Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 DASAR-DASAR KEPENDUDUKAN/DEMOGRAFI Fertilitas Sisdjiatmo K. Widhaningrat, Lembaga Demografi, dan Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 DASAR-DASAR KEPENDUDUKAN/DEMOGRAFI Fertilitas Sisdjiatmo K. Widhaningrat, Lembaga Demografi, dan Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia."— Transcript presentasi:

1 1 DASAR-DASAR KEPENDUDUKAN/DEMOGRAFI Fertilitas Sisdjiatmo K. Widhaningrat, Lembaga Demografi, dan Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. S-2 Lingkungan, Okt

2 2 1. Pertumbuhan penduduk : Fertilitas – Mortalitas + (Mig. Netto). 2. Kesempatan Kerja = f (Pertumbuhan Ek,..)  Pertumbuhan ek = pertumbuhan GDP atau GNP Pertumbuhan penduduk : Keseimbangan kekuatan yang menambah dan yang mengurangi jumlah penduduk. –Dipengaruhi jumlah bayi yang lahir (menambah jumlah penduduk). –Tetapi secara bersamaan dikurangi jumlah kematian di setiap kelompok umur. –“Imigran”akan menambah, “Emigran” akan mengurangi jumlah penduduk.

3 3 Jumlah penduduk dan ekonomi a. Pertumbuhan penduduk 1,2 % per tahun = 0,012 X 222 juta = sekitar 2,66 juta. b. Mereka semua bayi (usia dibawah 1 tahun). Tergantung dari Orang Dewasa. PERTUMBUHAN PENDUDUK PERTUMBUHAN EKONOMI

4 4 Mengapa perlu mempelajari demografi ? Subyek yang dibicarakan : Population size, distribution and composition. Population dynamics, the basic factors in population change. Population estimates, population projections, and related types of data that are not directly available from a primary source, such as census, sample survey, or registration system.

5 5 PERUBAHAN PENDUDUK (DINAMIKA). Studi mengenai : Perubahan jumlah penduduk Perubahan komposisi penduduk Meliputi : Persamaan berimbang : P1 = Po + (B – D) + (Mi – Mo)

6 6 Perubahan alamiah Perubahan jumlah penduduk tanpa memperhitungkan migrasi (Natural increase : Fertilitas dan Mortalitas) Persentase Perubahan Alamiah : Persentase perubahan alamiah terhadap jumlah penduduk dasar. B – D X 100 % P

7 7 Persentasi Perubahan Penduduk Persentase perubahan penduduk terhadap jumlah penduduk dasar. B – D + Mi - Mo X 100 % P Angka Perubahan Linear : Perhitungan ini mengasumsikan adanya perubahan jumlah absolut penduduk yang sama dari tahun ke tahun lain. (Pt – Po) / n r = P

8 8 Angka Perubahan Geometris Perhitungan ini mengasumsikan adanya angka perubahan penduduk yang sama dari tahun ke tahun.  Pt = Po (1 + r) n Angka Perubahan Eksponensial Waktu Berganda Zero Population Growth

9 9 SUMBER DATA KEPENDUDUKAN Dalam mempelajari keadaan serta perubahan penduduk suatu daerah/negara, diperlukan berbagai ukuran. Misalnya : angka pertumbuhan penduduk, angka kelahiran, angka kematian dan angka perpindahan.  dapat dihitung dari data yang tersedia (Sensus Penduduk, Survey, Registrasi, dsb).

10 10 Transisi Demografi : Perubahan tingkat Fertilitas dan Mortalitas

11 11 Teori Transisi Demografi Yaitu teori yang menerangkan perubahan penduduk dari tingkat pertumbuhan yang stabil tinggi (tingkat kelahiran dan kema- tian yang tinggi) ke tingkat pertumbuhan rendah (tingkat kelahiran dan kematian rendah). Teori ini didasarkan pengalaman negara2 Eropa abad ke 19 (tdk berlaku umum). Terdiri dari 4 proses tahapan, yang akan dialami oleh negara yang sedang melaksa- nakan pembangunan ekonomi yang pesat.

12 12 Tahap I Pertumbuhan penduduk sangat rendah. Perbedaan angka kelahiran (50 per 1000 pddk) dan kematian (40 per 1000 pddk) yang tinggi, dan cenderung tidak terkendali. Panen gagal, harga tinggi, kelaparan, penyakit menular, dsb., menyebabkan tingkat kematian tinggi. Diimbangi dengan tingkat kelahiran “harus tinggi” juga.

13 13 Tahap II Angka kematian menurun tajam, akibat revolusi industri, kemajuan tehnologi dan penemuan obat antibiotik. Angka kelahiran menurun lambat, tapi masih tinggi. Akibatnya : jumlah penduduk meningkat dengan cepat.

14 14 Tahap III Angka kematian terus menurun, tapi tidak secepat Tahap II. Angka kelahiran mulai menurun tajam, sebagai akibat tersedianya peralatan kontrasepsi yang semakin maju, serta peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Pada akhir tahap III ini pertumbuhan penduduk menjurus rendah.

15 15 Tahap IV Angka kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah. Tingkat pertumbuhan penduduk juga rendah, yang dihasilkan dalam kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang maju. Menurut Coale (1973) : Transisi Fertilitas dalam bentuk penurunan TFR, transisi mortalitas dikaitkan dengan transisi epidemiologi.

16 16 Pertumbuhan penduduk : Pt = Po + (B – D) + (Mi - Mo) Po = Jumlah penduduk tahun dasar. Pt = Jumlah penduduk tahun sesudahnya. B = Jumlah kelahiran antara 2 tahun tsb. D = Jumlah kematian antara 2 tahun tsb. Mi = Migrasi masuk antara 2 tahun tsb. Mo = Migrasi keluar antara 2 tahun tsb.

17 17 Natural Increase : Selisih kelahiran dan kematian (Fertilitas – Mortalitas). Fertilitas : Kemampuan riil seorang wanita untuk melahirkan, yaitu jumlah bayi yang dilahirkan (lahir hidup). Keputusan ekonomi oleh individu/rumah tangga  kaitan dengan faktor-faktor demografi (fertilitas dan migrasi)  menghasilkan bidang baru yg disebut population economics Fertilitas adalah variabel ekonomi yang endogen, yang merupakan respon terhadap kendala dan insentif ekonomi

18 18 Fertilitas : pilihan ekonomi Orang tua peduli dengan kuantitas (jumlah) dan kualitas (kesejahteraan) keturunan  tercermin pada besarnya pendapatan dan pengeluaran rumah tangga untuk anak. Ada kalanya, keturunan dianggap sebagai alat asuransi bagi kesejahteraan orang tua di umur lanjut  Pemikiran anak sebagai “barang modal” (agraris).

19 19 FERTILITAS Fertilitas secara umum diartikan sebagai : Kemampuan manghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita. Dalam demografi fertilitas lebih dikaitkan dengan hasil reproduksi yang nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita.

20 20 FERTILITAS Sinonim fertilitas adalah natalitas.  mengacu kepada faktor kelahiran dan perubahan penduduk. Dalam arti sempit, yang lebih sering dipakai adalah fertilitas. Sementara itu, statistik kelahiran (birth) dan angka kelahiran (birth rates) cenderung lebih sempit penggunaannya dibandingkan dengan statistik atau angka natalitas  karena statistik kelahiran lebih mengacu kepada hasil registrasi.

21 21 Fekunditas : Menunjukkan potensi fisik seorang wanita untuk melahirkan anak. Seorang wanita dikatakan “subur” (fertile) apabila sudah melahirkan anak lahir hidup.

22 22 KONSEP KELAHIRAN. Lahir Hidup (Life Birth) : Kelahiran seorang bayi, tanpa memperhitungkan lamanya di dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan, misalnya ada nafas, ada denyut jantung, atau dejut tali pusat, atau gerakan- gerakan otot. Lahir Mati (Still Birth) : Kelahiran seorang bayi dari kandungan, yang sudah berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan.

23 23 Abortus : Kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28 minggu. Ada 2 macam : Abortus disengaja (induced abortion) : berdasar alasan medis, misalnya si ibu mempunyai penyakit jantung yang berat, atau membahayakan jiwa ibu jika melahirkan, atau alasan lain yang berbentuk kesengajaan. Abortus tidak disengaja (spontaneous abortion)

24 24 KONSEP MASA REPRODUKSI (Childbearing Ages). Secara medis, masa reproduksi adalah masa dimana seseorang wanita memiliki potensi untuk menghasilkan keturunan, yang berawal sejak mendapat haid pertama dan berakhir pada saat berhenti mendapatkan haid (menopause). Dalam analisa fertilitas, pada umumnya umur 15 – 49 tahun dijadikan rujukan sebagai masa subur (reproduksi) seorang wanita.

25 25 UKURAN DASAR FERTILITAS. 2 pendekatan : a. Ukuran yang sifatnya “penampang melintang” (cross section) dalam satu tahunan (yearly performed). Sering disebut current fertility. Mencerminkan tingkat fertilitas dari suatu kelompok penduduk atau kelompok wanita untuk jangka waktu tertentu. Biasanya satu tahun. b. Ukuran yang sifatnya mencerminkan “riwayat kelahiran” atau “ riwayat reproduksi” (reproductive history). Ukuran ini sering disebut ukuran longitudinal.

26 26 Penampang lintang : Angka/tingkat Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate, CBR). Angka/tingkat Kelahiran Umum (General Fertility Rate, GFR). Angka/tingkat Kelahiran menurut Umum (Age Spesific Fertility Rate, ASFR). Angka/tingkat Kelahiran Total (Total Fertility Rate, TFR).

27 27 UKURAN FERTILITAS DARI DATA SURVEI ATAU SENSUS. Anak Lahir Hidup (Children Ever Born, CEB). Rasio Anak-Wanita (Child Women Ratio). General Fertility Rate (GFR) berdasarkan Child Woman Ratio.

28 28 PERMASALAHAN DALAM PENGUKURAN FERTILITAS Angka fertilitas diukur berdasarkan pembagian antara jumlah kejadian (event) dengan penduduk yang menanggung resiko (exposed to risk). Tidak semua kelompok penduduk wanita mempunyai resiko untuk melahirkan, yaitu hanya wanita pada usia reproduktif (15 – 49 tahun). Umumnya terbatas wanita yang telah kawinlah yang mempunyai rsiko untuk hamil dan melahirkan. Kelahiran melibatkan orangtua. Dapat mengukur fertilitas berdasarkan sifat-sifat ibu, ayah, atau kedua orang tua. Penentuan jumlah penduduk yang mempunyai eksposi untuk melahirkan (expose to risk) dalam fertilitas sangat sukar. Tidak semua wanita berusia 15 – 49 tahun mempunyai resiko melahirkan. Kesulitas membedakan antara lahir hidup dan lahir mati. Ada unsur “pilihan” (choice) untuk melahirkan atau tidak. Tergantung jumlah anak yang telah dimiliki, pendidikan, dsb.

29 29 UKURAN REPRODUKSI. 1.Angka Reproduksi Bruto (Gross Reproduction Rate, GRR). Banyaknya bayi wanita yang dilahirkan oleh suatu cohort wanita, yaitu sekelompok wanita yang mulai melahirkan pada usia yang sama dan bersama-sama mengikuti perjalanan reproduksi sampai masa usia subur selesai. Terdapat 2 cara perhitungan, menggunakan : (a) Angka fertilitas total (TFR). (b) Angka fertilitas menurut umur (ASFR).

30 30 GRR – DKI Jakarta, 1995

31 31 GRR – DKI Jakarta, 1995 a. GRR = 100 / 205 X TFR = 100 / 205 X = 939 per 1000 wanita usia 15 – 49 tahun. GRR = 0,9 anak perempuan per wanita. Tanpa memperhatikan kematian yang mungkin dialami anak sesudah kelahiran, akan ada hampir 1 anak perempuan yang akan menggantikan ibunya melahirkan. b. GRR = 5 Σ ASFRf.i  dimana I = 1, …, 7 = 5 (188) X 1000 wanita = 940 per 1000 wanita = 0,9 per wanita. Di DKI Jakarta 1995, setiap wanita akan digantikan oleh hampir 1 orang anak perempuan yang akan menggantikan ibunya melahirkan, tanpa memperhitungkan kenyataan bahwa banyak bayi lahir yang meninggal dan tidak sempat mengalami masa reproduksi.

32 32 Gross Reproduction Rate (GRR) Angka Reproduksi Bruto : banyaknya bayi perempuan yang dilahirkan oleh suatu “cohort” wanita dalam usia produktif. Kelemahannya : Tidak memperhitungkan kemungkinan mati bayi perempuan tersebut sebelum masa reproduksinya. Contoh GRR Jakarta 1970 = per 1000 wanita (15-49) atau 2,48 bayi perempuan per 1 wanita. GRR Jakarta 1995 = 940 per 1000 wanita.

33 33 Net Reproduction Rate (NRR) Berbeda dgn GRR, NRR memperhitungkan kemungkinan si bayi perempuan meninggal sebelum mencapai masa reproduksinya. Asumsi : bayi perempuan tersebut meng-ikuti pola fertilitas dan mortalitas ibunya. NRR Indonesia = 1,16. Berarti banyaknya anak perempuan yang dimiliki suatu cohort wanita, yg akan hidup hingga masa reproduksinya, adalah 1,16 orang.

34 34 Children Ever Born (CEB) : jumlah anak yang pernah dilahirkan, mencerminkan banyaknya kelahiran dari sekelompok wanita selama masa reproduktif (umur 15–49 tahun). Rata-rata CEB Indonesia : wanita 15 – 19 tahun adalah 0,09 dan wanita 45 – 49 tahun adalah 4,3

35 35 Total Fertility Rate (TFR) Adalah jumlah dari Age Spesific Fertility Rate (ASFR). TFR Indonesia (SDKI) adalah 2,6. Artinya : Setiap wanita (dalam usia reproduktif 15 – 49 tahun), rata-rata mempunyai anak 2,6 orang diakhir masa reproduksinya.

36 36 2. Angka Reproduksi Netto (Net Reproduction rate, NRR)

37 37 2. Angka Reproduksi Netto (Net Reproduction rate, NRR) NRR = 5 X 161,9 = 809,5 per 1000 wanita = 0,8 per wanita. Berarti, seorang wanita di DKI Jakarta tahun 1995 akan digantikan oleh sekitar 0,8 anak wanita yang akan tetap hidup sampai menggantikan ibunya melahirkan. TFR Indonesia (Supas 1995) = 2,8 anak per wanita. GRR = 1,37 anak perempuan per wanita. NRR = 1,18 anak perempuan per wanita. Seorang wanita akan digantikan oleh > 1 anak wanita untuk meneruskan keturunan.  Pertumbuhan penduduk.

38 38 ASFR Indonesia ( )

39 39 PERKAWINAN DAN PERCERAIAN 1.Perbedaan antara Status Perkawinan dan Perkawinan itu sendiri. 2. Status Perkawinan menurut PBB : Belum Kawin (single) Kawin Cerai Janda Duda

40 40 3. Menurut Badan Pusat Statistik : Belum Kawin : Mereka yang belum pernah menikah. Dalam kelompok ini termasuk penduduk berusia muda 0 – 14, misalnya, dan juga kelompok penduduk yang hidup selibat atau tidak pernah kawin. Kawin : Adalah mereka yang kawin secara hukum (adat, negara, dan agama) dan mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami isteri.

41 41 3. Menurut Badan Pusat Statistik : Cerai : Adalah mereka yang bercerai dari suami/isteri dan belum melakukan perkawinan ulang. Janda/Duda : Adalah mereka yang suami/isterinya meninggal dan belum melakukan perkawinan ulang. Perceraian : Adalah suatu pembubaran yang sah dari suatu perkawinan dan perpisahan antara suami dan isteri oleh surat keputusan pengadilan yang memberikan hak kpada masing-masing untuk kawin ulang menurut hukum sipil dan agama, sesuai dengan peraturan atau adat kebudayaan yang berlaku di tiap-tiap negara.

42 42 3. Menurut Badan Pusat Statistik : Angka Perceraian Kasar : Menunjukkan jumlah perceraian yang terjadi per penduduk. Misal di Swedia 1960 : / X = 1,2 per penduduk. Angka Perceraian Umum : Sudah memperhitungkan penduduk yang terkena resiko perceraian yaitu penduduk berumur 15 tahun keatas (penduduk yang berumur divorceable). Modified Crude Divorce Rata : Menunjukkan angka perceraian atas dasar jumlah pasangan yang kawin.

43 43 KELUARGA BERENCANA (FAMILY PLANNING). BEBERAPA ISTILAH : 1. Pasangan Usia Subur (PUS) Pasangan suami isteri yang pada saat ini hidup bersama, baik bertempat tinggal resmi dalam satu rumah maupun tidak, dimana umur isterinya biasanya antara 15 – 44 tahun. Batasan umur isteri disini bukan 15 – 49 tahun, karena seringkali kelompok 45 – 49 tahun bukan sasaran KB lagi (kemungkinan melahirkan lagi sudah sangat kecil).

44 44 KELUARGA BERENCANA (FAMILY PLANNING). 2. Akseptor KB. Pasangan usia subur (PUS) dimana salah seorang daripadanya menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non-program. Akseptor baru : PUS yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi, dan/atau PUS yang menggunakan kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berahkhir masa kehamilannya (baik kehamilan yang berakhir dengan keguguran, lahir mati atau lahir hidup). Akseptor Aktif Kembali : PUS yang telah berhenti menggunakan selama 3 bulan atau lebih, yang tidak diselingi oleh suatu kehamilan dan kembali menggunakan cara kontrasepsi, baik dengan cara yang sama maupun berganti cara setelah berhenti/beristirahat paling kurang 3 bulan berturut-turut dan bukan karena hamil.

45 45 KELUARGA BERENCANA (FAMILY PLANNING). 3. Cara kontrasepsi modern dan tradisional Modern : Cara/alat kontrasepsi yang digunakan untuk mencegah/menjarangkan kehamilan misalnya : IUD, Pil, Suntikan, Kondom, Diagfragma, Vaginal tablet/jelly/foam, sterilisasi, dsb. Disebut “effective methods”. 4. Current User (peserta KB aktif). PUS yang saat ini masih menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi. 5. Ever User : PUS yang pernah menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi, baik sekarang masih menggunakan atau tidak menggunakan. 6. Kehamilan Tercegah (Birth Prevented). Banyaknya kelahiran yang dapat dicegah karena PUS menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi.

46 46 BEBERAPA UKURAN KB. 1. Angka kelangsungan (Continuation Rate). 2. Current Users. 3. a. Bulan Pasangan Perlindungan (Couple Months of Protection) : banyaknya bulan-pasangan suami isteri yang terlindung dari kemungkinan mengalami kehamilan karena menggunakan salah satu alat kontrasepsi. b. Tahun Pasangan Perlindungan (Couple Years of Protection). 4. Perkiraan penurunan fertilitas akibat pelaksanaan KB.

47 47 Program KB : Komitment rendah, pertumbuhan penduduk tak terbendung, Suara Pembaruan, Kamis, 16 Nov Komitment politik di tingkat nasional dan daerah terhadap persoalan kependudukan kian memudar. Akibatnya laju pertumbuhan penduduk tidak terbendung. Padahal, masalah kependudukan harus tetap dijadikan program prioritas bangsa. Salah satu program yang mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah program KB. Memberikan manfaat sosial dan ekonomi. Di NTT dengan penduduk 4,2 juta orang, sebenarnya sudah menjadi beban pemerintah. Jika pertumbuhan penduduk 2 % maka dalam 35 tahun akan terjadi baby boom.

48 48 Program KB : Komitment rendah, pertumbuhan penduduk tak terbendung, Suara Pembaruan, Kamis, 16 Nov Penelitian program KB DKI Jakarta , terjadi pengurangan pertumbuhan penduduk juta jiwa. Dua pemanfaatan : Penghematan Rp. 2,59 trilyun untuk biaya pendidikan dasar, dan Rp. 3,3 trilyun untuk biaya kesehatan dasar. Ini bukti Cost-Benefit Ratio program penurunan jumlah penduduk adalah tinggi. BKKBN : SDKI TFR 2,6 diturunkan menjadi 2,1 Angka kelahiran dari PUS turun menjadi 2,27 %. Namun kenaikan peserta (akseptor) KB PUS hanya sekitar 1,5 % per tahun. PUS dari kalangan kurang mampu dan pendidikan rendah lebih sedikit, sedangkan angka kelahirannya lebih tinggi. Data menunjukkan, angka kelahiran perempuan usia subur dari kalangan mampu sekitar 2 % per tahun. Sedangkan dari kalangan tidak mampu dan pendidikan rendah 3 % per tahun. Padahal sekitar 17,7 % dari PUS penduduk Indonesia adalah dari kalangan kurang mampu dan berpendidikan rendah. Hingga akan menigkatkan penduduk miskin.

49 49 PEMIKIRAN “FAKTOR ANTARA” DALAM FERTILITAS PROXIMATE DETERMINANT Fertilitas merupakan hasil dari suatu proses perilaku serta persepsi dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Berbagai faktor dapat mempengaruhi fertilitas : sosial, budaya, agama, ekonomi, dsb. Dapat mempengaruhi secara langsung atau tidak langsung. Menurut perkembangannya memakai perkembangan ilmu sosial atau ilmu ekonomi.

50 50 PENDEKATAN SOSIAL. a. Davis and Blake. Melalui pendekatan variabel antara, yaitu vaiabel yang harus dilalui oleh variabel lain untuk dapat mempengaruhi fertilitas. Pada tahun 1956, Kingsley Davis dan Judith Blake (paper Social structure and fertility : an analytic framework” mengatakan terdapat 3 tahap penting dalam proses kelahiran : 1. Tahap hubungan kelamin (intercourse) 2. Tahap konsepsi (conception) 3. Tahap kehamilan (gestation)

51 51 PENDEKATAN SOSIAL. Ditambahkan bahwa faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi fertilitas hanya akan berpengaruh jika melalui faktor-faktor yang langsung mempunyai kaitan dengan ketiga tahap fertilitas diatas, : 1. Variabel yang berhubungan dengan tahap hubungan kelamin (intercourse) adalah semua faktor yang mempengaruhi hubungan kelamin : a. Umur mulai hubungan kelamin. b. Selibat permanen, tidak pernah melakukan hubungan kelamin seumur hidup. c. Lamanya berstatus kawin. d. Abstinensi sukarela. e. Abstinensi terpaksa, sakit, berpisah sementara, dsb. f. Frekwensi hubungan kelamin.

52 52 PENDEKATAN SOSIAL. 2. Variabel konsepsi (conception), yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya konsepsi atau pembuahan, seperti : a. Fekunditas atau infekunditas, yang disebabkan hal-hal yang tidak sengaja. b. Pemakaian kontrasepsi. c. Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal yang disengaja, misalnya sterilisasi. 3. Variabel kehamilan (gestation variables) : a. Mortalitas janin karena sebab-sebab yang tidak disengaja. b. Mortalitas janin karena sebab-sebab yang disengaja.

53 53 PENDEKATAN SOSIAL. Konsep variabel antara dipakai sebagai alat untuk menganalisa tinggi rendahnya fertilitas antara suatu keompok wanita dengan kelompok lain (antara negara maju dan berkembang, antara kelompok tingkat ekonomi, dsb). Contoh : kelompok wanita dengan pendidikan tinggi akan kawin di umur lebih tua dan umumnya mempunyai jumlah anak lebih sedikit dengan memakai kontrasepsi. Bagaimana penjelasannya ? Diterangkan melalui variabel antara “usia kawin pertama” (umur saat mulai hubungan kelamin) dan “variabel konsepsi” yaitu pemakaian kontrasepsi.

54 54 PENDEKATAN SOSIAL. b. Ronald Freedman. Lebih lengkap, tetapi tetap memakai jalan pikiran bahwa variabel antara adalah satu-satunya perantara yang dapat dengan jelas menerangkan perbedaan fertilitas. Menurutnya, variabel antara (intermediate variables) sangat erat hubungannya dengan norma sosial/masyarakat. Semua perilaku wanita yang berkaitan dengan variabel antara sangat dipengaruhi oleh adat istiadat, anggapan masyarakat disekelilingnya tentang proses kelahiran mulai saat menikah, hamil dan melahirkan. Norma sosial tersebut sangat berhubungan dengan tingkat kemajuan wanita atau pasangan itu atau masyarakat disekelilingnya. Jadi pada akhirnya perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh norma yang ada.

55 55 PENDEKATAN EKONOMI Antara lain dengan pendekatan “New Home Economics”. Teori ekonomi dapat menerangkan keputusan suami-isteri untuk mempunyai anaka atau menambah jumlah anak dengan pertimbangan ekonomis seperti layaknya memikirkan apakah setelah menikah mereka akan membeli rumah atau mobil atau mempunyai anak dulu.

56 56 PENDEKATAN EKONOMI a. Harvey Leibenstein. Mempunyai anak dapat dilihat dari 2 segi ekonomi, yaitu : - Kegunaannya (Utility) - Biaya (Cost) yang harus dikeluarkan untuk membesarkan dan merawat anak. Kegunaan (utility) anak adalah memberikan kepuasan kepada orang tua, dapat memberi balas jasa ekonomi (misalnya kiriman uang) atau membantu dalam kegiatan produksi (pertanian). Anak juga dapat merupakan sumber yang dapat membantu kehidupan orang tua dimasa depan (investasi). Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak merupakan biaya (cost) dari kepemilikan anak tersebut.

57 57 PENDEKATAN EKONOMI Apabila ada kenaikan pendapatan orang tua, aspirasi orang tua untuk mempunyai anak akan berubah. Orang tua menginginkan anak dengan kualitas yang lebih baik. Misal : sekolah setinggi mungkin, makanan bergizi, kursus diluar sekolah, kesehatan. Ini berarti pengeluaran (biaya) untuk membesarkan dan merawat anak naik. Dilain pihak kegunaannya akan turun, sebab walau anak masih memberikan kepuasan akan tetapi balas jasa ekonominya menurun. Waktu yang diberikan oleh anak untuk membantu orang tua akan menurun karena lebih lama di sekolah atau tempat lain untuk kepentingan anak sendiri. Disamping itu, orang tua modern dengan penghasilan cukup juga tidak lagi tergantung seumbangan anak. Singkatnya, biaya membesarkan anak menjadi lebih besar dari kegunaannya. Secara ekonomi hal ini mengakibatkan demand atau permintaan terhadap anak menurun, dan pada gilirannya akan menurunkan tingkat fertilitas.

58 58 PENDEKATAN EKONOMI b. Gary Becker. Anak dapat dianggap sebagai barang konsumsi tahan lama (durable goods). Orang tua mempunyai pilihan antara kuantitas dan kualitas anak. Kualitas diartikan sebagai rata-rata pengeluaran (biaya/cost) untuk anak oleh satu keluarga yang didasarkan pada 2 asumsi : 1. Selera orang tua tidak berubah. 2. “Harga anak” dan harga barang-barang konsumsi kainnya tidak dipengaruhi keputusan rumah tangga untuk berkonsumsi.

59 59 PENDEKATAN EKONOMI Becker berpendapat bahwa apabila pendapatan naik, maka banyaknya anak yang dimiliki juga bertambah. Jadi hubungan antara pendapatan dan fertilitas adalah positif. Pada kenyataannya, kelompok pasangan yang pendapatannya tinggi umumnya mempunyai jumlah anak lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok pasangan yang berpendapatan rendah. Permintaan orang tua terhadap anak dapat dianalogikan dengan permintaan barang dan jasa.

60 60 PENDEKATAN EKONOMI Permintaan anak tergantung pada pendapatan rumah tangga, baiaya (price/cost) anak dan selera atau preferensi terhadap anak, secara relatif terhadap barang dan jasa lainnya yang memberikan kepuasan terhadap orang tua tersebut. Dengan menganggap vaiabel lain tetap, makin tinggi pendapatan rumah tangga, makin tinggi pula permintaan terhadap anak (dengan asumsi anak adalah barang normal). Namun tingginya permintaan anak ini juga berimplikasi pada meningkatnya sumber daya yang harus dikeluarkan untuk tiap anak yang dilahirkan. Jadi peningkatan pendapatan ini tidak semata-mata meningkatkan jumlah anak tapi peningkatan pendapatan berarti meningkatkan permintaan terhadap kualitas anak.

61 61 STUDI FERTILITAS DI INDONESIA (Dari berbagai sumber : Widjojo Nitisastro (1970), Mc Nicoll dan Masri Singarimbun (1983), SDKI 1991, SDKI 1997, Aris Ananta dan Anwar (1994) dan perkiraan proyeksi penduduk.)


Download ppt "1 DASAR-DASAR KEPENDUDUKAN/DEMOGRAFI Fertilitas Sisdjiatmo K. Widhaningrat, Lembaga Demografi, dan Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google