan soal yang baik. Analisis soal bermanfaat sebagai bahan diagnosis bagi siswa dan sebagai bahan pertimbangan bagi penyusunan soal yang baik. Tujuan analisis soal objektif adalah untuk mengetahui: (1) taraf kesukaran soal, (2) menandai kelompok siswa yang pandai dan bodoh, dan (3) ada tidaknya opsion atau kemungkinan jawaban yang tidak pernah dipilih oleh siswa. Tujuan analisis soal objektif adalah untuk mengetahui: (1) taraf kesukaran soal, (2) menandai kelompok siswa yang pandai dan bodoh, dan (3) ada tidaknya opsion atau kemungkinan jawaban yang tidak pernah dipilih oleh siswa.

51 Contoh Soal dan Analisisnya Soal: Badan yang memberikan saran-saran dan nasihat-nasihat kepada Presiden RI dalam melaksanakan pemerintahan sehari-hari ialah…. Soal: Badan yang memberikan saran-saran dan nasihat-nasihat kepada Presiden RI dalam melaksanakan pemerintahan sehari-hari ialah…. Kelompok Bodoh (25 org) Kelompok Pandai (25 org) (a) Dewan Nasional (b) DPR (c) DPA (d) Dewan Perancanang Nasional (E) DPD

52 Penafsiran: Soal di atas adalah soal yang terlalu mudah, 25 orang dari kelompok pandai dan 22 orang dari kelompok bodoh menjawab dengan dengan tepat. Bagaimanapun juga soal itu masih menunjukkan arah yang tepat yaitu kesalahan masih lebih banyak didapati pada kelompok bodoh. Penafsiran: Soal di atas adalah soal yang terlalu mudah, 25 orang dari kelompok pandai dan 22 orang dari kelompok bodoh menjawab dengan dengan tepat. Bagaimanapun juga soal itu masih menunjukkan arah yang tepat yaitu kesalahan masih lebih banyak didapati pada kelompok bodoh.

53 Soal: Suatu keadaan yang diusahakan tetap, sehingga dapat menghitung akibat yang ditimbulkan oleh keadaan-keadaan yang diubah dalam metode eksprimental, disebut… Kelompok Bodoh Bodoh (25 org) (25 org)KelompokPandai (25 orag) (A) Variabel Terkontrol (B) Variabel Kekeliruan (C) Variabel Eksprimen (D) Variabel Campuran (E) Variabel Ekstra (Omit) (Omit)

54 Penafsiran: Soal di atas adalah soal yang sukar, tetapi efektif. Hanya 14 orang dari 50 orang yang menjawab tepat. Soal tersebut benar-benar efektif dengan bukti bahwa 14 orang yang menjawab dengan tepat itu 13 di antaranya berada pada kelompok pandai. Pilihan-pilihan yang salah sebagian besar dibuat oleh kelompok bodoh. Penafsiran: Soal di atas adalah soal yang sukar, tetapi efektif. Hanya 14 orang dari 50 orang yang menjawab tepat. Soal tersebut benar-benar efektif dengan bukti bahwa 14 orang yang menjawab dengan tepat itu 13 di antaranya berada pada kelompok pandai. Pilihan-pilihan yang salah sebagian besar dibuat oleh kelompok bodoh.

55 Soal: Hubungan antara Presiden dengan pemerintahan sehari-hari sebagaimana diamanatkan oleh MPR dalam UUD 1945 adalah… KelompokBodoh (25 org) KelompokPandai (A) Hubungan Luar Negeri (B) Pelaksanaan Demokrasi (C) Melaksanakan Haluan Negara (D) Perjuangan (omit) (omit)

56 Penafsiran: Soal ini ternyata jelek. Dari 50 orang hanya 16 yang menjawab dengan tepat dan jawaban-jawaban yang tepat lebih banyak terdapat pada kelompok bodoh. Soal ini sebaiknya dibuang saja secara radikal atau diubah dan diperbaiki. Penafsiran: Soal ini ternyata jelek. Dari 50 orang hanya 16 yang menjawab dengan tepat dan jawaban-jawaban yang tepat lebih banyak terdapat pada kelompok bodoh. Soal ini sebaiknya dibuang saja secara radikal atau diubah dan diperbaiki.

57 Soal: Pemerintah Hayamwuruk dengan dibantu patihnya Gadjah Mada sangat terkenal karena… KelompokBodoh (25 org) KelompokPandai (A) Raja dan patihnya bertangan besi (B) Seluruh Kepulauan Nusantara bernaung di bawah satu negara kesatuan (C) Rakyat hidup aman dan makmur (D) Pada waktu itu agama berkembang dengan pesatnya (omit) (omit)

58 Penafsiran: Soal ini menunjukakan perbedaan yang sesuai dengan arah yang dimaksudkan (23 lawan 17), tetapi perbedaan ini tidak cukup tajam. Penafsiran: Soal ini menunjukakan perbedaan yang sesuai dengan arah yang dimaksudkan (23 lawan 17), tetapi perbedaan ini tidak cukup tajam.

59 Tarap Kesulitan Soal Tarap kesulitan soal ditentukan oleh proporsi jumlah peserta ujian yang menjawab benar dengan keseluruhan peserta ujian. Tarap kesulitan soal ditentukan oleh proporsi jumlah peserta ujian yang menjawab benar dengan keseluruhan peserta ujian. Contoh: Sebuah soal dijawab benar oleh 70 dari 100 orang. Contoh: Sebuah soal dijawab benar oleh 70 dari 100 orang. Tarap kesulitan (P) = 70 = 0,7 (artinya baik) Tarap kesulitan yang tidak baik adalah kalau taraf kesulitan = 0,0 atau 1,0 atau mendekati keduanya karena hal itu tidak menggambarkan hasil belajar siswa yang sesungguhnya. Tarap kesulitan yang tidak baik adalah kalau taraf kesulitan = 0,0 atau 1,0 atau mendekati keduanya karena hal itu tidak menggambarkan hasil belajar siswa yang sesungguhnya.

60

61 TES STANDAR Tes standar adalah tes yang soal-soalnya sudah mengalami proses analisis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, yang mengacu pada SKL yang ditetapkan. Tes standar adalah tes yang soal-soalnya sudah mengalami proses analisis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, yang mengacu pada SKL yang ditetapkan.

62 Langkah membuat TES standar: (1) tentukan tujuan tes; (1) tentukan tujuan tes; (2) tentukan acuan tes (norma); (2) tentukan acuan tes (norma); (3) buatlah kisi-kisi; (3) buatlah kisi-kisi; (4) buatlah soal atau pilih soal dari kumpulan soal sesuai dengan kisi-kisinya. (4) buatlah soal atau pilih soal dari kumpulan soal sesuai dengan kisi-kisinya.

63 Ketentuan Soal baru, harus melalui tahap telaah secara kualitatif, revisi, uji/ coba, analisis hasil uji /coba sehingga diperoleh soal yang baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif. Soal baru, harus melalui tahap telaah secara kualitatif, revisi, uji/ coba, analisis hasil uji /coba sehingga diperoleh soal yang baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif. Pengadministrasian tes (pelaksanaan tes) dibuat standar. Pengadministrasian tes (pelaksanaan tes) dibuat standar.

64 KISI-KISI SOAL Kisi-kisi adalah matriks informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis dan merakit soal menjadi tes. Kisi-kisi adalah matriks informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis dan merakit soal menjadi tes. Kisi-kisi merupakan acuan dalam menulis soal. Kisi-kisi merupakan acuan dalam menulis soal. Berbagai paket tes yang memiliki tingkat kesulitan, kedalaman materi, dan cakupan materi sama (paralel) akan mudah dihasilkan hanya dengan satu kisi-kisi yang baik. Berbagai paket tes yang memiliki tingkat kesulitan, kedalaman materi, dan cakupan materi sama (paralel) akan mudah dihasilkan hanya dengan satu kisi-kisi yang baik.

65 Urgensi, secara teoretis materi yang akan diujikan mutlak harus dikuasai siswa. Urgensi, secara teoretis materi yang akan diujikan mutlak harus dikuasai siswa. Relevansi, materi yang dipilih sangat diperlukan untuk mempelajari atau memahami bidang lain. Relevansi, materi yang dipilih sangat diperlukan untuk mempelajari atau memahami bidang lain. Kontinuitas, materi yang dipilih merupakan materi lanjutan atau pendalaman materi dari yang sebelumnya pernah dipelajari dalam jenjang yang sama maupun antar jenjang. Kontinuitas, materi yang dipilih merupakan materi lanjutan atau pendalaman materi dari yang sebelumnya pernah dipelajari dalam jenjang yang sama maupun antar jenjang. Kontekstual, materi memiliki daya terap dan nilai guna yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Kontekstual, materi memiliki daya terap dan nilai guna yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

66 PROSES PENJABARAN KOMPETENSI DASAR MENJADI INDIKATOR Materi : Bahan ajar yang harus dikuasai siswa berdasarkan kompetensi dasar yang akan diukur. Penentuan materi (bahan ajar) yang akan diambil disesuaikan dengan inkator yang akan disusun. Materi : Bahan ajar yang harus dikuasai siswa berdasarkan kompetensi dasar yang akan diukur. Penentuan materi (bahan ajar) yang akan diambil disesuaikan dengan inkator yang akan disusun. Indikator : Berisi ciri-ciri perilaku yang dapat diukur sebagai petunjuk untuk membuat soal. Indikator : Berisi ciri-ciri perilaku yang dapat diukur sebagai petunjuk untuk membuat soal. Soal : Disusun berdasarkan indikator yang dibuat. Soal : Disusun berdasarkan indikator yang dibuat. KD MATERI INDIKATOR SOAL

67 Memuat ciri-ciri kompetensi dasar yang akan diukur Memuat ciri-ciri kompetensi dasar yang akan diukur Memuat kata kerja operasional yang dapat diukur Memuat kata kerja operasional yang dapat diukur Berkaitan dengan materi (bahan ajar) yang dipilih Berkaitan dengan materi (bahan ajar) yang dipilih Dapat dibuatkan soalnya Dapat dibuatkan soalnya Dalam penyusunan indikator, komponen - komponen yang perlu diperhatikan adalah subjek, perilaku yang akan diukur, dan kondisi/konteksnya Dalam penyusunan indikator, komponen - komponen yang perlu diperhatikan adalah subjek, perilaku yang akan diukur, dan kondisi/konteksnya

68 CATATAN Indikator yang terdapat dalam silabus atau RPP tidak selalu otomatis bisa menjadi indikator butir soal. Indikator yang terdapat dalam silabus atau RPP tidak selalu otomatis bisa menjadi indikator butir soal. Indikator yang dikembangkan dalam RPP dan silabus adalah indikator ketercapaian tujuan pembelajaran Indikator yang dikembangkan dalam RPP dan silabus adalah indikator ketercapaian tujuan pembelajaran Indikator dalam kisi-kisi penulisan butir soal merupakan indikator untuk penyusunan butir soal. Indikator dalam kisi-kisi penulisan butir soal merupakan indikator untuk penyusunan butir soal.

69 Materi Soal harus sesuai dengan indikator Soal harus sesuai dengan indikator Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar

70 Konstruksi Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

71 lanjutan Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologisnya. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologisnya. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

72 Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

73 “Bedah” SKL UN SKL UN

74 Adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan STANDAR KOMPETENSI LULUSAN ( SKL ) Berdasarkan PP No.19/2005 Sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan Meliputi kompetensi seluruh mata pelajaran Dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Penddidikan (BSNP)

75 SKL SKL Pembelajaran terdapat pada Permen Diknas nomor 23 tahun 2006 SKL Pembelajaran terdapat pada Permen Diknas nomor 23 tahun 2006 SKL Ujian Nasional terdapat pada lampiran Permen Diknas nomor 75 tahun 2009 SKL Ujian Nasional terdapat pada lampiran Permen Diknas nomor 75 tahun 2009

76 INDIKATOR SOAL Sebagai pertanda atau indikasi pencapaian kompetensi  Menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur  Mengacu pada materi pembelajaran sesuai kompetensi 

77 TEKNIK PERUMUSAN INDIKATOR 1. BILA SOAL TERDAPAT STIMULUS Rumusan indikatornya: Dapat menjelaskan ….jika disajikan gambar BILA SOAL TIDAK TERDAPAT STIMULUS Rumusan indikatornya: Dapat membedakan …. Dapat menghitung.... Dapat menentukan....

78 PENGEMBANGAN KISI - KISI * Pedm. penulisan soal * Pedm. perakitan soal Fungsi * Mewakili isi kurikulum * Singkat dan jelas * Soal dapat disusun sesuai dengan bentuk soal. Syarat Kisi-kisi * Identitas * SK/KD * Materi Pembelajaran * Indikator Soal * Bentuk Tes * Nomor Soal Komponen Kisi-kisi * Mewakili isi kurikulum * Singkat dan jelas * Soal dapat disusun sesuai dengan bentuk soal. Syarat Kisi-kisi

79 Jenis Sekolah : Alokasi Waktu : Mata Pelajaran : Jumlah soal : Kurikulum : Penulis: FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL No. Urut Standar Kompetensi Lulusan Indikator Kelas / smt. Materi Indikator Soal Bentuk Tes No. Soal

80 80 KARTU SOAL Jenis Sekolah : Penyusun : Mata Pelajaran : Bahan Kelas/smt : Tahun ajaran : ___________ Bentuk Soal : PG KETERANGAN SOAL No Digunakan untuk Tgl Jumlah Siswa Tingkat Kesukaran Daya Pembeda Proporsi Jawaban pada Pilihan Keterangan ABCDOMIT MATERI I INDIKATOR SOAL INDIKATOR RUMUSAN BUTIR SOALKUNCI NO. SOAL BUKU SUMBER:

81 Jenis sekolah : SMP Alokasi Waktu: 120 menit Mata pelajaran : Bahasa IndonesiaJumlah soal : 40 Kurikulum : KTSP Penulis : No. Urut Standar Kompetensi Lulusan Indikator Kelas / smt. Materi Indikator Soal Bentuk Tes No. Soal 1. MEMBACA MEMBACA Membaca dan memahami berbagai ragam wacana tulis (artikel, berita, opini/tajuk, tabel, bagan, grafik, peta, denah), berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, novel, dan drama Menentukan isi dan bagian suatu paragraf VIII/1 VIII/1 Wacana tulis (Paragraf) Menentukan Gagasan utama paragraf PG1 CONTOH KISI-KISI PENULISAN SOAL

82 82 KARTU SOAL Jenis Sekolah : SMP Penyusun : 1. Dr.Dalman, M.Pd. Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia 2. Drs. Suhadi Bahan Kelas/smt : VIII/1 Tahun ajaran : 2010/2011 Bentuk Soal : PG KETERANGAN SOAL No Digunakan untuk Tgl Jumlah Siswa Tingkat Kesukaran Daya Pembeda Proporsi Jawaban pada Pilihan Keterangan ABCDOMIT MATERI INDIKATOR SOAL Menentukan Gagasan utama paragraf INDIKATOR Menentukan isi dan bagian suatu paragraf RUMUSAN BUTIR SOAL Pengelola Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memperkirakan sebanyak 400 ribu pengunjung hadir menjelang Tahun Baru Perkiraan ini dirasa tidak berlebihan mengingat membludaknya pengunjung pada tahun lalu. Sebagai daya tarik pengunjung, pengelola menyiapkan berbagai acara hiburan dengan tema "Pesta Rakyat", di antaranya pesta kembang api. Gagasan utama paragraf tersebut adalah... Gagasan utama paragraf tersebut adalah... A. pesta kembang api di TMII A. pesta kembang api di TMII B. membludaknya pengunjung TMII B. membludaknya pengunjung TMII C. perkiraan jumlah pengunjung TMII C. perkiraan jumlah pengunjung TMII D. daya tarik pengelola TMII D. daya tarik pengelola TMIIKUNCIC NO. SOAL 1 BUKU SUMBER: Buku paket B. Ind. SMP

83 Contoh Soal Bahasa Indonesia Kemampuan yang Diuji: Menentukan isi dan bagian suatu paragraf Indikator Soal: Disajikan sebuah paragraf, siswa dapat menentukan gagasan utama paragraf tersebut SOAL: Pengelola Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memperkirakan sebanyak 400 ribu pengunjung hadir menjelang Tahun Baru Perkiraan ini dirasa tidak berlebihan mengingat membludaknya pengunjung pada tahun lalu. Sebagai daya tarik pengunjung, pengelola menyiapkan berbagai acara hiburan dengan tema "Pesta Rakyat", di antaranya pesta kembang api. Gagasan utama paragraf tersebut adalah... A. pesta kembang api di TMII A. pesta kembang api di TMII B. membludaknya pengunjung TMII B. membludaknya pengunjung TMII C. perkiraan jumlah pengunjung TMII C. perkiraan jumlah pengunjung TMII D. daya tarik pengelola TMII D. daya tarik pengelola TMII

84 CARA MEMBUAT OPTION YANG BAIK 1 Jawaban yang paling umum dimengerti oleh peserta didik 2 Dirumuskan berdasarkan alur berpikir peserta didik 3 Dinyatakan dalam bentuk atau satuan yang homogen 4 Disajikan sesuai urutan nilai / angka 84 Keluar

85 Contoh Analisis SKL STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) INDIKATOR INDIKATOR SOAL MEMBACA MEMBACA Membaca dan memahami berbagai ragam wacana tulis (artikel, berita, opini/tajuk, tabel, bagan, grafik, peta, denah), berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, novel, dan drama Menentukan kritik terhadap isi bacaan Disajikan sebuah bacaan yang terdiri atas satu paragraf, siswa dapat menentukan kritikan terhadap isi bacaan tersebut

86 Contoh Soal Kemampuan yang Diuji: Menentukan kritik terhadap isi bacaan Indikator Soal: Disajikan sebuah bacaan yang terdiri atas satu paragraf, siswa dapat menentukan kritikan terhadap isi bacaan tersebut SOAL: Pemerintah ingin tetap konsekuen menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bila harga BBM di tingkat internasional menurun, pemerintah baru akan mengambil kebijakan menurunkan harga BBM bersubsidi di dalam negeri sesuai tingkat yang wajar. Langkah ini ditempuh untuk meringankan beban masyarakat. Pemerintah ingin tetap konsekuen menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bila harga BBM di tingkat internasional menurun, pemerintah baru akan mengambil kebijakan menurunkan harga BBM bersubsidi di dalam negeri sesuai tingkat yang wajar. Langkah ini ditempuh untuk meringankan beban masyarakat. Kritik terhadap isi paragraf tersebut adalah... A. Sudah kewajiban pemerintah untuk menurunkan harga. B. Pemerintah harus konsekuen menurunkan harga. C. Pemerintah tak perlu menunggu untuk menurunkan harga. D. Sudah sewajarnya pemerintah menurunkan harga.

87 Perhatikan paragraf yang akan dikritik sesuai dengan Indikator soal di atas! Pemerintah ingin tetap konsekuen menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Bila harga BBM di tingkat internasional menurun, pemerintah baru akan mengambil kebijakan menurunkan harga BBM bersubsidi di dalam negeri sesuai tingkat yang wajar. Langkah ini ditempuh untuk meringankan beban masyarakat. Pembahasan! Kritikan berupa perbaikan (koreksi) terhadap perilaku negatif. Kata yang menyiratkan perilaku negatif: “bila harga BBM … menurun, pemerintah … akan … menurunkan harga BBM “ (kalimat kedua). Dengan demikian, Kritikan yang tepat terhadap isi paragraf tersebut adalah “Pemerintah tak perlu menunggu untuk menurunkan harga”. Dengan demikian, Kritikan yang tepat terhadap isi paragraf tersebut adalah “Pemerintah tak perlu menunggu untuk menurunkan harga”.

88 SELAMAT BELAJAR TERIMA KASIH


Download ppt "EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Oleh: Dr. H. Dalman, M.Pd. PROGRAM PASCASARJANA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google